Mengintip kisah hidup Warren Buffett, Sang Dukun dari Omaha, hingga meraih kesuksesan


Dikalangan investor dan pebisnis, sosok Warren Buffett sudah tidak asing lagi. Kelihaian Buffett dalam berbisnis dan berinvestasi membuatnya menjadi rujukan banyak orang. 

Kesuksesan Warren Buffett dalam mengelola Brekhsire Hathaway membuat banyak orang ingin meniru. Selain strategi bisnis, kisah hidup Warren Buffett juga banyak dicari masyarakat. 

Warren Buffett lahir di Omaha, Nebraska pada 30 Agustus 1930. 

Dilansir dari Biography, Warren Edward Buffett merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Howard Buffett dan Leila Stahl Buffett. 

Buffett merupakan seorang anak laki-laki yang jenius di bidang matematika. Dia bahkan sudah menunjukkan minat dan bakat di bidang bisnis pada usia yang masih belia. 


Masa kecil Warren Buffett

Warren Buffett pada masa kanak-kanak hingga remaja melakukan berbagai pekerjaan sampingan.

Buffett melakoni banyak pekerjaan mulai dari menjual permen karet, coca-cola, hingga loper koran.

Seluruh penghasilan Buffett selama part-time dikumpulkan. Kemudian dia membeli 40 hektar peternakan di Nebraska seharga US$1200. Properti pertama Warren Buffett ini dibeli saat ia berumur 15 tahun. 

Setelah lulus SMA, Buffett tidak begitu tertarik untuk melanjutkan ke universitas. Dengan penghasilan dan uang yang dimilikinya, Buffett sudah merasa cukup. 

Sang ayah kemudian membujuk Buffett untuk berkuliah di University of Pennsylvania. 

Warren Buffett hanya berkuliah selama dua tahun, kemudian pindah ke University of Nebraska. Buffett lulus dari University of Nebraska di umur 20 tahun. 


Mengenal dengan investasi sejak kecil 

Karena sering mengunjungi kantor saham Ayahnya, membuat Buffett tertarik dengan investasi. 

Saat umur 11 tahun, Buffett membeli saham pertamanya. Warren Buffett membeli tiga slot saham perusahaan gas lokal, Cities Service, dengan harga US$ 38 per slot nya. 

Namun demikian, bersumber dari Medium, investasi pertama Warren Buffett tidak berjalan mulus.

Tidak lama setelah Buffett membeli saham di Cities Service, harga saham perusahaan tersebut turun hingga US$27. 

Warren Buffett tetap menahan saham miliknya hingga menguat sekitar US$40 dan menjualnya. 

Hal ini kemudian disesali Buffett karena harga saham tersebut naik hingga US$200 lebih setelah Buffett menjual slot saham miliknya. 

Dari investasi inilah Buffett mendapatkan pelajaran berharga dalam berinvestasi: Jangan tergesa-gesa saat mengambil keputusan dan sabar dalam berinvestasi.


Berguru pada Benjamin Graham

Warren Buffett sangat mengagumi Benjamin Graham. 

The Intelligent Investor (1949), buku karya Benjamin Graham, bahkan dianggap Buffett sebagai buku tentang investasi terbaik. 

Kekagumannya terhadap Benjamin Graham membuat Warren Buffett bersedia bekerja dengan Graham tanpa dibayar. 

Pada tahun 1954 hingga 1956, Warren Buffett bekerja sebagai security analyst di perusahaan milik Graham, Graham-Newman Corp. 

Dari Graham-lah Buffett banyak belajar mengenai teknik-teknik investasi yang menjadi dasar dalam berbisnis. 


Berkshire Hathaway

Pada tahun 1956, mengutip dari The Amazing Writer, Buffett membuka perseroan miliknya sendiri, Buffett Partnership Ltd. 

Di tahun berikutnya, Buffett berhasil membuka tiga perseroan dan membeli sebuah hunian yang di tinggalinya hingga sekarang seharga US$31,500.

Berkat didikan Benjamin Graham, Buffett dapat melihat potensi dari perusahaan yang awalnya "diabaikan".

Salah satu perusahaan yang awalnya "tidak berharga" adalah Berkshire Hathaway. 

Buffett mampu melihat celah keuntungan dari perusahaan tekstil ini. Buffett kemudian mengembangkannya menjadi perusahaan yang mumpuni dengan nilai saham yang fantastis. 

Pada tahun 1969, Buffett menutup Buffett Partnership dan fokus pada pengembangan Berkshire Hathaway. 


Warren Buffett memegang posisi sebagai direktur Berkshire Hathaway pada tahun 1989 - 2006. 

Selain menjadi direktur Berkshire Hathaway, Buffett juga mengambil posisi yang sama di Citigroup Global Markets Holdings, The Gillette Company, dan Graham Holdings Company. 

Kekayaan Warren Buffett tidak membuat Buffett menghamburkan uang nya dalam kemewahan. Sang Dukun dari Omaha juga dikenal dengan kedermawanannya.

Terhitung dari tahun 2006, melansir dari Biography, Warren Buffett mulai menyumbangkan keuntungannya kepada beberapa badan amal. 

Hingga saat ini kekayaan Warren Buffett mampu membawanya ke dalam jajaran miliarder dunia. 


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Apa Itu Saham Auto Rejection, ARA dan ARB? Ini Jawabannya


Selain pompom saham, akhir-akhir ini ramai istilah ARA dan ARB pada beberapa saham yang dikoleksi investor. Misalnya saham X kena ARB karena harganya turun tajam atau saham Z terkena ARA karena menyentuh ambang batas.

Buat calon investor pasti bingung dengan ARA dan ARB. Tetapi kalau mau terjun investasi saham, kamu harus tahu istilah tersebut. Sebab ARA dan ARB termasuk dalam mekanisme perdagangan saham

Pengertian Auto Rejection, ARA dan ARB

ARA adalah Auto Rejection Atas, sedangkan ARB merupakan kependekan dari Auto Rejection Bawah.

Sebelum membahas ARA dan ARB, kamu perlu mengenal yang namanya Auto Rejection (AR), seperti dirangkum dari berbagai sumber.

Auto Rejection adalah batasan minimum dan maksimum suatu kenaikan dan penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan bursa.

Mekanismenya begini, sistem bursa atau yang dikenal dengan Jakarta Automated Trading Sysyem (JATS) akan melakukan penolakan secara otomatis terhadap penawaran jual atau beli bila harga saham melebihi batasan harga yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jadi, kalau harga saham A naik melampaui batas persentase atas yang ditentukan BEI dalam sehari akan terkena ARA. Sementara kalau harganya turun melebihi batas bawah kena ARB.

Ciri-ciri saham yang terkena ARA, tidak ada lagi order di antrean jual (offer), sementara ciri-ciri saham yang terkena ARB, tidak ada lagi order di antrean beli (bid).

Batas Harga Atas dan Bawah Auto Rejection

Tabel Auto Rejection

Harga Saham (Rp)                          Auto Reject Atas (ARA)                Auto Reject Bawah (ARB)

50 – 200                                                     >35%                                        <Rp50 / <7%

>200 – 5.000                                              >25%                                                <7%

>5.000                                                        >20%                                               <7%


Gak usah pusing, begini cara membacanya:

Misalnya

Harga saham Y ditutup Rp 2.000 per lembar pada perdagangan kemarin. Maka batas auto rejection harga saham ini sebesar 25%. Kenaikan harga saham Y hari ini paling banyak sebesar Rp 2.000 + (Rp 2.000 x 25%) = Rp 2.500. Jika melampaui harga Rp 2.500, saham Y akan terkena ARA.

Sedangkan jika harga saham Y turun, maka penurunan paling banyak sebesar Rp 2.000 – (Rp 2.000 x 7%) = Rp 1.860. Jika turunnya melebihi Rp 1.860, maka saham Y terkena ARB.

Kamu sebagai investor dapat membeli atau menjual saham pada harga minimal Rp 1.860 dan maksimal Rp 2.500. Jika jual atau beli melebihi harga tersebut, order atau permintaanmu akan ditolak otomatis oleh sistem perdagangan BEI.  

Untuk diketahui pula, jika ARA dan ARB berlangsung selama beberapa hari berturut-turut, saham tersebut bisa saja di suspen atau dihentikan sementara BEI dalam kurun waktu tertentu.

Ada Auto Rejection Biar Investor Gak Rugi Besar

Meski judulnya penolakan, namun auto rejection yang diterapkan BEI demi kemaslahatan investor saham. Kok begitu?

Mekanisme auto rejection, seperti pemberlakuan ARA dan ARB dapat melindungi investor

Biar tidak ada harga saham yang merosot terlalu signifikan, sehingga bikin investor rugi besar. Juga supaya tidak ada harga saham yang naik gila-gilaan, dan dimanfaatkan bandar atau pihak-pihak tertentu

Agar perdagangan saham tetap bergerak secara wajar dan sehat

Investor juga dapat berpikir apakah tetap hold saham atau tidak.

Perhatikan Ini Sebelum Beli Saham yang Kena ARA atau ARB

Saham dengan pergerakan sangat fluktuatif, bahkan tidak wajar kerap menyentuh batasan ARA dan ARB.

Saham-saham yang berpotensi masuk ke dalam lubang batas ARA, biasanya:

Saham IPO atau saham yang pertama kali dijual ke publik

Saham yang tersengat sentimen tertentu, seperti aksi korporasi merger atau akuisisi

Bukan saham dengan kapitalisasi pasar besar

Umumnya saham berkapitalisasi menengah dan kecil.

Sedangkan saham yang sering kena ARB, biasanya justru saham-saham blue chip atau yang masuk indeks LQ45.

Kalau kamu ketemu saham-saham yang terkena ARA atau ARB, analisa terlebih dahulu. Jangan cuma melihat keuntungan yang dihasilkan dengan cepat, seperti pada saham yang masuk ARA. Atau harga murah karena kena ARB.

Perhatikan faktor yang mempengaruhinya

Pasti ada faktor pemicu kenaikan atau penurunan harga saham secara signifikan, apakah karena sentimen tertentu, ataupun saham yang kurang likuid, sehingga harganya gampang naik dan turun atau digoreng.

Pompom saham

Bisa juga karena ajakan atau hasutan orang untuk menggerakkan saham tertentu di waktu tertentu pula.

Hindari beli saham auto reject buat newbie

Saham yang terkena ARA atau ARB sangat cepat berubah harganya. Bisa dalam hitungan jam, menit, bahkan detik.

Jadi jangan ambil risiko. Untuk pemula, sebaiknya hindari saham auto reject. Apalagi sudah masuk daftar UMA (Unusual Market Activity) atau saham yang bergerak di luar kewajaran.

Termasuk bila saham tersebut tidak likuid. Ciri-cirinya antrean bid dan offer sedikit biar investasimu gak ambyar.

Belajar Menganalisa Sendiri

Mau nyemplung investasi saham dan bisa dapat cuan, kuncinya ya harus belajar. Belajar analisa fundamental maupun teknikal sendiri.

Jangan latah, ikut-ikutan beli saham yang dipegang orang lain. Belum tentu analisisnya benar. Banyak cara untuk belajar ‘jeroan’ investasi saham, bisa dari buku, internet, ikut komunitas, atau ikut sekolah pasar modal.

Yuk, jadi investor saham yang cerdas. Gak perlu FOMO, dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Selamat mencoba.

sumber : cermati


Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Ini Alasan Waskita Beton (WSBP) Optimistis Target Kontrak Baru di 2021 Terlampaui



PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) optimistis bisa mendongkrak kinerja pemasaran dengan menumbuhkan raihan kontrak baru. Untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis, anak usaha PT Waskita Karya Tbk (WSKT) ini pun menjajaki potensi pasar di luar negeri.

Direktur Utama Waskita Beton Precast FX Purbayu Ratsunu membeberkan, WSBP mengestimasikan raihan kontrak anyar yang lebih tinggi ketimbang realisasi tahun lalu, maupun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2021.

Sebagai gambaran, WSBP mencetak kontrak baru senilai Rp 1,87 triliun pada 2020. Sedangkan realisasi kontrak anyar WSBP per November 2021 sudah mencapai Rp 1,75 triliun.

Kontrak baru yang diraih WSBP dalam 11 bulan ini berasal dari Waskita Karya Group dengan porsi 78%, dan 22% dari pasar eksternal. Berdasarkan pekerjaannya, segmentasi precast menyumbang 40%, jasa konstruksi 33% dan readymix sebanyak 26%.

Purbayu memproyeksikan, raihan kontrak baru WSBP hingga akhir 2021 bisa mencapai Rp 2,75 triliun, lebih tinggi dari target RKAP 2021 yang sebesar Rp 2,6 triliun.

"Jadi secara kontrak baru, dari 2020 kami sudah melewati. Bahkan untuk rencana internal kami pun, sudah terlampaui," ujar Purbayu dalam paparan publik virtual yang digelar Kamis (30/12).

Dia melanjutkan, WSBP turut menggarap beberapa proyek infrastruktur yang prestisius, seperti Jalan Tol Cimanggis-Cibitung, Cibitung-Cilincing, RDMP RU V Balikpapan, hingga proyek di luar negeri yakni di pelabuhan Thilawa Shipyard Myanmar.

Jajaki Pasar Luar Negeri

Selain di Myanmar, WSBP pun menjajaki potensi pasar luar negeri lainnya melalui kolaborasi dengan Divisi Overseas dari Waskita Karya sebagai induk usaha. "Untuk mengembangkan pasar-pasar kami ke overseas. Ada beberapa negara di Afrika yang sedang kami sasar, yang akan kami umumkan segera," ungkap Purbayu.

Meski belum merinci, tapi Purbayu meyakini bahwa WSBP bisa menjaga tren pertumbuhan kontrak baru pada tahun depan. Apalagi setelah Waskita Karya mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 7,9 triliun, yang dilanjutkan menggelar rights issue sehingga total dana yang akan didapat mencapai sekitar Rp 12 triliun.

"Kalau kami menyasar proyek-proyek PMN-nya Waskita, tentunya rasa optimisme kami menjadi semakin besar. Kami kira untuk 2022 dalam penambahan kontrak baru dan revenue kami optimis untuk meraih itu semua," tandas Purbayu.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Waskita Beton Precast Asep Mudzakir menyampaikan bahwa terkait dengan belanja modal (capex), pada tahun ini WSBP mengalokasikan sekitar Rp 50 miliar. Capex tersebut dipakai untuk kebutuhan peralatan dalam proses produksi selama 2021.

"Angkanya minim dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena memang kami melakukan prioritas, sehingga tidak membebankan secara cash flow," sebut Asep.

Sedangkan untuk tahun depan, WSBP berencana mengalokasikan capex sekitar Rp 150 miliar. Anggaran belanja ini sejalan dengan rencana divestasi. Dana hasil divestasi itu akan diprioritaskan untuk menambah capex di sejumlah plant yang memiliki nilai kompetensi produksi dan harga yang lebih kompetitif.

"Sehingga dengan melakukan penambahan capex di situ, dari margin nanti akan lebih kompetitif pada saat ditawarkan kepada kustomer atau market," pungkas Asep.


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Waskita Beton (WSBP) Optimistis Restrukturisasi Utang Kelar di Semester I-2022



PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) terus berupaya memulihkan kinerja keuangannya. Meski beberapa kali dihadapkan pada Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), WSBP pun optimistis restrukturisasi keuangan bisa tercapai sesuai rencana.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Waskita Beton Precast Asep Mudzakir, mengungkapkan bahwa proses PKPU yang bergulir erat kaitannya dengan proses restrukturisasi yang sedang gencar dilakukan. WSBP pun sedang intensif berdiskusi dengan para lenders dan vendor untuk mencapai suatu kesepakatan, yang ditargetkan akan rampung pada periode semester pertama tahun depan.

"Proses negosiasi memerlukan waktu, namun kami cukup optimistis restrukturisasi ini  dapat diselesaikan pada semester I-2022, bahkan harapannya di kuartbisa selesai. Setelah kesepakatan dengan para kreditur, nanti WSBP akan memiliki fleksibilitas cash flow yang lebih, sehingga dapat melakukan pembayaran kewajiban kepada vendor," ungkap Asep dalam paparan publik virtual yang digelar Kamis (30/12).

Dia menambahkan, proses restrukturisasi keuangan WSBP dilakukan melalui mekanisme master restructuring agreement.  Asep membeberkan, total kewajiban WSBP mencapai Rp 8,88 triliun yang terdiri dari utang bank senilai Rp 3,94 triliun, vendor sebesar Rp 2,91 triliun, obligasi senilai Rp 2 triliun dan deferred interest sebesar Rp 33,8 miliar.

"Sedang dinegosiasikan tenor pembayarannya. Dengan adanya proses restrukturisasi kami akan upayakan untuk rescheduling pembayaran," ujar Asep.

Pembayaran kewajiban WSBP berasal dari dua sumber, yakni aset lancar yang meliputi piutang usaha dan tagihan bruto, divestasi aset tetap, serta opsi debt to asset swap. Selanjutnya, sisa utang akan dilunasi dari future EBITDA yang merupakan hasil dari kinerja operasional perusahaan ke depan

"Restrukturisasi keuangan ini tujuannya mendapatkan skema yang fit dengan cash flow perusahaan serta dapat menjaga going-concern yang selanjutnya akan dituangkan di dalam master restructuring agreement yang akan disepakati seluruh kreditur," jelas Asep.

Sebagai informasi, restrukturisasi keuangan ini merupakan salah satu dari tiga strategi utama WSBP dalam menjalankan pemulihan kondisi fundamental perusahaan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Adapun dua strategi lainnya meliputi transformasi bisnis, serta tata kelola & manajemen risiko.

Dalam menjalankan strategi bisnis, ada tiga pilar penyempurnaan fundamental yang dikerjakan WSBP. Meliputi portofolio & inovasi, lean & digital dan liquidity management. Beberapa program yang dijalankan antara lain: Pertama, bidding booster dengan meningkatkan pendapatan dari pelanggan baru atau eksternal.

Kedua, pengembangan produk baru dengan orientasi pasar yang selektif baik di BUMN maupun swasta. Ketiga, ekspansi pasar internasional seperti yang dilakukan WSBP di proyek pelabuhan Thilawa Shipyard Myanmar. Keempat, procurement booster dengan mengurangi biaya material dan kontrak jasa.

Kelima, peningkatan utilisasi aset. Keenam, divestasi atas kelebihan kapasitas produksi seperti mengurangi jumlah precast plant. Ketujuh, optimalisasi belanja modal dengan mengidentifikasi dan menerapkan solusi alternatif tanpa mempengaruhi kinerja operasional maupun kualitas produk.

Sedangkan untuk strategi penguatan tata kelola dan manajemen risiko, WSBP akan meningkatkan kehati-hatian dalam pengelolaan perusahaan. Strategi ini bertumpu pada empat hal, yakni penguatan fungsi manajemen risiko di level direksi, penerapan 3 lines of defense, penguatan prinsip 4 eyes principles, serta adanya peran dari komite manufaktur dan investasi.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Waskita Beton Precast FX Purbayu Ratsunu mengakui bahwa proses pemulihan perusahaan membutuhkan waktu. Namun Purbayu optimistis WSBP bisa segera merampungkan proses restrukturisasi utang dan penyehatan perusahaan.

"Program-program strategis dari restrukturisasi keuangan dan transformasi bisnis akan menjadi fokus krusial dari kebangkitan WSBP. Saya menekankan, manajemen berkomitmen untuk menciptakan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan. Kami percaya perusahaan ini memiliki prospek yang lebih baik dari potensial infrastruktur yang masih sangat besar," tandas Purbayu.

Merujuk pemberitaan Insight.kontan.co.id, untuk keenam kalinya, WSBP telah dimohonkan PKPU. Terbaru, oleh Magdalena Yohan Heryadi yang mendaftarkan permohonan PKPU atas WSBP pada 23 Desember 2021 di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Sejauh ini WSBP telah lima kali lolos dari jerat PKPU. Pada permohonan PKPU ke-5 terhadap WSBP, Tatchi Engineering Indonesia sebagai pemohon telah mencabut permohonan atas WSBP yang sidangnya berakhir 22 Desember 2021.


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online

Waskita Karya (WSKT) Telah Menyerap Seluruh Dana PMN dari Pemerintah



PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) telah menerima seluruh dana penyertaan modal negara (PMN) dalam rangka aksi korporasi rights issue pada akhir tahun ini. Setoran modal pemerintah sebagai bagian dari proses rights issue telah diterima secara penuh sebesar Rp 7,90 triliun pada tanggal 29 Desember 2021. 

"Setoran modal ini menunjukkan kepercayaan dan support konkret dari pemerintah atas upaya perbaikan fundamental keuangan Waskita sekaligus sinyal positif dalam proses rights issue yang saat ini sedang berlangsung,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Waskita, Taufik Hendra Kusuma dalam siaran pers, Kamis (30/12).

Proses perdagangan rights issue Waskita berlangsung dari 30 Desember 2021 hingga 12 Januari 2022, dengan harga penebusan right sebesar Rp 620. Dari aksi korporasi itu jumlah dana yang ditargetkan sebesar Rp 11,96 triliun, termasuk dana PMN yang telah disetor oleh pemerintah.

Berdasarkan prospektus rights issue WSKT, dana hasil aksi korporasi ini akan digunakan untuk modal kerja konstruksi proyek jalan tol melalui anak usaha PT Waskita Toll Road (WTR). Kemudian sisanya akan digunakan untuk modal kerja proyek lainnya.

Untuk konstruksi proyek ke WTR, dana yang digunakan adalah dana dari PMN. Perinciannya senilai Rp 1,4 triliun untuk setoran modal minimal dan Rp 6,5 triliun dalam bentuk shareholders loan.

Adapun proyek yang akan dibiayai dari dana ini adalah tol Kayuagung-Palembang-Betung tahap II senilai Rp 3,03 triliun, tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu senilai Rp 1,13 triliun dan tol Cimanggis-Cibitung senilai Rp 620 miliar.

Kemudian tol Ciawi-Sukabumi senilai Rp 640 miliar, tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar senilai Rp 106 triliun, tol Pasuruan-Probolinggo senilai Rp 1,22 triliun, dan tol Pejagang-Pemalang senilai Rp 200 miliar.

Dengan implementasi 8 Stream Penyehatan Keuangan Waskita, manajemen WSKT optimistis kinerja ke depan akan semakin baik, terutama seiring dengan adanya penambahan modal yang prosesnya sedang berjalan.


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Harga Minyak Ditutup Naik Tipis Jelang Pertemuan OPEC+ Minggu Depan



Harga minyak mentah naik tipis di tengah ekspektasi bahwa permintaan bahan bakar bertahan meskipun infeksi virus corona Omicron melonjak dan OPEC+ akan terus meningkatkan impor secara bertahap.

Namun, kenaikan harga terpangkas karena importir utama dunia China memotong batch pertama alokasi impor minyak mentah untuk 2022.

Kamis (30/12), harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Februari 2022 ditutup di level US$ 79,32 per barel, atau naik 0,11%.

Serupa, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup menguat 0,56% ke US$ 76,9 per barel. Ini menjadi kenaikan sesi ketujuh secara berturut-turut.

"Kami memiliki jumlah permintaan yang sangat kuat hingga Desember, jadi sekarang pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan OPEC," kata John Kilduff, Partner di Again Capital Management.

Lebih lanjut, Kilduff mengharapkan OPEC+, untuk terus menambah produksi secara bertahap.

China, importir minyak mentah utama dunia, menurunkan batch pertama kuota impor 2022 ke sebagian besar penyulingan independen sebesar 11%.

"Sentimen pasar melemah di tengah kekhawatiran bahwa pemerintah China dapat mengambil tindakan lebih keras terhadap teko," kata seorang analis yang berbasis di Singapura, merujuk pada penyulingan independen.

Namun, harga minyak global telah rebound antara 50% hingga 60% pada tahun 2021 karena permintaan bahan bakar kembali ke level pra-pandemi dan pengurangan produksi yang dalam oleh OPEC+ untuk sebagian besar tahun ini menghapus kelebihan pasokan.

Data Energy Information Administration (EIA) pada hari Rabu (29/12) menunjukkan, persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun 3,6 juta barel dalam seminggu yang berakhir pada 24 Desember 2021. Jumlah itu lebih dari yang diperkirakan para analis yang disurvei oleh Reuters.

Persediaan bensin dan sulingan juga turun, dibandingkan perkiraan analis, menunjukkan permintaan tetap kuat meskipun ada rekor kasus COVID-19 di Amerika Serikat.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk membatasi dampak rekor kasus COVID-19 yang tinggi pada pertumbuhan ekonomi, seperti melonggarkan aturan pengujian.

OPEC+ akan bertemu pada 4 Januari untuk memutuskan apakah akan melanjutkan peningkatan produksi pada Februari.

Raja Arab Saudi Salman mengatakan pada hari Rabu bahwa perjanjian produksi OPEC+ diperlukan untuk stabilitas pasar minyak dan bahwa produsen harus mematuhi pakta tersebut.

Irak pun mengatakan akan mendukung untuk tetap berpegang pada kebijakan OPEC+ yang ada untuk meningkatkan produksi dengan gabungan 400.000 barel per hari pada Februari.

Di sisi lain, Shell mengatakan telah melanjutkan ekspor minyak Forcados di Nigeria, mengurangi satu dari tiga pemadaman global utama yang juga mencakup Ekuador dan Libya.


sumber : kontan

Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Investor Asing Mencatat Net Buy Rp 30 Triliun Tahun Ini, Simak Prospek Tahun Depan



Meski diwarnai volatilitas, pasar saham Indonesia tahun ini menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 10,08% sepanjang 2021.

Penguatan IHSG ini diiringi oleh dana asing terus mengalir di pasar saham. Tercatat net buy asing di pasar reguler sebesar Rp 36,52 triliun dan di seluruh pasar sebesar Rp 29,68 triliun.

Sektor perbankan dan komoditas banyak diburu asing selama tahun ini. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi paling banyak diburu dengan mencatatkan net buy asing sebesar Rp 12,6 triliun.

Selanjutnya disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp 9,3 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 6,6 triliun, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp 4,6 triliun. Lalu juga ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 2,4 triliun, PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 1,4 triliun, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 1,1 triliun.

Analis Erdikha Elit Sekuritas, Ivan Kasulthan menilai perburuan asing akan saham-saham tersebut kemungkinan besar masih akan berlanjut di tahun depan. Menurut dia, pemicu asing memburu saham tersebut karena saham-saham itu memiliki fundamental yang baik.

"Juga saham-saham ini tergolong atau masuk dalam kategori indeks MSCI yang mana ini menjadi salah satu acuan investor asing untuk memborong saham tersebut," kata Ivan kepada Kontan.co.id, Kamis (30/12).

Dia memproyeksikan sampai akhir tahun depan saham-saham itu memiliki potensi mencatatkan net buy kembali. Proyeksi tersebut berdasarkan kinerja laporan keuangan yang baik dan juga memiliki kapitalisasi pasar yang besar serta likuiditas yang tinggi.

Secara umum, ekspektasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat di tahun depan, terutama di emerging markets seperti Indonesia, menjadi peluang masuk investor. "Sehingga, ini bisa menjadi kesempatan Investor asing untuk masuk ke emerging markets ketika pasar di negara-negara sudah mengalami jenuh beli," katanya.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga menilai net buy asing masih akan berlanjut di tahun depan. Menurut dia, di tengah ketidakpastian dengan varian omicron tetapi masih ada jurus yang dimiliki Indonesia untuk menggaet investor asing.

"Dari tax amnesty dan juga Undang-Undang Cipta Kerja," kata Nico.

Dia menambahkan, kedua hal tersebut berpotensi akan menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, baik di sektor keuangan maupun sektor riil. Lebih lanjut, untuk sektor riil ia melihat dari foreign direct investment (FDI) Indoensia yang didominasi oleh berbagai negara yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.

"Sehingga ini menjadi tanda Indonesia berhasil mengajak negara lain untuk berinvestasi di Indonesia.

Lebih lanjut, pada 2022 juga memiliki peluang terkait energi terbarukan (EBT). Sehingga, Nico menilai peluang asing masuk di Indonesia masih besar.

Walau begitu, Nico menegaskan ketidakpastian masih akan berlanjut juga. Karenanya, dia memperkirakan dari pasar modal sektor yang masih belum disentuh asing dari properti lantaran potensi kenaikan belum terlalu besar di tahun depan.


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Wall Street loyo : Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq Kompak Ditutup Melemah



Wall Street ditutup lebih rendah setelah koreksi yang terjadi di akhir perdagangan akibat volume menipis dari rekor tertinggi yang terjadi di awal sesi. Padahal, data ekonomi Amerika Serikat (AS), termasuk klaim mingguan untuk tunjangan pengangguran yang turun, sempat mengerek bursa saham.

Kamis (30/12), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 90,55 poin atau 0,25% menjadi 36.398,08, indeks S&P 500 koreksi 14,33 poin atau 0,30% ke 4.778,73 dan indeks Nasdaq Composite melemah 24,65 poin atau 0,16% menuju 15.741,56.

Empat dari 11 sektor pada indeks utama S&P 500 diperdagangkan naik. Penguatan terbesar dipimpin oleh sektor real estat.

Dengan satu hari perdagangan tersisa di tahun 2021, indeks S&P 500 ditetapkan untuk mengakhiri tahun dengan menguat lebih dari 27%. Disusul, indeks Nasdaq yang naik sekitar 23% dan Dow Jones yang naik sekitar 20% di tahun ini.

Dengan hasil tersebut, maka masing-masing indeks utama Wall Street bersiap untuk lonjakan tahunan paling tajam ketiga sejak 1997-1999.

Pada perdagangan ini, investor menyambut baik laporan Departemen Tenaga Kerja AS bahwa jumlah orang AS yang mengajukan klaim pengangguran baru turun ke penyesuaian musiman 198.000 dalam minggu menjelang Natal, dari revisi 206.000 seminggu sebelumnya.

Hasil itu pun lebih baik daripada proyeksi ekonom yang disurvei oleh Reuters, dengan memperkirakan aplikasi mingguan akan naik menjadi 208.000.

Dalam data kuat AS lainnya, indeks manajer pembelian (PMI) Chicago berada di level 63,1, atau meningkat 1,3 poin secara bulanan dan 1,1 poin di atas konsensus

Angka PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang diperluas selama bulan sebelumnya.

Ekuitas telah reli baru-baru ini di dengan volume perdagangan paling tipis yang pernah dilihat bursa saham AS karena musim liburan tiba. Kenaikan didorong oleh semakin banyak bukti bahwa varian Omicron menyebabkan infeksi Covid-19 yang tidak terlalu parah daripada strain Delta.

Pada hari Rabu (29/12), penasihat penyakit menular AS Dr. Anthony Fauci mengatakan, lonjakan kasus varian Omicron akan mencapai puncaknya pada akhir Januari.

"Data produsen yang kuat dari Chicago dan klaim pengangguran awal yang mengesankan terus menunjukkan ekonomi yang cukup sehat, menghilangkan kekhawatiran lanjutan yang jelas atas varian Omicron," kata Ryan Detrick, Chief Market Strategist LPL Financial di Charlotte, North Carolina.

Namun, Detrick memperingatkan bahwa volume perdagangan musim liburan yang rendah dapat membesar-besarkan pergerakan harga.

Pasar saham berada dalam "Reli Santa Claus" musiman yang kuat yang biasanya terjadi dalam lima hari perdagangan terakhir tahun ini dan dua hari pertama tahun baru.

Di antara saham individu, Biogen Inc tergelincir 7,09%, mengembalikan keuntungan dari sesi sebelumnya karena Samsung BioLogics membantah laporan media yang mengatakan perusahaan Korea Selatan itu sedang dalam pembicaraan untuk membeli pembuat obat AS.

Sementara itu, saham Walt Disney Co yang koreksi lebih dari 20% di tahun ini. Padahal di saat yang sama, indeks utama Dow Jones berada di jalur untuk kenaikan 19% pada tahun 2021.

Pada tahun 2022, investor akan mengalihkan perhatian mereka ke perkiraan kenaikan suku bunga AS dan pemilihan paruh waktu untuk Kongres AS, di mana Partai Demokrat yang dipimpin Presiden Joe Biden sekarang memegang mayoritas tipis.

“Pada periode tengah tahun depan cenderung menjadi yang paling fluktuatif dari siklus empat tahun. Sebenarnya ada puncak rata-rata 17% untuk koreksi batang selama tengah tahun, yang merupakan terbesar dari empat tahun,” tambah Detrick.

“Investor cukup dimanjakan tahun ini. Jadi ketahuilah bahwa tahun depan tidak akan semudah itu,” tegas dia.


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Dana Tax Amnesty Jilid II Bisa Mengalir ke Saham-Saham Sektor SDA dan EBT



Dana hasil program pengungkapan sukarela (PPS) pajak atau tax amnesty jilid II berpotensi mengalir ke saham-saham di sektor sumber daya alam (SDA) dan energi baru terbarukan (EBT) .

Adapun PPS akan diselenggarakan pada 1 Januari 2022 sampai dengan 30 Januari 2022. Salah satu tujuan dari pelaksanaan pengampunan pajak ini yakni untuk meningkatkan investasi, termasuk di pasar modal.

Lebih lanjut, pemerintah mengatur bagi calon peserta PPS yang ingin mendapatkan tarif pajak penghasilan (PPh) terendah, maka harta repatriasi luar negeri dan harta deklarasi dalam negeri harus diinvestasikan dalam surat berharga negara (SBN), SDA, atau EBT.

Tarif PPh Final yang ditawarkan pemerintah yakni sebesar 6% untuk Wajib Pajak (WP) orang pribadi dan WP Badan peserta tax amnesty 2016. Kemudian sebesar 12% untuk WP dengan perolehan harta sepanjang 2016-2020 yang belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan 2020.

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Perpajakan Yon Arsal menyampaikan, untuk investasi di SDA atau EBT sebagaimana ketentuan tarif terendah PPS, para WP/investor bisa menanamkan harta kekayaannya ke saham-saham yang berada di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, ia mengatakan ketentuan ini ada kriterianya.

“Hanya yang initial public offering (IPO) dan rights issue,” kata Yon kepada Kontan.co.id, Kamis (30/12).

Setali tiga uang, ketentuan tersebut hanya berlaku untuk saham-saham di sektor SDA atau EBT yang baru melakukan IPO atau rights issue saat pengampunan pajak diselenggarakan tahun depan.

Sementara untuk pengalihan harta deklarasi PPS ke dalam BEI itu paling lambat tanggal 30 September 2022.  Jangka waktu investor menanamkan modalnya diatur paling singkat selama lima tahun terhitung sejak diterbitkannya Surat Keterangan.

Kebijakan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 196/PMK.03/2021 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengungkapan Sukarela Wajib Pajak.

Di sisi lain, berdasarkan kajian Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pemerintah mengejar harta kekayaan WP peserta PPS sedikitnya mencapai Rp 1.346 triliuhn

Angka tersebut berasal dari saldo/nilai atas rekening WP yang belum diungkapkan sebesar Rp 670 triliun. Kemudian, penghasilan WP yang didapat dari bunga, penjualan, dan penghasilan di luar negeri senilai Rp 676 triliun.


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online

Kinerja Ciputra Development (CTRA) Tersokong Insentif Pajak Properti, Ini Kata Analis



PT Ciputra Development Tbk (CTRA) sudah turut merasakan pemulihan ekonomi. Kinerja keuangan perusahaan properti ini berhasil tumbuh signifikan tersokong insentif pajak properti. 

Berdasarkan laporan kinerja keuangan kuartal III-2021, CTRA berhasil torehkan pertumbuhan pendapatan 56,80% secara year on year (yoy) menjadi Rp 6,64 triliun. Sedangkan, laba bersih meroket 336,95% yoy menjadi Rp 1,01 triliun. 

Andhika Suryadharma Analis RHB Sekuritas menuliskan dalam risetnya, bahwa kinerja CTRA di kuartal III-2021 sesuai dengan apa yang ia proyeksikan.

Andhika melihat kinerja CTRA positif karena didukung kenaikan margin dan rata-rata harga jual dari produk perumahan Citraland Surabaya. Selain itu, laba bisa tumbuh signifikan karena CTRA juga berhasil melakukan efisiensi dengan menghemat pengeluaran pemasaran dan komisi. 

Hingga kuartal III-2021, Ajeng Kartika Hapsari Analis NH Korindo Sekuritas dalam risetnya menulis, CTRA berhasil bukukan pra penjualan Rp 5 triliun yang naik 33% yoy.

Angka tersebut sudah mencapai 85% target pra penjualan CTRA di tahun ini yang sebesar Rp 5,8 triliun. Capaian pra penjualan tinggi karena didukung oleh kenaikan penjualan perumahan di Surabaya, Medan dan Tangerang. 

Sementara, menajemen mengatakan faktor yang mendorong kenaikan pra penjualan adalah sebagian masyarakat memiliki tabungan yang lebih besar karena pengeluaran masyarakat untuk rekreasi, wisata dan belanja berkurang. 

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe menambahkan daya beli masyarakat akan produk properti meningkat juga didukung oleh kenaikan harga komoditas. "Saat harga komoditas naik sebagian masyarakat juga jadi memiliki dana lebih," kata Kiswoyo, Kamis (30/12). 

Minat masyarakat untuk mebeli properti juga didukung oleh stimulus Pajak Pertambahan Nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) properti yang pemerintah berlakukan sejak 1 Maret 2021 hingga akhir tahun ini. Hal ini tercermin naiknya pembayaran KPR terhadap properti CTRA.

Namun, Ajeng memproyeksikan akan menjadi tantangan bagi CTRA jika insentif pajak tersebut berakhir. Sementara, manajemen mengatakan tetap optimistis bahwa pertumbuhan pra penjualan di 2022 akan tetap berlanjut meski insentif berakhir.  

Pada segmen pusat perbelanjaan, Andhika mengamati bahwa CTRA mampu mempertahankan tingkat hunian sebesar 90% dengan memberikan diskon sewa hingga 50%. Seiring pembukaan kembali ekonomi di kuartal IV-2021, Andhika mengatakan CTRA berencana untuk menurunkan diskon menjadi 30%. 

Selain itu, Andhika melihat CTRA akan memiliki sumber pendapatan baru dari bisnis rumah sakit. Tercatat hingga kuartal III-2021, kinerja rumah sakit milik CTRA tumbuh 94% yoy, meski hanya mewakili 8% pada total pendapatan. Namun, Andhika berharap pendapatan dari segmen rumah sakit ke depannya akan berkembang. 

Andhika memproyeksikan pendapatan CTRA di 2022 berpotensi naik ke Rp 8,54 triliun. Sedangkan, Kiswoyo memproyeksikan di tahun depan pendapatan CTRA berpotensi tumbuh 10%-20%. Namun, di satu sisi Kiswoyo mengatakan CTRA berpotensi menghadapi tantangan peningkatan suku bunga di tahun depan yang membuat biaya pinjaman properti bisa naik. 

Kamis (30/12), harga saham CTRA turun 0,51% ke Rp 970. Kiswoyo merekomendasikan buy on weakness. "Menarik di beli kalau harga saham CTRA terkoreksi di bawah Rp 800 dan pasang target harga di Rp 1.100," kata Kiswoyo. 

Sementara, Andhika merekomendasikan beli untuk CTRA dan memasang target harga Rp 1.500 per saham. Sementara, Fransiska Sintia Analis Verdhana Sekuritas juga merekomendasikan beli CTRA dengan target harga 1.300.


sumber : kontan


Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online