google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo GGRM | GUDANG GARAM BELUM BERMINAT GARAP PASAR ROKOK ELEKTRIK Langsung ke konten utama

GGRM | GUDANG GARAM BELUM BERMINAT GARAP PASAR ROKOK ELEKTRIK


IQPlus, (27/06) - PT Gudang Garam, Tbk, Kediri, Jawa Timur, belum berminat untuk menggarap pasar rokok elektrik, mengingat pangsa pasar rokok ini masih kalangan terbatas dengan daya beli yang juga menengah ke atas.

"Sebagai perokok tetap berpendapat rokok elektrik ya rokok elektrik, rokok ya rokok. Tidak 100 persen sama. Di Indonesia kami sebetulnya sudah persiapkan diri untuk selanjutnya siap-siap melihat perkembangan rokok elektrik. sampai hari ini harga atau uang yang harus dikeluarkan masih lebih banyak, jadi kemungkinan berkisar lebih di kalangan atas," kata Direktur PT Gudang Garam, Tbk, Kediri Heru Budiman di Kediri, Rabu.

Heru ditemui dalam acara rapat umum pemegang saham (RUPS) di Kediri mengatakan, secara pribadi dirinya masih ingin mengetahui berapa lama orang "nempel" di rokok elektrik. Namun, hingga kini dari GG masih belum ada rencana untuk mengembangkan sektor tersebut, terlebih lagi selama ini juga masih impor.

Pihaknya juga sudah mengevaluasi terkait dengan keberadaan rokok elektrik bahkan sejak tiga tahun lalu. Namun, untuk realisasinya karena konsumen dinilai masih relatif kecil, hingga kini perusahaan belum ada rencana ke rokok elektrik.

Terlebih lagi, terkait dengan aturan pemerintah tentang kawasan tanpa rokok tersebut, bagi yang menggunakan rokok elektrik juga masih diperlakukan sama dengan mereka yang merokok batangan, yakni di kawasan tertentu.

Perusahaan, kata dia, masih mempertahankan untuk produksi rokok yang ada, seperti SKM, SKT. Saat ini, produksi rokok di perusahaan juga relatif ada peningkatan. Pada 2017, produksinya adalah 78,6 miliar batang meningkat menjadi 85,2 miliar batang, atau sekitar 8,3 persen.

Ia juga menambahkan, adanya kebijakan cukai yang tidak naik, tentunya juga berimbas positif untuk jangka panjang. Misalnya, dengan menghilangkan tekanan biaya di perusahaan, mengingat saat ini industri rokok mengalami penurunan.

"Tidak naiknya cukai di 2019 ini hilangkan tekanan biaya di tempat kami. Yang adalah keputusan yang mungkin terlihat juga baik jangka panjangnya, karena industri rokok mengalami penurunan. Naiknya cukai tidak mendorong untuk kenaikan harga, atau juga berarti cukai tidak naik kami bisa menaikkan harga dan untung. Ini juga tidak. Cukai tidak naik, daya beli bukan berarti langsung meningkat," ujar dia.(end)

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Berita Saham BCAP 22 Mei 2017

MNC KAPITAL INDONESIA BERNIAT TAMBAH MODAL TANPA HMETD IQPlus, (22/05) - PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) akan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) sebanyak-banyaknya 406.627.281 saham dengan nominal Rp100 atau maksimal 7,43% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Menurut keterangan perseroan Senin disebutkan bahwa Penambahan Modal Tanpa HMTED ini memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan pada 30 Mei 2017 mendatang. Rencananya dana hasil PMTHMETD ini setelah dikurangi biaya-biaya akan digunakan untuk investasai dan modal kerja untuk perseroan dan entitas anak dengan pembagian 70% dan 30%. Bagi pemegang saham perseroan akan mengalami dilusi kepemilikan saham secara proporsional sesuai dengan jumlah saham baru yang dikeluarkan maksimal 6,92%. Dilusi ini menurut perseroan relatif kecil dan terjadi pada harga pasar sehingga tidak me...

INDUSTRI LOGAM DAN BAJA TUMBUH POSITIF TAHUN 2021.

Meskipun tantangan Covid-19 masih belum berakhir, kinerja industri nasional cukup menggembirakan dibanding tahun 2020, dengan indikasi rata-rata Purchasing Manager's Index (PMI) selama 2021 menunjukkan angka 50 atau ada dalam ahap ekspansif. Hal ini juga ditunjukkan oleh kinerja sektor industri logam dan baja yang turut mengalami pertumbuhan positif selama tahun 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada kuartal III tahun 2021, sektor industri logam dengan HS 72-73 mampu tumbuh di atas 9,82 persen. Kinerja ini juga didukung ekspor produk baja hingga November 2021 mencapai USD19,6 miliar dan mengalami surplus sebesar USD6,1 miliar. Direktur Industri Logam, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Budi Susanto mengemukakan, pertumbuhan positif sektor baja akibat upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah dengan konsep smart supply demand, yang diterapkan dengan berpihak pada industri baja nasional mulai dari sektor hulu...

Puradelta (DMAS) Raih Marketing Sales Rp1 Triliun Di Semester I 2023

PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) selaku pengembang Kota Deltamas Cikarang menyampaikan bahwa peruusahaan meraih prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp1 triliun pada semester pertama tahun 2023, atau sekitar 59,7% dari target marketing sales tahun 2023 sebesar Rp1,8 triliun. Perolehan marketing sales tersebut menjadi tolok ukur kalau kebutuhan ruang serta produk komersial maupun area industri masih cukup tinggi. Hal itu dikatakan, Direktur Sales & Marketing PT Puradelta Lestari Tbk, Stanley W. Atmodjo, dalam keterangan tertulisnya, yang dikutip, Rabu (16/8). Untuk meningkatkan produk komersial, kata Stanley W. Atmodjo, perusahaan kembali meluncurkan klaster komersial terbaru yakni Greenland Square yang mengusung konsep commercial lot berlokasi di Jalan Utama Kota Deltamas. "Ruang komersial telah menjadi sarana pendukung untuk sebuah kawasan hunian seiring terus berkembangnya populasi di kawasan residensial. Kami menghadirkan kawasan komersial premium Greenland Square di K...