PEFINDO menegaskan peringkat "idBBB+" untuk PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP atau MNC Kapital) dan obligasi Perusahaan yang masih beredar. Prospek atas peringkat Perusahaan adalah "stabil".
Pefindo Tegaskan Peringkat idBBB+ Untuk MNC Kapital Indonesia (BCAP)
PEFINDO menegaskan peringkat "idBBB+" untuk PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP atau MNC Kapital) dan obligasi Perusahaan yang masih beredar. Prospek atas peringkat Perusahaan adalah "stabil".
Laba Bersih PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) Tumbuh 166,03% Di Kuartal I 2023
PT Bank MNC Internasional Tbk (IDX: BABP) atau MNC Bank, anak usaha PT MNC Kapital Indonesia Tbk (IDX: BCAP) yang berada di bawah naungan MNC Group (IDX: BHIT) kembali mencatatkan pertumbuhan kinerja gemilang.
MNC Energy (IATA) Targetkan Produksi Batu Bara Melebihi 7 Juta Mt Pada 2023
PT MNC Energy Investments Tbk (IATA atau Perseroan) menyampaikan bahwa perseroan akan terus menggenjot produksi, memanfaatkan momentum tingginya permintaan dan harga batu bara di pasar internasional.
Analisa Saham BHIT | 21 Desember 2022
Analisa Saham BHIT
BHIT berpeluang untuk memulai uptrendnya dengan membentuk pola bullish double bottoms. pola ini menandakan bahwa jika BHIT berhasil menguat menembus resisten 64, BHIT berpeluang memulai uptrendnya menuju target 70-74. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar cenderung bullish jika harga BHIT bergerak ke atas.
Analisa Saham BHIT | 25 Oktober 2022
Analisa Saham BHIT
BHIT berpeluang untuk memulai uptrendnya dnegan membentuk pola bullish double bottoms. pola ini menandakan bahwa jika BHIT berhasil menguat menembus resisten 72, BHIT berpeluang memulai uptrendnya menuju target 80-84. Indikator teknikal MACD yang baru golden cross mendukung prediksi kenaikan BHIT
Analisa Saham BHIT | 22 Agustus 2022
Analisa Saham BHIT
BHIT membentuk pola bullish double bottoms. Pola ini menandakan bahwa jika BHIT berhasil menguat menembus resisten 76, BHIT berpeluang memulai uptrendnya menuju target pertama di 97-99.
Analisa Saham BHIT | 1 Agustus 2022
Analisa Saham BHIT
BANK MNC HADIRKAN LAYANAN DEPOSITO ONLINE VIA MOTIONBANKING.
[Saham BABP] PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) atau MNC Bank sebagai unit usaha dari PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) yang berada di bawah naungan MNC Group (BHIT) kembali menghadirkan kejutan bagi nasabahnya, yaitu kemudahan dalam membuka Deposito Online melalui aplikasi andalannya, MotionBanking.
MNC Bank telah mengantongi persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk layanan Deposito Online.
Melalui fitur ini, MotionBanking menawarkan kemudahan, kenyamanan, dan fleksibilitas bagi para penggunanya untuk membuka deposito kapan saja dimana saja, cukup melalui smartphone.
"Kami sangat senang dengan telah diterimanya persetujuan dari OJK. Dengan fitur pembukaan Deposito Online ini akan semakin melengkapi layanan perbankan yang ditawarkan MotionBanking kepada para penggunanya.
Seluruh fitur, baik yang sudah ada saat ini maupun yang terus dikembangkan kedepannya akan menjadikan MotionBanking sebagai aplikasi perbankan digital utama pilihan masyarakat." tutur Yudi Hamka, CTO MNC Group.
Selain pembukaan Deposito Online, fitur-fitur lain yang sudah tersedia di MotionBanking antara lain pembukaan rekening secara online/digital onboarding, transfer, pembayaran tagihan, login biometrik, top-up e-wallet.
Selanjutnya pembayaran kartu kredit hingga pengajuan cicilan kartu kredit dengan bunga 0%, serta yang terbaru adalah pengajuan pinjaman digital mulai Rp600.000 - Rp20.000.000 dengan proses persetujuan yang hanya memakan waktu 5 menit.
Lewat deretan fitur tersebut, semua pemasukan dan pengeluaran nasabah tercatat dengan jelas dan otomatis sehingga memudahkan dalam pengelolaan keuangan.
Di samping itu, Perseroan saat ini juga sedang menunggu perijinan dari pihak terkait sebagai penyedia alat pembayaran QRIS dan persetujuan peluncuran kartu kredit virtual Visa dan Mastercard.
Perseroan juga akan segera meluncurkan fitur layanan tarik dan setor tunai di minimarket yang saat ini sedang dalam proses uji coba. (end)
sumber : IQPLUS
Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online
Analisa Saham BHIT | 22 Maret 2022
BHIT membentuk pola bullish bullish double bottoms. Pola grafik ini memberikan sinyal bahwa jika BHIT berhasil menguat menembus resisten 76 maka BHIT berpeluang untuk melanjutkan uptrendnya menuju target 88-89. Indikator teknikal MACD yang baru kembali golden cross mendukung prediksi kenaikan BHIT.
Rekomendasi: Trading buy kalau naik di atas 76 target 88-89.
sumber : doktermarket
Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online
Analisa Saham BHIT | 23 Februari 2022
BHIT membentuk pola bullish cup and handle. Pola grafik ini memberikan sinyal bahwa jika BHIT berhasil menguat menembus resisten 76 maka BHIT berpeluang untuk melanjutkan uptrendnya menuju target 88-89.
Rekomendasi: Trading buy kalau naik di atas 76 target 88-89.
sumber : doktermarket
Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online
IATA SIAP AMBIL ALIH BISNIS TAMBANG MILIK MNC GROUP
PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakuisisi PT MNC Energi dari PT MNC Investama Tbk (BHIT) sebagai pemegang saham mayoritas. Setelah transaksi, IATA akan menjadi entitas induk untuk seluruh perusahaan batu bara MNC Group.
IATA sedang bersiap untuk mengambil alih:
- PT Bhakti Coal Resources, perusahaan ekplorasi dan produsen tambang batu bara di Sumatera Selatan yang juga merupakan perusahaan induk dari perusahaan-perusahaan pemilik Izin Usaha Pertambangan, seperti PT Putra Muba Coal, PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal, PT Indonesia Batu Prima Energi, PT Arthaco Prima Energi, PT Sumatra Resources, PT Energi Inti Bara Pratama, PT Sriwijaya Energi Persada, PT Titan Prawira Sriwijaya, PT Primaraya Energi, dan PT Putra Mandiri Coal, yang secara keseluruhan memiliki estimasi sumberdaya sebesar 1,75 miliar MT dan estimasi cadangan sebesar 750 juta MT
- PT Nuansacipta Coal Investment, perusahaan ekplorasi dan produsen tambang batu bara di Kalimantan Timur
- PT Suma Sarana, perusahaan ekplorasi minyak di wilayah Provinsi Papua
"Akuisisi ini akan terjadi setelah hasil uji tuntas dan valuasi terhadap PT MNC Energi selesai dijalankan. Dengan asumsi semua proses due diligence berjalan lancar, IATA akan segera meminta restu OJK, dengan target penyelesaian transaksi pada akhir Q1 2022,"paparnya dalam keterangan tertulis.
Krisis Batu Bara
Dalam beberapa bulan belakangan ini, harga batu bara Newcastle melonjak hingga menyentuh angka $269,5 per ton pada bulan ini, harga tertinggi sepanjang masa. Harga saat ini berada di level $245 per ton. Kenaikan ini turut mendorong harga batu bara di Indonesia.
Kenaikan permintaan listrik di China, larangan informal Beijing atas impor batu bara dari Australia, lonjakan permintaan listrik di India, gangguan pasokan di negara-negara penghasil batubara seperti Australia, Afrika Selatan dan Columbia, dan kenaikan harga gas alam telah memicu kenaikan substansial.
Harga batubara diperkirakan akan tetap tinggi karena pasokan yang terus menyusut. Permintaan di China dan bagian lain dunia terus meningkat, bahkan akan meningkat lebih tinggi karena musim dingin yang akan datang sebentar lagi, pembukaan kembali ekonomi pasca pandemi dan banjir di provinsi Shanxi, pusat penambangan batu bara terbesar di China.
Menurut data National Bureau of Statistics (NBS) China, batubara merupakan sumber energi utama di China, dengan kontribusi hampir 60% dari total penggunaan energi nasional, yang banyak digunakan untuk pemanasan, pembangkit listrik, dan pembuatan baja. Sementara India telah memerintahkan pembangkit listrik untuk mengimpor 10% batubara untuk campuran, pembalikan tajam dari arahan sebelumnya untuk menggunakan batubara domestik.
"Rencana transaksi tersebut merupakan langkah strategis bagi IATA untuk memanfaatkan momentum yang timbul dari lonjakan harga komoditas batubara yang berkelanjutan. IATA meyakini akuisisi ini tidak hanya akan mendongkrak prospek bisnis, tetapi juga secara signifikan menguatkan nilai perusahaan karena IATA mengubah kepentingan bisnisnya dari sektor transportasi dan infrastruktur ke sektor energi,"tulisnya. (end/as)
Sumber: IQPLUS
ANAK USAHA IPTV (AVN) BAKAL LISTING DI BURSA NASDAQ DALAM WAKTU DEKAT
Anak usaha PT MNC Vision Network Tbk (IPTV) yakni PT Asia Vision Network (AVN) dalam waktu tidak terlalu lama akan melantai di Bursa Saham Nasdaq, Amerika Serikat (AS).
Direktur PT MNC Investama Tbk (BHIT), Darma Putra dalam public expose yang digelar secara virtual, Selasa (15/6), menyampaikan bahwa AVN diperkirakan akan listing di Bursa Nasdaq pada bulan Agustus 2021.
"Jika tidak ada halangan, dalam satu atau dua bulan ke depan atau sekitar bulan Agustus ini, AVN akan melantai di Nasdaq. Sedang disiapkan semuanya, kalau nggak ada halangan saya yakin Agustus sudah bisa resmi tercatat di Nasdaq"ujar Darma.
Sebagai informasi saja, AVN memang berencana melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di NAsdaq. AVN masuk ke bursa saham AS melalui merger dengan Malacca Straits Acquisition Company Limited. Sebelumnya pada Maret 2021 lalu, AVN bersama Malacca Straits Acquisition mengumumkan telah menandatangani perjanjian definitif kombinasi bisnis. (end/as)
Sumber: IQPLUS
MNC INVESTAMA TARGETKAN KINERJA TUMBUH HINGGA 20% PADA 2021
PT MNC Investama Tbk (BHIT) menargetkan kinerja perusahaan pada tahun ini akan tumbuh double digit dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
Direktur Utama MNC Investama, Darma Putra optimis, baik pendapatan dan laba bersih akan tumbuh sekitar 15% hingga 20% pada tahun 2021. "Kami perkirakan revenue maupun laba bersih akan bertumbuh sekitar 15 sampai 20 persen untuk tahun ini,"tegas Darma Putra dalam Public Expose Insidentil secara virtual pada Selasa (15/6/2021).
Untuk mewujudkan target tersebut, perusahaan telah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) guna menggenjot laju bisnis perusahaan dan anak-anak usaha khususnya di dua bidang yakni media dan financial services.
"Kalau untuk media kami prediksikan capex yang akan kami anggarkan sekitar 60 juta dolar AS, untuk MNCN maupun MVN, sedangkan untuk financial services kita anggarkan sekitar 20 juta dolar AS untuk meningkatkan kapabilitas dari digital bisnis di financial services,"terang Darma.
Selain itu adanya gelaran Piala Eropa 2020 yang ditayangkan di MNC Group, menurut Darma, juga akan turut menyumbang pendapatan kepada Manajemen BHIT. "Pastinya ini akan meningkatkan kinerja di media kami ini khususnya di MVN dengan pay tv-nya karena kita jual voucher untuk subscriber base," ujarnya.
"Sedangkan untuk Free to air kita pastinya makin banyak yang menonton, pastinya pengiklan utama pasti akan masuk juga sehingga dengan adanya Euro 2020 akan menghasilkan revenue tambahan yang sangat signifikan baik untuk MNCN maupun MVN," sambungnya. (end/as)
Sumber: IQPLUS
[BHIT] PT MNC Investama Tbk Perkirakan Utang Perseroan Menyusut 65%
PT MNC Investama Tbk, perusahaan induk yang menaungi bisnis Grup MNC memperkirakan utang perseroan bakal menyusut 65 persen seiring dengan pelaksanaan konversi utang obligasi ke saham senilai US$150 juta. Pengurangan tersebut sejalan dengan konversi utang obligasi ke saham.
Berdasarkan keterangan resmi MNC Investama, Pengadilan Tinggi Singapura pada 29 Januari 2021 telah menyetujui exchange offer perseroan kepada pemegang obligasi senilai US$231 juta. Ada dua opsi yang ditawarkan, yaitu konversi menjadi saham baru atau obligasi baru.
Pemegang Obligasi dapat memilih saham baru dalam waktu dua bulan sejak tanggal efektif skema, sedangkan untuk pilihan obligasi baru diberikan waktu hingga enam bulan dari tanggal efektif skema.
MNC Investama yang merupakan emiten milik taipa Hary Tanoesoedibjo mendapatkan konfirmasi bahwa sedikitnya 65 persen Pemegang Obligasi akan mengkonversi Obligasi menjadi saham. Saham baru akan diterbitkan oleh emiten bersandi BHIT itu dalam waktu 12 bulan dari tanggal efektif.
Pemegang obligasi bisa menukar kepemilikan obligasi dengan saham baru BHIT dengan nilai Tukar 8.26 juta per US$100.000 dari jumlah pokok Obligasi (setara dengan harga konversi Rp173 per saham dengan menggunakan Kurs Rp14.302).
Konversi utang menjadi saham akan menurunkan sisa utang induk Perseroan, dari US$ 231 juta menjadi US$ 81 juta maksimal atau turun sekitar 65 persen. Sementara ekuitas induk akan meningkat dari Rp12,2 triliun menjadi tidak kurang dari Rp14,5 triliun, naik 18,1 persen , sehingga Book value per share Rp196.
Direktur Utama MNC Investama Darma Putra mengatakan perseroan akan mendapat keuntungan dari pengurangan utang, yaitu pengurangan biaya keuangan. Sebaliknya, setelah dikonversi menjadi saham, permodalan BHIT akan lebih solid.
“Sehingga BHIT dapat tumbuh lebih cepat dan bergerak maju dengan rencana digitalisasi di semua unit bisnis. Ini pada akhirnya akan menguntungkan semua pemangku kepentingan,” ujarnya melalui keterangan resmi.
Sumber: BISNIS
PT MNC Investama Tbk Siap Lakukan PMTHMETD
Entitas Grup MNC milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo, PT MNC Investama Tbk. (BHIT) siap melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.
Dalam keterangannya di Bursa Efek Indonesia dikutip Rabu (2/12/2020), setelah persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Agustus 2020, MNC Investama akan melakukan private placement.
Perseroan menerbitkan sebanyak-banyaknya 5.998.697.900 saham atau 5,99 miliar saham dengan nilai nominal Rp100. Harga pelaksanaan pun Rp100, sehingga MNC Investama dapat meraup dana Rp599,87 miliar setelah private placement.
Pelaksanaan PMTHMETD tersebut pada 8 Desember 2020, sedangkan pemberitahuan hasil pelaksanaan PMTHMETD pada 10 Desember 2020.
Di Bursa Efek Indonesia, saham BHIT turun 4,35 persen atau 4 poin menjadi Rp66 pada perdagangan Selasa (1/12/2020). Namun, sepanjang tahun berjalan harga masih naik 3,13 persen.
Sepanjang 2020, harga saham BHIT bergerak di rentang Rp50-Rp85. Artinya, harga pelaksaan PMTHMETD di level Rp100 merupakan harga premium di atas harga pasar.
Sebelumnya, manajemen MNC Investama juga menyampaikan rencana restrukturisasi obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat senilai US$231 juta.
Direktur Utama MNC Investama Darma Putra mengatakan sejauh ini mereka telah beberapa kali menggelar dialog dengan para pemegang obligasi tersebut dan menurutnya hampir 70 persen telah menyetujui.
“Kita sudah bicara dengan pemegang obligasi, hampir US$150 sudah disepakati [untuk konversi] berarti itu sekitar 70 persenan. Semua kelihatannya hampir mendekat,” ujarnya saat paparan publik, Selasa (18/8/2020).
Darma menargetkan untuk mendapat persetujuan sekitar 5 persen lagi dari total obligasi. Dia meyakini kesepakatan dengan para pemegang obligasi akan segera tercapai dalam waktu dekat.
“Nanti tinggal menentukan harga sahamnya aja. Sekarang harga saham BHIT kan Rp50, book value kita 200, kita cari harga yang paling bisa diterima,” imbuh Darma
Menurutnya, dengan konversi obligasi menjadi saham tersebut, kewajiban utang perseroan akan menyusut secara signifikan. Dia mengharapkan hal ini juga dapat mengerek harga saham perseroan yang saat ini berada di level Rp50 per saham.
Darma menilai posisi utang yang terbilang besar menjadi salah satu faktor yang membuat persepsi pasar terhadap perseroan kurang baik sehingga harga saham BHIT terpaksa “nyangkut” di level Rp50 per saham.
“Padahal book value kita per 31 Desember 2019 itu sekitar 200, tapi mungkin orang masih lihat utang MNC Group di level sangat tinggi.[…] Kita juga nggak tahu kenapa diasumsikan tinggi padahal debt to equity ratio kita rendah di 0,53x,” tutur Darma.
Sumber: BISNIS
PEMEGANG OBLIGASI RESTUI MNC INVESTAMA KONVERSI UTANG Rp3 TRILUN JADI SAHAM
Perusahaan investasi PT MNC Investama Tbk (BHIT) telah menggelar rapat verifikasi untuk mentabulasi dan mengumumkan hasil pemungutan suara sehubungan dengan penerbitan obligasi bersifat senior senilai USD231 juta atau sekira Rp3 triliun yang diterbitkan oleh perseroan. Walhasil, pemegang obligasi telah menyetujui exchange offer yang diusulkan oleh perseroan.
"Exchange offer ini akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan. Konversi utang menjadi saham tersebut akan menurunkan sisa utang perseroan dan meringankan beban keuangan, sedangkan obligasi baru dengan tingkat kupon rendah akan secara drastis mengurangi beban keuangan yang ditanggung Perseroan. Kedua opsi ini akan memperkuat neraca, struktur permodalan dan laba rugi secara keseluruhan, yang pada akhirnya menguntungkan pemegang saham," ujar Direktur Utama MNC Investama Darma Putra, di Jakarta, Kamis (5/11/2020).
Pemegang Obligasi memiliki opsi untuk menukarkan obligasi dengan saham baru perseroan dengan nilai tukar 8.267.052 saham per USD100.000 dari jumlah pokok obligasi setara dengan harga konversi Rp173 per saham dengan menggunakan nilai tukar USD14.302 atau obligasi baru yang diterbitkan oleh perseroan dengan nilai tukar USD100.000 jumlah pokok obligasi baru untuk setiap USD100.000 jumlah pokok obligasi.
Adapun obligasi baru menawarkan kupon tetap 1% per tahun, ditambah dengan kupon variabel dari dividen tunai yang diterima perseroan dari PT Global Mediacom Tbk dan PT MNC Kapital Indonesia Tbk. Obligasi baru ini memiliki jangka waktu lima tahun. perseroan akan mengajukan permohonan pengesahan kepada pengadilan Singapura pada tanggal 10 November 2020 dan diharapkan akan disetujui oleh pengadilan Singapura dan akan menjadi efektif pada pertengahan Desember 2020.
Setelah efektif, pemegang obligasi diminta memilih salah satu dari skema diatas. Perseroan telah mendapatkan konfirmasi bahwa setidaknya 65% pemegang obligasi akan mengonversi obligasi menjadi saham. Hal ini akan mengurangi utang induk BHIT dari USD 231 juta menjadi USD 81 juta atau turun 64.5%. Sementara ekuitas induk meningkat dari Rp11,6 triliun menjadi Rp13,8 triliun, kenaikan sebesar 18,1%.
Dalam kurun waktu 31 tahun, PT MNC Investama Tbk merupakan grup investasi terkemuka di Indonesia. Perseroan memiliki investasi strategis terutama di sektor media dan jasa keuangan. (end/as)
Sumber: IQPLUS
Saham BHIT | MNC INVESTAMA BERENCANA TAMBAH MODAL TANPA HMETD
IQPlus, (14/08) - PT MNC Investama Tbk (BHIT) berencana melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD).
Menurut keterangan perseroan seperti dikutip Jumat, perseroan bermasuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 5.998.697.961 saham dengan nilai nominal Rp100 atau sebanyak-banyaknya 8,85% dari seluruh saham yang telah disetor penuh.
PMTHMETD ini dilakukan untuk memperkuat struktur permodalan dan keuangan perseroan termasuk pemenuhan kebutuhan modal kerja perseroan. PMHMETD ini memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari RUPS Luar Biasa pada 18 Agustus 2020.
Dengan adanya sejumlah saham baru yang diterbitkan dalam rangka PMTHMETD bagi pemegang saham perseroan akan mengalami dilusi kepemilikan saham secara proporsional sebanyak-banyaknya 8,21% dimana dilusi yang dialami pemegang saham saat ini relatif kecil. (end)
Saham BHIT | MNC INVESTAMA BERNIAT TAMBAH MODAL TANPA HMETD
MNC INVESTAMA RAIH PENDAPATAN Rp15,97 TRILIUN HINGGA DESEMBER 2019 | SAHAM BHIT
BHIT | MOODYS DOWNGRADE MNC INVESTAMA CFR TO CAA1
IQPlus, (12/08) - Moody's Investors Service has downgraded the corporate family rating (CFR) of MNC Investama Tbk. (P.T.) (BHIT) to Caa1 from B3. At the same time, Moody's has downgraded BHIT's senior secured rating to Caa2 from Caa1.
The ratings outlook remains negative. Through its 48.95% stake in P.T. Global Mediacom Tbk (BMTR, unrated), BHIT has significant stakes in media operating companies, P.T. Media Nusantara Citra Tbk (MNCN, unrated) . Indonesia's (Baa2 stable) leading free-to-air (FTA) broadcast company . and P.T. MNC Vision Networks Tbk (IPTV, unrated), a leading broadband and pay-TV operator in Indonesia.
"The downgrade of BHIT's CFR to Caa1 reflects increasing refinancing risk . particularly at the holding company level . as BHIT's May 2021 bond maturity draws closer and dividend income from its subsidiaries remains low," says Annalisa Di Chiara, a Moody's Vice President and Senior Credit Officer.
As a holding company, BHIT generates a limited amount of operational cash flow aside from dividend income.
However, over the last 12 months BMTR has paid just IDR69 billion of dividends which translated into dividend income for BHIT of around IDR35-IDR40 billion based on its ownership stake; a level that is insufficient to cover annual interest expense on BHIT's bond of around USD10 million.
"We believe dividend income at BHIT will remain limited over the next 12 to 18 months, as its key media operating subsidiaries . including BMTR, MNCN and IPTV . address upcoming debt maturities, ongoing amortization payments and focus on their own shareholder initiatives," adds Di Chiara, who is also Moody's Lead Analyst for BHIT.
BHIT's liquidity position, on a standalone basis, will remain weak. As such, Moody's anticipates that the repayment of BHIT's bond in May 2021 will depend on capital raising activities, the timing of which is unclear and ultimately market sensitive.
While dividend income will likely be insufficient to cover interest expense on BHIT's bond, management has confirmed to Moody's that a portion of short-term investments held at the holding company can be monetized as needed to support interest payments.
In addition, according to BHIT's offering circular, the company is required to maintain a debt service reserve account (DSRA) equal to one semi-annual interest payment. According to BHIT's latest quarterly financial report, the DSRA was fully funded as of 30 June 2019. The next interest payment of USD10 million is due in November 2019. (end)
%20Logo.png)















