Saham PGAS | PGN Alami Penurunan Kinerja Q3 2019


PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), baru saja merilis hasil kinerja keuangan untuk periode kuartal III 2019. Hasilnya, emiten anggota indeks Kompas100 ini mencatatkan penurunan kinerja.

Pendapatan Perusahaan Gas Negara sepanjang kuartal III 2019 tercatat sebesar US$ 2,81 miliar, atau turun tipis 2,68% dari pencapaian periode sebelumnya yakni sebesar US$ 2,88 miliar.

Pendapatan terbesar disumbang oleh pendapatan dari distribusi gas yang mencapai US$ 2,18 miliar, disusul oleh penjualan minyak dan gas neto sebesar US$ 292,08 juta pendapatan transmisi gas senilai US$ 181,13 juta, dan pemprosesan gas senilai US$ 80,93 juta.

Pendapatan neto dari pelanggan yang melebihi 10% dari jumlah pendapatan neto konsolidasian adalah pendapatan dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), masing-masing sebesar US$ 382,69 juta atau 14% dari total pendapatan kuartal ketiga 2019.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan juga ikut terkerek menjadi US$ 1,92 juta, atau naik 0,4% dibandingkan beban pokok pada periode sebelumnya yang sebesar US$ 1,91 juta.

Beban lain yang tercatat mengalami kenaikan adalah beban distribusi dan transmisi menjadi US$ 192,22 juta serta beban keuangan sebesar US$ 127,12 juta.

Sehingga, pada kuartal III 2019 emiten yang juga dikenal dengan nama PGN ini membukukan laba sebesar US$ 176,45 juta. Angka ini merosot 40,57% jika dibandingkan dengan pencapaian kuartal III 2019 dimana PGAS berhasil membukukan laba bersih periode berjalan sebesar US$ 296,90 juta.

Sementara, jumlah aset Perusahaan Gas Negara tercatat 7,32 miliar. Jumlah ini terdiri atas liabilitas sebesar US$ 4,04 miliar dan ekuitas sebesar US$ 3,27 miliar.

Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/laba-perusahaan-gas-negara-pgas-tergerus-4057-di-kuartal-iii-2019

Saham EXCL | PT XL Axiata Tbk Kembangkan Skema USO


PT XL Axiata Tbk (EXCL) terus melanjutkan pembangunan jaringan telekomunikasi dan data di daerah-daerah terpencil melalui skema universal service obligation (USO) di tahun 2019 ini.

Direktur Teknologi EXCL Yessie D. Yosetya mengatakan, pihaknya telah menganggarkan belanja modal sekitar Rp 150 miliar untuk membangun sekitar 289 jaringan USO. Saat ini, EXCL telah membangun 64 tower.

Dengan skema USO ini, EXCL bekerja sama dengan pemerintah. Biaya operasional selama lima tahun akan ditanggung oleh pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). "Selama lima tahun revenue milik kita. Sehingga tidak membebani keuangan XL," jelas Yessie, Senin (28/10).

Adapun tantangan teknis yang dihadapi XL dalam pembangunan di daerah yang belum memiliki jaringan adalah soal transportasi. Sehingga dalam proses pembangunannya, selain penyediaan tower XL juga menanggung biaya transportasi.

Yessie menambahkan, XL Axiata telah membangun titik BTS USO di 51 kabupaten.  Sebagian besar di antaranya ada di Kawasan Tengah dan Timur Indonesia, termasuk Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua.

Pembangunan jaringan USO di titik-titik tersebut telah mulai dilaksanakan sejak Oktober 2019 dan akan tuntas sebelum akhir tahun ini. XL Axiata merupakan operator telekomunikasi pertama yang on air jaringan USO di 2019. Seluruh 289 BTS USO yang dibangun merupakan BTS 4G.

Langkah XL Axiata untuk membangun jaringan USO tidak akan berhenti di tahun ini saja. XL Axiata berharap akan bisa melanjutkannya di tahun 2020 di area yang semakin luas.

"Kami sudah ada planning untuk USO. Kami akan melebarkan ke daerah baru, tetapi kalau akhir 2019 kami fokus bangun jaringan 4G. Tahun 2020 kami lihat lagi daerah mana yang akan kami kejar," jelas dia.

Yessie mengatakan, tahun 2020 pihaknya akan membangun sekitar 250 BTS USO. "Tergantung BAKTI, kami lihat dulu, menyesuaikan dengan program juga," imbuh dia.

Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/xl-axiata-excl-menganggarkan-capex-rp-150-miliar-untuk-bts-uso

Saham KKGI | PT Resource Alam Indonesia Tbk Catat Kenaikan Pendapatan 123,34%


Meski harga batubara menurun, PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) mampu mencetak pertumbuhan penjualan dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan kuartal ketiga yang dirilis Jumat (25/10), KKGI mencatat lonjakan pendapatan 123,34% menjadi US$ 80,94 juta dari sebelumnya US$ 36,24 juta.

Lonjakan ini terutama akibat kenaikan ekspor besar-besaran. Penjualan ekspor batubara KKGI mencapai US$ 73,62 juta atau 90,96% dari total pendapatan periode Januari-September 2019. Sisanya adalah penjualan batubara di pasar lokal.

Dari sejumlah negara tujuan ekspor KKGI, hanya penjualan ke Korea dan Bangladesh yang turun. Penjualan ekspor terbesar KKGI adalah di India yang mencapai US$ 32,97 juta, disusul Korea US$ 16,79 juta, China US$ 8,45 juta dan Thailand US$ 8,19 juta.

Lonjakan pendapatan KKGI ini turut menyokong kenaikan laba hingga akhir September 2019. Emiten sektor tambang ini mencatat kenaikan laba 72,73% menjadi US$ 4,18 juta dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 2,42 juta.

Pada akhir September, KKGI memiliki total aset US$ 124,56 juta, meningkat dari US$ 117,26 juta di akhir Desember 2018 lalu. Total liabilitas KKGI pada akhir periode adalah US$ 33,10 juta dengan ekuitas US$ 91,46 juta.

Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/pendapatan-resource-alam-indonesia-kkgi-melejit-123-hingga-kuartal-ketiga

Saham SIDO | Sido Muncul target pertumbuhan minimal sebesar 10%


PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) optimistis dapat mencapai target pertumbuhan minimal sebesar 10% dari sisi penjualan maupun laba bersih tahun ini. Optimisme ini didasari oleh realisasi kinerja perseroan per kuartal III 2019 yang dinilai memuaskan.

“Hingga kuartal III tahun ini, pencapaian kinerja kami masih dalam target yang diharapkan,” kata Leonard, Direktur Keuangan Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul kepada Kontan.co.id, Minggu (27/10).

Sido Muncul memang mencatatkan realisasi kinerja yang positif. Produsen jamu ini mencatat kenaikan laba 20,48% secara tahunan alias year-on-year (yoy) hingga kuartal III 2019. Pada sembilan bulan pertama tahun ini, laba bersih SIDO mencapai Rp 578,44 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp 480,11 miliar.

Capaian ini ditunjang oleh realisasi penjualan Sido Muncul yang juga bertumbuh di kuartal III 2019. Menilik laporan keuangan SIDO yang dirilis Kamis (24/10), emiten ini mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 9,48% secara yoy menjadi Rp 2,12 triliun sepanjang Januari-September 2019.

Sebagian besar penjualan ditopang oleh segmen produk jamu herbal dan suplemen sebesar Rp 1,42 triliun atau setara dengan sekitar 67,09% total penjualan. Selanjutnya, sebanyak 28,56% penjualan SIDO berasal dari segmen makanan dan minuman. Sementara itu, sekitar kurang dari 5% sisanya ditopang oleh penjualan dari segmen farmasi.

Penjualan ekspor mencakup 5%-6% dari total pendapatan. Penjualan ekspor ini berasal dari Filipina, Malaysia, dan Nigeria. Adapun produk-produk yang diekspor meliputi Tolak Angin Cair untuk pasar Filipina serta Kuku Bima Energi untuk pasar Malaysia dan Nigeria.

Rencananya, Sido Muncul akan mempertahankan porsi ekspor sebesar 5%-6% hingga akhir tahun. Sebelumnya, porsi ekspor hanya mencapai 2% dalam total penjualan SIDO.

Sebagai informasi, SIDO telah menyerap belanja modal atawa capital expenditure (capex) sebesar Rp 150 miliar atau sekitar 76% dari capex tahun ini. Menurut keterangan Leonard, sebagian besar serapan capex digunakan untuk keperluan pemeliharaan.

Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/laba-tumbuh-lebih-dari-20-sido-muncul-optimistis-mampu-mencapai-target-tahun-ini

Saham AKRA | AKRA Yakin Bisa Kelola Risiko Walau Laba Anjlok


Distributor petroleum, bahan kimia dasar serta penyedia jasa logistik dan supply chain PT AKR Corporindo Tbk mencatatkan penurunan laba bersih pada kuartal III tahun ini. Ini karena pendapatan perusahaan ini menyusut 10,16% secara tahunan jadi Rp 15,12 triliun.

Pendapatan AKRA turun karena harga jual produk turun. Harga bahan kimia lebih rendah mempengaruhi pendapatan bahan kimia. Sementara pertumbuhan volume sedang. Volume BBM tumbuh 27% secara kuartalan, sementara volume bahan kimia dasar tumbuh 2% secara kuartalan.

Tak hanya itu, Direktur Utama PT AKR Corporindo Tbk Haryanto Adikoesoema menjelaskan, hingga September 2019, AKRA hanya membukukan laba divestasi Rp 4 miliar.

Sedangkan di 2018, AKRA membukukan laba divestasi dari aset anak perusahaan di China Rp 737 miliar. Dus laba bersih perusahaan ini anjlok 56,44% secara year on year (yoy) jadi Rp 565,25 miliar

Meski begitu, Sekretaris Perusahaan AKRA Suresh Vembu berpendapat, pertumbuhan volume masih cukup sehat terutama untuk kebutuhan industri.

"Kami perkirakan volume BBM yang dijual di kuartal IV sama kuatnya meskipun harga lebih rendah. Begitupun dengan volume penjualan kimia dasar, seharusnya lebih tinggi," harap dia, Sabtu (27/10).

AKRA juga mengklaim memiliki manajemen risiko yang efektif sehingga tidak ada risiko kerugian karena fluktuasi harga. Apalagi bisnis kimia dasar berbasis komisi, sehingga risiko fluktuasi harga juga bisa dikelola.

Sumber: https://insight.kontan.co.id/news/laba-anjlok-akra-yakin-bisa-kelola-risiko

Saham BUMI | Penjualan BUMI Mencapai 72,5 Persen dari Target 2019


Emiten pertambangan PT Bumi Resources Tbk. telah menjual batu bara sebanyak 63,1 juta ton sampai dengan kuartal III/2019.

Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan sampai dengan bulan kesembilan perseroan sudah merealisasikan 72,52 persen dari target yang ditetapkan. Pada tahun ini perseroan menargetkan bisa menjual batu bara sekitar 87 juta ton hingga 90 juta ton.

“Kami sudah menjual batu bara sebesar 63,1 juta ton sampai dengan September 2019. Kami berekspektasi tahun ini dapat menjual sekitar minimal 87 juta ton,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini. Sebagai informasi jumlah itu naik 8,34 persen dari realisasi tahun lalu sebesar 80,3 juta ton.

Emiten berkode saham BUMI itu menargetkan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dapat menjual 60 juta ton dan PT Arutmin Indonesia (AI) menjual 28 juta ton hingga 30 juta ton.

Adapun sepanjang September volume penjualan batu bara tercatat sebesar 7,8 juta ton sepanjang. Dileep optimistis pada tahun ini target pertumbuhan bisa terpenuhi.

Terkait ekspor batu bara nasional yang tergerus 7,26 persen sampai dengan kuartal III/2019 versi Badan Pusat Statistik. Menurut Dileep sejauh ini pasar ekspor masih tetap bergeliat bagi Bumi Resources.

Pasalnya, anak usaha Bakrie Group itu menargetkan 70 persen penjualan untuk mengisi pasar domestik sedangkan 30 persen sisanya akan dilempar untuk memenuhi kebutuhan global. Dileep mengatakan setidaknya ada delapan negara ekspor yang menjadi konsumen utama.

“Pasar utama kami adalah India, China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam dan beberapa negara Asia lainnya,” katanya.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2019, emiten berkode saham BUMI itu membukukan pendapatan US$481,35 juta. Pencapaian itu turun 14,15 persen dari US$560,72 juta pada semester I/2018.

Dari situ, BUMI mengantongi laba bersih US$80,67 juta pada semester I/2019. Realisasi tergerus 46,78 persen dari US$151,72 juta periode yang sama tahun lalu.

Sumber: https://market.bisnis.com/read/20191028/192/1163857/kuartal-3-penjualan-bumi-mencapai-725-persen-dari-target-2019

Rekomendasi Saham Mirae Asset Sekuritas | EXCL, ACES, SMRA


Technical Insight by Tasrul (tasrul@miraeasset.co.id)

*IHSG Daily, 6,252 (-1.38%), consolidation, trading range 6,238 – 6,303. Indikator MFI optimized, indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized masih cenderung turun namun mulai tertahan. Sementara pada periode weekly indikator MFI optimized ,indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized masih bergerak naik. Daily support di 6,238 dan resistance di 6,303. Cut loss level di 6,188.

*EXCL Daily  3,390 (-1.74%) trading buy, trading range 3,360 – 3,500. indikator MFI optimized indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized koreksi terbatas. Daily support  di 3,360 sementara itu daily  resistance  di 3,500. Cut loss level  di  3,340.

*ACES Daily  1,810 (+0.84%), trading buy , trading range 1,780 – 1,840. Indikator MFI optimized, indikator W%R optimized dan W%R optimized  masih bergerak naik. Daily support  di 1,780 sementara itu daily resistance  di 1,840. Cut loss level  di  1,760.

*SMRA Weekly, 1,200 (+1.27%), trading buy, trading range 1,140 – 1,280. Indikator MFI optimized , indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized cenderung naik. Perkiraan weekky support di 1,140 dan weekly resistance di 1,280. Cut loss level di 1,110.

Rekomendasi Saham IPOT | GGRM, BMTR, ACES


IHSG (6.205-6.290) : indeks harga saham gabungan diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat. Target kenaikan indeks pada level 6.290 kemudian 6.330 dengan support di level 6.205 dan 6.170.
GGRM (Buy) : Target kenaikan harga pada level 56.450 kemudian 58.650 dengan support di level 53.100, cut loss jika break 51.375.
BMTR (Buy) : Target kenaikan harga pada level 414 kemudian 426 dengan support di level 392, cut loss jika break 382.
ACES (Buy) : Target kenaikan harga pada level 1.820 kemudian 1.830 dengan support di level 1.790, cut loss jika break 1.780.
XPSG (Sell) : Target pelemahan harga pada level 448 kemudian 440 dengan resist di level  464 dan 472.
R-LQ45X (Sell) : Target pelemahan harga pada level 1.012 kemudian 991 dengan resist di level  1.054 dan 1.076.
XMTS (Sell) : Target pelemahan harga pada level 490 kemudian 481 dengan resist di level  509 dan 519.
Akses full report di : https://r.ipot.id/?g=r/e/3c7myw

Rekomendasi Saham Panin Sekuritas | ACES, JPTE, JSMR, SIDO



Daily Technical 28 Oktober 2019

Selamat pagi! Berikut adalah rekomendasi Daily Technical untuk hari ini, Senin 28 Oktober 2019.

IHSG ditutup menurun sebesar -87,30 poin (-1.37%) menuju level 6.252,34 pada perdagangan hari Jumat 25 Oktober 2019 kemarin. Penurunan yang wajar menimbang dari sudah tingginya penguatan IHSG lebih dari sepekan, dan sekaligus menutup gap yang tertinggal pada masa euforia pemilihan menteri. Posisi yang masih bertahan di atas support MA5 menjadi pijakan untuk IHSG yang mana mengindikasikan bahwa masih terbuka peluang untuk rebound.
Hari ini IHSG berpotensi bergerak mixed dalam range 6.220 s/d 6.300.

ACES
Testing Pattern: Menguji kembali pola symmetrical triangle yang pernah terkonfirmasi sebelumnya.
Rekomendasi: Buy 1800 s/d 1810, TP 1880 s/d 1900, stop loss <1750 .="" p="">

JSMR
Sideways Trend: Masih bergerak dalam tren sideways dengan range pada 5500 s/d 6225.
Rekomendasi: Trading range pada 5500 s/d 6225, dengan stop loss pada saat menurun di bawah 5250.

JTPE
Momentum Indicator: Berpotensi membentuk golden cross MA5 dengan MA20 (bagian dilingkari pada gambar) pada 935.
Rekomendasi: Buy 935 s/d 965, TP 1000 s/d 1050, stop loss <900 .="" p="">

SIDO
Technical Pattern: Membentuk pola three white soldiers yang mengindikasikan penguatan lanjutan.
Rekomendasi: Buy 1200 s/d 1225, TP 1300, stop loss <1100 .="" p="">

Semoga bermanfaat, happy trading!

Best Regards,
Panin Sekuritas

Analisa Saham BBRI | Earnings below estimate, but still attractive

BBRI: Earnings below estimate, but still attractive


BBRI mencatatkan laba sebesar Rp8,6 triliun di 3Q19 (+8,4% QoQ; +0,4% YoY) ini setara dengan laba 9M19 sebesar Rp24,8 triliun (+5,3% YoY) dibawah estimasi (PANS: 67,9%; Cons: 66,2%) dimana pertumbuhan laba yang melambat ini lebih disebabkan oleh kenaikan beban provisi ke Rp5,3 triliun (-4,1% QoQ; +63,8% YoY) karena pencadangan 100% untuk segmen korporasi dari Duniatex dan Bosowa. Pertumbuhan kredit sedikit melambat di 3Q19, tercatat sebesar Rp857 triliun, +11,0% YoY (2Q19: +11,3% YoY) karena perlambatan di segmen: (1) consumer (2) small commercial serta (3) SOE. Dana pihak ketiga juga melambat, karena penurunan yang signifikan dari time deposit sejalan dengan kebijakan perseroan untuk menurunkan porsi dari special deposit untuk menjaga cost of fund. Dari kualitas aset, NPL mencatat kenaikan yang signifikan ke 2,9% di 3Q19 (2Q19: 2,3%) disebabkan oleh kenaikan signifikan di segmen korporasi yang naik ke 10,5% (2Q19: 4,8%) karena downgrade yang dilakukan oleh perseroan untuk Duniatex (Rp1,9 triliun) dan Bosowa (Rp3,6 triliun). Sehingga, kami masih merekomendasikan BUY dan menaikan target harga Rp5.000, karena penurunan asumsi risk free rate sebesar 25bps (implied PB 2,7x di 2020), karena: (1) kualitas buku yang akan lebih baik serta cost of credit yang turun kedepannya (2) pertumbuhan kredit dan deposito yang masih lebih tinggi dibandingkan industri (3) ROE & NIM yang membaik pasca penurunan suku bunga dan fokus perusahaan ke high-yield segmen serta (4) ekspansi digital seperti: kerjasama dengan investree serta pinang, masih akan menjadi katalis positif untuk kedepannya.

Laba dibawah estimasi. BBRI mencatatkan net interest income (NII) di 3Q19 sebesar Rp20,6 triliun (+0,7% QoQ; +5,1% YoY) ini membawa NII di 9M19 ke level Rp60,6 triliun (+4,6% YoY), pertumbuhan yang melambat ini disebabkan oleh: (1) kenaikan cost of fund ke 3,63% di 9M19 (9M18: 3,38%) ditengah penurunan tingkat suku bunga serta (2) perlambatan pertumbuhan kredit yang tercatat sebesar Rp857 triliun, +11% YoY (2Q19: 11,3% YoY). Laba tercatat sebesar Rp8,6 triliun di 3Q19 (+8,4% QoQ; +0,4% YoY) ini setara dengan laba 9M19 sebesar Rp24,8 triliun (+5,3% YoY) dibawah estimasi (PANS: 67,9%; Cons: 66,2%) dimana pertumbuhan laba yang melambat ini lebih disebabkan oleh kenaikan beban provisi ke Rp5,3 triliun (-4,1% QoQ; +63,8% YoY) karena pencadangan 100% untuk segmen korporasi dari Duniatex dan Bosowa yang mencatatkan penurunan kualitas aset, namun kami melihat kualitas coverage yang lebih baik karena beban provisi dan cost of credit akan normalisasi kedepannya setelah pencadangan ini.

Perlambatan kredit disebabkan oleh turunnya performa SOE. Pertumbuhan kredit sedikit melambat di 3Q19, tercatat sebesar Rp857 triliun, +11,0% YoY (2Q19: +11,3% YoY) karena: (1) perlambatan segmen consumer yang melambat ke +7,9% (2Q19: +8,7%) karena melambatnya segmen salary based yang relatif flat +2,8% YoY (2) small commercial ke +2,9% (2Q18: +14,5%) serta (3) SOE ke +6,9% (2Q19: +8,2%), tren ini selaras dengan perlambatan kredit di perbankan, karena masih lesunya aktivitas ekonomi serta turunnya aktivitas SOE di tahun politik. Kami melihat perbaikan kredit khususnya di segmen SOE akan meningkat pasca pembentukan kabinet.

Fokus untuk mengurangi dana mahal. Dana pihak ketiga juga melambat, tercatat ke Rp916 triliun, +10,1% YoY (2Q19: +12,9% YoY) karena penurunan yang signifikan dari time deposit yang turun ke Rp370 triliun, +6,6% YoY (2Q19: 15,1% YoY) sejalan dengan kebijakan perseroan untuk menurunkan porsi dari special deposit untuk menjaga cost of fund. Ini juga terlihat dari penurunan komposisi dana pihak ketiga dimana porsi high cost turun ke 40,5% di 3Q19 (2Q19: 41,3%).

NPL naik signifikan dari segmen korporasi. NPL mencatat kenaikan yang signifikan ke 2,9% di 3Q19 (2Q19: 2,3%) disebabkan oleh kenaikan signifikan di segmen korporasi yang naik ke 10,5% (2Q19: 4,8%) karena downgrade yang dilakukan oleh perseroan untuk Duniatex (Rp1,9 triliun) dan Bosowa (Rp3,6 triliun), kebijakan ini juga mengakibatkan SML turun ke 4,5% (2Q19: 4,4%). Namun patut diwaspadai bahwa segmen SOE terus mencatatkan kenaikan tren di SML, tercatat sebesar 4% di 3Q19 (3Q18: 3,05%; 2018: 0,82%).

Kami masih merekomendasikan BUY menaikan TP ke Rp5.000. Kami melihat pasca pencadangan yang signifikan ini akan berdampak terhadap kualitas buku yang lebih baik serta cost of credit yang akan turun, kedepannya sehingga tren laba membaik. Selain itu kombinasi dari: (1) pertumbuhan kredit dan deposito yang masih lebih tinggi dibandingkan industri (2) ROE & NIM yang membaik pasca penurunan suku bunga dan fokus perusahaan ke high-yield segmen serta (3) ekspansi digital seperti: kerjasama dengan investree serta pinang, masih akan menjadi katalis positif untuk kedepannya. Sehingga kami masih merekomendasikan BUY dan menaikan target harga Rp5.000, karena penurunan asumsi risk free rate sebesar 25bps (implied PB 2,7x di 2020). Downside risk dari rekomendasi adalah pertumbuhan kredit yang lebih rendah dari estimasi serta semakin memburuknya kualitas aset.

Best Regards,
Panin Sekuritas

Analisis Saham MEDC | Breakout Lagi, Menuju Resisten Berikutnya

Analisis Saham MEDC


Saham MEDC pada tanggal 25 Oktober 2019 ditutup menguat pada harga 695, naik 2,96%. Hal ini disertai dengan kenaikan volume, yaitu 214% dari hari sebelumnya. Proses akumulasi saham ini terlihat baik.
Berdasarkan indikator Stochastics Slow, saham ini berada pada area pertengahan ke atas.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) terlihat berada di bawah garis 0 dengan kecenderungan naik.

Rekomendasi
TRADING BUY
Target : 730 - 770
Stop Loss : 645

Baca juga analisis sebelumnya:
Saham MEDC | Tarikan Pertama, Apakah Segurih Biasanya?

by Abduh - www.sahamonline.id
Disclaimer ON

Analisa Saham SMBR dan TKIM

Saham SMBR


SMBR menguji area resist line minor di kisaran 660. Jika level ini dapat dilampaui, terbuka ruang bagi SMBR untuk bergerak menguat terbatas menuju 820 (garis kuning). Kedepannya, jika 820 dapat dilampaui maka SMBR berpeluang besar menguat menuju MA200 di 1050 dengan minor target 900. MACD yang meningkat menunjukkan saham ini berada dalam fase pergerakan positifnya.
Rekomendasi: Buy jika break 660. Stoploss level 605.
https://galerisaham.com/smbr-bottom-reversal-buy-jika-breakout/

Saham TKIM


TKIM membentuk pola bullish double bottoms. Pola ini menandakan bahwa jika TKIM mampu menguat menembus resistennya yang menandakan bahwa TKIM berpeluang terus menguat menuju level 12500-13700. Indikator teknikal MACD yang sudah kembali golden cross mendukung potensi kenaikan TKIM.
Rekomendasi: Trading buy kalau naik di atas 11550. Target 12500-13700.
http://www.doktermarket.com/2019/10/tkim-berkonsolidasi-buy-jika-break.html

Rekomendasi Saham Binaartha Parama Sekuritas | AKRA, BBTN, HMSP, LPKR, PWON, WTON


IHSG

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada perdagangan hari ini berpotensi mengalami koreksi wajar, setelah akhir pekan kemarin menyusut signifikan sebesar 1,38 persen ke level 6.252.
Sejauh ini indikator MACD sudah berhasil memasuki area positif, namun indikator Stochastic membentuk pola dead cross di area jenuh beli (overbought).
Terlihat pola bearish engulfing line candlestick yang mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan IHSG , sehingga indeks berpeluang menuju area support.
Saat ini support pertama dan kedua berada di level 6.224 dan 6.207, sedangkan resistance pertama dan kedua berada di posisi 6.313 dan 6.339.

Saham Pilihan

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)

Daily (Rp3.920) (RoE: 7,76%; PER: 20,22x; EPS: 195,38; PBV: 1,57x; Beta: 0,79). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola inverted hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp3.900-3.920, dengan target harga secara bertahap di level Rp4.000, 4.320, 4.640 dan 4.960. Support: Rp3.830 dan 3.680.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)

Daily (Rp2.010) (RoE: 10,32%; PER: 8,08x; EPS: 248,82; PBV: 0,83x; Beta: 1,82). Terlihat bearish counterattack candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi terjadinya aksi profit taking. "Partial Sell" di kisaran Rp2.010-2.030, dengan a target harga di level Rp1.945. Resistance: Rp2.070.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)

Daily (Rp2.170) (RoE: 42,49%; PER: 18,38; EPS: 116,42; PBV: 7,81x; Beta: 0,92). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan masih terlihat pola upward bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp2.070-2.170, dengan target harga di level Rp2.220, 2.440 dan 2.570. Support: Rp2.050.

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR)

Daily (Rp230) (RoE: -10,10%; PER: -1,85x; EPS: -126,52; PBV: 0,19x; Beta: 0,91). Pergerakan harga telah menguji beberapa garis MA-10 dan 20, sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp226-232, dengan target harga secara bertahap di level Rp242, 258, 292 dan 328. Support: Rp222 dan 214.

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)

Daily (Rp610) (RoE: 15,89%; PER: 11,03x; EPS: 56,64; PBV: 1,75x; Beta: 1,51). Pergerakan harga telah menguji beberapa garis MA-10 dan 20, sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp600-620, dengan target harga secara bertahap di level Rp640 dan 680. Support: Rp600 dan 580.

PT Wika Beton Tbk (WTON)

Daily (Rp468) (RoE: 10,30%; PER: 12,32x; EPS: 38,32; PBV: 1,27x; Beta: 1,83). Pergerakan harga saham telah menguji beberapa garis MA-10, 20 dan 60, sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp466-470, dengan target harga secara bertahap di level Rp510, 570, 645, 820 dan 990. Support: Rp430.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama