Kinerja marketing sales Ciputra Development (CTRA) ciamik, ini rekomendasi analis


Pendapatan pra penjualan alias marketing sales PT Ciputra Development Tbk (CTRA) di sembilan bulan pertama 2020 masih sesuai target. Buktinya, hingga September, marketing sales perusahaan properti ini tercatat capai Rp 3,8 triliun.

Analis Sucor Sekuritas Joey Faustian pun memprediksi, CTRA bisa mencapai bahkan melewati target marketing sales yang dipatok di level Rp 4,5 triliun. Ini didukung oleh launching produk segmen menengah-bawah di kuartal IV-2020. 

Proyek tersebut antara lain Citra Raya Maja di kisaran Rp 240 juta - Rp 400 juta, Citra Tallasa City Makassar di kisaran harga Rp 1 miliar - Rp 1,2 miliar, Citra Raya Tangeran di kisaran harga Rp 1 miliar - Rp 1,2 miliar dan Citra Sentul Raya di kisaran harga Rp 800 juta - Rp 3 miliar. 

"Fundamental saham CTRA juga sangat baik, di mana gearing cukup rendah dibanding peers disertai diversifikasi geografis yang cukup baik yaitu Jabodebek 43%, Surabaya 15%, Sumatra 17%, di luar Jawa 16% dan lain-lain 9%," jelas Joey, Selasa (13/10). 

Adapun gearing CTRA per semester I-2020 tercatat 54% dengan net gearing 32%. Rata-rata gearing peers berada di kisaran 43%. 

Dari segi valuasi, saham CTRA cukup murah di kisaran 0,7x price book value (PBV) dan 83% diskon terhadap kalkulasi net asset value (NAV) dekat dengan -2 standard deviasi 5 tahun. 

"Oleh karena itu masih direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.000 per lembar untuk saham CTRA," pungkas Joey.  

Sumber: KONTAN

Butuh modal kerja, Chandra Asri Petrochemical (TPIA) terbitkan obligasi Rp 600 miliar


PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Chandra Asri Petrochemical Tahap II Tahun 2020 dengan jumlah pokok Rp 600 miliar. 

Ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan III dengan target dana yang dihimpun sebanyak Rp 5 triliun.

Obligasi senilai Rp 500 miliar akan dijamin secara kesanggupan penuh (full commitment), sedangkan sisanya dijamin secara kesanggupan terbaik (best effort). Obligasi ini memiliki jangka waktu tiga tahun dengan tingkat bunga tetap 8,20% per tahun.

Bunga obligasi akan dibayarkan setiap tiga bulan sekali sejak tanggal emisi, yakni 4 November 2020. Dengan begitu, pembayaran bunga pertama jatuh pada tanggal 4 Februari 2021.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang diberikan TPIA, Selasa (13/10), setelah dikurangi biaya-biaya emisi, dana hasil penerbitan obligasi ini seluruhnya akan digunakan untuk modal kerja. 

Masa penawaran untuk obligasi ini bakal berlangsung pada 26-27 Oktober 2020. Kemudian, tanggal penjatahan pada 2 November 2020.

Selanjutnya, pengembalian uang pemesanan beserta distribusi obligasi secara elektronik jatuh pada tanggal 4 November 2020. Obligasi ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 November 2020.

Dalam menjalankan penerbitan obligasi ini, TPIA , anggota indeks Kompas100 ini, menunjuk PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk dan PT CIMB Niaga Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi. 

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk berperan sebagai wali amanat. PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menyematkan peringkat idAA-  untuk obligasi yang dikeluarkan TPIA ini

Sebagai informasi, per Juni 2020, TPIA memiliki aset US$ 3,29 miliar yang terdiri dari liabilitas US$ 1,57 miliar dan ekuitas US$ 1,72 miliar.

Sementara itu, kinerja TPIA di semester 1-2020 sebenarnya kurang menggembirakan. Pendapatan perusahaan turun 20,34% secara year on year (yoy) menjadi US$ 839,28 juta dari sebelumnya US$ 1,05 miliar.

Dari segi bottom line, TPIA juga mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 40,123 juta. Padahal di paruh pertama 2019, perusahaan masih mencetak laba bersih US$ 33 juta.


Sumber: KONTAN

Jadi Duta Besar RI untuk AS, Komisaris Utama Medco (MEDC) Undur Diri


Komisaris Utama PT Medco Energi Internasional Tbk. Muhammad Luthfi mengundurkan diri sehubungan dengan tugas negara yang diberikan, yaitu sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan oleh Manajemen Medco Energi Internasional dalam keterbukaan informasi perseroan di laman Bursa Efek Indonesia pada Selasa (13/10/2020).

Muhammad Luthfi memberikan surat pengunduran dirinya sebagai Komisaris Utama perseroan pada 9 Oktober 2020.

“Pengunduran diri ini disampaikan karena beliau harus menjalankan tugas Negara sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat,” tulis Manajemen Medco Energi Internasional dikutip dari keterbukaan informasinya, Selasa (13/10/2020).

Dengan demikian, emiten berkode saham MEDC itu akan menggelar rapat umum pemegang saham untuk memutuskan menyetujui permohonan pengunduran diri itu yang akan diumumkan secara terpisah.

Dilansir dari laman resmi perseroan, Muhammad Luthfi mengisi pucuk kepemimpinan Medco Energi itu sejak 25 November 2015.

Luthfi juga menjabat sebagai Ketua Komite Manajemen Risiko dan sebagai anggota Komite Nominasi dan Remunerasi serta Komite GCG.

Sebelumnya, Luthfi sempat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Jepang pada periode 2010 - 2013.

Pria kelahiran 18 Agustus 1969 yang sempat menjabat sebagai Menteri Perdagangan Indonesia dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk periode 2005 -2009 itu tidak memiliki afiliasi dengan anggota Direksi dan sesama Dewan Komisaris lainnya.

Sumber: BISNIS

Bina Raya Perkasa menjual 22% saham Indomobil (IMAS) dengan nilai Rp 783,68 miliar


PT Bina Raya Perkasa telah menjual semua kepemilikan saham di PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) kepada PT Sejahtera Raya Perkasa.

Bina Raya Perkasa sebagai pemilik 22% atau setara 878,56 juta saham IMAS dengan harga penjualan Rp 892 per saham. "Total transaksi senilai Rp 783,68 miliar. Penjualan saham dilakukan pada 1 Oktober dengan tujuan realisasi keuntungan," ungkap Direktur Utama Indomobil Sukses Internasional Jusak Kertowidjojo, dalam keterbukaan informasi Selasa (13/10).

Dengan demikian, maka Bina Raya Perkasa tidak memiliki saham lagi di IMAS. Sebagai informasi, Bina Raya Perkasa adalah perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha Pieter Tanuri, Pieter melalui Bina Raya Perkasa membeli dan menjadi pemegang saham Indomobil Sukses Internasional pada beberapa waktu yang lalu.

Untuk saat ini Gallant Venture Ltd merupakan pemegang mayoritas IMAS atau sekitar 49,49%. PT Tritunggal Intipermata mempunyai 18,17% saham IMAS. Sisanya 10,34% milik masyarakat. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/10) saham IMAS terkoreksi 1,41% ke harga Rp 700 per saham.

Sumber: KONTAN

Pasca merger, kepemilikan publik di BRI Syariah (BRIS) bakal terdilusi


Sejumlah analis memastikan kepemilikan publik di PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) bakal terdilusi seiring rencana penggabungan dengan PT Bank Mandiri Syariah, dan PT Bank BNI Syariah. 

“Jika melihat anggaran dasar BRIS saat ini, porsi kepemilikan investor publik memang pasti akan terdilusi, sehingga sebelum merger perlu ada persetujuan dari otoritas,” kata Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi kepada Kontan.co.id, Selasa (13/10). 

Memang Nafi bilang BRI Syariah bisa mengubah anggaran dasar perseroan guna menghindari terdilusinya porsi publik lebih dalam. Atau dua bank yang akan digabung yaitu BNI Syariah dan Mandiri Syariah bisa mengambil porsi publik untuk masuk ke BRI Syariah. 

Namun Nafi bilang, hal tersebut cukup sulit terealisasi, apalagi jika ada penambahan atau pengurangan kepemilikan saham. Sehingga kepemilikan publik dipastikan terdilusi. 

Sementara Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji bilang, meski berpotensi tinggi terdilusi, investor publik bisa dapat kompensasi dari kenaikan harga saham BRIS. 

Dalam perdagangan Selasa (13/10), saham BRIS tercatat tersangkut auto reject atas (ARA) lantaran telah melonjak 25%. Transaksi BRIS dilakukan dibuka pada harga Rp 920, dan ditutup pada harga Rp 1.125 per saham.

“Meski demikian, kenaikan harga saham selanjutnya akan bergantung terhadap sejauh mana emiten bisa meningkatkan kinerjanya secara fundamental,” ungkap Nafan.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Hery Gunardi sekaligus Ketua Tim Project Management Office Hery Gunardi bilang bank hasil merger bahkan bisa masuk jajaran sepuluh besar bank syariah berkapitalisasi pasar teratas di dunia. 

“Tujuan merger untuk memiliki bank syariah yang besar, dan berdaya saing global. Bank hasil merger uga bisa masuk 10 bank terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar di dunia,” kata Hery saat jumpa pers daring, Selasa (13/10).

Dengan target penyelesaian merger pada Februari 2021 mendatang, Hery menaksir total aset bank hasil merger bakal mencapai Rp 220 triliun hingga 225 triliun dengan laba Rp 2,2 triliun. Sedangkan dengan asumsi konservatif, hingga 2025, aset perbankan merger ini bisa mencapai Rp 390 triliun dengan pembiayaan Rp 272 triliun dan DPK senilai Rp 335 triliun.

Sayangnya Hery masih enggan membeberkan rancangan penggabungan usaha tersebut. Ia hanya bilang para pihak bakal secara resmi mengumumkan prospektus terkait pada 20 Oktober 2020 mendatang.

Sumber: KONTAN

Indosat (ISAT) Tunjuk Eks GM ExxonMobil Jadi Direktur Baru


Emiten operator telekomunikasi PT Indosat Tbk. (ISAT) menunjuk Natasha Nababan sebagai Chief Legal & Regulatory Officer baru perseroan.

Manajemen perseroan menyatakan bergabungnya Natasha sejalan semangat perusahaan untuk mensukseskan strategi transformasi 3 tahun. Adapun, kehadiran Natasha menjadikan dia sebagai satu-satunya chief perempuan di jajaran Dewan Direksi

President Director & CEO Indosat Ooredoo Ahmad Al-Neama mengatakan perseroan menyambut kehadiran chief baru dengan gembira mengingat rekam jejak dan semangat Natasha yang sejalan dengan Indosat.

“Pengalamannya yang luas, baik sebagai pengacara terkemuka maupun pemimpin dalam memajukan advokasi industrial akan sangat penting untuk mendukung perusahaan mencapai tujuannya. Kami yakin beliau memiliki banyak value untuk ditambahkan ke tim,” demikian ujar Al-Neama seperti dikutip Bisnis dari keterangan resmi, Selasa (13/10/2020)

Sebelumnya, Natasha Nababan adalah General Counsel di ExxonMobil Indonesia dan pernah bekerja di salah satu firma hukum terkemuka di Jakarta.

Di Indosat, Natasha duduk di kursi direksi bersama Eyas Naif Saleh Assaf, Arief Musta’in, Vikram Sinha, dan Irsyad Sahroni.

Sumber: bisnis


Kunci Sukses Trading Jesse Livermore


Jesse Lauriston Livermore (1877-1940) adalah legenda pasar saham, dikenal sebagai ‘Raja Spekulan’ (Speculator King) dan ‘great bear of Wall Street’ karena meraup keuntungan yang sangat besar saat pasar Wall Street bearish dalam crash tahun 1907 dan 1929. Walau demikian, Livermore bukanlah spekulan untung-untungan seperti penjudi. Ia penuh perhitungan dalam menentukan timing dan money management, serta mahir dalam mengendalikan emosinya.

Di masa itu, analisa teknikal belum seluas dan secanggih sekarang, namun Livermore telah menerapkan formasi pola pergerakan harga (price patterns), teknik memaksimalkan keuntungan dengan pyramiding, dan analisa trend harga dengan kaidah ‘cut losses, let profits run’.

Berawal Dari Keahlian Taruhan

Lahir di Massachusetts, Jesse Livermore yang dikenal sebagai trader misterius ini mulai mengenal pasar saham di usia 14 tahun ketika ia melarikan diri dari rumah dengan hanya berbekal USD5 disaku. Ia kemudian bekerja sebagai operator merangkap kurir pada broker saham Paine Webber di Boston.

Livermore sering menang taruhan dalam menebak naik turunnya harga saham-saham blue chip hingga seorang teman mempercayainya untuk mengelola sejumlah dana di pasar saham. Pada usia 15 tahun ia telah meraup keuntungan bersih USD1,000 (atau setara dengan USD23,000 sekarang) dan setelah terus menerus memperoleh keuntungan, beberapa tahun kemudian Livermore hijrah ke New York City untuk serius trading dengan modalnya sendiri. Di sinilah ia menemukan cara-cara trading yang efektif di pasar saham seperti yang ditulis dalam bukunya How to Trade in Stocks.

2 Kali Menang Dari Crash Pasar Wall Street

Saat terjadi crash di pasar Wall Street tahun 1907, Jesse Livermore berhasil menyabet profit sebesar USD3 juta dalam sehari hanya dengan memanfaatkan pasar yang sedang panik. Kemudian pada momen crash di pasar Wall Street tahun 1929 akibat resesi yang berkepanjangan, Livermore lagi-lagi berhasil mencetak keuntungan sebesar USD100 juta, kali ini dengan timing dan momentum yang tepat plus money management yang bagus.

"Tidak ada yang baru di Wall Street. Trader atau spekulan tetap saja demikian, tidak ada yang baru. Spekulasi sama tuanya dengan usia gunung dan bukit. Yang terjadi di pasar saham sekarang telah pernah terjadi sebelumnya dan akan terjadi lagi besok. Tidak ada yang baru. Masuklah pasar hanya saat pasar trending, jika bullish Anda harus buy, jika bearish masuk posisi sell. Cuma cara itu yang bisa menghasilkan keuntungan sebenarnya…" kata Livermore yang dijuluki trader misterius karena aktivitas tradingnya dilakukan secara rahasia di sebuah kantor pribadi di Fifth Avenue, New York.

Seperti cara tradingnya yang misterius, gaya hidup pribadi Jesse Livermore yang 3 kali menikah dan cenderung mewah itu juga penuh tanda tanya. Tanpa alasan jelas, Livermore bunuh diri di sebuah hotel di Manhattan dengan meninggalkan harta kekayaan hingga USD5 juta pada tahun 1940.

Kunci Sukses Jesse Livermore

Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa kunci sukses Jesse Livermore diperoleh dari penggunaan metode trading yang terukur, bukan asal tebak-tebakan saja. Dalam mengarungi dunia trading di masanya, ia telah banyak menemui keuntungan tapi tak jarang juga mengalami kerugian. Livermore mengklaim bahwa semua kerugian yang dialami adalah akibat ketidak-patuhannya pada aturan dan rencana trading yang telah disepakati. Walau demikian, menurut Livermore hal itu tidak bisa dihindarkan kecuali Anda bisa trading tanpa emosi sama sekali. Menurutnya, 3 hal utama yang patut dihindari karena menyebabkan kerugian adalah:

  1. Kurang matangnya pengetahuan trader mengenai instrumen pasar
  2. Aturan trading (metode dan strategi) yang tidak tegas
  3. Pelanggaran terhadap aturan yang telah disepakati

Beberapa aturan trading Jesse Livermore yang banyak digunakan hingga sekarang antara lain:

  1. Tidak masuk pasar ketika kondisi pasar sideways atau arah trend tidak jelas
  2. Menerapkan pivot point daily untuk mengetahui arah pergerakan harga
  3. Selalu menunggu konfirmasi baik dari segi teknikal maupun fundamental sebelum benar-benar melakukan order buy atau sell
  4. Selalu menggunakan stop loss (menentukan resiko)
  5. Exit hanya bila trend berbalik arah (reverse)

Selain itu, saat pasar bullish Anda mesti trade pada saham-saham yang sangat kuat, dan saat pasar bearish Anda harus masuk pada saham-saham yang paling lemah. Hindari saham yang tampak meragukan atau ambiguous. Jangan pernah melakukan teknik averaging down pada posisi merugi.

Sumber:

inbizia.com, "Mengintip Kunci Sukses Legenda Pasar Saham, Jesse Livermore", Diakses pada 14 Oktober 2020.


Ulasan Pasar Global | 14 Oktober 2020


Mirae Asset Sekuritas Indonesia Global Market

(Oct 14, 2020)
Investment Information Team
(angga.choirunnisa@miraeasset.co.id)

U.S

Wall Street ditutup lebih rendah karena penundaan vaksin, mengurangi harapan stimulus

Wall Street melemah pada hari Selasa, dengan penghentian uji coba vaksin COVID-19 dan perjanjian stimulus AS yang sulit dipahami membebani sentimen saat musim pendapatan kuartal ketiga sedang berlangsung.

Dow Jones turun 157,71 poin atau 0,55% menjadi 28.679,81. S&P 500 kehilangan 22,29 poin atau 0,63% menjadi 3.511,93. Nasdaq Composite turun 12,36 poin atau 0,1% menjadi 11.863,90.

Sementara ketiga indeks saham utama ditutup di zona merah, keuntungan saham Microsoft Corp membantu mengurangi kerugian Nasdaq yang sangat berat. Johnson & Johnson mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka menghentikan uji klinis kandidat vaksin COVID-19 karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta penelitian. Penundaan tersebut membebani saham perusahaan, bahkan setelah laporan laba rugi yang naik-turun. Sahamnya kehilangan 2,3%. Di akhir sesi, saingannya Eli Lilly & Co mengatakan pihaknya juga menghentikan uji coba antibodi virus korona karena masalah keamanan, mengirim sahamnya turun 2,9%.

Eropa

Bursa Eropa ditutup turun karena kekhawatiran vaksin J&J, bank merosot

Bursa Eropa turun pada hari Selasa karena langkah Johnson & Johnson untuk menghentikan uji klinis COVID-19 menimbulkan keraguan tentang timeline vaksin, sementara saham bank mengikuti penurunan dalam imbal hasil obligasi karena taruhan lebih banyak stimulus oleh Bank Sentral Eropa.

STOXX Eropa ditutup turun 0,6%.

Sebulan setelah AstraZeneca AZN.L menangguhkan uji coba tahap akhir kandidat vaksinnya, Johnson & Johnson JNJ.N mengatakan pihaknya telah menghentikan uji coba sementara karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada peserta penelitian. Investor juga mencerna sinyal beragam tentang lebih banyak bantuan fiskal AS, dengan Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan tawaran baru-baru ini dari Presiden Donald Trump jauh dari yang dibutuhkan rakyat Amerika, tetapi menambahkan dia masih berharap kesepakatan dapat dicapai.

Rekomendasi Saham BEST, MIKA, IRRA oleh Mirae Asset Sekuritas | 14 Oktober 2020


IHSG Daily, 5,132.57(+0.77%), consolidation, trading range 5,096 - 5,152. Indikator MFI optimized dan indikator RSI optimized masih bergerak naik namun sudah berada di overbought area.Pada periode weekly mulai terlihat pola uptrend namun belum begitu kuat. Indikator MFI optimized dan indikator RSI optimized mulai bergerak naik. Daily support di 5,096 dan daily resistance di 5,152. Cut loss level di 5,050. 

BEST Daily, 176 (+2.33%), trading buy, trading range 170 - 184. Indikator MFI optimized dan indikator RSI optimized masih terlihat naik lebih lanjut. Daily support di 170 dan daily resistance di 184. Cut loss level di 165. 

MIKA Daily, 2,510 (+0.00%), buy on weakness, trading range 2,470 - 2,550. indikator MFI optimized dan indikator RSI optimized sudah berada di oversold area. Daily support di 2,470 dan daily resistance di 2,550. Cut loss level di 2,440. 

IRRA Daily, 800 (-1.23%), buy on weakness,trading range 780 - 825. indikator MFI optimized dan indikator RSI optimized masih cenderung bergerak turun namun mulai terbatas. Perkiraan daily support di 780 dan daily resistance terdekat di 825. Cut loss level di 760

Technical Insight by Tasrul (Tasrul@miraeasset.co.id)

Analisa Saham UNTR | 14 Oktober 2020

Analisa Saham UNTR


Saham UNTR pada tanggal 13 Oktober 2020 ditutup stabil pada harga 22500. Hal ini disertai dengan penurunan volume, yaitu 38% dari hari sebelumnya. Berdasarkan indikator Stochastics Slow, saham ini berada pada area pertengahan bawah ke arah atas. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) terlihat berada di bawah garis 0 dengan kecenderungan bearish.

Rekomendasi Saham:

Beli hanya jika di atas 22700

Jika naik di atas 24200 maka berpeluang ke 25200

Jika turun di bawah 22100 maka berpeluang ke 22000

Disclaimer ON

Silahkan simak materi saham online dan follow Channel Youtube di bawah ini:

Pola Chart Pattern Lengkap

https://www.youtube.com/playlist?list=PL-pvOxrNM_xgO96xQInO2Pvx4OWkNuibc

Pola Candlestick Saham Lengkap

https://www.youtube.com/playlist?list=PL-pvOxrNM_xgHx2GEv_69YpGsg7TIgRsB

Indikator Saham Lengkap

https://www.youtube.com/playlist?list=PL-pvOxrNM_xgZZ6iDXeTZQiBZJxW1jsMk

Dasar-dasar Investasi Saham :

https://www.youtube.com/playlist?list=PL-pvOxrNM_xjIEXYMlU_5iB69MK04svld


https://www.youtube.com/c/sahamonlineid

Rekomendasi Saham ASII, AKRA, PGAS dan BBCA oleh MNC Sekuritas | 14 Oktober 2020


MNC Daily Scope Wave

14 Oktober 2020

IHSG ditutup menguat 0,6% ke level 5,132 pada perdagangan kemarin (13/10) dan hampir menutup gap bawah yang terjadi di tanggal 12/10. Pergerakan IHSG kemarin sudah terkena fibo retracement 61.8%, penguatan IHSG akan relatif terbatas dimana kami perkirakan akan menguji area 5,140-5,160. Meskipun demikian, kami memperkirakan IHSG rentan untuk terkoreksi dalam jangka pendek ke area 5,020-5,030 dan koreksi ideal yang diperkirakan berada pada range 4,940-4,960. Skenario ini berlaku selama IHSG tidak terkoreksi agresif ke bawah 4,820-4,840, terlebih support krusial yang berada di 4,753, apabila IHSG terkoreksi menembus support-support tersebut, maka IHSG terkonfirmasi membentuk wave C ke arah 4,500-4,650.

Support: 5,050, 4,960

Resistance: 5,187, 5,250

ASII - Buy on Weakness (4,740)

ASII bergerak menguat 0,9% ke level 4,740 pada perdagangan kemarin (13/10). Kami perkirakan posisi ASII saat ini sedang membentuk wave (ii) dari wave [c] dari wave B. Hal tersebut berarti ASII masih rentan terkoreksi dalam jangka pendek terlebih dahulu dan selanjutnya berpeluang untuk menguat.

Buy on Weakness: 4,600-4,720

Target Price: 4,900, 5,075

Stoploss: below 4,450

AKRA - Buy on Weakness (2,650)

AKRA kemarin (13/10) bergerak menguat 0,4% dan ditutup di level 2,650. Saat ini kami perkirakan posisi AKRA sedang membentuk wave B dari wave (B), sehingga AKRA masih berpotensi untuk melanjutkan penguatannya.

Buy on Weakness: 2,580-2,640

Target Price: 2,750, 2,850

Stoploss: below 2,480

PGAS - Sell on Strength (1,035)

Kemarin (13/10), PGAS menguat 3,5% ke level 1,035 dan diiringi dengan tekanan beli yang cukup besar. PGAS juga sudah mengenai target rekomendasi kami di tanggal 8/10 lalu, saat ini posisi PGAS sudah berada di akhir wave [a] dari wave B. Hal tersebut berarti PGAS akan cenderung bergerak menguat terbatas dan rentan terkoreksi untuk membentuk wave [b]. Adapun koreksi wave [b] kami perkirakan berada pada 975-1,005, area koreksi tersebut dapat dijadikan sebagai area buyback.

Sell on Strength: 1,040-1,070

BBCA - Sell on Strength (29,275)

Pada perdagangan kemarin (13/10), BBCA ditutup di level 29,275 dan sudah muncul tekanan jual meskipun tidak begitu besar. Posisi BBCA saat ini kami perkirakan sudah berada di akhir wave (iii) dari wave [a] dari wave 5 pada pola diagonal, hal tersebut berarti BBCA rentan terkoreksi terlebih dahulu untuk membentuk wave (iv) dalam jangka pendek. Adapun koreksi wave (iv) diperkirakan berada pada area 28,400-28,800 dan area tersebut dapat dijadikan sebagai area buyback.

Sell on Strength: 29,300-29,650

Disclaimer On

Update Harga Komoditas dan Indeks | 14 Oktober 2020


Dow closes more than 150 points lower and snaps 4-day winning streak

Stocks fell for the first time in five days on Tuesday as investors grappled with the latest news regarding U.S. coronavirus stimulus and treatments as well as the first batch of corporate earnings.


Dow........28680   -157.7      -0.55%

Nasdaq..11864   -12.4        -0.10%

S&P 500..3512    -22.3        -0.63%

 

FTSE.......5970    -31.7         -0.53%

Dax.........13019  -119.4      -0.91%

CAC.........4948   -31.7         -0.64%


Nikkei....23602    +43.1        +0.18%

HSI.........24650   closed      +0%

Shanghai .3360   +1.3          +0.04%

ST Times..2568   +15.2       +0.60%


IDX..5132.57    +39.47           +0.78%

LQ45.783.55     +6.25             +0.80%


JAKMIND......866.23    +7.11      +0.83%

JAKCONS.....1875.16  +3.00      +0.16%

JAKTRADE....632.89    -1.18       -0.19%

JAKBIND........750.85  +4.20       +0.56%

JAKAGRI......1187.93   -0.41        -0.03%

JAKFIN.........1146.00  +20.37    +1.81%

JAKPROP......326.09    -0.12        -0.04%

JAKINFR.......827.18    +0.54      +0.07%

JAKMANU....1215.38  +4.54      +0.37%    

JAKMINE.....1379.00 : +4.07      +0.30%

 

Indo10Yr... 7.0054     -0.0084       -0.12%

ICBI..........297.3869  +0.2877      +0.10%

US10Yr........0.7270    -0.0500       -6.44%

VIX...............26.07     +1.00           +3.99%

  

USDIndx .....93.5270   +0.4980 +0.54%

Como Indx....150.38   +0.58      +0.38%

(Core Commodity CRB)

BCOMIN........118.64   -0.65       -0.55%

DJUSCL........     -             -                -%

 (Dow Jones US Coal. Index) 


IndoCDS.......92626    +0.126   +0.136%

 (5-yr INOCD5)  

 

IDR.....14725.00   +25.00       +0.17%

Jisdor....14793     +47.00        +0.32%



Euro.........1.1745  -0.0068    -0.57%


TLKM..18.49   -0.21      -1.12%

(2735)

EIDO....18.35   -0.02      -0.11%

EEM.....46.04   -0.19      -0.41%

 

Oil..........40.16           +0.67       +1.70%

Gold .....1896.30      -31.00     -1.61%

Timah....18257.50    +2.50       +0.01%

Nickel....15040.00     -155.00   -1.02%

 

Coal price..54.70   -2.15     -3.78%

(Okt/Newcastle) 

Coal price....53.65   -0.90     -1.65%

(Nov/Newcastle)

Coal price....56.75   -0.25     -0.44%

(Okt/Rotterdam) 

Coal price....56.45   -0.30     -0.53%

(Nov/ Rotterdam)

 

CPO(Des)....3008   +10        +0.33%

(Source: bursamalaysia.com)             

Corn............391.25  +2.25    +0.58%

SoybeanOil...33.62  +0.46    +1.39%

Wheat.........594.00   -0.25     -0.04%


Wood pulp. 3675     unch        +0%


( DE/ Phintraco(AT)  14-10-20)