google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Berita Saham TPIA | 9 November 2017 Langsung ke konten utama

Berita Saham TPIA | 9 November 2017

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) telah menetapkan pricing obligasi global senilai US$ 300 juta atau setara Rp 4 triliun. Meski demikian, dengan adanya hasil penerbitan obligasi tersebut tidak akan membatasi perusahaan untuk kembali mencari pendanaan di masa mendatang.

Pasalnya, TPIA memiliki kebijakan menjaga posisi debt to capital maksimal 40%. Hingga semester I-2017, posisinya ada di level 24%.

Debt to capital tersebut memang belum memasukan faktor obligasi global US$ 300 juta. Tapi, sebelumnya perusahaan baru saja menggelar rights issue sekitar Rp 5 triliun.

Sehingga, posisi rasio keuangan yang membandingkan nilai utang terhadap modal TPIA itu dipastikan masih aman. "Akan bertambah, tapi masih jauh di bawah 40%," ujar Investor Relations TPIA Harry Tamin, Kamis (9/11).

Per Juni 2017, berdasarkan materi presentasi perseroan, nilai utang Chandra Asri sebesar US$373 juta dan utang bersih US$161 juta.

Sebagaimana diketahui, setelah absen sekitar tujuh tahun, TPIA kembali mencari pendanaan melalui pasar modal untuk mendanai ekspansi jangka panjang. Perusahan menerbitkan obligasi global US$ 300 juta bertenor tujuh tahun. Kupon yang ditetapkan sebesar 4,95%.

Dengan posisi orderbook sebesar US$ 2,2 miliar, maka obligasi global TPIA mengalami oversubscribed final sebesar 7,3 kali. Obligasi itu terdiri dari 189 akun. Sebesar 85% diantaranya berasal dari investor institusi.

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Saham FPNI | Ini strategi Lotte Chemical untuk kejar target penjualan di akhir tahun

Perusahaan petrokimia PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) memasang target pertumbuhan penjualan sebesar 10% sepanjang tahun 2019. Jelang tutup tahun ini, Bambang Budihardja, Corporate Secretary PT Lotte Chemical Titan Tbk menyebut saat ini kondisi pasar kurang kondusif jika dibandingkan dengan tahun lalu. Oleh karena itu, FPNI mengaku sedikit lebih konservatif dalam hal pencapaian target tersebut. Ia bilang, situasi supply dan demand di regional menyebabkan kondisi margin spread yang semakin menipis. Margin spread merupakan selisih harga jual dengan biaya bahan baku utama. "Kondisi ini pada akhirnya sedikit banyak melemahkan usaha-usaha untuk mencapai target tersebut," katanya, Minggu (20/10). Apabila melihat laporan keuangan semester I-2019, pendapatan bersih FPNI juga menurun. FPNI mengantongi pendapatan sebesar US$ 171,69 juta atau menyusut 15,35% dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 202,83 juta. Pendapatan dari hasil penjualan pasar domestik masih menjadi ...

Cara Membaca Indikator Stochastic Oscillator dengan 3 Metode

Keberadaan stochastic telah sedikit disinggung sebagai indikator oscillator yang mampu menunjukkan kondisi jenuh harga. Dulunya, banyak trader mengetahui cara membaca indikator Stochastic hanya untuk penerapan praktis. Namun sebenarnya, Stochastic terdiri dari berbagai macam komponen dan memiliki lebih dari satu manfaat. Untuk mengungkapnya, kita akan mempelajari 3 cara membaca indikator Stochastic berikut. Baca juga: Memahami arti LOT dalam Investasi Saham 1. Cara Membaca Indikator Stochastic Sebagai Penanda Overbought Oversold Cara membaca indikator Stochastic menurut fungsi ini adalah yang paling mudah. Pada dasarnya, indikator ciptaan George Lane ini memiliki dua level ekstrim, yakni 80 dan 20. Masing-masing level tersebut berperan sebagai batas overbought dan oversold. Indikator Stochastic menunjukkan kondisi overbought ketika grafik berada di atas level 80. Sementara itu, cara membaca indikator Stochastic untuk mengenali oversold adalah dengan memperhatikan grafik yang sudah turu...

PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) Optimis Dengan Kinerja

Kuartal IV/2018, Dharma Samudera (DSFI) Optimistis Kinerja Bakal Membaik Emiten perikanan PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) meyakini kinerja perseroan akan membaik mulai Oktober 2018 seiring dengan peluang bertambahnya bahan baku. Direktur Independen DSFI Saut Marbun menuturkan, mulai Oktober 2018 kinerja perseroan berpotensi meningkat seiring dengan bertambahnya bahan baku produk perikanan. Kondisi cuaca diperkirakan lebih baik sehingga nelayan semakin sering melaut. "Mulai September biasanya ombak tidak terlalu tinggi, kemudian Oktober semakin terasa pasokan bahan baku dari laut semakin banyak. Harganya juga semakin murah," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, belum lama ini. Selain itu, permintaan produk perikanan pada Oktober mengalami peningkatan karena pelanggan perusahaan ingin melakukan penyetokan menjelang Natal. DSFI memang mengandalkan 95% penjualan ke pasar ekspor, dengan wilayah tujuan utama Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Sampai ak...