MTLA | METLAND OPTIMIS PENDAPATAN TUMBUH DI AKHIR TAHUN


IQPlus, (19/09) - PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) berharao laba bersih 2019 bisa mencatatkan pertumbuhan, mengingat pada semester pertama tahun ini laba bersih perseroan mengalami penurunan cukup dalam hingga 11,42 persen (year-on-year) menjadi Rp210 miliar.

Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk, Thomas J Angfendy Di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu.

"Semester I-2019, laba Metland turun menjadi Rp210 miliar dari semester pertama tahun lalu sebesar Rp234 miliar. Jadi, penurunan laba kami itu sekitar 10 persenan," ujarnya.

Thomas menyebutkan, hingga akhir Juli 2019, MTLA mampu membukukan marketing sales sebesar Rp1,13 triliun atau sebesar 52 persen dari target di sepanjang 2019. "Kami optimistis target marketing sales sebesar Rp2,2 triliun hingga akhir tahun ini bisa terpenuhi," imbuhnya.

Di tempat yang sama, Direktur MTLA, Olivia Surodjo mengaku, perseroan tetap optimistis total pendapatan di sepanjang 2019 akan mencatatkan pertumbuhan, lantaran ada penjualan di 2017 yang serah-terima di Semester II-2019. "Jadi, secara accounting sudah ada pengakuan penjualan," imbuhnya.

Terkait proyeksi laba bersih di 2019, kata Olivia, MTLA berharap bisa mencatatkan pertumbuhan positif. "Kami belum bisa memprediksi laba bersih (2019). Namun, kami tetap yakin revenue di 2019 akan mengalami kenaikan," ucap Olivia.

Dia menyebutkan, pada Semester I-2019, MTLA mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp598 miliar atau mengalami kenaikan tipis dibanding periode yang sama di 2018 sebesar Rp596 miliar. Olivia mengatakan, Metland Cileubgsi dan Metland Cibitung menjadi kontributor utama terhadap pendapatan penjualan MTLA.

"Penjualan rumah kelas middle to middle low masih cukup baik dan tidak terpengaruh oleh isu pemilu di awal tahun ini," tutur Olivia sembari menegaskan bahwa penjualan untuk produk middle-up jalan di tempat sejak awal 2019 yang terpengaruh isu pemilu.

Dia berharap, penjualan untuk produk middle-up bisa berjalan normal di sisa semester kedua tahun ini, sehingga target marketing sales sebesar Rp2,2 triliun bisa tercapai. Olivia menambahkan, pendapatan berulang MTLA masih didorong oleh Metropolitan Mall Bekasi dan Metropolitan Mall Cileungsi.

Menurut Olivia, hingga akhir Agustus 2019, belanja modal (capex) MTLA sudah terserap senilai Rp259 miliar dari total anggaran capex tahun ini sebesar Rp700 miliar.

"Sebenarnya capex yang besar itu untuk penambahan landbank, tetapi saat ini baru dibelanjakan Rp55 miliar. Semester kedua ini kami akan tingkatkan penambahan landbank," pungkasnya. (end/fu)


ASII | Penjualan Mobil dan Pangsa Pasar Astra International Naik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Walau ekonomi dalam negeri masih lesu, penjualan mobil (wholesales) PT Astra International Tbk (ASII) masih tercatat naik. Di Agustus, penjualan mobil ASII, termasuk LCGC, mencapai 58.592 unit, naik tipis 1,40% dari 57.780 unit di Juli.

Selain itu, pangsa pasar ASII juga naik menjadi 52%, dari sebesar 50% di Juli lalu. Menurut Head of Investor Relations ASII Tira Ardianti, meski kenaikan penjualan tipis, ini merupakan keberhasilan tersendiri bagi Astra International (ASII).

Mengingat, sampai saat ini, daya beli masyarakat belum menunjukan tanda-tanda pemulihan. "Artinya, meski secara umum daya beli masih lesu, secara unit penjualan, Astra mengalami kenaikan penjualan di Agustus dibandingkan mayoritas pemain lain di industri," kata Tira kepada KONTAN, Rabu (18/9).

Namun, saat ini Tira masih pesimistis pada kinerja penjualan mobil tahun ini yang diperkirakan lebih rendah ketimbang tahun lalu. "Prediksinya memang sampai akhir tahun total penjualan tahun ini lebih rendah dibanding tahun lalu," ujar dia.

Astra masih yakin total penjualan nasional di atas 1 juta unit, tapi lebih rendah dibandingkan tahun lalu Hal ini terjadi karena secara tren, konsumsi domestik menurun.

Penurunan harga komoditas global juga merembet ke dalam negeri dan jadi penyebab penjualan kendaraan komersial turun. Hal ini juga diikuti penurunan penjualan kendaraan penumpang, yang membuat pasar kendaraan domestik lebih sepi.

Hal tersebut terlihat pada penjualan mobil nasional pada periode Januari-Agustus 2019 yang tercatat mencapai 797.692 unit, termasuk LCGC. Posisi tersebut turun dari periode yang sama di 2018 silam, yakni sebesar 919.048 unit.

Tetapi ASII tidak terlalu khawatir. Beberapa strategi telah disiapkan guna menggenjot penjualan di sisa tahun ini. Salah satunya dengan memaksimalkan penjualan secara online dan offline.

Untuk penjualan online, ASII mengoptimalkan fitur-fitur yang ada di situsnya. Sebagai contoh situs Auto2000, dengan meningkatkan fitur aplikasi chatbot.

"Di situs itu ada channel konsumen untuk berkomunikasi dengan sales operations kami. Jadi, konsumen bisa memasukkan data dan informasi terkait yang dibutuhkan. Nantinya ditindaklanjuti secara offline," papar Tira.

Sementara untuk offline, ASII terus menambah jumlah diler setiap tahun. Tingkat penambahannya kurang lebih 10 hingga 15 diler tiap tahunnya. Selain itu, penambahan outlet juga disertai dengan fasilitas untuk servis.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi melihat, saham ASII masih menarik karena diperdagangkan pada kisaran PER 12,86 kali. Posisi ini masih lebih murah dibanding PER rata-rata dalam 5 tahun terakhir di 14,06 kali.


https://insight.kontan.co.id/news/meski-pasar-lesu-penjualan-mobil-dan-pangsa-pasar-astra-international-asii-naik

WEGE | WIKA Gedung Bagaimana Prospeknya?


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WIKA Gedung) memburu proyek-proyek prestisius. Perusahaan yang memiliki kode saham WEGE ini baru saja memenangkan tender pembangunan stadion Jakarta International Stadium (JIS) yang akan jadi markas Persija Jakarta.

Asal tahu saja, investasi untuk proyek stadion Persija ini mencapai Rp 4,08 triliun. Wika Gedung (WEGE) menggarap proyek ini bekerjasama dengan PT Jaya Konstruksi Manggala Putra Tbk (JKON) dan PT PP Tbk (PTPP).

Proyek stadion Persija ini menambah daftar kontrak baru yang didapat Wika Gedung pada semester dua tahun ini. Pada paruh pertama lalu, anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) ini baru mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 4,9 triliun. Artinya, capaian kontrak baru perusahaan ini baru 40,90% dari target perusahaan, yang mencapai Rp 11,98 triliun.

Analis Buana Capital Immanuel Titus mengatakan, kontrak baru yang diperoleh Wika Gedung dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta tersebut bakal membantu kinerja keuangan emiten ini sendiri. Mengingat, nilai investasinya cukup jumbo. "Apalagi saat ini proyek ini juga sudah mulai jalan," kata dia.

Lebih lanjut, Titus menuturkan, minimnya kontrak baru perusahaan di enam bulan pertama tahun ini cukup wajar. Maklum, tahun ini ada agenda pemilihan umum, yang membuat pemerintah dan swasta menunda pelaksanaan tender proyek baru.

"Jadi forecast new contract pada tahun ini akan turun karena ada perlambatan dari post election results," tegas Titus, kemarin.

Walau begitu, dia tetap optimistis pendapatan perusahaan tahun ini bakal melesat. Hitungannya, pendapatan Wika Gedung di akhir 2019 bisa mencapai Rp 6,8 triliun. "Saya percaya perusahan dapat menjaga eksekusi proyek, jadi pendapatan naik," lanjut dia.

Asal tahu saja, kinerja Wika Gedung di paruh pertama 2019 kurang mentereng. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan ini, pendapatan Wika Gedung hingga akhir Juni lalu turun 10,40% menjadi Rp 2,15 triliun.

Untungnya, pendapatan lainnya serta bagian laba ventura bersama perusahaan mengalami kenaikan signifikan. Ini berhasil membuat laba bersih Wika Gedung naik tipis 0,29% dari sebelumnya Rp 181,08 miliar menjadi Rp 181,60 miliar.

Rekomendasi saham WEGE

Secara fundamental, net cash Wika Gedung masih dalam kondisi baik, karena emiten ini tidak memiliki turnkey payment. Proyek yang dikerjakan perusahaan ini menggunakan pembayaran yang dilakukan setiap bulan dan akhirnya dapat mengurangi aliran kas yang tertekan.

Selain kontrak baru yang kembali mengalir, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama juga melihat Wika Gedung diuntungkan karena menjalankan bisnis konsesi pada infrastruktur sosial.

Menurut dia, bisnis konsesi ini bisa berupa pembangunan perkantoran dan hotel. "Dengan adanya kebijakan pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur, seharusnya ini mendukung kinerja WEGE, dalam rangka menjalankan kegiatan operasional konsesi," ujar Nafan.

Selain itu, jangka panjang, prospek Wika Gedung cukup baik, terkait pemindahan ibukota. Dengan pemindahan ibukota ke Kalimatan, Wika Gedung bisa mengejar proyek pembangunan dan bisnis konsesi di wilayah tersebut.

Bagi Analis Sinarmas Sekuritas Anthony Angkawijaya, pelonggaran suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dapat memberi sentimen positif bagi kinerja keuangan WEGE. "Segmen pembangunan konstruksi akan mendapatkan keuntungan dalam hal permintaan dari siklus pelonggaran BI," tulis Anthony.

Tak heran jika WEGE menjadi pilihan utama Anthony untuk sektor konstruksi. Dia optimistis target kontrak baru perusahaan ini bisa terlampaui. "Mengingat, dari tender yang diikuti WEGE, nilai terendah sebesar Rp 2,9 triliun dan tingkat keberhasilan WEGE dalam tender mencapai 90%," jelas dia.

Anthony memprediksi pendapatan anak usaha WIKA ini bisa tembus Rp 6,9 triliun di akhir 2019 mendatang. Artinya pendapatan WEGE bisa naik 18,97% dibandingkan dengan realisasi pendapatan di akhir 2018 lalu, yakni sebesar Rp 5,8 triliun. Sementara laba bersih diprediksi mencapai Rp 503 miliar, atau naik 7,25% dari akhir 2018.

Alhasil, ketiga analis di atas merekomendasikan beli bagi saham WEGE. Titus dan Nafan masing-masing memasang target harga WEGE di Rp 400 dan Rp 432 per saham. Sedang target harga Anthony sebesar Rp 480 per saham.


https://insight.kontan.co.id/news/wika-gedung-menang-tender-stadion-persija-ini-rekomendasi-analis-untuk-saham-wege?page=2

WSKT - BBTN | Mumpung Tren Suku Bunga Global Rendah, Obligasi Global Jadi Pilihan Emiten

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan suku bunga acuan yang menjalar ke seluruh dunia berpotensi membuat penerbitan obligasi global atau global bond kembali marak. Namun, risiko perang dagang hingga potensi resesi ekonomi global dapat memengaruhi minat investor.

Dari dalam negeri, beberapa perusahaan memang sudah menyatakan niatnya untuk menerbitkan obligasi global. Misalnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang berencana menerbitkan junior global bond senilai US$ 200 juta-US$ 250 juta di awal tahun depan.

Ada pula PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang berharap dapat merealisasikan penerbitan global bond sebesar US$ 250 juta-US$ 300 juta sebelum pergantian tahun ini.

Ekonom Pemeringkat Efek Indonesia Fikri C. Permana mengatakan, penurunan suku bunga acuan yang dilakukan banyak bank sentral dunia sebenarnya menjadi sentimen positif bagi penerbitan global bond. Pasalnya, hal ini akan mendorong penurunan yield surat utang global, termasuk US Treasury.

Lihat saja, Rabu (18/9), yield US Treasury tenor 10 tahun berada di level 1,77%. "Yield obligasi di beberapa negara maju bahkan sudah ada yang berada di level minus," kata Fikri, kemarin. Pemangkasan suku bunga acuan juga membuat pergerakan nilai tukar rupiah stabil di sekitar Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat (AS).

Dengan demikian, cost of fund yang ditanggung perusahaan saat menerbitkan global bond jadi lebih murah. Risiko kerugian kurs dari penerbitan obligasi global juga dapat diminimalkan.

Di samping itu, peringkat utang Indonesia yang berada di level BBB versi S&P Global Ratings juga bisa menjadi stimulus bagi penerbitan global bond. Mengingat, rating utang tersebut merupakan gambaran kondisi makroekonomi Indonesia di tengah berbagai sentimen global.

Namun, dari sisi investor hal tersebut tidak bisa menjadi acuan utama. Meski faktanya peringkat utang Indonesia naik, belum tentu perusahaan-perusahaan penerbit obligasi global akan mengalami hal serupa.

"Rating suatu negara hanya acuan risiko yang dihitung secara agregat. Jadi investor juga akan melihat lagi kondisi perusahaannya secara spesifik," ungkap Fikri.

Tantangan penerbitan

Research Analyst Capital Asset Management Desmon Silitonga menambahkan, tantangan penerbitan global bond tetap ada. Terlebih, sentimen perang dagang antara AS dan China masih bergulir. Belum lagi, sentimen tersebut memicu potensi datangnya resesi ekonomi global.

Menurut Desmon, ketidakpastian global tersebut membuat para investor khawatir dan bersikap lebih hati-hati. Alhasil, ada kecenderungan sebagian investor global menghindari aset-aset dari negara berkembang dan memilih memburu instrumen yang lebih aman, seperti US Treasury atau mata uang yen.

Tak hanya itu, di tengah risiko global yang masih terlihat, para investor tentu akan mempertimbangkan kembali rekam jejak dan prospek bisnis perusahaan yang menerbitkan global bond.

Jika bisnis suatu perusahaan ikut terpapar sentimen negatif global, bukan mustahil investor akan memilih menghindari global bond yang diterbitkan perusahaan tersebut.

Jadi, daya serap pasar atas global bond dari perusahaan-perusahaan Indonesia akan terganggu.

"Kalau kondisinya begitu, perusahaan pemilik obligasi global perlu menyesuaikan lagi jumlah dana yang ingin diperoleh," jelas Desmon, Rabu (18/9).

Sementara itu, Fikri menilai, seiring risiko ketidakpastian global yang masih ada, para investor tidak hanya mempertimbangkan peringkat utang suatu perusahaan.

Dalam hal ini, para investor bisa saja akan meminta kupon yang lebih tinggi kepada penerbit global bond untuk mengompensasi risiko yang terjadi di pasar.


https://insight.kontan.co.id/news/mumpung-tren-suku-bunga-global-rendah-obligasi-global-jadi-pilihan-emiten?page=2

BBRI - BMRI - BBNI | Tiga BUMN Menikmati Gurihnya Bisnis Bank Garansi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank-bank BUMN optimistis bisnis kredit non tunai melalui layanan bank garansi masih memiliki potensi untuk tumbuh di tahun ini.

Prospeknya sejalan dengan komitmen pemerintah dalam pembangunan infrastruktur.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) misalnya telah berhasil membukukan volume bisnis jasa bank garasi sebesar Rp 20,5 triliun hingga Agustus 2019.

Dari situ, BRI telah berhasil membukukan pendapatan komisi sebesar Rp 107,2 miliar.

"Sektor penyumbang terbesar bisnis bank garansi BRI berasal dari konstruksi dan perdagangan," ungkap Hary Purnomo, Sekretaris BRI, Rabu (18/9).

Untuk mendorong pertumbuhan bisnis bank garansi, BRI melakukan inovasi berupa penerbitan bank garansi (BG), standby letter of credit (SBLC) dan demand guarantee secara online.

Melalui inovasi tersebut, pengajuan bank garansi serta proses pengecekan dapat dilakukan secara digital melalui sistem cash management BRI.

Bisnis bank garansi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga hingga Agustus 2019, tumbuh sekitar 18% secara year on year (yoy).

Teranyar, Bank Mandiri memberikan layanan kredit non tunai ini ke PT Kereta Api Indonesia (KAI) senilai Rp 2 triliun.

SVP Corporate Banking Bank Mandiri Yusak Silalahi bilang, layanan bank garansi selama ini digunakan perusahaan sebagai jaminan bagi beragam transaksi di beragam sektor industri seperti konstruksi, infrastruktur, alat berat, migas, distribusi barang, food & beverages, dan lain-lain.

Hanya saja, dia tidak merinci total volume bank garansi yang sudah diterbitkan sepanjang tahun ini.

Tumbuh double digit

Bank Mandiri optimistis bisnis bank garansi masih akan tumbuh karena layanan ini diperlukan oleh perusahaan sebagai alat mitigasi risiko yang mungkin muncul dari ekspansi para pebisnis.

"Kami prediksikan nilai transaksi bank garansi akan tumbuh di atas 20% di tahun 2019," kata Yusak, Rabu (18/9).

Adapun pendapatan komisi yang diperoleh Bank Mandiri dari bank garansi telah tumbuh 5% yoy per Agustus 2019.

Sejalan dengan target volume tersebut, Bank Mandiri juga menargetkan perolehan fee based income dari layanan ini tumbuh sekitar 20% hingga akhir 2019.

Sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berhasil mencatatkan transaksi bank garansi Rp 16,5 triliun hingga Juni 2019.

Pencapaian itu tumbuh 5,1% dibandingkan Juni 2018 sebesar Rp 15,7 triliun dengan menghasilkan pendapatan komisi Rp 241 miliar di paruh pertama 2019.

Herry Sidharta, Wakil Direktur Utama BNI bilang, sektor yang jadi kontributor utama berasal manufaktur, konstruksi serta minyak dan gas.


https://insight.kontan.co.id/news/tiga-bumn-menikmati-gurihnya-bisnis-bank-garansi?page=2

Analisa Saham APLN, TINS dan ANTM

Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
Sep 19, 2019
(tasrul@miraeasset.co.id)

IHSG Daily, 6,276.63(+0.64%), test resistance at 6,292, trading range 6,229 – 6,292. Indikator MFI optimized dan indikator W%R  optimized masih cenderung bergerak naik. Sementara pada periode weekly indikator MFI optimized  dan indikator RSI optimized masih bergerak turun.. Daily support di 6,229 dan resistance di 6,292. Cut loss level di 6,220.

APLN Daily  ,248 (+3.33%), Trading Buy, trading range 234 – 252. indikator MFI optimized  akan menguji support trendline dan W%R optimized cenderung naik. Daily support  di 240 sementara itu daily resistance  di 258. Cut loss level  di 232.

TINS Daily ,1,120 (-0.44%), Trading Buy, trading range 1,100 – 1,160. Indikator MFI optimized  dan W%R optimized  akan menguji support trendline. Daily support  di   1,100 sementara itu daily resistance  di 1,160. Cut loss level  di  1,100.

ANTM Daily, 1,065(+1.43%), Trading Buy, trading range 1,040 – 1,090. Indikator MFI optimized dan indkator W%R optimized masih cenderung naik. Perkiraan daily support di 1,040 dan daily resistance di 1,090. Cut loss level di 1,030.


Analisa Saham ASII dan GIAA

Saham ASII

Reboundnya ASII dalam beberapa waktu terakhir tidak mampu mengubah trend bearish ASII, karena ASII telah membentuk pola bearish head and shoulders sebelumnya. Pola ini menandakan bahwa trend bearish ASII berisiko berlanjut hingga menuju level terendah sejak awal tahun 2016, yakni di level 5500-6050.
Rekomendasi: Hindari. Sell on strength kalau masih punya. Sell kalau turun di bawah 6475. Target pelemahan di 5500-6050.
http://www.doktermarket.com/2019/09/asii-sulit-melawan-trend-bearishnya.html

Saham GIAA

GIAA mendekati resisten pola bullish cup and handle di 555. Jika GIAA mampu menguat menembus resisten ini, GIAA berpeluang terus menguat menuju target pertama. Indikator teknikal MACD yang akan kembali golden cross jika GIAA terus menguat, mendukung potensi kenaikan GIAA.
Rekomendasi: Trading buy kalau naik di atas 555. Target pertama di 610 dan target kedua di 710.
http://www.doktermarket.com/2019/09/giaa-mendekati-resisten-beli-jika-break.html


Analisa Saham WSKT dan KBLI

Saham WSKT

WSKT kembali tertekan ke area support kuatnya. Terbuka ruang terjadinya technical rebound, namun selama saham ini masih berada di bawah resist 1800, segala kenaikan hanya tergolong technical rebound semata. Jika WSKT gagal bertahan di atas support 1685, terbuka ruang penurunan dalam fase bearish menuju 1290 dengan minor target 1515. MACD yang mendatar menunjukkan saham ini berada di akhir fase konsolidasinya.
Rekomendasi: Sell jika break 1685. Buy hanya jika mampu break 1800.
https://galerisaham.com/wskt-di-titik-kritis-trend-nya-sell-jika-break-support/

Saham KBLI

Saham ini berhasil menguat menembus channel konsolidasinya dan mencapai target awal kenaikan di 680. Jika KBLI mampu melampaui level 680, terbuka ruang kenaikan menuju 960. MACD yang terus meningkat menunjukkan saham ini berada di fase pergerakan positifnya.
Rekomendasi: Hold. Stoploss level 615.
https://galerisaham.com/kbli-berada-dalam-fase-trend-naik-hold/


Analisa Saham BSDE dan MNCN

Saham BSDE

Saham BSDE saat ini sedang menguji down trend resistance linenya. Apabila dapat diterobos, maka BSDE akan mengakhiri tren turunnya dan mulai bergerak naik menuju target terdekat di level 1450. Nantinya jika kenaikan saham ini berlanjut, maka BSDE akan menuju target berikutnya di level 1565. Indikator teknikal MACD bergerak naik dan mencoba untuk cross up keatas centreline, mengindiksikan bahwa saham ini sedang bergerak positif.
Rekomendasi: Buy jika breakout 1410. Batasi resiko jika kembali turun dan gagal bertahan di 1320.
https://step-trader.com/2019/09/18/bsde-mulai-bergerak-naik/

Saham MNCN

Saham MNCN saat ini sedang berkonsolidasi dengan bergerak sideways dikisaran area range trading 1205-1330. Apabila MNCN mampu bergerak naik melampaui level 1330, maka saham ini akan mengakhiri konsolidasinya dan mulai bergerak naik menuju target terdekat di 1465. Nantinya jika kenaikan saham ini mampu berlanjut, maka MNCN akan menuju target berikutnya di level 1630. Indikator teknikal MACD yang bergerak mendatar, mengindikasikan bahwa saham ini sedang berkonsolidasi.
Rekomendasi: Buy jika break out 1330. Batasi resiko jika kembali bergerak turun dan gagal bertahan di 1205.
https://step-trader.com/2019/09/18/mncn-at-the-end-of-consolidation-what-next/


Analisa Saham MAPI, MEDC dan PTBA

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)

Daily (Rp995) (RoE: 14,09%; PER: 16,46x; EPS: 60,16; PBV: 2,32x; Beta: 1,21). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat bullish harami candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp970-995, dengan target harga secara bertahap di level Rp1.005, 1.015 dan 1.060. Support: Rp970 dan 950.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

Daily (Rp755) (RoE: 3,86%; PER: 17,31x; EPS: 44,20; PBV: 0,67x; Beta: 2,18). Pergerakan harga saham telah menguji beberapa garis MA-10 dan 20 sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp750-760, dengan target harga secara bertahap di level Rp785, 830, 885 dan 1.050. Support: Rp740 dan 715.

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)

Daily (Rp2.550) (RoE: 23,28%; PER: 7,33x; EPS: 339,63; PBV: 1,71x; Beta: 1,92). Pergerakan harga saham telah menguji garis MA-20 sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp2.540-2.560, dengan target harga secara bertahap di level Rp2.590, 2.690 dan 2.780. Support: Rp2.500 dan 2.400.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama


Analisa Saham AKRA, ASII dan ELSA

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)

Daily (Rp3.970) (RoE: 7,76%; PER: 20,32x; EPS: 195,38; PBV: 1,58x; Beta: 0,77). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola bullish doji star candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp3.910-3.980, dengan target harga secara bertahap di level Rp4.040, 4.300 dan 5.100. Support: Rp3.910 dan 3.820.

PT Astra International Tbk (ASII)

Daily (Rp6.700) (RoE: 10,78%; PER: 13,69x; EPS: 484,10; PBV: 1,47x; Beta: 1,54). Terlihat pola white bozu candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp6.550-6.750, dengan target harga secara bertahap di level Rp6.950 dan 7.125. Support: Rp6.550 dan 6.175.

PT Elnusa Tbk (ELSA)

Daily (Rp342) (RoE: 8,97%; PER: 8,07x; EPS: 42,40; PBV: 0,72x; Beta: 0,49). Pergerakan harga saham telah menguji beberapa garis MA-10 dan 20 sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp336-342, dengan target harga secara bertahap di level Rp346, 352, 378, 406 dan 432. Support: Rp336 dan 324.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama