Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April 30, 2019

Pola Distribusi Saham

Apa itu Distribusi Saham
Distribusi Saham adalah ketika ada saham yang sudah dikumpulkan oleh investor dalam sejumlah blok besar kemudian dijual ke pasar secara bertahap dalam blok-blok kecil secara bertahap, tidak dilakukan dalam sekali jual / satu blok besar tunggal. Ini biasanya dilakukan untuk menghindari membanjiri pasar dengan sekuritas dan menurunkan harganya. Likuiditas di pasar untuk sekuritas akan menentukan bagaimana bagian besar tersebut dipecah.
Dana investasi yang dikelola dengan posisi besar, yang ingin dilikuidasi, akan dijual secara teratur semaksimal mungkin. Membuang pasokan besar di pasar dengan permintaan yang tidak cukup untuk menyerap saham kontraproduktif dengan manajemen investasi karena penjualan akan dieksekusi dengan harga kliring yang lebih rendah. Proses Distribusi Saham ini dilikuidasi selama beberapa hari atau minggu tanpa menekan harga atau memberi tahu orang lain tentang keberadaan penjual besar di pasar.
Baca juga: Akumulasi pada Saham Mendeteksi Dis…

Saham ADHI | Kontrak Baru Mengangkat Prospek Saham Adhi Karya (ADHI)

Analis meyakini PT Adhi Karya Tbk tidak bakal kesulitan merealisasikan target perolehan kontrak baru di tahun ini. Meski begitu, perusahaan konstruksi ini masih dibayangi oleh defisit arus kas operasional.
Sebagai gambaran, ADHI telah memperoleh kontrak baru sebesar Rp 3 triliun per Maret silam. Jumlah tersebut setara 8,57% dari target kontrak baru yang dicanangkan manajemen ADHI, yaitu sebesar Rp 35 triliun untuk sepanjang tahun 2019.
Dari jumlah kontrak baru tersebut, kontribusi terbesar berasal dari proyek RDMP Office & Lab Pertamina. Nilainya sebesar Rp 608 miliar. Sedangkan dari tipe pekerjaan, kontribusi perolehan kontrak baru dari proyek gedung mencapai 64,3%.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan, sebenarnya nilai kontrak baru yang diperoleh ADHI masih jauh dari target. Namun, hal ini masih dianggap baik, mengingat biasanya emiten konstruksi mendapat kontrak baru dalam jumlah besar jelang akhir tahun.
Ia menilai, ADHI belum akan menemui kesulitan berar…

Saham BSDE | Emiten Properti Grup Sinar Mas Efisiensi Agar Cetak Laba

Unit bisnis Sinar Mas Group yang bergerak di bidang properti membukukan penurunan pendapatan sepanjang kuartal satu tahun ini. Pendapatan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menurun 4,9% menjadi Rp 1,62 triliun di kuartal I tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangan BSDE yang dirilis Senin (29/4), penurunan pendapatan terjadi di segmen penjualan tanah dan bangunan strata title sebesar 74,12% menjadi Rp 66,97 miliar. Selain itu, pendapatan hotel BSDE juga menyusut sebesar 10,45% di kuartal I tahun ini menjadi Rp 13,7 miliar.
Pendapatan emiten properti Sinar Mas lainnya, yakni PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), yang membawahi bisnis hotel, juga ikut tertekan. Sepanjang tiga bulan di tahun ini, pendapatan DUTI turun 17,67% menjadi Rp 515,03 miliar.
Segmen bisnis yang memberi kontribusi terbesar pada pendapatan DUTI adalah segmen penjualan tanah, rumah dan ruko. Kontribusinya mencapai Rp 277,89 miliar. Tapi, jumlah tersebut susut 27,45% dari periode sebelumnya.
Begitu juga pendapatan segmen lain, sep…

Saham Rokok | Tantangan Emiten Rokok Masih Berat

Pergerakan harga saham emiten rokok belakangan ini tampak volatil. Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) misalnya.
Meski naik dalam sepekan, namun sepanjang bulan ini, saham HMSP menjadi pemberat atau laggard di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham ini mengurangi bobot indeks sebesar 27,6 poin. Padahal, kinerja keuangan perusahaan ini positif.
Begitu juga dengan kinerja keuangan PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA). Kerugiannya turun 203% menjadi Rp 83,29 miliar. Sementara, pendapatannya naik 10% menjadi Rp 5,04 triliun.
Robertus Yanuar Hardy, analis Kresna Sekuritas, menilai, pergerakan harga saham emiten rokok dipengaruhi berita wacana pemerintah menaikkan cukai rokok. "Rencana kenaikan mulai semester kedua tahun ini," ujar dia, Senin (29/4).
Setali tiga uang, analis Bahana Sekruitas Giovanni Dustin melihat, wacana tersebut cukup mempengaruhi. Padahal, sebelumnya pemerintah menyebutkan tidak akan ada kenaikan tarif cukai rokok pada tahun ini.
Valuasi mahal
Sebelu…

Saham CINT | Chitose Akan Mengerek Harga Produk

Emiten mebel PT Chitose Internasional Tbk (CINT) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp 9,5 miliar pada tahun ini. Dengan bekal belanja modal itu, emiten bersandi saham CINT di Bursa Efek Indonesia ini ingin membidik laba bersih sebesar Rp 21 miliar atau tumbuh 55% dibandingkan laba bersih tahun lalu.
"Dana capex berasal dari kas sebesar Rp 9,5 miliar dengan rincian penggunaan dana untuk pengembangan produk dan special project. Sisanya untuk produksi dan rehabilitasi," ujar Dedie Suherlan, Direktur Utama PT Chitose Internasional Tbk, Senin (29/4).
Pada awal tahun ini, Chitose telah membenamkan investasi ke C-ENG Co Ltd asal Jepang sebesar 33,30 juta. Aksi korporasi tersebut merupakan akuisisi saham dan pengembangan bisnis usaha. CINT juga terus menggelar diversifikasi produk dan meningkatkan pangsa pasar, khususnya pada produk matras C-Pro untuk memperkuat lini bisnisnya di masa mendatang. "Pasar ASEAN, Jepang dan Oceania adalah target perluasan d…

Saham MLPL | Multipolar Masih Mengandalkan Ritel

PT Multipolar Tbk (MLPL) masih mengandalkan segmen ritel untuk menjaring pendapatan. Sepanjang tahun lalu, penjualan bersih Multipolar ditopang dari segmen ritel sebesar 78,9% terhadap total penjualan. Pada pos laba bruto, segmen ritel berkontribusi sebesar 86,7%.
Direktur Multipolar, Agus Arismunandar, menyebutkan dari data tersebut segmen ritel masih akan terus menjadi backbone perusahaan. "Masih ritel, karena kontributor terbesar dari ritel," ungkap dia kepada KONTAN, Senin (29/4).
Dari segmen bisnis ritel, emiten dengan kode saham MLPL di Bursa Efek Indonesia ini memiliki kepemilikan saham di Matahari Putra Prima, Matahari Department Store, Timezone, dan Books & Beyond. Di luar segmen ritel, Multipolar juga memiliki segmen bisnis telekomunikasi-multimedia-teknologi (TMT) serta investasi dan lain-lain.
Untuk penjualan bersih, segmen TMT berkontribusi sebesar 16,1%, sedangkan investasi dan lain-lain menyumbangkan 5%. Meski demikian, manajemen MLPL tidak akan pilih kas…

Saham Batubara | Membaca Arah Produksi Batubara Tahun 2019

Hingga 29 April tahun ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batubara nasional mencapai 118 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan 24,12% dari seluruh target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2019.
Realisasi produksi itu baru mencakup sekitar 80% produksi perusahaan batubara dalam negeri. "Sudah semua untuk izin pusat tapi minus beberapa perusahaan daerah yang belum," terang Bambang Gatot Ariyono, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin (29/4).
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai bahwa terlalu dini untuk memproyeksikan produksi batubara nasional sepanjang tahun ini jika hanya mengacu pada data empat bulan pertama. Apalagi, secara historis, volume produksi batubara biasanya mendaki mulai kuartal kedua.
Sementara Ketua Indonesia Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo cukup yakin produksi batub…

Saham EXCL | XL Axiata (EXCL) Incar Pertumbuhan di Atas 5%

PT XL Axiata Tbk (EXCL) berharap bisa mencetak kinerja keuangan lebih positif tahun ini. Emiten halo-halo ini sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengejar target tersebut.
Presiden Direktur EXCL Dian Siswarini mengatakan, perusahaan ini membidik pertumbuhan pendapatan minimal sama seperti rata-rata industri, yakni antara 4%-5%. Skenario terbaiknya, pertumbuhan pendapatan EXCL melebihi perkiraan tersebut.
Dian optimistis, tahun ini pasar seluler akan mengalami pemulihan, terutama dari segmen bisnis layanan data, karena adanya peningkatan trafik yang cukup kuat. "Tahun 2019 diperkirakan trafik data akan meningkat 60% dibanding dengan tahun lalu," kata dia di Jakarta, Senin (29/4).
Demi menangkap peluang tersebut, EXCL bakal terus meningkatkan jaringan 4G di luar Pulau Jawa. Sampai tahun 2018, jaringan 4G EXCL mencakup lebih dari 80% populasi masyarakat Indonesia.
Tahun ini, EXCL menargetkan bisa menjangkau sekitar 90% dari populasi Indonesia. Untuk pengembangan di Pulau …

Dividen Saham ASII 2019

Dividen tunai ASII / Astra International Tbk 2019 sebesar Rp6.239.730.045.468,2 atau Rp154,13,- per saham akan dibayarkan kepada pemegang saham, dengan jadwal pelaksanaan dan pembayaran sebagai berikut:
Jadwal Dividen Saham ASII 2019 Cum dividen tunai pada Pasar Reguler dan Nego 06 Mei 2019
Ex Cum dividen tunai pada Pasar Reguler dan Pasar Nego 07 Mei 2019
Cum dividen tunai pada Pasar Tunai 08 Mei 2019
Ex Cum dividen tunai pada Pasar Tunai 09 Mei 2019
Daftar Pemegang Saham berhak atas dividen Tunai (Recording Date) 08 Mei 2019
Tanggal Pembayaran 24 Mei 2019
Baca juga : Pengertian Dividen Saham
Sumber: britama

Dividen Saham INDY 2019

Dividen tunai INDY / Indika Energy Tbk 2019 sebesar USD40.000.000 atau Rp108,663941,- per saham akan dibayarkan kepada pemegang saham, dengan jadwal pelaksanaan dan pembayaran sebagai berikut:
Jadwal Dividen Saham INDY 2019 Cum dividen tunai pada Pasar Reguler dan Nego 06 Mei 2019
Ex Cum dividen tunai pada Pasar Reguler dan Pasar Nego 07 Mei 2019
Cum dividen tunai pada Pasar Tunai 08 Mei 2019
Ex Cum dividen tunai pada Pasar Tunai 09 Mei 2019
Daftar Pemegang Saham berhak atas dividen Tunai (Recording Date) 08 Mei 2019
Tanggal Pembayaran 29 Mei 2019
Baca juga : Pengertian Dividen Saham
Sumber: britama

Analisa Saham HMSP, MAPI dan ELSA

IHSG (6.385 - 6.460) : Indeks harga saham gabungan diprediksi akan melanjutkan penguatannya. Target kenaikan indeks pada level 6.460 kemudian 6.500 dengan support di level 6.385 dan 6.350.
HMSP (Buy) : Target kenaikan harga pada level 3.560 kemudian 3.640 dengan support di level 3.400, cut loss jika break 3.320.
MAPI (Buy) : Target kenaikan harga pada level 1.010 kemudian 1.035 dengan support di level 960, cut loss jika break 935.
ELSA (Buy on Weakness) : Target harga beli pada level 388 dengan resist di level 396 kemudian 400.

Full report bisa diakses di : ipot

Analisa Saham EXCL dan PTPP

Saham EXCL EXCL bergerak dalam tren naik setelah menguat menembus downtrend resist line-nya di 2600-an. Target selanjutnya adalah di level 3160. Level 3160 merupakan level penting. Jika kedepan 3160 dapat dilampaui, EXCL berpeluang besar menguat dalam tren naik jangka menengah – panjang menuju target awal di 3600. MACD yang meningkat menunjukkan saham ini bergerak positif.
Rekomendasi: Hold selama bertahan di atas support 2720.
Saham PTPP PTPP menguat mencapai target kenaikan awal di 2450. Konsolidasi di area ini merupakan konsolidasi wajar. Jika mampu bertahan di atas level ini, terbuka ruang kenaikan bagi PTPP kembali bergerak bullish menuju 3140 dengan minor target 2710. MACD yang kembali meningkat menunjukkan saham ini bergerak positif.
Rekomendasi: Buy jika break 2510. Stoploss level 2260. High entry risk. 

Sumber: Galeri Saham | EXCL & PTPP

Analisa Saham WSBP, WTON dan ADHI

Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight (Apr 30, 2019) (tasrul@miraeasset.co.id)
IHSG Daily, 6,425.9 (+0.39%), test support at 6,452. Trading  range 6,380 – 6,452. indikator MFI optimized dan indicator RSI optimized masih cenderung naik. Pada periode weekly ,indikator MFI optimized  dan indikator W%R optimized akan menguji support trendline . Daily resistance terdekat di 6,452 dan support di 6,380. Cut loss level di 6,327.
WSBP Daily, 436 (+0.46%), trading buy, trading range 432 – 442. indikator MFI optimized dan W%R optimized  cenderung naik..  Daily support 432 dan resistance di 442. Cut loss level di 430.
WTON Daily, 835 (+1.60%), trading  buy, 625 – 650. indikator MFI optimized akan menguji support trendline. dan RSI optimized cenderung naik. Daily support 625 dan resistance di 650. Cut loss level di 560.
ADHI Daily, 1,760 (+1.44%), trading buy, trading range 1,735 – 1,800. Indikator MFI optimized  dan indkator W%R optimized masih cenderung naik. Perkiraan daily support…

Rekomendasi Saham Tetra X Change | 30 April 2019

Hari ini index diproyeksikan masih akan lanjutkan penguatan untuk coba break area resisten EMA7 MA20 6425-6450. Tidak adanya sentimen negatif dari pasar global serta market yang cenderung tenang karena libur di Jepang dan China diharapkan jaga volatilitas market rendah.
Sektor PROPERTY cenderung menunjukkan pola Buy On Weakness karena memantul dari support uptrendnya. Untuk sektor CONSUMER menunjukkan pola Speculative karena tidak membuat low yang lebih rendah dari trend turunnya. 
Beberapa saham yang menjadi incaran investor asing kemarin adalah BBCA WIKA BTPS DILD BRPT ADRO LPPF WSKT INDF WSBP dan WEGE. 
Tone dan Manner perdagangan hari ini : Sektor CONSUMER Menunjukan Pola Speculative Buy, Coba Memantul Dari Downtrend Potensi Pergerakan Index : 6358 - 6461
Beberapa saham yang perlu diperhatikan hari ini :
Swing Trade :  ADRO ENRG FIRE HOKI HOME ISAT MAIN MAPI MTDL TARA TBIG TINS WOOD   (cross over MA20 kemarin)
Fast Trade  :  MTDL MAIN IINKP CLEO INKP HOME MIKA LUCK WIIM HEAL FREN…

Analisa Saham SSMS, BBTN dan INCO

Berikut ini rekomendasi teknikal tiga saham pilihan dari sejumlah analis untuk diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (29/4) hari ini.
1. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
Peluang uptrend mulai terbuka lebar karena indikator MACD telah membentuk pola golden cross di area negatif. Hal ini disertai dengan indikator RSI yang mulai menunjukkan sinyal positif.
Rekomendasi: Akumulasi beli Support: Rp 1.050 Resistance: Rp 1.110
Muhammad Nafan Aji, Binaartha Parama Sekuritas

2. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)
Saham BBTN membentuk pola short white candle yang mengindikasikan potensi penguatan. Indikator stochastic bergerak sideways di level 40 yang menandakan belum memasuki area jenuh beli.
Rekomendasi: Buy on weakness Support: Rp 2.485 Resistance: Rp 2.585
Edo Ardiansyah, Erdikha Elit Sekuritas

3. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Saham INCO menguji three white soldiers pattern candle dengan RSI menguat dan stochastic berpotongan golden cross, walau di sisi lain volume…

Rekomendasi Saham Indosurya Bersinar Sekuritas | 30 April 2019

Pada perdagangan hari ini, laju Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) berpeluang untuk melanjutkan proses penguatan, setelah kemarin mampu mempertahankan posisi di teritori positif.
"Mengakhiri bulan keempat 2019, rilis kinerja emiten untuk kuartal pertama akan menjadi sentimen yang mempengaruhi pola pergerakan IHSG ," kata analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Suryawijaya, di Jakarta, Selasa (30/4).
William mengatakan, secara umum laporan keuangan emiten akan mencatatkan hasil yang positif, sehingga hal tersebut akan mampu mendorong IHSG untuk bergerak naik dalam jangka pendek.
Lebih lanjut dia menyatakan, IHSG memiliki support terdekat yang akan berupaya dipertahankan pada level 6.321, sedangkan target resisten terdekat yang berusaha ditembus ada di posisi 6.498. "Hari ini IHSG berpotensi menguat," ucapnya.
Adanya peluang kenaikan lanjutan pada laju IHSG hari ini, William menyodorkan sebelas saham yang bisa dimainkan pelaku pasar, yakni:
1. PT Bank Cent…

Analisa Saham LSIP, PWON dan UNVR

1. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), Daily (Rp1.070) (RoE: 3,98%; PER: 21,96x; EPS: 48,73; PBV: 0,88x; Beta: 0,8).
Saat ini pergerakan harga bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola bullish inside bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp1.050-1.070, dengan target harga secara bertahap di level Rp1.090, 1.280, 1.470 dan 1.660. Support: Rp1.050 dan 990.

2. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), Daily (Rp700) (RoE: 16,61%; PER: 13,36x; EPS: 52,76; PBV: 2,22x; Beta: 1,65).
Pergerakan harga telah menguji garis EMA 120 sehingga peluang terjadinya rebound terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp690-700, dengan target harga secara bertahap di level Rp720 dan 820. Support: Rp670.

3. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Daily (Rp45.000) (RoE: 67,42%; PER: 48,65x; EPS: 920,28; PBV: 32,93x; Beta: 0,78).
Terlihat pola hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. &qu…

Analisa Saham AALI, CPIN dan LPCK

1. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Daily (Rp10.800) (RoE: 0,77%; PER: 137,13x; EPS: 78,76; PBV: 1,07x; Beta: 1,06).  Saat ini pergerakan harga bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola white opening bozu candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp10.600-10.800, dengan target harga secara bertahap di level Rp10.925, 11.175, 12.250, 13.325 dan 14.400. Support: Rp10.600 dan 10.100.
2. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), Daily (Rp5.150) (RoE: 23,49%; PER: 18,81x; EPS: 277,71; PBV: 4,42x; Beta: 1,46).  Saat ini pergerakan harga bertahan di atas garis bawah bollinger dan terlihat pola hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp5.100-5.200, dengan target harga secara bertahap di level Rp5.350 dan 5.650. Support: Rp5.000 dan 4.900.
3. PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), Daily (Rp1.875) (RoE: 31,26%; PER: 0,61x; EPS: 3096,19; PBV: 0,19x; Beta: 1,62).  Saat …

Analisa Saham BBTN: High cost of fund as the major challenge

BBTN: High cost of fund as the major challenge BBTN mencatat laba bersih yang in-line dengan ekspektasi (PANS/kons: 22,6%/22,5%). Laba bersih tercatat sebesar Rp 723 miliar, tumbuh lebih rendah (1Q19: +5,67% yoy vs 1Q18: 15,13% yoy). Hal ini disebabkan oleh peningkatan beban bunga yang agresif (1Q19/1Q18: +38,17%/+15,32% yoy) seiring dengan mengetatnya likuiditas di pasar keuangan. Penyaluran kredit tercatat masih tumbuh positif (3M19/3M18: 19,57/19,34%yoy) ke Rp 242 triliun di 3M19. Deposito tumbuh melambat (3M19/3M18: 10,98/23,54%yoy) ke level Rp 216 triliun di 3M19, menyebabkan LDR meningkat menjadi 112,19% di 3M19 (vs 104,12% di 3M18). Kami merekomendasikan BUY (sebelumnya HOLD) dengan target harga Rp2.850/saham, menyusul harga saham 3,6% ytd. Namun, kami masih mengantisipasi downside risk: 1) pertumbuhan provision sebagai dampak dari adopsi IFRS 9, meningkatkan credit cost hingga 60-70bps do 2019 dan membatasi pertumbuhan net profit di level 10-14% YoY di 2019, 2) tingginya cost…