Tampilkan postingan dengan label Saham INTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham INTA. Tampilkan semua postingan

Intraco Penta (INTA) Bidik Pendapatan Tahun 2023 Rp1,5 Triliun


PT Intraco Penta Tbk (INTA), perusahaan penyedia alat berat, alat konstruksi & pendukung, fabrikasi & infrastruktur, dan pembangkit listrik mengalokasikan dana belanja modal Rp 83,9 miliar tahun depan.

Direktur Utama INTA, Petrus Halim optimis optimistis akan mencapai pertumbuhan kinerja yang baik pada tahun depan kendati bayangan resesi mengancam perekonomian global dan dengan belanja modal yang disediakan perseroan optimis bisa tumbuh hingga 5,2% dibandingkan tahun ini.

"Perseroan memproyeksikan target pendapatan perusahaan sebesar Rp 1,5 triliun dengan target laba operasional sebesar Rp 78,3 miliar atau naik sebesar 5,2% dari tahun sebelumnya," jelas Petrus dalam Pubex, Jumat (16/12/2022).

Adapun dana capex yang tersedia akan digunakan untuk heavy equipment Rp 68,9 miliar, office equipment Rp 1,36 miliar, software equipment Rp 10 miliar, kendaraan Rp 2,91 miliar, dan workshop equipment and tools Rp 740 juta.

Petrus mengatakan tahun depan tren penjualan alat berat diproyeksi akan meningkat khususnya untuk pertambangan, perkebunan, dan proyek infrastruktur. Untuk itu, INTA akan memacu dan mendorong kinerja penjualan pada lini alat berat.

Selain mendorong kinerja pada lini utama kami alat berat, INTA juga akan mengoptimalkan kinerja lini bisnis lainnya agar sinergi dan keberlanjutan bisnis tetap terjaga.

Adapun pada tahun 2022 ini, Petrus mengatakan perseroan telah berhasil melakukan restrukturisasi pinjaman dalam rangka penyelesaian pinjaman/fasilitas kredit Perseroan dan Anak Usahanya, yaitu PT Intraco Penta Wahana (IPW), PT Intraco Penta Prima Servis ( IPPS ), dan PT Columbia Chrome Indonesia (CCI) terhadap Bank Mandiri. Hal ini sebagai salah satu strategi guna menjaga kinerja Perseroan secara keseluruhan.
 
Menyambut tahun depan, Petrus telah menyiapkan sejumlah strategi guna mengoptimalkan pertumbuhan kinerja. Salah satunya yaitu memaksimalkan usaha perdagangan alat berat dan mendorong penjualan suku cadang dengan jaringan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Selaras dengan hal tersebut, Petrus meyakini dengan adanya rencana PT Intan Baru Prana Tbk (d/h) PT Intan Baruprana Finance Tbk. (IBFN)) yang akan mengubah lini bisnisnya dari perusahaan pembiayaan menjadi distributor alat pengakut komersial yang melayani penjualan dan memberikan layanan purna jual truk dan kendaraan komersial merek TATA untuk wilayah Kaltim, maka akan semakin dapat mendorong kinerja Perseroan."Jika nantinya seluruh rencana berjalan dengan baik, dengan restu Pemegang Saham, kami berharap kompetensi bisnis Grup INTA akan semakin kokoh menjadi penyedia alat berat yang terlengkap dan terbaik di Tanah Air setelah IBFN masuk sebagai distributor alat pengangkut komersial," ujar Petrus.

Secara kinerja, hingga September 2022 lalu Perseroan telah berhasil mencatat kenaikan pendapatan sebesar 12,01% menjadi Rp 497,16 miliar dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh tahun 2021 sebesar Rp 443,78 miliar (YoY).
 
Selain itu, INTA mencatat total aset sebesar Rp 2,38 triliun, atau turun 2,4 % dibandingkan total aset pada tahun 2021 sebesar Rp 2,44 triliun. INTA juga masih mencatat rugi bersih komprehensif sampai Kuartal III/2022 sebesar Rp 99,56 miliar.

INTA memproyeksi kendati masih akan mencatatkan kerugian bersih mengingat adanya beban bunga yang cukup tinggi, tetapi besarnya kerugian bersih diestimasikan akan menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini menunjukkan perbaikan performance bagi INTA.
Author: Rizki
Sumber: emitennews-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

Intraco Penta (INTA) Targetkan Volume Penjualan Alat Berat Capai 409 Unit di 2022



PT Intraco Penta Tbk optimistis bakal meraih kinerja mumpuni di tahun ini. Emiten dengan kode saham INTA ini memasang target penjualan alat berat sebesar 409 unit atau dengan nilai sebesar Rp 348 miliar hingga akhir tahun 2022.

Target tersebut meningkat sekitar 39% secara  secara nilai dan naik  sekitar 17% secara jumlah unit jika dibandingkan dengan penjualan selama tahun 2021 lalu.

Sekretaris Perusahaan Intraco Penta Astri Duhita Sari mengatakan, harga komoditas yang masih tinggi juga mendorong penjualan alat berat INTA. “Tingkat penjualan alat berat INTA untuk komoditas termasuk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan batubara cukup meningkat di tahun 2022,” kata Astri kepada Kontan.co.id, Jumat (11/2).

Selain CPO dan batubara, INTA juga melihat, kenaikan harga nikel bakal mengerek permintaan alat berat.

Adapun realisasi penjualan alat berat selama Januari 2022 sebesar 38 unit dengan nilai Rp 44,8  miliar. Realisasi ini dipengaruhi oleh strategi INTA yang juga melayani penjualan alat berat di sektor non tambang.

Selain mendorong penjualan alat berat untuk sektor pertambangan atau komoditas, INTA juga melanjutkan diversifikasi bisnis ke sektor lain selain sektor tambang, seperti infrastruktur, pertanian, kehutanan, perkebunan, industri dasar, dan sektor lainnya.

Strategi ini bertujuan untuk menciptakan transformasi sehingga dapat mencetak pertumbuhan yang lebih berkesinambungan di masa mendatang. “Namun, dengan adanya kondisi pandemi yang telah berlangsung sejak 2020 ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap Intraco Penta,” kata Astri.

Per September 2021, emiten penjual alat berat ini membukukan pendapatan senilai Rp 443,78 miliar. Angka ini menurun 22,08% dari pendapatan di periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp 569,57 miliar.

Secara rinci, pendapatan INTA didominasi oleh penjualan alat-alat berat yang nilainya mencapai Rp 200,91 miliar, disusul penjualan suku cadang senilai Rp 136,67 miliar. Segmen jasa menyumbang pendapatan senilai Rp 94,80 miliar dan segmen pembiayaan menyumbang pendapatan sebesar Rp 7,23 miliar.

Dengan demikian, kerugian bersih INTA naik dari semula Rp 168,15 miliar menjadi 196,48 miliar per kuartal III-2021.

Untuk tahun ini, INTA menggelontorkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp  50,6 miliar.

Astri merinci, alokasi tersebut mayoritas akan digunakan untuk pembelian serta peremajaan unit rental. “Sedangkan untuk periode Januari 2022 ini INTA belum memiliki realisasi capex,” pungkas dia.


sumber : kontan

Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

LIUGONG DORONG PERTUMBUHAN PENJUALAN ALAT BERAT INTA.


PT Intraco Penta Tbk (INTA) emiten penyedia alat berat/alat konstruksi & pendukungnya berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan alat berat hingga November 2021, salah satunya didorong oleh meningkatnya penjualan alat berat merek LiuGong.

Hingga November 2021, penjualan alat berat INTA tercatat sebesar Rp247,1 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 19% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sementara penjualan alat berat merek LiuGong tercatat sebesar Rp100,1 miliar, atau mengalami peningkatan mencapai 559% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2020.

Eddy Rodianto, selaku Direktur INTA mengungkapkan, "Kami bersyukur menuju akhir tahun 2021 ini penjualan alat berat INTA mulai pulih dan menunjukan tren yang positif.

Peningkatan penjualan alat berat ini juga didorong oleh meningkatnya permintaan untuk sektor di luar pertambangan seperti sektor pertanian, kehutanan, perkebunan, industri umum, infrastruktur, transportasi, dan migas.

Hingga akhir November 2021, penjualan alat berat di luar sektor tambang meningkat sebesar 25%. Kami optimis hingga akhir tahun, penjualan alat berat masih akan melanjutkan tren yang baik, seiring dengan mulai membaiknya perekonomian dan berjalannya proyek-proyek infrastruktur di Indonesia."

Sementara itu, dari sisi kinerja hingga Kuartal III-2021 INTA Group mencatatkan pendapatan sebesar Rp443,8 miliar. Pendapatan INTA per September 2021 masih didominasi oleh penjualan alat berat dan juga suku cadang.

Meski demikian, INTA terus mengupayakan perbaikan kinerja untuk semua lini bisnis dimasa mendatang.

Hal ini sejalan dengan upaya konsolidasi bisnis yang masih akan terus dijalankan Perseroan dalam membantu seluruh anak usahanya, termasuk salah satu anak usahanya yaitu IBFN dimana Perseroan membantu untuk mendapatkan investor baru dan memperbaiki kinerja di tahun-tahun berikutnya.

Lebih lanjut Eddy menjelaskan, ke depan INTA akan terus menangkap peluangpeluang baru tidak hanya dari bisnis penjualan alat berat, namun juga dari lini bisnis lain seperti lini bisnis fabrikasi dan infrastruktur, serta lini bisnis pembangkit listrik.

Dari lini bisnis fabrikasi dan infrastruktur melalui anak usahanya PT Columbia Chrome Indonesia (CCI), pada tahun 2022 akan terus melanjutkan proyek tol Solo-Yogya. Selain itu, CCI juga akan mulai memasuki proyek migas seperti pembuatan Pertashop/Fabricator, dan pembuatan Tangki Kompresor tekanan tinggi.

"Disamping terus memperkuat core bisnis, kami juga akan mengoptimalkan dan mendorong kinerja dari semua lini bisnis dan anak usaha. Selain menangkap peluang baru dari bisnis fabrikasi dan insfrastruktur, lini bisnis pembangkit listrik kami juga telah beroperasi secara penuh dan dapat memenuhi kontrak penjualan kepada PLN.

Diharapkan dengan proyek-proyek baru yang akan dijalankan, dan kinerja yang baik dari masing-masing anak usaha dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap kinerja INTA ke depan," tutup Eddy.(end)

sumber : IQPLUS

Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Saham INTA | PT Intraco Penta Tbk Mengalami Kenaikan Kerugian per 31 Maret 2020

IQPlus, (06/07) - PT Intraco Penta Tbk (INTA) mencatat rugi bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp22,66 miliar hingga periode 31 Maret 2020 naik dari rugi bersih Rp17,35 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Senin menyebutkan, pendapatan turun menjadi Rp313,59 miliar dari pendapatan Rp575,05 miliar tahun sebelumnya dan laba kotor turun menjadi Rp56,09 miliar dari laba kotor Rp74,95 miliar.

Rugi sebelum pajak naik menjadi Rp29,89 miliar dari rugi sebelum pajak Rp21,40 miliar tahun sebelumnya. Rugi bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk naik menjadi Rp22,66 miliar dari rugi bersih Rp217,35 miliar tahun sebelumnya.

Jumlah aset perseroan mencapai Rp4,09 triliun hingga periode 31 Maret 2020 naik dari jumlah aset Rp4,06 triliun hingga periode 31 Desember 2019. (end)

SAHAM INTA | RUGI INTRACO PENTA CAPAI Rp440,52 MILIAR HINGGA MARET 2020



IQPlus, (23/06) - PT Intraco Penta Tbk (INTA) mencatat rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp440,52 miliar hingga periode 31 Maret 2020 naik dari rugi bersih Rp352,03 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, pendapatan usaha turun menjadi Rp1,96 triliun dari pendapatan usaha Rp2,78 triliun tahun sebelumnya dan laba kotor turun menjadi Rp222,39 miliar dari laba kotor Rp374,36 miliar.

Rugi sebelum pajak meningkat menjadi Rp523,18 miliar dari rugi sebelum pajak Rp297,11 miliar tahun sebelumnya. Sedangkan total aset perseroan mencapai Rp4,06 triliun hingga periode 31 Maret 2020 turun dari total aset Rp4,99 triliun hingga periode 31 Desember 2019. (end)

Saham INTA | INTRACO PENTA DAPAT DIVIDEN DARI ANAK USAHA


IQPlus, (30/12) - PT Intraco Penta Tbk (INTA) meraih pendapatan berupa dividen dari anak usahanya PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) dengan kepemilikan 99,998%.

Menurut keterangan perseroan Jumat disebutkan bahwa pembagian dividen PT IPPS yang disetujui adalah Rp265.925.505.782 yang akan dibagikan kepada pemegang saham PT IPPS secara proporsional.

Perseroan meraih dividen sebesar Rp265.919.977.185. "Penerimaan dividen ini akan berkontribusi kepada pendapatan perusahaan," jelas Ridyawan Amnar, Sekretaris Perusahaan Perseroan. (end)

Saham INTA | Gandeng Tata Motors, Intraco Penta Diversifikasi Produk

PT Intraco Penta Tbk. melakukan diversifikasi produk guna memacu kinerja perseroan di tengah melemahnya penjualan alat berat dengan membuka dealer 3S (sales, service & spare parts) alat berat di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ekspansi usaha itu dilakukan Intraco Penta melalui cucu usahanya PT Pratama Wana Motor (PWM) yang merupakan anggota dari PT Intraco Penta Wahana (IPW). Grup emiten yang bergerak di bidang perdagangan alat berat dan konstruksi, pembangkit listrik, fabrikasi, infrastruktur, serta pembiayaan itu menggandeng Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI).

Eddy Rodianto, Direktur Keuangan Intraco Penta sekaligus Presiden Direktur (IPW), mengungkapkan bahwa pembukaan cabang, dealer, dan peluncuran model alat berat baru merupakan strategi diversifikasi emiten berkode saham INTA itu.

“[Pembukaan dealer] untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan yang beragam. Selain itu melalui strategi ini INTA berupaya mendongkrak penjualan melalui diversifikasi produk saat penjualan sektor tambang dan batu bara sedang lesu,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (8/10/2019).

Eddy menambahkan pembukaan dealer resmi yang mendistribusikan produk-produk Tata Motor merupakan komitmen INTA untuk memastikan pelayanan purnajual yang maksimal terhadap produk-produk yang diageni. Dengan demikian, pelanggan mendapatkan performa atau uptime maksimal dari alat berat yang mereka beli.

Di bisnis alat berat, PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) merupakan agen alat berat merek Volvo, SDLG, dan Dressta. Sementara itu, penjualan dan layanan merek Sinotruk, Mahindra, Bobcat, Doosan, dan Sany Palfinger dibawahi PT Intraco Penta Wahana.

Dealer resmi Tata Motors di Balikpapan ini berdiri di atas lahan 3.000 m2 dengan luas ruang pajang 500 m2, dan luas bengkel 1.000 m2 yang dibekali fasilitas 6 stall untuk kendaraan pick up, dan 3 stall untuk kendaraan truk.

Di sis lain, TMDI optimistis produk unggulan Tata Motors  di sektor pertambangan, perkebunan, logistik, dan aplikasi general cargo akan mendapat respons yang baik di Balikpapan. Adapun produk unggulan tersebut, yakni kendaraan truk Tata Motors terutama Tata Prima 2528.K, Tata Ultra 1014, Tata Xenon XT (Double Cabin), dan Tata LPT 913.

Sumber: https://market.bisnis.com/read/20191008/192/1156628/gandeng-tata-motors-intraco-penta-inta-diversifikasi-produk

Analisa Saham BBRI, INTA dan CTRA

Analisa Saham BBRI, INTA dan CTRA



PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Terlihat pola bullish inside bar yang mengindikasikan adanya potensi penguatan pada pergerakan harga saham BBRI. Hal ini didukung oleh indikator ADX, MACD, stochastic, RSI, dan SAR yang masih memperlihatkan sinyal positif.

Rekomendasi: Buy
Support: Rp 4.470
Resistance: Rp 4.560
Muhammad Nafan Aji, Binaartha Sekuritas


PT Intraco Penta Tbk (INTA)

Saham INTA limited upside mendekati resist MA50 sekaligus resist sideways channel dan berpeluang koreksi teknikal untuk menguji support sideways channel.

Rekomendasi: Sell on strength
Support: Rp 6.375
Resistance: Rp 6.400
Muhammad Wafi, Bahana Sekuritas


PT Ciputra Development Tbk (CTRA)

Muncul spinning top black candle dengan RSI melemah dan MACD berpotensi death cross. Namun, volume perdagangan CTRA tampak meningkat.

Rekomendasi: Buy on weakness
Support: Rp 1.145
Resistance: Rp 1.220
Achmad Yaki, BCA Sekuritas

Berita Saham INTA dan UNTR | Proyeksi Bisnis Emiten Alat Berat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan bagi bisnis alat berat tahun ini sepertinya bakal semakin berat. Tak heran, para pebisnis mulai menghitung ulang target untuk tahun ini.

PT Intraco Penta Tbk (INTA) memprediksi pertumbuhan penjualan tahun ini cuma 20%. Padahal, estimasi tahun lalu sebesar 30%.

Harga batubara sejatinya masih tinggi. "Namun, masih ada ketidakpastian," ujar George Setiadi, Managing Director Intraco Penta Prima Servis kepada KONTAN, Selasa (5/3).

Anak usaha INTA, Intraco Penta Prima Servis salah satu anak usaha di segmen penjualan alat berat. Selama ini, penjualan alat berat INTA ke sektor batubara sekitar 45% dari total penjualan.

PT United Tractors Tbk (UNTR) juga mematok target penjualan tahun ini cuma 4.000 unit, turun 18% dibanding realisasi tahun lalu. "Penjualan bisa saja tidak setinggi tahun lalu karena harga batubara yang terkoreksi," ujar Sara Loebis, Sekretaris Perusahaan UNTR.

Meski begitu, analis menilai emiten alat berat yang punya bisnis terdiversifikasi bakal aman. Misalnya UNTR yang juga berbisnis emas.

Robertus Yanuar Hardy, analis Kresna Sekuritas, menghitung, volume penjualan emas dari tambang emas Martabe tahun ini bisa mencapai 360.000 oz. "ini setara tambahan laba bersih Rp 2,5 triliun," kata Robertus dalam riset 28 Februari.


Intraco Penta (INTA) Perbesar Porsi Penjualan Lini Noncoal



Bisnis.com, JAKARTA – Emiten alat berat PT Intraco Penta Tbk. menggeser penjualan produk perseroan dari sektor pertambangan batu bara ke sektor lainnya, guna menangkal risiko pelemahan harga emas hitam.

Investor Relations Strategist Intraco Penta Ferdinand D. menyampaikan bahwa harga batu bara terus mengalami fluktuasi. Pergeseran penjualan alat berat ke sektor lain merupkan strategi perseroan untuk menekan risiko saat harga batu bara lesu. “Perseroan terus memantau pergerakan harga komoditas, termasuk batu bara. Kami menyiapkan upaya untuk menghadapi fluktuasi harga seperti diversifikasi penjualan alat berat kami,” ungkap Ferdinand di Jakarta pekan lalu.

Berdasarkan catatan perseroan, emiten dengan sandi INTA tersebut membukukan penjualan alat berat sebesar 841 unit selama Januari—November 2018. Sebesar 45% di antaranya dipasarkan pada pertambangan batu bara. Porsi tersebut menurun dibandingkan dengan penjualan ke sektor serupa pada November 2017 yang tercatat sebesar 61%.

Menurut Ferdinand, perseroan terus menjajaki sektor-sektor lain untuk dapat menyerap penjualan alat berat. Dari hasil pergeseran penjualan tersebut, perseroan mendistribusikan lebih banyak ke sektor manufaktur, migas, dan transportasi.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, INTA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,24 triliun, meningkat 46,69% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp1,53 triliun. Pada periode tersebut, perseroan membukukan rugi bersih Rp232,32 miliar, membengkak 49,11% secara yoy.
Pada tahun ini, Intraco Penta menargetkan dapat meningkatkan penjualan alat berat sebesar 25% dari tahun lalu. Perseroan optimistis target tersebut dapat tercapai di tengah pergerakan harga komoditas global yang lebih stabil dibandingkan 2018.

Jika mengacu pada angka penjualan alat berat selama Januari—November 2018,  penjualan emiten dengan sandi INTA tersebut akan menyentuh nyaris 1.100 unit pada tahun ini. Perseroan masih merampungkan perhitungan angka penjualan setahun penuh selama 2018.

Ferdinand menyampaikan dengan target unit penjualan sebesar 25% dari tahun lalu tersebut, perseroan memprediksi dapat mengejar pertumbuhan pendapatan sebesar 20% pada 2019 dibandingkan tahun lalu.

Pada 2018, Ferdinand menyampaikan perseroan telah mendistribusikan hingga 841 unit alat berat per November. Capaian tersebut lebih tinggi dari target penjualan yang ditetapkan perseroan pada awal tahun lalu yaitu sebesar 808 unit.

“Sektor pertambangan masih menjadi penyumbang dominan terhadap penjualan kami sepanjang Januari—November tahun lalu yaitu mencapai 65% dari total penjualan. Dari 65% tersebut, sebesar 45%-nya disumbangkn oleh sektor batu bara. Selebihnya untuk alat pertambangan lainnya,” ungkap Ferdinand.


Berita Saham INTA | 5 Desember 2018

Bisnis.com, JAKARTA— PT Intraco Penta Tbk. (INTA) membukukan pertumbuhan penjualan alat berat sebesar 53% year on year (yoy) dalam 10 bulan pertama 2018.

Investor Relations Strategist INTA Ferdinand D. menyampaikan, per Oktober 2018 perusahaan memasarkan alat berat sejumlah 770 unit, naik 53% yoy dari sebelumnya 503 unit. Nilai penjualan tumbuh 58% yoy menuju Rp1,62 triliun dari posisi 10 bulan 2017 sejumlah Rp1,03 triliun.

Menurutnya, proyeksi alat berat pada 2019 diperkirakan tidak akan meningkat signifikan dibandingkan 2018. Pasalnya, harga batubara dan minyak belum menunjukan penguatan seperti tahun sebelumnya, bahkan beberapa bulan terakhir cenderung menurun.

“Namun harga tersebut masih bisa berfluktuasi tergantung kondisi global maupun lokal,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (4/12).

Ferdinand menuturkan, permintaan alat berat dari sektor tambang non batubara berpeluang lebih stabil seiring dengan kebutuhan bahan baku mineral untuk smelter dan ekspor. Proyek-proyek infrastruktur pemerintah pun masih berjalan dimana masih membutuhkan alat berat.

Pada 2019, INTA melalui anak usahanya PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) menargetkan penjualan alat berat tumbuh stabil sekitar 20%. Adapun, pada 2018 perseroan membidik peningkatan penjualan hingga 40% atau mencapai 808 unit.

IPPS yang mengandalkan merek Volvo CE dan SDLG juga mengembangkan layanan purna jual dan servis untuk meningkatkan pendapatan. Perseroan juga meluncurkan tipe baru Rigid Dump Truck (RDT) dan Doozer merek Dressta, sehingga diharapkan dapat mendorong penjualan pada tahun depan.


Optimisme Anak Usaha PT Intraco Penta Tbk (INTA)


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Intraco Penta Prima Servis, anak usaha PT Intraco Penta Tbk (INTA) mencatatkan penjualan Rp 1,4 triliun hingga akhir Juni 2018. Perusahaan ini optimistis, bisa mencatat pendapatan hingga Rp 3 triliun hingga akhir 2018 yang akan datang.

"Penjualan ditargetkan bisa mencapai 650 unit hingga akhir tahun 2018 yang akan datang dan kebanyakan dikontribusi dari articulated dump truck (ADT)" kata George Setiadi, Direktur Intraco Penta Prima Servis, Senin (13/8).

Saat ini, penjualan ADT memiliki kontribusi cukup besar bagi INTA. George mengatakan bahwa ADT berkontribusi 30% pada seluruh penjualan IPPS. Selain itu, harga ADT juga lebih besar dibandingkan dengan produk-produk INTA yang lain.

Perusahaan ini juga berencana untuk mendongkrak pendapatannya. Salah satu caranya adalah meningkatkan pangsa pasar Intraco Penta Prima Servis di sektor infrastruktur. George bilang, masih banyak kesempatan di sektor infrastruktur.

Pertumbuhan jumlah produk juga diharapkan banyak membantu perusahaan ini. Tak cuma jenis dozer tapi juga rigid dump truck yang pasarnya lebih besar dibandingkan dengan ADT.

"Cara yang lain adalah dengan ekspansi teritori. Kami akan mulai buka cabang di wilayah Jawa," kata George. Surabaya adalah kota yang akan dibidik oleh Intraco Penta Prima Servis di bulan Oktober.

Perusahaan ini baru saja menambahkan merek dari alat beratnya dari jenis dozer, yakni Dressta yang berasal dari Polandia.

Intraco Penta Prima Servis merupakan salah satu anak usaha INTA yang bergerak di bidang alat berat. Perusahaan ini memiliki kontribusi terbesar bagi pendapatan emiten ini. Intraco Penta Prima Servis berkontribusi 90% bagi pendapatan INTA.

http://investasi.kontan.co.id/news/ini-strategi-intraco-penta-mengerek-penjualan-alat-berat

Analisa Saham INTA | 2 Juli 2018


Analisa Saham INTA

Saham INTA ditutup dengan candle penuh 4.93% di harga 510 pada perdagangan hari Jumat kemarin. Kenaikan ini tidak disertai dengan kenaikan volume.

Indikator Stochastics memberikan sinyal kecenderungan bahwa saham ini bisa naik dalam jangka pendek. Indikator MACD menunjukkan trend yang masih naik, relatif aman secara teknikal.

Rekomendasi : BUY
Resistance : 550
Support : 475

www.sahamonline.id

Analisa Saham TKIM, DFAM, INTA dan ERAA | 26 Juni 2018


Selamat Pagi Sahabat Stock Preneur
Berikut beberapa saham pilihan hari ini 26 Juni 2018 (DAILY)

1. (TKIM) Hari ini akan uji Resisten terdekat di 18160 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 18450 dan 18600. Stop Loss jika turun dibawah 17190. Range Buy hari ini di 17500-17700.

2. (DFAM) Hari ini akan uji resisten terdekat di 1100, Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 1170 dan 1205. Stop loss jika turun dibawah 970. Range Buy hari ini 1000-1040.

3. (INTA) Hari ini akan uji resisten terdekat di 484 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 490 dan 496. Stop loss jika turun dibawah 470. Range Buy hari ini di 476 -482.

4. (ERAA) Hari ini akan uji resisten terdekat di 3040 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 3170 dan 3200. Stop loss jika turun dibawah 2800. Range Buy hari ini di 2820-2880.

TRADING CEPAT (FAST TRADE)

1. (SDMU) BUY Jika break 160 Target di 170 dan 180. Stop loss jika turun dibawah 150.

2. (GTBO) BUY Jika break 350 Target di 362 dan 376. Stop loss jika turun dibawah 113.

TETAP PERHATIKAN KONDISI MARKET JUGA YAH
Disclaimer On
STOCK PRENEUR
Semoga pada cuan hari ini:relaxed:

Trading Plan Saham BKSL, MDLN, ANTM dan INTA | 4 Juni 2018


Selamat Pagi Sahabat Stock Preneur
Berikut beberapa saham pilihan hari ini 04 Juni 2018 (DAILY)

1. (BKSL) Hari ini akan uji Resisten terdekat di 146 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 153 dan 160. Stop Loss jika turun dibawah 138. Range Buy hari ini di 140-145.

2. (MDLN) Hari ini akan uji resisten terdekat di 312, Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 318 dan 328. Stop loss jika turun dibawah 302. Range Buy hari ini 306-312.

3. (ANTM) Hari ini akan uji resisten terdekat di 875 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 885 dan 900. Stop loss jika turun dibawah 840. Range Buy hari ini di 860-875.

4. (INTA) Hari ini akan uji resisten terdekat di 530 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 545 dan 560. Stop loss jika turun dibawah 500. Range Buy hari ini di 520-530.

TRADING CEPAT (FAST TRADE)

1.  (BULL) BUY Jika break 139 Target di 146 dan 154. Stop loss jika turun dibawah 128.
2. (TRIL) BUY jika break 75, Target di 81 dan 85, Stop loss jika turun dibawah 69

TETAP PERHATIKAN KONDISI MARKET JUGA YAH
Disclaimer On
STOCK PRENEUR
Semoga pada cuan hari ini.

Analisa Saham PTBA, INTA dan SMDR [QuickReview] | 20 Desember 2017

Analisa Saham PTBA, INTA dan SMDR [QuickReview]

Pacific Trader Stock Review:

Saham PTBA
cerada di area resistance terbaru di 2470 - 2500 dengan MACD golden cross: bila harga menembus 2500 maka berpotensi ke area reistance selanjutnya di 2570 - 2650. apabila harga kembali rebound maka potensi ke area 2420 - 2360.

Saham INTA
harga berhasil menembus middle bollinger band disertai MACD berpeluang golden cross. bila harga berhasil mencapai 248 maka potensi ke area 430 - 434. apabila harga turun menembus 414 maka berpotensi menuju area 410 - 408.

Saham SMDR
harga turun menembus MA9. berpeluang ke area support di 360. bila harga kembali naik menembus 392 maka potensi ke area 398.