Tampilkan postingan dengan label Saham TMPO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham TMPO. Tampilkan semua postingan

Iklan Sepi, Berikut Ulasan Saham Sektor Media


Emiten Grup Media saat ini sedang berusaha survive di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang hampir setahun menjangkiti hingga seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Berbagai cara agar perusahaan-perusahaan media tersebut bisa selamat di masa pandemi ini, dengan salah satunya mengenjot iklan agar kinerja bisnisnya tidak terlalu berdampak.

Sejalan dengan cara perusahaan media tersebut, menurut riset dari Panin Sekuritas, emiten sektor barang konsumsi (consumer goods) masih mencatatkan porsi belanja iklan terhadap pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historis.

Sebagai informasi, porsi belanja iklan terhadap pendapatan dari emiten consumer goods secara rata-rata 5 tahun terakhir, berada di level 6,1%, sedangkan untuk tahun 2019 sendiri, rata-rata porsi belanja iklan terhadap pendapatan sepanjang tahun tersebut berada di kisaran 6,8%.

"Memasuki tahun 2020, porsi belanja iklan terhadap total pendapatan relatif masih meningkat dimana di 3Q20 berada di level 7,7%. Hal ini menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten di sektor media, seiring dengan kontribusi belanja iklan dari FMCG yang masih cukup tinggi (sekitar 60%-70%) terhadap total pendapatan iklan emiten media" tulis riset Panin Sekuritas, yang dipublikasikan awal pekan ini.

Walaupun begitu, porsi pendapatan perusahaan media dari iklan rata-rata berkurang jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sebelumnya, Perusahaan media milik taipan Hary Tanoesoedibjo, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) sepanjang tahun ini hingga akhir September 2020 lalu mencatatkan penurunan laba bersih 17,50%.

Hal ini karena koreksi pendapatan dari iklan yang menjadi mayoritas penyumbang pendapatan perusahaan. Di pos iklan non digital turun menjadi Rp 4,84 triliun dari Rp 5,53 triliun.

Iklan digital naik tipis menjadi Rp 675,94 miliar dari Rp 502,99 miliar. Namun tak bisa mengkompensasi penurunan iklan non digital tersebut.

Dari pos konten juga turun kontribusinya menjadi Rp 1,09 triliun dari periode sembilan bulan pertama tahun lalu yang senilai Rp 1,29 triliun.

Dari kasus turunnya porsi iklan di MNC tersebut yang membuat pendapatan perusahaan turun karena kemungkinan faktor dari acara televisi yang disiarkan secara langsung dengan melibatkan banyak penonton juga dikurangi pada masa pandemi, apalagi larangan bagi stasiun televisi untuk mengundang penonton secara langsung juga membuat perusahaan media sangat terpukul, sehingga jika tidak ada penonton yang dihadirkan, maka iklan menjadi 'seret'.

Hal lainnya yang membuat pendapatan dari iklan semakin turun adalah karena porsi belanja iklan dari emiten sektor lainnya, terutama di sektor ritel juga turun, karena rata-rata di emiten sektor tersebut sedang melakukan efisiensi, di mana belanja iklan yang memang tidak terlalu penting dikurangi supaya beban iklan yang dibayar oleh emiten ritel kepada emiten media bisa diminimalisir.

Hal itu karena sektor ritel adalah sektor yang paling terdampak dari pandemi, sehingga harus melakukan berbagai cara agar emiten di sektor tersebut bisa survive.

Walaupun saat ini belanja iklan di global masih tumbuh lebih lambat dari tahun lalu, tetapi kedepan, belanja iklan di Indonesia sendiri diprediksi akan semakin meningkat.

"Meskipun tren secara global menunjukkan pertumbuhan belanja iklan digital yang melemah, kami memperkirakan di Indonesia tren akan sedikit berbeda seiring dengan penetrasi dari smartphone dan juga internet yang masih lebih rendah dibanding negara-negara lain. Dengan aktivitas masyarakat yang masih cenderung terbatas, dan adaptasi masyarakat untuk mengkonsumsi hiburan, bekerja, dan juga belajar secara online, kami memperkirakan pertumbuhan belanja iklan digital masih akan cukup tinggi seiring dengan adanya perpindahan alokasi belanja iklan dari media lain ke iklan digital", terang penjelasan dari riset Panin Sekuritas.


Kinerja Keuangan Grup Media (Emtek, MNC, dan Tempo Media)

Grup Emtek


1. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)

Dalam laporan keuangan EMTK pada kuartal III tahun 2020, perseroan berhasil mencetak laba bersih pada kuartal III-2020 dari sebelumnya mencatatkan rugi bersih pada periode yang sama tahun 2019.

Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada kuartal III-2020 sebesar Rp 476,58 miliar.

Sementar itu, pendapatan bersih perseroan juga naik menjadi Rp 8,52 triliun di kuartal ketiga tahun ini.

Dari posisi neraca, total liabilitas jangka pendek perseroan per 30 September 2020 sebesar Rp 2,81 triliun, naik dari periode 31 Desember 2019 yang sebesar Rp 2,69 triliun.

Sedangkan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp 11,3 triliun.

Adapun total aset perseroan per 30 September 2020 turun menjadi Rp 17,64 triliun dari periode akhir tahun lalu sebesar Rp 17,54 triliun.


2. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)

Dalam laporan keuangan SCMA pada kuartal III tahun 2020, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 913,61 miliar atau turun dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni Rp 1,1 triliun.

Sementar itu, pendapatan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 3,58 triliun di kuartal ketiga tahun ini.

Dari posisi neraca, total liabilitas jangka pendek perseroan per 30 September 2020 sebesar Rp 1,04 triliun, naik dari periode 31 Desember 2019 yang sebesar Rp 988,97 miliar.

Sedangkan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 5,57 triliun.

Adapun total aset perseroan per 30 September 2020 naik menjadi Rp 6,89 triliun dari periode akhir tahun lalu sebesar Rp 6,72 triliun.


Grup MNC


1. PT Global Mediacom Tbk (BMTR)

Dalam laporan keuangan BMTR pada kuartal II tahun 2020, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 551,66 miliar atau turun dari periode yang sama tahun 2019, yakni Rp 597,35 miliar.

Sementara itu, pendapatan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 5,86 triliun di kuartal kedua tahun ini.

Dari posisi neraca, total liabilitas jangka pendek perseroan per 30 Juni 2020 sebesar Rp 5,74 triliun, turun dari periode 31 Desember 2019 yang sebesar Rp 6,44 triliun.

Sedangkan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 19,31 triliun.

Adapun total aset perseroan per 30 Juni 2020 naik menjadi Rp 30,9 triliun dari periode akhir tahun 2019 sebesar Rp 30,15 triliun.


2. PT Media Nusantara Citra (MNC) Tbk (MNCN)

Dalam laporan keuangan MNCN pada kuartal III tahun 2020, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 1,37 triliun atau turun dari periode yang sama tahun 2019, yakni Rp 1,67 triliun.

Sementara itu, pendapatan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 5,96 triliun di kuartal ketiga tahun ini.

Dari posisi neraca, total liabilitas jangka pendek perseroan per 30 September 2020 sebesar Rp 1,76 triliun, turun dari periode 31 Desember 2019 yang sebesar Rp 2,14 triliun.

Sedangkan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 13,97 triliun.

Adapun total aset perseroan per 30 September naik menjadi Rp 18,44 triliun dari periode akhir tahun 2019 sebesar Rp 17,84 triliun.


3. PT MNC Studios International Tbk (MSIN)

Dalam laporan keuangan MSIN pada kuartal III tahun 2020, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 124,31 miliar atau turun dari periode yang sama tahun 2019, yakni Rp 178,53 miliar.

Sementara itu, pendapatan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 1,04 triliun di kuartal ketiga tahun ini.

Dari posisi neraca, total liabilitas jangka pendek perseroan per 30 September 2020 sebesar Rp 510,87 miliar, naik dari periode 31 Desember 2019 yang sebesar Rp 463,94 miliar.

Sedangkan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 1,51 triliun.

Adapun total aset perseroan per 30 September naik menjadi Rp 2,33 triliun dari periode akhir tahun 2019 sebesar Rp 2,1 triliun.


Non Grup Emtek dan MNC


1. PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI)

Dalam laporan keuangan DIGI pada kuartal III tahun 2020, saat ini perseroan masih mencatatkan rugi bersihnya, dari sebelumnya pada kuartal III-2019 sebesar Rp 3,85 miliar, namun pada kuartal III -2020 naik menjadi Rp 9,24 miliar.

Sementara itu, pendapatan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 22,79 miliar di kuartal ketiga tahun ini.

Dari posisi neraca, total liabilitas jangka pendek perseroan per 30 September 2020 sebesar Rp 6,6 miliar, naik dari periode 31 Desember 2019 yang sebesar Rp 1,67 miliar.

Sedangkan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp 28,7 miliar.

Adapun total aset perseroan per 30 September naik menjadi Rp 47,8 miliar dari periode akhir tahun 2019 sebesar Rp 41,6 miliar.


2. PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO)

Dalam laporan keuangan TMPO pada kuartal II tahun 2020, saat ini perseroan masih mencatatkan rugi bersihnya, dari sebelumnya pada kuartal II-2019 sebesar Rp 4,97 miliar, namun pada kuartal II -2020 naik menjadi Rp 22,52 miliar.

Sementara itu, pendapatan bersih perseroan juga turun menjadi Rp 89,84 miliar di kuartal kedua tahun ini.

Dari posisi neraca, total liabilitas jangka pendek perseroan per 30 Juni 2020 sebesar Rp 89,87 miliar, naik dari periode 31 Desember 2019 yang sebesar Rp 82,47 miliar.

Sedangkan total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp 237,26 miliar.

Adapun total aset perseroan per 30 Juni 2020 turun menjadi Rp 395,15 miliar dari periode akhir tahun 2019 sebesar Rp 413,57 miliar.

Kinerja saham yang masih tergolong baik adalah MNCN, karena jika dilihat dari rasio PBV-nya, posisi MNCN berada dibawah kinerja sub-sektornya yakni media, walaupun jika dilihat dari rasio PER-nya, MNCN masih tergolong sedikit mahal, karena berada diatas PER sub-sektornya.

Namun, secara rata-rata, emiten media belum dapat dibilang berkinerja baik, karena hampir ketujuh saham tersebut nilai rasio PER-nya berada diatas PER sub-sektornya.

Hanya dua saham yang PER-nya berada di bawah PER sub-sektornya. Walaupun dibawah, tetapi nilai PER-nya berada di zona negatif.

Di saat pandemi virus Corona (Covid-19), rata-rata kinerja ketujuh emiten media tersebut memang terdampak.

Seperti di emiten yang sektor usahanya bergerak di siaran televisi (SCMA, MNCN, dan MSIN), kinerja keuangan maupun saham berdampak dari adanya pandemi.

Sebelum pandemi terjadi, acara televisi dapat mengundang berbagai penonton, baik secara langsung (live) maupun melalui proses tapping, namun disaat pandemi, kebijakan acara televisi tanpa penonton memukul keberlangsungan perusahaan. Selain itu, acara televisi yang bertajuk 'jalan-jalan' juga dikurangi karena efek pandemi.


Sumber: CNBC

LABA TEMPO INTI MEDIA Rp1,11 MILIAR HINGGA DESEMBER 2019. | SAHAM TMPO


IQPlus, (03/06) - PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) mencatat penurunan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk menjadi Rp1,11 miliar hingga periode 31 Desember 2019 dibandingkan laba Rp2,85 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan seperti dikutip Rabu menyebutkan, pendapatan usaha meningkat menjadi Rp305,17 miliar dibandingkan pendapatan usaha Rp291,55 miliar tahun sebelumnya dan laba bruto menjadi Rp109,55 miliar dari laba bruto tahun sebelumnya yang Rp109,21 miliar.

Laba usaha meningkat menjadi Rp11,73 miliar dari laba usaha Rp7,88 miliar tahun sebelumnya dan beban keuangan naik tajam menjadi Rp9,69 miliar dari Rp5,21 miliar dan pendapatan keuangan turun menjadi Rp84,77 miliar dari Rp264,08 miliar membuat laba sebelum pajak turun jadi Rp2,12 miliar dari laba sebelum pajak Rp2,93 miliar tahun sebelumnya.

Jumlah aset perseroan mencapai Rp413,57 miliar hingga periode 31 Desember 2019 turun dari jumlah aset Rp421,44 miliar hingga periode 31 Desember 2018.(end)

TMPO | Tahun Depan Anak Usaha Tempo (TMPO) Masuk Bursa


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) berencana membawa anak usahanya, Tempo.co, masuk bursa saham paling lambat pada Maret 2020. Saat ini, Tempo Inti Media menyiapkan kelengkapan dokumen dan persyaratan untuk kelancaran initial public offering (IPO) tersebut.

Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk, Toriq Hadad, menjelaskan Tempo.co merupakan anak perusahaan yang terpisah dari induk, sehingga mereka dapat menggelar aksi korporasi sendiri tanpa bergantung kepada induk usaha.

"Tahun depan, kami berencana menggelar IPO. Kami mengharapkan bisa menembus Rp 1 triliun atau paling tidak bisa mendapatkan Rp 200 miliar," kata dia, kemarin.

Tempo.co juga menjalin kerjasama dengan sejumlah pihak. Misalnya, Paytren Management menanamkan investasi senilai Rp 600 miliar dan pihak lain sebesar Rp 200 miliar. Nilai total Rp 800 miliar merupakan langkah awal bagi Tempo.co untuk melancarkan IPO di tahun depan.

Dalam aksi korporasi tersebut, Tempo.co akan menawarkan 20% saham ke publik. Kelak, mereka berharap pergerakan sahamnya aktif di pasar modal. "Kami juga tidak menetapkan harga penawaran yang mahal. Kami masih melakukan valuasi dan mempertimbangkan kondisi pasar," jelas Toriq.

Fokus di digital

Tahun ini, Tempo memang fokus pada pengembangan produk digital perusahaan. Proses transisi yang telah berlangsung sejak tahun 2017 ini diikuti kinerja Tempo.co dan produk digital yang melesat 96% sepanjang tahun lalu.

Di masa mendatang, manajemen Tempo Inti Media akan terus mengembangkan anak-anak usaha yang berbasis digital. Meski demikian, pemilik Majalah Tempo ini menyadari bahwa permintaan media cetak masih cukup besar. "Misalnya Majalah Tempo yang pada dua edisi kemarin, yakni Tim Mawar dan Rusuh Sarinah, mendapatkan sirkulasi cukup tinggi dan tambahan mencetak 11.000 eksemplar. Hal seperti itu akan disesuaikan," ungkap Toriq.

Sebagai strategi memperkuat lini bisnis digital, Tempo.co telah mengakuisisi PT Rombak Pola Pikir dengan produk Kok Bisa? di Youtube. Kemudian portal Telesuri.id dan Ziliun.id. Ketiga kanal tersebut menyasar pasar milenial.

Tempo.co juga berinvestasi di Foodizz.id yang menyajikan medium edukasi pengusaha kuliner. Aksi korporasi tersebut menambah valuasi Tempo.co sebesar Rp 550 miliar, meningkat 51,6% dari posisi 2017. Sementara pada tahun ini, Tempo.co mencapai nilai valuasi Rp 616 miliar pasca mengakuisisi PT Rombak Pola Pikir. "Dunia digital tidak instan dan butuh investasi cukup panjang. Ini merupakan cara kami untuk terus bisa survive," ujar Toriq.

Berita Saham TMPO | 9 Januari 2018

Berita Saham TMPO

PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) mengincar dana dari rights issue sebesar Rp99,99 miliar, demikian menurut prospektusnya ke BEI.

Menurut prospektus tersebut ada enam investor strategis yang menunjukan ketertarikannya untuk menyerap saham baru perusahaan media tersebut.

Surya Citra Media berencana mengambil 0,86 persen saham Tempo dan Edwin Soeryadjaya, PT Sukses Perdana Mandiri dan PT Sinar Ganda Jaya berniat mengambil 1,71 persen. Dua investor lain Burlingham Internasional dan Erika Agatha Martono akan memiliki 2,57 persen dan 0,0003 persen.

Seperti diketahui Tempo akan memulai proses rights issue pada 12 Januari hingga 18 Januari 2018 dengan melepas 333,33 juta saham baru atau mewakili 31,4 persen dari total modal disetor dengan harga Rp300 per lembar.

Tempo akan menggunakan dana itu untuk pengembangan bisnis terutama untuk bisnis anak usaha dan pembayaran kembali utang ke PT Bank Mayapada Internasional Tbk. Para pemegang saham besar Tempo saat ini Tempo 31 Juni Foundation tidak mengambil saham baru tersebut sehingga berpotensi terdilusi menjadi 17,13 persen dari 25,01 persen. Sehingga Grafiti Pers akan menjadi pemegang saham terbesar denagn 24,28 persen. (end)

IQPLUS

Berita Saham TMPO | 13 Desember 2017

Berita Saham TMPO

PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) merevisi jumlah saham yang akan dikeluarkan dalam Rights Issue I atau PUT I dari sebelumnya 333.333.333 lembar menjadi 333.333.250 lembar dengan harga nominal Rp100.

Menurut prospektus yang diperoleh Rabu, setiap pemegang 100.000 saham lama yang namanya tercatat hingga 10 Januari 2018 berhak atas 45.977 HMETD dimana 1 HMETD berhak untuk membeli 1 saham baru dengan harga Rp300 per saham atau nilai seluruhnya mencapai Rp99.999.975.000.

Pemegang saham utama perseroan yakni Yayasan Tempo 21 Juni 1994 telah menyatakan untuk tidak melaksanakan HMETD sesuai dengan porsi yang dimilikinya dan mengalihkannya kepada Edwin Soeryadjaja sebesar 16.666.666 HMETD, PT Sukses Perdana Mandiri 16.666.666 HMETD, PT Sinar Ganda Jaya sebesar 16.666.666 HMETD, Burlingham International Ltd sebesar 25.000.000 HMETD, Erika Agatha Martono sebesar 33.312 HMETD berdasarkan surat pernyataan 25 September 2017.

Sedangkan pemegang saham utama lainnya PT Grafiti Pers, PT Jaya Raua Utama dan Yayasan Jaya Raya akan melaksanakan haknya. Jadwal untuk cum dan ex di pasar reguler/negosiasi pada 8 dan 9 Januari 2018 dan di pasar tunai 10 dan 11 Januari 2018 dengan periode perdagangan 12-18 Januari 2018.

Dana hasil PUT I ini rencananya akan digunakan antara lain untuk pengembangan usaha atau investasi kepada anak usaha dan modal kerja serta pembayaran utang bank. (end)

IQPLUS