MYOR | Jadwal Mayora Indah Bagi Dividen Rp29 per Saham

(Baca juga: Sell On Strength)

Bisnis.com, JAKARTA - PT Mayora Indah Tbk. akan membagikan dividen tunai dari laba tahun buku 2018 kepada pemegang saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bisnis Indonesia pada Senin (24/6/2019), emiten produsen makanan dan minuman ini akan menebar dividen senilai Rp29 per saham.

Tanggal terakhir perdagangan saham dengan hak dividen alias cum dividen saham MYOR di pasar reguler dan negosiasi pada 28 Juni 2019.

Sedangkan, cum dividen di pasar tunai pada 2 Juli 2019. Pada tanggal yang sama akan dilakukan recording date yang berhak atas dividen.

Selanjutnya, awal pembayaran dividen tunai pada 24 Juli 2019.

Pada penutupan perdagangan Jumat (21/6/2019), saham MYOR parkir di level Rp2.510 per saham, melemah 0,79% atau turun 20 poin.

Apabila investor membeli saham pada harga tersebut, maka potensi yield dividen sekitar 1,16%.

PPRE | PP Presisi (PPRE) Realisasikan 44 Persen Target Kontrak Baru 2019


Bisnis.com, JAKARTA — PT PP Presisi Tbk. telah mengantongi nilai kontrak baru Rp2,2 triliun sampai dengan Mei 2019 atau sekitar 44% dari target yang dibidik tahun ini.

Bambang Suyitno, Investor Relation PP Presisi menuturkan perseroan telah mendapatkan sejumlah kontrak baru sepanjang Januari 2019—Mei 2019.

Pekerjaan itu di antaranya berasal dari jalan tol Indrapura—Kisaran Rp1,2 triliun, jalan tol Tebing Tinggi—Kisaran Seksi 3 ruas Lima Puluh—Kisaran Rp400 miliar, Trans South Java Lot 9: Balekambang—Kedungsalam, Malang Rp175 miliar, dan Patimban Port: Cement Deep Mixing Rp94 miliar.

“Hingga akhir Mei 2019 nilai kontrak baru Rp2,2 triliun,” ujarnya kepada Bisnis.com, Minggu (23/6/2019).

Dengan nilai kontrak baru tersebut, emiten berkode saham PPRE itu telah merealisasikan sekitar 44% target 2019. Total kontrak baru yang dibidik tahun ini sekitar Rp5 triliun hingga Rp6 triliun.

Sebagai catatan, entitas anak PT PP (Persero) Tbk. itu bergerak di bidang konstruksi terintegrasi berbasis alat berat. PPRE menyediakan jasa konstruksi dari tujuh lini bisnis yakni civil work, ready mix, foundation, formwork, erector, jasa pertambangan terintegrasi, dan penyewaan alat berat.

Beberapa waktu lalu, Manajemen PPRE mengerek proyeksi laba bersih tahun ini menjadi Rp600 miliar. Awalnya, perseroan menargetkan dapat mengantongi Rp428,8 miliar pada 2019.

Pada kuartal I/2019, PPRE mengantongi pendapatan Rp867,26 miliar. Realisasi itu tumbuh 39,02% dari Rp623,81 miliar per akhir Maret 2019.

Dari situ, perseroan membukukan laba bersih Rp92,15 miliar pada kuartal I/2019. Pencapaian tersebut naik 54,64% dari Rp59,59 miliar periode yang sama tahun lalu.

ASII | Mei 2019, Penjualan Mobil Astra International (ASII) Masih Lesu

(Baca juga: StopLoss dalam Saham)

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja penjualan mobil PT Astra International Tbk. sepanjang Mei 2019 masih melesu.

Adapun sepanjang Mei 2019, emiten berkode saham ASII tersebut menjual 45.147 unit mobil, catatan tersebut lebih rendah 7,33% dibandingkan dengan catatan penjualan mobil pada tahun sebelumnya yakni 48.720 unit mobil.

Sementara itu, dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penjualan mobil ASII lebih rendah 4,98% dengan penjualan yang tercatat 47.516 unit.

Selain itu, penguasaan pasar atau market share pada Mei 2019 mengalami penurunan menjadi 54% dari bulan sebelumnya yang tercatat menguasai pasar penjualan mobil sebesar 57%.

Head of Investor Relation Astra International Tira Ardianti menjelaskan bahwa penjualan yang lebih rendah pada Mei 2019 dibandingkan dengan tahun lalu disebabkan oleh faktor libur Lebaran yang sebelumnya pada tahun lalu dampaknya terjadi pada Juni.

“Selain itu situasi politik di Mei 2019 saya rasa ada dampaknya. Kegiatan bisnis kan ikut terganggu dengan adanya demonstrasi hasil Pilpres yang lalu,” ujarnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan bahwa pada semester I/2019, banyak faktor yang mempengaruhi pasar otomotif dalam negeri.

Menurutnya, sepanjang periode tersebut daya beli masyarakat masih melemah dan tren penurunan harga komoditas yang juga turut berpengaruh terhadap pasar otomotif dalam negeri.

“Faktor tersebut turut berpengaruh selain situasi politik yang membuat orang dan perusahaan mengambil sikap wait and see dan belum berani belanja,” jelasnya.

Pada periode berikutnya, Tira mengungkapkan bahwa perseroan masih sulit untuk memprediksi kondisi pasar otomotif dalam negeri.

Pasalnya, makroekonomi global hingga saat ini masih menunjukkan ketidakpastian dan volatilitas harga komoditas juga masih menjadi perhatian perseroan yang perlu diwaspadai.

“Kami hanya bisa berharap situasinya membaik, tetapi kalaupun ada pertumbuhan, rasanya tidak akan jauh melampaui pertumbuhan gdp [gross domestic product] juga,” imbuhnya.

Selain itu, di tengah melemahnya segmen bisnis otomotif ASII, dia belum dapat memastikan segmen bisnis lainnnya yang dimiliki oleh Astra yang akan dijadikan tulang punggung dalam meningkatkan kinerja perseroan.

“Masih terlalu dini untuk saya sampaikan, karena situasinya dinamis, semua akan tergantung dengan daya beli konsumen dan tren harga komoditas,” pungkasnya.

LEAD | Logindo Samudramakmur (LEAD) Kantongi Kontrak Baru US$11,4 Juta


Bisnis,com, JAKARTA — PT Logindo Samudramakmur Tbk. berhasil mengantongi kontrak baru senilai US$11,4 juta sepanjang Mei 2019.

Sekretaris Perusahaan Logindo Samudramakmur Adrianus Iskandar mengatakan bahwa kontrak baru tersebut merupakan kontrak yang diperbarui dari anak usaha PT Pertamina (Persero) yakni PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

“Ini untuk kontrak 28 kapal dengan periode kontrak antara 6 bulan sampai dengan 3 tahun,” ujarnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan bahwa hingga saat ini, emiten berkode saham LEAD tersebut tengah mengikuti tender dengan PHM untuk perpanjangan kontrak-kontrak lama.

Namun, Adrianus belum dapat menyebut nilai estimasi kontrak-kontrak yang sedang diburu oleh perseroan.

“Kontribusi [pendapatan] dari PHM hingga Juni 2019 ini sekitar 50%,” jelasnya.

Adapun utilisasi armada kapal LEAD hingga Juni 2019 telah mencapai 60% dengan harapan hingga periode semester I/2019 berakhir, utilisasi armada dapat mencapai di atas 60%.

Catatan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan utilisasi armada kapal LEAD pada tahun sebelumnya yang tercatat 57%.

“Target utilisasi sampai sekitar 80%, utilisasi tahun ini lebih tinggi karena lebih banuak kapal yang bekerja untuk PHM,” jelasnya.

Dalam laporan sebelumnya, LEAD telah berhasil mendapatkan kontrak baru untuk penyewaan dua buah kapal senilai US$6 juta.

Adrianus menjelaskan bahwa kontrak tersebut untuk jenis kapal accomodation barge yang digunakan untuk akomodasi pekerja kilang minyak dan kapal anchor handling tug supply (AHTS) yang digunakan untuk menarik kapal atau rig.

“Kontraknya 1+1, satu tahun kontrak bisa di-extend satu tahun lagi,” katanya.

Kedua kapal tersebut, kata Andrianus, beroperasi pada April 2019 di perairan sekitar kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta.

Selain kontrak baru, perseroan tengah mengejar untuk kontrak-kontrak lama yang telah habis pada akhir tahun lalu. Andrianus mengatakan bahwa saat ini perseroan tengah melakukan tender kembali dengan perusahaan dalam kontrak tersebut.

Adapun, dalam kontrak lama tersebut kapal milik LEAD yang disewakan yakni berjenis landing craft transport (LCT), crew boat, anchor handling tug (AHT), tug boat, dan utility boat.

“Sekarang kontrak kami, nilai kontrak sekitar US$21, bisa lebih besar pada kontrak baru,” ungkapnya.

WIKA | Sepanjang Tahun 2019, WIKA Bidik Perolehan Kontrak Baru Senilai Rp 61,74 Triliun

(Baca juga: Pola Akumulasi Saham)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang tahun ini, PT Wijaya Karya Tbk mengincar perolehan kontrak baru sebesar Rp 61,74 triliun. Untuk mewujudkan target itu, emiten bersadi WIKA yang masuk anggota indeks Kompas100 ini, membidik sejumlah proyek besar, baik di dalam negeri maupun mancanegara.

Tahun lalu, emiten berkode saham WIKA di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mampu membukukan pertumbuhan kontrak baru sebanyak 19,23% atau mencapai sekitar Rp 50,56 triliun. Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk, Mahendra Vijaya mengemukakan, sampai dengan Mei 2019, WIKA telah membukukan kontrak baru sebesar Rp 13,4 triliun. "Dari proyek pemerintah sekitar Rp 5 triliun. Sisanya dari swasta dan luar negeri," kata dia kepada KONTAN, Minggu (23/6).

Mahendra menjelaskan, untuk proyek luar negeri, Wijaya Karya telah memperoleh kontrak sebesar Rp 600 miliar. Salah satu perolehan kontrak itu berupa proyek hunian bersubsidi di Aljazair.

Berdasarkan catatan KONTAN, Wijaya Karya mendapatkan kepercayaan untuk menangani proyek pembangunan 700 unit dan 1.000 unit hunian bersubsidi di Baraki dan El Harrach, Aljazair. Selain Baraki dan El Harrach, WIKA dipercaya membangun 1.250 unit logement di Ain Defla dan 1.250 unit logement di Khemis Miliana.

Dengan demikian, hingga akhir tahun ini, WIKA masih harus memperoleh sekitar Rp 48,34 triliun kontrak anyar. Manajemen Wijaya Karya sudah menyiapkan strategi agar target tersebut bisa terealisasi. Menurut Mahendra, untuk mencapai target itu, WIKA bakal fokus mengincar proyek di badan usaha milik negera dan pihak swasta.

Jika dibeberkan, dari total Rp 61,74 triliun target perolehan kontrak WIKA, memang mayoritas berasal dari proyek swasta yakni sebanyak 29,73%, porsi perolehan kontrak dari BUMN sebesar 29,62%, dan proyek investasi internal WIKA sebesar 24,17%.

Sementara itu, porsi proyek dari pemerintah hanya sebesar 16,48%. Untuk proyek infrastruktur, khususnya proyek jalan tol, Mahendra mengharapkan, pada kuartal II-2019 setidaknya Wijaya Karya bisa mengantongi kontrak senilai Rp 12 triliun.

"Selain itu, ada beberapa proyek investasi di sektor energi dan ketahanan energi yang juga bakal berkontribusi terhadap kontrak WIKA sekitar Rp 15 triliun di kuartal II-2019," ungkap Mahendra.

Adapun sepanjang tahun lalu, WIKA membukukan kontrak baru sebesar Rp 50,56 triliun. Beberapa segmen berkontribusi terhadap perolehan kontrak WIKA yakni infrastruktur dan gedung sebesar Rp 41,15 triliun, diikuti segmen industri sebesar Rp 6,46 triliun dan energi dan industrial plant sebesar Rp 1,79 triliun. Sedangkan kontrak baru di segmen properti mencapai Rp 1,17 triliun.

Tahun ini, WIKA membidik pendapatan bisa mencapai sekitar Rp 42 triliun atau tumbuh 30% dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp 31,15 triliun. Sampai kuartal I 2019, WIKA telah memperoleh pendapatan sebesar Rp 6,5 triliun, atau hanya naik 4% daripada periode yang sama tahun lalu. Tapi laba bersih emiten ini melonjak menjadi Rp 341,34 miliar di kuartal I-2019. Padahal di kuartal I-2018, laba bersih WIKA mencapai Rp 171,22 miliar.

Untuk melancarkan rencana bisnis di sepanjang tahun ini, manajemen WIKA telah menyiapkan belanja modal senilai Rp 16,64 triliun. Selain untuk mendukung ekspansi bisnis di luar negeri, alokasi dana belanja modal tersebut diperuntukan bagi penambahan aset tetap, penyertaan modal, serta pengembangan usaha di bidang properti gedung, infrastruktur dan energi dan industrial plant.

ADRO - INDY | Ketika Harga Batubara Terus Merosot, Produsen Tetap Pertahankan Target Produksi


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga akhir semester pertama tahun ini, belum ada tanda-tanda Harga Batubara Acuan (HBA) menggeliat. Tren penurunan HBA terus berlanjut sejak September tahun lalu. Meski berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, para produsen batubara tetap mempertahankan target produksi tahun ini.

Untuk menyiasati agar kinerja tak terganggu, para produsen sibuk meningkatkan efisiensi. Salah satu produsen yang fokus melakukan efisiensi adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO), emiten yang masuk anggota indeks Kompas100. Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Tbk, Febrianti Nadira mengemukakan, dengan melaksanakan efisiensi, Adaro tetap menargetkan produksi 54 juta ton hingga 56 juta ton batubara di sepanjang tahun ini.

"Kami masih optimistis bisa mencapai panduan yang ditetapkan dengan terus menjalankan efisiensi dan keunggulan operasional di seluruh rantai bisnis Adaro," kata Febrianti kepada KONTAN.

Selama Januari hingga Juni tahun ini, rata-rata HBA ada di kisaran US$ 87,82 per ton. Angka itu itu turun 8,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang ada di US$ 96,49 per ton.

Direktur PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava menilai, HBA saat ini masih berada dalam kisaran yang terukur. "Ini tak seburuk April 2016," ungkap dia.

Direktur Keuangan PT ABM Investama Tbk (ABMM) Adrian Erlangga juga menyebutkan, efisiensi menjadi faktor kunci untuk menyiasati pelemahan pasar batubara pada tahun ini.

Dia bilang, penurunan harga komoditas pasti akan memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan batubara. "Apalagi dalam enam bulan pertama tahun lalu, harga batubara berada di puncak. Sedangkan enam bulan pertama di tahun ini sudah turun sehingga jauh berbeda," ungkap dia.

Menurut Adrian, dampak harga ke kinerja tergantung pada kesiapan produsen dalam melakukan mitigasi risiko berupa efisiensi atau penurunan biaya dalam operasional. Namun, penurunan biaya memang tidak bisa dilakukan secepat penurunan harga yang di luar kendali perusahaan.

ABMM juga tak akan mengubah target volume produksi dan penjualan batubara pada tahun ini. "Mungkin margin kami lebih kecil," kata dia.

Hingga kuartal pertama tahun ini, kinerja ABM Investama memang masih tertekan oleh tren penurunan harga. Selama tiga bulan pertama di tahun ini, ABMM membukukan pendapatan sebesar US$ 144,90 juta, turun 21,49% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 184,56 juta.

Sementara Head Of Corporate Communication PT Indika Energy Tbk (INDY) Leonardus Herwindo menyebutkan, INDY tidak akan mengubah target volume produksi dan penjualan batubara. "Yang kami lakukan saat ini adalah fokus pada efisiensi dan perbaikan proses secara berkesinambungan," kata dia. INDY mencoba mengerek porsi domestik dan mengembangkan penjualan di luar pasar China untuk mengimbangi fluktuasi harga yang tinggi.

Realisasi Produksi Batubara Masih Rendah

REALISASI produksi batubara nasional masih rendah. Hingga pertengahan Juni, Indonesia baru memproduksi 175,8 juta ton batubara atau 35,94% total target produksi batubara 2019 yang sebesar 489,12 juta ton.

Ketua Indonesian Mining Institute (IMI), Irwandy Arif menilai, rendahnya realisasi produksi antara lain akibat melemahnya harga batubara hingga akhir semester I 2019. Para produsen mengharapkan produksi batubara mulai terlihat menggeliat ketika memasuki semester II 2019.

Di sisi lain, menurut Irwandy, dengan mempertimbangkan sejumlah faktor seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta pengurangan impor di India dan China, harga batubara pada tahun ini berpotensi bergerak di rentang US$ 60-US$ 80 per ton. Proyeksi itu lebih rendah dibandingkan rata-rata harga batubara acuan (HBA) tahun lalu yang sebesar US$ 98,96 per ton.

"Apabila nafsu untuk menaikkan produksi dapat dikontrol dengan perencanaan jangka panjang, harga batubara masih akan bertahan pada rentang tersebut, paling tidak sampai akhir tahun ini," kata Irwandy. Senior Research Asia Tradepoint Futures, Cahyo Dewanto memprediksi, harga rata-rata batubara di semester pertama tahun ini akan berada di angka US$ 74,66 per ton.

TBLA | MESKI LABA MENURUN, TUNAS BARU LAMPUNG TETAP BAGIKAN DIVIDEN


IQPlus, (24/06) - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp133,55 miliar dari total perolehan laba bersih tahun buku 2018.

Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Deputy President Director PT Tunas Baru Lampung Tbk, Sudarmo Tasmin di Jakarta, Jumat.

"RUPST sepakati pembagian dividen sebesar Rp133,55 miliar atau setara Rp25 untuk tiap sahamnya," ucapnya.

Sedangkan, sekitar Rp500 juta dari laba bersih 2018 akan ditetapkan perseroan sebagai dana cadangan. "Sisa dari laba bersih akan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional yang dimasukkan ke dalam pos saldo laba," tambah Sudarmo.

Di sepanjang tahun 2018 lalu, perseroan mencatat penurunan laba bersih sebesar 22,14% atau menjadi Rp757,74 miliar dari tahun 2017 sebesar Rp973,19 miliar. Turunnya laba bersih seiring merosotnya pendapatan sekitar 4,01% menjadi Rp8,61 triliun dari tahun sebelumnya Rp8,97 triliun.

Padahal, TBLA mampu menekan beban pokok penjualan sebesar 4,75% menjadi Rp6,31 triliun dari tahun sebelumnya Rp6,62 triliun. Meski begitu, nilai aset perseroan naik sebanyak 13,83% menjadi Rp16,34 triliun per akhir Desember 2018. (end/fu)

TBLA | TUNAS BARU LAMPUNG TARGETKAN PRODUKSI CPO TAHUN INI TUMBUH 15%

(Baca juga: Mengenal PBV)

IQPlus, (24/06) - PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), mengincar pertumbuhan produksi minyak sawit mentah (CPO) di tahun ini sekitar 15% dari realisasi produksi sepanjang tahun lalu yang mencapai 375 ribu ton.

"Pertumbuhan produksi CPO kami di 2019 sebanyak 15%. Tahun ini kami akan ada kenaikan dibandingkan 2018, jika melihat curah hujan yang saat ini cukup mendukung," kata Deputi Presiden Direktur PT Tunas Baru Lampung Tbk, Sudarmo Tasmin di Jakarta, Jumat.

Ia mengaku optimistis di tahun ini pihaknya bakal meningkatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang lebih positif dibanding tahun lalu. "Kami melihat kans lebih baik tahun ini. Kalau di awal Semester I-2019 ini, harga jual CPO memang masih segitu saja," imbuhnya.

Akan tetapi, Sudarmo mengatakan kalau harga CPO akan membaik pada kuartal IV 2019, lantaran banyak analis memproyeksikan bahwa secara industri akan terjadi penurunan produksi dan peningkatan demand.

"Pada fase ini akan terjadi keseimbangan harga, apalagi program B20 sukses dan B30 sedang dipersiapkan lagi," imbuhnya.

Sudarmo juga bahwa di tahun ini pihaknya tengah melaksanakan rencana pembangunan pabrik baru di Sumatera Selatan yang memakan waktu pengerjaan selama 1,5-2 tahun. Nantinya, pabrik kelapa sawit (PKS) ini akan mampu memproduksi sebanyak 45 tom per jam dan bisa ekspansi menjadi 95 ton per jam.

Sementara itu, pada 2018 lalu TBLA mampu memproduksi biodiesel sebanyak 138 ribu ton atau meningkat signifikan dibanding 2017 yang hanya 50 ribu ton. Nah untuk tahun ini, produksi biodiesel perseroan bisa mendekati 200 ribu ton.

Adapun hasil produksi 2019 tersebut nantinya akan dijual ke PT Pertamina (Persero) dan sebagian lagi bakal di ekspor ke China yang sudah dilakukan sejak Kuartal keempat tahun lalu.

"Saat ini kami tengah menjajaki pasar Thailand, dan diharapkan dapat mendongkrak porsi ekspor perseroan," tutur Sudarmo.

Nah, guna mendukung target pertumbuhan bisnis tersebut, disebutkan Sudarmo kalau di tahun ini TBLA mengalokasikan dana belanja modal sekitar Rp600-Rp700 miliar, yang bersumber dari kas internal perseroan. (end/fu)

SRIL | Pembagian Dividen Sri Rejeki Isman


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) akan membagikan dividen Rp 3 per saham dari laba tahun buku 2018. Emiten tekstil ini akan membagikan total Rp 61,36 miliar atau US$ 4,24 juta dividen kepada pemegang saham.

Berdasarkan pengumuman Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), berikut jadwal pembagian dividen SRIL:

Cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi: 26 Juni 2019
Ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi: 27 Juni 2019
Cum dividen di pasar tunai: 28 Juni 2019
Ex dividen di pasar tunai: 1 Juli 2019
Recording date: 28 Juni 2019
Pembayaran dividen: 19 Juli 2019

Pembagian dividen ini telah mengantongi restu rapat umum pemegang saham tahunan SRIL pada 18 Juni 2019 lalu. Dividen ini sebesar 5,01% dari laba bersih tahun lalu yang mencapai US$ 84,56 juta. Sri Rejeki Isman akan menggunakan 20% laba atau sebesar US$ 16,91 juta sebagai dana cadangan. SRIL akan menggunakan sisa laba sebesar US$ 63,41 juta sebagai laba ditahan.

Dengan harga saham SRIL pada Jumat (21/6) yang ada di Rp 336 per saham, maka yield dividen SRIL sebesar 0,89%.

Analisa Saham BBNI, JSMR dan WOOD

Analisa Saham BBNI, JSMR dan WOOD

(Baca juga: Pola Distribusi Saham)

Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
June 24, 2019
(tasrul@miraeasset.co.id)

IHSG Daily, 6,315.44(-0.32%), Test Resistance at 6,342. indikator MFI optimized. dan indicator RSI  optimized cenderung konsolidasi. Sementara pada periode weekly ,indikator MFI optimized  dan indikator RSI optimized  juga masih cenderung naik. Daily resistance terdekat di 6,342 dan support di 6,281. Cut loss level di 6,230.

BBNI Weekly,  8,850 (+4.21%), trading buy, trading range 8,500 – 8,050 . indikator MFI optimized dan indicator W%R optimized masih cenderung bergerak naik. Weekly support 8,750 dan resistance di 8,950. Cut loss level di 8,300.

JSMR Weekly , 5,850 (+2.63%), trading buy, trading range 5,700 – 6,125. indikator MFI optimized dan W%R optimized masih cenderung naik. Weekly support  di 5,800 sementara itu weekly resistance  di  6,125. Cut loss level di 5,650.

WOOD  Daily , 870(+0.58%), trading buy, trading range 1,000 – 1,120. Indikator MFI optimized masih cenderung naik dan indkator W%R optimized akan menguji support trend line. Perkiraan weekly support di 850 an weekly resistance di 940. Cut loss level di 840.

Rekomendasi Saham TemanTrader | 24 Juni 2019

(Baca juga: Saham)

Secara teknikal index masih uptrend karena harga penutupan Jumat masih berada diatas level support 6285-6190-6149. Index masih akan bergerak terkonsolidasi di area 6259 – 6334.

Sektor BASIC-IND MINING dan AGRI mulai tunjukkan penguatan untuk kejar ketinggalan dari sektor lain yang sudah naik diatas IHSG seperti PROPERTY dan FINANCE.sehingga pergerakan saham saham utamanya bisa diperhatikan kembali.

Tone dan Manner perdagangan hari ini  : Index Terkonsolidasi di Rentang Lebar 6257 – 6334 Tunggu Katalis Positif
Potensi Pergerakan Index : 6229 - 6395

Beberapa saham yang perlu diperhatikan hari ini :

Swing Trade/Trend Following :  ESSA JSKY MYRX TPIA    (cross over MA20 kemarin)

Fast Trade  :  APLN ISAT ARMY BBKP TARA BTPS LUCK LPKR JSKY CTRA MYRX BEEF HOKI         ( hanya berlaku hari ini)

by TemanTrader

Analisa Saham LSIP dan ANTM

Analisa Saham LSIP dan ANTM

LSIP


LSIP saat ini bergerak menguat di fase akhir konsolidasinya. Jika saham ini mampu menembus dan bertahan di atas resisten 1165 kembali, terbuka ruang kenaikan menuju resisten utama di 1265. Kemampuan LSIP melampaui level 1265 akan membuka fase tren baru bagi LSIP dimana terdapat target kenaikan di 1405 dengan minor target 1315. MACD yang meningkat menunjukkan saham ini bergerak dalam fase pergerakan positif.

Rekomendasi: Buy. Stoploss level 1110.

ANTM


ANTM berkonsolidasi pasca break out down trend resist linenya di kisaran 760 – 815. Jika saham ini mampu bertahan di atas support 760 dan menguat kembali menembus resisten 815, terbuka ruang kenaikan bagi saham ini menuju 910 dengan minor target 850. Jika momentum kenaikan dapat dipertahankan, target kenaikan selanjutnya ada di level 1065. MACD yang meningkat menunjukkan saham ini berada dalam fase pergerakan positif.

Rekomendasi: Buy. Stoploss level 760.

sumber:
Galeri Saham

Analisa Saham KRAS, WEGE dan WSKT

Analisa Saham KRAS, WEGE dan WSKT


KRAS membentuk pola bullish engulfing yang mengindikasikan penguatan.
Rekomendasi: buy 420 s/d 426, TP 450 s/d 470, stop loss <400 .="" p="">
WEGE menutup perdagangan kemarin dengan posisi tepat berada pada resistance sehingga diperlukan breakout jika ingin mengatakan saham ini akan menguat kembali.
Rekomendasi: buy 344 s/d 350, TP 400, stop loss <320 .="" p="">
WSKT membentuk golden cross MA5 dan MA60 (bagian dilingkari) mengindikasikan sinyal penguatan lanjutan.
Rekomendasi: buy 2000, TP 2200, stop loss <1960 .="" p="">
Panin Sekuritas

Rekomendasi Saham Indosurya Bersinar Sekuritas | 24 Juni 2019


Ipotnews - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan proses kenaikan jangka panjang, lantaran sejauh ini laju indeks masih ditopang oleh berlanjutnya aliran modal masuk ( capital inflow ) ke bursa ekuitas domestik.
Menurut analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas Indonesia, William Suryawijaya, pada pekan ketiga Juni 2019, laju IHSG masih berada di fase konsolidasi wajar. "Namun, saat ini peluang kenaikan IHSG masih cukup besar," kata William, di Jakarta, Senin (24/6).
Dia mengungkapkan, potensi kenaikan IHSG akan ditopang oleh  capital inflow  ke pasar ekuitas dalam negeri secara  year-to-date . "Selain itu, IHSG juga didorong relatif stabilnya fundamental perekonomian," ucap William.
Sebagaimana diketahui, sepanjang 2019 investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp58,992 triliun dan Jumat kemarin investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp366,55 miliar.
William menyatakan, stabilitas perekonomian Indonesia menjadi daya tarik bagi investor asing maupun lokal untuk masuk ke pasar modal. "Hari ini IHSG berpotensi naik," katanya.
Lebih lanjut dia menyebutkan, saat ini IHSG memiliki support terdekat yang akan berupaya dipertahankan pada level 6.257, sedangkan target resisten terdekat yang berusaha ditembus ada di posisi 6.488.
Dengan demikian, jelas William, adanya peluang kenaikan pada laju IHSG hari ini bisa direspons pelaku pasar dengan mengakumulasi sembilan saham berikut:
1. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)
2. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)
3. PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)
4. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
5. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)
6. PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB)
7. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
8. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
9. PT Bank Jatim Tbk (BJTM).

Bandarmologi Saham ADHI, CTRA, HOKI, ACES dan PZZA

Bandarmologi Saham ADHI, CTRA, HOKI, ACES dan PZZA


Monday (24/06/2019) New Early BIRD Technical & Bandarmology Prespectives (Dr Cand., Edwin Sebayang, CSA®., CIB®-MNC Sekuritas)

IDX Composite 6,258 - 6,351
SUMMARY: STRONG BUY

11 TECHNICAL INDICATORS:
RSI (14): BUY
STOCH (9,6): BUY
MACD(12,26): BUY
ATR (14): LESS VOLATILITY
ADX (14): BUY
CCI (14): BUY
HIGHS/LOW (14): BUY
VO: BUY
ROC: BUY
WILLIAMS R: OVERBOUGHT
BULLBEAR (13): BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER  ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION


STOCKS PICK:

ADHI 1,695 - 1,755
TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION


CTRA 1,115 - 1,220
TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION


HOKI 715 - 765
TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION


ACES 1,750 - 1,820
TECHNICAL INDICATORS: STRONG BUY

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION


PZZA 1,060 - 1,125
TECHNICAL INDICATORS: STRONG SELL

BANDARMOLOGY:
TOP 5 BROKER ACCUMULATED
PERIODE (10 DAYS): DISTRIBUTION

NET BUY SELL ASING:
PERIODE (10 DAYS): ACCUMULATION (Dr Cand. ES, CSA®., CIB®-MNCSek/Disc On) For more info www.mncsekuritas.id

Analisa Saham INTP, MAIN dan SHIP

Analisa Saham INTP, MAIN dan SHIP


1. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), Daily (Rp20.250) (RoE: 6,64%; PER: 46,32x; EPS: 429,12; PBV: 3,06x; Beta: 1,62). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis tengah  bollinger  dan terlihat pola  bullish hammer candle  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp19.700-20.250, dengan target harga secara bertahap di level Rp20.525, 20.950 dan 21.500. Support: Rp19.700 dan 19.200.

2. PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), Daily (Rp1.055) (RoE: 17,77%; EPS: 166,08; PER: 6,41x; PBV: 1,16x; Beta: 1,51). Sebelumnya terlihat  bullish harami candlestick pattern  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan saham. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp1.045-1.055, dengan target harga secara bertahap di level Rp1.080, 1.160, 1.240 dan 1.315. Support: Rp1.040 dan 1.005.

3. PT Sillo Maritime Indonesia Tbk (SHIP), Daily (Rp815) (RoE: 10,36%; PER: 15,15x; EPS: 54,14; PBV: 1,58x; Beta: N/A). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis tengah  bollinger  dan terlihat pola  upward bar  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp810-820, dengan target harga secara bertahap di level Rp835, 855 dan 885. Support: Rp810 dan 800.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama

Analisa Saham ISAT, INCO dan ELSA

Analisa Saham ISAT, INCO dan ELSA


ISAT (Buy) : Target kenaikan harga pada level 2.390 kemudian 2.550 dengan support di level 2.000, cut loss jika break 1.810.

INCO (Buy) : Target kenaikan harga pada level 3.020 kemudian 3.090 dengan support di level 2.870, cut loss jika break 2.810.

ELSA (Buy) : Target kenaikan harga pada level 376 kemudian 384 dengan support di level 360, cut loss jika break 352.

Full report bisa diakses di : ipot

Analisa Saham ADRO, BBNI dan HMSP

Analisa Saham ADRO, BBNI dan HMSP


1. PT Adaro Energy Tbk (ADRO), Daily (Rp1.225) (RoE: 10,54%; PER: 5,87x; EPS: 211,32; PBV: 0,62x; Beta: 1,65). Indikator MACD menunjukkan sinyal positif sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp1.210-1.230, dengan target harga secara bertahap di level Rp1.250, 1.280, 1.300, 1.320 dan 1.450. Support: Rp1.210 dan 1.190.

2. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Daily (Rp8.850) (RoE: 13,71%; PER: 10,04x; EPS: 881,20; PBV: 1,37; Beta: 1,91). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis tengah  bollinger  dan terlihat  bullish homing pigeon candlestick pattern  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp8.750-8.850, dengan target harga di level Rp9.025, 9.125, 9.225 dan 9.625. Support: Rp8.650 dan 8.525.

3. PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), Daily (Rp3.250) (RoE: 31,96%; PER: 29,47x; EPS: 113,00; PBV: 9,42x; Beta: 0,87). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis tengah  bollinger  dan terlihat pola  upward bar  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp3.180-3.260, dengan target harga secara bertahap di level Rp3.320, 3.380 dan 3.440. Support: Rp3.180 dan 3.150.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama