google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Perjuangan Emiten Grup Bakrie Perbaiki Keuangan Langsung ke konten utama

Perjuangan Emiten Grup Bakrie Perbaiki Keuangan


Emiten-emiten anggota Grup Bakrie masih berkutat memperbaiki kondisi keuangannya. Harapannya, sebagaimana dialami oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang juga perusahaan Grup Bakrie, harga saham emiten kelompok usaha Bakrie lainnya kembali menggeliat.

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) misalnya. Perusahaan ini tengah merekstrukturisasi total utang sebesar Rp 11 triliun dari 580 kreditur.  "Saat ini yang sudah berhasil direstrukturisasi adalah utang dari kreditur terbesar kami, Huawei, yang telah jadi pemegang saham sebesar 16%," ujar Robertus Bismarka, Direktur Utama BTEL, Selasa (26/6).

Porsi saham sebesar itu didapat setelah kreditur melakukan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp 1,238 triliun menjadi 6,19 miliar saham.

BTEL pada awal tahun ini juga sempat mendaftarkan permohonan Chapter 15 agar hasil PKPU BTEL dapat diakui sebagai penyelesaian bagi kreditur di Amerika Serikat (AS). Utang ini muncul dari penerbitan global bond dengan nilai emisi US$ 380 juta beberapa tahun lalu. Harapannya, proses ini bisa selesai sebelum tutup tahun 2018.

Pada kuartal IV-2018 dan kuartal I-2019, BTEL berencana mengelar proses Exchanger Offer. Proses ini menawarkan pertukaran Wesel Senior yang saat ini dimiliki kreditur dengan Wesel baru, yang terdiri atas OWK dan Porsi Tunai. Nantinya, kreditur pemilik OWK dapat melakukan konversi saham ke BTEL.

Jika proses restrukturisasi utang ini selesai dan seluruh OWK telah dikonversi, kepemilikan saham pendiri akan mengalami dilusi sampai 32%.

Selain BTEL, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) juga tengah mengupayakan restrukturisasi utang. Sebagai bagian dari restrukturisasi utang, perusahaan properti ini berniat menggelar reverse stock dengan rasio 10:1.

Rasio ini mempertimbangkan permintaan salah satu kreditur, Geo Link, yang menginginkan harga saham ELTY lebih wajar sebelum konversi utang Rp 500 miliar menjadi saham dilakukan.

Namun aksi korporasi ini ditentang oleh investor ritel pemegang saham ELTY. Investor ritel khawatir aksi reverse stock justru bakal merugikan mereka.

Kekhawatiran investor ritel muncul melihat reverse stock yang digelar PT Bakrie & Brothers Tbk. Emiten berkode BNBR ini menggabungkan saham sehingga harganya naik dari Rp 50 jadi Rp 500 per saham.

Tapi, tak lama, harga saham BNBR kembali anjlok. Kini, BNBR cuma dihargai Rp 70.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menyebut, hasil restrukturisasi utang tak menjamin membuat harga saham terkerek setelah aksi reverse stock dan restrukturisasi utang. "Artinya kalau dasar ekuitas tidak setinggi itu, meskipun di-reverse, sementara harga asli per lembar sahamnya di bawah Rp 50, otomatis akan turun lagi," ujar Frederik.

Namun, dia menilai aksi restrukturisasi dengan mengonversi saham punya sisi positif. Setidaknya, dalam beberapa kasus, kreditur yang berubah jadi investor bisa  ikut terlibat mengurus bisnis secara langsung.

BTEL Beralih Bisnis

Perusahaan telekomunikasi Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL),  tengah menjajaki peralihan bisnis ke industri penyelenggara infrastruktur media. Upaya itu merupakan respons atas rencana pemerintah terkait peralihan teknologi televisi dari analog ke digital.

Dengan begitu, setidaknya setiap perusahaan televisi membutuhkan infrastruktur baru. "Karena peralihan teknologi ini, dibutuhkan pembangunan lebih dari 1.500 tower baru di Indonesia", ujar Robertus Bismarka, Direktur Utama BTEL, Selasa (26/6).

Namun, manajemen belum bisa memaparkan berapa kebutuhan nilai investasinya. Yang terang, potensi pendapatan perusahaan dari bisnis ini bisa mencapai Rp 120 miliar per televisi. Itu dengan masa kontrak minimal 10 tahun.

Bisnis Baru BNBR

Sembari menyelam minum air. Walau masih dalam proses menuntaskan restrukturisasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tetap menyusun rencana pengembangan bisnis baru. Perusahaan ini melirik bisnis kawasan industri dan otomotif.

Direktur BNBR Amri Aswono Putro  bilang, perusahaan  sudah berhasil membebaskan lahan 500 hektare (ha) untuk kawasan industri. Tapi, BNBR masih merahasiakan lokasi kawasan ini.

Direktur Utama BNBR, Bobby Gafur Umar, pada kesempatan yang sama, menyebut, BNBR juga bakal fokus mengembangkan bis listrik dengan menggandeng BYD Auto, produsen baterai asal Tiongkok. "Sehingga bisnis kami tidak lagi bersifat musiman, tapi ada recurring income," ujar Bobby, Selasa (26/6).

VIVA Bantah Rumor

Rumor terkait rencana PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) ingin mendivestasi anak usahanya, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), akhirnya terjawab. Manajemen perusahaan tersebut memastikan, tidak ada rencana tersebut.

"Rumor akan selalu menjadi rumor," ujar Anindya Novan Bakrie, Presiden Direktur VIVA Selasa (26/6).

Anindya memaklumi rumor tersebut.  Menurut dia, MDIA merupakan perusahaan publik. Jadi sederhananya, MDIA bisa diperjualbelikan setiap hari. Tentu, butuh sebuah cerita guna memunculkan sisi permintaan dan pasokan.

"Kemungkinan rumor itu juga muncul karena memang hasil kinerja MDIA itu sendiri. Karena kinerjanya positif, sehingga menjadi banyak yang tertarik," jelas Anindya.

http://investasi.kontan.co.id/news/langkah-terjal-saham-emiten-grup-bakrie

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Kisah Orang Terkaya: George Soros, Investor Kakap yang 'Merusak' Bank Inggris

Salah satu orang terkaya, George Soros memiliki kekayaan bersih USD8,6 miliar (Rp124 triliun). Soros merupakan pendiri dan ketua Soros Fund Management LLC. Dia berada di peringkat 56 orang terkaya di Amerika oleh Forbes dan orang terkaya ke-162 secara global. Soros mengumpulkan kekayaannya sebagai salah satu spekulan terbesar dunia di pasar keuangan global. Taruhannya yang terkenal melawan pound Inggris pada tahun 1992 menghasilkan keuntungan lebih dari USD1 miliar dan memberinya gelar "orang yang merusak Bank of England". Quantum Fund miliknya menghasilkan pengembalian tahunan 35% selama 25 tahun. Selain itu, kegiatan filantropisnya telah menuai banyak pujian, sementara pernyataan politiknya memicu banyak kontroversi. George Soros lahir di Budapest, Hongaria, pada 12 Agustus 1930. Nama belakang kelahiran Yahudinya adalah Schwartz. Ayahnya mengubah nama belakangnya menjadi Soros pada tahun 1936 untuk menghindari potensi masalah dengan agama mereka. Ayah George Soros, Tivadar,...

PT Ciputra Development Tbk Optimis Target Marketing Sales Tahun Ini Tercapai

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) optimis target marketing sales tahun ini dapat tercapai. S epanjang 2021, emiten properti ini membidik marketing sales Rp 5,9 triliun Direktur CTRA, Tulus Santoso menjelaskan optimisme itu berangkat dari capaian marketing sales perusahaan di semester I-2021 yang telah melebih 50% dari target. "Pencapaian (marketing sales) semester 1 sekitar 61% dari target full year jadi mestinya akan tercapai," ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (3/9). Selain itu, optimisme perusahaan kian kuat dengan adanya perpanjangan insentif yang diberikan pemerintah pada sektor properti. Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang jangka waktu pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk pembelian rumah tapak dan unit hunian rumah susun hingga Desember 2021. Tulus menyambut baik akan perpanjangan insentif tersebut, sebab pemberian insentif tersebut memberikan efek positif terhadap marketing sales perusahaan. Ia menuturkan dampak sale...

SAHAM BEEF ALAMI OVERSUBSCRIBED HINGGA 86,11 KALI

IQPlus, (10/01) - Perusahaan makanan olahan PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) hari ini resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Artinya, BEEF menjadi emiten kedua yang berhasil listing melalui proses penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Direktur Utama PT Estika Tata Tiara Tbk Yustinus Sadmoko mengatakan, perseroan melepas sahamnya sebanyak 376.862.500 saham baru atau sekitar 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. "Saham BEEF mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 86,11 kali dari  porsi pooling,"ujarnya. Awal diperdagangkan, saham BEEF naik 140 poin atau 41,18% ke level Rp 480 dari harga IPO Rp 340. Saham BEEF ditransaksikan sebanyak 112 kali dengan volume sebanyak 66.680 lot dan menghasilkan nilai transaksi Rp 3,37 miliar. "Kami bersyukur, saham KIBIF sangat diminati investor sehingga mengalami oversubscribed.  Hal ini menandai investor percaya pada perusahaan,"ujarnya di gedung BEI Jakarta, Kam...