Saham INDF | Saham Indofood Tetap Bisa Diakumulasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) pada penutupan perdagangan Senin (18/11) mencapai harga tertingginya sejak 2 Oktober 2017 atau lebih dari dua tahun terakhir.
Kendati sudah naik, saham ini dinilai masih cocok diakumulasi.
Selasa (19/11) kemarin, harga saham INDF merosot tipis 0,31% ke Rp 7.950 per saham. Terjadi 2.119 transaksi yang melibatkan 3,96 juta saham senilai Rp 31,23 miliar.
Meskipun begitu, jika dihitung sejak awal bulan November ini, harga saham INDF masih positif, dengan kenaikan sebesar 3,25% dari harga akhir Oktober 2019, yakni Rp 7.700 per saham.
Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony berpendapat, secara valuasi, fundamental saham INDF memang tergolong murah. Hal tersebut terlihat dari price to earning ratio (PER) saham ini per perdagangan kemarin yang sebesar 14,88 kali.
Sedangkan kemarin, PER saham INDF turun ke 14,83 kali. Mengutip RTI, PER sektor barang konsumer jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 31,42 kali. Sebagai informasi, INDF memiliki earning per share (EPS) alias laba bersih per saham Rp 536.
Di samping itu, menurut Chris, kenaikan harga saham ini juga didorong oleh kinerja keuangan Indofood per September 2019 yang ciamik. Indofood berhasil membukukan kenaikan pendapatan 5,6% secara tahunan menjadi Rp 57,85 triliun dari Rp 54,74 triliun.
Adapun dari segi bottom line, perusahaan ini mencatatkan pertumbuhan laba 25% dari Rp 2,82 triliun menjadi Rp 3,53 triliun. "Secara pendapatan terlihat tidak terlalu signifikan, tetapi perusahaan lebih efisien sehingga laba bersihnya dapat tumbuh 25%," ucap Chris, Selasa (19/11).
Ke depan, Chris melihat, Indofood sebagai perusahan induk akan mencatatkan pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi lagi. "Hal ini didukung faktor harga crude palm oil (CPO) yang kembali menguat," kata dia. Oleh karena itu, ia merekomendasikan buy saham INDF dengan target harga Rp 8.500 per saham.
Saham HRTA | Hartadinata Bidik Pertumbuhan Penjualan 25% di 2020
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan manufaktur dan perdagangan perhiasan emas PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menawarkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2019.
Nilai pokok obligasi tersebut sebesar Rp 600 miliar dan jatuh tempo pada Desember 2024.
Dalam prospektusnya, manajemen Hartadinata mengatakan, hasil dari penawaran umum tersebut akan dialokasikan untuk peningkatan utilisasi keempat pabrik Hartadinata. Kegiatan tersebut mencakup pembelian bahan baku, biaya sumber daya manusia, biaya overhead pabrik, serta biaya lain yang berhubungan dengan kegiatan usaha.
Direktur Keuangan Hartadinata Abadi Deny Ong mengatakan, perusahaan menargetkan bisa mencapai utilisasi pabrik hingga 75% di tahun 2024. Adapun, saat ini utilisasi pabrik sudah mencapai 39%. Dengan kondisi tersebut, pabrik Hartadinata memproduksi 800 kilogram-900 kilogram emas per bulan.
Dus, tahun 2020, perusahaan ini menargetkan bisa mencapai pertumbuhan pendapatan sekitar 20%-25%. "Tetapi ini kalau penerbitan obligasi terealisasikan," kata Deny, Selasa (19/11). Jika batal menerbitkan obligasi, target pertumbuhan sekitar 12%-15% dari tahun 2019.
Adapun kuartal III-2019, Hartadinata mengantongi hasil penjualan Rp 2,4 triliun. Jumlah ini naik 12,15% dari Rp 2,14 triliun di kuartal III-2018 (year on year). Hartadinata juga berhasil membukukan laba bersih periode berjalan yang tumbuh 14,86% dari Rp 101,95 miliar menjadi Rp 117,1 miliar.
Sejatinya, perusahaan mengalokasikan dana utilisasi setelah hasil obligasi untuk membayar utang ke PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp 142,5 miliar. Namun, apabila obligasi tidak terealisasikan perusahaan belum akan melunasi utang tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan September, utang Hartadinata kepada BNI Rp 285 miliar akan jatuh tempo 15 September 2020. Selain itu, dana hasil penawaran obligasi akan digunakan untuk penyertaan modal dalam bentuk pinjaman ke anak perusahaan sebesar Rp 120 miliar. Salah satunya untuk menambah gerai baru di usaha gadai.
Saham BTEL | RUGI BAKRIE TELECOM TURUN JADI Rp302 MILIAR HINGGA SEPTEMBER 2019
IQPlus, (20/11) - PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatat rugi neto yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp302,53 miliar hingga periode 30 September 2019 turun tajam dari rugi neto Rp823,11 miliar di periode sama tahun sebelumnya.
Laporan keuangan perseroan Rabu menyebutkan, pendapatan usaha neto turun menjadi Rp2,62 miliar dari Rp2,85 miliar dan beban usaha turun menjadi Rp14,10 miliar dari Rp15,39 miliar dan rugi usaha tercatat turun menjadi Rp11,48 miliar dari rugi usaha Rp12,55 miliar tahun sebelumnya.
Perseroan mencatat peningkatan beban keuangan menjadi Rp403,28 miliar dari beban keuangan tahun sebelumnya yang Rp139,93 miliar dan laba selisih kurs diraih Rp112,52 miliar dari rugi kurs Rp699,93 miliar tahun sebelumnya dan beban lain-lain neto tercatat turun menjadi Rp291,05 miliar dari beban lain-lain neto tahun sebelumnya yang Rp839,78 miliar.
Rugi sebelum beban pajak penghasilan turun menjadi Rp302,53 miliar dari rugi sebelum beban pajak penghasilan tahun sebelumnya yang Rp823,11 miliar. Total aset perseroan mencapai Rp714,13 miliar hingga 30 September 2019 naik tipis dari total aset Rp713,51 miliar hingga periode 31 Desember 2018. (end)
Saham DEAL | BEI CERMATI POLA TRANSAKSI SAHAM DEWATA FREIGHINTERNASIONAL
IQPlus, (20/11) - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati pola transaksi saham PT Dewata Freight Internasional Tbk (DEAL) karena telah mengalami penurunan harga saham yang signifikan yang diluar kebiasaan (UMA).
Menurut keterangan BEI disebutkan informasi terakhir mengenai perusahaan pada 13 November 2019 terkait pencatatan saham yang dipublikasikan di website bursa.
Investor diminta memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa dan mengkaji kembali rencana aksi korporasi perseroan yang belum mendapatkan persetujuan RUPS.
Harga saham DEAL pada 8 November 2019 masih berada di level Rp2.090 per lembar dan terus turun hingga berada di posisi Rp488 per lembar pada penutupan Selasa (19/11) kemarin.
Sementara itu BEI pada perdagangan Rabu ini kembali memperdagangkan saham Terregra Asia Energy setelah disuspen pada 19 November lalu.(end)
Saham BNGA | CIMB NIAGA SALURKAN KREDIT Rp191,7 TRILIUN DI KUARTAL III-2019
IQPlus, (20/11) - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) mencatat penyaluran kredit yang disalurkan sebesar Rp191,7 triliun hingga kuartal III-2019. Adapun pencapaian tersebut tumbuh sebanyak 4,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
"Sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp190,3 triliun dengan rasio CASA sebesar 53,67 persen," ungkap Direktur Strategy and Finance CIMB Niaga Lee Kai Kwong, seperti dikutip Rabu.
Dengan total aset sebesar Rp262,8 triliun per 30 September 2019, ia menambahkan, CIMB Niaga mempertahankan posisinya sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia dari sisi aset. Selain itu, CIMB Niaga melaporkan perolehan laba bersih konsolidasi (tidak diaudit) sebesar Rp2,68 triliun, menghasilkan earnings per share (EPS) Rp107,4.
Di luar one-off expense sebesar Rp359 miliar yang berasal dari biaya untuk Program Purna Karya Sukarela (PPKS) yang dilaksanakan pada kuartal ketiga 2019, laba bersih Business As Usual (BAU) CIMB Niaga naik 13,7 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp2,95 triliun.
Lee Kai Kwong menambahkan pendapatan operasional naik sebesar 6,8 persen yoy utamanya dikontribusikan oleh pendapatan non-bunga atau Non Interest Income (NoII) dan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang masing-masing tumbuh 12,1 persen yoy dan 5,1 persen yoy.
"Kami menerapkan kedisiplinan dalam pengelolaan biaya operasional untuk menekan cost to income ratio. Dalam kondisi pasar yang masih menantang, biaya provisi meningkat 6,8 persen yoy dengan rasio Loan Loss Coverage (LLC) berada di level yang aman sebesar 111,86 persen," pungkasnya. (end/ba)
Analisa Saham AALI: New waves coming through
Analisa Fundamental
AALI mencatatkan pendapatan 3Q19 sebesar Rp3,9 triliun (-10,1% QoQ; -58,0% YoY), sehingga membawa pendapatan di 9M19 tercatat sebesar Rp12,4 triliun (-10,0% YoY) inline dengan estimasi (PANS: 42,3%; Cons: 45,1%, rata-rata 5 tahun: 71,5%). Penurunan ini disebabkan oleh penurunan dari harga jual CPO seiring dengan penurunan harga komoditas CPO global sementara volume penjualan CPO tercatat meningkat pada 9M19 menjadi 1,3 juta ton (+16,8% YoY). Laba bersih AALI pada 3Q19 tercatat sebesar Rp67 miliar (+857,1% QoQ; -90,4% YoY) membawa laba bersih pada 9M19 menjadi Rp111 miliar (-90,1% YoY) dibawah estimasi (PANS: 17,3%; Cons: 19,6%, rata-rata 5 tahun: 55,7%). Hal ini disebabkan oleh kombinasi dari: (1) tekanan dari gross margin (2) kenaikan biaya pendanaan menjadi Rp252 miliar (+50,0% YoY) seiring dengan meningkatnya net gearing ratio ke level 0,29x (9M18: 0,23X) serta (3) kerugian selisih kurs menjadi Rp25 miliar (9M18: keuntungan selisih kurs Rp103 miliar). Kami menaikan proyeksi untuk rerata harga global CPO pada 2020F di level MYR2.450 (+16%) sehingga laba bersih pada 2020 kami revisi naik ke Rp988 miliar (+41,7%). Berdasarkan kombinasi dari rata-rata PB 5 tahun terakhir (implied PB 1,6x di 2020) dan 20% implied PB premium to peers (implied PB 1,1x di 2020) kami menaikkan target harga ke Rp 13.700 (implied PB 1,3x di 2020) dari target harga sebelumnya di Rp9.500, didorong oleh: (1) potensi kenaikan harga CPO global didorong oleh kenaikan permintaan dan penurunan produksi CPO Indonesia yang menyebabkan penurunan persediaan CPO global (2) lahan terbesar dibandingkan dengan peers, serta (3) FFB yield terbesar diantara peers.
Pendapatan inline dengan estimasi. AALI mencatatkan pendapatan 3Q19 sebesar Rp3,9 triliun (-10,1% QoQ; -58,0% YoY), sehingga membawa pendapatan di 9M19 tercatat sebesar Rp12,4 triliun (-10,0% YoY) inline dengan estimasi (PANS: 42,3%; Cons: 45,1%, rata-rata 5 tahun: 71,5%). Penurunan ini disebabkan oleh penurunan dari harga jual CPO seiring dengan penurunan harga komoditas CPO global. Sementara, volume penjualan CPO tercatat meningkat pada 9M19 menjadi 1,3 juta ton (+16,8% YoY).
Produksi mengalami penurunan. Berkebalikan dengan peningkatan volume penjualan, volume produksi tercatat mengalami penurunan di 9M19, dengan volume produksi FFB dan CPO turun menjadi 3,8 juta ton (-11,9% YoY) dan 1,3 juta ton (-12,2% YoY) secara berurutan. Penurunan ini disebabkan oleh: (1) cuaca kemarau yang berkepanjangan serta (2) aktivitas replanting sebesar 5.899 ha (+165,5% YoY).
Laba bersih dibawah estimasi. Laba bersih AALI pada 3Q19 tercatat sebesar Rp 67 miliar (+857,1% QoQ; -90,4% YoY), membawa laba bersih pada 9M19 menjadi Rp111 miliar (-90,1% YoY) dibawah estimasi (PANS: 17,3%; Cons: 19,6%, rata-rata 5 tahun: 55,7%). Hal ini disebabkan oleh: (1) tekanan dari gross margin (2) kenaikan biaya pendanaan menjadi Rp 252 miliar (+50,0% YoY) seiring dengan meningkatnya net gearing ke level 0,29x (9M18: 0,23X) serta (3) kerugian selisih kurs menjadi 25 miliar (9M18 keuntungan selisih kurs: Rp103 miliar).
Harga jual diekspektasikan meningkat di 4Q19. Selama 9M19, harga rata-rata CPO global tercatat sebesar MYR2.050/ton (-7,8% YoY). Penurunan terjadi disebabkan dari oversupply yang masih terjadi. Namun, kami melihat adanya potensi peningkatan ASP AALI di 4Q19 tercermin dari rerata harga CPO global yang sekarang mencatatkan rerata harga di atas rerata harga 9M19.
Menaikkan estimasi laba di 2020. Hal ini didorong oleh (1) kenaikan permintaan CPO global dari peningkatan program B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia serta (2) potensi penurunan produksi di Indonesia disebabkan oleh kebakaran hutan dan pengurangan penggunaan pupuk yang disebakan oleh murahnya harga jual CPO, dimana hal ini akan berdampak pada penurunan persediaan global. Berdasarkan hal ini, kami menaikan proyeksi untuk rerata harga global CPO pada 2020F di level MYR2.450 (+16%) sehingga laba bersih pada 2020 kami revisi naik ke Rp988 miliar (+41,7%)
Rekomendasi:
Merekomendasikan BUY, menaikan target harga ke Rp13.700. Berdasarkan kombinasi dari rata-rata PB 5 tahun terakhir (implied PB 1,6x di 2020) dan 20% implied PB premium to peers (implied PB 1,1x di 2020) kami menaikkan target harga ke Rp13.700 (implied PB 1,3x di 2020) dari target harga sebelumnya di Rp9.500. Hal ini didorong oleh: (1) potensi kenaikan harga CPO global didorong oleh kenaikan permintaan dan penurunan produksi CPO Indonesia yang menyebabkan penurunan persediaan CPO global (2) lahan terbesar dibandingkan dengan peers; (3) FFB yield terbesar diantara peers.
Best Regards,
Panin Sekuritas
Rekomendasi Saham Mirae Asset Sekuritas | CPIN, UNTR, MAIN
Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
(November 20, 2019)
(tasrul@miraeasset.co.id)
IHSG Daily, 6,152.09 (+0.48%), consolidation, trading range 6,139 – 6,169. Indikator MFI optimized , W%R optimized dan indikator RSI optimized masih cenderung mulai bergerak bergerak naik. Pada periode weekly indikator MFI optimized ,indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized sudah berada di oversold area namun belum terlihat tanda-tanda bottom reversal yang signifikan. Daily support di 6,139 dan resistance di 6,169. Cut loss level di 6,076.
CPIN Daily, 7,150 (+2.88%) buy on weakness, trading range 7,075 – 7,350. Indikator MFI optimized, indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized masih cenderung naik. Daily support di 7,075 sementara itu daily resistance di 7,350. Cut loss level di 6,650.
UNTR Daily, 22,450 (+2.51%), buy on weakness, trading range 22,050 – 22,650. indikator MFI optimized dan indikator W%R optimized mulai terbatas, dan RSI optimized mulai bergerak naik, Daily support di 22,050 sementara itu daily resistance di 22,650. Cut loss level di 21,650.
MAIN Daily , 1,060 (+0.95%), buy on weakness, trading range 1,040 – 1,090. Indikator MFI optimized, W%R optimized dan indikator RSI optimized sudah mulai bergerak naik. Perkiraan daily support di 1,040 dan weekly resistance di 1,090. Cut loss level di 1,020.
Rekomendasi Saham IPOT | LSIP, SIMP, CPIN
IHSG (6.125-6.175) : Indeks harga saham gabungan diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat. Target kenaikan indeks pada level 6.175 kemudian 6.205 dengan support di level 6.125 dan 6.100.
LSIP (Buy) : Target kenaikan harga pada level 1.345 kemudian 1.380 dengan support di level 1.280, cut loss jika break 1.250.
SIMP (Buy) : Target kenaikan harga pada level 370 kemudian 376 dengan support di level 358, cut loss jika break 352.
CPIN (Buy) : Target kenaikan harga pada level 7.350 kemudian 7.550 dengan support di level 6.950, cut loss di level 6.750.
XIJI (Buy) : Target kenaikan harga pada level 706 kemudian 715 dengan support di level 687, cut loss di level 678.
XPES (Buy) : Target kenaikan harga pada level 435 kemudian 440 dengan support di level 425, cut loss di level 419.
XISI (Buy) : Target kenaikan harga pada level 347 kemudian 351 dengan support di level 339, cut loss di level 336.
Full report bisa diakses di : https://r.ipot.id/?g=r/t/3c7nog
Analisa Saham LPCK dan SMGR
Saham LPCK
Daily (Rp1.210) (RoE: 5,09%; PER: 7,78x; EPS: 155,58; PBV: 0,10x; Beta: 1,62). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat tweezer bottom candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp1.200-1.220, dengan target harga secara bertahap di level Rp1.290, 1.420, 1.525, 1.970, 2.410 dan 2.860. Support: Rp1.080.
Baca juga: Mengenal Indikator Bollinger Bands
Saham SMGR
Daily (Rp12.425) (RoE: 3,01%; PER: 76,08x; EPS: 164,34; PBV: 2,31x; Beta: 1,65). Pergerakan harga saham telah menguji garis MA-120 sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp12.300-12.500, dengan target harga secara bertahap di level Rp13.125 dan 13.850. Support: Rp11.850 dan 11.675.
Baca juga: Menggunakan Candlesticks untuk Analisa Saham
PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama
Analisa Saham TLKM dan HMSP
Saham TLKM
Daily (Rp4.020) (RoE: 18,20%; PER: 18,15x; EPS: 221,44; PBV: 3,30x; Beta: 0,54). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola bullish pin bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp3.970-4.030, dengan target harga secara bertahap di level Rp4.130, 4.210 dan 4.530. Support: Rp3.890.
Baca juga: Cara Baca Bollinger Bands
Saham HMSP
Daily (Rp2.060) (RoE: 39,44%; PER: 17,53; EPS: 116,95; PBV: 6,92x; Beta: 0,92). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp2.050-2.070, dengan target harga di level Rp2.200, 2.270, 2.440 dan 2.570. Support: Rp1.980.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick Saham
PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama
Analisa Saham UNVR dan JPFA
Saham UNVR
Daily (Rp42.800) (RoE: 88,88%; PER: 44,28x; EPS: 966,60; PBV: 39,51x; Beta: 0,73). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat bullish engulfing line candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp42.100-42.800, dengan target harga secara bertahap di level Rp43.350 dan 47.625. Support: Rp41.500.
Baca juga: Cara Mengetahui Saham Akan Naik Atau Turun
Saham JPFA
Daily (Rp1.690) (RoE: 12,67%; PER: 14,05x; EPS: 118,87; PBV: 1,78x; Beta: 3,01). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat bullish engulfing line candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp1.600-1.690, dengan target harga secara bertahap di level Rp1.715, 1.750, 1.780 dan 1.910. Support: Rp1.600 dan 1.560.
Baca juga: Pengertian Bullish Reversal
PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama
Analisa Saham ELSA dan INCO
Saham ELSA
Daily (Rp304) (RoE: 9,04%; PER: 7,03x; EPS: 43,52; PBV: 0,64x; Beta: 0,44). Pergerakan harga saham telah menguji garis MA-10 sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp302-306, dengan target harga secara bertahap di level Rp316, 356 dan 384. Support: Rp296.
Baca juga: Pengertian PER
Saham INCO
Daily (Rp3.300) (RoE: 0,01%; PER: 10956,52x; EPS: 0,31; PBV: 1,25x; Beta: 1,15). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola white opening bozu candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli.
Rekomendasi:
"Akumulasi Beli" pada kisaran Rp3.270-3.300, dengan target harga secara bertahap di level Rp3.450, 3.640, 3.890, 4.460 dan 5.050. Support: Rp3.180.
Baca juga: Cara Melakukan Analisa Fundamental Saham
PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama
Analisa Saham BBNI dan BBTN
Saham BBNI
Setelah bertahan di support 7200, saham BBNI mulai rebound dan bergerak naik menembus keatas minor down trend resistance line di level 7500. Apabila bertahan diatas 7500, terbuka potensi bagi saham ini untuk melanjutkan reboundnya menuju target di level 8075, dengan minor target di 7750. Indikator teknikal MACD mulai berbalik arah dan diharapkan mampu golden cross lagi, sehingga dapat menjadi sentimen positif bagi saham ini. Nantinya jika BBNI mampu terus melanjutkan penguatannya dan menerobos ke atas level 8075, maka saham ini akan mengkonfirmasi terbentuknya pola bullish reversal inverted head & shoulder pattern, dengan target teoritis menuju 9450 dalam jangka menengah.
Rekomendasi:
Buy selama bertahan diatas 7500. Batasi resiko jika kembali bergerak turun ke bawah 7200, karena akan membatalkan terbentuknya pola inverted head & shoulder pattern.
https://step-trader.com/2019/11/19/time-to-move-on-for-bbni/
Baca juga: Mengenal Indikator MACD
Saham BBTN
BBTN berbalik arah. BBTN memulai reboundnya dengan membentuk pola bullish double bottoms. Pola ini menandakan bahwa BBTN berpeluang melanjutkan uptrendnya menuju kisaran 2200-2250. Naiknya volume transaksi dalam tiga hari terakhir berpeluang mendukung kenaikan BBTN terus berlanjut, bukan sekadar pemberi harapan palsu (PHP).
Rekomendasi:
Buy target awal di 2200-2250.
http://www.doktermarket.com/2019/11/bbtn-rebound-php-atau-bukan.html
Baca juga: Pengertian Bullish dan Bearish
Langganan:
Postingan (Atom)

















