Tampilkan postingan dengan label Saham BTON. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham BTON. Tampilkan semua postingan

Betonjaya (BTON) Targetkan Penjualan Rp130 Miliar Pada Tahun 2023


PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON)
menyampaikan bahwa penjualan sampai dengan Agustus 2023, telah mencapai Rp93,8 miliar. Artinya, penjualan ini telah mencapai 70% dari target.

Direktur sekaligus Corporate Secretary BTON, Andy Soesanto mengaku, bisnis properti belum bangkit karena efek pandemi Covid-19, dan berimbas pada penjualan besi. Namun demikian, imbas dari hal itu tidaklan signifikan.

"Sampai saat ini, kami masih optimis manajemen bakal mencatat target penjualan sebesar Rp130 miliar untuk tahun 2023," tegasnya.

Untuk tahun politik yang sedang berjalan, Andy mengatakan, perseroan yakin tetap membaik dan semoga bisnis perseroan tidak terpangaruh. (end)
Sumber: iqplus-
Materi video tutorial belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

Gwie Gunadi Lakukan Investasi Pada Saham BTON


Gwie Gunadi Gunawan selaku Presiden Direktur PT. Betonjaya Manunggal Tbk. (BTON) telah melakukan investasi pada tanggal 25 Agustus 2023.

Dalam keterangan terulisnya pada keterbukaan informasi Senin (28/8) Gwie Gunadi menyampaikan telah membeli sebanyak 5.999.800 lembar saham BTON di harga Rp420 per saham senilai Rp2,51 miliar.

"Tujuan transaksi adalah untuk Investasi dengan kepemilikan saham langsung,"tuturnya.

Pasca pembelian, maka kepemilikan saham Gwie Gunadi Gunawan di BTON menjadi sebanyak 5.999.800 lembar saham setara dengan 0,83% dibandingkan sebelumnya 0 lembar saham. (end)
Sumber: iqplus-
Materi video tutorial belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

Betonjaya Manunggal (BTON) Catat Penjualan Bersih Rp36,42 Miliar Hingga Maret 2023


PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON)
mencatat penjualan bersih Rp36,42 miliar hingga periode 31 Maret 2023 naik dari penjualan bersih Rp33,52 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Jumat menyebutkan, beban pokok penjualan naik menjadi Rp31,77 miliar dari Rp28,68 miliar membuat laba kotor turun menjadi Rp4,65 miliar dari laba kotor Rp4,83 miliar.

Rugi sebelum taksiran beban pajak diderita Rp6,13 miliar dari laba sebelum taksiran beban pajak Rp4,17 miliar. Rugi tahun berjalan tercatat Rp6,18 miliar dari laba tahun berjalan Rp3,63 miliar tahun sebelumnya.

Jumlah liabilitas mencapai Rp108,12 miliar hingga periode 31 Maret 2023 naik dari jumlah liabilitas mencapai Rp106,35 miliar hingga periode 31 Desember 2022. Jumlah aset mencapai Rp340,27 miliar hingga periode 31 Maret 2023 turun dari jumlah aset Rp344,55 miliar hingga periode 31 Desember 2022. (end)
Sumber: iqplus-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

PT Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON) Catat Penjualan Bersih Rp68,99 Miliar Hingga Juni 2022


PT Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON) mencatat penjualan bersih Rp68,99 miliar hingga periode 30 Juni 2022 naik dari Rp62,52 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, naiknya beban pokok penjualan menjadi Rp58,24 miliar dari Rp49,89 miliar membuat laba kotor turun menjadi Rp10,75 miliar dari laba kotor Rp12,63 miliar.

Namun laba sebelum taksiran beban pajak naik menjadi Rp16,12 miliar dari laba Rp12,69 miliar.

Laba periode berjalan diraih Rp14,91 miliar naik dari laba Rp11,04 miliar tahun sebelumnya.

Total liabilitas mencapai Rp96,51 miliar hingga periode 30 Juni 2022 naik dari total liabilitas Rp72,90 miliar hingga periode 31 Desember 2021.

Total aset perseroan mencapai Rp308,89 miliar hingga periode 30 Juni 2022 naik dari total aset Rp270,66 miliar hingga periode 31 Desember 2021. (end)
Sumber: iqplus-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

Rekomendasi Saham Reliance Sekuritas Indonesia | SSMS, WTON, ICBP, KLBF,WEGE, LPPF, AKRA, RALS


IHSG

Pada perdagangan hari ini, laju Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) yang masih berada dalam fase konsolidasi akan mencoba untuk melanjutkan proses kenaikan, setelah kemarin berhasil ditutup di zona hijau.
Secara teknikal laju IHSG sedang berusaha mempertahankan tren bullish jangka pendek, tercermin dari posisi indeks yang berada pada level support Moving Average 5-Day (MA-5) di posisi 6.280.
Indikator Stochastic dan RSI memberikan sinyal bearish berkelanjutan di tengah upaya IHSG yang sedang menuju resistance MA-200 pada level 6.320, jika IHSG tetap mampu bertahan di atas 6.280.
Pada perdagangan kemarin bursa saham Asia ditutup variatif, tercermin dari kenaikan indeks Nikkei (+0,47 persen) dan Topix (+0 86 persen) di tengah terjadinya pelemahan pada indeks Hang Seng (-0,39 persen) dan CSI300 (-0,42 persen). Sementara itu, IHSG ditutup menguat 0,25 persen ke level 6.281.

Saham Pilihan

1. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
2. PT Wika Beton Tbk (WTON)
3. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
4. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)
5. PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE)
6. PT Matahari Department Store Tbk (LPPF)
7. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
8. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah

Analisa Saham BTON dan GDST | 25 Januari 2019

SyariahSaham.com, CIANJUR -- Kemarin, beberapa saham industri baja mengalami kenaikan harga yang signifikan. Saham-saham dimaksud antara lain, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) yang naik sebesar 24,2% dan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk. (GDST) dengan kenaikan 7,7%.

Sebagian analis dan praktisi pasar mengaitkan kenaikan ini dengan kebijakan terbaru pemerintah perihal bea impor baja. Benarkah kenaikan harga saham-saham tersebut ditopang oleh kinerja mereka? Mari kita simak!

Sebagai informasi, saham-saham produsen baja tergabung dalam sektor industri dasar subsektor logam dan produk sejenis. Dari laporan yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI), sub sektor logam ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 24,68 triliun rupiah. Sayangnya, saham-saham di industri ini kurang likuid.

Dari 15 saham yang tergabung di industri ini, hanya beberapa saham saja yang aktif diperdagangkan setiap hari, yaitu PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP), PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON), dan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk. (GDST). Tiga diantaranya tergolong saham syariah, yaitu ISSP, BTON, dan GDST.

Dari sisi fundamental perusahaan, GDST masih mencatatkan kinerja negatif, dengan rasio PER minus 13,11x, PBV di 1,32x, ROE minus 10,07%, dan DER di 0,68x. Sementara itu, saham ISSP menorehkan perolehan positif dengan rasio PER di angka 39,17x, PBV 0,28x, ROE 0,73% dan DER di 1,38x. Begitu juga dengan saham BTON yang meraih kinerja positif sehingga menghasilkan PER 5,32x, PBV 1,08x, ROE 20,32% dan DER 0,19x.

Dari beberapa saham yang disebutkan di atas, praktis hanya dua saham yang layak dicermati pergerakannya setelah mempertimbangkan sisi kinerja dan likuiditas. Saham dimaksud masing-masing adalah BTON dan ISSP.

Bagaimana dengan valuasinya? Dengan menggunakan pendekatan nilai buku per saham diperoleh nilai buku untuk ISSP di angka Rp398, dan BTON di Rp254. Dari valuasi ini, ISSP masih memiliki potential upside yang lumayan. Sementara itu, BTON sudah sedikit di atas harga wajarnya, meskipun rasio harga dibanding laba bersihnya masih sangat menarik di kisaran 5,32 kali.

Yang menarik dicermati adalah pergerakan saham BTON. Di saat saham-saham baja lainnya mulai melesat dan breakout, saham BTON masih sideways di angka Rp274. Secara teknikal, saham BTON ini sedang menguji resisten. Resisten terdekat adalah Rp290, kemudian Rp304, Rp316, Rp352, dan Rp386. Sementara itu support terkuat berada di Rp248.

Hal ini memberikan peluang bagi para investor maupun trader untuk mendapatkan saham BTON di harga yang masih murah. Apalagi tahun ini diprediksi saham-saham baja akan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terkait dengan kebijakan pemerintah di bidang industri tersebut. Selamat berburu saham baja! [amsi]



Berita Saham BTON | 10 Desember 2018

2019, BTON OPTIMIS CAPAI PENJUALAN Rp100 MILIAR.
IQPlus, (07/12) - Meskipun kondisi pasar properti tahun ini kurang menggembirakan, namun hal ini tidak terlalu berimbas pada kinerja PT Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON). Terbukti pencapaian penjualan perusahaan yang memproduksi besi beton ini dipastikan akan over target dari tahun lalu.

Andy Soesanto, Direktur Perseroan mengatakan, pihaknya tetap optimis meskipun kondisi ekonomi masih agak lesu. Pasalnya penyerapan produk dari emiten berkode BTON ini tetap bagus tahun ini.

"Target kami sebenarnya Rp 88 miliar. Namun hingga 31 Oktober pencapaian penjualan kami sudah over target. Kami sudah mencapai Rp 97,2 miliar," kata Andy Soesanto usai public expose di Surabaya, Kamis .

Bukan hanya penjualannya saja yang meningkat, laba bersih perusahaan juga naik cukup tajam. kalau tahun hingga 31 Desember 2017, perseroan membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 11,3 miliar. Namun tahun ini, hingga 31 Oktober justru mampu mencatat laba bersih Rp 35,4 miliar (belum diaudit).

"Tahun depan kami optimis penjualan akan naik menjadi Rp 100 miliar. Sasaran kami masih untuk perumahan kelas kecil dan menengah. Produk kami saat ini sebagian besar beredar di Indonesia Timur," kata Andy Soesanto. (end/nhd)


Prospek Saham KRAS, GDST, BAJA dan BTON | 25 Juli 2018


Mulai kemarin (23/7), China mulai mengadakan penyelidikan anti-dumping terhadap sejumlah barang impor ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Barang-barang seperti baja billet tahan karat (billet stainless steel) masuk dalam daftar penyelidikan.

Aksi tersebut disinyalir bisa mempengaruhi kinerja emiten-emiten baja seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), PT Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON) dan PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA).

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, untuk menghadapi aksi dumping tersebut pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi efek dari aksi perang dagang antara AS dan China terutama soal kenaikan bea impor baja dan aluminium.

"Selain itu, pemerintah juga perlu menetapkan tarif pajak bagi barang-barang yang masuk ke Indonesia karena kalau dibiarkan bebas tanpa kontrol bisa mengganggu kinerja emiten-emiten baja," jelasnya, Selasa (24/7).

Sedangkan untuk emiten baja, Nafan menyarankan untuk melakukan mitigasi risiko dan menerapkan strategi yang tepat untuk penjualan produk baja.

"Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga bisa melebarkan bisnis ke produk berbasis precast atau beton untuk konstruksi yang tentu masih sangat dibutuhkan bagi pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Proyek-proyek infrastruktur ini bisa menopang kinerja emiten-emiten baja," tambahnya.

Sementara itu, direktur Pemasaran KRAS Purwono Widodo saat dihubungi kontan.co.id mengatakan bahwa perusahaannya tidak terdampak dengan ancaman dumping yang dilakukan China. "Krakatau Steel juga tidak memproduksi baja tahan karat (stainless steel) dan tidak melakukan aktivitas ekspor ke China," jelasnya, Selasa (24/7).

Purwono kemudian menambahkan bahwa kalaupun ada dumping, yang terkena bukan produk yang dihasilkan Krakatau Steel karena perusahaan ini masih fokus pada pasar domestik, meski tetap ada alokasi ekspor terutama ke negara-negara Asia Tenggara.

Direktur Keuangan GDST Hadi Sutjipto turut mengungkapkan hal yang sama. "Perusahaan kami tidak ada transaksi dagang dengan China dan tidak memiliki aktivitas ekspor ke sana sehingga aksi tersebut tidak berpengaruh bagi kinerja perusahaan kami," terangnya.

Kinerja kuartal I 2018

Sebagai informasi, pada tiga bulan pertama di kuartal I 2018, KRAS membukukan kenaikan pendapatan 38,85% dari US$ 350,139 juta menjadi US$ 486,17 juta.

Meski KRAS sukses menekan jumlah beban keuangan 17,50% menjadi US$ 23,139 juta dari US$ 27,189 juta.

Namun, KRAS masih menderita rugi sebesar 76,5% dari US$ 20,699 juta turun menjadi US$ 4,864 juta.

Sementara itu, di tiga bulan pertama tahun ini, GDST membukukan kenaikan pendapatan sebesar 14,8% dari Rp 304,281 miliar menjadi Rp 349,238 miliar

Namun, kenaikan pendapatan belum mampu mendongkrak kenaikan laba bersih GDST. Laba bersih GDST pada kuartal I tahun ini mengalami penurunan tajam 84% dari Rp 19,71 miliar menjadi Rp 3,16 miliar.

Hal ini disebabkan karena GDST mengalami kenaikan beban keuangan 64,01% dari Rp 2,32 miliar menjadi Rp 3,810 miliar.

Sedangkan, kinerja BAJA pada tiga bulan pertama 2018 membukukan pendapatan sebesar Rp 321,24 miliar atau naik dari Rp 277,27 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.

Namun, BAJA mengalami penurunan beban keuangan sebesar 11,07% menjadi Rp 6,96 miliar dari Rp 7,837 miliar. Hal ini menyebabkan BAJA mengalami peningkatan kerugian 82% menjadi Rp 5,51 miliar dari Rp 3,03 miliar.

Lalu, kinerja BTON pada tiga bulan pertama 2018 membukukan kenaikan pendapatan sebesar 29,51% menjadi Rp 29,24 miliar dari Rp 22,58 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.

BTON mengalami peningkatan beban keuangan sebesar 100% menjadi 1,794 miliar dari Rp 958,4 juta. Hal ini menyebabkan BTON mengalami peningkatan kerugian sebesar 358% menjadi Rp 8,43 miliar dari Rp 1,85 miliar.



Diminta wait and see

Dari sisi saham, Nafan menyarankan agar wait and see saham-saham seperti GDST maupun BTON. Alasannya karena pergerakan saham-saham tersebut masih belum stabil.

"GDST misalnya sempat mengalami penguatan tapi sekarang malah stagnant atau menunjukkan jenuh beli. Begitupun dengan BTON sempat berada di level 386 yang saya perkirakan sebagai titik puncak, sekarang malah mengalami penurunan meski secara fundamental memiliki kinerja yang cukup baik tahun ini," tandasnya.

Sedangkan untuk BAJA, ia menyarankan untuk melakukan trading jangka pendek dengan harga Rp 135 per saham.

Lalu untuk KRAS, Nafan merekomendasikan untuk melakukan akumulasi beli di jangka menengah hingga jangka panjang dengan harga Rp 650 - Rp 755 per saham. "Secara teknikal diharapkan harga KRAS mampu menembus garis atas dari down channel," tambahnya.

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham GDST stagnan di level Rp 232 per saham dan BTON naik 3,88% ke level Rp 268 per saham. Sementara itu, BAJA naik 0,79% ke level Rp 128 per saham. Lalu, KRAS naik 7,62% ke level Rp 452 per saham.
http://investasi.kontan.co.id/news/simak-rekomendasi-saham-baja-di-tengah-maraknya-isu-dumping