Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 12, 2019

KIOS | Kioson Targetkan Laba Naik 84,9 Persen

(Baca juga: Strategi Sell on Strength ) Bisnis.com, JAKARTA - PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. [KIOS] menargetkan top line perseroan meroket sampai 84,9%. Doane Cahyadi, Chief Executive Officer KIOS optimistis dapat merealisasikan target sampai akhir tahun. KIOS, lanjutnya, menargetkan dapat mencatatkan penjualan sebesar Rp4,74 triliun pada 2019. Doane mengatakan, bahwa faktor utama peningkatan pendapatan segmen usaha 2019 antara lain karena kenaikan penjualan produk digital pada 2018 yaitu sebesar Rp2,5 triliun yang naik sebesar Rp1,4 triliun dibandingkan dengan 2017 sebesar Rp1 triliun. Menurutnya, target itu mungkin saja tercapai sebab perseroan juga menargetkan pertumbuhan jumlah mitra menjadi 70.000 outlet di seluruh Indonesia. Sementara itu, selama tahun berjalan KIOS sudah merealisasikan 68.000 outlet. Jumlah itu naik 10.000 outlet dibandingkan Desember 2018 sebanyak 58.000 outlet. “Nilai investasi per KIOS untuk menjalin kemitraan sekitar Rp500.000. Biaya itu

BBCA | BCA PERTAHANKAN BUNGA DEPOSITO

(Baca juga: Memahami Stoploss Order ) IQPlus, (11/06) - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengaku bahwa sejauh ini Perseroan tidak memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposito, meski ada tren pengetatan likuiditas di industri perbankan akibat kepastian ekonomi global, terutama Amerika Serikat. "Bunga deposito kami tidak mengalami kenaikan, karena kami sedang melihat dan sedang menyikapi kondisi ekonomi sekarang. Kan banyak hal yang tidak menentu dari luar negeri, terutama dari Amerika. Situasi berubah-ubah," kata Direktur BCA, Santoso Liem di Jakarta, Senin. Dia mengungkapkan, perubahan suku bunga deposito akan tergantung dari permintaan domesrik, meski saat ini ada tren kenaikan bunga di Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 3. "Sebenarnya pasca Pemilu kondisi ekonomi cukup positif. Sebetulnya, kita tinggal menantikan sektor ekonomi bergerak kembali. Kalau kami lihat, sampai sekarang tidak ada isu likuiditas di BCA," tegas Santoso. Pada dasarnya, jelas Santos

BBTN | KEBIJAKAN BUNGA DEPOSITO BTN IKUTI BI

(Baca juga: Seni dalam Cutloss Saham ) IQPlus, (11/07) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mengaku, kondisi likuiditas industri perbankan yang mengetat tidak serta-merta membuat Perseroan mengikuti tren kenaikan suku bunga deposito yang dilakukan Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 3 sekitar 25-50 basis poin. "Sekarang posisi bunga deposito kami akan mengikuti suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7day Reverse Repo Rate), meski likuiditas tetap mengetat. Kami akan mengikuti pasar. Memang bank BUKU 3 naiknya 25-50 bps," kata Direktur Bank BTN, Mahelan Prabantarikso di Jakarta, Selasa (11/6). Mahelan memastikan, pada pertengahan tahun ini BBTN akan mengevaluasi terhadap Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019, lantaran adanya tren pengetatan likuiditas dan tingkat BI 7day Repo Rate tertahan di level 6 persen. "Likuiditas sedang mengetat, pasar belum tentu akan banyak yang mengambil kalau kami share (kenaikan bunga deposito," ucapnya. Namun demikian, jelas dia, peruba

AISA | TIGA PILAR SEJAHTERA BEBAS PAILIT

(Baca juga: Memahami Pola Distribusi Saham ) IQPlus, (11/06) - PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) akhirnya bisa terbebas dari jerat pailit. Ini terjadi setelah Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) perseroan berakhir dengan damai. Menanggapi hal tersebut, sampai saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku masih memonitor keberlanjutan emiten tersebut, lantaran perseroan sendiri memang sudah memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan bisnisnya di divisi beras. "Untuk Tiga Pilar kita selalu monitor, pertama dari divisi beras yang ada PKPU-nya dan itu kan kondisi dimana AISA memang untuk kedepan back bone nya lebih deras lagi. Dari awal untuk yang beras tidak akan dikembangkan lagi terus kebetulan masuk ke PKPU. Artinya, memang dari awal divisi ini divisi yang tidak dikembangkan," kata Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, Selasa. Menurutnya, setelah masalah hukum tersebut selesai perseroan bisa mengkonsolidasikan anak-anak usahanya untuk mengoptim

BUMI | Analis : Beli Saham BUMI

(Baca juga: Memahami Pola Akumulasi Saham ) KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis PT Bumi Resources Tbk dinilai masih cukup menantang seiring tren pelemahan harga batubara global. Namun, emiten berkode saham BUMI tersebut diyakini mampu bertahan di tengah tekanan yang ada. Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menyebut, pelemahan harga batubara dunia jadi sentimen utama yang menekan kinerja emiten ini. Hal ini cukup terlihat di kinerja kuartal I-2019. Pendapatan BUMI di tiga bulan pertama tahun ini tergerus 24,58% menjadi US$ 234,15 juta. Laba bersih emiten grup Bakrie ini di periode yang sama juga anjlok 46,27% menjadi US$ 48,44 juta. Menurut Robertus, prospek kinerja BUMI sangat bergantung pada pemulihan harga batubara dunia. Namun, kini harga komoditas tersebut masih dalam tren pelemahan. Kemarin, harga batubara dunia kontrak pengiriman Juli 2019 di ICE Futures berada di level US$ 77 per metrik ton. Bahkan, pada 5 Juni lalu, harganya merosot ke level terendah tahun in

HRTA | Hartadinata Abadi Tingkatkan Produksi Kalung Emas

(Baca juga: Pengertian Dividen Saham ) KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hartadinata Abadi Tbk berencana meningkatkan utilitas atau tingkat keterpakaian mesin produksi hingga sebesar 35% sepanjang tahun ini. Target utamanya adalah meningkatkan produksi kalung emas. Pasalnya, sejauh ini produksi kalung emas Hartadinata paling sedikit jika dibandingkan dengan produk emas lain. Selain itu, produksi kalung emas menggunakan mesin sehingga tidak memerlukan banyak tenaga kerja. Sasaran peningkatan utilitas produksi adalah pabrik Sapphire. Kebetulan tingkat utiltasnya paling rendah ketimbang tiga pabrik lain, yakni baru mencapai 11% dengan rata-rata produksi 118 kilogram (kg) per bulan. Informasi saja, rata-rata tingkat utilitas dari empat pabrik Hartadinata per akhir tahun lalu mencapai 31,6% dengan rata-rata produksi 789 kg per bulan. Padahal, total kapasitas produksi pabrik mereka sebesar 2.500 kg per bulan. Manajemen Hartadinata mengaku, sudah sejak lama ingin meningkatkan utilitas

Analisa Saham GIAA, EXCL dan TPIA

Analisa Saham GIAA, EXCL dan TPIA (Baca juga: Spekulasi dalam Trading ) 1. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) Saham GIAA berpeluang melanjutkan pelemahan ke area 370 sebelum kembali naik dengan konfirmasi indikator stochastic yang mulai turun ke area oversold. Buy on weakness dapat dilakukan saat area support tercapai. Rekomendasi: Buy on weakness Support: Rp 350 Resistance: Rp 550 Anthonius Edyson, Astronacci International 2. PT XL Axiata Tbk (EXCL) Muncul three black crows pattern candle pada saham EXCL dengan stochastic berada di area jenuh beli dan volume perdagangan menurun. Namun, indikator MA5 berpotensi golden cross. Rekomendasi: Sell on strength Support: Rp 2.860 Resistance: Rp 3.070 Achmad Yaki, BCA Sekuritas 3. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) Saham TPIA rebound dari lower line bollinger dengan tweezer bottom candle untuk menguji resist MA20 sekaligus resist bearish channel. Rekomendasi: Buy Support: Rp 4.980

Analisa Saham PGAS, PZZA dan TKIM

Analisa Saham PGAS, PZZA dan TKIM (Baca juga: Cara Menentukan Valuasi Saham ) *PGAS, Daily (2000)  (RoE: 3.47%; PER: 13.06x; EPS: 153.12; PBV: 1.02x; Beta: 1.9):* Pergerakan harga telah berhasil menyentuh beberapa garis MA 10 dan MA 20 sehingga peluang terjadinya rebound terbuka lebar. “Akumulasi Beli” pada area level 1980 – 2000, dengan target harga secara bertahap di 2090 dan 2120. Support: 1980 & 1950. *PZZA, Daily (1110)  (RoE: 12.43%; PER: 20.72x; EPS: 53.56; PBV: 2.59x; Beta: N/A):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish inside bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. Akumulasi Beli” pada level 1105 – 1115, dengan target harga secara bertahap di 1140 dan 1160. Support: 1090. *TKIM, Daily (11450)  (RoE: 14.55%; PER: 12.98x; EPS: 880.04; PBV: 1.9x; Beta: 0.8):* Terlihat pola bearish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan harga saham. “Partial Sell”

Analisa Saham GIAA, GJTL dan LPKR

Analisa Saham GIAA, GJTL dan LPKR (Baca juga: Bagaimana Saham Diperdagangkan ) *GIAA, Daily (420)  (RoE: 3.19%; PER: 9.82x; EPS: 45.00; PBV: 0.31x; Beta: 0.67):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area level 414 – 424, dengan target harga secara bertahap di level 430, 442, 470 dan 498. Support: 414 & 406. *GJTL, Daily (665)  (RoE: 10.98%; PER: 3.44x; EPS: 193.08; PBV: 0.38x; Beta: 2.24):* Pergerakan harga telah berhasil menyentuh garis MA 10 sehingga peluang terjadinya rebound terbuka lebar. “Akumulasi Beli” pada area level 655 – 665, dengan target harga secara bertahap di level 675, 690 dan 700. Support: 645 & 635. *LPKR, Daily (314)  (RoE: 0.66%; PER: 37.10x; EPS: 8.68; PBV: 0.25x; Beta: 0.9):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish spinning top candle yang m

Analisa Saham ACES, UNVR, BBRI dan ASII

Analisa Saham ACES, UNVR, BBRI dan ASII (Baca juga : Cara Memilih Broker Saham yang Baik ) MNC Daily Scope Wave 12 Juni 2019 IHSG ditutup menguat tipis 0,26% ke level 6,305. Kami memperkirakan IHSG masih berpotensi terkoreksi membentuk wave iv sekaligus menutup gap yang ada pada level 6,210-6,255, sebelum melanjutkan penguatannya ke wave v dengan target 6,450. Support: 6,150, 6,220 Resistance: 6,330, 6,450 ACES - Buy on Weakness (1,790) Posisi ACES saat ini kami perkirakan sedang membentuk wave (iv) dari wave [c], dimana ACES berpotensi terkoreksi ke arah 1,720. Selanjutnya ACES akan menguat kembali untuk membentuk wave (v) dari wave [c].  Buy on Weakness: 1,680-1,720 Target Price: 1,850, 1,920 Stoploss: below 1,670 UNVR - Buy on Weakness (44,300) UNVR saat ini diperkirakan sedang membentuk wave [ii] dari wave C, dimana UNVR akan terkoreksi terlebih dahulu ke arah 43,175 sebelum menguat kembali untuk membentuk wave [iii]. Buy on Weakness: 42,850-43,175 Target Pr

Analisa Saham TINS | Buy on Breakout

TINS menguji area resisten kuat di 1200 yang sebelumnya merupakan area support. Jika TINS mampu kembali ke atas level 1200, terbuka ruang kenaikan bagi saham ini menuju 1430 dengan minor target 1325. Jika momentum kenaikan dapat dipertahankan, maka besar peluang tins untuk bergerak bullish jangka menengah dengan target awal di 1520. MACD yang meningkan menunjukkan saham ini bergerak positif. Rekomendasi: Buy jika break 1200. Stoploss level 1100. Disclaimer ON by GaleriSaham

Analisa Saham TLKM dan BSDE

Analisa Saham TLKM dan BSDE (Baca Juga : Memahami ShortSelling ) TLKM TLKM telah mencapai Resistance area dari level previous High di sekitar 4050-4110. Berhubung esok hari juga adalah tanggal ex deviden dari TLKM, we believe it’s best to Sell on Strength.Support pertama adalah menutup gap di angka 3930, menyusul MA50 & Fibonacci retracement 38.2% di sekitar 3840.   Rekomendasi Sell On Strength,   Exit Level: 4050-4110;  Target: 3930/3840;  Stoploss: 4150 BSDE  BSDE dipercaya telah menemui Resistance yang cukup mumpuni di titik High kemarin 1435. Cicil jual sudah boleh dilakukan sampai level 1485. Support terdekat adalah MA50 & menutup gap di angka 1350, disusul retracement 38.2% di level 1320, kemudian MA10 & FR50 di sekitar 1280. Rekomendasi Sell On Strength,  Exit Level: 1435-1485;  Target: 1350-1320 / 1280;  Stoploss : 1520 Henan Putihrai Sekuritas

Bandarmologi Saham SSIA, TINS, BEST, ANTM dan ERAA

Bandarmologi Saham SSIA, TINS, BEST, ANTM dan ERAA (Baca juga: Memilih Time Frame dalam Trading Saham ) Wednesday (12/06/2019) New Early BIRD Technical & Bandarmology Prespectives (Dr Cand., Edwin Sebayang, CSA®., CIB®-MNC Sekuritas) IDX Composite 6,253 - 6,346 SUMMARY: STRONG BUY 11 TECHNICAL INDICATORS: RSI (14): BUY STOCH (9,6): BUY MACD(12,26): SELL ATR (14): LESS VOLATILITY ADX (14): BUY CCI (14): BUY HIGHS/LOW (14): BUY VO: BUY ROC: BUY WILLIAMS R: OVERBOUGHT BULLBEAR (13): BUY BANDARMOLOGY: TOP 5 BROKER  ACCUMULATED PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION NET BUY SELL ASING: PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION STOCKS PICK: SSIA 620 - 725 TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY BANDARMOLOGY: TOP 5 BROKER ACCUMULATED PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION NET BUY SELL ASING: PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION TINS 1125 - 1205 TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY BANDARMOLOGY: TOP 5 BROKER ACCUMULATED PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION NET BUY SELL ASING: PER

Analisa Saham SSIA, RALS dan INCO

Analisa Saham SSIA, RALS dan INCO (BAca juga : Chart Penting dalam Saham ) SSIA (Buy) : Target kenaikan harga pada level 645 kemudian 665 dengan support di level 600, cut loss jika break 580. RALS (Buy) : Target kenaikan harga pada level 1.780 kemudian 1.830 dengan support di level 1.660, cut loss jika break 1.615. INCO (Buy) : Target kenaikan harga pada level 2.870 kemudian 2.940 dengan support di level 2.730, cut loss jika break 2.660. Full report bisa diakses di : ipot

Saham Online di Facebook