Saham DILD | PENDAPATAN USAHA INTILAND TURUN JADI Rp1,9 TRILIUN
Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (DILD) melaporkan pencapaian hasil kinerja keuangan per 30 September 2019. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, Perseroan membukukan pendapatan usaha Rp1,9 triliun, atau mengalami penurunan sebesar 23,4 persen dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun lalu senilai Rp2,4 triliun.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan bahwa penurunan kinerja usaha perseroan tak lepas dari adanya perubahan kondisi pasar properti saat ini. Pertumbuhan yang terjadi tahun ini lebih didorong oleh penjualan maupun peluncuran proyek-proyek residensial baru yang menyasar pada segmen pasar menengah ke bawah.
Kondisi ini berdampak pada kinerja usaha Perseroan yang sebagian besar portofolio produk dan inventori yang dimiliki di segmen pengembangan mixed-use & high rise dan perumahan yang menyasar pasar menengah ke atas.
"Kami di tahun ini tidak banyak meluncurkan proyek baru. Beberapa proyek baru yang kami luncurkan, hampir seluruhnya adalah produk residensial yang menyasar segmen pasar menengah ke atas," ungkap Archied lebih lanjut.
Archied menjelaskan bahwa selama ini pendapatan usaha Intiland ditopang dari empat segmen pengembangan. Selain dari pengembangan mixed-use dan high rise, perumahan, kawasan industri yang merupakan sumber pendapatan dari pengembangan (development income) perseroan juga memperoleh pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang bersumber dari investasi properti seperti penyewaan ruang perkantoran, manajemen properti, dan pengelolaan sarana olah raga.
Segmen pengembangan mixed-use & high rise tercatat memberikan kontribusi pendapatan usaha peling besar mencapai Rp858 miliar, atau 46,3 persen dari keseluruhan. Kontributor berikutnya berasal dari segmen pengembangan kawasan perumahan sebesar Rp472,2 miliar atau 25,5 persen dari keseluruhan.
Segmen pengembangan kawasan industri memberikan kontribusi sebesar Rp62,4 miliar, atau 3,4 persen. Sementara segmen properti investasi yang merupakan sumber recurring income tercatat membukukan Rp461,7 miliar, atau 24,9 persen dari keseluruhan. Pendapatan usaha dari segmen ini mengalami peningkatan 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kami terus berupaya meningkatkan kontribusi recurring income sehingga membuat struktur pendapatan usaha perusahaan menjadi lebih ideal. Peningkatan kontribusi dari penyewaan ruang perkantoran dan ritel menjadi prioritas untuk memperbesar pendapatan usaha yang bersumber dari recurring income," ungkap Archied.
Dari sisi kinerja profitabilitas, perseroan tercatat membukukan laba kotor sebesar Rp645,8 miliar, atau menurun 10.1 persen dibandingkan perolehan periode yang sama tahun lalu. Sementara laba usaha perseroan turut mengalami penurunan sebesar 12,9 persen menjadi Rp242,9 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp278,9 miliar.
Penurunan pendapatan usaha ditambah dengan adanya peningkatan beban bunga mengakibatkan laba bersih perseroan melemah. Hingga akhir triwulan ketiga tahun ini, perseroan membukukan laba bersih Rp6,5 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat mencapai Rp122,9 miliar.
Menghadapi kondisi tersebut, manajemen Intiland akan terus berupaya untuk mengejar dan meningkatkan kinerja usaha hingga akhir tahun ini. Penjualan produk-produk inventori yang sudah jadi menjadi fokus dan prioritas utama perseroan untuk meningkatkan pendapatan usaha.
"Kami punya inventori produk di beberapa proyek yang sudah jadi, seperti apartemen 1Park Avenue, Praxis, Aeropolis, dan di proyek perumahan. Penjualan dari produk-produk inventori ini bisa langsung diakui dan dibukukan sebagai pendapatan usaha," ungkap Archied. (end)
Sumber: http://www.iqplus.info/news/stock_news/dild-pendapatan-usaha-intiland-turun-jadi-rp1-9-triliun,01073509.html
Saham ISSP | PENDAPATAN STEEL PIPE INDUSTRY Rp3,61 TRILIUN HINGGA SEPTEMBER
PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) meraih pendapatan jasa sebesar Rp3,61 triliun hingga periode 30 September 2019 meningkat dari pendapatan jasa Rp3,39 triliun di periode sama tahun sebelumnya.
Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, laba kotor naik menjadi Rp488,97 miliar dari laba kotor Rp397,29 miliar.Sedangkan laba sebelum taksiran penghasilan pajak diraih Rp154,79 miliar naik dari laba sebelum taksiran pajak sebelumnya yang Rp19,19 miliar.
Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp122,25 miliar naik dari laba Rp15,55 miliar tahun sebelumnnya. Total aset perseroan mencapai Rp6,75 triliun hingga 30 September 2019 naik dibandingkan total aset Rp6,49 triliun yang tercatat hingga 31 Desember 2018.(end)
Sumber: http://www.iqplus.info/news/stock_news/issp-pendapatan-steel-pipe-industry-rp3-61-triliun-hingga-september,01074848.html
Saham BMRI | MANDIRI PANGKAS TARGET PERTUMBUHAN KREDIT JADI 9 PERSEN
PT Bank Mandiri Tbk memangkas target pertumbuhan kredit hingga akhir 2019 yang sebelumnya 10 persen sampai 12 persen menjadi 8 persen sampai 9 persen.
Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan pemangkasan itu disebabkan karena masih melambatnya konsumsi nasional sejak 2018 yang berdampak pada melemahnya permintaan kredit.
"Karena ada dinamika pasar juga, kemungkinan besar growing kita single digit, tapi kita upayakan level 8-9 persen," katanya di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin.
Pada kuartal III-2019 pertumbuhan rata-rata kredit yang mencapai Rp806,8 triliun atau tumbuh 11,5 persen dibandingkan periode yang sama 2018. Penyaluran kredit tersebut melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit kuartal III-2018 yang sebesar 13,8 persen
Hery menyebutkan terdapat 5 segmen yang menopang pertumbuhan kredit Bank Mandiri yaitu korporasi, mikro, konsumer, SME (small medium enterprise) dan anak perusahaan.
Segmen yang mengalami tekanan di antaranya adalah konsumer yakni Rp88,5 triliun atau tumbuh 7,3 persen yoy, segmen korporat yaitu ending balance kreditnya sebesar Rp327,7 triliun atau tumbuh 7,6 persen.
"Pertama ada impact pertumbuhan dari sisi konsumer kita tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu cukup kecil. Kemudian corporate tadinya tumbuh double digit, tahun ini kita mengalami penurunan jadi single digit," jelasnya.(end)
Sumber: http://www.iqplus.info/news/stock_news/bmri-mandiri-pangkas-target-pertumbuhan-kredit-jadi-9-persen,01071545.html
Saham ADHI | ANAK USAHA ADHI KUASAI SAHAM MEGA GRAHA CIPTA PERKASA
PT Adhi Karya Tbk (ADHI) melalui anak usahanya PT Adhi Commuter Properti (ACP) mengambilalih seluruh saham milik PT Mahkota Berlian Cemerlang dan Sapri di PT Mega Graha Citra Perkasa (MGCP).
Menurut keterangan perseroan Selasa disebutkan, sehubungan dengan pengambilaliahn tersebut MGCP akan kembali melakukan kegiatan operasionalnya.
ACP memiliki 100% saham MGCP dengan susunan komposisi per tanggal 28 Oktober 2019 yakni modal dasar Rp232 miliar dan modal disetor Rp109,17 miliar.
Adapun dampak dari akuisisi ini dapat mempercepat pertumbuhan kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang berlokasi di Bogor, yaitu Grand Central Bogor. MGCP ini nantinya akan dipersiapkan untuk mengelola recurring income seluruh proyek PT Adhi Commuter Properti (ACP). (end)
Sumber: http://www.iqplus.info/news/stock_news/adhi-anak-usaha-adhi-kuasai-saham-mega-graha-cipta-perkasa,01080729.html
Saham BIRD | LABA BLUE BIRD TURUN 31,47% HINGGA SEPTEMBER 2019.
PT Blue Bird Tbk (BIRD) alami penurunan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar 31,47% hingga periode 30 September 2019 menjadi Rp229,33 miliar dari laba Rp334,67 miliar di periode sama tahun sebelumnya.
Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, pendapatan neto turun menjadi Rp2,96 triliun dari Rp3,11 triliun dan laba bruto turun menjadi Rp810,63 miliar dibandingkan laba bruto Rp850,11 miliar.
Beban usaha naik menjadi Rp519,13 miliar dari Rp442,81 miliar membuat laba usaha turun menjadi Rp291,51 miliar dari laba usaha tahun sebelumnya Rp407,31 miliar. Pendapatan lain-lain neto turun menjadi Rp16,73 miliar dari Rp32,36 miliar membuat laba sebelum beban pajak turun menjadi Rp308,23 miliar dari laba sebelum beban pajak tahun sebelumnya yang Rp438m67 miliar.
Total aset perseroan mencapai Rp7,42 triliun hingga periode 30 September 2019 naik dari total aset Rp6,96 triliun hingga periode 31 Desember 2018. (end)
Saham KINO | Kino Indonesia dan Kinerja Mengkilapnya
Mencetak kinerja mengkilap hingga kuartal ketiga, PT Kino Indonesia Tbk (KINO) optimistis dapat meraih pertumbuhan laba hingga 50% di akhir tahun 2019.
Kinerja yang cemerlang ini tercermin dari pendapatan KINO yang tumbuh 33,85% year on year (yoy) menjadi Rp 3,48 triliun. Porsi terbesar pendapatan Kino berasal dari segmen perawatan tubuh yang meningkat 29,13% menjadi Rp 1,64 triliun. Penjualan minuman Kino naik 19,09% menjadi Rp 1,31 triliun.
Penjualan makanan Kino melonjak 41,05% menjadi Rp 299,22 miliar. Sedangkan penjualan farmasi melambung lebih dari 20 kali lipat menjadi Rp 218,75 miliar. KINO pun mencatat penjualan makanan hewan Rp 15,88 miliar yang tahun sebelumnya belum ada.
Direktur dan Sekretaris KINO Budi Muljono menjelaskan kinerja di kuartal III ini sesuai dengan target yang sudah ditetapkan pada awal tahun. “KINO optimistis mampu meraih target pertumbuhan penjualan sebesar 30% dan laba 50% hingga akhir tahun 2019 karena performa di kuartal III ini sesuai target,” kata Budi kepada Kontan.co,id, Senin (28/10).
Budi mengatakan, segmen personal care memberikan kontribusi terbesar yakni 74% dari pendapatan keseluruhan dari produk-produk existing yang memang masih memiliki upside tinggi. Namun selama sisa tahun ini KINO belum ada rencana ekspansi selain memperbesar pasar lokal dan internasional.
Sementara lonjakan penjualan farmasi ditopang oleh penjualan produk Lola Remedios yang saat ini baru dijual di Filipina. Adapun pada tahun ini pasar untuk produk farmasi diakui Budi meningkat pesat dan KINO berangkat dari low base di tahun 2018.
Selain dari peningkatan pendapatan, lonjakan laba bersih KINO juga didapat dari pembelian saham anak usahanya yakni PT Kino Food Indonesia yang keuntungan pembelian dengan diskon sebesar Rp 264,21 miliar. Adapun kepemilikan pada Kino Food dari sebelumnya 29,40% menjadi 80,40% pada tahun ini.
Budi menjelaskan aksi pembelian saham anak usahanya dilakukan atas dasar KINO melihat segmen makanan masih bisa berkembang sehingga menambah kepemilikan di Kino Food.
Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/kinerja-ciamik-kino-indonesia-optimistis-laba-bisa-tumbuh-50-tahun-ini
Saham KLBF | Ekspansi 2019 Kalbe Farma Berjalan Baik
Sejumlah emiten dengan kapitalisasi saham besar menyatakan bahwa rencana ekspansinya pada tahun ini masih berjalan sesuai rencana. Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga tidak menemui kesulitan dari segi pendanaan.
Salah satunya adalah perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF, anggota indeks Kompas100). Direktur Utama KLBF Vidjongtius mengatakan, sejak awal tahun hingga September 2019, KLBF telah menyerap belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1 triliun dari total rencana capex tahun ini Rp 1 triliun - Rp 1,5 triliun.
Kebanyakan belanja modal terserap untuk kelanjutan pembangunan pabrik dan gudang demi perluasan kapasitas produksi dan distribusi.
Merujuk pemberitaan Kontan.co.id sebelumnya, capex KLBF 2019 dialokasikan untuk melanjutkan pembangunan dua pabrik baru di Cikarang dan Pulogadung yang mana kedua pabrik tersebut memproduksi obat bebas dari PT Bintang Toedjoe & Saka Farma yang sebagian besar sahamnya dikuasai KLBF.
Capex juga dimanfaatkan untuk membangun pabrik injeksi di Pulogadung dan untuk mendanai penambahan kapasitas pabrik infus di Bekasi. Disusul rencana pembukaan cabang distribusi baru di luar Pulau Jawa.
Di samping itu, KLBF pada 2019 juga menyiapkan dana untuk proyek transformasi digital berupa pembuatan aplikasi bagi pelanggan serta pengembangan riset di bidang biosimilar sebesar Rp 500 miliar.
Menurut Vidjongtius, hingga September 2019, pihaknya baru baru mengeluarkan Rp 25 miliar-Rp 50 miliar untuk proyek tersebut.
Besaran dana Rp 500 miliar dipersiapkan hingga aplikasi tersebut selesai. "Kami membuat aplikasi digital secara in house jadi lebih murah," ucap dia saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (24/10).
Seluruh dana capex dan untuk rencana transformasi digital ini berasal dari kas internal perusahaan.
Sebagai informasi, pada paruh pertama tahun ini KLBF membukukan penjualan bersih Rp 11,17 triliun atau meningkat 7,7% dibanding semester I 2018 sebesar Rp 10,38 triliun.
Laba bersih emiten ini juga tumbuh 3,53% year on year (yoy) menjadi Rp 1,26 triliun.
Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/hingga-kuartal-iii-2019-kalbe-farma-klbf-menyerap-capex-sebanyak-rp-1-triliun
Saham PTBA | Bukit Asam Alami Penurunan Kinerja Q3 2019
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan penurunan kinerja sepanjang kuartal III 2019. Emiten anggota Indeks Kompas100 ini membukukan laba sebesar Rp 3,10 triliun. Jumlah ini turun 21,08% jika dibandingkan dengan realisasi laba bersih periode kuartal III 2018 yang mencapai Rp 3,93 triliun.
Meski demikian, emiten tambang batubara ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp 16,25 triliun atau naik tipis 1,36% bila dibandingkan realisasi penjualan pada periode yang sama tahun 2018.
Dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, pendapatan usaha ini dipengaruhi oleh harga jual rata-rata batubara pada September 2019 yang turun 7,8% menjadi Rp 775.675 per ton.
Penurunan tersebut disebabkan oleh pelemahan harga batubara Indeks Newcastle (GAR 6322 kkal/kg) pada bulan September sebesar 25% US$ 81,3 per ton dari US$ 108,3 per ton untuk periode yang sama tahun lalu.
Begitu pula dengan indeks harga batubara thermal Indonesia (Indonesian Coal Index/ICI) GAR 5000 yang pada September 2019 melemah 21% menjadi US$ 50,8.
Di tengah melemahnya harga batubara dunia, PTBA belum berencana untuk merevisi target kinerja hingga akhir 2019.
“Belum ada revisi. Target sesuai rencana semula,” ujar Suherman kepada Kontan.co.id, Senin (28/10).
Hingga akhir 2019, PTBA menargetkan dapat mengeruk 27,3 juta ton batubara atau naik 3% dari realisasi tahun 2018 sebesar 26,4 juta ton.
Sementara itu, PTBA menargetkan mampu menjual 28,4 juta ton batubara atau naik 15% dari tahun sebelumnya. Angka ini terdiri dari target ekspor sebesar 14,7 juta ton dan penjualan domestik sebesar 13,7 juta ton batubara.
Sumber: https://investasi.kontan.co.id/news/jurus-bukit-asam-ptba-untuk-genjot-kinerja-hingga-akhir-2019
Saham BBCA | BCA Akui Perlambatan Kredit
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengakui ada sedikit perlambatan dalam penyaluran kredit kendaraan bermotor. Asal tahu saja, BCA mencatatkan penurunan Kredit Kepemilikan Bermotor (KKB) sebesar 2% menjadi Rp47,8 triliun.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan penurunan ini dikarenakan sudah majunya transportasi di wilayah Jakarta. Apalagi saat ini muncul transportasi modern baru yakni Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta.
Tak hanya itu, penurunan ini juga disebabkan oleh adanya transportasi online seperti Grab. Adanya transportasi online ini membuat minat masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi menurun.
“Kalau KKN di kota besar adanya online transportasi seperti di Jakarta dengan adanya MRT, Grab atau online transportation,” ujarnya dalam acara konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (28/10/2019).
Menurut Jahja, memang maraknya transportasi online ini juga membuat minat masyarakat untuk memiliki kendaraan pribadi berkurang. Karena mereka tak perlu lagi memiliki kendaraan pribadi untuk berpergian karena adanya kemudahan akses.
“Mereka bisa gunakan Gojek, MRT, sehingga (yang) punya mobil jadi lebih berkurang. Sehingga demand atau keinginan untuk membeli mobil berkurang. Apalagi motor, negatif,” katanya.
Sementara untuk kredit pemilikan rumah (KPR) Bank BCA mencatatkan tumbuh melambat. Dalam kredit konsumen, kredit beranggun properti (KPR) mencapai Rp92,1 triliun tumbuh 6,8%.
“Memang konsumer kredit kita rasakan melemah. Tapi untuk KPR kita bisa tumbuh 6-8% kredit konsumer ini, ada cicilan 1,8% hingga 2%,” kata dia.
“Jadi keanikan itu kenaikan netto setelah ada pembayaran nasabah. Karena properti itu bagus kalau secara makroekonomi bagus kemudian next-nya properti meningkat,” ujarnya.
Menurut Jahja, pada kuartal III, mayoritas KPR adalah benar-benar untuk kebutuhan (rumah tinggal). Sementara rumah untuk investasi yang biasannya tinggi justru lesu dikarenakan beberapa hal.
“Masa keemasan properti maka 50% membeli sendiri tapi sebagai lagi itu untuk investasi. Karena bunga rendah, sekarang bengong karena menghadapi kenyataan bunga rental turun. Ini menyebabkan saat ini KPR betul-betul murni kebutuhan. Kalau untuk investment itu jauh berkurang,” katanya.
Sumber: https://economy.okezone.com/read/2019/10/28/278/2122792/gara-gara-mrt-hingga-ojol-kredit-kendaraan-bca-turun-2?page=2
Saham HOKI | PENDAPATAN BUYUNG POETRA MENINGKAT 16,04%
PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) emiten produsen beras berkualitas merek "Topi Koki" dan "HOKI" terus berupaya mengolah limbah kulit padi agar bisa lebih menghasilkan bagi Perseroan. Hingga akhir Oktober 2019 ini, pembangkit listrik berbahan bakar limbah kulit padi yang berlokasi di Sumatera Selatan sedang memasuki tahap uji coba. Diharapkan akhir tahun ini atau paling lambat awal tahun depan sudah bisa menghasilkan listrik hingga maksimal 3 MW (Megawatt) dan akan menjadi salah satu pembangkit listrik pertama berbahan bakar kulit padi di Indonesia.
Dari sisi kinerja, hingga akhir kuartal III-2019 lalu, HOKI telah berhasil meningkatkan pendapatan mencapai Rp1,23 Triliun atau naik sebesar 16,04% dari posisi Rp1,06 Triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi laba bersih, Perseroan pada kuartal III-2019 telah berhasil mencatatkan peningkatan hingga mencapai Rp76,13 miliar atau meningkat sebesar 7,59% dari laba bersih Rp70,76 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan pendapatan dan laba bersih tersebut sudah sejalan dengan target perseroan yang memproyeksikan pertumbuhan sebesar 10-15% per tahun. Selain itu, diharapkan dengan adanya momen Natal dan Tahun Baru di akhir tahun, Perseroan optimis target pertumbuhan akhir tahun bisa tercapai.
"Untuk dapat mencapai target, Perseroan memiliki beberapa strategi diantaranya dengan meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas produk, dan melakukan efisiensi yang antara lain terlihat dari upaya kami mencari peluang agar limbah kulit padi bisa menghasilkan pendapatan yang lebih besar bagi perusahaan," ungkap Dion Surijata, Investor Relations PT Buyung Poetra Sembada Tbk dalam keterangan Senin sore.
Selain itu untuk memenuhi permintaan beras kemasan yang terus bertambah, Perseroan terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi. Saat ini Perseroan telah berhasil meningkatkan kapasitas pabrik di Subang, Jawa Barat, hingga mencapai 50ton/jam atau meningkat sebesar 20ton/jam dari kapasitas pabrik sebelumnya sebesar 30ton/jam. HOKI saat ini juga dalam proses pembangunan pabrik beras baru di Sumatera Selatan yang direncanakan akan memiliki kapasitas 20ton/jam di akhir tahun 2020 dan setelahnya akan ditingkatkan lagi sebesar 20ton/jam sehingga total akan menjadi 40ton/jam di akhir tahun 2021.
"Kami tidak hanya berupaya mengejar pertumbuhan dari sisi bisnis namun kami berharap upaya menjadikan limbah kulit padi sebagai bahan bakar pembangkit listrik dapat memberikan solusi alternatif atas masalah limbah kulit padi," ujar Dion lagi. (end/as)
Sumber: http://www.iqplus.info/news/stock_news/hoki-pendapatan-buyung-poetra-meningkat-16-04-,01070215.html
Rekomendasi Saham IPOT | BMRI,SMGR, ICBP
IHSG (6.235-6.295) : indeks harga saham gabungan diprediksi akan melanjutkan penguatannya. Target kenaikan indeks pada level 6.295 kemudian 6.325 dengan support di level 6.235 dan 6.205.
BMRI (Buy) : Target kenaikan harga pada level 7.125 kemudian 7.250 dengan support di level 6.875, cut loss jika break 6.775.
SMGR (Buy) : Target kenaikan harga pada level 13.325 kemudian 13.700 dengan support di level 12.550, cut loss jika break 12.225.
ICBP (Buy) : Target kenaikan harga pada level 11.950 kemudian 12.200 dengan support di level 11.450, cut loss jika break 11.200.
XPLQ (Buy) : Target kenaikan harga pada level 509 kemudian 511 dengan support di level 506, cut loss jika break 504.
XBLQ (Buy) : Target kenaikan harga pada level 490 kemudian 492 dengan support di level 487, cut loss jika break 485.
XIIT (Buy) : Target kenaikan harga pada level 560 kemudian 562 dengan support di level 556, cut loss jika break 554.
Akses full report di : https://r.ipot.id/?g=r/t/3c7mz6
Rekomendasi Saham Mirae Asset Sekuritas | EXCL, KBLI, BRPT
Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
Okt 29, 2019
(tasrul@miraeasset.co.id)
IHSG Daily, 6,265.38 (+0.21%), consolidation, trading range 6,234 – 6,284. Indikator MFI optimized, indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized masih cenderung turun namun mulai tertahan. Sementara pada periode weekly indikator MFI optimized ,indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized masih bergerak naik. Daily support di 6,234 dan resistance di 6,284. Cut loss level di 6,180.
EXCL Daily 3,460 (+2.06%) trading buy, trading range 3,410 – 3,550. Indikator MFI optimized, indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized masih cenderung bergerak naik. Daily support di 3,410 sementara itu daily resistance di 3,550. Cut loss level di 3,390.
KBLI Daily 655 (+3.97%), trading buy , trading range 615 – 690. indikator MFI optimized, indikator W%R optimized dan W%R optimized masih bergerak naik. Weekly support di 615 sementara itu daily resistance di 690. Cut loss level di 580.
BRPT Weekly, 990 (-1.98%), trading buy, trading range 950 – 1,040. Indikator MFI optimized cenderung naik indikator W%R optimized dan indikator RSI optimized koreksinya mulai tertahan. Perkiraan weekky support di 950 dan weekly resistance di 1,040. Cut loss level di 840.
Analisa Saham BMRI, ADRO dan JPFA
PT Bank Mandiri Tbk
Pergerakan saham BMRI muncul doji candle dengan moving average (MA) 5 di area golden cross. Untuk indikator MACD masih bergerak naik dan RSI menguat meski stochastic overbought. Selain itu, volume perdagangan juga menurun.
Rekomendasi: Buy
Support: Rp 6.800
Resistance: Rp 7.275
Achmad Yaki, Analis BCA Sekuritas
PT Adaro Energy Tbk
Saham ADRO berada pada posisi wave (c) dari wave (b), dimana harga saham masih berpotensi menguat. Hal ini juga terlihat dari MACD, stochastic dan RSI yang menunjukkan tanda-tanda penguatan. Sedangkan untuk moving average (MA), harga sudah menyentuh MA5 yang berpotnesi menguat terbatas.
Rekomendasi: Buy on weakness (BoW)
Support: Rp 1.300
Resistance: Rp 1.420
Herditya Adi Wicaksana, Analis MNC Sekuritas
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk
Pergerakan harga saham JPFA terlihat pola down ward bar yang mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan harga saham JPFA. Potensi tersebut juga didukung indikator RSI yang menunjukkan overbought atau jenuh jual.
Rekomendas: Sell
Support: Rp 1.710
Resistance: Rp 1.880
Muhammad Nafan Aji, Binaartha Sekuritas
Analisa Saham SMRA dan UNVR
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)
Target harga secara bertahap di level Rp1.245, 1.400 dan 1.555.
Support: Rp1.125 dan 1.090.
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
Target harga secara bertahap di level Rp43.950, 44.375, 46.125, 48.000 dan 49.650.
Support: Rp42.600.
PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama
Analisa Saham LPKR dan LPPF
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR)
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF)
PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama
Analisa Saham AKRA dan ANTM
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama
Rekomendasi Saham MNC Sekuritas | JPFA, INDF, BMRI, ANTM
IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin (28/10) ditutup menguat 0,2% ke level 6.265.
IHSG masih rentan terkoreksi, paling tidak ke area 6.100-6.150. Namun, tidak menutup kemungkinan IHSG masih dapat menguat terbatas terlebih dahulu.
Rekomendasi Saham
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
Posisi saham JPFA penguatannya sudah relatif terbatas. Selanjutnya JPFA akan terkoreksi.
Disarankan investor untuk buy on weakness di rentang Rp 1.670-Rp 1.700 dengan target harga Rp 1.850 dan Rp 1.900. Adapun level stop loss yang harus diperhatikan di bawah Rp 1.615.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Melihat pergerakan sahamnya secara teknikal, koreksi sahamnya sudah relatif terbatas. Selanjutnya, INDF berpotensi untuk menguat kembali.
Disarankan investor buy on weakness saham INDF di rentang Rp 7.450-Rp 7.550 dengan target harga berjangka di Rp 7.975, Rp 8.100, dan Rp 8.200. Adapun level stop loss di bawah level Rp 7.250.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
Saat ini BMRI diperkirakan sedang berada pada awal wave B dan akan terkoreksi terlebih dahulu dengan level koreksi terdekat berada di Rp 6.900. Adapun idealnya level koreksi BMRI diperkirakan berada pada Rp 6.650.
Disarankan investor lakukan buy on weakness di rentang Rp 6.650-Rp 6.725 dengan target harga di Rp 7.275 dan Rp 7.650. Level stop loss di bawah Rp 6.275.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
ANTM masih berpotensi terkoreksi kembali. Arah koreksi ANTM berada pada area Rp 820-Rp 860. Disarankan investor lakukan sell on strength di level Rp 930-Rp 955.
MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana
Langganan:
Postingan (Atom)





















