Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri bumi. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri bumi. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Lo Kheng Hong meraup angpao besar dari BUMI

Lo Kheng Hong meraup angpao besar dari BUMI


Menyambut Tahun Ayam Api, investor yang mendekap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperoleh angpao besar. Maklum, dalam tujuh bulan terakhir, harga saham BUMI naik hingga lebih dari 10 kali lipat.

Setelah terus-terusan reli, harga saham BUMI akhirnya menembus posisi Rp 500 per saham. Pada perdagangan hari ini, Jumat (27/1), harga saham BUMI ditutup di posisi Rp 505 per saham. Dengan begitu, saham BUMI kini memasuki kelompok harga saham Rp 500-Rp 2.000 per saham dengan fraksi harga Rp 5 per saham.

Bukan cuma harga yang naik tinggi. Transaksi saham BUMI juga meningkat drastis. Saban hari, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai ratusan miliar rupiah. Dihitung selama sebulan terakhir, nilai transaksi perdagangan saham BUMI mencapai Rp 8,1 triliun. Tidak salah jika pelaku pasar menyebut saham BUMI kembali menyandang julukan saham sejuta umat.

Padahal, sejak Juli 2015 hingga Juni 2016, harga saham BUMI tiarap di harga Rp 50 per saham. Malah, di pasar negosiasi, saham bumi diperdagangkan dengan harga di bawah 50 perak. Perdagangan saham BUMI juga sepi sejak harganya terdampar di Rp 50 per saham. Dalam sehari, nilai trasaksi perdagangan saham BUMI hanya ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.

Jauh-jauh hari sebelum anjlok di titik terendah, BUMI memang menjadi saham sejuta umat lantaran peminat bejibun. Transaksi perdagangan saham BUMI tak pernah sepi. Sebelum merosot, harga saham BUMI pada lima tahun lalu masih di kisaran Rp 2.500 per saham.

Tentu, saham BUMI tidak anjlok begitu saja menjadi gocap tanpa alasan. Isu paling utama pada saat itu adalah beban utang yang begitu besar hingga membikin perusahaan kesulitan untuk membayar. Ditambah lagi, harga batubara dunia terus menurun  hingga mencapai titik terendah di kisaran US$ 41 per metrik ton pada Januari 2016.

Nah, arah angin mulai berbalik arah saat tren harga batubara kembali menguat. Pada saat hampir bersamaan, BUMI berhasil menyelesaikan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Pada November tahun lalu, para kreditur BUMI telah menyepakati proposal perdamaian berupa konversi utang menjadi saham.

Melalui tukar guling itu, utang komersial BUMI senilai US$ 4,2 miliar akan berkurang menjadi US$ 1,6 miliar. Beban bunga utang BUMI juga akan berkurang lebih dari US$ 250 juta setiap tahun. Yang menarik, konversi utang menjadi saham BUMI akan dilakukan di harga Rp 926,16 per saham/.

Dua katalis positif inilah yang mendorong harga saham BUMI naik kencang dan transaksi perdagangan tak pernah sepi dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun, secara fundamental, kinerja keuangan BUMI belum benar-benar membaik.

BUMI baru mulai membukukan keuntungan pada September 2016 lalu. Namun, ekuitas BUMI masih tercatat negatif. Jika dihitung, nilai buku per saham alias book value per share BUMI sebesar minus US$ 0,078.  Tanpa adanya restrukturisasi utang dan kenaikan harga batubara, barangkali harga saham BUMI masih anteng di Rp 50 per saham. Transaksi perdagangan juga tak seramai sekarang.

Bisa jadi, tak banyak orang menyangka harga saham BUMI bisa kembali naik hingga mencapai Rp 500 per saham. Hanya sedikit investor yang berani membeli saham BUMI saat harganya masih Rp 50 per saham.

Mereka yang mengakumulasi saham BUMI di harga Rp 50 per saham tentu mendapat angpao dalam jumlah besar dari BUMI. Salah satunya adalah Lo Kheng Hong. Investor kawakan yang populer dijuluki Warren Buffet Indonesia ini mengaku mengoleksi saham BUMI di harga Rp 50 per saham dalam jumlah banyak.

Tentu, menjadi pertanyaan mengapa pria yang akrab disapa LKH ini mau mengakumulasi saham BUMI saat beban utang begitu besar dan ekuitasnya negatif. Maklum, Lo dikenal sebagai value investor yang selalu membeli saham berdasarkan fundamental emiten.

Lo mengatakan, pemilihan suatu saham tidak hanya berdasarkan pada rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (PER) maupun rasio harga saham terhadap nilai buku per saham (PBV).

Dalam pertimbangannya, investor yang bulan depan genap berusia 58 tahun ini  juga melihat berdasarkan nilai wajar perusahaan tersebut. Menurut Lo, BUMI memiliki cadangan batubara yang terbukti sebanyak 3 miliar ton. "Berapa nilainya?" tanya Lo.

Kalau dihitung berdasarkan harga batubara saat ini di kisaran US$ 80 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMI bisa sebesar US$ 240 miliar. Nah, jika kita menghitung secara konservatif dengan asumsi harga rata-rata batubara periode 2015-2016 di kisaran US$ 40 per metrik ton, nilai cadangan batubara BUMI masih sebesar US$ 120 miliar.

Menurut Lo, harga pasar saham BUMI Rp 50 per saham jelas salah harga. Sebab, dengan jumlah saham beredar sebanyak 36,6 miliar, nilai perusahaan BUMI hanya sebesar Rp 1,83 triliun. Dengan asumsi kurs rupiah sebesar  Rp 13.300 per dollar, nilai perusahaan BUMI saat harga sahamnya Rp 50 per saham adalah US$ 137 juta. "Padahal, cadangan batubara BUMI 3 miliar ton. Murah, kan?" kata Lo.

Lalu, berapa sebetulnya nilai perusahaan BUMI? Lo memberikan rumus harga wajar BUMI, yakni harga batubara dikurangi ongkos produksi lalu dikurangi lagi royalti ke pemerintah. Hasilnya perhitungan tersebut dikalikan dengan cadangan batubara yang BUMI miliki lalu dikurangi utang perusahaan. "Ini perhitungan fundamental," ujar Lo.

Berdasarkan keterangan manajemen BUMI, Lo bilang, nilai wajar BUMI adalah US$ 4,6 miliar. Karena itulah, harga saham BUMI Rp 50 per saham merupakan kesalahan pasar dalam menghargai nilai perusahaan BUMI. Makanya, "Sebagai seorang value investor, saya harus membelinya," ujar Lo.

Sayang Lo enggan menyebutkan jumlah pasti kepemilikan saham BUMI.  Dia hanya mengatakan, kemungkinan ia memiliki saham BUMI terbesar kedua setelah Bakrie. Yang jelas, Lo dan juga investor saham BUMI lainnya memperoleh angpao besar di Tahun Baru Imlek kali ini.

PENJELASAN TERKAIT HMETD PT BUMI RESOURCES TBK (BUMI-R) | 14 Juli 2017

PENJELASAN TERKAIT HMETD PT BUMI RESOURCES TBK (BUMI-R) 
Periode Perdagangan 14-20 Juli 2017

Cum date [RG+NG market] : 7-Jul-17
Ex Date [RG+NG market] : 10-Jul-17
Cum Date [TN market] : 12-Jul-17
Ex Date [TN market]  : 13-Jul-17
Recording date  : 12-Jul-17
Distribution Date  : 13-Jul-17
Masa Perdagangan  : 14-20 Jul 17
Periode Penyerahan Efek : 18-24 Jul 17

Pada 14-Jul-2017, akan tersedia 2 macam Right [HMETD] pada portfolio nasabah yang memiliki saham BUMI pada cum date tersebut di atas, yaitu: BUMI-R dan BUMI-R2. 
Berikut keterangan ratio dari masing-masing HMETD BUMI:

Ratio BUMI-R: 
1.034 : 1.000 [1.034 lembar saham induk (BUMI) akan mendapat BUMI-R sebanyak 1.000 lembar] dengan harga exercise/pelaksanaan Rp 926,16/lembar saham

Ratio BUMI-R2: 
1,000 : 284,494 [1.000 lembar saham induk (BUMI) berhak mendapatkan BUMI-R2 284.494], dimana setiap 1 BUMI-R2 berhak mendapatkan 1 unit OWK (Obligasi Wajib Konversi) dengan harga exercise/pelaksanaan Rp 1,-/unit OWK.
Penjelasan serta Ketentuan OWK terkait:
Kode OWK saat ini belum ditentukan KSEI
OWK diterbitkan tanpa warkat [scripless]
OWK berjangka waktu 7 tahun terhitung sejak tanggal emisi
OWK menawarkan tingkat bunga 6% per tahun, pembayaran bunga atas OWK dilakukan berdasarkan kas yang masih tersedia setelah BUMI selesai melakukan urutan pembayaran dengan prinsip Cash Waterfall sebagaimana dirinci pada Bab III L dalam prospektus PT Bumi Resources Tbk (dapat download pada website PT Bumi Resources Tbk: http://www.bumiresources.com/) atau dikapitalisasi dan dibayarkan tunai pada Tanggal Jatuh Tempo OWK.
OWK wajib dikonversikan (akan dikonversikan) menjadi saham induk (BUMI) dengan ketentuan:
Pada tahun pertama dan kedua, Harga konversi sebesar 30% premium atas Rp 926,16
Pada tahun ketiga, Harga konversi merupakan jumlah mana yang lebih rendah dari:
Rp 926,16
40% premium atas harga rata-rata saham BUMI selama periode 6 bulan yang berakhir pada hari kerja sebelum hari pertama tahun ke-3
Pada tahun keempat, Harga konversi merupakan jumlah mana yang lebih rendah dari:
Rp 926,16
40% premium atas harga rata-rata saham BUMI selama periode 6 bulan yang berakhir pada hari kerja sebelum hari pertama tahun ke-4
 Pada tahun kelima, Harga konversi merupakan jumlah mana yang lebih rendah dari:
Rp 926,16
25% premium atas harga rata-rata saham BUMI selama periode 6 bulan yang berakhir pada hari kerja sebelum hari pertama tahun ke-5
Pada tahun keenam, Harga konversi merupakan jumlah mana yang lebih rendah dari:
Rp 926,16
25% premium atas harga rata-rata saham BUMI selama periode 6 bulan yang berakhir pada hari kerja sebelum hari pertama tahun ke-6
Pada tahun ketujuh, Harga konversi merupakan jumlah mana yang lebih rendah dari:
Rp 926,16
25% premium atas harga rata-rata saham BUMI selama periode 6 bulan yang berakhir pada hari kerja sebelum hari pertama tahun ke-7
Pada tanggal Jatuh Tempo OWK, seluruh OWK yang masih tertunggak wajib dikonversikan dengan Harga Konversi yang merupakan harga rata-rata saham BUMI untuk periode 6 bulan yang berakhir pada hari kerja terakhir sebelum Tanggal Jatuh Tempo OWK.

Keterangan terkait informasi di atas:
BUMI-R dilakukan seperti Right pada normalnya/umumnya dengan menggunakan ketentuan No.1
BUMI-R2 dilakukan seperti Right yang disebutkan pada Ketentuan No. 2.
Nasabah dapat melakukan tebus sesuai ketentuan 1 dan 2 [memilih keduanya] atau dengan memilih salah satu.
Nasabah menyediakan dana sesuai dengan cara penebusan yang dipilih, disesuaikan dengan Harga Exercise nya.
Apabila nasabah memilih dengan OWK, maka perlu diingat bahwa satuan OWK dalam bentuk Unit dan hal ini tidak sama dengan Lembar saham.
OWK akan berganti menjadi saham BUMI biasa pada waktu yang dipilih investor, sesuai dengan pilihan yang dipilih oleh masing-masing nasabah [pilihan ketentuan OWK tersebut di atas] => dalam konversi ini tidak ada penambahan dana dalam konversi OWK menjadi saham biasa. 
Apabila nasabah tidak mengirimkan pilihan waktu konversi saham [sesuai pilihan ketentuan OWK yang tersedia], maka otomatis PT Bumi Resources akan menggunakan ketentuan No.7 yang disebutkan dalamketentuan OWK di atas.

Contoh:

1. Nasabah ABC memiliki saham induk BUMI sebayak 100 lot (10.000 lembar) pada cum date, maka dalam portfolio tanggal 14-Juli-2017, akan muncul:
BUMI-R sebanyak 9.672 lembar => Ratio 1.034 : 1.000 [Perhitungan Ratio = (10.000:1.034) x 1.000 lembar]
Apabila nasabah ingin melakukan penebusan BUMI-R harga exercise adalah Rp 926,16 / lembar maka:
Nasabah perlu menyiapkan dana sebesar Rp 8.957.820,- [9.672 x Rp 926.16]; 
Pada max T+3 setelah proses subscriped, nasabah akan bertambah saham BUMI nya sebanyak 9.672 lembar

BUMI-R2 sebanyak 2.844.940 lembar => Ratio 1.000 : 284.494 [Perhitungan Ratio = (10.000 : 1.000) x 284.494]
Apabila nasabah melakukan penebusan BUMI-R2 harga exercise adalah Rp 1,- per unit OWK, maka:
Nasabah perlu menyiapkan dana tunai sebesar Rp 2.844.940;
Pada max T+3 setelah proses subscriped, nasabah akan mendapatkan 2.844.940 unit OWK [belum saham baru BUMI];
Nasabah yang melakukan penebusan BUMI-R2 akan memperoleh saham BUMI baru nya pada waktu yang telah ditentukan sesuai dengan ketentuan OWK di atas.

2. Nasabah DEF memiliki saham induk BUMI sebayak 5 lot (500 lembar) pada cum date, maka dalam portfolio tanggal 14-Juli-2017, akan muncul:
BUMI-R sebanyak 484 lembar => Ratio 1.034 : 1.000 [Perhitungan Ratio = (500:1.034) x 1.000 lembar]
Apabila nasabah ingin melakukan penebusan BUMI-R dengan harga exercise adalah Rp 926,16 / lembar, maka:
nasabah perlu menyiapkan dana sebesar Rp 448.262,- [484 lembar x Rp 926.16];
pada max T+3 setelah proses subscriped nasabah akan bertambah saham BUMI nya 484 lembar.

BUMI-R2 sebanyak 142.247 lembar => Ratio 1.000 : 284.494 [Perhitungan Ratio = (500 : 1.000) x 284.494]
Apabila nasabah melakukan penebusan BUMI-R2 harga exercise adalah Rp 1,- per unit OWK, maka:
Nasabah perlu menyiapkan dana tunai sebesar Rp 142.247, 
Pada max T+3 setelah proses subscriped, nasabah akan mendapatkan 142.247 unit OWK [hal ini belum menjadi saham baru BUMI].

Nasabah yang melakukan penebusan BUMI-R2 akan memperoleh saham BUMI baru nya pada waktu yang telah ditentukan sesuai dengan salah satu dari ketentuan OWK di atas.

Analisa Saham BUMI | 12 Agustus 2017

KONTAN.CO.ID - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) benar-benar membumi di bumi Indonesia. Setelah rights issue, 49,78 miliar saham atau setara 76% dari saham yang beredar dipegang oleh pemodal lokal. Sementara, pemodal asing hanya menggenggam 15,59 miliar atau setara 24%.

Itu posisi per Juli. Bandingkan dengan posisi Juni. Pemodal lokal memegang 21 miliar saham atau setara 57%. Artinya, ada kenaikan sekitar 137% saham yang dipegang pemodal lokal. Lalu, komposisi pemegang saham asing. Jumlahnya justru hanya 15,62 miliar saham, atau setara 43%.

Kepemilikan Credit Suisse di saham BUMI juga berkurang. Ini akibat efek dilusi pasca rights issue yang dilakukan BUMI.

Per 31 Juli lalu, Credit Suisse hanya memiliki 12,97% saham BUMI dari sebelumnya sebesar 23,14%.

Dilusi ini juga terjadi pada PT Damar Reka Energi yang sebelumnya memiliki 6,28% saham BUMI. Kini kepemilikan saham perusahaan tersebut turun menjadi dibawah 5% setelah anak usaha Grup Bakrie ini mengadakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Di sisi lain, PT Samuel International yang bertindak sebagai pembeli siaga saat HMETD BUMI pertengahan Juli lalu kini memegang 43,59% saham

Dari semua perbandingan itu terlihat, masih banyak pemodal yang masih menggenggam saham BUMI. Gambarannya, investor dari Sabang sampai Merauke semua punya saham BUMI.

Apa yang menyebabkan hal ini? Nostalgia? Mungkin saja. Atau, harapan harga saham BUMI bisa naik lagi? Logis juga.

Analis Samuel Sekuritas Muhamad Alfatih mengatakan, banyaknya investor lokal yang memegang saham BUMI tak terlepas dari panjangnya perjalanan yang dilewati saham ikon Grup Bakrie tersebut.

Pada 2008 silam, saham BUMI masih berada pada level harga Rp 8.000 per saham. Bukan hanya level harganya yang masih tinggi, tapi juga saat itu saham BUMI masuk dalam kategori saham blue chips.

"Jadi, hampir semua investor perorangan dan institusi memiliki saham BUMI," ujar Alfatih kepada KONTAN, Jumat (11/8).

Sayang, krisis 2008 menghampiri Indonesia. Saham-saham di pasar modal lokal pun berguguran, tak terkecuali saham BUMI.

Hanya butuh waktu enam bulan bagi saham BUMI terjun ke sekitar level Rp 400 per saham dari sebelumnya Rp 8.000 per saham. Penurunannya hingga 95%.

Siapa yang tidak shock melihat portofolionya turun sedalam itu hanya dalam waktu singkat. Mau jual juga takut rugi.

Harapan saham BUMI untuk kembali pada level terbaiknya saat itu juga tinggal harapan. Tekanan makro terutama sektor batubara, ditambah dengan kondisi keuangan yang tidak sehat lantaran utang yang menggunung membuat saham itu terus terjun bebas, bahkan sampai memasuki zona saham gocap.

Hasilnya, banyak investor yang pada akhirnya 'nyangkut' di saham BUMI. "Sekarang, nostalgia, masih banyak yang berharap harga saham BUMI naik lagi," imbuh Irwan Ariston Napitupulu, pengamat pasar modal yang juga sempat mencicip suka duka saat mengenggam saham BUMI.

Tapi, saham BUMI belum kehilangan pamor. Sebab, memang masih cukup banyak alasan untuk masuk ke saham BUMI selain karena alasan 'terpaksa' lantaran sudah terlanjur nyangkut.

Dari segi fundamental, BUMI memiliki cadangan batubara hampir 3 miliar ton. Itu baru yang sudah terbukti. Sebab, potensi cadangan batubara mencapai 12,6 miliar ton. Emiten batubara lokal mana yang memiliki cadangan sebesar itu dengan valuasi saham yang murah? Rasanya hanya BUMI.

Frekuensi saham BUMI juga terbilang tinggi. "Frekuensi BUMI cukup tinggi, ini membuat investor mudah masuk mudah keluar," tambah Ariston.

Jadi, selain fundamental, volatilitas juga menjadi alasan tambahan untuk masuk ke saham BUMI.

Sejak awal tahun, sentimen restrukturisasi utang juga kembali membuat saham BUMI kembali naik. Bahkan, saham BUMI keluar dari zona saham gocap hingga menuju level sekitar Rp 500 per saham.

Memang, setelah rights issue saham BUMI kembali menuju level sekitar Rp 300. Pada perdagangan akhir pekan ini saja saham BUMI juga kembali turun 2,3% ke level Rp 376 per saham.

"Tapi, aksi korporasi kemarin membuat harapan baru bagi investor," pungkas Alfatih.

ref. kontan.co.id

Prospek Saham BUMI | 28 Desember 2017

Prospek Saham BUMI

Pasca restrukturisasi utang, prospek bisnis dan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali berkilap. Dalam sepekan terakhir, harga saham BUMI naik 4,48% menjadi Rp 280 per saham.

Belum lama ini sejumlah lembaga pemeringkat internasional mengapresiasi langkah manajemen BUMI dan menaikkan rating utang emiten tersebut. Setelah lama bergelut dengan tumpukan utang, langkah BUMI ke depan seharusnya bakal lebih ringan.

Selama ini prospek BUMI tertutup oleh tumpukan utang jumbo. Perlahan, manajemen mulai mengurai jerat utangnya. Berkat restrukturisasi, nilai utang BUMI menyusut dari US$ 4,2 miliar menjadi US$ 1,6 miliar dan jatuh tempo pada Desember 2022. Utang US$ 631 juta pun berhasil ditukar menjadi mandatory convertible bond yang jatuh tempo pada Desember 2024.

Restrukturisasi utang ini akan menjadikan likuiditas BUMI semakin membaik dan turut menurunkan beban bunga menjadi US$ 600 juta. Atas langkah tersebut, S&P Global Ratings menaikkan rating utang BUMI menjadi CCCC+ dari sebelumnya D.

Sedangkan Moodys Investors Service mengerek peringkat BUMI dari Ca menjadi B3. Di saat yang sama, Moodys menaikkan peringkat surat utang anak usaha BUMI, Eterna Capital Pte Ltd.

Rinciannya, senior secured notes seri A sebesar US$ 487,7 juta jadi B3 dan senior secured notes seri B sebesar US$ 522,4 juta jadi Caa1. Keduanya jatuh tempo Desember 2022.

S&P juga memprediksi BUMI bisa melunasi kewajiban bunga dalam 12 bulan bila harga batubara bergerak di rentang yang sehat. Oleh karena itu, rasanya tak ada waktu yang lebih pas untuk bersih-bersih utang selain saat ini. Di tengah stabilnya harga batubara dan memasuki iklim cuaca kering, BUMI berpotensi meraup untung besar apabila menggenjot produksi batubaranya.

Didukung harga batubara yang mulai pulih dan kondisi keuangan yang sehat, analis OCBC Sekuritas Inav Haria Chandra, menilai fundamental BUMI menjadi lebih baik. "Pasar saham bisa lebih percaya karena utang dan produksi bisa lebih baik," ujar Inav kepada KONTAN, Rabu (27/12).

Kapasitas produksi batubara BUMI pada tahun depan berpotensi mencapai 94 juta ton hingga 96 juta ton. Bahkan bisa lebih baik lagi jika cuaca bagus dan tidak menghambat proses produksi. Inav melihat, cash cost emiten ini di 2018 dapat ditahan di rentang US$ 30 hingga US$ 32 per ton, naik tipis dari estimasinya pada 2017 di US$ 29 per ton.

Atas pertimbangan itu, Inav optimistis BUMI bisa mencetak laba bersih tahun ini senilai US$ 360 juta dan tahun depan US$ 323 juta. Ia memprediksi harga saham BUMI yang masih murah sebaiknya dibeli dan dipertahankan untuk jangka panjang. Ia merekomendasi buy BUMI dengan target Rp 420 per saham.

Analis NH Korindo Sekuritas, Yuni juga melihat langkah restrukturisasi utang BUMI memberikan peluang yang bagus bagi prospek emiten tersebut. "Utang mereka dulu fantastis. Dengan restrukturisasi ini, potensi BUMI akan lebih bagus, harga saham bisa membaik dan saatnya rebound," ungkap dia.

Lantaran dimiliki banyak investor, saham BUMI dijuluki sebagai saham sejuta umat dan bergerak fluktuatif. Dalam setahun terakhir ini, BUMI sempat menyentuh level tertinggi pada 27 Januari di posisi Rp 505 per saham, sempat pula terjerembab ke level terendah pada 2 Oktober di Rp 173 per saham.

Laporan keuangan BUMI pun berangsur membaik. Hingga kuartal III-2017, emiten ini mencatatkan penurunan pendapatan 4% menjadi US$ 17,37 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di US$ 18,07 juta. Angka ini tergerus oleh beban pokoknya yang naik 44,54% mencapai US$ 30,19 juta.

Namun BUMI membukukan laba bersih senilai US$ 263,83 juta. Jumlah ini melompat 261% dibandingkan laba bersih di periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$ 73,04 juta.

Meski fundamentalnya membaik, Vice President Research Indosurya Mandiri Sekuritas William Surya Wijaya mengingatkan, tantangan utama BUMI saat ini berkaitan dengan persepsi pelaku pasar. "Hal yang paling penting bagi emiten adalah bagaimana mereka menjaga kepercayaan investor," ungkap dia.

Dari sisi kondisi keuangan, setidaknya manajemen BUMI bisa tenang pasca restrukturisasi utang. Namun, William menilai, simpati pasar juga harus dibangun apabila saham ini ingin bangkit dan bergerak stabil dalam jangka waktu yang lama. Ia merekomendasikan hold BUMI untuk jangka panjang.

Sedang analis Binaartha Parama Sekuritas M. Nafan Aji, tidak menjagokan saham BUMI. Pasalnya pergerakan saham ini terlalu volatil.

Ia menilai sentimen positif yang bisa mendorong BUMI hanya restruktutisasi utang dan kenaikan harga batubara. "Sebaiknya investor mencari emiten dengan kinerja dan fundamental bagus dan bisa memberikan dana pensiun," ujar Nafan.

KONTAN

Bumi Resource (BUMI) Merayakan HUT ke-49 Tahun


[Saham BUMI] PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada tanggal 26 Juni 2022 tepat berusia 49 tahun. Dalam sejarah singkatnya, BUMI didirikan pada 26 Juni 1973 dengan nama PT Bumi Modern yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata, dan di tahun 1990 BUMI melakukan penawaran umum saham perdana di Bursa Efek Jakarta.

Kemudian di tahun 1998, BUMI mengubah bisnis utamanya menjadi di bidang minyak, gas alam dan pertambangan, dimana pada tahun 2000 nama perseroan berubah menjadi PT Bumi Resources Tbk hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu dan seperti layaknya sebuah perusahaan yang tumbuh dan berkembang, BUMI mengalami pasang surut dalam menjalankan bisnisnya. BUMI berhasil mengakuisisi PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) di tahun 2001 dan 2003.

Keikutsertaan Tata Power dalam kepemilikan saham di KPC dan Arutmin berikutnya di tahun 2007 membuat BUMI lebih baik dalam prestasinya.

BUMI juga berhasil mendiversifikasi diri dengan merambah ke pertambangan mineral hingga berkembang dan berdiri sendiri menjadi PT Bumi Resources Minerals Tbk.

Namun di tahun 2008 dan 2013, kala krisis keuangan melanda dunia, termasuk Indonesia, BUMI sebagai perusahaan tambang terbesar di negeri ini juga harus menghadapi berbagai kendala dalam menjalankan roda bisnisnya.

Berbagai metode dan tahapan dilalui perseroan untuk menghadapi krisis, hingga di tahun 2016, BUMI harus melakukan restruksisasi utangnya demi keberlangsungan usaha yang lebih baik di masa depan.

“Jika kita melihat kembali dua tahun ke belakang, pandemi Covid-19 telah merobohkan semua sendi-sendi ekonomi semua negara, tidak terkecuali di bisnis pertambangan batubara. Namun, karena kegigihan yang tinggi dari manajemen dan segenap karyawan, BUMI berhasil melaluinya dengan sukses dan bahkan menempatkan perseroan pada posisi yang lebih baik dari sebelumnya,” kata Presiden Direktur BUMI Adika Nuraga Bakrie dalam keterangan persnya, Selasa (28/6).

Adika menambahkan, di tahun 2021, pertumbuhan industri batubara meningkat siginifikan dan memberikan kontribusi kepada pemulihan kinerja perseroan.

Keberhasilan ini tentunya tak lepas dari tata kelola bisnis yang efektif dan strategis yang dijalankan perseroan, dan oleh karenanya BUMI patut berbangga dapat memberikan kinerja yang luar biasa dan membuktikan dirinya sebagai perusahaan tambang terdepan di Indonesia.

“Dengan semangat baru, BUMI menatap masa depan dengan penuh optimis. BUMI akan menjalankan bisnis dengan manajemen dan tata kelola yang lebih baik dengan prinsip-prinsp ESG (Environmental, Social and Governance). Sebagai bagian dari perusahaan penggerak energi di dunia, BUMI juga turut memikirkan akan halnya kebutuhan energi di masa depan atau sering kita dengar dengan sebutan Green Energy,” tambahnya.

Adika menjelaskan, visi BUMI ke depan, selain tetap menyediakan batubara yang bermanfaat bagi kehidupan masayarakat secara luas, juga memberikan prioritas utama pada pilihan energi yang ramah lingkungan, pemanfaatan energi terbarukan dan diversifikasi produk batubara menjadi gas seperti yang diisyaratkan pemerintahdan tatanan dunia saat ini.

Sesuai dengan tema HUT tahun ini “Rebounding Stronger”, BUMI merayakannya dengan spirit sinergitas, integritas dan profesionalisme yang lebih kokoh dalam membangun perseroan.


sumber : kontan

Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

7 Program Strategis PT Perusahaan Gas Negara Tbk Yang Bernama "Sapta PGN"


PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas dan bagian dari Holding PT Pertamina (Persero) berkomitmen terus meningkatkan pemanfaatan gas bumi guna merealisasikan kemandirian energi nasional. Komitmen ini akan dilaksanakan melalui Program Strategis Gas Bumi secara bertahap 2020 - 2026 melalui Program Strategis Subholding Gas yaitu Tujuh Program Gasifikasi Nasional atau "Sapta PGN".

Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama memaparkan bahwa PGN tetap fokus untuk menguatkan bisnis inti yaitu niaga gas bumi melalui pipa distribusi dan transmisi gas bumi untuk menjaga pemenuhan energi. Maka Sapta PGN akan dilaksanakan seiring dengan fokus PGN dalam menyelesaikan proyek pipanisasi jangka menengah. Dengan begitu, PGN bisa terus hadir untuk menyalurkan gas bumi bagi masyarakat dan bisa menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Adapun tujuh program strategis yang akan dilaksanakan PGN dalam "Sapta PGN" yaitu:

PGN Sayang Ibu.

Layanan gas bumi terintegrasi dengan tambahan layanan produk untuk mempermudah kehidupan masyarakat modern melalui program pengembangan jaringan Gas untuk Pelanggan Rumah Tangga. Untuk tahun 2021 ditargetkan mencapai ±170.000 SRT dengan estimasi volume gas sekitar 10 BBTUD dan pemenuhan target tahun 2026 total 5,1 juta sambungan. PGN akan mengoptimalkan pembangunan Jargas mandiri, APBN 2021 dan KPBU, sehingga dapat mencapai pengelolaan sesuai dengan target Proyek Strategis Nasional (PSN).

PGN Mendukung industri Khusus

Layanan gas bumi melalui penyediaan gas bumi untuk 7 sektor industri khusus sesuai dengan Kepmen ESDM 89K/ 2020 serta dukungan penyediaan gas untuk new captive market.

PGN untuk Listrik Nasional

Layanan gas bumi melalui penyediaan gas bumi untuk sektor kelistrikan sesuai dengan RUPTL, Kepmen ESDM 91K/ 2020 dan Kepmen ESDM 13/ 2020.

PGN Retail dan Industri Umum

Layanan gas bumi melalui penyediaan gas bumi untuk sektor industri umum melalui pipa dan non pipa serta dukungan pengembangan Kawasan Industri (KI) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui pipa transmisi dan pipa distribusi.

PGN Sektor Maritim

Layanan gas bumi melalui program Konversi transportasi sektor laut menjadi berbahan bakar LNG, seperti konversi Pertamina International Shipping (PIS).

PGN Sektor Darat

Layanan gas bumi melalui program konversi transportasi sektor darat berbahan bakar gas, pengembangan SPBG dengan target pertumbuhan sekitar di atas 15% dengan potensi demand kurang lebih 10.000 armada LNG Trucking.

PGN Masuk Desa

Layanan gas bumi melalui penyediaan Energi Alternatif untuk masyarakat yang berlokasi di luar jangkauan infrastruktur pipa dan non pipa PGN (Pemberdayaan sumber daya lokal)

Selain itu, PGN berupaya untuk perluasan wilayah bisnis ke skala internasional melalui kegiatan LNG Trading dan kerja sama pengembangan infrastruktur gas bumi.

"PGN saat ini tengah mempersiapkan program baru PGN di sektor rumah tangga melalui penyediaan gas bumi dengan integrasi teknologi pipa, non pipa, dan teknologi fiber optic pengamanan jaringan gas untuk di optimalisasi sebagai layanan di cluster perumahan," tambah Rachmat.

PGN menambahkan visi misi baru untuk pemanfaatan gas bumi melalui pengusahaan gas dari sumber gas bumi maupun portofolio LNG di mana utilisasi dan pengembangannya dijabarkan dalam Sapta PGN. Dalam perannya sebagai Subholding Gas, PGN mengambil langkah ini guna memenuhi permintaan gas bumi yang tinggi dan terus bertumbuh.

"Pelaksanaan program Sapta PGN mengedepankan pengelolaan infrastruktur gas bumi secara terintegrasi dalam proses bisnis hilir gas bumi mulai dari pengadaan pasokan gas bumi dari berbagai sumber. Kemudian gas bumi disalurkan kepada seluruh segmen pengguna akhir rumah tangga, pelanggan kecil, transportasi (SPBG), pelanggan kecil, komersial, industri dan pembangkit listrik," jelas Rachmat.(end)

Sumber: IQPLUS

Kenapa PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Mulai Lincah Lagi?

PT Bumi Resources Tbk (BUMI)


Perhatian pasar kembali fokus pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Sahamnya mendadak lincah beberapa hari belakangan ini.

Hari ini, Kamis (30/8), harga saham BUMI sempat menyentuh level Rp 246 per saham. Itu level tertinggi dalam sepekan. Sehingga, saham BUMI telah naik sekitar 12% selama tiga hari berturut-turut sejak berada di level terendah pekan ini, Rp 220 per saham pada 28 Agustus.

Namun, sore harinya, saham BUMI ditutup melemah 12 poin atau setara 5%. Meski demikian, saham BUMI masih mengakumulasi kenaikan 2% selama sepekan ini.

Kabarnya, kelincahan saham BUMI akibat ekspektasi pasar yang menilai positifnya kinerja keuangan BUMI bakal berlanjut. Terlebih, laporan keuangan BUMI paruh waktu tahun ini bakal segera dirilis.

Kontan.co.id mendapat informasi, BUMI masih mampu mendapuk untung. Semester I-2018, laba bersih perusahaan tercatat US$ 153 juta. Angka ini tumbuh sekitar 5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, US$ 146 juta.

Dileep Srivastava, Direktur BUMI belum bisa mengkonfirmasi hal tersebut. "Kami tidak bisa mendahului OJK dan BEI," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (30/8).

Yang terang, lanjut Dileep, BUMI memproduksi 40,5 juta ton batubara sepanjang semester I-2018, relatif stagnan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, 40,2 juta ton. Sedang volume penjualannya turun 0,1% menjadi 41,5 juta ton.

Dileep bilang, cenderung stagnannya volume produksi dan penjualan disebabkan oleh tingginya curah hujan di wilayah Kalimantan. Hal itu menyulitkan aktivitas penambangan.

Meski demikian, harga rata-rata batubara BUMI naik sekitar 6% menjadi US$ 58 per ton dari sebelumnya US$ 54,8 per ton. Dari sini bisa dihitung, BUMI meraup pendapatan sekitar US$ 2,35 miliar. Pemasukan dari penjualan batubara ini naik hampir 7% dari sebelumnya US$ 2,2 miliar.

Dileep menambahkan, rata-rata harga saham BUMI tersebut juga dipengaruhi oleh batubara domestic market obligation (DMO).
Selama semester I, BUMI batubara DMO BUMI telah mencapai 33%. Tapi, semester II, porsi itu bakal berubah menjadi 25%.

"Kondisi cuaca diprediksi membaik. Sehingga, kami bisa meningkatkan produksi untuk kembali fokus pada pasar ekspor," jelas Dileep.
https://investasi.kontan.co.id/news/harga-saham-bumi-resources-bumi-terkerek-sentimen-kinerja-keuangan

Analisa Saham BUMI 17 Mei 2017


Bumi Resources Tbk (BUMI) didirikan 26 Juni 1973 dengan nama PT Bumi Modern, perusahaan ini merupakan salah satu saham andalan milik grup Bakrie. Pada saat didirikan BUMI bergerak industri perhotelan dan pariwisata. Kemudian pada tahun 1998, bidang usaha BUMI diubah menjadi industri minyak, gas alam dan pertambangan.

Saat ini, BUMI merupakan induk usaha dari anak usaha yang bergerak di bidang pertambangan. Kesembilan saham-saham Bakrie lainnya, antara lain BNBR, BRMS, BTEL, DEWA, ELTY, ENRG, UNSP dan MTFN.

BUMI memperoleh pernyataan efektif dari OJK pada tanggal 18 Juli 1990, BUMI sendiri dicatatkan dalam perdagangan di bursa pada 30 Juli 1990 dengan harga nominal sebesar Rp1,000.

Alasan BUMI Menjadi Saham Fenomenal

Seperti yang kita ketahui, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir saham BUMI telah bergerak dari angka Rp50 menjadi berada di level kisaran Rp348. Bahkan jika dilihat lebih jauh kebelakang, saham BUMI sempat berada di angka Rp8,000 dengan jumlah penurunan dan kenaikan hingga ribuan persen.

Sebenarnya apa sih hal yang membuat saham BUMI ini menjadi sangat volatil? Jika kita perhatikan, ada 3 alasan dibaliknya.

1. BUMI merupakan emiten dengan jumlah produksi batubara terbesar di Indonesia
2. BUMI merupakan saham mining, yang mana pergerakannya akan sangat dipengaruhi oleh penurunan maupun kenaikan harga batubara
3. BUMI tidak memiliki fundamental yang jelas

Dari ke-3 poin diatas sudah dapat kita ketahui kenapa BUMI jadi sangat volatil. Namun, apa yang dimaksud dengan poin ke-3?

Maksudnya ialah, misalkan ketika harga batubara menguat hingga 200% sejak 2016 lalu saham ini juga terus menguat, padahal disisi lain perusahaan ini juga memiliki hutang segunung yang tidak sanggup mereka bayar, dan manajemen yang kredibilitasnya diragukan. Apalagi mengingat saham ini berada di bawah harga
Sentimen BUMI Saat Ini

Saat ini tengah ramai perbincangan mengenai right issue BUMI yang akan menerbitkan saham baru sebanyak 28,7 miliar atau sekira 38,59% dari total saham perseroan dengan nilai mencapai Rp26,62 triliun yang rencananya akan dimulai pada tanggal 9 Juni mendatang.

Tidak seperti right issue biasanya, BUMI akan menerbitkan 2 jenis right issue, yakni right issue seri A dengan perbandingan 5 saham lama akan bisa mendapatkan 4 saham baru.

Sementara yang ke-2 merupakan right issue seri B yang digunakan untuk penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) dengan jumlah pokok sebesar Rp8,45 triliun.

Sebagai tambahan, penerbitan right issue ini merupakan upaya perusahaan dalam penyelesaian restrukturisasi utang sebesar US$4,2 miliar.

Jika dilihat dari sisi laporan keuangan, BUMI berhasil mencatatkan performa yang cemerlang dalam kuartal I 2017 ini. Perusahaan mengantongi laba bersih sebesar US$88,04 juta, meroket 291,73 persen dari US$22,47 juta di kuartal I 2016.

Tak hanya itu, kinerja perusahaan dengan aset batu bara terbesar di Indonesia ini juga disuntik dengan lonjakan pendapatan lain-lain bersih sebesar 161,68 persen menjadi US$90,71 juta, dari US$34,64 juta.

Saat ini BUMI sudah menguat hingga 6% di level Rp348. Dipimpin oleh BUMI, saham-saham grup Bakrie lainnya pun ikut melonjak, seperti BRMS, DEWA dan UNSP.

Ulasan Hans Kwee, pengasuh J Club (Junior Trader dan Infovesta)

Right Issue BUMI (Hasil RUPS) 20 Juni 2017


Hasil RUPS BUMI

Ada beberapa hal penting mengenai hasil dari RUPS BUMI pada beberapa waktu lalu, diantaranya:

1.BUMI akan melakukan restrukturisasi utang melalui right issue
2.BUMI menempatkan perwakilan dari para kreditur ke dalam manajemen
3.BUMI telah menandatangani perjanjian wali amanat dengan bank lokal, dan diperkirakan akan segera mendapat izin efektif pada pekan ini

Sesuai rencana, BUMI akan menerbitkan 28,75 miliar saham seri A dengan harga Rp 926,16 per saham. Alhasil, nilainya mencapai US$ 2,01 miliar, atau setara dengan Rp 26,62 triliun. Bersamaan dengan itu, BUMI juga menerbitkan OWK Rp 8,45 triliun, setara US$ 639 juta. Sehingga, nilai total aksi korporasi BUMI mencapai Rp 35,07 triliun.

Pelaksanaan rights issue BUMI dilakukan dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) makin dekat. Teknis untuk mengeksekusi hak dalam aksi korporasi ini juga sudah muncul.

Jelang pelaksanaan, BUMI merevisi harga pelaksanaan HMETD Seri B dari Rp 926,16 menjadi Rp 1, dengan nilai nominal yang juga turun dari Rp 926,16 menjadi Rp 1. HMETD Seri B adalah hak untuk melaksanakan HMETD atas pembelian obligasi wajib konversi (OWK) dalam perhelatan penawaran umum terbatas (PUT) V BUMI.

Selain HMETD seri B, BUMI juga menawarkan HMETD Seri A yang merupakan hak untuk melaksanakan HMETD atas pembelian saham baru. Harga pelaksanaan Seri A ini tetap Rp 926,16 per saham.

Meskipun harga right issuenya berada jauh diatas harga di pasar reguler, namun aksi right issue BUMI ini juga cukup unik. Perusahaan menerbitkan 2 jenis right issue, yaitu Seri A yang merupakan right issue reguler, sedangkan seri B merupakan OWK yang nantinya akan bisa ditukarkan dengan saham BUMI.

Jadi, ketika Anda mengeksekusi right issue tersebut, Anda akan mendapatkan ke-2 right issue tersebut.

Selain right issue tadi, masuknya perwakilan kreditur dalam jajaran manajemen BUMI memberikan persepsi positif pada aksi korporasi ini. Perwakilan kreditur tersebut bisa mengawal kinerja BUMI di masa depan agar lebih baik.

Walaupun begitu, saat ini BUMI masih menunggu ijin dari OJK untuk aksi right issuenya.

Secara fundamental, BUMI merupakan emiten dari sektor batubara dan sektor ini tidak cocok dijadikan pilihan investasi. Selain itu konversi hutang ke saham juga masih menunggu izin OJK, sehingga tidak terlalu baik untuk jadi pilihan investasi jangka panjang.

Analisa Saham BUMI | 12 Februari 2018

Analisa Saham BUMI

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah diguyur sentimen hangatnya komoditas batubara. Fund manajer asing, BNP Paribas juga dikabarkan mulai mengoleksi saham tersebut.

Lantas, apakah fundamental BUMI sudah benar-benar membaik?


Inav Haria Chandra, analis OCBC Sekuritas menilai, BUMI sekarang sudah jauh lebih baik. Memang, menetralisir pandangan negatif akibat beban utang Grup Bakrie yang menggunung tidaklah mudah.

"BUMI sekarang risikonya apalagi, sih," kata Inav.

Dulu, harga saham BUMI tercecer karena investor takut jika BUMI bangkrut akibat utang. Tapi, nyatanya BUMI tidak bangkrut. Sekarang, proses restrukturisasi utang juga sudah dimulai.

Jadi, secara fundamental BUMI sudah jauh lebih baik. "Persepsi investor juga sudah mulai berubah," imbuh Inav.

Soal harga, BUMI juga masih menarik. Valuasi harga saham BUMI sudah sangat murah, dengan price earning ratio (PER) sekitar 4,5 kali. Sedang, rata-rata PER industrinya sekitar 9 kali. Jadi, lanjut Inav, harga wajar BUMI seharusnya dua kali dari harga saat ini.

Soal good corporate governance (GCG) juga BUMI sudah lebih baik. Ada sejumlah perwakilan kreditur yang masuk ke dalam manajemen BUMI untuk memastikan bisnis dan proses pelunasan utang BUMI berjalan lancar.

"Kreditur dan investor niatnya hampir mirip. Bedanya, mereka (perwakilan) bukan mengincar dividen tapi untuk memastikan utang BUMI lunas," jelas Inav.

Namun, volatilitas saham memang justru yang menjadi salah sati risiko saham BUMI saat ini. "Untuk itu, kalu BUMI sekarang lebih baik hold untuk jangka waktu yang lama," pungkas Inav.

KONTAN

Saham BUMI | BUMI optimistis bisa keluar dari saham gocap


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu emiten dari Grup Bakrie yang bertengger di harga Rp 50 per saham. Mengutip data dari RTI Business, selama lima tahun terakhir saham dengan kode BUMI itu memiliki harga terendah di Rp 50, sementara harga tertingginya di Rp 520. Adapun dalam tiga bulan terakhir, harga saham BUMI tidak menunjukkan adanya pergerakan dari level gocap. 

Walau sudah berada di level terendah, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava tetap optimistis bisa keluar dari harga Rp 50. Kuncinya, dengan melunasi utang-utang BUMI.

Sebab, utang menjadi pemberat BUMI sehingga sahamnya kurang menarik bagi pelaku pasar. "Saat mulai membayar utang, maka equity value akan meningkat, sehingga harga sahamnya juga naik," ujar Dileep, Kamis (23/7).

BUMI menanggung utang US$1,7 miliar dengan jatuh tempo tahun 2022. Per 8 Juli 2020, BUMI sudah membayarkan cicilan utang hingga US$ 327,82 juta

Oleh karena itu, pembayaran utang menjadi salah satu fokus BUMI selain tetap menjalankan bisnis dan membangun cadangan yang memadai. Adapun produksi BUMI tahun ini ditargetkan mencapai 85 juta ton hingga 90 juta ton. Sejauh ini Dileep mengaku BUMI masih sejalan dengan target tersebut, sehingga pihaknya merasa belum perlu melakukan revisi. 

Harapannya, dengan meningkatkan kinerja, BUMI bisa mengerek pendapatan dan mempertebal margin. Dengan margin yang meningkat, BUMI akan bisa melunasi utang dan biaya bunga utang dapat ditekan. 

Mengingat kegiatan produksi penting bagi keberlangsungan perusahaan, BUMI berharap ada kepastian terkait Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batu bara (PKP2B) dan  Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi (IUPK-OP).

Asal tahu saja,  BUMI memiliki dua anak usaha yang masa kontraknya hampir habis, yakni PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Arutmin Indonesia akan selesai pada 1 November 2020 mendatang. Sementara kontrak KPC akan berakhir pada 31 Desember 2021.

Ketika kedua hal tersebut sudah dikantongi, BUMI akan lebih percaya diri meninjau kembali rencana ke depan. Misalnya melakukan negosiasi ulang terkait refinancing, memperpanjang periode pembayarannya, atau mungkin bisa menurunkan bunga. "Kemungkinan baik untuk bottom line kami," ujar Dileep. 

Berdasar perhitungan Dileep, segala upaya BUMI memperbaiki kondisi dengan membayar utang ini akan terlihat dalam dua hingga tiga tahun lagi. 

PT Perusahaan Gas Negara Tbk Perluas Penggunaan Gas Bumi di Pasuruan


Sebagai wujud dukungan terhadap produktivitas industri, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas PT Pertamina (Persero) berkomitmen memperluas penggunaan gas bumi di wilayah Pasuruan. PGN terus berupaya menambah daftar pelanggan di sektor industri di Pasuruan yang pada Selasa (1/12/2020) PGN telah menyalurkan gas perdana ke PT Bipang Jangkar Abadi di Pasuruan.

Dikenal dengan produk bipang "Jangkar", usaha ini akan memakai gas bumi sebagai bahan bakar produksi sekitar 1.000 . 10.000 M³ per bulan. Bipang .Jangkar. aktif berproduksi dalam jumlah besar dengan berbagai jenis produk. Selain bipang beras, industri makanan oleh-oleh khas Pasuruan ini juga memproduksi bipang jagung dan popcorn yang dipasarkan di Jawa Timur, Jakarta, Bali, hingga Makasar.

"Kami senang sekali, salah satu industri produsen bipang terbesar di Pasuruan tertarik untuk menggunakan gas bumi. Apalagi Pak Soenardi selaku pemilik Bipang Jangkar mengatakan bahwa alasan tertarik menggunakan gas bumi, karena gas bumi lebih praktis dan efisien. Itu berarti, kini nilai lebih dari gas bumi semakin dikenal luas dan sudah menunjukkan bukti manfaat yang nyata," ujar Area Head Pasuruan dan sekitarnya, Mohammad Makki Nurudin, (3/12/20).

Pada sektor industri, Makki mengungkapkan bahwa di PGN Area Pasuruan sudah melayani 114 industri yang tercatat telah menggunakan gas bumi sebagai sumber utama energi. Industri tersebut produktif di berbagai sektor seperti makanan, kimia, dan kayu. Sedangkan total pelanggan industri PGN di Jawa Timur telah mencapai kurang lebih 550 industri. Melalui penggunaan gas bumi, para pelanggan industri di Pasuruan maupun Jawa Timur dapat meningkatkan efisiensi, sehingga daya saing produknya juga semakin meningkat.

Pasuruan juga menjadi salah satu wilayah yang ditetapkan pemerintah untuk mendapatkan kuota pemasangan jaringan gas rumah tangga (Jargas) dengan dana APBN. Sejak tahun 2015, pelanggan gas rumah tangga dan pelanggan kecil di Pasuruan telah mencapai ±19.000 SR. Dengan demikian, dukungan pemerintah pusat, Kementerian ESDM, pemerintah daerah dan stakeholder terkait sudah sangat besar.

Makki menambahkan, dengan panjang jaringan pipa gas lebih dari 200 Km yang dikelola saat ini, PGN Area Pasuruan telah menyalurkan gas bumi dengan volume rata-rata 25 BBTUD di wilayah Pasuruan.

"Pembangunan infrastruktur, jaminan kesediaan pasokan gas, dan penyediaan layanan gas bumi, kami harapkan dapat mendukung Wilayah Pasuruan Raya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Pasuruan. Terdapat antusiasme masyarakat dalam menikmati program Jargas dan untuk usaha, di mana gas bumi dinilai lebih efisien dan praktis. Maka kami semakin optimis untuk menjangkau lebih banyak pelanggan di Pasuruan," kata Makki.

Makki menambahkan, dengan semakin dikenalnya nilai lebih gas bumi menjadi pemacu motivasi PGN untuk terus menjangkau pelanggan gas bumi di area Pasuruan secara lebih luas. Makki mengatakan bahwa infrastruktur untuk menyalurkan gas bumi saat ini sudah cukup memadai untuk menjangkau wilayah Pasuruan.

Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama menambahkan, melalui penggunaan gas bumi, PGN berharap sektor industri di berbagai daerah dapat terus berkembang sehingga dapat memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional. PGN sebagai Subholding Gas dan bagian dari Holding Migas PT Pertamina (Persero) akan terus berinisiatif dalam membangun infrastruktur untuk memperluas jaringan gas bumi ke wilayah-wilayah baru. Dengan peningkatan pemakaian gas bumi, maka juga dapat mendorong kokohnya ketahanan energi nasional.(end)

Sumber: IQPLUS

Analisa Saham, BUMI 30 April 2017


Laba BUMI meloncat 291% di kuartal I 2017
Sabtu, 29 April 2017 / 18:16 WIB

JAKARTA. Kinerja PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terangkat oleh prospek batubara yang lebih baik sepanjang Kuartal I-2017. Pada periode itu, BUMI mencetak kenaikan pendapatan 59% year on year (yoy) menjadi US$ 10,3 juta.

Beban usaha yang tinggi sejatinya membuat perseroan mencetak rugi usaha sebesar US$ 4,5 juta dari sebelumnya untung US$ 841.845. Namun, margin laba bersih BUMI tertolong oleh adanya laba entitas asosiasi yang naik 214% menjadi US$ 27,6 juta dan penyusutan beban bunga dan keuangan sebesar 73% menjadi US$ 44,53 juta.

Karena itu, laba bersih BUMI pun melonjak 291,81% menjadi US$ 88,04 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih BUMI hanya sebesar US$ 22,46 juta. Laba per 1.000 saham perseroan sebesar US$ 2,44 per saham naik dari sebelumnya US$ 0,62 per saham.

"Volume penjualan di Kuartal I 2017 sama seperti periode yang sama tahun lalu karena curah hujan yang tinggi. Namun, hal itu dikompensasi dengan kenaikan harga rata-rata sebesar 35,7% menjadi US$ 54,2 per ton," ujar Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI kepada KONTAN, Sabtu (29/4).

Perseroan masih yakin, hingga akhir tahun ini BUMI masih akan dapat mencapai target volume penjualan sebesar 90 juta ton dengan harga rata-rata yang naik sekitar 30% dibandingkan tahun lalu.

Di sisi lain, BUMI masih mencatatkan defisiensi modal sebesar US$ 2,7 miliar. Hal ini karena liabilitas perseroan masih tinggi, yakni sebesar US$ 5,8 miliar. Sementara itu, total aset BUMI mencapai US$ 3,11 miliar. Di sisi lain, total kas BUMI hanya tercatat sebesar US$ 8,6 juta.

Dalam waktu dekat, BUMI akan menggelar rights issue dengan melepas 28,75 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Nilainya mencapai US$ 2,01 miliar atau setara dengan Rp 26,62 triliun.

Bersamaan dengan itu, BUMI juga akan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi (OWK) sebanyak 9,1 miliar unit dengan jumlah pokok US$ 639 juta atau setara Rp 8,45 triliun. Sehingga, total aksi korporasi Grup Bakrie itu mencapai Rp 35,07 triliun.

Nantinya, setiap 100 saham akan memperoleh 78 HMETD seri A. Setiap satu HMETD Seri A memberikan hak pada pemegangnya untuk membeli satu saham baru seri B dengan harga pelaksanaan Rp 926,16. Lalu, setiap 100 saham akan memperoleh 25 HMETD Seri B yang bisa ditukar dengan OWK di harga yang sama.

BUMI juga sudah menentukan pembeli siaga yang akan menyerap HMETD apabila tidak diserap oleh pemegang saham. Bertindak sebagai pembeli siaga adalah PT Samuel International sebesar US$ 1,9 miliar atau Rp 26,36 triliun. Samuel akan memberikan komitmen penuh dalam rights issue ini di harga yang sama.

Pembeli siaga lainnya adalah PT Danatama Capital Group dengan komitmen penuh sebesar US$ 19,9 juta. Sementara itu, yang bertindak sebagai pembeli siaga sehubungan dengan sisa OWK adalah kreditor konversi OWK dengan jumlah US$ 639 juta.

Pada perdagangan Jumat (28/4), harga saham BUMI turun 1,32% menjadi Rp 448 per saham.

http://investasi.kontan.co.id/news/laba-bumi-meloncat-291-di-kuartal-i-2017

PGN SIAPKAN PASOKAN DAN INFRASTRUKTUR GAS BUMI DI JAWA TENGAH.


PT Perusahaan Gas Negara Tbk dan PT Jateng Petro Energi (Perseroda) (JPEN) telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Penyediaan Pasokan dan Infrastruktur Gas Bumi di Provinsi Jawa Tengah. Penandatanganan MoU dilaksanakan secara virtual dalam acara Jateng Gas Business Gathering 2021, pada Kamis (15/04).

Disaksikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, penandatanganan dilakukan oleh Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PT Perusahaan Gas Negara Tbk Syahrial Mukhtar dan Direktur Utama PT Jateng Petro Energi (Perseroda) Muhammad Iqbal.

Syahrial menjelaskan bahwa MoU ini bertujuan untuk mengkaji potensi kerja sama terkait rencana penyediaan pasokan gas bumi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) beserta infrastruktur pendukungnya, untuk memenuhi kebutuhan energi di Jawa Tengah.

Untuk keseluruhan wilayah Jawa Tengah, potensi pasar masih dapat berkembang dimana saat ini demand terpusat di kawasan industri eksisting. Strategi penyaluran yang digunakan menggunakan beberapa moda yaitu gas pipa, CNG, maupun LNG menyesuaikan dengan kebutuhan. Dengan adanya MoU dengan JPEN, diharapkan dapat memberikan support untuk penyediaan infrastruktur CNG.

JPEN merupakan suatu perusahaan perseroan daerah milik Provinsi Jawa Tengah yang bergerak di bidang Hulu dan Hilir Migas, Energi Baru Terbarukan (EBT), dan Jasa Penunjang.

"Untuk sumber pasokannya, PGN saat ini memiliki beberapa opsi sumber pasokan gas untuk Jawa Tengah seperti Jimbaran Tiung Biru (JTB), Saka Muriah, dan LNG teluk Lamong," kata Syahrial, (16/04).

Seperti yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bahwa kebutuhan gas bumi di Jawa Tengah saat ini cukup mendesak. Jawa Tengah memiliki potensi geografis yang menguntungkan, diapit oleh dua provinsi besar yang kaya akan pasokan dan pasar gas. Selain itu, Jawa Tengah juga merupakan tujuan dari dua pipa transmisi.

Dari sisi konsumen, di Jawa Tengah banyak industri yang potensial menyerap gas bumi sebagai energi untuk produksi. Namun kendala infrastruktur atau pipanisasi menyebabkan supply gas bumi di Jawa Tengah menjadi tidak optimal.

"PGN telah memiliki infrastruktur Pipa Transmisi Gresik-Semarang (Gresem), serta alokasi pasokan gas yang dapat disalurkan untuk industri di Jawa Tengah. Penyaluran gas bumi bagi industri yang yang belum terjangkau jaringan pipa gas bumi dapat menggunakan moda CNG maupun LNG," jelas Syahrial.

Saat ini PGN telah menyalurkan gas bumi ke 13 pelanggan industri komesial di Kawasan Industri Tambah Aji dan meluas ke Wijaya Kusuma melalui gas pipa dan CNG, menyalurkan gas bumi ke Pembangkit Tambak Lorok, serta melayani 7.093 rumah tangga. Secara keseluruhan, volume penyerapan gasnya mencapai 23,85 BBTUD.

Di sisi lain, PGN melihat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang terus tumbuh seiring dan makin banyak kawasan industri baru yang berkembang di Jawa Tengah. Ada beberapa kawasan industri seperti Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Industri Kendal (KIK) sebagai pasar potensial gas bumi.

Dengan segala kapabilitas yang dimiliki, PGN berupaya agar pemenuhan kebutuhan gas bumi di Jawa Tengah dapat terealisasi. Pipa Tranmisi Gresik-Semarang (Gresen) diestimasikan mampu menyalurkan gas bumi sekitar 400 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

PGN juga tengah menyelesaikan interkoneksi Pipa Gresem dengan Pipa Kalimantan Jawa (Kalija) untuk optimalisasi distribusi gas bumi khususnya sektor industri area Semarang dan Kendal.

Selain itu, PGN mengupayakan penyelesaian Pipa Jumper dari Tambak Lorok ke Tambak Rejo. Pipa ini diestimasikan selesai pada Triwulan II 2021. Apabila sudah terhubung, gas bumi dari Lapangan Kepodang akan utilisasi didistribusikan ke pelanggan-pelanggan potensial di Jawa Tengah.

"Gas dari Lapangan Kepodang diharapkan dapat diutilisasi untuk membangkitkan SPBG Kaligawe, sehingga akan membuat penyaluran CNG di Jawa Tengah menjadi lebih efektif dan efisien. Selama ini kebutuhan CNG Jawa Tengah dipasok dari Jawa Timur," kata Syahrial.

PGN optimis dengan infrastruktur yang terintegrasi dapat mempercepat akses gas bumi yang handal di Jawa Tengah. Sinergi dengan JPEN juga akan semakin memacu upaya realisasi akses gas bumi yang merata dan stabil dengan harga yang lebih efisien di Jawa Tengah.

"Kami berharap nilai lebih gas bumi dapat mendorong kamajuan dan daya saing industri di Jawa Tengah. Sebagai Subholding Gas, PGN siap mendukung dan bekerjasama dengan pemerintah daerah maupun badan usaha daerah agar cita-cita bersama dalam meningkatkan daya saing industri Jawa Tengah dapat terwujud," tutup Syahrial.(end)

Sumber: IQPLUS

Saham BUMI | BUMI Paling Seksi di Grup Bakrie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua emiten dari Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) telah merilis laporan keuangan 2018. Kinerja kedua emiten ini masih dalam tekanan​.

BUMI mencatat laba bersih 2018 sebesar US$ 220,41 juta. Realisasi ini merosot dalam jika dibandingkan dengan laba bersih 2017, yakni sebesar US$ 373,25 juta.

Tetapi, Direktur BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, kinerja 2017 memasukkan amnesti pajak dan keuntungan revaluasi aset yang mencapai US$ 740,38 juta. Jika faktor ini dikeluarkan, BUMI sebenarnya memiliki laba inti US$ 128 juta, naik 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski turun, penjualan juga masih sesuai harapan. Menurut Dileep, secara keseluruhan, penjualan BUMI di 2018 sebesar 80,6 juta ton, turun 4%. Produksi masih cukup stabil di level 83,3 juta ton, meski turun 0,47% .

Salah satu penyebab produksi turun adalah curah hujan yang tinggi hingga mengganggu produksi. Juga pembatasan impor batubara China di kuartal IV-2018 serta perlambatan impor batubara di India, jelas Dileep Senin (1/4).

Sedang BNBR mencatatkan pertumbuhan pendapatan 35,83% year on year menjadi Rp 3,34 triliun. Namun, holding Grup Bakrie ini masih mencetak rugi bersih sebesar Rp 1,26 triliun, akibat biaya beban tinggi.

BNBR dan BUMI kini masih terus merestrukturisasi utang. Nilainya masing-masing Rp 7,8 triliun untuk BNBR dan US$ 200 juta-US$ 250 juta untuk BUMI.

Untuk mengurangi eksposur eksternal, tahun ini BUMI akan memaksimalkan penjualan domestik dan membatasi ekspor. Perusahaan ini juga mengontrol produksi sekaligus menjaga persediaan agar pasokan tak berlebih. Ini untuk menjaga pasokan selama musim hujan ketika produksi biasanya turun dan merealisasikan harga batubara yang lebih tinggi karena pasar China dan India akan normal lagi, ujar Dileep.

BUMI menargetkan produksi batubara bisa berada di rentang 88 juta ton–90 juta ton. Harga ditargetkan sekitar US$ 56 per ton.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto melihat, harga komoditas cukup mempengaruhi kinerja emiten Grup Bakrie. Selain BUMI, ada PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) yang bergantung pada harga CPO.

Di tiga bulan pertama 2019, harga komoditas masih lesu. Harga batubara internasional tercatat merosot 13%, sedang CPO merosot 2,73% di kuartal I-2019. "Jika hanya mengandalkan sentimen komoditas, kelihatannya kurang menolong, ujar William. Dia merekomendasikan investor wait and see atas saham-saham emiten Grup Bakrie.

Analis Kresna Sekuritas Robertus Hardy masih merekomendasikan beli saham BUMI dengan target harga Rp 400 per saham. Menurut dia, dari sisi laba inti, kinerja BUMI positif.

Harga BUMI kemarin turun 0,81% jadi Rp 1,22 per saham. Tetapi, sepanjang kuartal pertama, harganya naik 19,42%. Tahun ini, kami memprediksi laba bersih BUMI tumbuh 17%, tulis Robertus dalam risetnya.


Sumber:

Berita Saham PGAS | 13 November 2017

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) konsisten untuk berperan serta mewujudkan kemajuan ekonomi nasional. Salah satu caranya dengan memastikan industri dalam negeri merasakan manfaat dari gas bumi sebagai energi baik.

"Dengan beralih ke gas bumi PGN, industri dapat menekan biaya produksinya hingga 40 persen dari penghematan konsumsi bahan bakar," kata Division Head of Corporate Communication PGN, Desy Anggia dalam acara Media Gathering PGN 2017 di Highland Park, Bogor, Sabtu (11/11).

Desy mengatakan, industri adalah salah satu kontributor untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Agar industri terutama yang kecil dan menengah memiliki daya saing, industri dituntut salah satunya untuk bisa efisien dalam pemakaian bahan bakar di setiap kegiatan produksinya.

Tak heran industri dalam negeri semakin banyak beralih ke bahan bakar gas bumi. Sebab gas bumi memiliki banyak manfaat, selain bersih, aman, dan efisien, ketersediaannya juga terjamin. "Bagi industri kepastian pasokan energi itu salah satu hal paling penting," kata Desy.

Contohnya PT Fajar Surya Tridasa di Bekasi. Pabrik kertas yang terkemuka di Indonesia ini memilih beralih dari bahan bakar liquefied petroleum gas (LPG) ke gas bumi PGN pada pertengahan tahun lalu karena harganya lebih murah.

"Dengan beralih ke gas bumi PGN, produsen kertas ini bisa efisien sekitar 40% dibanding sebelumnya menggunakan LPG," kata Desy.

Keuntungan lain menggunakan gas bumi PGN, menurut Desy, adalah adanya beragam penyaluran gas. Tidak lagi terbatas pada penyaluran melalui pipa saja, melainkan pemanfaatan gas dengan metode lain seperti CNG (Compressed Natural Gas).

"Pelaku industri menengah dan menengah ke bawah seperti restoran dan hotel tetap bisa menikmati gas meskipun tidak ada sambungan ke jaringan pipa gas karena ada dalam bentuk CNG yang diantar ke pelanggan dengan kendaraan khusus," kata dia.

Bukan itu saja, PGN juga memperluas manfaat gas dengan menyasar penyaluran gas untuk UMKM dengan konsep food truck. Food Truck ini dilengkapi dengan pengering, kompor, pendingin ruangan, dan generator listrik yang berbahan bakar gas bumi.

Pemanfaatan gas bumi dalam bentuk CNG juga disalurkan untuk transportasi atau disebut GasKu. Program ini merupakan layanan penyaluran gas bumi untuk transportasi dengan menggunakan converter kit.

"Ini semua upaya kami untuk mengoptimalkan program Smart Energy yakni bagaimana mengelola dan memanfaatkan energi secara efektif dan efisien," tutup Desy.

Smart Energy merupakan salah satu program dari tema besar layanan PGN yaitu PGN 360 degree Integrated Solution. Tema besar layanan PGN ini mengusung konsep pemberian solusi terintegrasi untuk memberikan layanan yang menyeluruh dan mengerti Pelanggan, dengan segala keunikan dan kemampuan PGN.

Dalam PGN 360 Degree Integrated Solution, PGN memberikan layanan penggunaan gas bumi dari hulu hingga hilir. Seperti, menyediakan gas bumi melalui anak usaha Saka Energi, menyediakan gas bumi dalam bentuk gas alam cair (LNG), CNG sampai melalui jaringan pipa gas bumi yang tersebar di 19 kabupaten/kota di 12 provinsi.

Saat ini PGN telah memasok lebih dari 1.658 industri besar dan pembangkit listrik, lebih dari 1.984 pelanggan komersial, dan 177.710 pelanggan rumah tangga yang dibangun dengan investasi PGN sendiri. Konsumen PGN tersebut tersebar di 19 kabupaten/kota di 12 provinsi, di antaranya Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, dan Sorong Papua.

PGN juga terus mengerjakan pembangunan proyek infrastruktur, diantaranya Distribusi Dumai, Transmisi Duri - Dumai, pengembangan jaringan Gresik-Lamongan - Tuban, pengembangan jaringan di Pasuruan, pengembangan jaringan Senayan City - Pondok Indah Mall, kawasan industri di Bekasi dan Tangerang.

PGN akan tetap agresif membangun infrastruktur gas bumi nasional untuk meningkatkan pemanfaatan produksi gas nasional. Saat ini infrastruktur pipa gas yang dibangun dan dioperasikan PGN mencapai lebih dari 7.450 km atau setara dengan 80% pipa gas bumi hilir nasional.(end/as)

IQPLUS

BUMI | Analis : Beli Saham BUMI


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis PT Bumi Resources Tbk dinilai masih cukup menantang seiring tren pelemahan harga batubara global. Namun, emiten berkode saham BUMI tersebut diyakini mampu bertahan di tengah tekanan yang ada.

Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menyebut, pelemahan harga batubara dunia jadi sentimen utama yang menekan kinerja emiten ini. Hal ini cukup terlihat di kinerja kuartal I-2019.

Pendapatan BUMI di tiga bulan pertama tahun ini tergerus 24,58% menjadi US$ 234,15 juta. Laba bersih emiten grup Bakrie ini di periode yang sama juga anjlok 46,27% menjadi US$ 48,44 juta.

Menurut Robertus, prospek kinerja BUMI sangat bergantung pada pemulihan harga batubara dunia. Namun, kini harga komoditas tersebut masih dalam tren pelemahan.

Kemarin, harga batubara dunia kontrak pengiriman Juli 2019 di ICE Futures berada di level US$ 77 per metrik ton. Bahkan, pada 5 Juni lalu, harganya merosot ke level terendah tahun ini, yakni US$ 73,50 per metrik ton.

Analis menyebut, manajemen emiten saham batubara ini perlu mengantisipasi kondisi tersebut. "Yang paling mudah dilakukan adalah menaikkan volume produksi sambil berharap harga batubara global pulih," kata Robertus, Selasa (11/6).

Seiring peningkatan produksi, BUMI diharapkan juga mampu menjual batubara dalam jumlah yang lebih besar. Upaya ini dapat mengompensasi penurunan harga jual yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Robertus menganalisa, produksi Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha BUMI, bisa mencapai 59 juta-60 juta metrik ton di tahun ini. Sementara produksi batubara Arutmin, tambang BUMI lainnya, mencapai 27 juta-28 juta metrik ton. "Gabungan kapasitas produksi tahunan saat ini dapat menempatkan BUMI sebagai produsen batubara terbesar di Indonesia," tambah dia.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Todd Showalter juga menargetkan, volume penjualan BUMI bisa naik 12,9% menjadi 91 juta metrik ton. "Volume ini akan menghasilkan pertumbuhan EBITDA hingga 15% jadi US$ 668 juta," tulis dia dalam risetnya.

Selain itu, perpanjangan kontrak izin tambang sekaligus konversi menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) untuk KPC dan Arutmin pada semester I-2019 bisa menjadi sentimen positif.

Utang BUMI

Robertus juga meyakini proses pembayaran cicilan utang yang dilakukan BUMI tidak akan mengganggu aktivitas bisnis emiten tersebut. Justru, hal ini bisa mengembalikan profitabilitas perusahaan pada tahun ini.

Awal April lalu, BUMI mengumumkan telah melakukan pembayaran utang untuk cicilan kelima dengan nilai US$ 19,85 juta. Dengan demikian, BUMI telah membayar utangnya sebesar US$ 239,39 juta secara tunai.

Robertus masih merekomendasikan beli BUMI dengan target harga Rp 400 per saham. Setali tiga uang, Showalter juga memberi menyarankan beli dengan target harga Rp 250 per saham. Rekomendasi serupa juga diberikan analis Panin Sekuritas William Hartanto, dengan target harga Rp 133 per saham.

Ulasan Emiten : BUMI, 28 Februari 2017

PT. BUMI RESOURCES, TBK (BUMI)

Mining Industry
Harga Saham : IDR 322/Lembar
Market Cap : +/- IDR 12.5 T

Bumi merupakan perusahaan yang beroperasi sebagai produsen batu bara. Majoritas dari saham perusahaan yang ber operasi di Kalimantan Timur dan Selatan ini dimiliki oleh grup Bakrie.


Restrukturisasi Hutang

Apa itu restrukturisasi hutang?
Restrukturisasi hutang adalah metode yang di gunakan oleh perusahaan yang memiliki hutang untuk mengganti perjanjian di dalam hutang tersebut dengan tujuan memperbaiki posisi keuangan perusahaan.
Efek restrukturisasi hutang yang dilakukan BUMI kepada perusahaan adalah:
1. Hutang akan berkurang jika di konversi menjadi saham.
2. Dengan berkurang nya hutang, maka beban bunga juga otomatis akan berkurang (beban bunga menurut laporan 9M 2016 adalah USD 283,335,874 atau IDR 3.6 Triliun rupiah dengan asumsi IDR 13,000/1 USD).
3. Laporan keuangan BUMI dapat menjadi lebih sehat dan perusahaan lebih memungkinkan untuk profit di kedepan nya.

Perusahaan yang dulunya pernah mencatatkan harga saham sebesar IDR 8.750 memiliki hutang sebesar IDR 135,78 triliun dari 270 kreditur. Pada tanggal 9 November 2016, di dalam sidang PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang) kepada para kreditur dan Bumi menyetujui untuk melakukan konversi atas hutang mereka menjadi saham dan surat hutang baru.

Issue BUMI naik menjadi IDR 926?

Pada tanggal 9 Desember 2016, direktur keuangan Bumi mempaparkan bahwa emiten tersebut akan menerbitkan saham baru (right issue) sebanyak 29.1 miliar lembar saham dengan harga yang ditetapkan sebesar 926 rupiah per lembar saham, dengan harapan bahwa emiten dapat menghimpun dana segar sebesar IDR 26,9 T.


Prediksi bahwa harga saham BUMI akan naik ke kisaran 926 rupiah adalah dengan alasan sebagai berikut:

- Jika saham baru yang ditawarkan melalui right issue lebih tinggi daripada nilai pasar saham BUMI, maka saham baru tersebut tidak akan menarik bagi mereka yang mendapatkan saham baru melalui right.
- Harga right issue normal nya adalah harga rata-rata 25 hari perdagangan daripada saham tersebut. Maka dipercaya bahwa di tanggal yang mendekati aksi right issue tersebut harga bumi akan berada di kisaran 926 rupiah.


Namun, prediksi saham BUMI akan sulit menuju 926 rupiah dikarenakan alasan sebagai berikut:

- Harga saham BUMI sudah terapresiasi hingga 10 kali lipat sejak 10 Juni 2016 (harga terendah di 50 rupiah) hingga mencapai puncak pada 30 Januari 2017 (harga tertinggi di 520 rupiah).
- Laporan keuangan BUMI hingga kuartal 3 2016 masih mencerminkan pelemahan dari sisi pendapatan yakni hanya sebesar Rp 324 milliar dengan EBIT minus 36 milliar rupiah.
- Harga exercise right issue Rp 926 terpaut jauh dengan harga saham BUMI di market (Rp 400)
- Tujuan Right issue hanya sebagai konversi pembayaran utang bukan untuk ekspansi yang dapat menunjang kinerja.


-Disclaimer-

Note : Artikel ini bukanlah rekomendasi beli atau jual, hanya sebatas pembelajaran bersama dalam mengulas cerita salah satu saham.

Mirae Asset

Analisa Saham BUMI | 27 September 2017

Harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), hari ini (27/9) ditutup melemah nyaris 8% ke level Rp 174 per saham.

"Kami melihat, ini karena panic selling dari para pemegang saham BUMI," ujar Riska Afriani, analis OSO Sekuritas, Rabu (27/9).

Sejak isu restrukturisasi utang, harga saham BUMI memang melesat, bahkan dalam waktu yang singkat. Kurang dari setahun, harga saham BUMI sempat menyentuh level tertinggi, Rp 505 per saham awal tahun ini. Padahal, sebelumnya saham BUMI betah menghuni zona saham gocap.

Sayangnya, kenaikan singkat itu juga diikuti dengan penurunan kembali yang tak kalah singkatnya. Setelah rights issue yang merupakan bagian dari retrukturisasi utang BUMI berakhir, harga saham BUMI terus menurun. Tanda-tanda perbaikan harga juga belum terlihat.

"Sehingga, banyak investor yang cut loss," imbuh Riska.

Meski demikian, Riska menilai level harga BUMI saat ini tidak mencerminkan kondisi fundamentalnya. Menurutnya, jika mengacu pada kinerja BUMI saat ini, terutama dari sisi cadangan batubara dan posisi laba yang membaik, harga wajar saham BUMI sejatinya ada di kisaran level Rp 500 per saham.

Oleh sebab itu, lanjut Riska, untuk investor jangka panjang sejatinya hal ini menarik. Sebab, investor bisa mulai mencicil untuk mengoleksi saham BUMI mumpung sedang sangat murah.

Tapi, menjadi agak riskan bagi investor jangka pendek. Sebab, Riska melihat masih ada potensi penurunan atas harga saham BUMI.

Menurut Riska, support berikutnya harga saham BUMI ada di level Rp 150 per saham. "Jika support ini kembali ditembus, maka saham BUMI bisa menuju Rp 120," pungkasnya.

KONTAN