KIOS | Kioson Targetkan Laba Naik 84,9 Persen


Bisnis.com, JAKARTA - PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. [KIOS] menargetkan top line perseroan meroket sampai 84,9%.

Doane Cahyadi, Chief Executive Officer KIOS optimistis dapat merealisasikan target sampai akhir tahun. KIOS, lanjutnya, menargetkan dapat mencatatkan penjualan sebesar Rp4,74 triliun pada 2019.

Doane mengatakan, bahwa faktor utama peningkatan pendapatan segmen usaha 2019 antara lain karena kenaikan penjualan produk digital pada 2018 yaitu sebesar Rp2,5 triliun yang naik sebesar Rp1,4 triliun dibandingkan dengan 2017 sebesar Rp1 triliun.

Menurutnya, target itu mungkin saja tercapai sebab perseroan juga menargetkan pertumbuhan jumlah mitra menjadi 70.000 outlet di seluruh Indonesia.

Sementara itu, selama tahun berjalan KIOS sudah merealisasikan 68.000 outlet. Jumlah itu naik 10.000 outlet dibandingkan Desember 2018 sebanyak 58.000 outlet.

“Nilai investasi per KIOS untuk menjalin kemitraan sekitar Rp500.000. Biaya itu termasuk biaya edukasi ke calon mitra dan biaya lain untuk pengadaan printer struk pembayaran,” katanya, Selasa (11/6/2019).

Dengan begitu, setidaknya perseroan menghabiskan Rp6 milliar untuk penambahan 12.000 mitra baru.

Selain menambah jumlah mitra terdapat empat strategi lain yang akan dilakukan perusahaan yaitu menambah jumlah produk dan layanan, inovasi layanan konsumen di kanal offline dan online, memperluas kerjasama pihak ketiga, serta improvisasi teknologi.

Daone membeberkan perseroan sedang berupaya memperluas kerja sama dengan pihak ketiga sekaligus menambah jumlah produk dan layanan. KIOS, lanjutnya, dalam waktu dekat akan mengumumkan kerja sama baru dengan dua perusahaan.

Adapun untuk pengembangan tekonologi berupa perangkat berat (hardware) tidak akan banyak dilakukan di tahun ini.

Menurut Doane, saat ini teknologi yang dipakai masih layak dan belum perlu ditambah atau diperbarui. Sementara perihal belanja modal 2019 pun Doane belum bisa mengungkapkan jumlahnya.

BBCA | BCA PERTAHANKAN BUNGA DEPOSITO


IQPlus, (11/06) - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengaku bahwa sejauh ini Perseroan tidak memutuskan untuk menaikkan suku bunga deposito, meski ada tren pengetatan likuiditas di industri perbankan akibat kepastian ekonomi global, terutama Amerika Serikat.

"Bunga deposito kami tidak mengalami kenaikan, karena kami sedang melihat dan sedang menyikapi kondisi ekonomi sekarang. Kan banyak hal yang tidak menentu dari luar negeri, terutama dari Amerika. Situasi berubah-ubah," kata Direktur BCA, Santoso Liem di Jakarta, Senin.

Dia mengungkapkan, perubahan suku bunga deposito akan tergantung dari permintaan domesrik, meski saat ini ada tren kenaikan bunga di Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 3. "Sebenarnya pasca Pemilu kondisi ekonomi cukup positif. Sebetulnya, kita tinggal menantikan sektor ekonomi bergerak kembali. Kalau kami lihat, sampai sekarang tidak ada isu likuiditas di BCA," tegas Santoso.

Pada dasarnya, jelas Santoso, saat ini tidak ada tuntutan dari industri perbankan agar bank menaikkan suku bunga deposito, meski ada tren kenaikan bunga di tengah mengetatnya likuiditas. "Di industri tidak ada tuntutan kenaikan suku bunga yang terlalu besar. Karena, BI 7day Reverse Repo Rate juga tidak naik, bahkan kelihatannya kalau melihat sinyal dari Bu Menteri Keuangan (Sri Mulyani Indrawati), kemungkinan kondisinya akan sedikit menurun," tuturnya.

Terkait ketidakpastian isu perang dagang dagang antara AS dan China, Santoso mengaku, Perseroan tidak akan merespons dengan mengubah proyeksi pertumbuhan kredit di Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019. "Revisi RBB belum punya rencana. Mungkin revisinya itu lebih kepada beberapa strategic strategy, misalnya yang berhubungan dengan makro keuangan, tentang akuisisi dan lain-lain. Sejauh ini pertumbuhan kami stabil. Bagus," ujar Santoso. (end/bd)

BBTN | KEBIJAKAN BUNGA DEPOSITO BTN IKUTI BI


IQPlus, (11/07) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mengaku, kondisi likuiditas industri perbankan yang mengetat tidak serta-merta membuat Perseroan mengikuti tren kenaikan suku bunga deposito yang dilakukan Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 3 sekitar 25-50 basis poin.

"Sekarang posisi bunga deposito kami akan mengikuti suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7day Reverse Repo Rate), meski likuiditas tetap mengetat. Kami akan mengikuti pasar. Memang bank BUKU 3 naiknya 25-50 bps," kata Direktur Bank BTN, Mahelan Prabantarikso di Jakarta, Selasa (11/6).

Mahelan memastikan, pada pertengahan tahun ini BBTN akan mengevaluasi terhadap Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019, lantaran adanya tren pengetatan likuiditas dan tingkat BI 7day Repo Rate tertahan di level 6 persen. "Likuiditas sedang mengetat, pasar belum tentu akan banyak yang mengambil kalau kami share (kenaikan bunga deposito," ucapnya.

Namun demikian, jelas dia, perubahan RBB 2019 tetap menyesuaikan kondisi pasar yang sedang mengalami pengetatan likuiditas. "Evaluasi itu kan berdasarkan asumsi, kalau asumsinya berubah, maka (rencana bisnis) itu akan berubah semua," tutur Mahelan.

Lebih lanjut dia menyebutkan, sejauh ini kredit investasi Bank BTN lebih banyak mengalir ke proyek-proyek infrastruktur dan pertumbuhannya di 2019 akan dijaga pada level 15 persen. "Memang di awal triwulan pertama dan kedua ini kami kejar dahulu, sehingga di akhir tahun tidak terlalu ekapansif. Tetapi, tetap tergantung kondisi ekonomi dan likuiditas," tuturnya. (end/as)

AISA | TIGA PILAR SEJAHTERA BEBAS PAILIT


IQPlus, (11/06) - PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) akhirnya bisa terbebas dari jerat pailit. Ini terjadi setelah Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) perseroan berakhir dengan damai.

Menanggapi hal tersebut, sampai saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku masih memonitor keberlanjutan emiten tersebut, lantaran perseroan sendiri memang sudah memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan bisnisnya di divisi beras.

"Untuk Tiga Pilar kita selalu monitor, pertama dari divisi beras yang ada PKPU-nya dan itu kan kondisi dimana AISA memang untuk kedepan back bone nya lebih deras lagi. Dari awal untuk yang beras tidak akan dikembangkan lagi terus kebetulan masuk ke PKPU. Artinya, memang dari awal divisi ini divisi yang tidak dikembangkan," kata Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, Selasa.

Menurutnya, setelah masalah hukum tersebut selesai perseroan bisa mengkonsolidasikan anak-anak usahanya untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan.

"Saat ini dengan adanya permasalahan legal ada keterbatasan mereka bisa handle atau me-manage anak-anak usahanya. Jadi kedepan yang ingin kita lihat adalah one legal atau permasalahan yang ada itu sudah arahnya ke penyelesaian," ucap Nyoman.

Selain perkembangan PKPU, pihaknya juga akan melihat lagi strategi pengembangan pada bisnis divisi makanan perseroan ke depannya yang diharapkan bisa menyelamatkan kinerja setelah divisi berasnya keok.

"Nah sekarang ada yang food-nya sendiri, justru sebetulnya arahnya kita liat yg ini nih. Karena ini yg akan men-generate income ke depan dan menjadi backbone nya. Jadi ke depan kita akan fokus pengembangannya ke mana selain yang proses di PKPU kita ingin lihat penyelesaiannya seperti apa," ungkapnya.

Untuk itu, BEI pun bakal memantau langkah manajemen baru perseroan dalam membangun kembali perusahaan. "Setelah itu tentunya management yang baru akan mengembangkan lini yang memang backbone-nya arahnya ke sana," tutupnya. (end/fu)

BUMI | Analis : Beli Saham BUMI


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis PT Bumi Resources Tbk dinilai masih cukup menantang seiring tren pelemahan harga batubara global. Namun, emiten berkode saham BUMI tersebut diyakini mampu bertahan di tengah tekanan yang ada.

Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menyebut, pelemahan harga batubara dunia jadi sentimen utama yang menekan kinerja emiten ini. Hal ini cukup terlihat di kinerja kuartal I-2019.

Pendapatan BUMI di tiga bulan pertama tahun ini tergerus 24,58% menjadi US$ 234,15 juta. Laba bersih emiten grup Bakrie ini di periode yang sama juga anjlok 46,27% menjadi US$ 48,44 juta.

Menurut Robertus, prospek kinerja BUMI sangat bergantung pada pemulihan harga batubara dunia. Namun, kini harga komoditas tersebut masih dalam tren pelemahan.

Kemarin, harga batubara dunia kontrak pengiriman Juli 2019 di ICE Futures berada di level US$ 77 per metrik ton. Bahkan, pada 5 Juni lalu, harganya merosot ke level terendah tahun ini, yakni US$ 73,50 per metrik ton.

Analis menyebut, manajemen emiten saham batubara ini perlu mengantisipasi kondisi tersebut. "Yang paling mudah dilakukan adalah menaikkan volume produksi sambil berharap harga batubara global pulih," kata Robertus, Selasa (11/6).

Seiring peningkatan produksi, BUMI diharapkan juga mampu menjual batubara dalam jumlah yang lebih besar. Upaya ini dapat mengompensasi penurunan harga jual yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Robertus menganalisa, produksi Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha BUMI, bisa mencapai 59 juta-60 juta metrik ton di tahun ini. Sementara produksi batubara Arutmin, tambang BUMI lainnya, mencapai 27 juta-28 juta metrik ton. "Gabungan kapasitas produksi tahunan saat ini dapat menempatkan BUMI sebagai produsen batubara terbesar di Indonesia," tambah dia.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Todd Showalter juga menargetkan, volume penjualan BUMI bisa naik 12,9% menjadi 91 juta metrik ton. "Volume ini akan menghasilkan pertumbuhan EBITDA hingga 15% jadi US$ 668 juta," tulis dia dalam risetnya.

Selain itu, perpanjangan kontrak izin tambang sekaligus konversi menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) untuk KPC dan Arutmin pada semester I-2019 bisa menjadi sentimen positif.

Utang BUMI

Robertus juga meyakini proses pembayaran cicilan utang yang dilakukan BUMI tidak akan mengganggu aktivitas bisnis emiten tersebut. Justru, hal ini bisa mengembalikan profitabilitas perusahaan pada tahun ini.

Awal April lalu, BUMI mengumumkan telah melakukan pembayaran utang untuk cicilan kelima dengan nilai US$ 19,85 juta. Dengan demikian, BUMI telah membayar utangnya sebesar US$ 239,39 juta secara tunai.

Robertus masih merekomendasikan beli BUMI dengan target harga Rp 400 per saham. Setali tiga uang, Showalter juga memberi menyarankan beli dengan target harga Rp 250 per saham. Rekomendasi serupa juga diberikan analis Panin Sekuritas William Hartanto, dengan target harga Rp 133 per saham.

HRTA | Hartadinata Abadi Tingkatkan Produksi Kalung Emas


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hartadinata Abadi Tbk berencana meningkatkan utilitas atau tingkat keterpakaian mesin produksi hingga sebesar 35% sepanjang tahun ini. Target utamanya adalah meningkatkan produksi kalung emas.

Pasalnya, sejauh ini produksi kalung emas Hartadinata paling sedikit jika dibandingkan dengan produk emas lain. Selain itu, produksi kalung emas menggunakan mesin sehingga tidak memerlukan banyak tenaga kerja.

Sasaran peningkatan utilitas produksi adalah pabrik Sapphire. Kebetulan tingkat utiltasnya paling rendah ketimbang tiga pabrik lain, yakni baru mencapai 11% dengan rata-rata produksi 118 kilogram (kg) per bulan.

Informasi saja, rata-rata tingkat utilitas dari empat pabrik Hartadinata per akhir tahun lalu mencapai 31,6% dengan rata-rata produksi 789 kg per bulan. Padahal, total kapasitas produksi pabrik mereka sebesar 2.500 kg per bulan.

Manajemen Hartadinata mengaku, sudah sejak lama ingin meningkatkan utilitas pabrik. Masalahnya, mereka tak bisa serta-merta memacu produksi. Maklum, penjualan emas dalam bentuk perhiasan layaknya produk fashion yang mesti mempertimbangkan selera pasar. Adapun kekuatan bisnis perhiasan emas pada desain produk.

Pada kenyataannya, persaingan bisnis perhiasan emas cukup ketat. Maka dari itu demi memikat hati konsumen, Hartadinata bakal mendesain rantai kalung yang paling banyak digemari. "Kami tidak mau persaingan head to head, kami harus memiliki identitas sendiri," tutur Sandra Sunarto, Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk, saat paparan publik, Selasa (11/6).

Ekspansi gerai

Hingga Juni 2019, Hartadinata memproduksi rata-rata 800 kg perhiasan emas per bulan. Lewat peningkatan utilitas produksi tahun ini, emiten berkode saham HRTA di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut berharap jangkauan pemasaran pun turut meluas.

Hartadinata menyapa pasar ritel melalui gerai bernama Aurum Collection Centre (ACC). Target jumlah gerai tahun ini sebanyak 50 unit, sedangkan tahun 2020 mencapai 100 gerai. Saat ini, jumlah gerai ACC sebanyak 32 unit.

Selain ekspansi sendiri, Hartadinata juga menggandeng Matahari Department Store. Model ekspansi tersebut lebih hemat dari sisi investasi.

"Secara geografis, Matahari juga memiliki cakupan market yang baik dengan jaringan outlet sangat besar," ungkap Sandra.

Analisa Saham GIAA, EXCL dan TPIA

Analisa Saham GIAA, EXCL dan TPIA

1. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA)

Saham GIAA berpeluang melanjutkan pelemahan ke area 370 sebelum kembali naik dengan konfirmasi indikator stochastic yang mulai turun ke area oversold. Buy on weakness dapat dilakukan saat area support tercapai.

Rekomendasi: Buy on weakness
Support: Rp 350
Resistance: Rp 550

Anthonius Edyson, Astronacci International

2. PT XL Axiata Tbk (EXCL)

Muncul three black crows pattern candle pada saham EXCL dengan stochastic berada di area jenuh beli dan volume perdagangan menurun. Namun, indikator MA5 berpotensi golden cross.

Rekomendasi: Sell on strength
Support: Rp 2.860
Resistance: Rp 3.070

Achmad Yaki, BCA Sekuritas

3. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA)

Saham TPIA rebound dari lower line bollinger dengan tweezer bottom candle untuk menguji resist MA20 sekaligus resist bearish channel.

Rekomendasi: Buy
Support: Rp 4.980
Resistance: Rp 5.150

Muhammad Wafi, Bahana Sekuritas

Analisa Saham PGAS, PZZA dan TKIM

Analisa Saham PGAS, PZZA dan TKIM

*PGAS, Daily (2000) 

(RoE: 3.47%; PER: 13.06x; EPS: 153.12; PBV: 1.02x; Beta: 1.9):* Pergerakan harga telah berhasil menyentuh beberapa garis MA 10 dan MA 20 sehingga peluang terjadinya rebound terbuka lebar. “Akumulasi Beli” pada area level 1980 – 2000, dengan target harga secara bertahap di 2090 dan 2120. Support: 1980 & 1950.

*PZZA, Daily (1110) 

(RoE: 12.43%; PER: 20.72x; EPS: 53.56; PBV: 2.59x; Beta: N/A):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish inside bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. Akumulasi Beli” pada level 1105 – 1115, dengan target harga secara bertahap di 1140 dan 1160. Support: 1090.

*TKIM, Daily (11450) 

(RoE: 14.55%; PER: 12.98x; EPS: 880.04; PBV: 1.9x; Beta: 0.8):* Terlihat pola bearish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan harga saham. “Partial Sell” pada area level 11450 – 12000, dengan target harga secara bertahap di level 11000 dan 10300. Resistance: 12000 & 12100.

Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta

Analisa Saham GIAA, GJTL dan LPKR

Analisa Saham GIAA, GJTL dan LPKR

*GIAA, Daily (420) 

(RoE: 3.19%; PER: 9.82x; EPS: 45.00; PBV: 0.31x; Beta: 0.67):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area level 414 – 424, dengan target harga secara bertahap di level 430, 442, 470 dan 498. Support: 414 & 406.

*GJTL, Daily (665) 

(RoE: 10.98%; PER: 3.44x; EPS: 193.08; PBV: 0.38x; Beta: 2.24):* Pergerakan harga telah berhasil menyentuh garis MA 10 sehingga peluang terjadinya rebound terbuka lebar. “Akumulasi Beli” pada area level 655 – 665, dengan target harga secara bertahap di level 675, 690 dan 700. Support: 645 & 635.

*LPKR, Daily (314) 

(RoE: 0.66%; PER: 37.10x; EPS: 8.68; PBV: 0.25x; Beta: 0.9):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. Akumulasi Beli” pada level 310 – 314, dengan target harga secara bertahap di 324, 368 dan 412. Support: 304.

Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta

Analisa Saham ACES, UNVR, BBRI dan ASII

Analisa Saham ACES, UNVR, BBRI dan ASII


MNC Daily Scope Wave
12 Juni 2019

IHSG ditutup menguat tipis 0,26% ke level 6,305. Kami memperkirakan IHSG masih berpotensi terkoreksi membentuk wave iv sekaligus menutup gap yang ada pada level 6,210-6,255, sebelum melanjutkan penguatannya ke wave v dengan target 6,450.
Support: 6,150, 6,220
Resistance: 6,330, 6,450

ACES - Buy on Weakness (1,790)
Posisi ACES saat ini kami perkirakan sedang membentuk wave (iv) dari wave [c], dimana ACES berpotensi terkoreksi ke arah 1,720. Selanjutnya ACES akan menguat kembali untuk membentuk wave (v) dari wave [c]. 
Buy on Weakness: 1,680-1,720
Target Price: 1,850, 1,920
Stoploss: below 1,670

UNVR - Buy on Weakness (44,300)
UNVR saat ini diperkirakan sedang membentuk wave [ii] dari wave C, dimana UNVR akan terkoreksi terlebih dahulu ke arah 43,175 sebelum menguat kembali untuk membentuk wave [iii].
Buy on Weakness: 42,850-43,175
Target Price: 45,775, 46,850
Stoploss: below 41,500

BBRI - Sell on Strength (4,230)
Posisi BBRI kami perkirakan sudah berada pada akhir wave (c) dari wave [b]. BBRI berpotensi terkoreksi membentuk wave [c] dan menutup gap-gap yang ada, dengan target koreksi minimal berada pada 3,860.
Sell on Strength: 4,230-4,310

ASII - Sell on Strength (7,625)
Saat ini ASII masih berpotensi menguat untuk membentuk wave v dari wave (c) dari wave [b]. Akan tetapi bila wave tersebut sudah terkonfirmasi maka ASII rawan terkoreksi.
Sell on Strength: 7,625-7,900

Disclaimer On

Analisa Saham TINS | Buy on Breakout


TINS menguji area resisten kuat di 1200 yang sebelumnya merupakan area support. Jika TINS mampu kembali ke atas level 1200, terbuka ruang kenaikan bagi saham ini menuju 1430 dengan minor target 1325. Jika momentum kenaikan dapat dipertahankan, maka besar peluang tins untuk bergerak bullish jangka menengah dengan target awal di 1520. MACD yang meningkan menunjukkan saham ini bergerak positif.

Rekomendasi: Buy jika break 1200. Stoploss level 1100.

Disclaimer ON

by GaleriSaham

Analisa Saham TLKM dan BSDE

Analisa Saham TLKM dan BSDE

(Baca Juga : Memahami ShortSelling)

TLKM

TLKM telah mencapai Resistance area dari level previous High di sekitar 4050-4110. Berhubung esok hari juga adalah tanggal ex deviden dari TLKM, we believe it’s best to Sell on Strength.Support pertama adalah menutup gap di angka 3930, menyusul MA50 & Fibonacci retracement 38.2% di sekitar 3840.  

Rekomendasi
Sell On Strength,  
Exit Level: 4050-4110; 
Target: 3930/3840; 
Stoploss: 4150

BSDE 

BSDE dipercaya telah menemui Resistance yang cukup mumpuni di titik High kemarin 1435. Cicil jual sudah boleh dilakukan sampai level 1485. Support terdekat adalah MA50 & menutup gap di angka 1350, disusul retracement 38.2% di level 1320, kemudian MA10 & FR50 di sekitar 1280.

Rekomendasi
Sell On Strength, 
Exit Level: 1435-1485; 
Target: 1350-1320 / 1280; 
Stoploss : 1520

Henan Putihrai Sekuritas

Bandarmologi Saham SSIA, TINS, BEST, ANTM dan ERAA

Bandarmologi Saham SSIA, TINS, BEST, ANTM dan ERAA


Wednesday (12/06/2019) New Early BIRD Technical & Bandarmology Prespectives (Dr Cand., Edwin Sebayang, CSA®., CIB®-MNC Sekuritas)

IDX Composite 6,253 - 6,346
SUMMARY: STRONG BUY

11 TECHNICAL INDICATORS:
RSI (14): BUY
STOCH (9,6): BUY
MACD(12,26): SELL
ATR (14): LESS VOLATILITY
ADX (14): BUY
CCI (14): BUY
HIGHS/LOW (14): BUY
VO: BUY
ROC: BUY
WILLIAMS R: OVERBOUGHT
BULLBEAR (13): BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER  ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION


STOCKS PICK:

SSIA 620 - 725
TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION


TINS 1125 - 1205
TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION


BEST 262 - 294
TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION


ANTM 765 - 840
TECHNICAL INDICATORS: NEUTRAL

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION


ERAA 1195 - 1430
TECHNICAL INDICATORS: BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION (Dr Cand. ES, CSA®., CIB®-MNCSek/Disc On) For more info www.mncsekuritas.id

Analisa Saham SSIA, RALS dan INCO

Analisa Saham SSIA, RALS dan INCO


SSIA (Buy) : Target kenaikan harga pada level 645 kemudian 665 dengan support di level 600, cut loss jika break 580.

RALS (Buy) : Target kenaikan harga pada level 1.780 kemudian 1.830 dengan support di level 1.660, cut loss jika break 1.615.

INCO (Buy) : Target kenaikan harga pada level 2.870 kemudian 2.940 dengan support di level 2.730, cut loss jika break 2.660.

Full report bisa diakses di : ipot