Prospek Saham KRAS, GDST, BAJA dan BTON | 25 Juli 2018
Mulai kemarin (23/7), China mulai mengadakan penyelidikan anti-dumping terhadap sejumlah barang impor ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Barang-barang seperti baja billet tahan karat (billet stainless steel) masuk dalam daftar penyelidikan.
Aksi tersebut disinyalir bisa mempengaruhi kinerja emiten-emiten baja seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), PT Beton Jaya Manunggal Tbk (BTON) dan PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA).
Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, untuk menghadapi aksi dumping tersebut pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi efek dari aksi perang dagang antara AS dan China terutama soal kenaikan bea impor baja dan aluminium.
"Selain itu, pemerintah juga perlu menetapkan tarif pajak bagi barang-barang yang masuk ke Indonesia karena kalau dibiarkan bebas tanpa kontrol bisa mengganggu kinerja emiten-emiten baja," jelasnya, Selasa (24/7).
Sedangkan untuk emiten baja, Nafan menyarankan untuk melakukan mitigasi risiko dan menerapkan strategi yang tepat untuk penjualan produk baja.
"Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga bisa melebarkan bisnis ke produk berbasis precast atau beton untuk konstruksi yang tentu masih sangat dibutuhkan bagi pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Proyek-proyek infrastruktur ini bisa menopang kinerja emiten-emiten baja," tambahnya.
Sementara itu, direktur Pemasaran KRAS Purwono Widodo saat dihubungi kontan.co.id mengatakan bahwa perusahaannya tidak terdampak dengan ancaman dumping yang dilakukan China. "Krakatau Steel juga tidak memproduksi baja tahan karat (stainless steel) dan tidak melakukan aktivitas ekspor ke China," jelasnya, Selasa (24/7).
Purwono kemudian menambahkan bahwa kalaupun ada dumping, yang terkena bukan produk yang dihasilkan Krakatau Steel karena perusahaan ini masih fokus pada pasar domestik, meski tetap ada alokasi ekspor terutama ke negara-negara Asia Tenggara.
Direktur Keuangan GDST Hadi Sutjipto turut mengungkapkan hal yang sama. "Perusahaan kami tidak ada transaksi dagang dengan China dan tidak memiliki aktivitas ekspor ke sana sehingga aksi tersebut tidak berpengaruh bagi kinerja perusahaan kami," terangnya.
Kinerja kuartal I 2018
Sebagai informasi, pada tiga bulan pertama di kuartal I 2018, KRAS membukukan kenaikan pendapatan 38,85% dari US$ 350,139 juta menjadi US$ 486,17 juta.
Meski KRAS sukses menekan jumlah beban keuangan 17,50% menjadi US$ 23,139 juta dari US$ 27,189 juta.
Namun, KRAS masih menderita rugi sebesar 76,5% dari US$ 20,699 juta turun menjadi US$ 4,864 juta.
Sementara itu, di tiga bulan pertama tahun ini, GDST membukukan kenaikan pendapatan sebesar 14,8% dari Rp 304,281 miliar menjadi Rp 349,238 miliar
Namun, kenaikan pendapatan belum mampu mendongkrak kenaikan laba bersih GDST. Laba bersih GDST pada kuartal I tahun ini mengalami penurunan tajam 84% dari Rp 19,71 miliar menjadi Rp 3,16 miliar.
Hal ini disebabkan karena GDST mengalami kenaikan beban keuangan 64,01% dari Rp 2,32 miliar menjadi Rp 3,810 miliar.
Sedangkan, kinerja BAJA pada tiga bulan pertama 2018 membukukan pendapatan sebesar Rp 321,24 miliar atau naik dari Rp 277,27 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.
Namun, BAJA mengalami penurunan beban keuangan sebesar 11,07% menjadi Rp 6,96 miliar dari Rp 7,837 miliar. Hal ini menyebabkan BAJA mengalami peningkatan kerugian 82% menjadi Rp 5,51 miliar dari Rp 3,03 miliar.
Lalu, kinerja BTON pada tiga bulan pertama 2018 membukukan kenaikan pendapatan sebesar 29,51% menjadi Rp 29,24 miliar dari Rp 22,58 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.
BTON mengalami peningkatan beban keuangan sebesar 100% menjadi 1,794 miliar dari Rp 958,4 juta. Hal ini menyebabkan BTON mengalami peningkatan kerugian sebesar 358% menjadi Rp 8,43 miliar dari Rp 1,85 miliar.
Diminta wait and see
Dari sisi saham, Nafan menyarankan agar wait and see saham-saham seperti GDST maupun BTON. Alasannya karena pergerakan saham-saham tersebut masih belum stabil.
"GDST misalnya sempat mengalami penguatan tapi sekarang malah stagnant atau menunjukkan jenuh beli. Begitupun dengan BTON sempat berada di level 386 yang saya perkirakan sebagai titik puncak, sekarang malah mengalami penurunan meski secara fundamental memiliki kinerja yang cukup baik tahun ini," tandasnya.
Sedangkan untuk BAJA, ia menyarankan untuk melakukan trading jangka pendek dengan harga Rp 135 per saham.
Lalu untuk KRAS, Nafan merekomendasikan untuk melakukan akumulasi beli di jangka menengah hingga jangka panjang dengan harga Rp 650 - Rp 755 per saham. "Secara teknikal diharapkan harga KRAS mampu menembus garis atas dari down channel," tambahnya.
Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham GDST stagnan di level Rp 232 per saham dan BTON naik 3,88% ke level Rp 268 per saham. Sementara itu, BAJA naik 0,79% ke level Rp 128 per saham. Lalu, KRAS naik 7,62% ke level Rp 452 per saham.
http://investasi.kontan.co.id/news/simak-rekomendasi-saham-baja-di-tengah-maraknya-isu-dumping
Berita Saham BAJA | 8 Februari 2018
Berita Saham BAJA
Tahun 2017 merupakan masa yang cukup sulit bagi industri hilir baja dalam meraih keuntungan. Hal ini disebabkan oleh harga bahan baku yang melonjak sehingga perusahaan harus menekan ongkos produksi.
Handaja Susanto, Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) mengatakan, produsen utama baja dunia yakni China tengah mengurangi suplai baja jenis cold rolled coil (CRC). "Akibatnya harga jadi semakin mahal," sebut Handaja kepada Kontan.co.id, Kamis (8/2).
Menurut perhitungannya, sampai awal tahun 2018 ini harga CRC sudah naik mendekati 50% dibandingkan dengan awal tahun 2017 lalu. "Di tengah harga yang cepat naik itu kami belum bisa deliver ke (harga produk) pelanggan," ucap Handaja.
Sampai kuartal III-2017 perseroan ini berhasil meraup kenaikan pendapatan bersih 36% menjadi Rp 894 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun beban pokok penjualan naik 48% dari Rp 600 miliar menjadi Rp 889 miliar.
Sampai kuartal ketiga 2017 tersebut BAJA mencatat rugi bersih Rp 18 miliar, padahal periode yang sama tahun lalu perseroan dapat meraup laba bersih Rp 35 miliar.
Untuk tahun ini pihaknya berusaha untuk bisa mencetak laba. Untuk itu, perseroan ini berencana mengurangi jumlah produksi agar bisa melakukan efisiensi dan menyesuaikan suplai dengan permintaan. BAJA mematok produksi tahun 2018 tak lebih dari kisaran 105.000 ton dari kapasitas terpasang pabrik yang mencapai 180.000 ton per tahun
KONTAN
Berita Saham BAJA | 1 November 2017
PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) meraih penjualan bersih sebesar Rp894,28 miliar hingga periode 30 September 2017 naik 36,67 persen dibandingkan penjualan bersih Rp654,31 miliar di periode sama tahun sebelumnya.
Laporan keuangan perseroan Rabu menyebutkan, beban pokok penjualan naik jadi Rp889,05 miliar dari beban pokok penjualan Rp600,26 miliar tahun sebelumnya dan laba kotor anjlok menjadi Rp5,22 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya yang Rp54,05 miliar.
Rugi sebelum pajak diderita Rp21,00 miliar usai mencatat laba sebelum pajak Rp56,81 miliar tahun sebelumnya. Manfaat pajak diraih Rp3,70 miliar usai mencatat beban pajak Rp20,02 miliar tahun sebelumnya dan rugi tahun berjalan diderita Rp17,30 miliar dari laba tahun berjalan Rp36,79 miliar hingga September tahun sebelumnya.
Jumlah aset per 30 September 2017 mencapai Rp998,15 miliar naik dari jumlah aset Rp982,62 miliar hingga periode 31 Desember 2016. (end)
IQPLUS
