Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Saham INCO. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Saham INCO. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Prospek Saham INCO | 20 Juli 2018


Tren harga komoditas yang menanjak sejak awal tahun turut mengerek kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Produsen nikel ini mendulang cuan dari tingginya harga nikel akibat minimnya suplai.

Sepanjang kuartal satu lalu, INCO berhasil mencetak laba bersih US$ 6,84 juta. Di periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan ini mencetak rugi bersih US$ 6,16 juta.

Sejak awal tahun, harga nikel di London Metal Exchange (LME) naik 6,7% ke US$ 13.615 per metrik ton. Nikel bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 15.750 per metrik ton tahun ini.

Stefanus Darmagiri, analis Danareksa Sekuritas, dalam riset per 13 Juli lalu, menulis, harga penjualan rata-rata (average selling price) INCO sepanjang periode Januari-Maret 2018 naik 9% dibanding kuartal IV-2017. Kenaikan ini terjadi di tengah turunnya produksi, akibat aktivitas perbaikan teknis. "ASP yang tinggi sepertinya masih berlanjut sampai kuartal dua dan berpotensi menambah pendapatan perusahaan," terang dia.

Analis Binaartha Parama Sekuritas M. Nafan Aji menambahkan, kemampuan INCO membalik bottom line-nya juga berdampak pada harga sahamnya. Jika dihitung sejak awal tahun hingga Kamis (19/7), harga saham INCO melesat 49,8% ke Rp 4.330 per saham. "Melihat net profit di kuartal I, sepertinya sampai akhir tahun INCO akan terus cetak net profit, seiring tren harga nikel yang positif," ujar dia, Kamis (19/7).

Stefanus juga memproyeksikan harga nikel masih berpeluang terus menguat, berkat peningkatan produksi stainless steel. Menurut dia, selama ini 68% permintaan nikel dunia berasal dari kebutuhan produksi stainless steel. "Produksi stainless steel akan naik 5% yoy karena maraknya pembangunan pabrik di China dan Indonesia," papar Stefanus.

Risiko bahan bakar

Pasokan yang minim juga menjadi pendorong kenaikan nikel hingga akhir tahun. Apalagi, belum lama ini INCO mengumumkan pemberhentian investasi proyek nikelnya di Kanada dan Kaledonia Baru. "Dengan kondisi tersebut, suplai nikel global masih akan defisit dalam jangka pendek sehingga harga tetap tinggi," ujar Stefanus.

Hitungan Stefanus, harga nikel dunia akan berada di kisaran US$ 15.000 per metrik ton hingga akhir tahun. Sementara, di 2019 dan 2020, harga nikel akan mencapai US$ 16.000 dan US$ 17.000 per metrik ton.

Nafan berpendapat, kinerja INCO masih bakal meningkat, seiring perkembangan mobil elektrik di dunia maupun Indonesia. Sekadar info, INCO memproduksi nickel matte, bahan baku pembuatan baterai mobil listrik. "Secara global, animo untuk kendaraan ramah lingkungan juga makin besar," tutur dia.

Stefanus memperkirakan volume produksi nikel memang tidak akan tumbuh signifikan dari tahun lalu, yaitu sekitar 77.000-78.000 ton. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, baru volume produksi nikel INCO akan makin tinggi, mencapai 90.000 ton setahun.

Harga komoditas yang tinggi, di sisi lain, juga mendatangkan risiko bagi kinerja INCO. Biaya bahan bakar, seperti HSFO, diesel dan batubara, berpotensi menanjak dan menghambat kinerja. Beban bahan bakar menyumbang sekitar 29,4% dari total biaya produksi perusahaan sepanjang kuartal satu lalu.

Kendati demikian, Stefanus tetap menaikkan rekomendasi dari hold menjadi buy untuk INCO. Ia memasang target harga Rp 5.900 per saham.

Nafan juga memberi rekomendasi maintain buy untuk saham INCO, dengan target harga Rp 4.810 per saham. Adapun, Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe memberi rekomendasi hold saham INCO.

Pasalnya, Kiswoyo melihat harga nikel bakal volatil di semester dua ini. Selain itu, ia menyarankan agar investor menunggu dulu hingga harga terkoreksi sebelum membeli saham INCO. Ia memasang target harga INCO sebesar Rp 4.500 per saham.

Saham INCO | Divestasi, Ini Kata Analis


Pemerintah resmi menunjuk induk holding BUMN Pertambangan, yakni MIND ID (dulu bernama Inalum) untuk mengambil alih 20% saham divestasi PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Divestasi ini merupakan kesepakatan yang ditandatangani dalam amendemen Kontrak Karya (KK) pada tahun 2014. Kewajiban divestasi saham INCO tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 77/2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba.

Rencana divestasi saham INCO akan menambah tingkat kepercayaan investor pada saham produsen nikel ini. Sebab, proses divestasi menunjukkan manajemen INCO patuh terhadap aturan yang berlaku di Indonesia.

Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif berpendapat pihak-pihak terkait sebaiknya segera merampungkan proses divestasi ini sehingga memberikan kepastian.

"Sesuai aturan seharusnya tepat waktu, agar tidak menjadi preseden," ungkap Irwandy.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, keputusan pemerintah menunjuk MIND ID untuk menyerap 20% saham INCO sudah tepat.

Meski bukan pemegang saham mayoritas, MIND ID memiliki suara sah dalam pengambilan keputusan di INCO, apalagi terkait kebijakan pembangunan smelter untuk pengolahan bijih nikel.

Di saat yang sama, pemerintah telah memutuskan untuk mempercepat larangan ekspor bijih nikel kadar rendah, yakni di bawah 1,7%, mulai awal tahun depan.

"Hal ini akan memberikan nilai tambah yang lebih baik kepada Indonesia maupun industri nikel secara keseluruhan," terang Wawan kepada KONTAN, Selasa (15/10).

Dia menilai, tidak menutup kemungkinan bagi pemerintah untuk menambah kepemilikan saham INCO. Ia mencontohkan, divestasi saham PT Freeport Indonesia yang kini 51% sahamnya dikuasai pemerintah. Sebelumnya, kepemilikan saham Indonesia di Freeport hanya 9,36%.

Kepala Riset Maybank Kim Eng Sekuritas, Isnaputra Iskandar, dalam risetnya memproyeksikan, transaksi divestasi akan rampung pada kuartal pertama tahun depan. "Soal harga seharusnya tidak masalah karena akan sesuai dengan harga pasar," kata dia.

Sementara Analis sekaligus President Director CSA Institute, Aria Santoso, menyatakan, divestasi 20% saham INCO oleh Holding Tambang BUMN tidak akan terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja INCO.

"Karena siapapun pemiliknya, kinerja perusahaan lebih terkait terhadap kemampuan penjualan," ujar Aria ditemui KONTAN, kemarin.

Terkait kinerja operasional hingga kuartal III 2019, emiten penghuni Indeks Kompas100 ini memproduksi 19.820 metrik ton nikel dalam matte. Ini berarti realisasi produksi INCO hingga kuartal III 2019 lebih tinggi 9% dibandingkan produksi kuartal III 2018.

Sumber: https://insight.kontan.co.id/news/ini-kata-pengamat-dan-analis-soal-divestasi-saham-inco?page=2

INCO | Inalum Siap Tampung 20% Saham Divestasi INCO



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bergerak cepat. Terbaru, induk atau holding BUMN pertambangan ini menyatakan siap untuk mengambil alih 20% saham divestasi PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Direktur Utama PT Inalum, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Inalum siap memborong 20% saham divestasi INCO. Inalum bahkan sudah menghitung nilai saham produsen nikel tersebut. Valuasi itu berdasarkan instrumen pasar modal yang dianggap paling fair dalam menentukan proses akuisisi saham.

Hanya, Budi menyimpan rapat-rapat valuasi 20% saham INCO hasil perhitungan Inalum. Tapi, nilainya tak melebihi US$ 1,5 miliar atau Rp 21 triliun (kurs Rp 14.000 per dollar AS). "Kami belum bisa share, tapi enggak sebesar itu (US$ 1,5 miliar). Kami sudah hitung angkanya," ujar dia saat ditemui di Gedung Parlemen, Senin (8/7).

Mengacu harga saham rata-rata INCO selama tiga bulan terakhir di posisi Rp 2.825 per saham, nilai 20% saham (setara 1,99 miliar unit saham) atau mencapai Rp 5,62 triliun.

Terkait kemampuan pendanaan, manajemen Inalum juga enggan buka-bukaan. Budi hanya memberikan isyarat, Inalum siap kembali menerbitkan obligasi. "Jika uangnya cukup, langsung. Kalau tidak, ya pinjam, bisa kami cari," ungkap dia.

Budi mengklaim, kondisi keuangan Inalum saat ini prima dengan ekuitas Rp 100 triliun dan mengantongi kas senilai Rp 20 triliun.

Meski demikian, Inalum tidak akan gegabah memborong 20% saham INCO. Mereka menunggu arahan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). "Jika Pak Jonan (Menteri ESDM) menyuruh, kami laksanakan karena lead sector-nya kan ESDM," ungkap Budi.

Bentuk tim

Kementerian ESDM sedang membentuk tim untuk melakukan valuasi saham divestasi yang diajukan manajemen INCO pada bulan ini. Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak bilang, tim itu meliputi tiga kementerian terkait, yakni Kementerian ESDM, Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan.

Pemerintah mengharapkan hasil valuasi tim ini rampung bulan Agustus nanti. "Kami akan menyerahkan hasilnya ke tim. Nanti tim yang akan menetapkan. Jatuh tempo divestasi Oktober. Kami mengharapkan Agustus sudah bisa diketahui," ucap Yunus.

Analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji menilai, INCO memiliki prospek positif. Hal itu terlihat dari sejumlah rencana ekspansi bisnis INCO untuk memperbesar kapasitas produksi nikel. "Misalnya pengembangan dua smelter di Bahodopi dan Pomalaa. Secara global juga pasokan nikel masih ketat di tengah meningkatnya permintaan," ujar dia.

Namun Nafan enggan memberikan kalkulasi nilai valuasi 20% saham INCO. Yang pasti, saham INCO akan menguntungkan bagi penyerapnya. "Prospeknya bisa menjadi pelengkap," kata dia.

Ketua Indonesian Mining Institute (IMI), Irwandy Arif berpendapat, INCO memiliki cadangan nikel yang cukup banyak. Apalagi, komoditas nikel memiliki nilai strategis bagi industri, khususnya untuk pengembangan industri baterai yang sangat dibutuhkan pasar dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan analisis supply-demand, baik nasional maupun global, nikel masih menarik. "Vale itu cukup menarik dan strategis untuk industri hilir seperti baterai ke depan," ujar dia.

Tarik Ulur Divestasi Saham Vale Indonesia (INCO) Jelang Perpanjangan Kontrak Karya


Menjelang berakhirnya Kontrak Karya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang akan habis pada 28 Desember 2025, pertanyaan tentang proses divestasi dan pembagian saham kepemilikan perusahaan terus mencuat dan menjadi perdebatan publik. Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan pada tanggal 24 Februari 2023 bahwa sebelum memperpanjang izin menambang di Sulawesi, PTVI harus mendivestasikan sahamnya sebanyak 11%. 

Walaupun entitas Indonesia belum menjadi pemilik saham mayoritas, namun tercatat sejatinya 40% saham INCO saat ini sudah dimiliki baik oleh pemerintah Indonesia maupun investor domestik. Kini, komposisi pemegang saham INCO adalah MIND ID, Publik terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Vale Canada Limited, dan Sumitomo Metal Mining Co.

Sebenarnya, bagaimanakah perjalanan divestasi INCO sampai saat ini? Belum lama ini pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benyamin menyatakan bahwa INCO sebenarnya telah menawarkan 2% sahamnya per tahun ke pemerintah Indonesia sejak tahun 1980. Mengikuti perjanjian Kontrak Karya 1968 antara INCO dan Pemerintah Indonesia, pasal 10 menyebutkan bahwa INCO harus menawarkan kepemilikan sahamnya ke Indonesia setelah beroperasinya proses produksi.

“Melihat ke belakang, Vale Indonesia bukanlah perusahaan yang serakah dalam kepemilikan saham,” terang Gunawan beberapa waktu lalu. 

Namun pemerintah menolak tawaran INCO. Puncaknya terjadi tahun 1989, saat Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Direktorat Tambang No. 1657/251/DJP/1989 mengarahkan Vale Indonesia untuk menjual sahamnya melalui Jakarta Stock Exchange (sekarang Indonesia Stock Exchange) sebagai bentuk divestasi kepemilikan perusahaan PMA tersebut ke Indonesia sebanyak 20%. 

Pada tahun 2020, Vale Indonesia kembali melakukan divestasi dengan menjual 20% sahamnya ke Inalum yang kini termasuk dalam holding MIND ID, selaku BUMN pertambangan.

Kini INCO sedang dalam tahap memperpanjang Kontrak Karya konsesi pertambangan mereka di Sulawesi. Untuk mengubah Kontrak Karya ini menjadi Izin Usaha Khusus Pertambangan, UU No. 3 Tahun 2020 mensyaratkan bahwa 51% saham perusahaan pertambangan asing harus dimiliki Indonesia. 
 
Menilik sejarah di atas, maka INCO tinggal mendivestasikan 11% lagi sahamnya kepada Indonesia. Jumlah sisa divestasi ini telah diamini oleh Menteri ESDM, Arifin Tasrif. Ia mengatakan bahwa INCO memiliki kewajiban divestasi saham sebesar 11% untuk memenuhi syarat memperpanjang kontrak operator pertambangan di Indonesia dan merubah izinnya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). 

Hal senada juga disampaikan oleh Arya Sinulingga, Staf Khusus Menteri BUMN yang menyebut bahwa kewajiban divestasi Vale Indonesia tinggal 11%. Menimbang komposisi kepemilikan saham Vale Indonesia yang telah ada saat ini sudah 40% dimiliki entitas Indonesia, maka sekarang kita menunggu kelanjutan divestasi saham Vale Indonesia.
Author: Rizki
Sumber: emitennews-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

Berita Saham INCO | Inalum atau Antam bisa ambil 20% saham divestasi Vale (INCO)

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih belum bisa memutuskan kepada siapa penugasan divestasi saham 20% Vale Indonesia (INCO) akan diberikan. Hal ini lantaran Kementerian BUMN masih menunggu keputusan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai proses divestasi ini.

Hanya saja, menurut Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media, Fajar Harry Sampurno, pihaknya membuka peluang bagi holding industri pertambangan BUMN untuk menyerap 20% saham INCO tersebut. Kementerian BUMN masih membuka opsi, apakah penugasan itu akan jatuh pada PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum) atau PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

"Belum tahu, kita nunggu penugasan dari (Kementerian) ESDM. Kalau mereka sudah membuka, Grup Inalum, Antam, atau lainnya," ujar Fajar saat dijumpai di Kantor Kementerian BUMN, Selasa (12/2).

Sebelumnya, Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo mengaku tidak tertarik untuk menyerap 20% saham INCO. Hal ini lantaran pada tahun ini, Antam lebih memilih fokus untuk mengembangkan hilirisasi dengan sejumlah proyek pembangunan dan pengembangan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter).

"No Comment dulu kalau (terkait) Vale, Antam nggak. Kita ada prioritas mengembangkan downstream, karena kita punya resources yang cukup banyak, kalau downstream-nya nggak ada mau diapakan?" terang Arie.

Sebaliknya, meskipun enggan mengungkapkannya secara gamblang, namun Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin memberikan sinyal ketertarikannya terhadap 20% saham INCO. Secara diplomatis, Budi mengatakan bahwa nikel, yang menjadi komoditas INCO, memiliki nilai strategis, khususnya sebagai bahan baku baterai guna mendukung pengembangan mobil listrik.

Sehingga, apabila ada penugasan dari pemerintah, Budi pun tak menampik untuk siap menyerap 20% saham INCO kepada holding industri pertambangan BUMN ini. Alhasil, saat ini Inalum masih menunggu arahan dari Menteri ESDM Ignatius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno. "Jadi kalau ditanya atau ditugasi, penting nggak? ya saya bilang penting. Tergantung yang memberi tugas, itu mesti tanya ke Bu Menteri (BUMN) dan Pak Menteri (ESDM)," kata Budi.

Adapun, Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk, Nico Kanter mengaku sudah mengirimkan surat kepada Kementerian ESDM terkait kesediaannya melakukan divestasi saham sebesar 20% pada Oktober 2019. Namun, pihaknya masih menunggu respon dari Kementerian ESDM.

Nico bilang, INCO baru melakukan penawaran jika sudah mendapatkan jawaban dari pemerintah terkait divestasi 20% saham. Karena itu, ia berharap pemerintah bisa menjawab soal penunjukkan badan usaha sebelum tenggat waktu pada Oktober 2019 mendatang.


Bahkan, sebelum tenggat waktu tersebut,INCO sudah bisa melakukan pembicaraan business to business (B to B) dengan badan usaha untuk melakukan divestasi. "Patokan memang (Oktober), tapi kan interpretasi beda-beda. Kami sih awal lebih baik dong. B to B ya. Tapi kan kita semua patuhi aturan,"ungkap Nico.


Rekomendasi Saham ACES, BBTN, BMRI, BNGA, BWPT, HOKI, INCO INTP dan PPRE oleh Binaartha Sekuritas | 1 Februari 2021


Binaartha Sekuritas Daily

1 Februari 2021

Nafan Aji

Ace Hardware (ACES)

Pergerakan harga saham ACES telah menguji garis MA 200 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham ACES adalah akumulasi beli pada area level Rp 1.540 – Rp 1.560, dengan target harga secara bertahap di level Rp 1.645, Rp 1.720, Rp 1.815, Rp 2.040 dan Rp 2.260. Support ada di Rp 1.540 dan Rp 1.475. Saham ACES ditutup di Rp 1.560. (RoE: 14.16%; PER: 38.61x; EPS: 41.31; PBV: 5.48x; Beta: 0.65). 

Bank Tabungan Negara (BBTN)

Pergerakan harga saham BBTN telah menguji garis MA 120 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham BBTN adalah akumulasi beli pada area Rp 1.515 – Rp 1.570, dengan target harga secara bertahap di level Rp 1.620, Rp 1.865, Rp 2.110 dan Rp 2.180. Support ada di Rp 1.515 dan Rp 1.435. Saham BBTP ditutup di Rp 1.570. (RoE: 8.34%; PER: 11.04x; EPS: 142.20; PBV: 0.92x; Beta: 2.26). 

Bank Mandiri (BMRI)

Pergerakan harga saham BMRI telah menguji garis MA 60 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham BMRI adalah akumulasi beli pada area Rp 6.375 – Rp 6.575, dengan target harga secara bertahap di level Rp 6.700, Rp 6.925, Rp 7.275, Rp 7.550, Rp 7.850 dan Rp 8.050. Support ada di Rp 6.375 dan Rp 6.025. Saham BMRI ditutup di Rp 6.575. (RoE: 9.70%; PER: 16.24x; EPS: 404.85; PBV: 1.58x; Beta: 1.51). 

Bank CIMB Niaga (BNGA)

Terlihat pola spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham BNGA. 

Rekomendasi saham BNGA adalah akumulasi beli pada area Rp 825 – Rp 855, dengan target harga secara bertahap di level Rp 880, Rp 935, Rp 1.060 dan Rp 1.185. Support ada di Rp 810 dan Rp 780. Saham BNGA ditutup di Rp 855. (RoE: 6.13%; PER: 8.56x; EPS: 99.84; PBV: 0.52x; Beta: 1.73). 

Eagle High Plantations (BWPT)

Pergerakan harga saham BWPT telah menguji garis MA 120 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham BWPT adalah akumulasi beli pada area Rp 112 – Rp 113, dengan target harga secara bertahap di level Rp 119, Rp 128, Rp 149 dan Rp 170. Support ada di Rp 112, Rp 107 dan Rp 102. Saham BWPT ditutup di Rp 113. (RoE: -27.07%; PER: -3.69x; EPS: -31.41; PBV: 1.00x; Beta: 2). 

Buyung Poetra Sembada (HOKI)

Pergerakan harga saham HOKI telah menguji garis MA 60 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham HOKI adalah akumulasi beli pada area level Rp 955 – Rp 1.000, dengan target harga secara bertahap di level Rp 1.050, Rp 1.160, Rp 1.270 dan Rp 1.385. Support ada di Rp 935. Saham HOKI ditutup di Rp 1.000. (RoE: 5.85%; PER: 62.97x; EPS: 15.88; PBV: 3.66x; Beta: 0.49). 

Vale Indonesia (INCO)

Pergerakan harga INCO masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish doji star candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Rekomendasi saham INCO adalah akumulasi beli pada area level Rp 5.225 – Rp 5.500, dengan target harga secara bertahap di level Rp 5.575 dan Rp 7.225. Support ada di Rp 5.000. Saham INCO ditutup di Rp 5.500. (RoE: 5.02%; PER: 35.72x; EPS: 153.99; PBV: 1.80x; Beta: 1.66). 

Indocement Tunggal Prakasa (INTP)

Terlihat pola spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. 

Rekomendasi saham INTP adalah akumulasi beli pada area level Rp 12.800 – Rp 13.375, dengan target harga secara bertahap di level Rp 13.850, Rp 14.875, Rp 17.250 dan Rp 19.625. Support ada di Rp 12.500. Saham INTP ditutup di Rp 13.375. (RoE: 6.58%; PER: 33.24x; EPS: 402.43; PBV: 2.18x; Beta: 1.39). 

PP Presisi (PPRE)

Terlihat pola spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham PPRE. 

Rekomendasi saham PPRE adalah akumulasi beli pada area level Rp 189 – Rp 198, dengan target harga secara bertahap di level Rp 204, Rp 224, Rp 270 dan Rp 316. Support ada di Rp 189 dan Rp 178. Saham PPRE ditutup di Rp 198. (RoE: 0.78%; PER: 94.69x; EPS: 2.13; PBV: 0.74x; Beta: N/A). 

Rekomendasi Saham INCO, MAIN, LINK, PGAS, WIKA, SMRA dan SMGR

Binaartha Sekuritas Daily

Nafan Aji 

20 Januari 2021


Vale Indonesia (INCO)

Pergerakan harga saham INCO menguji garis MA 20 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham INCO adalah akumulasi beli pada area level Rp 5.775 – Rp 5.975, dengan target harga secara bertahap di level Rp 6.125, Rp 6.600 dan Rp 7.225. Support ada di Rp 5.775 dan Rp 5.425. Saham INCO ditutup di Rp 5.975. (RoE: 5.02%; PER: 38.80x; EPS: 153.99; PBV: 1.95x; Beta: 1.7). 

Malindo Feedmill (MAIN)

Pergerakan harga MAIN masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Rekomendasi saham MAIN adalah akumulasi beli pada area level level Rp 740 – Rp 755, dengan target harga secara bertahap di level Rp 785, Rp 810 dan Rp 915. Support ada di Rp 705.  Saham MAIN ditutup di Rp 755. (RoE: -4.98%; PER: -17.41; EPS: -43.95; PBV: 0.88x; Beta: 2.17). 

Link Net (LINK)

Saham LINK ditutup di Rp 2.590. (RoE: 19.69%; PER: 8.12x; EPS: 321.33; PBV: 1.58x; Beta: 0.88). Pergerakan harga saham LINK telah menguji beberapa garis MA 10 maupun MA 20 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham LINK adalah akumulasi beli pada area level Rp 2.540 – Rp 2.590, dengan target harga secara bertahap di level Rp 2.690, Rp 2.750, Rp 2.990, Rp 3.100 dan Rp 3.950. Support ada di Rp 2.500 dan Rp 2.400.

Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Saham PGAS ditutup di Rp 1.705. (RoE: 2.18%; PER: 38.95x; EPS: 43.77; PBV: 0.85x; Beta: 2.42). Pergerakan harga saham PGAS telah menguji beberapa garis MA 10 maupun MA 20 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham adalah akumulasi beli pada area level Rp 1.670 – Rp 1.705, dengan target harga secara bertahap di level Rp 1.750, Rp 1.815, Rp 1.895, Rp 2.090 dan Rp 2.280. Support ada di Rp 1.660, Rp 1.605 dan Rp 1.515.

Semen Indonesia (SMGR)

Saham SMGR ditutup di Rp 12.400. (RoE: 5.76%; PER: 35.37x; EPS: 348.43; PBV: 2.05x; Beta: 1.64). Pergerakan harga saham SMGR telah menguji beberapa garis MA 10 maupun MA 20 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham SMGR adalah akumulasi beli pada area level Rp 11.900 – Rp 12.400, dengan target harga secara bertahap di level Rp 12.625 dan Rp 13.950. Support ada di Rp 11.900 dan Rp 11.275.

Summarecon Agung (SMRA)

Pergerakan harga saham SMRA telah menguji garis MA 60 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham SMRA adalah akumulasi beli pada area level Rp 765 – Rp 785, dengan target harga secara bertahap di level Rp 815, Rp 840 dan Rp 950. Support ada di Rp 730. Saham SMRA ditutup di Rp 785. (RoE: -0.18%; PER: -643.66x; EPS: -1.13; PBV: 1.22x; Beta: 2.23).

Wijaya Karya (WIKA)

Pergerakan harga saham WIKA telah menguji garis MA 20 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Rekomendasi saham WIKA adalah akumulasi beli pada area level Rp 2.000 – Rp 2.100, dengan target harga secara bertahap di level Rp 2.200, Rp 2.400 dan Rp 2.600. Support ada di Rp 2.000 dan Rp 1.955. Saham WIKA ditutup di Rp 1.215. (RoE: 0.41%; PER: 282.26x; EPS: 7.44; PBV: 1.16x; Beta: 2.49). 

Berita Saham INCO | 28 Februari 2018

Berita Saham INCO

Walaupun pendapatan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tumbuh pada tahun lalu, namun emiten tambang ini harus menanggung rugi. Hal ini lantaran besarnya beban bahan bakar yang harus ditanggung pada 2017.

Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (28/2), pendapatan INCO naik sebesar 7,74% year-on-year (yoy) menjadi US$ 629,33 juta pada 2017. Pada 2016 lalu, INCO hanya meraup pendapatan sebesar US$ 584,14 juta.

Sayang, beban pokok pendapatan INCO tahun lalu melonjak 13,23% yoy menjadi US$ 622,78 juta dari sebelumnya US$ 550,02 juta.

Beban membengkak karena kenaikan beban bahan bakar minyak dan pelumas serta bahan bakar batubara, lantaran harga komoditas yang mulai naik sejak 2017 lalu. INCO mencatat, beban bahan minyak dan pelumas melonjak 33,57% yoy menjadi US$ 127,41 juta. Sementara, beban bahan bakar batubara juga naik 37,93% yoy menjadi US$ 46,73 juta, karena harga batubara sampai menyentuh harga US$ 100 per ton.

Walaupun beban usaha INCO berhasil turun menjadi US$ 11,34 juta serta biaya keuangan turun menjadi hanya US$ 7,81 juta, emiten tambang ini belum berhasil meraup laba. Perusahaan bahkan harus menanggung rugi hingga US$ 15,27 juta pada tahun lalu.

Selama tiga tahun terakhir, laba INCO memang terus menurun. Pada 2014 lalu, INCO berhasil meraup laba sebesar US$ 172,27 juta, melonjak 345,69% yoy. Namun, pada 2015, laba INCO turun 70,69% menjadi US$ 50,50 juta. Begitu pula pada 2016 di mana laba INCO merosot 96,23% yoy menjadi hanya US$ 1,91 juta.

VP Research & Analysis Valbury Sekuritas Indonesia Nico Omer Jonckheere melihat, INCO masih harus menanggung beban yang berat tahun ini. "Penguatan dollar Amerika Serikat (AS) dalam jangka pendek akan menahan laju harga komoditas, termasuk nikel," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (28/2).

Namun, ia optimistis harga nikel akan kembali menguat dalam jangka menengah-panjang, lantaran dollar AS diprediksi akan terdevaluasi berkat defisit dan utang yang membengkak di negeri Paman Sam tersebut.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia dan batubara masih akan menghantui INCO. "Tetapi apabila harga nikel nanti naik lebih tinggi, marjin keuntungan mereka pun akan meningkat tajam," tutur Nico.

Pada penutupan pasar hari ini, saham INCO melemah 2,31% ke level Rp 3.390 per saham.

sumber:
KONTAN

Analisa Saham INCO dan MAIN

Analisa Saham INCO dan MAIN


Saham INCO

Setelah turun dan tertahan di area support gap 3040-3080, saham INCO mulai bergerak naik kembali. Indikator teknikal MACD bergerak mendatar, mengindikasikan bahwa saham ini sedang berkonsolidasi. Apabila INCO melanjutkan kenaikannya, maka saham ini akan menuju target di level 3600 lagi, dengan minor target di 3450. Nantinya jika momentum saham ini berlanjut, maka INCO akan menuju target berikutnya di level 3800.
Rekomendasi: Buy. Batasi resiko jika kembali turun dan gagal bertahan di 3040.
https://step-trader.com/2019/08/28/inco-ready-to-step-forward-again/

Saham MAIN

Setelah terus bergerak turun, saham MAIN membuka peluang terjadinya technical rebound pasca berhasil menembus downtrend resist line-nya. Selama dapat bertahan diatas level 900, terbuka peluang bagi saham MAIN bergerak naik ke target terdekat dikisaran 1000-1010. Apabila nantinya MAIN dapat mempertahankan momentum dan melanjutkan pola reboundnya, maka saham ini berpotensi menuju target selanjutnya di level 1085. Indikator teknikal MACD yang telah golden cross mengindikasikan bahwa saham ini mulai bergerak positif.
Rekomendasi: Spekulasi Buy. Batasi resiko jika kembali turun dan gagal bertahan di 900
https://step-trader.com/2019/08/28/main-temporary-rebound/

Saham INCO | Valuasi 20 Persen Saham INCO Masih Dibahas

PT Vale Indonesia Tbk. menyebut masih membahas nilai pasar 20% saham yang akan didivestasikan kepada MIND.ID atau induk BUMN pertambangan.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengungkapkan bahwa untuk pelaksanaan divestasi 20% saham perseroan masih dalam pembahasan antara kedua belah pihak. Pembahasan juga mencakup valuasi saham yang akan dilepas emiten berkode saham INCO itu.

“Semua itu masuk dalam subjek diskusi,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (9/10/2019).

Sebelumnya diberitakan bahwa pihak INCO menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi dengan PT Inalum (Persero) terkait dengan divestasi saham.

Bernardus menjelaskan bahwa kemungkinan dalam pekan ini akan dilakukan diskusi dengan Inalum terkait kewajiban divestasi saham yang tersisa 20% lagi.

Sesuai dengan amandemen Kontrak Karya (KK) pada 2014, emiten dengan kode saham INCO tersebut wajib mendivestasikan 40% saham ke pihak Indonesia dengan dasar Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pada 1990, Vale Indonesia telah melepas 20% sahamnya melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perusahaan ini akan kembali melepas saham sebesar 20% dengan mulai menawarkan sahamnya kepada pemerintah paling lambat mulai 14 Oktober 2019.

Sumber: https://market.bisnis.com/read/20191009/192/1157136/vale-indonesia-valuasi-20-persen-saham-inco-masih-dibahas

Analisa Saham INCO | 18 Agustus 2017

Analisa Saham INCO. Salam Zhuan! Berikut ini kami sampaikan Analisa Saham INCO singkat. Semoga analisa berikut ini berguna bagi anda dalam menentukan keputusan trading saham anda.

Analisa Saham INCO


Saham INCO hari ini ditutup dengan sangat cuantik, 6.66% di angka 2720. Artinya baru saja dia menembus resistance 2690.

Hari ini kenaikan saham ini didukung oleh volume yang cukup tinggi, naik 440% dibandingkan hari kemarin.

MACD dan Stochastic Slow sama-sama mengalami Golden Cross. Ini adalah awal yang bagus untuk memulai sebuah perjalanan yang indah.

Anda bisa BUY dengan harapan TP1 di 2820, lalu bisa direview kembali untuk hold ke TP2 3100 atau tidak. Stop Loss di 2580.

Demikianlah Analisa Saham INCO. Semoga yang ini bisa bermanfaat. Mohon jika menurut anda ini adalah sesuatu yang akan berguna bagi orang lain, maka kiranya anda turut membagikan informasi ini ke rekan-rekan anda. Semoga usaha anda lancar dan berkah. Disclaimer is always ON.

Saham INCO | Nilai Pasar dan Potensi Menyambut Divestasi

Analisa Saham INCO


Info Fundamental:

PT Vale Indonesia Tbk. menyebut masih membahas nilai pasar 20% saham yang akan didivestasikan kepada MIND.ID atau induk BUMN pertambangan.
Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengungkapkan bahwa untuk pelaksanaan divestasi 20% saham perseroan masih dalam pembahasan antara kedua belah pihak. Pembahasan juga mencakup valuasi saham yang akan dilepas emiten berkode saham INCO itu. (dk)

Sumber Berita:

https://market.bisnis.com/read/20191009/192/1157136/vale-indonesia-valuasi-20-persen-saham-inco-masih-dibahas

Analisa Teknis:

Saham INCO pada tanggal 9 Oktober 2019 ditutup menguat pada harga 3590, naik 0,56%. Hal ini disertai dengan penurunan volume, yaitu 99% dari hari sebelumnya. Proses akumulasi saham ini terlihat menarik.
Volatilitas saham ini berada pada area pertengahan. Jika ditinjau dari trendnya, maka secara garis besar saham ini dalam keadaan sideways dalam uptrend

Rekomendasi: 

Buy if Break 3630
Support : 3510 - 3310
Resisten : 3860 - 3970

by Abduh

Disclaimer ON

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 8 Februari 2018

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia

Market Review 08 Februari 2018
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG menguat 9.76 poin (+0.14%) ke level 6,544.634 pada perdagangan hari ini. Tercatat 200 saham menguat dan 151 saham melemah. Seluruh sektor ditutup mixed, dipimpin oleh penguatan sektor Property  (+1.01%), sektor Agri (+0.66%), dan disusul pelemahan sektor miscellaneous industry (-0.72) hari ini. Investor asing mencatatkan transaksi net sell sejumlah Rp 764 miliar di seluruh Pasar pada perdagangan hari ini. US Dollar menguat (0.73%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah melemah terhadap dollar yaitu di level Rp13,660 terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

Advance Stocks:

-WSKT : Harga saham WSKT ditutup menguat Rp 70 (+2.47%) ke level Rp 2.900 pada perdagangan hari ini. PT Waskita Karya (Persero) Tbk. akan mengucurkan dana segar dari penerbitan obligasi kepada anak usaha, PT Waskita Toll Road senilaii Rp1,2 triliun. Sekretaris Perusahaan Waskita Karya Shastia Hadiarti menjelaskan bahwa 35% dana dari penerbitan obligasi yang senilai Rp3,45 triliun akan digunakan untuk menambah modal PT Waskita Toll Road. Nantinya, entitas anak usaha tersebut akan melakukan pembangunan di ruas tol milik emiten berkode saham WSKT tersebut.

-ENRG : Harga saham ENRG ditutup menguat Rp 25 (+13.22%) ke level Rp 214 pada perdagangan hari ini. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana masuk ke bisnis petrokimia. Emiten ini meneken memorandum of agreement pendirian fasilitas pabrik yang memproduksi purified terephthatic acid (PTA) dengan Reignwood International Investment Group. Reignwood adalah pemilik usaha minuman berenergi Red Bull di China. Perusahaan Thai-China milik taipan asal Thailand, Chanchai Ruayrungrua, itu juga pemilik ENRG. Selama ini, ENRG selama ini merupakan produsen murni minyak dan gas (migas). Harga kedua komoditas itu sangat fluktuatif. PTA merupakan komponen utama pembuatan poliester. Kapasitas pabrik itu sebesar 1,6 juta ton per tahun, yang berasal dari dua pabrik.

-BKSL : Harga saham BKSL ditutup menguat Rp 17 (+9.60%) ke level Rp 194 pada perdagangan hari ini. Pendiri Grup Mayapada Dato Sri Tahir membenarkan keluarganya telah membeli sebagian saham emiten properti PT Sentul City Tbk. sebagai bagian dari upaya memperkuat relasi keluarga di antara kedua keluarga perusahaan. Dato mengatakan, tidak ada motif khusus di balik aksi tersebut selain untuk tujuan investasi dan mempererat relasi keluarga antara kedua perusahaan. Pembelian saham dilakukan atas nama putranya, yakni Jonathan Tahir dari pemegang saham pengendali emiten berkode saham BKSL terebut.

-CLEO : Harga saham CLEO ditutup menguat Rp 25 (+2.79%) ke level Rp 920 pada perdagangan hari ini. Produsen air minum dalam kemasan (AMDK), PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 200 miliar. Sekretaris perusahaan CLEO Lukas Setio Wongso bilang, capex ini akan digunakan untuk berbagai keperluan. Antara lain untuk pembangunan pabrik baru, pembelian mesin kemasan baru, otomatisasi mesin pabrik yang sudah ada, perbaikan sarana pabrik, dan penambahan armada distribusi. Lukas belum bisa merinci jumlah pabrik baru yang akan dibangun pada tahun ini. Saat ini, menurutnya, perusahaan tengah melakukan perluasan pabrik di Pandaan, Pasuruan. Selain itu, ada pula dua pabrik baru yang siap beroperasi tahun ini. Pabrik pertama berada di Kendari, Sulawesi tenggara dengan kapasitas kurang lebih 72 juta liter per tahun. Kedua, pabrik di Ngoro, Jawa Timur berkapasitas kurang lebih 240 juta liter per tahun.

Decline Stocks:

-PADI : harga saham PADI ditutup melemah Rp 135 (-18.36%) ke level Rp 600 hari ini.  Langkah PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. mengambil alih saham PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. melalui penawaran saham terbatas terhenti karena otoritas menolak mengakui uang muka setoran modal sebagai ekuitas. Sumber Bisnis yang mengetahui rencana itu menyebutkan bahwa rencana Minna Padi menjadi pemegang saham mayoritas Bank Muamalat melalui penawaran saham terbatas (rights issue) sebagai pembeli siaga (standby buyer) terhenti.

-INCO : Pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham INCO melemah Rp 80 (-2.15%) ke level Rp 3.630. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sudah menggelontorkan dana sebesar US$ 879.938 untuk eksplorasi pada Januari 2018. Hingga saat ini eksplorasi masih berlanjut. Mengutip keterbukaan informasi INCO yang dirilis Kamis (8/2), perusahaan melakukan eksplorasi di daerah yang masuk dalam Kontrak Karya. Rinciannya mencakup Blok Sorowako-Petea, Sorowako Outer Area, dan Blok Bahodopi. Eksplorasi dengan biaya US$ 879.938 ini dilakukan INCO bersama empat kontraktor. Metode yang digunakan adalah pengeboran core drilling HQ-3, serta pengukuran geofisika dengan metode geolistrik ERT. Metode ini diterapkan secara berbeda bergantung lokasi eksplorasi.

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 28 Februari 2018

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia

Market Review 28 Februari 2018
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG melemah -1.70 poin (-0.02%) ke level 6,597.218 pada perdagangan hari ini. Tercatat 178 saham menguat dan 199 saham melemah. Sektor saham ditutup mixed, dipimpin oleh penguatan sektor Agri  (+1.91%), sektor Property  (+1.36%), dan sektor yang melemah adalah sektor Misc-Ind (-1.31%) dan sektor  Finance (-0.67%) hari ini. Investor asing mencatatkan transaksi net sell sejumlah Rp 846 Milyar di seluruh Pasar pada perdagangan hari ini. US Dollar menguat (+0.53%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah melemah terhadap dollar yaitu di level Rp 13,740 terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

Advance Stocks:

-ERAA : Harga saham ERAA ditutup menguat Rp 35 (+3.64%) ke level Rp 995 pada perdagangan hari ini. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) akuisisi PT Indonesia Orisinil Teknologi. Namun, perseroan tidak menyebutkan nilai akuisisi tersebut. PT Erajaya Swasembada Tbk akuisisi saham PT Indonesia Orisinil Teknologi (IOT) sebanyak 5.099 lembar saham atau 50,99 persen dari saham yang ditempatkan dan disetor penih. Saham itu milik Agus Triana Runtuwene.

-TBLA : Harga saham TBLA ditutup menguat Rp 110 (+10.00%) ke level Rp 1.210 pada perdagangan hari ini. PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tunas Baru Lampung Tahap I Tahun 2018 dengan jumlah pokok sebesar Rp 1 triliun. Obligasi tersebut merupakan bagian dari total rencana penerbitan obligasi berkelanjutan I Tunas Baru Lampung senilai Rp 1,5 triliun. TBLA menentukan bunga obligasi ini di kisaran 9% hingga 9,75%. Obligasi TBLA ini bertenor lima tahun dan memperoleh hasil pemeringkatan A+ dari fitch rating Indonesia

-LPPF : Harga saham LPPF ditutup menguat Rp 1.300 (+13.90%) ke level Rp 10.650 pada perdagangan hari ini. PT Matahari Department Store Tbk., meyakini kinerja pendapatan dan laba tahun ini akan lebih baik dibandingkan realisasi 2017. CEO dan Vice President Director Matahari Department Store (LPPF) Richard Gibson mengatakan meskipun dilatarbelakangi pelemahan daya beli konsumen, perseroan berhasil meningkatkan total penjualan sebesar 1,2% pada 2017.

-RBMS : Harga saham RBMS ditutup menguat Rp 10 (+4.20%) ke level Rp 248 pada perdagangan hari ini. PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS) bakal menggelar rights issue alias penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Aksi korporasi tersebut merupakan bagian dari Penawaran Umum Terbatas (PUT) I perusahaan. Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, Kamis (1/2), RBMS bakal melepas 1,18 miliar saham. Harga pelaksanaannya sebesar Rp 216 per saham. Sehingga, RBMS bakal meraup dana segar Rp 256,01 miliar melalui aksi korporasi tersebut.Setiap pemegang 19 saham yang namanya tercatat hingga 27 Maret 2018 mempunyai 69 HMETD. Setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru yang ditawarkan. Efek dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengambil haknya cukup besar, yaitu mencapai 78,39%.

-ACST : Harga saham ACST ditutup menguat Rp 60 (+2.11%) ke level Rp 2.900 pada perdagangan hari ini. Kontraktor swasta, PT Acset Indonusa Tbk. membukukan kenaikan kontrak baru 121% secara year on year pada 2017. Dalam siaran pers perseroan, Rabu (28/2/2018), emiten berkode saham ACST itu mengantongi nilai kontrak baru Rp8,4 triliun. Jumlah itu meningkat 121% dibandingkan dengan pencapaian 2016 Rp3,8 triliun. Proporsi perolehan kontrak baru ACST pada 2017 didominasi sektor infrastruktur 88%. Sementara itu, sektor fondasi berkontribusi 12% dalam pencapaian tahun lalu.

-IMAS : Harga saham IMAS ditutup menguat Rp 45 (+5.35%) ke level Rp 885 pada perdagangan hari ini. PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) meraih pendapatan neto Rp15,41 triliun hingga periode 31 Desember 2017 naik dari pendapatan neto Rp15,04 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Laporan keuangan perseroan Rabu menyebutkan, laba kotor meningkat menjadi Rp3,06 triliun dari laba kotor tahun sebelumnya yang Rp2,66 triliun dan laba usaha meningkat menjadi Rp1,40 triliun dari laba usaha tahun sebelumnya yang Rp572,88 miliar.

Decline Stocks:

-INCO: harga saham INCO ditutup melemah Rp 80 (-2.30%) ke level Rp 3.390 hari ini. Perusahaan tambang mineral PT Vale Indonesia Tbk., (INCO) melaporkan kerugian sebesar US$15,27 juta pada 2017. Pasalnya, operasional perseroan terbebani biaya bahan bakar dan batu bara. CEO dan Presiden Direktur INCO Nico Kanter menyampaikan, perusahaan memperoleh pendapatan senilai US$629,33 juta pada 2017. Nilai itu meningkat 7,74% year on year (yoy) dari sebelumnya US$584,14 juta.

Berita Saham INCO | Soal Progres Divestasi, Ini Penjelasan Vale Indonesia (INCO)

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan logam PT Vale Indonesia Tbk. buka suara soal progress divestasi perseroan. Sejauh ini, emiten dengan sandi INCO tersebut menyebut masih on track untuk merealisasikan rencana pelepasan saham kepada investor lokal.

Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy menyampaikan perseroan berkomitmen mematuhi amanah yang tertera pada Kontrak Karya (KK) yang mewajibkan perseroan melakukan divestasi saham sebanyak-banyaknya 40%.

“Karena merupakan kewajiban KK, kami berkonsultasi dan menunggu arahan dari pemerintah. Menurut hemat kami, lebih baik kalau kami konsultasi dan koordinasikan dengan pemerintah,” ungkap Febriany saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (7/2/2019).

Sebagaimana diketahui, sesuai PP No. 77 Tahun 2014, Vale Indonesia harus melakukan divestasi sahamnya minimal 40%. Sebanyak 20,49% saham perseroan telah dilepas ke publik melalui proses IPO. Artinya, emiten dengan sandi INCO tersebut harus mendivestasi sekitar 19,51% lagi untuk memenuhi beleid tersebut.

Saat ini, saham INCO digenggam sebagian besarnya yaitu 58,73% oleh Vale Canada Limited, Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. sebesar 20,09%, Vale Japan Limited 0,55%, Sumitomo Corporation 0,14%, sedangkan sisanya 20,49% dilepas ke publik melalui skema IPO.

Kewajiban divestasi tersebut akan dilakukan melalui kombinasi dari pemegang saham baik Grup Vale global maupun Sumitomo. Adapun, tenggat waktu dari realisasi divestasi tersebut yaitu 14 Oktober 2019.

Sejauh ini, pemerintah Indonesia telah menyatakan ketertarikan untuk menyerap 19,51% sahamINCO. Direktur Utama PT Inalum (Persero) Budi Gunadi Sadikin pun ikut berkomentar bahwa perseroan siap jika ditugaskan pemerintah untuk mengeksekusi saham divestasi INCO.

Adapun, pada penutupan perdagangan Sesi I hari ini (7/2), harga saham INCO tercatat menguat 0,25% ke level Rp3.960.


Rekomendasi Saham ELSA, INCO dan ERAA | 24 Maret 2022



INVESTASI KONTAN
24 MARET 2022




Prediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Kamis 24 Maret 2022 berpotensi kembali terkoreksi. Saat IHSG terkoreksi, investor bisa meraih cuan pada perdagangan hari ini dengan mencermati rekomendasi saham pilihan sejumlah analis berikut.

IHSG bergerak di zona merah pada perdagangan hari Rabu 23 Maret 2022 yang ditutup di level 6.996,12, turun 4,71 poin atau 0,067% dari sehari sebelumnya. Pergerakan IHSG hari ini rawan terkoreksi karena sentimen negatif dari bursa Amerika Serikat.

Wall Street kembali koreksi dengan tiga indeks utama berakhir dengan melemah lebih dari 1%. Tekanan bagi bursa saham Amerika Serikat (AS) ini muncurl setelah harga minyak melonjak dan para pemimpin Negara Barat mulai berkumpul di Brussel untuk merencanakan lebih banyak tindakan guna menekan Rusia agar menghentikan invasi di Ukraina.

Rabu (23/3), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 448,96 poin atau 1,29% menjadi 34.358,5, indeks S&P 500 melemah 55,37 poin atau 1,23% ke 4.456,24 dan indeks Nasdaq Composite koreksi 186,21 poin atau 1,32% ke 13.922,60.

Kala IHSG terkoreksi, investor perlu mencermati rekomendasi saham pilihan untuk trading hari ini, Kamis 24 Maret 2022:


1. Rekomendasi saham PT Elnusa Tbk (ELSA)

Penutupan harga saham ELSA kemarin di bawah harga closing hari sebelumnya yang mengindikasikan akan adanya penurunan saham ELSA. Indikator stochastic juga mulai menunjukkan penurunan. Rabu (23/3), ELSA ditutup melemah 1,29% ke Rp 306 per saham. 

Rekomendasi saham ELSA: Wait and see

Suport: Rp 296-Rp 300

Resisten: Rp 314-320

Rizky Khaerunnisa, Kiwoom Sekuritas


2. Rekomendasi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

Stochastic di level 40 membentuk golden cross. MACD juga akan membentuk golden cross. Candle diantara garis tengah dan garis atas bolinger band. Rabu (23/3), INCO ditutup menguat 4,07% ke Rp 6.400 per saham. 

Rekomendasi saham INCO: Buy on weakness

Suport: Rp 5.750

Resisten: Rp 7.000

Kiswoyo Adi Joe, Reswara Gian Investa


3. Rekomendasi saham PT Erajaya Swasembada Citra Tbk (ERAA)

Candlestick membentuk long white body. Volume perdagangan ERAA tinggi. Indikator stochastic membentuk golden cross. Indikator tersebut mengindikasikan potensi penguatan harga saham ERAA. 

Rekomendasi saham ERAA: Add

Support: Rp 570

Resistance: Rp 620-Rp 640

Dennies Christopher, Artha Sekuritas Indonesia


itulah prediksi IHSG dan rekomendasi saham pilihan untuk trading hari ini, Kamis 24 Maret 2022. Ingat, disclaimer on, segala risiko investasi atas rekomendasi saham di atas menjadi tanggung jawab Anda sendiri.


 Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Tips Trading Hari Ini, by AnggunTrader, 10 Januari 2017

Tips trading buat hari ini, Selasa, tanggal 10 Januari 2017 :

1.AALI : Saham ini memperlihatkan bottom reversal, minor resits 17.200, mayor resist : 18.000.ADHI : Saham ini menguji level 2270, tembus 2270-2300 targetnya  cukup jauh yaitu 2400-2600..
2.ASII : Saham paling keren di IHSG, harga mendekati 7000 yang jelas adalah kesempatan beli, dan jual harga diatas 8250.ASRI : Saham property masih tidak begitu bagus, ASRI jika harga mencapai harga 500 berarti property sudah bagus kembali, saat ini ASRI bergerak dalam range 330-400.

3.BBCA : Saham ini semakin turun dari level 15.000 sangat menarik untuk dibeli, support kuat ada di level 14.300-14.500 


4.BBRI : Saham blue chips BUMN ini sangt menarik di level dibawah 11.000, apalagi mendekati level 10.000, tentunya keberuntungan buat anda. 

5.BMRI : Saham BUMN ini saat ini mirip dengan BBRI, Support kuat dilevel 10.000an, dan resisten di level 12.000BBNI : Saha ini beli kalau dibawah 5000, dan jual pada area 5600-6000.

6.BJBR : Terkoreksi dari level tertinggi 3500 menuju 2800, dan akhirnya kemarin mulai ada tanda-tanda reversal. Saham ini jika tidak turun dari level 2800, maka berpeluang rebound kembali diatas level 3000an kembali.

7.BJTM :Jika BJBR kembali ditarik, maka boleh diperhatikan juga saudaranya BJTM,  posisi saham ini secara tehnical sangat bagus karena Close>MA5>MA20>MA50>MA200, berpeluang menguji level 650 kembali, syarat jangan turun dari 590.

8.BBTN : Mencoba break out dari level 1830-1850, jika berhasil, maka target selanjutnya adalah menuju level 2000-2100.

9.BRMS : Saham BUMI naik, maka saham BRMS ini juga ikut naik, Tembus level 74-75, maka berpeluang menuju level 80an, namun batasi resiko jika turun dari 66.

10.BRPT : Saham ini strong up trend, ot menuju 1745, namun waspadai aksi profit taking sewaktu. sehingga batasi sesiko jika turun dari level 1500.

11.BSDE : Ada gap down belum tertutup 1910-1850, Jika tidak mampu menuju level 1890-1910, sebaiknya profit taking dulu, karena berpotensi doble top.

12.BUMI : Saham ini break out dari level tertingginya 322, target berikutnya adalah 400, saham ini belum jenuh beli karena naik, baru hari ke-2, batasi resiko jika turun dari 310.

13.COWL :Saham ini naik tanpa henti dari level 600 hingga 1100, level tertinggi sepanjang masa 1115, nampakanya perlu didalami dulu secara fundamentalnya.

14.DOID : Saham ini secara tehnical strong up trend, Close>MA5>MA20>MA50>MA200, berpotensi menguji level tertingginya 600, gerakan saham ini saat ini jauh lebih halus daripada BUMI.

15.DSFI : Tunggu saham ini break out dulu dari level 170

16.ERAA : Saham ini turun dari level 930 hingga 530, saat ini mulai ada tanda-tanda rebound kembali, tembus level 650 menuju 680 dahulu.

17.EXCL : Saham ini berhasil break out level 2580, maka target terdekat berikutnya adalah 2790-2800.

18.GJTL : Saham ini juga senasib dengan ERAA, dari harga 1755 hibawa turun hingga 955, harga saham ini dibawah 1000 murah sekali, apalagi saham ini sudah membukukan laba yang positif, jika tidak mampu tembus level 1250, sebaiknya take profit ahulu.I

19.CBP : Saham blue chips ini boleh perhatikan jika harganya pada area 7500-8000.

20.INCO : good job berhasil Break out 2850, berpeluang menuju diatas 3000an kembali, saham ini tidak jenuh beli.

21.INDF mencoba bermain diatas level 8000an kembali, harga mendekati level 7000 adalah rejeki anda.

22.INPC : Kemarin AR kanan, saham ini habis right isue di harga 111, cepat atau lambat pasti kembali bermain diatas level 111.Namun bermain saham ini berspekulasi tinggi, buat invest tunggu saja kalau harganya mendekati 70. (Saham ini luar biasa sekali, akhirnya saham ini AR kanan untuk ke2 kali, sehingga kenaikan mencapai hampir 100%).

23.INTP :Saham semen secara fundamental saat ini masih belum bagus, area support saham ini di sekitar 14.000-15.000.

24.ITMG : Saham ini sedang up trend juga, saat ini berkonsolidasi di area 15.800-17.600.

25.KIJA : Saham property mulai ada tanda-tanda kehidupan, saham ini akan menguju level 300, jika tidak mampu tembus sebaiknya profit taking dulu.
26.KRAS : Saham ini kalau ramai gerakannya besar, tetapi kalau sepi gerakannya sempit, so sangat cocok buat trading saja.

27.KREN : Saham ini mendekati 400 beli, mendekati 500 jual.

28.LPCK : Saham ini belum ada tanda-tanda kehidupan, namun support mulai terbaca yaitu dilevel 5000.

29.LPPF : Saham blue chips ini beli di area 14.000-15.000, jual jika tidak tembus level 16.000. Namun jika tembus 16.000, bepotensi naik hingga level 20.000.

30.LSIP : Saham ini sedang mid term down trend, penurunan dari level 1900 hingga  1660, tunggu hingga ada tanda-tanda rebound.

31.MAPI : saham supermarket ini saat ini malah sedang up trend, support kuat dilevel 5000, dan resist di level 5600-5750.

32.MEDC : Saham ini kalau sedang naik bisa tinggi sekali, namun setelah itu pelan-pelan dibawa turun hingga harga kembali lagi hingga semula, so berhati-hatilah dengan saham ini.

33.MLPL : Boleh diperhatikan saat ini, apa peluang break out dari level 370, maka berpeluang menuju level 400 kembali.

34.PGAS : Beli saham ini dekat harga 2400, dan jual harga ini diaerah 2800-3000.

35.TBIG : Saham ini terjadi bottom reversal, peluang naik hingga 5600-5700.

36.TELE : Saham ini boleh perhatikan ketika koreksi, support kuat di level 600, dan resist kuat di harga 1000.

37.TLKM : Saham blue chips ini sangat menarik kalau harga dibawah 4000, harga paling bagus adalah sekitar 3500-3600, akan cepat kembali mantul diats 4000.

38.WIKA : Saham ini sedang konsolidasi 2300-2600, kalau mampu tembus level 2600, maka target berikutnya adalah 3000.

39.UNVR : Saham blue chips ini dibawah 40.000 lumayan menarik, tunggu harga di area 37500-38000.

40.UNTR : Saham ini sudah lumayan up trend, cukup menarik kalau harga dibawa dibawah /didekat level 20.000 kembali.

Credit thx to angguntrader

Analisa IHSG Penutupan 5 Mei 2017


IHSG menguat untuk hari kedua dan menutup perdagangan akhir pekan ini di zona positif dengan menguat 13 poin (+0.24%) ke level 5,683.377. Sektor-sektor ditutup variatif dipimpin oleh penguatan sektor property (+1.27%) dan pelemahan sektor mining (-1.74%). Tercatat 155 saham menguat dan 176 saham melemah hari ini. Setelah mencatatkan net sell pada perdagangan kemarin, investor asing kembali mencatatkan transaksi net buy hari ini sebesar Rp691 miliar di seluruh Pasar. US Dollar menguat 2 poin (+0.01%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah melemah ke level Rp13,330 terhadap US Dollar di akhir perdagangan hari ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini merilis data ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2017 yang mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5.01% YoY dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat 4.92%. Secara kuartalan, PDB Indonesia pada kuartal I-2017 tercatat mengalami penurunan sebesar 0.34% QoQ.

Unusual Market Activity (UMA)
- PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)
Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham PTSN dan MINA yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham tersebut.

Advance Stocks:

- CLEO: PT Sariguna Primatirta Tbk resmi melantai di BEI setelah melakukan Initial public offering/IPO. Jumlah saham CLEO yang dicatatkan yakni 2,2 miliar saham. Nilai nominal saham yakni Rp 100 per saham, dengan harga penawaran saham sebesar Rp 115 per saham, sehingga dari aksi tersebut, perseroan sukses menghimpun dana segar sebesar Rp51,75 miliar. Sebagian besar dana hasil go public untuk membeli mesin yang akan digunakan sebagai penunjang operasional pabrik tahun ini, termasuk juga rencana membangun dua pabrik baru. Pada perdagangan perdananya hari ini, harga saham CLEO ditutup menguat Rp80 (+69.56%) ke level Rp195.

- PTPP: Setelah melemah empat hari berturut-turut pada perdagangan sebelumnya, harga saham PTPP ditutup menguat di akhir pekan ini sebesar Rp280 (+10.37%) ke level Rp2.980. PTPP membukukan kontrak baru Rp6,67 triliun selama kuartal I/2017, meningkat 38% dibanding Rp4,83 triliun pada periode yang sama 2016.

- TBLA: Pendapatan TBLA naik menjadi Rp2,23 triliun hingga periode 31 Maret 2017 dibandingkan pendapatan Rp1,02 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat mencapai Rp278,16 miliar dari laba Rp65,21 miliar tahun sebelumnya. Harga saham TBLA menguat Rp75 (+5.85%) ke level Rp1.355 pada penutupan perdagangan hari ini.

- NRCA: Harga saham NRCA ditutup menguat Rp14 (+3.3%) ke level Rp438 pada perdagangan hari ini. NRCA berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp 1 triliun sepanjang 4M17, setara 30,3% dari target kontrak Rp3,3 triliun di 2017. Dengan pencapaian kontrak anyar tersebut maka total kontrak yang dihadapi NRCA saat ini mencapai Rp 4,5 triliun, di mana Rp 3,5 triliun merupakan carry over tahun 2016.

- WOMF: Menutup perdagangan akhir pekan ini, harga saham WOMF menguat Rp14 (+8.91%) ke level Rp171. Hingga 1Q17, WOMF mencatatkan laba bersih sejumlah Rp27,7 miliar, meningkat 33% YoY dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan juga meningkat hampir 10% mencapai Rp503,9 miliar. Pencapaian tersebut didorong oleh efisiensi berbisnis perseroan. Kenaikan laba juga didukung membaiknya posisi non performing finance sehingga pencadangan berhasil ditekan

Decline Stocks:

- MEDC: Harga saham MEDC melemah untuk hari kedua dan ditutup turun Rp60 (-2.31%) ke level Rp2.530 pada perdagangan hari ini. MEDC akan meminta persetujuan dari pemegang saham untuk melakukan pemecahan nilai saham (stock split) 4:1 pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan diselenggarakan pada 16 Juni mendatang. Perseroan juga tengah melakukan finalisasi rencana melakukan rights issue yang akan diajukan kepada OJK.

- INCO, ANTM: Harga saham INCO dan ANTM melanjutkan pelemahan hingga perdagangan akhir pekan seiring dengan pelemahan harga nikel ke level terendahnya dalam lebih dari 10 bulan. Persediaan nikel di London Metal Exchange (LME) meningkat 210 ton menjadi 380.712 ton. LME Nickel melemah 5.3% pekan ini.  Harga saham INCO dan ANTM kembali ditutup melemah masing-masing Rp70 (-3.41%) ke level Rp1.980 dan Rp15 (-2.32%) ke level Rp630 pada perdagangan hari ini.

Market Review 5 Mei 2017
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

Kejar produksi nikel 64.000 ton, cek rekomendasi saham Vale Indonesia (INCO)


Produksi nikel dalam matte PT Vale Indonesia Tbk mengalami penurunan, baik secara kuartalan maupun secara tahunan. Emiten dengan kode saham INCO ini melaporkan volume produksi 15.048 metrik ton (MT) nikel dalam matte pada triwulan kedua tahun 2021. Volume produksi ini menurun 1%  dari produksi di kuartal pertama 2021 yang mencapai 15.198 MT.

Realisasi di kuartal kedua 2021 juga 20% lebih rendah dibandingkan volume produksi pada kuartal kedua tahun lalu yang mencapai 18.701 MT.

Dalam keterangannya di Bursa Efek Indonesia, Senin (19/7), manajemen INCO mengungkapkan penurunan produksi ini terutama disebabkan beberapa pemeliharaan terencana yang dilakukan di pabrik pengolahan.

Sementara itu, produksi sepanjang semester pertama 2021 tercatat sebesar 30.246 MT, lebih rendah 17% dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 36.315 MT nikel dalam matte.

Ini artinya, realisasi produksi INCO sepanjang enam bulan pertama 2021 hanya mencerminkan 47,3% dari target produksi nikel INCO tahun ini, yang ditargetkan sebesar 64.000 MT.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto menyebut, produksi di semester pertama memang lebih rendah dibanding perkiraan. Sebab, terdapat beberapa unplanned maintenance yang terjadi di kuartal pertama.

“Kami berharap bisa berproduksi lebih banyak di semester kedua dan mencapai target produksi 64.000 ton,” terang Irmanto saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (20/7).

Seperti diketahui, Vale Indonesia telah memutuskan untuk memundurkan pembangunan ulang (rebuild) furnace 4 ke bulan November 2021. 

Irmanto bilang,  hal ini memberikan kesempatan bagi INCO untuk  berproduksi lebih banyak dengan tetap memperhatikan keselamatan operasional.

Selain itu, semua pemeliharaan pabrik yang direncanakan telah diselesaikan di paruh pertama, sehingga availability dari proses pengolahan diharapkan juga tinggi.

Perkembangan smelter memoles prospek INCO

INCO bersama dua mitra kerja, yakni Taiyuan Iron & Steel (Grup) Co., Ltd (TISCO) dan Shandong Xinhai Technology Co., Ltd (Xinhai), telah menandatangani dokumen perjanjian kerangka kerjasama proyek untuk fasilitas pengolahan nikel Bahodopi pada akhir bulan lalu.

Ketiganya akan akan membentuk perusahaan patungan atau join venture (JV Co) untuk membangun delapan lini pengolahan feronikel rotary kiln-electric furnace.

Dalam enam bulan ke depan, Vale Indonesia dan mitra akan berusaha menyelesaikan semua persyaratan untuk mengambil keputusan investasi final atau final investment decision (FID). Waktu konstruksi maksimal 36 bulan dan diharapkan bisa lebih cepat.

Analis Ciptadana Sekuritas Thomas Radityo menyebut, kerjasama ini adalah progres yang signifikan untuk proyek smelter Bahodopi yang telah lama ditunggu-tunggu. Smelter ini direncanakan akan menghasilkan 73.000 metrik ton nikel per tahun dengan menggunakan teknologi tanur listrik rotary.

Harga nikel yang menjadi dagangan utama INCO juga diyakini masih cukup mentereng di sisa tahun ini.  Salah satu pendorongnya adalah produksi baja nirkarat (stainless steel) di China. 

Produksi baja anti karat di Negeri Panda ini tercatat telah naik dari titik terendah sebesar 1,9 juta ton di Februari menjadi 2,3 juta ton di Mei 2021.

Di sisi lain, produksi nickel pig iron (NPI) China menurun secara signifikan sejak September 2020, yakni sebesar 38.900 ton, yang diakibatkan adanya larangan ekspor bijih nikel Indonesia dan penutupan tambang Filipina yang terjadi baru-baru ini.

Rusia juga berencana untuk mengenakan pajak ekspor nikel sebesar 15% untuk mengekang harga nikel domestik. Untuk diketahui, Rusia menyumbang 10% dari cadangan nikel global.

Bersama dengan larangan ekspor bijih nikel Indonesia, penutupan tambang di Filipina, serta aksi mogok kerja yang terjadi di  tambang Vale Sudbury, hal ini akan memberikan sentimen positif terhadap harga nikel dalam jangka pendek.

“Kami mempertahankan asumsi harga nikel rata-rata 2021-2022 pada level US$ 17.000 per ton dan US$ 18.000 per ton,” tulis Thomas dalam riset, Rabu (14/7).

Ciptadana Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga  Rp 6.700 per saham. Namun, potensi downside rekomendasi ini di antaranya ketidakstabilan harga nikel, pelonggaran pembatasan ekspor bijih nikel oleh pemerintah, serta penundaan pembangunan kembali tungku (furnace) 4 yang berkepanjangan sehingga berdampak negatif pada volume produksi INCO.

Sumber: KONTAN

Analisa Saham INCO | 18 Januari 2023

Analisa Saham INCO


Saham INCO terlihat mencoba keluar dari fase sideways jangka pendek di area konsolidasinya dikisaran 6900 hingga 7600. Saat ini penguatan INCO masih tertahan di area resistance 7550-7650 (kotak hijau). Apabila INCO mampu melewati kotak hijau tersebut dengan disertai volume, maka akan terbuka ruang bagi saham ini untuk bergerak menguat menuju target dikisaran 8250-8300, dengan minor target di 7850. Indikator teknikal MACD yang bergerak naik dan volume transaksi yang meningkat, mengindikasikan bahwa saham ini sedang bergerak menguat dalam momentum positif.

Trading Plan : Buy jika break dan maintain diatas 7600. Batasi resiko jika turun dan gagal bertahan di 7350, karena membuka potensi terjadinya false breakout dan berpeluang turun menguji area support 6900 lagi.

Disclaimer ON

Sumber: step-trader-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online.