Cara Memilih Time Frame Untuk Trading Saham

Time Frame dalam Trading Saham

Kerangka waktu (Time Frame) yang digunakan untuk membentuk grafik tergantung pada kompresi data: data harian, harian, mingguan, bulanan, kuartalan, atau tahunan. Semakin sedikit kompresi data, semakin banyak detail ditampilkan.


Data harian terdiri dari data intraday yang telah dikompres untuk menunjukkan setiap hari sebagai titik data tunggal, atau period. Data mingguan terdiri dari data harian yang telah dikompres untuk ditampilkan setiap minggu sebagai titik data tunggal. 

Perbedaan detail dapat dilihat dengan perbandingan grafik harian dan mingguan di atas. 100 titik data (atau periode) pada grafik harian sama dengan 5 bulan terakhir dari grafik mingguan, yang ditunjukkan oleh data yang ditandai dalam persegi panjang. Semakin banyak data dikompresi, semakin lama jangka waktu yang mungkin untuk menampilkan data. Jika grafik dapat menampilkan 100 titik data, grafik mingguan akan bertahan 100 minggu (hampir 2 tahun). 

Grafik harian yang menampilkan 100 hari akan mewakili sekitar 5 bulan. Ada sekitar 20 hari perdagangan dalam sebulan dan sekitar 252 hari perdagangan dalam setahun. Pilihan kompresi data dan jangka waktu tergantung pada data yang tersedia dan gaya perdagangan atau investasi Anda.

Trader (Pedagang) biasanya berkonsentrasi pada grafik yang terdiri dari data harian dan intraday untuk memperkirakan pergerakan harga jangka pendek. Semakin pendek jangka waktu dan semakin kecil kompresi data, semakin banyak detail yang tersedia. Sementara detailnya panjang, grafik jangka pendek bisa berubah-ubah dan mengandung banyak noise (kebisingan / ketidak-teraturan). Pergerakan harga besar yang tiba-tiba, rentang tinggi-rendah yang lebar dan gap harga dapat memengaruhi volatilitas, yang dapat mengubah gambaran keseluruhan.

Investor biasanya fokus pada grafik mingguan dan bulanan untuk melihat tren jangka panjang dan memperkirakan pergerakan harga jangka panjang. Karena grafik jangka panjang (biasanya 1-4 tahun) mencakup jangka waktu yang lebih lama dengan data terkompresi, pergerakan harga tidak tampak ekstrem dan sering kali lebih sedikit noise.

Orang lain mungkin menggunakan kombinasi grafik jangka panjang dan jangka pendek. Grafik jangka panjang baik untuk menganalisis gambaran besar untuk mendapatkan perspektif luas dari aksi harga historis. Setelah gambaran umum dianalisis, grafik jangka pendek, seperti grafik harian dapat digunakan untuk memperbesar rentang waktu yang lebih sempit (mis. Beberapa bulan terakhir).

Saham Kabel | KBLM dan KBLI Incar Proyek Swasta


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen kabel Tanah Air menargetkan peningkatan pendapatan dan laba sampai dua digit di tahun ini. Untuk mencapai target tersebut, emiten kabel tidak lagi sekadar mengandalkan proyek pemerintah.

Emiten kabel PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM), misalnya. Produsen kabel ini menargetkan pertumbuhan pendapatan serta laba 20% dibandingkan pencapaian pada 2018 lalu.

Bukan tanpa alasan. Manajemen KBLM menilai kinerja sepanjang kuartal I lalu bisa menjadi tolok ukur bahwa rencana mereka masih di atas jalur yang tepat. "Proyeksi di kuartal I lalu tercapai 95%," ungkap Direktur KBLM Petrus Nugroho, Rabu (29/5).

Untuk tahun ini, Petrus mengatakan, perusahaannya akan lebih fokus menggarap penjualan untuk produk-produk kabel tegangan rendah atau low voltage cables. "Kabel low voltage lebih banyak dipesan swasta," jelas Petrus.

Di periode Januari-Maret lalu, produk low voltage mendominasi penjualan kabel KLBM. Nilai penjualan produk ini Rp 175,26 miliar, setara 65% dari total penjualan.

Oleh karena itu, separuh anggaran belanja atau capital expenditure perusahaan ini tahun ini telah dipakai membeli mesin penunjang produksi low voltage cables. "Kami sudah menggunakan Rp 10 miliar dari alokasi capex tahun ini, Rp 20 miliar," ujar Petrus. KBLM akan menambah kapasitas produk kabel low voltage menjadi 800 ton.

Sedangkan KBLM sendiri sepertinya tidak terlalu mengandalkan proyek dari Perusahaan Listrik Negara. Tidak ada kontrak baru KBLM dengan PLN untuk tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan KBLM, sepanjang kuartal I lalu, KBLM tidak sepeser pun mencatat penjualan dari PLN. Petrus memperkirakan, realisasi kontribusi dari proyek PLN hanya sebesar 15% dari omzet tahun ini.

Tender swasta

Senada, perusahaan kabel PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) juga ogah terlalu bergantung pada proyek pemerintah. Langkah ini dilakukan demi terealisasinya target pertumbuhan pendapatan dan laba pada tahun ini.

"Kami menargetkan pertumbuhan bisa lebih tinggi 17% dari tahun lalu. Syukur bila lebih. Makanya kami tidak mau bergantung pada beberapa sektor saja," kata Sekretaris Perusahaan KBLI Made Yudana, Rabu (29/5).

Demi dapat menyokong kinerja dan merealisasikan proyeksi tersebut, KBLI sudah menganggarkan capital expenditure atau belanja modal sebesar Rp 147 miliar. Dari jumlah tersebut, produsen kabel ini baru merealisasikan sekitar Rp 10 miliar pada kuartal I lalu. "Untuk meningkatkan kapasitas mesin dan pengadaan peralatan," kata Made singkat.

Tak sekadar menadah proyek pemerintah, Made mengaku perusahaannya terus aktif mengikuti tender-tender pengadaan kabel, termasuk untuk perhelatan eksibisi di luar negeri. "Baik dari lokal maupun internasional sebisa mungkin kami gaet," kata dia.

Di samping terus mengincar proyek dan tender, KBLI juga berupaya meningkatkan efisiensi, baik dari sisi faktor produksi maupun non-produksi. Hal ini dilakukan agar laju pertumbuhan perusahaan berkesinambungan. Apalagi, separuh total pendapatan KBLI masih dari proyek PLN.

Sepanjang triwulan pertama 2019, KBLI berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 1,02 triliun. Angka ini lebih tinggi 15% dari perolehan di kuartal I-2018. Made menyebut, 50% dari penjualan di periode itu disumbang sektor swasta. "PLN sebesar 48%. Sedangkan 2% lainnya ekspor," kata Made.

Saham BLUECHIP Yang Menarik Pasca Iedul Fitri 1440H


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah libur panjang hari raya Idul Fitri, investor perlu kembali bersiap menentukan strategi investasi pasca lebaran. Perdagangan akan kembali normal mulai hari ini, Senin (10/6).

Sekadar mengingatkan, pada perdagangan terakhir pada Jumat lalu (31/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,72% ke level 6.209,18. Selama sepekan sebelum libur lebaran, IHSG menguat 2,92%. Volume perdagangan mencapai 15,23 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp 10,80 triliun.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menyebut, investor perlu cermat ketika pasar kembali dibuka. Ia menyarankan investor melirik saham yang konsisten membagi dividen serta memiliki prospek bisnis menarik dalam jangka panjang.

Investor juga perlu memperhatikan valuasi saham. "Menarik mengincar saham yang masih undervalue, kata Frederik, Rabu (29/5). Sebagai acuan saham murah ini, investor bisa merujuk pada indikator price to book value (PBV) atau price to earing ratio (PER).

Selain itu, ada beberapa sentimen yang perlu diawasi investor, seperti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Dari domestik, Frederik menilai fokus pasar akan tertuju pada rencana dan program presiden terpilih di periode 2019-2024. Meski begitu, sentimen ini tidak akan terlalu signifikan dampaknya lantaran kobaran perang dagang.

Tetapi, ada peluang IHSG menguat. Dalam catatan Frederik, selama 15 tahun ke belakang, IHSG lebih sering menunjukkan peningkatan di Juli, sebelum biasanya terkoreksi di Agustus. Tapi, kondisi ini juga tergantung bagaimana rilis kinerja keuangan di kuartal kedua nanti, kata dia.

Pilihan saham

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai investor tak perlu menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi perdagangan di pasar saham setelah libur panjang. Kembali pada tujuan dan profil risiko masing-masing investor, kata Wawan.

Pada dasarnya, ia sendiri menilai, investasi pada saham selalu lebih baik untuk jangka panjang. Dengan begitu, pilihan saham lebih minim risiko terhadap sentimen-sentimen teknikal.

Di perdagangan perdana usai pasar libur panjang, Wawan merekomendasikan para investor memperhatikan saham blue chip dengan valuasi yang murah. Bisa dari perbankan seperti BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI, saran dia.

Di samping itu, saham dari sektor consumer goods juga bisa menjadi opsi. Peningkatan konsumsi selama Idufitri bisa mengerek sektor tersebut. Bisa tilik UNVR atau ICBP, tambah Wawan.

Sentimen bursa yang perlu diwaspadai di dalam negeri, menurut Wawan, adalah sentimen politik. Perkembangan politik dan keamanan harus diakui masih jadi isu. Paling tidak menunggu sampai keputusan definitif Mahkamah Konstitusi, kata dia.

Selain itu, proyeksi global juga bisa memengaruhi pergerakan indeks pasca-liburan. Bila sentimen global mengerek indeks regional, bukan tidak mungkin pergerakan indeks dalam negeri akan cemerlang setelah libur panjang.

Saham ANTM | Aneka Tambang (ANTM) Incar Akuisisi Baru


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Salah satu aset produksi emas PT Aneka Tambang Tbk yakni tambang di Pongkor Bogor Jawa Barat mendekati "masa pensiun". Salah satu emiten anggota indeks Kompas100 di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu pun seolah bergelut waktu untuk mencari pengganti sumber produksi emas yang lain.

Tambang emas Pongkor beroperasi sejak tahun 1994 silam. Cadangan emas di tambang tersebut kemungkinan akan habis pada tahun ini, meski kontrak eksplorasi tambang Pongkor masih berlaku hingga tahun 2021.

Sejalan dengan perburuan aset tambang baru, Aneka Tambang menggelar studi di sejumlah area tambang potensial. "Secara anorganik, saat ini kami juga melaksanakan kajian yang berkelanjutan terkait dengan strategi akuisisi aset tambang emas yang memiliki prospek yang baik," ujar Arie Prabowo Ariotedjo, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk kepada KONTAN, Minggu (9/6).

Kriteria tambang emas incaran Aneka Tambang yakni memiliki status clean and clear (CnC) atau sejalan dengan aturan hukum. Tambang emas bidikan mereka juga harus mempunyai cadangan dan sumber daya cukup, memiliki tingkat keekonomian operasi kompetitif serta telah beroperasi dengan baik.

Hanya saja, manajemen Aneka Tambang tidak mengungkapkan target realisasi akuisisi tambang baru. Emiten berkode saham ANTM di BEI tersebut juga belum dapat menyampaikan besaran investasi yang disediakan.

Namun secara keseluruhan ANTM sudah menyiapkan investasi untuk pengembangan, investasi pendukung operasional rutin serta deferred expenses atau beban yang sudah dibayarkan tapi pencatatannya ditangguhkan sebesar Rp 3,39 triliun.

Aset tambang emas baru nanti akan melengkapi operasional aset tambang yang sudah ada. Sejak tahun 2010, Aneka Tambang mengoperasikan tambang emas di Cibaliung, Pandeglang, Banten. Perusahaan tersebut juga mulai menggelar operasi di area izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi Papua.

Hingga Desember 2018, Aneka Tambang memiliki cadangan emas seberat 19 ton dan sumber daya emas setara dengan 42 ton. Pada tahun ini, mereka menargetkan volume produksi sebanyak 2 ton emas. Dalam catatan KONTAN, target produksi emas sepanjang 2019 sama dengan tahun lalu. Sementara target penjualan emas tahun ini naik 23,08% year on year (yoy) menjadi 32 ton.

Realisasi capex

Meski sedang getol berburu aset tambang emas, Aneka Tambang tak lantas mengabaikan lini bisnis lain. Pengembangan pabrik feronikel baru di Halmahera Timur Maluku Utara tetap berjalan. Perusahaan ini juga mengembangkan proyek hilirisasi berupa smelter grade alumina refinery di Mempawah, Kalimantan Barat dan membangun pabrik nickel pig iron.

Sepanjang tahun ini, Aneka Tambang menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebanyak Rp 3,3 triliun. "Hingga triwulan pertama tahun ini, belanja modal perusahaan telah terserap sebesar Rp 377 miliar," terang Arie.

Sementara pada Januari-April 2019, ANTM mencatatkan produksi 8.726 ton nikel dalam feronikel (TNi) dan penjualan 9.226 TNi. Pada periode yang sama, volume produksi bijih nikel mencapai 3,09 juta wet metric ton (wmt) dan penjualan bijih nikel sebanyak 2,44 juta wmt.

Sementara penjualan emas kurang lebih 7,4 ton emas dan produksi emas 670 kilogram (kg) emas. Sampai dengan tutup kuartal II-2019, Aneka Tambang menargetkan produksi 6.200 ton nikel dan 500 kg emas.

Saham SIDO | Sido Muncul Berharap Kinerja di Semester I Tetap Tumbuh


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga tutup semester I 2019 nanti, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk berharap mampu melanjutkan pertumbuhan kinerja pada kuartal I 2019, meskipun aktivitas distribusi barang selama bulan Juni ini tidak mulus.

Maklumlah, cuti bersama Lebaran menyebabkan pengiriman barang libur selama tujuh hari sampai 10 hari. "Untuk semester I -2019 belum closing, tapi diharapkan tetap tumbuh sesuai harapan," kata David Hidayat, Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kepada KONTAN, tanpa menyebutkan proyeksi pertumbuhan, Minggu (9/6).

Sebagai gambaran saja, pada semester I 2018, penjualan Sido Muncul meningkat 4,96% dibandingkan setahun sebelumnya atau year on year (yoy) menjadi Rp 1,27 triliun. Adapun selama kuartal pertama 2019i, penjualan Sido Muncul tumbuh 14,95% yoy menjadi Rp 713,68 miliar.

Namun, mungkin, realisasi penjualan semester I 2019 tidak akan setinggi semester II. Secara historis, penjualan Sido Muncul di paruh kedua lebih bagus ketimbang paruh pertama. Khususnya, penjualan produk herbal.

Sepanjang tahun ini, Sido Muncul masih memegang target pertumbuhan yang telah ditetapkan yakni 10% yoy untuk penjualan maupun laba. Perusahaan berkode saham SIDO di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut memperkirakan, komposisi penjualan 2019 terdiri dari 68% produk herbal, 27% minuman, dan 5% farmasi.

Sejalan dengan upaya untuk mengejar kenaikan kinerja, Sido Muncul menggelar strategi penambahan produk baru dan perluasan pasar. Mereka sedang mempersiapkan produk herbal dalam bentuk soft gel. Targetnya adalah pasar generasi milenial yang menginginkan pola hidup sehat.

Sementara rencana perluasan pasar meliputi wilayah domestik dan mancanegara. Meskipun sudah merambah 16 negara, fokus utama pemasaran di luar negeri tetap di Asia Tenggara. Saat ini, Sido Muncul sedang mendaftarkan sejumlah produk agar bisa dipasarkan di kawasan tersebut.

Sebagian besar produk Sido Muncul di luar negeri adalah Tolak Angin. Sisanya adalah produk-produk seperti minuman energi, kapsul herbal suplemen, jamu, minuman kopi jahe, susu jahe dan kunyit asam.

Menurut catatan internal Sido Muncul, kontribusi penjualan ekspor kini sekitar 2% terhadap total penjualan. Perusahaan itu ingin kontribusi penjualan ekspor naik menjadi 5% dalam waktu dekat.

Sembari mengembangkan bisnis yang sudah berjalan, Sido Muncul mengulik peluang bisnis lain. Namun ketimbang membangun bisnis baru, mereka lebih memilih untuk mengakuisisi perusahaan lain. "Saat ini banyak juga tawaran yang sedang kami kaji," ungkap David.

Hanya saja, manajemen SIDO belum bersedia blak-blakan mengenai perusahaan atau bidang usaha yang ingin diakuisisi. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan anggaran. Kalau kebutuhan dana akuisisi melebihi alokasi anggaran, Sido Muncul siap mencari pendanaan baru.

Saham WOOD | PT Integra Indocabinet Tbk PT Integra Indocabinet Tbk


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) ingin mengalap berkah dari perang dagang China dan Amerika Serikat (AS). Produsen furnitur dan komponen bangunan ini membuka peluang mengerek pasar ekspor ke AS.

WOOD melirik peluang ekspor tersebut lantaran ada beberapa jenis produk furnitur dan komponen bangunan dari China yang terkena kebijakan anti-dumping atas perang dagang tersebut.

Chief Financial Officer (CFO) PT Integra Indocabinet Tbk, Wang Sutrisno mengatakan, adanya perang dagang itu, otomatis peta supply demand berubah. Sebab, industri furnitur di China mau tak mau harus mengalihkan basis produksi dan ekspornya ke negara lain. WOOD meyakini produsen Indonesia dapat memaksimalkan peluang ini.

Wang bilang, Indonesia menjadi opsi yang potensial setelah Vietnam yang industri furniturnya mulai ramai. Untuk itu, WOOD tengah mempertimbangkan kemungkinan joint venture (JV) dengan pihak luar untuk memproduksi ragam produk furnitur dan komponen bangunan.

WOOD memang masing terus menggenjot pasar AS. Sebab, para pembeli dari negara itu mengalihkan ordernya ke negara ASEAN seperti Indonesia. Maka dari itu, potensi ekspor ke AS sangat besar. "Untuk segmen kitchen furniture, misalnya, permintaannya bisa lebih dari US$ 4 miliar dalam setahun," ungkap dia kepada KONTAN.

Alhasil, WOOD bakal terus meningkatkan kapasitas produksi serta menambah varian produk di furnitur kayu dan komponen bangunan.

Beberapa produk baru dan penambahan kapasitas di tahun ini yang menyasar pasar AS meliputi produk papan kayu atau plywood yang punya kapasitas 100 kontainer per bulan atau sekitar 42.000 meter kubik (m) per tahun.

WOOD juga memperkuat produk white prime molding/millwork yang menjadi komponen bangunan negara-negara empat musim. Di produk ini, WOOD memiliki kapasitas 300 kontainer per bulan atau 132.000 m per tahun. Manajemen berharap produk millwork ini bakal berkontribusi 12% bagi pendapatan.

Mengacu laporan keuangan WOOD di kuartal pertama tahun ini, penjualan ekspornya mencapai Rp 433 miliar atau menyumbang 89% total pendapatan perusahaan.

Analisa Saham ASII dan HMSP

Analisa Saham ASII dan HMSP

ASII


Walau trend jangka menengah mengatakan bahwa ASII masih bergerak dalam Parallel Channel downtrend, namun posisi terakhir telah berhasil melewati MA50 ; menjadikan level 7350 sebagai Support terdekat. Buy Jika Uptrend jangka pendek ini terjaga maka ASII berpotensi menuju Resistance upper channel di sekitar 7775-7800. 

Rekomendasi
Buy,  
Entry Level: 7450-7350; 
Target: 7775-7800; 
Stoploss:   7250

HMSP 


HMSP berhasil melalui Resistance MA10 & 20 setelah beberapa lama bottoming didukung oleh RSI positive divergence. Target berikut adalah menghadapi MA50 & level previous High di sekitar 3525-3550. 

Rekomendasi
Buy, 
Entry Level:   3380-3360; 
Target: 3530-3550; 
Stoploss :   3330

Henan Putihrai Sekuritas

Analisa Saham ASII, PWON, BDMN dan EXCL

Analisa Saham ASII, PWON, BDMN dan EXCL

PT Astra International Tbk (ASII), 


dengan target  profit taking  di kisaran Rp7.375-7.475-7.575, memiliki dua arah masuk pembelian di level Rp7.075 dan Rp.6.975, disarankan  cut-loss  pada posisi Rp6.875.

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), 

(Baca juga: Pola Distribusi Saham)

dengan target  profit taking   di kisaran Rp695-725-735, memiliki dua arah masuk pembelian di level Rp665 dan Rp655, disarankan  cut-loss  pada posisi Rp635.

PT Bank Danamon Tbk (BDMN), 

(Baca juga: Pola Akumulasi Saham)

dengan target  profit taking  di kisaran Rp5.100-5.300, memiliki dua arah masuk pembelian di level Rp4.750, dan Rp4.710, disarankan  cut-loss  pada posisi Rp4.650.

PT XL Axiata Tbk (EXCL), 

(Baca juga: Apa itu Dividen Saham)

dengan target  profit taking  di kisaran Rp2.980-3.180, memiliki dua arah masuk pembelian di level Rp2.710, dan Rp2.650, disarankan  cut-loss  pada posisi Rp2.610. 

PT KGI Sekuritas Indonesia, Yuganur Wijanarko

Analisa Saham BIRD, GIAA dan SSIA

Analisa Saham BIRD, GIAA dan SSIA

PT Blue Bird Tbk (BIRD), Daily (Rp2.990) 


(RoE: 6,54%; PER: 20,77x; EPS: 142,00; PBV: 1,36x; Beta: 0,59).Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah  bollinger  dan terlihat pola  inside bar  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp2.930-2.990, dengan target harga secara bertahap di level Rp3.010, 3.400 dan 3.790. Support: Rp2.930 dan 2.840.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), Daily (Rp432) 

(Baca juga: Arti PBV)

(RoE: 3,19%; PER: 9,82x; EPS: 45,00; PBV: 0,31x; Beta: 0,67). Pergerakan harga saham setelah menguji garis MA-10 sehingga peluang terjadinya penguatan menuju ke resistance terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp430-434, dengan target harga secara bertahap di level Rp442, 470 dan 498. Support: Rp430 dan 420.

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), Daily (Rp585) 


(RoE: -0,99%; PER: -65,48x; EPS: -9,24; PBV: 0,65x; Beta: 0,94). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah  bollinger  dan terlihat  tweezer bottom candlestick pattern  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp570-590, dengan target harga secara bertahap di level Rp620, 640, 695 dan 750. Support: Rp570 dan 555.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama

Analisa Saham AALI, AKRA dan ANTM

Analisa Saham AALI, AKRA dan ANTM

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), 


Daily (Rp10.550) (RoE: 0,77%; PER: 131,73x; EPS: 78,76; PBV: 1,02x; Beta: 1,01). Saat ini bahwa pergerakan harga bertahan di atas garis bawah  bollinger  dan terlihat pola  upward bar  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp10.375-10.575, dengan target harga secara bertahap di level Rp10.725 dan 10.900. Support: Rp10.200 dan 10.000.

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), 


Daily (Rp3.980) (RoE: 7,82%; PER: 19,75x; EPS: 201,56; PBV: 1,55x; Beta: 0,81). Saat ini pergerakan harga bertahan di atas garis bawah  bollinger  dan terlihat pola  bullish spinning top candle  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp3.820-3.990, dengan target harga secara bertahap di level Rp4.150, 4.230 dan 4.290. Support: Rp3.800 dan 3.700.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), 

(Baca juga: Apa Itu Saham?)

Daily (Rp725) (RoE: 3,43%; PER: 25,52x; EPS: 28,60; PBV: 0,88x; Beta: 1,25). Terlihat pola  upward bar  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp715-730, dengan target harga secara bertahap di level Rp755, 915, 1.075 dan 1.235. Support: Rp715 dan 670.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama

Analisa Saham INKP | Mengakhiri Downtrend ?

Analisa Saham INKP | Mengakhiri Downtrend ?


Setelah sempat menurun karena asing diam-diam buang barang di pasar nego, INKP kembali menguat. Apakah ini menjadi tanda bahwa kenaikan akan terjadi lagi? Jika melihat secara teknikal, memang benar bahwa INKP sudah mengakhiri downtrend dengan breakout dari resistance pada 6500. Saat ini jika Anda berharap akan kenaikan lanjutan, maka perhatikan resistance selanjutnya pada MA60 (saat ini di 8000) yang mana penguatan akan berlanjut menuju 10000 jika breakout kembali. 

Rekomendasi: speculative buy. 

Sumber

Analisa Saham WTON | Di Awal Uptrend Kah?

Analisa Saham WTON | Di Awal Uptrend Kah?


WTON berkonsolidasi dalam range sempit di kisaran 500 – 525. Jika saham ini mampu mengakhiri konsolidasi dengan menembus resisten 525, terbuka ruang bagi saham ini untuk menguat menuju target kenaikan awalnya di 575. Jika momentum kenaikan dapat dipertahankan, maka sangar besar peluang kenaikan menuju 680 yang merupakan titik penentu tren jangka panjang WTON, apakah long term bullish, atau kembali terkoreksi. MACD yang telah golden cross menunjukkan saham ini berada dalam fase pergerakan positifnya.

Rekomendasi: Buy jika break 525. Stoploss level 500.

Disclaimer ON

SUmber:
GaleriSaham

Analisa Saham AALI | Pressures still remain

AALI: Pressures still remain

(Baca Juga: Memahami ShortSelling)

AALI mencatatkan pendapatan di 1Q19 sebesar Rp4,2 triliun (-4,8% YoY), dimana penurunan disebabkan turunnya penjualan inti sawit (PK) dan turunannya di Rp371 miliar (-37,7% YoY), sedangkan pendapatan dari minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya tercatat flat di Rp3,8 triliun. Volume penjualan naik dimana penjualan CPO tercatat sebesar 458 ribu ton (+50,8% YoY) dimana hal ini menjadi penopang pendapatan dari penurunan yang lebih dalam atas turunnya harga CPO global di 1Q19 dimana rerata harga berada pada level MYR2.484 per metric ton (-15,9% YoY). Produksi FFB dan CPO tumbuh tipis di +3,8% YoY dan +6,8% YoY yang masih in-line dengan estimasi kami di +5% untuk FFB dan +6% untuk CPO di 2019. Kami masih memproyeksikan aktivitas replanting sebagai fokus utama AALI dimana per 1Q19 sebesar 44,5% tanaman berumur lebih dari 20 tahun dan realisasi capex untuk aktivitas plantation per 3M19 menunjukkan peningkatan di Rp144 miliar (+12,3% YoY), setara dengan 49,3% dari realisasi capex 3M19. Kami merevisi turun estimasi keuangan dan menurunkan proyeksi rerata harga jual CPO atas penurunan harga di 1Q19 sehingga kami estimasi tekanan marjin masih akan berlanjut. Kami mempertahankan rekomendasi HOLD dan menurunkan TP ke Rp11.300 (sebelumnya: Rp14.725), setara implied PE 15.0x di 2019 disebabkan oleh: (1) potensi berlanjutnya tekanan marjin atas penuruan harga CPO, (2) Proyeksi tingginya pembelian FFB eksternal mendorong kenaikan biaya (3) Peningkatan aktivitas trading CPO di 2019.

*transfer coverage from Rendy Wijaya to Nugroho R. Fitriyanto

Pendapatan menurun tipis namun in-line terhadap estimasi di 1Q19 yang tercatat sebesar Rp4,2 triliun (-20,5% QoQ, -4,8% YoY), in-line dengan estimasi (PANS: 20,1%; Kons: 22,3%). Penurunan pendapatan disebabkan oleh penjualan inti sawit dan turunannya yang turun di Rp371 miliar (-33,2% QoQ, -37,7% YoY), sedangkan untuk pendapatan dari minyak sawit mentah dan turunannya tercatat flat di Rp3,8 triliun (-19,1% QoQ, +0,0% YoY).

Volume penjualan CPO meningkat signifikan dimana per 1Q19 volume penjualan CPO tercatat sebesar 458 ribu ton (-14,1% QoQ, +50,8% YoY). Sedangkan untuk produk turunan seperti olein (-28,8% QoQ, -3,5% YoY) , PFAD (-22,7% QoQ, -23,8% YoY) dan RBDPO (+2,1% QoQ, -46,8% YoY) mayoritas mengalami penurunan secara tahunan terkecuali stearin (-23,1% QoQ, +12,6% YoY). Peningkatan volume penjualan CPO menjadi faktor positif yang menopang pendapatan dari penurunan yang lebih dalam atas pelemahan harga CPO global dimana rerata harga di 1Q19 berada pada level MYR2.089 per metric ton (-15,9% YoY). Sebagai informasi, di 2018 harga CPO global turun signifikan dengan rerata harga di MYR 2.251 per metric ton (-19,3% YoY) dimana harga jual AALI berada pada level Rp7.275 per kilogram di 1Q19 (-12,0% YoY).

Produksi FFB dan CPO tumbuh moderat. Produksi FFB tercatat sebesar 1,2 juta ton (-17,8% QoQ, +3,8% YoY) dan CPO di 415 ribu ton (-18,9% QoQ. +6,8% YoY), sedangkan untuk olein (-5,6% QoQ, +21,3% YoY), kernel (-20,1% QoQ, +2,2% YoY) dan PKO (-32,9% QoQ, 128% YoY) juga tercatat mengalamai peningkatan secara tahunan. Kenaikan produksi FFB ini in-line dengan estimasi kami yang berada dikisaran 5% untuk tahun 2019 didukung oleh cuaca yang baik meskipun mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya (2018: +10,2%).

Aktivitas replanting masih menjadi fokus. Sejalan dengan semakin meningkatnya porsi tanaman tua yang memiliki umur lebih dari 20 tahun dimana per 1Q19 mencapai 44,5% (4Q18: 39,9%), AALI masih akan berfokus pada aktivitas replanting di tahun 2019 ini dimana kami mengestimasikan besaran belanja modal untuk tahun ini sebesar Rp1,8 triliun. Realisasi capex di 3M19 terkait dengan aktivitas penanaman (plantation) tercatat sebesar Rp144 miliar (+12,3% YoY) atau setara dengan 49,3% dari realisasi capex yang mencapai Rp294 miliar.

Merevisi turun estimasi keuangan di 2019-20. Dengan penurunan harga CPO global yang masih tertekan (avg 1Q19: MYR2.089), kami merevisi turun rerata harga CPO di 2019 dari MYR2.350 ke MYR2.250. Dengan demikian, kami mengestimasi adanya tekanan pada marjin sepanjang 2019 dimana marjin laba kotor diestimasikan berada pada level 17,5% (2018: 18,5%).

Maintain rekomendasi HOLD, menurunkan target harga ke Rp11.300. Disebabkan oleh: (1) tekanan yang masih tinggi pada marjin keuntungan atas penurunan harga CPO di 1Q19 dan outlook CPO di 2019 yang diestimasi masih akan cenderung stagnan seiring dengan antisipasi kenaikan produksi global pada high-crop cycle di 2H19, (2) Proyeksi pembelian FFB eksternal yang tinggi yang menyebabkan kenaikan biaya produksi, dan (3) Peningkatan aktivitas trading CPO di 2019. Dengan demikian, kami mempertahankan rekomendasi HOLD dan menurunkan TP ke Rp11.300 (previous: Rp14.725), setara implied PE 15.0x di 2019. Saat ini AALI diperdagangkan pada implied PE 13,8x di 2019, setara -0,26x standar deviasi PE 5 tahun.

Best Regards,
Panin Sekuritas