Tampilkan postingan dengan label Saham SGRO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham SGRO. Tampilkan semua postingan

PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) Bakal Bagikan Dividen Interim Rp90 Per Saham


PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) akan membagikan dividen interim tunai kepada pemegang saham untuk tahun buku September 2022 sesuai dengan keputusan Direksi pada tanggal 1 November 2022.

Dalam keterangan tertulisnya Manajemen SGRO Kamis (3/11) menuturkan pembagian dividen ini juga memperoleh persetujuan Dewan Komisaris SGRO dimana Cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada tanggal 11 November 2022 dan Cum dividen di pasar tunai pada 15 November 2022.

Selanjutnya Ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada tanggal 14 November 2022 dan Ex Dividen di pasar Tunai pada tanggal 16 November 2022 serta recording data yang berhak atas dividen pada tanggal 15 November 2022.

Sementara itu pembagian dividen interim sebesar Rp163,7 miliar atau Rp90 per saham jatuh pada tanggal 29 November 2022. (end)
Sumber: iqplus-
Informasi lengkap pasar saham ada di Website Saham Online.  
Materi belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

Sampoerna Agro (SGRO) Bakal Terbitkan Surat Utang Senilai Rp 830,5 Miliar



PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) akan menerbitkan surat utang atau obligasi dengan jumlah pokok keseluruhan sebesar Rp 830,5 miliar. Surat utang tersebut terdiri dari Obligasi Berkelanjutan I Sampoerna Agro Tahap III Tahun 2022 dengan nilai pokok Rp 525,38 miliar dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Sampoerna Agro Tahap III Tahun 2022 dengan sisa imbalan ijarah Rp 305,11 miliar.

Berdasarkan pengumuman KSEI, Selasa (15/2), obligasi ini bakal terdiri dari dua seri. Pertama, Seri A yang ditawarkan dengan jumlah pokok Rp 75 miliar memiliki tenor tiga tahun dan tingkat suku bunga tetap 7,15% per tahun.

Kedua, Seri B memiliki nilai pokok Rp 450,38 miliar dengan tenor lima tahun dan tingkat suku bunga tetap 8,40% per tahun.

Sementara itu, penerbitan sukuk juga akan terdiri dari dua seri. Pertama, Seri A ditawarkan dengan sisa imbalan ijarah Rp 75 miliar dan jangka waktu tiga tahun serta cicilan imbalan ijarah Rp 5,36 miliar per tahun.

Kedua, Seri B yang punya sisa imbalan ijarah Rp 230,11 miliar dengan tenor lima tahun dan cicilan imbalan ijarah Rp 19,32 miliar per tahun.

Bunga obligasi dan cicilan imbalan ijarah ini akan dibayarkan tiap tiga bulan sekali terhitung sejak tanggal emisi, yakni 2 Maret 2022. Dengan begitu, pembayaran bunga dan cicilan imbalan ijarah pertama akan jatuh pada 2 Juni 2022.

Sampoerna Agro akan menggunakan 34% dana penerbitan obligasi setelah dikurangi biaya-biaya emisi untuk pelunasan lebih awal sebagian utang pokok Sampoerna Agro ke Indonesia Eximbank.

Kemudian sekitar 66% dana dari penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk pembayaran yang dipercepat atas sebagian pokok utang bank milik PT Sungai Rangit, entitas anak usahanya ke PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Selanjutnya, sekitar 11% dana suku ijarah bakal digunakan untuk melunasi sisa pokok utang bank milik PT Sungai Rangit ke Bank Mandiri.

Lalu, 89% sisanya dimanfaatkan untuk melakukan pembayaran yang dipercepat atas sebagian pokok utang bank milik PT Aek Tarum ke PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Obligasi dan sukuk ijarah ini dijamin dengan hak tanggungan berupa beberapa Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) di Ogan Komering Ilir dan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) di Margo Bakti. Seluruh jaminan tersebut terletak di provinsi Sumatra Selatan.

Masa penawaran umum obligasi dan sukuk ijarah ini akan berlangsung pada 23-24 Februari 2022 lalu tanggal penjatahan jatuh pada 25 Februari 2022. Selanjutnya, distribusi secara elektronik dan pengembalian uang pesanan pada 2 Maret 2022 serta pencatatan di Bursa Efek Indonesia dilaksanakan pada 4 Maret 2022.

Sampoerna Agro telah menunjuk PT Indo Premier Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Sucor Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi dan sukuk ijarah ini. Sementara itu, PT Bank Pertama Tbk berperan sebagai wali amanat.

Penerbitan obligasi dan sukuk ijarah ini adalah bagian dari Obligasi Berkelanjutan I Sampoerna Agro dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Sampoerna Agro dengan target dana masing-masing Rp 1 triliun. Obligasi ini mendapatkan peringkat Single A dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), sedangkan sukuk memperoleh peringkat Single A Syariah.


sumber : kontan

Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online

TINGGINYA BEBAN PICU KERUGIAN SAMPOERNA AGRO DI SEPANJANG TAHUN 2020


PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) membukukan pertumbuhan penjualan pada periode Januari-Desember 2020, menjadi sebesar Rp3,502 triliun, dibandingkan dengan periode serupa tahun 2019, yang sebesar Rp3,268 triliun.

Namun demikian, dalam laporan keuangannya disebutkan bahwa beban pokok penjualan naik menjadi sebesar Rp2,618 triliun. Kemudian, beban provisi liabilitas kontigensi sebesar Rp319,16 miliar di tahun 2020, sedangkan tahun 2019 pos tersebut tidak ada (nihil). Kemudian ditambah membengkaknya beban pajak penghasilan tercatat sebesar Rp292,2 miliar dibandingkan tahun 2019, yang tercatat sebesar Rp133,94 miliar.

Alhasil, SGRO mencatat rugi sebesar Rp201,42 miliar pada tahun 2020, dibandingkan dengan tahun 2019 yang berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp33,15 miliar. Dengan demikian, rugi per saham dasar SGRO senilai Rp111, berbanding terbalik dibanding tahun 2019 yang mencatatkan laba per saham senilai Rp18. (end)

Sumber: IQPLUS

[SGRO] PT Sampoerna Agro Tbk Lakukan Penawaran Obligasi dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan dengan Total Rp394,88 miliar


PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) melakukan Penawaran Obligasi dan sukuk ijarah berkelnajutan dengan total Rp394,88 miliar. Menurut keterangan perseroan Kamis, Obligasi ini merupakan bagian dari penawaran umum berkelanjutan I dengan target dana yang dihimpun Rp1 triliun.

Obligasi berkelanjutan I Tahap III tahun 2021 dengan jumlah Pokok Obligasi sebesar Rp174,61 miliar ini terdiri dari dua seri yakni seri A senilai Rp127,66 miliar dengan bunga 9,45% dan serta tenor 3 tahun sejak tanggal emisi dan Seri B senilai Rp46,95 miliar dengan tingkat bunga 10,35% dan tenor 5 tahun.

Bunga Obligasi dibayarkan setiap triwulan (3 bulan) sejak Tanggal Emisi, dimana Bunga Obligasi pertama akan dibayarkan pada tanggal 17 Juni 2021 sedangkan Bunga Obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo Obligasi akan dibayarkan pada tanggal 17 Maret 2024 untuk Obligasi Seri A dan 17 Maret 2026 untuk Obligasi Seri B.

Selain obligasi, Sampoerna Agro juga menawarkan sukuk berkelanjutan I tahap II tahun 2021 dengan sisa imbalan sebesar Rp394,88 miliar. Surat ijarah berkelanjutan I ini merupakan bagian dari penawaran umum Surat ijarah berkelanjutan I tahun 2021 dengan target dana yang dihimpun Rp 1 triliun.

Sukuk ini juga diterbitkan dalam dua seri. Seri A ditawarkan dengan sisa imbalan sebesar Rp394,88 miliar. Sukuk Ijarah ditawarkan sebesar 100% dari jumlah Sisa Imbalan Ijarah. Sukuk Ijarah ini diterbitkan tanpa warkat, kecuali Sertifikat Jumbo Sukuk Ijarah yang diterbitkan atas nama KSEI.

Sukuk Ijarah ini memberikan pilihan bagi masyarakat untuk memilih Seri Sukuk Ijarah yang dikehendaki sebagai berikut:

Seri A Sebesar Rp236,63 miliir dengan Cicilan Imbalan Ijarah Rp22,36 miliar per tahun, berjangka waktu 3 (tiga) tahun sejak Tanggal Emisi.

Seri B Sebesar Rp158,25 miliar dengan Cicilan Imbalan Ijarah sebesar Rp16,37 miliar per tahun, berjangka waktu 5 (lima) tahun sejak Tanggal Emisi.

Cicilan Imbalan Ijarah dibayarkan setiap triwulan 3 sejak Tanggal Emisi, dimana Tanggal Pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah pertama akan dibayarkan pada tanggal 17 Juni 2021 sedangkan Cicilan Imbalan Ijarah terakhir sekaligus Tanggal Pembayaran Kembali Sisa Sukuk Ijarah akan dibayarkan pada tanggal 17 Maret 2024 untuk Sukuk Ijarah seri A dan tanggal 17 Maret 2026 untuk Sukuk Ijarah Seri B.

Seluruh dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi ini, setelah dikurangi biaya-biaya Emisi akan dipergunakan untuk untuk melakukan pelunasan lebih awal pokok utang bank milik Perseroan Sekitar 74% dengan kreditur PT Bank Mandiri (Persero) dan Sekitar 6% untuk melakukan pelunasan lebih awal sebagian pokok utang bank milik PT Usaha Agro Indonesia dan entitas anak dengan kreditur PT Bank OCBC NISP serta Sekitar 20% untuk membiayai kebutuhan modal kerja Perseroan.

PT Pemeringkat Efek Indonesia telah memberikan peringkat A- (single A minus) untuk obligasi dan A- (single Minus A Syariah) untuk sukuk yang akan ditawarkan Sampoerna Agro tersebut. Adapun penjamin pelaksana emisi obligasi dan sukuk tersebut adalah BNI Sekuritas, Indo Premier Sekuritas, Mandiri Sekuritas dan Sucor Sekuritas dan PT. Bank Permata Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Perkiraan Masa Penawaran Umum pada tanggal 8-10 maret 2021, Perkiraan Tanggal Penjatahan pada 15 Maret 2021 sedangkan Tanggal Distribusi Secara Elektronik pada 17 Maret 2021 dan Perkiraan Tanggal Pencatatan Pada Bursa Efek Indonesia jatuh pada 18 Maret 2021. (end)

Sumber: IQPLUS

Banyak Tantangan Untuk Emiten Perkebunan | SMAR, SGRO, DSNG, AALI

Tahun lalu adalah musim yang berat bagi emiten perkebunan. Pasalnya, hanya 1 dari 11 emiten yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih.

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 50,34 persen. Investor Relations Sinar Mas Agribusiness and Food Pinta S. Chandra mengatakan kenaikan bottom line ditopang oleh laba selisih kurs yang terutama berasal dari translasi utang berdenominasi mata uang dolar AS ke rupiah.

Menurutnya menguatnya mata uang rupiah terhadap dolar AS pada tahun 2019 ikut berpengaruh karena tahun sebelumnya tercatat rugi selisih kurs. Berdasarkan laporan keuangan SMAR, pos selisih kurs mencetak laba senilai Rp407,17 miliar.

Adapun pada tahun lalu pos ini mencatatkan rugi bersih Rp632,44 miliar. Tanpa sumbangan signifikan dari pos ini, perseroan bisa jadi akan mencatatkan rugi.

Sementara untuk tahun ini, Pinta belum dapat memberikan target pendapatan atau pun laba bersih. Menurutnya semua tergantung dari harga jual.

“Namun demikian, target top dan bottom line akan sangat tergantung pada harga pasar CPO internasional yang berada di luar kendali,” katanya kepada Bisnis.com belum lama ini.

Berdasarkan CIF Rotterdam harga minyak sawit kerap bergerak naik 63,80 persen dari posisi US$525 per ton pada Januari menjadi US$860 per tahun pada Desember. Sementara untuk saat ini, harga kembali melemah 30,18 persen ke level US$595 per ton pada Senin (13/4).

Adapun bursa derivative Malaysia mencatat harga jual rata-rata minyak sawit di 2019 tercatat sebesar 2.130 Ringgit per ton, atau 5 persen lebih rendah dibandingkan tahun 2018. Namun harga sempat melonjak sebesar 50 persen dari MYR2.010 per ton di akhir September menjadi MYR3.025 per ton pada penutupan tahun.

PT Sampoerna Agro Lestari Tbk. (SGRO) bakal berpegang teguh pada efisiensi untuk tahun ini. Head Investor Relations Sampoerna Agro Michael Kesuma mengatakan perseroan akan ketat dalam hal belanja modal dan pengeluaran lainnya.

Adapun program yang tetap konsisten untuk selalu dilakukan adalah peremajaan kebun. Pada tahun lalu perseroan tercatat menghabiskan Rp754,60 miliar untuk belanja modal tumbuh tipis 0,38 persen year on year (yoy).

“Pengeluaran kami lebih selektif dengan priorotas utama adalalah penambahan produktivitas dan intensifikasi. Sekalipun harga dan cuaca saat ini kurang mendukung,” ungkapnya.

Michael mengungkapkan jumlah produksi minyak sawit SGRO menurun 4 persen menjadi 385.079 ton pada 2019. Imbas dari cuaca kering pada semester kedua. Penurunan tersebut ditopang oleh peningkatan hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) yang berasal dari kebun inti sebesar 6 persen atau menjadi 1,09 juta ton. Meski dilanda kekeringan, tingkat ekstrasi minyak sawit naik menjadi sebesar 21,5 persen.

Sementara itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) mencatatkan produksi CPO sebesar 610.000 ton, naik 25 persen dibandingkan dengan 2018. Direktur Utama Dharma Satya Andrianto Oetomo mengatakan dari jumlah tersebut dua kebun yang baru diakuisisi perseroan memberikan kontribusi sekitar 95.000 ton CPO atau 15 persen dari total produksi CPO.

“Tahun ini kami merencanakan untuk membangun dua Pabrik Kelapa Sawit (PKS) baru seiring dengan makin bertambahnya jumlah produksi dan luas kebun yang menghasilkan. Sampai akhir 2019, Perseroan memiliki 10 pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas produksi 570 ton TBS per jam,” katanya.

Jumlah lahan tertanam DSNG mencapai 112.450 hektare dengan 101.799 hektare merupakan kebun yang sudah menghasilkan dengan umur rata-rata tanaman sekitar 9,9 tahun.

Sementara itu, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) memiliki tantangan lain berupa utang dengan denominasi dollar US. Pertama adalah komitmen fasilitas pinjaman jangka panjang sebesar US$250 juta dengan jatuh tempo pada 6 Oktober 2022. Kedua adalah perjanjian fasilitas pinjaman masing-masing US$150 juta dan US$50 juta. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada 30 Agustus 2024.

Direktur Utama Astra Agro Lestari Santosa mengatakan untuk eksposur utang dollar sudah menggunakan hedging atau nilai lindung. Menurutnya dengan neraca yang terlindungi maka rugi atau untung karena fluktuasi mestinya akan terkendali.

“Paling hanya timbul dari transaksi operasional itu pun kami lakukan dengan pegelolaan matching currency melalui fasilitas forward transaction. Jadi masih tenang mudah-mudahan tahun depan sudah lebih stabil untuk fund raising,” katanya.

Sumber:

PT Sampoerna Agro Tbk Raih Penjualan Rp 3,27 Trilyun | Saham SGRO

IQPlus, (01/04) - PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) meraih penjualan Rp3,27 triliun hingga periode 31 Desember 2019 naik dari Rp3,21 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Rabu menyebutkan, laba bruto turun menjadi Rp677,42 miliar dari laba bruto Rp690,94 miliar setelah beban pokok naik menjadi Rp2,59 triliun dari Rp2,52 triliun.

Laba usaha diraih Rp391,59 miliar naik dari laba usaha Rp351,09 miliar dan laba sebelum pajak diraih sebesar Rp173,94 miliar naik dari laba sebelum pajak Rp143,05 miliar.

Namun kenaikan beban pajak menjadi Rp133,95 miliar dari Rp79,44 miliar membuat laba tahun berjalan turun menjadi Rp39,99 miliar dari laba Rp63,61 miliar tahun sebelumnya.

Total aset perseroan mencapai Rp9,49 triliun hingga periode 31 Desember 2019 naik dari Rp9,02 triliun hingga periode 31 Desember 2018. (end)

Saham SGRO | SAMPOERNA AGRO TAWARKAN OBLIGASI DAN SUKUK BERKELANJUTAN

IQPlus, (26/02) - PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) menawarkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2020 dengan jumlah pokok Rp300 miliar dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2020 dengan sisa imbalan ijarah Rp300 miliar.

Menurut keterangan Rabu menyebutkan, Obligasi terdiri dari dua seri yakni Seri A dengan jumlah pokok Rp208,5 miliar dengan bunga 9,35% per tahun dan jangka waktu 3 tahun dan Seri B dengan jumlah pokok Rp1,5 miliar dengan bunga 9,75% per tahun dan jangka waktu 5 tahun.

Sukuk terdiri dari dua seri yakni seri A dengan jumlah Rp175 miliar dan cicilan imbalan ijarah Rp16,36 miliar serta seri B dengan jumlah Rp125 miliar dengan cicilan imbalan ijarah Rp12,187 miliar.

Masa penawaran umum pada 27 Februari 2020 dan pencatatan di BEI pada 4 Maret 2020. Pefindo memberikan peringkat idA- dan idA-(sy) untuk obligasi dan sukuk. Penjamin pelaksana emisi adalah Indo Premier Sekuritas dan Mandiri Sekuritas serta wali amanat Bank Permata. (end)

Saham SGRO | SAMPOERNA AGRO AKAN TAWARKAN OBLIGASI DAN SUKUK BERKELANJUTAN I TAHAP I



IQPlus, (27/01) - PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) akan melakukan Penawaran Umum Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2020 dengan jumlah pokok sebesar-besarnya Rp300 miliar dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2020 dengan Imbalan Ijarah sebanyak-banyaknya Rp300 miliar.

Menurut prospektus perseroan Senin disebutkan, Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2020 memiliki tiga seri yakni Seri A berjangka waktu 3 tahun, Seri B berjangka waktu 5 tahun dan Seri C berjangka waktu 7 Tahun.

Demikian juga dengan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2020 yang memiliki tiga seri yakni Seri A berjangka 3 tahun, Seri B 5 tahun dan Seri C 7 tahun. Masa penawaran awal pada 27 Januari-10 Februari 2020 dan perkiraan masa penawaran umum pada 24 Februari 2020 dan perkiraan pencatatan di BEI 28 Februari 2020.

Pefindo memberikan peringkat idA- dan idA-(sy) untuk Obligasi Berkelanjutan dan Sukuk Ijarah Tahap I Tahun 2020 dengan penjamin pelaksana emisi Indo Premier Sekuritas dan Mandiri Sekuritas serta wali amanat Bank Permata.

Rencananya dana hasil penerbitan Obligasi ini sekitar 65% untuk pelunasan utang milik anak perusahaan dan sisanya untuk modal kerja sedangkan  dana hasil Sukuk Ijarah akan 100% untuk melunasi sisa pokok pinjaman anak usaha ke bank. (end)

Analisa Saham SGRO | Following the pattern

SGRO: Following the pattern

Sejalan dengan penurunan harga CPO global, harga jual rata-rata CPO SGRO juga mencatatkan penurunan sebesar 11,7% YoY di 2018. DItengah penurunan harga jual, volume penjualan hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 7% YoY dan membawa pendapatan di 2018 tercatat turun sebesar 11,3% YoY. Berdasarkan kinerja di 2018, kami merevisi turun outlook kinerja SGRO dimana pendapatan dan laba bersih direvisi turun sebesar 7,4% dan 82,5% di 2019. Kami memperkirakan kinerja SGRO akan bertumbuh terbatas disebabkan oleh 1) harga jual CPO yang masih cenderung turun sampai 1Q19, dan 2) beban keuangan yang tinggi seiring kenaikan net gearing ratio. Meski demikian, faktor lain seperti 1) potensi perbaikan harga CPO global di 2H19 dan 2) realisasi persediaan di 2019 yang lebih baik akan mampu menjadi katalis positif bagi kinerja SGRO kedepannya. Sejalan dengan hal ini, kami mempertahankan rekomendasi HOLD untuk SGRO namun menurunkan target harga ke Rp2.100 (implied PB 1,01x di 2019) dari sebelumnya Rp2.300. Saat ini, SGRO diperdagangkan pada PB 1,1x di 2019.

Penurunan ASP CPO dan PK menjadi penekan kinerja. Sepanjang tahun 2018, SGRO mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 11,3% YoY (2018: Rp3,2 triliun) sejalan dengan penurunan harga jual CPO dan PK yang masing-masing tercatat sebesar 11,7% YoY dan 25,5% YoY. Sejalan dengan penurunan pendapatan, marjin keuntungan juga tertekan dimana marjin laba kotor dan laba operasi tercatat sebesar 21,5% (2017: 26,1%) dan 10,7% (2017: 16,9%). Selain itu, ditengah penurunan kinerja, tingkat utang SGRO cenderung meningkat dengan net gearing ratio tercatat 0,83x di 2018 (2017: 0,62x). Hal ini memicu kenaikan biaya keuangan sebesar 13,4% dan menyebabkan laba bersih turun 76,3% YoY (2018: Rp56 miliar).

Pertumbuhan volume penjualan belum mampu menopang kinerja. Volume penjualan CPO dan PK di 2018 naik 7% YoY (2017: +19% YoY) dan 19% YoY (2017: +12% YoY), lebih lambat dibanding penurunan harga CPO dan PK di 2018. Hal ini juga bertolak belakang dengan tingginya volume produksi di 2018 yang didukung oleh kondisi cuaca yang baik. Total produksi FFB dan CPO di 2018 tercatat masing-masing sebesar 23% YoY (2017: +6% YoY) dan 24% YoY (2017: +8% YoY). Sehingga, persediaan SGRO di 2018 meningkat 54% YoY (2018: Rp438 miliar).

Pertumbuhan volume penjualan dan produksi diperkirakan inline di 2019. Memasuki tahun 2019, manajemen memperkirakan volume produksi masih akan tumbuh di kisaran 5%-10% YoY ditengah rencana replanting untuk nucleus dan plasma di 2019 yang diperkirakan mencapai 2.500-2.700 ha, didukung oleh profil umur tanaman inti yang mayoritas berada di usia produktif dengan umur rata-rata 11 tahun. Sejalan dengan hal ini, kami memperkirakan volume penjualan akan mampu tumbuh ~8% YoY didukung oleh pertumbuhan volume produksi dan realisasi persediaan di 2019. Dengan demikian kami memperkirakan pendapatan dan laba bersih SGRO di 2019 akan bertumbuh ~5% YoY menjadi Rp3,37 triliun dan Rp59 miliar secara berturut-turut. Selain itu, marjin keuntungan diperkirakan stabil dan beban keuangan masih menjadi downside risk bagi marjin laba bersih seiring dengan kenaikan net gearing ke 0,83x di 2018 (2017: 0,62x).

Pergerakkan harga CPO global akan mempengaruhi kinerja kedepan. Sampai dengan saat ini, rata-rata harga CPO global masih mencatatkan penurunan sebesar 7,2% YoY. Tingginya stok CPO ditengah permintaan yang cenderung lemah menjadi sentimen negatif bagi harga CPO global. Dengan demikian, kami memperkirakan harga jual CPO domestik di 1Q19 masih cenderung tertekan. Namun demikian, melihat selisih pergerakkan harga CPO dan soybean oil, saat ini telah berada di atas rata-rata 10 tahun terakhir yang sebesar ~400 MYR/ton sehingga hal ini berpotensi menjadi katalis positif yang dapat menopang harga CPO global di 2H19. Perbaikan hubungan dagang AS dan China juga turut berdampak positif terhadap hal ini. Dengan demikian kami memperkirakan harga CPO global di 2019 meningkat ke kisaran 2.300 MYR/ton.

Mempertahankan rekomendasi HOLD, menurunkan  target harga ke Rp2.100. Berdasarkan kinerja di 2018, kami merevisi turun outlook kinerja SGRO dimana pendapatan dan laba bersih direvisi turun sebesar 7,4% dan 82,5% di 2019. Kami memperkirakan kinerja SGRO akan bertumbuh terbatas disebabkan oleh 1) harga jual CPO yang masih cenderung turun sampai 1Q19, dan 2) beban keuangan yang tinggi seiring kenaikan net gearing ratio. Meski demikian, faktor lain seperti 1) potensi perbaikan harga CPO global di 2H19 dan 2) realisasi persediaan di 2019 yang lebih baik akan mampu menjadi katalis positif bagi kinerja SGRO kedepan. Sejalan dengan hal ini, kami masih merekomendasikan HOLD untuk SGRO namun menurunkan TP ke Rp2.100 (implied PB 1,01x di 2019) dari sebelumnya di Rp2.300. Saat ini, SGRO diperdagangkan pada PB 1,1x di 2019.


Best Regards,
Panin Sekuritas

Analisa Saham SGRO | 30 Oktober 2018


SGRO: Improvement in 3Q, but still below estimate

SGRO mencatatkan pendapatan di 3Q18 sebesar Rp952 miliar (+2,7% YoY; +43,0% QoQ) dan laba bersih sebesar Rp80 miliar (+44,9% YoY; +9,9% QoQ). Pertumbuhan secara QoQ ini didukung oleh peningkatan volume penjualan CPO di 3Q18 sebesar 61,3% QoQ yang cukup meng-offset penurunan harga jual rata-rata CPO yang turun sebesar 12% QoQ. Meskipun demikian, pendapatan di 9M18 tercatat masih mengalami penurunan menjadi Rp2,3 triliun (-10,0% YoY), dibawah estimasi (PANS:58,5%; Cons: 65,2%; rata-rata 5 tahun: 65,1%), sehingga laba bersih di 9M18 tercatat sebesar Rp169 miliar (-17,0% YoY), dibawah estimasi (PANS:48,3%; Cons: 65,6%; rata-rata 5 tahun: 55,5%). Kinerja yang kurang baik ini disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata CPO sebesar 9% YoY ke Rp7.528/kg. Selain itu, volume penjualan CPO hanya tumbuh 3,8% YoY menjadi 246 kton di 9M18 dikarenakan logistik dan shipping problem yang dialami industri, sehingga inventory mengalami peningkatan. Namun, manajemen menyatakan penurunan inventory di 4Q18, dimana 90% dari inventory sudah memiliki kontrak jual. Dari sisi operasional, produksi FFB inti dan CPO tumbuh 37,6% QoQ dan 53,6% QoQ di 3Q18, didorong oleh high crop cycle. Kami memprediksi peningkatan volume penjualan CPO di 4Q18 yang didorong oleh realisasi inventory CPO, namun produksi turun QoQ akibat lower crop cycle. Kami merevisi turun laba bersih di 2018 ke Rp217 miliar (-38,0%) dan 2019: Rp337 miliar (-19,6%), dikarenakan estimasi melemahnya harga jual rata-rata CPO serta net gearing yang tinggi di 9M18, berada di level 0,84x (9M17: 0,67x), sehingga kami masih merekomendasikan HOLD saham SGRO dan menurunkan TP ke Rp2.300/saham (previously: Rp2.350), in-line dengan rata-rata peers, saat ini SGRO diperdagangkan di PER 13,5x di 2019.  

Kinerja perseroan membaik di 3Q18. SGRO mencatatkan pendapatan di 3Q18 sebesar Rp952 miliar (+2,7% YoY; +43,0% QoQ) dan laba bersih sebesar Rp80 miliar (+44,9% YoY; +9,9% QoQ). Pertumbuhan pendapatan secara QoQ ini didukung oleh peningkatan volume penjualan CPO di 3Q18 sebesar 61,3% QoQ yang cukup meng-offset penurunan harga jual rata-rata CPO sebesar 12% QoQ. Selain itu, marjin laba kotor dan laba operasi di 3Q18 juga membaik ke 29,5% (2Q18:24,7%) dan 20,9% (2Q18:13,5%), didukung oleh economies of scale, dimana peningkatan volume mendorong penurunan fixed cost per unit. Namun, marjin laba bersih turun ke 8,4% (2Q18:11,0%) akibat one-off item dari biological asset valuation di 2Q18 senilai Rp47 miliar.

Laba bersih di 9M18 masih dibawah estimasi. Pendapatan perseroan di 9M18 tercatat masih mengalami penurunan menjadi Rp2,3 triliun (-10,0% YoY), dibawah estimasi (PANS:58,5%; Cons: 65,2%; rata-rata 5 tahun: 65,1%), sehingga laba bersih di 9M18 tercatat sebesar Rp169 miliar (-17,0% YoY), dibawah estimasi (PANS:48,3%; Cons: 65,6%; rata-rata 5 tahun: 55,5%). Kinerja yang kurang baik ini disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata CPO sebesar 9% YoY ke Rp7.528/kg. Selain itu, volume penjualan CPO hanya tumbuh 3,8% YoY menjadi 246 kton di 9M18 dikarenakan logistik dan shipping problem yang dialami industri, sehingga inventory perseroan mengalami peningkatan, dimana sampai 9M18, inventory CPO tercatat lebih dari 50 kton (rata-rata tahun lalu: 20-25 kton). Namun, manajemen mengindikasikan bahwa 90% dari 50 kton sudah memiliki kontrak jual dan memastikan penurunan inventory di 4Q18.

Produksi FFB dan CPO meningkat di 3Q18. Produksi FFB inti dan CPO di 3Q18 tumbuh 37,6% QoQ dan 53,6% QoQ menjadi 343 kton dan 134 kton, didorong oleh high crop cycle, sehingga produksi FFB inti dan CPO di 9M18 tercatat sebesar 792 kton (+26,0% YoY) dan 289 kton (+29,2% YoY). Meskipun, kami memperkirakan produksi di 4Q18 akan mengalami penurunan secara QoQ akibat lower crop cycle, kami masih optimis dengan pertumbuhan produksi FFB inti dan CPO akan mencapai 15,1%/11,5% di 2018 dan 8,0%/6,9% di 2019, didukung oleh cuaca yang baik dan maturing profile age dari perkebunan inti.

Merevisi laba turun akibat ekspektasi penurunan harga global CPO. Kami merevisi pendapatan di 2018: Rp3,0 triliun (-22,1%) dan 2019: Rp3,6 triliun (-18,6%), dikarenakan estimasi melemahnya harga jual rata-rata CPO, dimana kami menurunkan asumsi harga global CPO rata-rata tahun 2018/2019 ke MYR2.225/ton/MYR2.350/ton (Previously: MYR2.600/ton), didorong oleh kondisi oversupply. Sehingga laba bersih diestimasikan turun di 2018: Rp217miliar (-38,0%), sebelum membaik di 2019: Rp337miliar (-19,6%).

Merekomendasikan HOLD dan menurunkan target harga Rp2.300. Kami memprediksi peningkatan volume penjualan CPO di 4Q18 yang didorong oleh realisasi inventory CPO, namun produksi akan mengalami penurunan secara QoQ akibat lower crop cycle. Selain itu, SGRO memiliki net gearing yang tinggi di 9M18, berada di level 0,84x (9M17: 0,67x) sehingga dengan kenaikan tingkat suku bunga akan memberikan tekanan untuk profitabilitas SGRO. Kami masih merekomendasikan HOLD untuk SGRO dan menurunkan target harga ke Rp2.300/saham (previously: Rp2.350), dimana SGRO diperdagangkan pada PER 13,5x di tahun 2019.  

 Best Regards,
Panin Sekuritas

PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) Targetkan Kenaikan Produksi

Emiten perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) menargetkan volume produksi minyak kelapa sawit atau CPO naik 10%-15% pada 2018 dibandingkan tahun sebelumnya.


Direktur Sampoerna Agro Budi Setiawan Halim menyampaikan, untuk memacu pendapatan, perusahaan berupaya meningkatkan volume produksi CPO. Peningkatan itu mencakup pertumbuhan kuantitas pasokan tandan buah segar (TBS) dan tingkat rendemen CPO.

Pada saat ini, tingkat rendemen atau Oil Extraction Rate (OER) perseroan berkisar antara 21,5%-22,5%. Persentasenya berbeda di tiap-tiap wilayah perkebunan.

"Peningkatan produksi diharapkan mampu melampaui penurunan harga CPO, sehingga kinerja kami semakin membaik,"  tuturnya, Selasa (28/8/2018).

Sebagai gambaran, pada awal 2017 harga CPO mencapai puncaknya di kisaran 3.200 ringgit per ton. Harga kemudian menurun 30% menuju sekitar 2.200 ringgit per ton pada saat ini.

Pada semester I/2018,  rerata harga jual minyak sawit SGRO turun 6,89% yoy menjadi Rp7.965 per kg dari sebelumnya Rp8.555 per kg. Diperkirakan harga masih akan cenderung tertekan pada paruh kedua 2018.

Head of Investor Relations  Sampoerna Agro Michael Kesuma menyampaikan, pada Januari-Juni 2018, perusaaan memproduksi CPO sejumlah 155.216 ton, naik 13,54% year-on-year (yoy) dari sebelumnya 136.707 ton. Diperkirakan jumlahnya tumbuh 30%-40% pada semester II/2018 menjadi 201.781-217.302 ton.

"Semester II/2018 ditargetkan produksi naik 30%-40% dari semester sebelumnya. Dengan demikian, sampai akhir tahun ini volume produksi naik 10%-15% dibandingkan 2017," tuturnya.

Oleh karena itu, sambungnya, estimasi produksi CPO perusahaan pada tahun ini berkisar 360.00-380.000 ton. Tahun lalu, realisasi produksi minyak sawit sejumlah 322.761 ton.
http://market.bisnis.com/read/20180828/192/832611/sampoerna-agro-sgro-bidik-kenaikan-produksi-15

PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO)Perkirakan Pertumbuhan Perusahaan


Bisnis.com, JAKARTA - Emiten perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) mengestimasi produksi minyak kelapa sawit atau CPO pada semester II/2018 perusahaan tumbuh 30%-40% dari semester sebelumnya.

Head of Investor Relations  Sampoerna Agro Michael Kesuma menyampaikan, kinerja perseroan pada semester I/2018 ditopang peningkatan volume produksi dan penjualan pada triwulan kedua. Hal ini sesuai dengan proyeksi manajemen.

Pada Januari-Juni 2018, perusaaan memproduksi CPO sejumlah 155.216 ton, naik 13,54% year-on-year (yoy)dari sebelumnya 136.707 ton. Diperkirakan jumlahnya bertumbuh 30%-40% pada semester II/2018 menjadi 201.781 ton-217.302 ton.

"Kenaikan volume operasional akan terus berlangsung hingga semester II/2018. Estimasi kami bahkan bisa 30%-40% dibanding semester 1 lalu," ujarnya kepada Bisnis melalui pesan singkat, Rabu (1/8/2018).

Dengan demikian, estimasi produksi CPO SGRO sampai akhir 2018 mencapai 356.997 ton-372.518 ton. Volume itu tumbuh 10,61%-15,42% dari realisasi 2017 sejumlah 322.761 ton.

Adapun, produksi tandan buah segar (TBS) pada semester I/2018 mencapai 757.600 ton naik 15,96% yoy dari sebelumnya 653.297 ton. TBS inti berkontribusi 449.386 ton, sedangkan TBS eksternal sejumlah 308.214 ton.

Michael mengungkapkan, untuk memacu produksi, perusahaan sudah mengoperasikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) baru di Kalimantan Barat berkapasitas 30 ton per jam pada Juli 2018. Adanya fasilitas baru menggenapkan pabrik perseroan menjadi 8 PKS dengan kapasitas total 515 ton per jam.

Total investasi PKS baru berkisar Rp115 miliar. Kontribusinya sampai akhir 2018 diharapkan sejumlah 30.000 ton dan tumbuh menjadi 100.000 ton pada tahun depan setelah mencapai kapasitas penuh.

Baca juga:

Berita Saham SGRO | 27 April 2018

PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO)

PENJUALAN DAN LABA SAMPOERNA AGRO TURUN HINGGA MARET 2018.
IQPlus, (27/05) - PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) meraih penjualan sebesar Rp667,64 miliar hingga periode 31 Maret 2018 turun dibandingkan penjualan Rp1,02 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan perseroan Jumat menyebutkan, beban pokok turun menjadi Rp511,34 miliar dari beban pokok tahun sebelumnya yang Rp700,71 miliar dan laba bruto turun menjadi Rp156,30 miliar dari laba bruto Rp328,29 miliar.

Laba usaha turun tajam menjadi Rp66,79 miliar dari laba usaha Rp208,36 miliar tahun sebelumnya dan laba sebelum pajak turun menjadi Rp21,13 miliar dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya yang Rp161,17 miliar.

Laba periode berjalan yang didistribusikan ke entitas induk turun menjadi Rp15,32 miliar dari laba Rp117,39 miliar tahun sebelumnya. Total aset perseroan mencapai Rp8,25 triliun hingga 31 Maret 2018 turun dari total aset Rp8,31 triliun hingga 31 Desember 2017. (end)

http://www.iqplus.info/news/stock_news/sgro-penjualan-dan-laba-sampoerna-agro-turun-hingga-maret-2018,16090804.html

Berita Saham SGRO | 3 April 2018

Berita Saham SGRO

PT Sampoerna Agro Tbk., (SGRO) memberikan pinjaman sejumlah Rp178,13 miliar kepada cucu usahanya PT Hutan Ketapang Industri (HKI).

Corporate Secretary Sampoerna Agro Eris Ariaman menyampaikan, perusahaan melakukan transaksi afiliasi berupa pinjaman bertahap kepada HKI senilai Rp178,13 miliar. Sejumlah 99,99% saham HKI dipegang oleh PT Sungai Menang, yakni anak usaha perseroan yang 64,58% sahamnhya dimiliki SGRO.

"Total transaksi pinjaman sebesar Rp178,13 miliar akan dilakukan melalui empat kali penarikan," paparnya dalam keterbukaan informasi, Senin.

Pemberitahuan Penarikan atau Drawdown Notice yang pertama tertanggal 28 Maret 2018 untuk penarikan sebesar Rp44,53 miliar. Adapun, Drawn Notice tahap selanjutnya dengan jumlah sama akan disampaikan oleh HKI kepada SGRO pada Juni 2018, September 2018, dan Desember 2018.

SGRO juga memberikan pinjaman tambahan kepada HKI sejumlah Rp24,42 miliar berdasarkan Drawdown Notice tanggal 29 Maret 2018. Dana tersebut merupakan porsi pinjaman pemegang saham yang gagal bayar.

Pinjaman dari pemegang saham kepada HKI digunakan untuk membiayai modal kerja, pembangunan Hutan Tanaman Industri karet, dan sarana penunjang usaha HKI lainnya. (end)

Source:

Analisa Saham SGRO | 28 Maret 2018

Analisa Saham SGRO


Mirae Asset Sekuritas Indonesia on SGRO: Strong earnings to continue in 2018 by Andy Wibowo Gunawan (andy.wibowo@miraeasset.co.id)

- SGRO mencatat angka operasional yang solid dengan total produksi TBS mencapai 461.788 ton (+7,9% QoQ) di 4Q17. Namun pertumbuhan produksi CPO SGRO lari lebih kencang dibandingkan pertumbuhan produksi TBS-nya karena hasil buah di masing-masing setiap TBS lebih banyak. Dengan demikian, rendeman CPO SGRO naik menjadi 21,4% di 4Q17 dari 20,4% di 3Q17.

- Untuk 4Q17, pendapatan SGRO mencapai IDR1,1 triliun (+16,1% QoQ) karena naiknya harga jual rata-rata dan volume penjualan. Harga jula rata-rata CPO SGRO mencapai IDR8.183/kg (+2,9% QoQ), sementara volume penjualan CPO mencapai 103.559 ton (+9.9% QoQ). Dengan demikian, laba bersih SGRO 4Q17 mencapai IDR65 miliar (+32,9% QoQ).   

- Kami masih mempertahankan target pendapatan 2018 – 19F kami di IDR4,3 triliun dan IDR5,1 triliun (+19,7% dan +17,1% YoY). Tetapi kami merevisi sedikit penurunan pada beban pokok SGRO sebesar 1,7% dan 0,6% menjadi IDR3,1 triliun dan IDR3,5 triliun. Sementara itu kami menurunkan beban opex kami sehingga laba bersih kami naik menjadi IDR387 miliar dan IDR453 miliar untuk 2018 – 19F.   

- Meskipun, kami telah meningkatkan target laba bersih 2018 - 19F tahun penuh kami, kami menurunkan TP menjadi Rp3.150. TP kami berdasarkan target P/B dan kami menetapkan target P/B pada 1,4x (+1 stdev)

Source:
Mirae Asset

Berita Saham SGRO | 27 Maret 2018

Berita Saham SGRO

PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) alami penurunan laba tahun berjalan yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 34,9 persen hingga periode 31 Desember 2017 menjadi Rp287,66 miliar atau Rp158 per saham dibandingkan laba Rp441,87 miliar atau Rp243 per saham di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, penjualan naik menjadi Rp3,61 triliun dari Rp2,91 triliun dan beban pokok naik jadi Rp2,65 triliun dari Rp2,27 triliun membuat laba bruto meningkat menjadi Rp962,14 miliar dari laba bruto Rp640,69 miliar.

Laba usaha naik menjadi Rp651,58 miliar dari laba usaha Rp447,16 miliar dan laba sebelum pajak diraih Rp481,33 miliar meningkat dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya yang Rp266,82 miliar.

Total aset perseroan mencapai Rp8,28 triliun hingga 31 Desember 2017 turun tipis dari Rp8,32 triliun total aset hingga 31 Desember 2016. (end)

Source:
IQPLUS

Analisa Saham SGRO | 14 Februari 2018

Analisa Saham SGRO

Mirae Asset Sekuritas Indonesia on SGRO: Flat last quarter; Optimistic for 2018 by Andy Wibowo Gunawan (andy.wibowo@miraeasset.co.id)

- Pada 3Q17, total produksi TBS SGRO mengalami peningkatan ke 428.100 ton (+68,0% QoQ) didukung dengan cuaca yang kondusif, sehingga produksi CPO 3Q17 meningkat menjadi 87.400 ton (+65,5% QoQ). Namun, curah hujan yang tinggi selama 4Q17 berpotensi menghambat laju produksi total TBS SGRO, sehingga kami memprediksi total TBS SGRO akan flat di 430.000 ton (+0,5% QoQ).

- Kami mempertahankan pendapatan 2018 – 19F kami pada level IDR4,3 triliun dan IDR5,1 triliun karena naiknya volume penjualan. Selanjutnya kami percaya laba kotor SGRO akan mencapai IDR1,2 triliun dan IDR1,5 triliun di 2018 – 19F. Secara keseluruhan, kami percaya laba bersih SGRO masing-masing mencapai IDR272 miliar dan IDR357 miliar di 2018F dan 2019F.

- Dengan curah hujan yang lebih tinggi di 4Q17, kami memperkirakan bahwa penanaman lahan baru SGRO hanya mencapai 985 hektar, menjadi 3,500 hektar sepanjang 2017. Selain itu, kami memperkirakan bahwa penanaman lahan baru di 2018 akan sama dengan 2017.

- Dengan perkiraan pendapatan 2018-19F kami, maka kami mempertahankan TP kami untuk SGRO seharga IDR3.275 dan mengulangi rekomendasi Buy kami.