Tampilkan postingan dengan label Saham GDST. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham GDST. Tampilkan semua postingan

PENJUALAN NAIK, GDST CATAT LABA HINGGA MARET 2021


PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) mencatat penjualan sebesar Rp432,31 miliiar hingga periode 31 Maret 2021 naik dari penjualan Rp399,41 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Jumat menyebutkan, laba kotor tercatat sebesar Rp37,86 miliar naik daraba kotor Rp21,89 miliar.

Laba sebelum pajak diraih sebesar Rp8,65 miliar usai mencatat rugi sebelum pajak Rp141,60 miliar.

Laba periode berjalan tercatat sebesar Rp6,19 miliar usai mencatat rugi Rp107,53 miliar.

Total aset perseroan hingga periode 31 Maret 2021 mencapai Rp1,63 triliun naik dari total aset Rp1,59 triliun hingga periode 31 Desember 2020.(end)

Sumber: IQPLUS

Analisa Saham BTON dan GDST | 25 Januari 2019

SyariahSaham.com, CIANJUR -- Kemarin, beberapa saham industri baja mengalami kenaikan harga yang signifikan. Saham-saham dimaksud antara lain, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) yang naik sebesar 24,2% dan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk. (GDST) dengan kenaikan 7,7%.

Sebagian analis dan praktisi pasar mengaitkan kenaikan ini dengan kebijakan terbaru pemerintah perihal bea impor baja. Benarkah kenaikan harga saham-saham tersebut ditopang oleh kinerja mereka? Mari kita simak!

Sebagai informasi, saham-saham produsen baja tergabung dalam sektor industri dasar subsektor logam dan produk sejenis. Dari laporan yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI), sub sektor logam ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 24,68 triliun rupiah. Sayangnya, saham-saham di industri ini kurang likuid.

Dari 15 saham yang tergabung di industri ini, hanya beberapa saham saja yang aktif diperdagangkan setiap hari, yaitu PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP), PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON), dan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk. (GDST). Tiga diantaranya tergolong saham syariah, yaitu ISSP, BTON, dan GDST.

Dari sisi fundamental perusahaan, GDST masih mencatatkan kinerja negatif, dengan rasio PER minus 13,11x, PBV di 1,32x, ROE minus 10,07%, dan DER di 0,68x. Sementara itu, saham ISSP menorehkan perolehan positif dengan rasio PER di angka 39,17x, PBV 0,28x, ROE 0,73% dan DER di 1,38x. Begitu juga dengan saham BTON yang meraih kinerja positif sehingga menghasilkan PER 5,32x, PBV 1,08x, ROE 20,32% dan DER 0,19x.

Dari beberapa saham yang disebutkan di atas, praktis hanya dua saham yang layak dicermati pergerakannya setelah mempertimbangkan sisi kinerja dan likuiditas. Saham dimaksud masing-masing adalah BTON dan ISSP.

Bagaimana dengan valuasinya? Dengan menggunakan pendekatan nilai buku per saham diperoleh nilai buku untuk ISSP di angka Rp398, dan BTON di Rp254. Dari valuasi ini, ISSP masih memiliki potential upside yang lumayan. Sementara itu, BTON sudah sedikit di atas harga wajarnya, meskipun rasio harga dibanding laba bersihnya masih sangat menarik di kisaran 5,32 kali.

Yang menarik dicermati adalah pergerakan saham BTON. Di saat saham-saham baja lainnya mulai melesat dan breakout, saham BTON masih sideways di angka Rp274. Secara teknikal, saham BTON ini sedang menguji resisten. Resisten terdekat adalah Rp290, kemudian Rp304, Rp316, Rp352, dan Rp386. Sementara itu support terkuat berada di Rp248.

Hal ini memberikan peluang bagi para investor maupun trader untuk mendapatkan saham BTON di harga yang masih murah. Apalagi tahun ini diprediksi saham-saham baja akan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terkait dengan kebijakan pemerintah di bidang industri tersebut. Selamat berburu saham baja! [amsi]



Prospek Saham KRAS, GDST, BAJA dan BTON | 25 Juli 2018


Mulai kemarin (23/7), China mulai mengadakan penyelidikan anti-dumping terhadap sejumlah barang impor ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Barang-barang seperti baja billet tahan karat (billet stainless steel) masuk dalam daftar penyelidikan.

Aksi tersebut disinyalir bisa mempengaruhi kinerja emiten-emiten baja seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), PT Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON) dan PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA).

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, untuk menghadapi aksi dumping tersebut pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi efek dari aksi perang dagang antara AS dan China terutama soal kenaikan bea impor baja dan aluminium.

"Selain itu, pemerintah juga perlu menetapkan tarif pajak bagi barang-barang yang masuk ke Indonesia karena kalau dibiarkan bebas tanpa kontrol bisa mengganggu kinerja emiten-emiten baja," jelasnya, Selasa (24/7).

Sedangkan untuk emiten baja, Nafan menyarankan untuk melakukan mitigasi risiko dan menerapkan strategi yang tepat untuk penjualan produk baja.

"Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga bisa melebarkan bisnis ke produk berbasis precast atau beton untuk konstruksi yang tentu masih sangat dibutuhkan bagi pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Proyek-proyek infrastruktur ini bisa menopang kinerja emiten-emiten baja," tambahnya.

Sementara itu, direktur Pemasaran KRAS Purwono Widodo saat dihubungi kontan.co.id mengatakan bahwa perusahaannya tidak terdampak dengan ancaman dumping yang dilakukan China. "Krakatau Steel juga tidak memproduksi baja tahan karat (stainless steel) dan tidak melakukan aktivitas ekspor ke China," jelasnya, Selasa (24/7).

Purwono kemudian menambahkan bahwa kalaupun ada dumping, yang terkena bukan produk yang dihasilkan Krakatau Steel karena perusahaan ini masih fokus pada pasar domestik, meski tetap ada alokasi ekspor terutama ke negara-negara Asia Tenggara.

Direktur Keuangan GDST Hadi Sutjipto turut mengungkapkan hal yang sama. "Perusahaan kami tidak ada transaksi dagang dengan China dan tidak memiliki aktivitas ekspor ke sana sehingga aksi tersebut tidak berpengaruh bagi kinerja perusahaan kami," terangnya.

Kinerja kuartal I 2018

Sebagai informasi, pada tiga bulan pertama di kuartal I 2018, KRAS membukukan kenaikan pendapatan 38,85% dari US$ 350,139 juta menjadi US$ 486,17 juta.

Meski KRAS sukses menekan jumlah beban keuangan 17,50% menjadi US$ 23,139 juta dari US$ 27,189 juta.

Namun, KRAS masih menderita rugi sebesar 76,5% dari US$ 20,699 juta turun menjadi US$ 4,864 juta.

Sementara itu, di tiga bulan pertama tahun ini, GDST membukukan kenaikan pendapatan sebesar 14,8% dari Rp 304,281 miliar menjadi Rp 349,238 miliar

Namun, kenaikan pendapatan belum mampu mendongkrak kenaikan laba bersih GDST. Laba bersih GDST pada kuartal I tahun ini mengalami penurunan tajam 84% dari Rp 19,71 miliar menjadi Rp 3,16 miliar.

Hal ini disebabkan karena GDST mengalami kenaikan beban keuangan 64,01% dari Rp 2,32 miliar menjadi Rp 3,810 miliar.

Sedangkan, kinerja BAJA pada tiga bulan pertama 2018 membukukan pendapatan sebesar Rp 321,24 miliar atau naik dari Rp 277,27 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.

Namun, BAJA mengalami penurunan beban keuangan sebesar 11,07% menjadi Rp 6,96 miliar dari Rp 7,837 miliar. Hal ini menyebabkan BAJA mengalami peningkatan kerugian 82% menjadi Rp 5,51 miliar dari Rp 3,03 miliar.

Lalu, kinerja BTON pada tiga bulan pertama 2018 membukukan kenaikan pendapatan sebesar 29,51% menjadi Rp 29,24 miliar dari Rp 22,58 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.

BTON mengalami peningkatan beban keuangan sebesar 100% menjadi 1,794 miliar dari Rp 958,4 juta. Hal ini menyebabkan BTON mengalami peningkatan kerugian sebesar 358% menjadi Rp 8,43 miliar dari Rp 1,85 miliar.



Diminta wait and see

Dari sisi saham, Nafan menyarankan agar wait and see saham-saham seperti GDST maupun BTON. Alasannya karena pergerakan saham-saham tersebut masih belum stabil.

"GDST misalnya sempat mengalami penguatan tapi sekarang malah stagnant atau menunjukkan jenuh beli. Begitupun dengan BTON sempat berada di level 386 yang saya perkirakan sebagai titik puncak, sekarang malah mengalami penurunan meski secara fundamental memiliki kinerja yang cukup baik tahun ini," tandasnya.

Sedangkan untuk BAJA, ia menyarankan untuk melakukan trading jangka pendek dengan harga Rp 135 per saham.

Lalu untuk KRAS, Nafan merekomendasikan untuk melakukan akumulasi beli di jangka menengah hingga jangka panjang dengan harga Rp 650 - Rp 755 per saham. "Secara teknikal diharapkan harga KRAS mampu menembus garis atas dari down channel," tambahnya.

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham GDST stagnan di level Rp 232 per saham dan BTON naik 3,88% ke level Rp 268 per saham. Sementara itu, BAJA naik 0,79% ke level Rp 128 per saham. Lalu, KRAS naik 7,62% ke level Rp 452 per saham.
http://investasi.kontan.co.id/news/simak-rekomendasi-saham-baja-di-tengah-maraknya-isu-dumping

Analisa BKSL, GDST, IIKP, INDY dan WOOD [Quick Review] | 10 April 2018

Analisa BKSL, GDST, IIKP, INDY dan WOOD [Quick Review]
BKSL: cenderung sideway dengan volume kian melemah. harga berkisar antara 186 - 200.

GDST: harga cenderung rebound. jika menembus 119 maka peluang ke area 108.

IIKP: stokastik kembali golden cross dengan harga memantul MA9. potensi ke area 226 - 234. bila turun kembali maka peluang ke area 206 - 198.

INDY: harga memantul MA 9. potensi ke area 3910 - 3970. bila turun kembali maka potensi ke area 3780 - 3680.

WOOD: tertahan MA9 dengan volume rendah. jika menembus MA9 maka peluang ke 320 -332. jika cenderung memantul maka potensi ke 295 - 284.

PacificTrader