Tampilkan postingan dengan label Saham PBID. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham PBID. Tampilkan semua postingan

Panca Budi Idaman (PBID) Akan Bagi Dividen Rp100 Per Saham Pada 7 Juni 2023


PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID)
berencana memberikan apresiasi kepada pemegang sahamnya melalui pembagian dividen tunai. Aksi korporasi ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar hari Jumat 19 Mei 2023.

Direktur & Corporate Secretary PBID, Lukman Hakim menuturkan bahwa dalam Rapat salah satunya telah menyetujui penggunaan laba bersih Perseroan untuk tahun buku 2022 yang dapat diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk Perseroan, sebesar Rp 352.857.039.156,-.

"Sebagian atau sebesar Rp 187,50 miliar ditetapkan sebagai dividen tunai atau sebesar Rp 100 setiap saham," katanya.

Kemudian sebagian laba bersih 2022, atau sekitar Rp 3 miliar ditetapkan sebagai cadangan guna memenuhi ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Perseroan Terbatas. Dan sisanya ditetapkan sebagai saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.

Dividen Tunai akan dibagikan kepada Pemegang Saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan (DPS) atau recording date pada tanggal 31 Mei 2023. Adapun Cum dan Ex Dividen di Pasar Reguler dan Negosiasi akan dilaksanakan pada tanggal 29 dan 30 Mei 2023. Sementara Cum dan Ex Dividen di Pasar Tunai akan dilakukan pada tanggal 31 Mei dan 5 Juni 2023.

"Sehingga pembayaran dividen tunai akan direalisasikan pada tanggal 7 Juni 2023," tegasnya. (end)
Sumber: iqplus-
Dapatkan informasi pasar dan rekomendasi saham dengan aplikasi Android: Saham Indonesia
Materi video tutorial belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

Beban Bengkak, Laba Panca Budi Idaman (PBID) Melorot 14,7 Persen Sisa Rp352 Miliar


PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID)
membukukan laba bersih sebesar Rp352,85 miliar pada tahun 2022, atau melorot 14,7 persen dibanding tahun 2021 yang terbilang Rp413,89 miliar.

Dampaknya, laba bersih per saham turun ke level Rp188,19 per lembar, sedangkan di akhir tahun 2021 berada di level Rp220,74.

Data tersebut tersaji dalam laporan keuangan tahun 2022 telah audit emiten kemasan plastik itu yang di unggah pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/3/2023).

Padahal, penjualan tumbuh 13,2 persen menjadi Rp5,03 triliun yang ditopang peningkatan penjualan plastik sebesar 16,6 persen menjadi Rp3,439 triliun.

Senada, penjualan biji plastik terkerek 6,1 persen menjadi Rp1,206 triliun.

Sayangnya, beban pokok penjualan membengkak 17,4 persen menjadi Rp4,2 triliun. 
Pemicunya, bahan baku yang digunakan naik 21,2 persen menjadi Rp2,359 triliun.
kibatnya, laba kotor menyusut 4,04 persen menjadi Rp830,3 miliar.

Kian tertekan, beban penjualan membengkak 12,9 persen menjadi Rp183,55 miliar. Sehingga laba usaha amblas 12,8 persen yang tersisa Rp461,51 miliar.

Sementara itu, total kewajiban bertambah menjadi Rp594,33 miliar.

Pada sisi lain, jumlah ekuitas meningkat 6,5 persen menjadi Rp2,446 triliun.
Author: Rizki
Sumber: emitennews-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) Idaman Catat Penjualan Bersih Rp3,81 Triliun Hingga September 2022


PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) mencatat penjualan bersih Rp3,81 triliun hingga periode 30 September 2022 naik dari Rp3,23 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Jumat menyebutkan, laba bruto naik tipis menjadi Rp649,65 miliar dari laba bruto Rp646,74 miliar tahun sebelumnya dan laba usaha diraih Rp361,87 miliar turun dari laba usaha Rp414,76 miliar tahun sebelumnya.

Laba sebelum pajak penghasilan turun menjadi Rp356,22 miliar dari laba sebelum pajak penghasilan Rp416,99 miliar tahun sebelumnya dan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk turun menjadi Rp270,82 miliar dari laba Rp320,77 miliar tahun sebelumnya.

Jumlah liabilitas perseroan mencapai Rp623,64 miliar hingga periode 30 September 2022 naik dari jumlah liabilitas Rp524,11 miliar hingga periode 31 Desember 2021 sedangkan jumlah aset mencapai Rp2,97 triliun hingga periode 30 September 2022 naik dari jumlah aset Rp2,80 triliun hingga periode 31 Desember 2021. (end)
Sumber: iqplus-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

LABA PANCA BUDI IDAMAN CAPAI Rp121,47 MILIAR HINGGA MARET 2021


Panca Budi Idaman Tbk (PBID) mencatat kenaikan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp121,47 miliar hingga periode 31 Maret 2021 naik dari laba Rp61,56 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Kamis menyebutkan, penjualan diraih sebesar Rp1,04 triliun naik dari penjualan Rp979,47 miliar.

Sedangkan laba bruto naik menjadi Rp234,66 miliar dari laba bruto Rp189,30 miliar.

Laba usaha diraih sebesar Rp157,17 miliar naik dari laba usaha Rp89,71 miliar.

Laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp159,24 miliar naik dari laba sebelum pajak Rp86,31 miliar tahun sebelumnya.

Total aset perseroan hingga periode 31 Maret 2021 sebesar Rp2,59 triliun naik dari total aset Rp2,42 triliun hingga periode 31 Desember 2020.(end)

Sumber: IQPLUS

[PBID] Memasuki Ramadan, Panca Budi Idaman mencatatkan kenaikan permintaan kemasan


Memasuki momentum Ramadan, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) mengalami kenaikan demand permintaan kemasan plastik pada sektor industri makanan dan minuman. Hal tersebut terjadi, seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan selama periode Ramadan.

Direktur PBID Lukman Hakim menyebut, PBID utamanya hadir untuk memenuhi kebutuhan kemasan bagi para pengusaha di sektor industri makanan dan minuman. Karenanya, peningkatan permintaan  pun akan mengikuti tren pasar pada sektor yang menjadi target pasar mereka.

"Untuk kemasan plastik dan kertas, segmen kami terbesar di pasar tradisional, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),terutama untuk mendukung industri makanan dan minuman," ungkap Direktur PBID Lukman Hakim saat dihubungi Kontan, Selasa (13/4). 

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya di momentum Ramadan, PBID menyiapkan sejumlah strategi khusus. Salah satunya dengan memaksimalkan laju distribusi juga pasokan stok kemasan plastik agar dapat memenuhi seluruh permintaan pasar. "Seperti memberikan layanan distribusi yang baik dari segi ketepatan waktu dan ketersediaan barang," sebutnya. 

Lukman tidak memerinci berapa target penjualan yang ingin dicapai di momentum Ramadan tahun ini karena produk PBID bersifat consumer staples atau kebutuhan sehari-hari. Sehingga  penjualan tidak difokuskan pada momentum Ramadan saja. 

Namun secara keseluruhan dia bilang PBID optimistis akan mengerek pertumbuhan hingga 15% di sepanjang tahun 2021. "Target pertumbuhan penjualan kami di 2021 sebesar 10%-15%, setiap bulan kami selalu push penjualan," terang Lukman. 

Untuk memuluskan kinerja bisnisnya di tahun ini, PBID akan melakukan ekspansi pasar ke sejumlah wilayah baru yang memiliki potensi pasar tinggi, seperti Jawa Timur dan beberapa wilayah baru lainnya di luar pulau Jawa. 

Selain itu, PBID pun menjalankan banyak strategi lain yang diyakininya dapat membantu mendongkrak pendapatannya di tahun ini. "Seperti meningkatkan kualitas produk dan brand value, meningkatkan inovasi dan diversifikasi produk, melakukan efisiensi operasional, dan menjalankan protokol kesehatan yg baik," pungkasnya. 

Sedikit informasi, sebagai emiten kemasan plastik dan kertas, PBID memproduksi berbagai macam kemasan seperti food pack, gelas plastik, kemasan kertas seperti dus kue, dan juga kertas nasi.  

Sumber: KONTAN

PT Panca Budi Idaman Tbk Raih Penjualan Bersih IDR 4,63 Trilyun | PBID

IQPlus, (30/03) - PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) meraih penjualan bersih Rp4,63 triliun hingga periode 31 Desember 2019 naik dari penjualan bersih Rp4,35 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Senin menyebutkan, kenaikan beban pokok penjualan menjadi Rp4,03 triliun dari Rp3,73 triliun membuat laba bruto turun menjadi Rp601,92 miliar dari laba bruto Rp619,75 miliar.

Laba usaha turun menjadi Rp308,77 miliar dari laba usaha turun menjadi Rp389,05 miliar. Laba Sebelum pajak penghasilan turun menjadi Rp297,82 miliar dari laba sebelum pajak penghasilan tahun sebelumnya yang Rp385,01 miliar.

Laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk turun jadi Rp222,90 miliar dari laba tahun sebelumnya yang Rp294,51 miliar. Sedangkan total aset perseroan hingga periode 31 Desember 2019 mencapai Rp2,34 triliun naik dari total aset Rp2,29 triliun hingga periode 31 Desember 2018. (end)

Saham PBID dan IGAR | Menjelang Lebaran, Produsen Plastik dan Kemasan Menggenjot Produksi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi produsen plastik dan kemasan, momentum Ramadhan dan Lebaran bakal menjadi katalis positif untuk memompa kinerja operasional. Pasalnya, permintaan kedua produk tersebut berpotensi melonjak seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat.

Untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan, pelaku industri plastik dan kemasan mengerek produksi dan menerapkan manajemen stok barang untuk menyiasati hambatan distribusi sepanjang bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri.

Produsen raw material plastik PT Trinseo Materials Indonesia optimistis bakal menggenggam keuntungan di momentum saat ini. "Permintaan memang cenderung kuat dan stabil menjelang puasa," ujar Donny Wahyudi, Sales Manager PT Trinseo Materials Indonesia kepada KONTAN, kemarin.

Namun dia tak memerinci perbandingan kenaikan permintaan ketimbang bulan-bulan biasa. Satu hal yang pasti, saat ini Trinseo sedang sibuk memenuhi permintaan bahan baku plastik dan kemasan.

Trinseo memproduksi polystyrene dan lateks. Produk seperti polyestyrene akan menghasilkan bijih plastik. Perusahaan ini memiliki dua pabrik. Perinciannya, satu pabrik memproduksi polystyrene dengan kapasitas produksi 85.000 ton per tahun. Adapun satu pabrik lagi memproduksi lateks. Hampir 85% total produksi Trinseo dijual ke dalam negeri, sedangkan 15% sisanya diekspor.

Produsen kantung plastik lainnya, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) juga meyakini bakal ada kenaikan permintaan pada momentum bulan puasa dan Lebaran tahun ini. Oleh karena itu, Panca Budi tengah menggenjot produksi.

Lukman Hakim, Corporate Secretary PT Panca Budi Idaman Tbk, menyebutkan, pihaknya tidak mematok target khusus untuk penjualan di bulan puasa nanti. "Sebelum Lebaran pasti ada kenaikan. Pokoknya, tahun ini kami menargetkan pertumbuhan penjualan 15%," sebut dia kepada KONTAN, Kamis (4/4).

Panca Budi sudah siap menghadapi bulan puasa dan Lebaran dengan kapasitas produksi internal saat ini sebesar 91.711 ton per tahun. Mereka juga bekerja sama dengan pihak eksternal. Tahun ini, Panca Budi mengerek kapasitas produksi menjadi 121.000 ton per tahun.

Mengenai harga minyak mentah di pasar global yang akhir-akhir ini tidak menentu, Panca Budi Idaman tidak terlalu khawatir dengan fluktuasi tersebut. "Sebab, sebagian produk kami tidak terkait harga minyak karena ada yang berasal dari gas dan shale gas," ungkap Lukman.

Setali tiga uang, produsen kemasan aluminium foil, PT Champion Pacific Tbk (IGAR), juga tidak menampik  adanya kenaikan permintaan yang cukup signifikan di awal tahun 2019. "Karena biasanya truk dilarang lewat saat Lebaran, maka awal tahun ini sudah banyak order," kata Antonius Muhartoyo, Presiden Direktur PT Champion Pacific Tbk kepada KONTAN, kemarin.

Meski sebagian besar penjualan kemasan emiten bersandi saham IGAR di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini ialah produk farmasi, sumbangan produk non-farmasi pada tahun lalu cukup besar, yakni sekitar 12% dari revenue 2018 atau di kisaran Rp 95 miliar.

Menurut Antonius, beberapa produk non-farmasi tersebut merupakan pelanggan IGAR yang sudah lama. Nah, salah satu kemasan consumer goods yang diproduksi adalah kemasan produk kopi luwak.

Berdasarkan catatan KONTAN, Champion Pacific tengah merencanakan diversifikasi produk ke arah kemasan makanan. Kini, IGAR menyiapkan mesin baru untuk menunjang lini produksi tersebut. Tahun ini, IGAR membidik pertumbuhan 9%, naik dari tahun lalu yang 2%. Manajemen optimistis dapat mengejar target tahun ini.     

Sumber: KONTAN

Saham PBID | Pabrik Baru Panca Budi (PIBD) Beroperasi Tahun 2019

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) menargetkan pembangunan pabrik di Pemalang, Jawa Tengah, rampung akhir tahun ini. Dus, jika tidak ada aral melintang, mereka bakal mengoperasikan pabrik dengan total kapasitas produksi 121.000 ton pada 2019. Pabrik yang berlokasi di Pemalang saat ini memiliki kapasitas produksi 27.000 ton per tahun.

Selain di Pemalang, Panca Budi juga sedang membangun pabrik di Johor Baru, Malaysia dengan kapasitas 4.000 ton per tahun.

Panca Budi sudah menyiapkan anggaran untuk ekspansi pabrik. Emiten tersebut menggelontorkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp 200 miliar pada tahun ini.

Ekspansi pabrik Panca Budi terus berjalan karena permintaan pasar kantong plastik masih besar. Meskipun, wacana cukai plastik oleh pemerintah menjadi momok bagi industri yang mereka geluti. "Cukai plastik pasti berlaku umum, kami akan menjalani peraturan pemerintah," kata Lukman Hakim, Corporate Secretary PT Panca Budi Idaman Tbk kepada KONTAN, Senin (11/3).

Andaikata kelak cukai plastik berlaku, Panca Budi menakar harga kantong plastik bakal naik. Namun manajemen meyakini konsumen tidak akan terpengaruh dengan kenaikan harga tersebut. Lagipula sejauh ini belum ada produk pengganti kantong plastik yang berharga lebih murah.

Adapun Panca Budi memproduksi aneka produk yakni kantong plastik polyethylene (PE), kantong plastik polypropylene (PP), kantong plastik high density polyethylene (HDPE), kantong plastik heavy duty sacks dan produk lain. Merek produknya juga beragam, seperti Tomat, Bangkuang, Jeruk, Wayang, Cabe, Bader, Sparta dan Pusaka.

Aneka produk tersebut hasil produksi dari sejumlah pabrik. Panca Budi memiliki pabrik di Tangerang, Banten dengan kapasitas produksi sekitar 31.407 ton per tahun. Lalu di Karawaci, Banten, mereka mengoperasikan pabrik berkapasitas produksi 10.573 ton per tahun.

Sementara melalui anak usaha PT Panca Buana Plasindo, Panca Budi mengoperasikan pabrik di Medan, Sumatra Utara dengan kapasitas produksi 6.983 ton per tahun. Ada pula pabrik di Karanganyar, Jawa Tengah yang berjalan melalui anak usaha lain, yakni PT Sekarnusa Kreasi Indonesia dengan kapasitas 28.719 ton per tahun.


Sumber KONTAN

Analisa Saham PBID | 7 Januari 2018

BCA Sekuritas on Panca Budi (PBID) 12/21/2018
Jakarta plastic bag ban looms

- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diharapkan menandatangani peraturan gubernur yang akan melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai sebelum akhir bulan ini. Dalam rancangan tersebut, produsen plastik sekali pakai, penyewa pusat perbelanjaan dan pedagang pasar basah yang masih mendistribusikan kantong plastik sekali pakai, sebagai kemasan, akan didenda Rp5-25juta. Peraturan akan berlaku mulai 19 Januari, dengan masa transisi 6 bulan. Dalam pandangan kami, bahkan jika peraturan tersebut akan segera diberlakukan, Pemerintah masih akan menghargai dampak selama periode transisi. Sementara itu, penggunaan kantong plastik sekali pakai masih akan umum di kalangan konsumen, terutama karena permintaan yang kuat dari sektor perdagangan dan di mana-mana layanan pengiriman makanan.

- Larangan atau pungutan kantong plastik sekali pakai tidak revolusioner, karena banyak negara di seluruh dunia telah menerapkan larangan dan / atau retribusi sejak pertengahan tahun 2000-an. Namun, implementasi penuh masih harus dilihat. Bahkan, larangan penggunaan plastik tunggal di beberapa negara memicu masalah lain, dari kesulitan ekonomi hingga pedagang kecil karena biaya tambahan untuk margin yang sudah kecil hingga penjualan pasar gelap kantong plastik sekali pakai di Kenya. Sejalan dengan itu, kami percaya bahwa penegakan penuh regulasi tidak mungkin terwujud, karena penegakan yang ketat akan menghadapi penolakan keras dari pedagang, terutama di pasar basah. Selain itu, pemantauan ketat terhadap penggunaan kantong plastik sekali pakai dari luar Jakarta akan terbukti mustahil.

- Valuasi: BUY dengan TP Rp1,800


Analisa Saham PBID | 4 Juli 2018


BCA Sekuritas on Pnaca Budi Idaman (PBID) 07/02/2018
Bagging rights

-  Kami memulai liputan pada Panca Budi Idaman (PBID) dengan peringkat BELI dan TP sebesar Rp1.600 (+ 50,2% terbalik), berdasarkan PER 2018F 10x, diskon tajam ke rata-rata regional. Prospek permintaan yang solid untuk penggunaan plastik, struktur modal yang kuat untuk mendukung ekspansi, dan jalur produksi terintegrasi harus membuka jalan bagi PBID untuk memperkuat kehadiran pasarnya, membuka jalan bagi laba bersih 2017-20F CAGR sebesar 21,5%. Dividend payout ratio harus dipertahankan pada 35%, yang diterjemahkan ke hasil tersirat minimal 5%. Risiko penurunan termasuk volatilitas nilai tukar USD / IDR yang tak terduga, pasokan bahan baku domestik yang terbatas dan peraturan yang tidak menguntungkan yang mengatur penggunaan plastik.

-  Memimpin pangsa pasar Jakarta Raya sebesar 46,5% (menurut Frost & Sullivan), Panca Budi Idaman (PBID) memimpin baik dalam volume penjualan dan harga di wilayah tersebut. Meskipun semakin khawatir tentang penggunaan plastik, kami berpikir bahwa kantong plastik sekali pakai akan tetap menjadi metode yang disukai untuk membawa dan mengirim barang, sebagian didukung oleh meningkatnya popularitas layanan pengiriman makanan aplikasi online. Untuk alasan ini, kami percaya bahwa PBID memiliki prospek yang menjanjikan dengan perkiraan volume penjualan CAGR sebesar 12,7% di 2018F-2020F.

-  Valuasi: BUY dengan Tp Rp1,600

Analisa Saham PBID | 18 Mei 2018


Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Investment Information Team
(roger@miraeasset.co.id)

PBID (Panca Budi Idaman)

Sejak Listing di BEI 13 Desember 2017, saham PBID
terbilang tidak terlalu aktif. Range harga yang
terjadi selama hampir 5 bulan sejak listing berkisar
di Rp 830 - Rp 990.

PBID bergerak di sektor basic industry & chemicals
dengan fokus pada industri plastik dan packaging.
Kepemilikan publik di saham ini sebesar 20.0% dan
pemegang saham mayoritas (PT Alphen Internasional
Corporindo) memegang 74.67%.

Kinerja PBID terbilang cukup bagus di kuartal 1
tahun 2018, yakni penjualan mencapai Rp 985 miliar
(tumbuh 20.6%) dan laba bersih mencapai Rp 78 miliar
(tumbuh 37.1%).

Dengan kinerja di atas, saat ini PBID (Rp 990)
diperdagangkan dengan PE 6.0x (EPS Annualized 166)
dan PBV 1.4x (BV 732). Untuk tahun 2018 ini emiten
menargetkan kenaikan pendapatan sebesar 11% menjadi
sekitar Rp 3.8-3.9 triliun.

Sentimen positif untuk PBID dengan akan dibangunnya
pabrik baru dari dana IPO untuk ekspansi ke pasar
luar jabodetabek yang masih berpotensi untuk
menambah kontribusi pendapatan.

Sedangkan sentimen negatif diprediksi dengan
kenaikan harga minyak dunia saat ini akan memberikan
tekanan pada biaya bahan baku.

Resisten Fundamental PBID berada pada harga Rp 1040
dan Rp 1120 dengan target jangka menengah Rp 1200,
sedangkan Support Fundamental berada pada harga Rp
965 dan Rp 885.

Rekomendasi : BUY


Berita Saham PBID | 27 Maret 2018

Berita Saham PBID

PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) meraih pendapatan usaha sebesar Rp3,49 triliun hingga 31 Desember 2017 naik dibandingkan pendapatan usaha Rp3,16 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan beban pokok penjualan naik jadi Rp2,96 triliun dari Rp2,77 triliun dan laba bruto naik menjadi Rp520,64 miliar dari laba bruto Rp390,43 miliar tahun sebelumnya.

Laba sebelum pajak meningkat menjadi Rp302,78 miliar dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya yang Rp190,85 miliar sedangkan laba tahun berjalan yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp227,86 miliar naik dari laba Rp136,11 miliar tahun sebelumnya.

Jumlah aset mencapai Rp1,82 triliun hingga 31 Desember 2017 naik dari jumlah aset Rp1,35 triliun yang berakhir 31 Desember 2016. (end)

Source:
IQPLUS

IPO PT.Panca Budi Idaman (PBID) | 13 Desember 2017

Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Investment Information Team

IPO PT.Panca Budi Idaman (PBID)

Hari ini 13 Desember 2017, PBID listing di BEI dengan harga perdana IDR 850.PBID adalah
emiten yang bisnis utamanya sebagai produsen kantong plastik dan kemasan.PBID melepas
saham baru ke publik sebanyak 375 juta lembar saham baru atau setara dengan 20% dari
jumlah modal disetor dan ditempatkan penuh. Jadi, Panca Budi membidik dana segar
sebesar Rp 318,75 miliar dari IPO ini.

Dari dana segar yang didapat dari IPO ini akan dipergunakan PBID 70% untuk ekspansi
usaha yang meliputi penambahan mesin serta penambahan pabrik dan fasilitas distribusi
30% untuk modal kerja Perseroan dan Entitas Anak.

PBID mencatat pendapatan Rp 1,6 triliun, naik 1,32% year-on-year (yoy). Sementara itu,
mereka berhasil membukukan laba hinga Rp 97,7 miliar alias tumbuh 24,14% yoy.Kontribusi
terbesar penjualan berupa penjualan kantong plastik sebesar 61.7%, biji plastik 37% dan
produk lainnya sebesar 1.3%.

Harga saham PBID di IDR 850 mencerminkan PBV sebesar 1.80x, dan PER sebesar 16.6x.

Adapun yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dari IPO PBID ini adalah PT
Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, dan PT CIMB Sekuritas Indonesia.