PT Modernland Realty Tbk Pesimistis di Semester I 2020

PT Modernland Realty Tbk (MDLN) pesimistis pendapatan bisa meningkat pada semester I-2020. Kinerja kuartal kedua tahun ini berpotensi melemah akibat pandemi corona. MDLN berharap bisa memacu bisnis mulai semester kedua nanti. Namun manajemen tetap merevisi target marketing sales.

MDLN menargetkan marketing sales pada tahun ini sekitar Rp 4 triliun, meningkat 9% dibandingkan setahun lalu. Manajemen MDLN sempat memproyeksikan kinerja yang bagus pada awal tahun. Namun, wabah corona yang mulai melanda Indonesia pada awal Maret lalu merontokkan bisnis properti.

"Melihat situasi pandemi Covid-19 yang berkembang saat ini dan berdampak pada penjualan di kuartal kedua, kami memperkirakan marketing sales di tahun 2020 berpotensi turun 10%-20% dari target awal," kata Eliza Saliman, Investor Relation Assistant Manager MDLN, kepada KONTAN, Rabu (15/4).

Manajemen MDLN meyakini kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Tahun ini, MDLN menyiapkan dana belanja modal sebesar Rp 1,3 triliun, yang bersumber dari kas internal. Dana ini untuk membeli lahan seluas 500 hektare serta mendukung peluncuran proyek baru.

Oleh karena itu, MDLN berharap kondisi ekonomi mulai pulih pada semester kedua. MDLN memiliki proyek dan kluster baru yang akan meluncur pada sisa tahun ini.

Modernland ingin menggenjot segmen residensial pada semester kedua mendatang. Dengan strategi tersebut, diharapkan proyeksi penurunan pada kuartal kedua dapat ditutupi. "Kami melihat permintaan rumah menengah bawah akan mendominasi pasar setelah pandemi Covid-19 pulih. Oleh karena itu, kami menyiapkan Modernland Cilejit untuk menyerap permintaan pasar pada saat itu," jelas Eliza.

Di lini industrial, MDLN masih memiliki banyak transaksi berjalan, beberapa di antaranya transaksi besar, di mana pendapatannya akan diterima sepanjang tahun 2020 ini. "Kami juga yakin segmen hospitality juga pulih kembali di semester kedua, sehingga akan berkontribusi kembali kepada pertumbuhan perusahaan," kata Eliza, tanpa memerinci angkanya.

Namun yang pasti, kinerja MDLN sempat terbantu oleh transaksi besar pada akhir tahun lalu. "Sebelum tutup tahun, kami berhasil membukukan transaksi lahan dengan perusahaan joint venture Lotte Land Modern Realty di Jakarta Garden City (JGC)," ungkap Eliza singkat.

Mengacu laporan keuangan tahunan 2019, transaksi di JGC itu menyumbang pendapatan Rp 481,50 miliar. Tahun lalu, MDLN mengantongi pendapatan Rp 2,37 triliun, meningkat 11,73% year on year (yoy). Selain dengan Lotte, transaksi besar pada tahun lalu berasal dari PT Prima Duta Pratama senilai sekitar Rp 376,30 miliar.

Kenaikan pendapatan MDLN mendorong perolehan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 409,60 miliar, naik lebih dari 16 kali lipat. Pertumbuhan laba juga lantaran MDLN menekan beban pokok pendapatan 10,96% menjadi Rp 924,93 miliar.

PT Vale Indonesia Tbk Berkinerja Positif di Kuartal Pertama | Saham INCO


Di tengah pandemi corona, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masih mampu menorehkan kinerja operasional positif di sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Pada akhir kuartal I-2020, INCO mencatatkan produksi nikel dalam matte mencapai 17.614 metrik ton. Jumlah ini meningkat 34,66% dibandingkan realisasi di kuartal I 2019 sebesar 13.080 metrik ton.

Director Finance and Control PT Vale Indonesia Tbk, Adi Susatyo mengatakan, produksi nikel dalam matte INCO sampai saat ini tak terpengaruh penyebaran wabah corona. Atas dasar itu, Vale Indonesia belum berniat mengubah target produksi tahun ini. Sampai kini target produksi nikel dalam matte INCO masih 71.000 metrik ton di 2020, ujar dia, Jumat (17/4).

Jika dihitung secara kuartalan, hasil produksi nikel dalam matte INCO di kuartal I 2020 lebih rendah 14,05% (qoq) ketimbang produksi di kuartal IV 2019 lalu sebesar 20.494 metrik ton.

Namun dalam keterbukaan informasi BEI pekan lalu, CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Nico Kanter menyebutkan, penurunan produksi nikel secara kuartalan lebih disebabkan adanya aktivitas pemeliharaan yang mereka rencanakan.

Tahun lalu, INCO melakukan pemeliharaan terencana terkait proyek kanal Larona. Bendungan ini menyuplai air untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Larona, salah satu dari tiga PLTA milik INCO. Seluruh PLTA tersebut berperan terhadap operasional tambang INCO.

Adi juga memastikan, aktivitas INCO di sisa tahun 2020 tidak terganggu oleh rencana mereka melakukan perawatan salah satu dari empat fasilitas tungku (furnace). Catatan KONTAN, proses perbaikan fasilitas furnace INCO akan memakan waktu lima bulan dan dimulai pada kuartal keempat nanti.

PT Eastparc Hotel Tbk. Tutup Sementara Hotel di Yogyakarta

Emiten perhotelan PT Eastparc Hotel Tbk. menutup seluruh jaringan hotel yang berada di Yogyakarta sejak akhir Maret 2020

Direktur Pemasaran Eastparc Hotel Wahyudi Eko Sutoro mengatakan sejak akhir Maret 2020 hingga 20 Mei 2020. “EAST tidak menerima tamu sesuai dengan himbauan pemerintah,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (19/4/2020).

Presiden Direktur Eastparc Hotel Khalid Bin Omar menambahkan dalam kurun waktu itu perseroan tidak membukukan pendapatan. Walaupun demikian, arus kas perseroan dalam kondisi lancar.

Khalid menyebut, Keputusan penghentian sementara diambil untuk efisiensi biaya operasional dan mengurangi penyebaran covid-19.

Sebelum Covid-19 merebak, EAST memproyeksikan pendapatan meningkat sebesar 15,11 persen secara tahunan. Rata-rata tingkat okupansi juga ditargetkan naik menjadi 80 persen sampai 87 persen.

Sebagai informasi, Eastparc Hotel mencatatkan laba bersih sebesar Rp9,46 miliar pada 2019 naik 302 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp2,46 miliar. Dengan begitu, laba per saham yang dapat diatribusikan menjadi Rp2,39 dari posisi Rp0,59.

Kenaikan laba bersih, ditopang oleh peningkatan pendapatan sebesar 18,55 persen year-on-year (yoy). Pada 2019, emiten berkode saham EAST itu mencetak Rp64,08 miliar sedangkan tahun sebelumnya Rp54,05 miliar.

https://market.bisnis.com/read/20200420/192/1229418/demi-efisiensi-eastparc-east-tutup-sementara-hotel-di-yogyakarta

PT Transcoal Pacific Tbk. Keluarkan Jurus Jaga Kinerja

Emiten pelayaran PT Transcoal Pacific Tbk. terus berupaya mendapatkan klien baru dan fokus meneruskan pelaksanaan kontrak yang diperoleh sejak tahun-tahun sebelumnya.

Anton Ramada Saragih, Sekretaris Perusahaan Transcoal Pacific mengatakan perkembangan bisnis perseroan pada kuartal I/2020 tetap berjalan dengan baik. Emiten bersandi saham TCPI itu meneruskan pelaksanaan kontrak-kontrak yang diperoleh tahun sebelumnya dan masih berlaku pada 2020.

Anton menuturkan TCPI masih mengerjakan pengangkutan batu bara milik dua perusahaan tambang terbesar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Dua perusahaan itu menurutnya terikat kontrak jangka panjang.

Selain batu bara, lanjut dia, perseroan juga mengerjakan pengangkutan bijih nikel dan batu split di Sulawesi, pengangkutan solar industri dan CPO, serta pemberian jasa agensi dan penyediaan jasa mooring man dan spill oil response team. 

Anton mengungkapkan perseroan juga memberikan layanan pengangkutan batu bara miliki pemilik tambang atau trader lainnya yang dilakukan secara spot shipment.

“Sejauh ini belum ada penundaan dan pengurangan operasional dari klien, dan kami berharap penundaan atau  pengurangan tersebut tidak akan terjadi kedepan,” jelasnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Selain fokus meneruskan kontrak, dia menyebut perseroan juga terus mencari klien baru. Menurutnya, TCPI memiliki potensi mendapat kontrak baru dalam pengangkutan batu bara yang ditujukan ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru.

“Perseroan berharap kontrak ini dapat direalisasikan pada tahun ini,” imbuhnya.

Di tengah kondisi yang menantang akibat penyebaran COVID-19, Anton menuturkan perseroan berupaya agar target kinerja keuangan dapat meningkat dari tahun ke tahun. 

Namun, TCPI tetap mematuhi ketentuan yang digariskan oleh pemerintah dalam upaya menghentikan penyebaran pandemi tersebut.

Dia menegaskan strategi yang digariskan oleh perseroan sejak awal tetap dilanjutkan dan dilaksanakan untuk menjaga profitabilitas tahun ini. Langkah yang ditempuh yakni dengan meningkatkan kualitas layanan angkutan kargo milik klien yang ada saat ini.

Di samping itu perseroan juga berupaya menjaga stabilitas cash flow atau likuiditas,  menambah kepemilikan armada untuk mengurangi ketergantungan sewa kapal.

Upaya lainnya yaitu optimalisasi penggunaan armada, mencari sumber kargo baru, serta menjaga kepercayaan pihak perbankan.

Anton mengatakan manajemen juga sedang mempersiapkan strategi dan langkah lain yang harus ditempuh perseroan ke depan apabila pandemi COVID-19 akan berdampak buruk lebih jauh terhadap makro ekonomi termasuk munculnya kondisi kahar seperti penundaan atau pengurangan operasional serta negosiasi ulang harga dari klien. 

“Agar perseroan tetap dapat mempertahankan kegiatan usahanya, dalam hal ini, perseroan akan melakukan aktivitas efisiensi di segala lini bisnis perusahaan dan sehubungan operasional angkutan laut perseroan  mendapatkan dukungan dari kapal-kapal sewa milik pihak ketiga maka yang pertama dilakukan oleh perseroan adalah pengurangan armada sewa perseroan,” paparnya.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Revisi Target Kontrak 2020

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. melansir tiga skema dampak penyebaran pandemi COVID-19 terhadap perolehan kontrak baru 2020. Sejauh ini perseroan belum merevisi target perolehan kontrak sepanjang 2020.

Direktur Keuangan Wijaya Karya Ade Wahyu menjelaskan bahwa saat ini dampak dari penyebaran pandemi COVID-19 belum dapat dipastikan. Oleh karena itu, perseroan tengah intensif melakukan analisis dampak melalui tiga alternatif kondisi yakni dampak ringan, moderat, dan berat berdasarkan kemungkinan situasi yang akan terjadi.

“Perseroan meyakini dalam kondisi ringan masih mampu mendapatkan kontrak baru di kisaran 55 persen—60 persen, kondisi moderat 45 persen—50 persen, dan di kondisi terberat 20 persen hingga 25 persen dari target awal tahun,” jelasnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Ade mengatakan saat ini belum melakukan revisi terhadap target kontrak baru dan kinerja keuangan 2020. Menurutnya, hal itu baru akan dilakukan setelah asumsi yang menjadi dasar pertimbangan sudah stabil.

Dia mengungkapkan perseroan telah memiliki strategi untuk menjaga kinerja pada 2020. Menurutnya, perseroan akan fokus kepada produksi proyek carry over yang memiliki perputaran arus kas cepat atau short term payment. 

“Sambil menjaga likuiditas perusahaan, sambil terus mengamati perkembangan kondisi lebih lanjut diharapkan dampak COVID-19 ini segera berlalu sehingga keadaan lebih baik,” jelasnya.

Dalam panduan kontrak baru 2020, emiten berkode saham WIKA itu membidik total nilai kontrak baru Rp65,50 triliun atau naik 59,7 persen secara year on year (yoy). Berdasarkan pemilik proyek, perseroan mengincar kontrak baru terbesar dari badan usaha milik negara (BUMN) dengan kontribusi 37,35 persen.

Proyek dari sektor swasta ditargetkan berkontribusi sebesar 24,92 persen pada 2020. Selanjutnya, pekerjaan proyek dari pemerintah diharapkan mampu berkontribusi 17,82 persen. Adapun, perseroan menargetkan realisasi laba bersih Rp2,92 triliun pada 2020 atau tumbuh 11,41 persen secara yoy. 

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya mengungkapkan perolehan kontrak baru Rp2,48 triliun pada kuartal I/2020. Jumlah itu menurutnya berada di bawah target Rp5,7 triliun untuk periode tersebut.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk | Bakal Pangkas Target Kontrak Baru

PT Adhi Karya (Persero) Tbk. akan merevisi turun target kontrak baru periode 2020 sejalan dengan  penundaan sejumlah proyek tahun ini.

Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto mengatakan perseroan akan menurunkan target perolehan kontrak baru 2020. Keputusan itu menyusul banyak proyek pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), dan swasta yang tertunda.

“Nilainya masih kami kaji dengan melihat perkembangan COVID-19,” ujarnya kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Emiten berkode saham ADHI itu mengantongi kontrak baru Rp2,5 triliun hingga Maret 2020. Berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru dari pemerintah mendominasi sebesar 70 persen pada kuartal I/2020.

Berdasarkan catatan Bisnis, ADHI membidik nilai kontrak baru Rp35 triliun pada 2020 atau meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan realisasi Rp14,7 triliun tahun lalu. Perseroan sebelumnya menyebut perolehan kontrak baru tahun ini masih akan didominasi oleh infrastruktur jalan tol.

Sementara itu, Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. mengungkapkan perseroan akan melakukan sejumlah efisiensi untuk menjaga profitabilitas pada 2020. Salah satunya penghematan terhadap perjalanan dinas dan biaya operasional lainnya.

Entus mengatakan ADHI juga akan menunda sebagian rencana investasi jangka panjang. Tujuannya, mengurangi beban keuangan pada 2020.

“Sedang kami diskusikan dengan para pihak terkait besaran penundaannya [rencana investasi jangka panjang],” jelasnya.

Sebagai catatan, ADHI mengantongi pendapatan Rp15,30 triliun pada 2019. Realisasi itu turun 2,22 persen dibandingkan dengan Rp15,65 triliun periode 2018.

Dari situ, perseroan membukukan laba bersih Rp663,80 miliar per 31 Desember 2019. Pencapaian itu naik 3,05 persen dari Rp644,15 miliar periode yang sama tahun sebelumnya.

Antara TINS, ANTM dan PTBA, Mana Yang Lebih Menarik?


Harga komoditas tambang terus merosot akibat berlanjutnya penyebaran virus corona di dunia.

Kondisi ini mendorong emiten tambang pelat merah memutar otak agar kinerja tahun ini tak anjlok dalam.

PT Timah Tbk (TINS), misalnya, akan mengurangi volume ekspor sekitar 20% di tahun ini, serupa strateginya di tahun lalu.

"Pengurangan ini sifatnya bukan setahun. Tetapi sifatnya maintain bulanan untuk melihat kondisi harga," ujar Sekretaris Perusahaan Timah Abdullah Umar Baswedan kepada KONTAN, Jumat (17/4).

Pengurangan pasokan di pasar internasional diharapkan bisa mengerek harga timah ke level wajarnya.

Hitungan TINS, harga wajar timah di US$ 18.000 per ton. Sementara harga timah akhir pekan lalu masih US$ 15.070 per ton.

Sementara itu, TINS mempertahankan target produksi 60.000 ton70.000 ton. Perusahaan ini juga melakukan efisiensi di setiap lini bisnis.

Analis NH Korindo Sekuritas Meilki Darmawan melihat, harga komoditas timah berpeluang bearish hingga akhir 2020.

Artinya, pendapatan TINS masih akan tertekan.

Sementara emiten batubara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengaku bisa mengurangi risiko karena lebih dari 60% produksinya ditujukan ke pasar dalam negeri.

Memang, Harga Batubara Acuan (HBA) April 2020 sudah mulai terimbas pandemi virus corona.

HBA dipatok di angka US$ 65,77 per ton, lebih rendah 1,95% dari bulan sebelumnya.

Jumat lalu, harga batubara internasional juga melorot ke US$ 58,85 per ton, yang menjadi level terendah sejak Juli 2016.

Dalam catatan KONTAN, selain efisiensi, PTBA tengah mengkaji pasar baru, seperti Taiwan dan Brunei Darussalam.

PTBA memasang target produksi 30,3 juta ton di tahun ini, lebih tinggi sekitar 4% dibanding realisasi tahun lalu.

Sebaliknya kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tahun ini masih berpeluang menguat.

Ketidakpastian ekonomi telah melambungkan harga emas dunia.

Dalam laporan keuangan 2019, penjualan produk emas ANTM mencapai Rp 22,46 triliun. Realisasi ini naik 34% dalam setahun.

Asal tahu saja, penjualan emas berkontribusi 68% terhadap total pendapatan ANTM.

Analis MNC Sekuritas Catherina Vincentia memprediksi, ANTM bisa mempertahankan pendapatan di kisaran Rp 32,7 triliun dan laba bersih di Rp 1,19 triliun tahun ini.

Emiten Properti Paling Menarik 2020


Pandemi virus korona memukul semua segmen bisnis yang dijalankan oleh emiten properti.

Daya beli yang rendah hingga kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat penjualan properti dan bisnis penyewaan ruang tergerus.

Karena itu, Analis NH Korindo Sekuritas Ajeng Kartika Hapsari mengatakan, emiten properti akan kesulitan mencatatkan kinerja yang lebih baik di tahun 2020.

Di tengah wabah virus korona saat ini, masyarakat akan cenderung menyimpan uang.

Alhasil, konsumsi akan berkurang. Dengan begitu, penjualan properti juga akan berkurang signifikan.

Bahkan tren bunga rendah tidak efektif mengangkat daya beli masyarakat di bidang properti.

Kebijakan bekerja dari rumah dan PSBB juga menekan kinerja properti, khususnya sewa tenant di pusat perbelanjaan dan perkantoran.

Tak hanya itu, emiten properti yang memfokuskan pendapatannya melalui sektor perhotelan dan recurring income juga akan menurun.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, emiten properti yang pendapatannya bergantung pada sewa di pusat perbelanjaan dan perkantoran tidak mendapat pemasukan akibat kebijakan tersebut.

Apalagi, emiten properti juga memberi kompensasi penundaan pembayaran bagi tenant.

Emiten yang paling terpukul di segmen ini adalah PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Pakuwon memberikan kelonggaran pembayaran bagi tenant untuk April 2020 hingga Juni 2020.

Kebijakan berlaku pada semua tempat perbelanjaan PWON di Jakarta dan Surabaya.

Analis Panin Sekuritas Ishlah Bimo Prakoso juga berpendapat, pendapatan pra penjualan alias marketing sales juga susah tumbuh.

Liat posisi utang

Untuk menjaga kinerja, emiten properti harus menghindari dan menahan pengeluaran biaya operasi, terutama untuk merilis produk baru.

Sebaliknya, emiten properti dapat memaksimalkan pengenalan produk-produk lama yang telah dirilis kepada publik.

Selain itu, emiten properti juga dapat memangkas biaya administrasi untuk meningkatkan efisiensi biaya.

Ajeng melihat, penjualan perumahan ritel justru lebih prospektif dibanding sewa tenant pada tahun ini.

Sebab, kebutuhan masyarakat untuk memiliki tempat hunian masih tinggi.

Terlebih, tren penurunan suku bunga acuan bisa menyuntik minat konsumen membeli properti.

Kendati demikian, Bimo menyarankan investor mempertimbangkan neraca emiten properti sebelum masuk.

Semakin sehat neracanya, maka emiten tersebut akan semakin tahan guncangan.

Bimo menilai PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PWON bisa dipertimbangkan untuk dikoleksi.

Ketiga emiten ini memiliki porsi utang yang rendah.

Ajeng melihat saham emiten CTRA lebih menarik. Alasannya, sebagian besar pendapatan CTRA bersumber dari penjualan rumah tapak.

PT Aneka Gas Industri Tbk Fokus Menggarap Bisnis Gas Medis

Perusahaan penyedia gas untuk sektor industri, PT Aneka Gas Industri Tbk, masih optimistis terhadap peluang bisnis tahun ini, kendati kondisi perekonomian sedang berat. Emiten berkode saham AGII di Bursa Efek Indonesia itu belum akan merevisi dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 200 miliar untuk menunjang rencana bisnis 2020.

Meski begitu, Direktur Utama PT Aneka Gas Industri Tbk, Rachmat Harsono mengatakan, pihaknya mengubah alokasi penggunaan dana capex tersebut. Mereka fokus menggunakan dana belanja modal untuk pembelian cylinder gas medis, tangki gas untuk pelanggan rumah sakit, hingga perawatan pabrik.

Meski tidak menyebutkan secara terperinci, manajemen AGII tidak akan jorjoran membangun fasilitas filling station pada tahun ini. "Kami bermaksud meningkatkan utilitas maupun efisiensi dari filling station yang ada," tutur Rachmat, Sabtu (18/4). Saat ini, AGII memiliki 104 filling station yang tersebar di 26 provinsi di Indonesia.

Rachmat juga bilang, pendapatan AGII rata-rata tumbuh sekitar 1,5 kali sampai dua kali dari pertumbuhan ekonomi nasional di setiap kuartal. Hanya saja, kondisi saat ini tampak berbeda akibat penyebaran virus corona (Covid-19). Tak ayal, manajemen mesti mengkaji kembali proyeksi kinerja keuangan di sepanjang tahun ini.

Beruntung, Aneka Gas memiliki keuntungan dari sisi diversifikasi pelanggan. Sebab, tidak ada satu sektor pelanggan gas AGII yang berkontribusi lebih dari 30% terhadap total pendapatan perusahaan. "Dengan begitu, kalaupun pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi turun, maka ini tidak mempengaruhi seluruh sektor pelanggan kami," terang Rachmat.

Gas medis

Memang, wabah corona tidak menghalangi AGII untuk terus berbisnis. Perusahaan ini pun berupaya memaksimalkan penjualan gas di sektor medis yang berpotensi meningkat selama pandemi.

Rachmat mengklaim, saat ini Aneka Gas merupakan pemimpin pasar gas medis di Indonesia karena melayani sekitar 80%-85% kebutuhan gas tersebut. Perusahaan ini pun berkeinginan mempertahankan pangsa pasarnya di Indonesia untuk segmen gas medis, di samping memperkuat penjualan gas industri secara keseluruhan.

Peluang tersebut cukup terbuka mengingat kebutuhan gas medis di Indonesia mengalami peningkatan seiring wabah corona. Manajemen Aneka Gas memproyeksikan pendapatan dari segmen gas medis berpotensi meningkat dua kali lipat di tahun ini.

"Dengan adanya pandemi ini, kami mengestimasikan ada peningkatan permintaan gas medis. Namun kami juga mengantisipasi kemungkinan penurunan dari sektor maupun pelanggan tertentu yang operasinya terhambat," ungkap Rachmat.

Per akhir kuartal III-2019, segmen bisnis gas medis berkontribusi sebanyak 23% dari total pendapatan AGII secara keseluruhan. Saat itu, pendapatan dari segmen gas medis tercatat Rp 374 miliar, sedangkan total pendapatan AGII mencapai Rp 1,61 triliun.

Untuk memasok kebutuhan gas medis ke rumah sakit, salah satu strategi Aneka Gas adalah mengoperasikan jaringan yang terintegrasi dan berskala nasional. Emiten ini akan memaksimalkan keberadaan pabriknya yang berjumlah 44 unit serta 104 filling station yang tersebar di 26 provinsi di Indonesia.

AGII juga berupaya menjalankan strategi one-stop-solution bagi pelanggan rumah sakit. Dalam hal ini, selain menyediakan gas medis, Aneka Gas memfasilitasi layanan instalasi gas tersebut beserta peralatan kesehatan terkait.

Sebagai contoh, baru-baru ini AGII membantu Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terkait pembangunan fasilitas observasi dan karantina Covid-19 di Pulau Galang.

"Kami menyediakan layanan instalasi dan perangkat gas medis, modular insulation panel, isolation room unit, negative pressure air system, dan ruang isolasi ICU," tutur Rachmat.

Aneka Gas juga melayani sektor homecare melalui produk Oxypure atau tabung gas oksigen pribadi. Bagi pelanggan yang memiliki gejala virus corona ringan, produk ini memungkinkan mereka untuk mengelola gejala tersebut secara mandiri di rumah tanpa harus ke rumah sakit. Terlepas dari adanya peluang di segmen gas medis, AGII tetap bersikap defensif sekaligus mengutamakan diversifikasi pelanggan yang mumpuni.

Rekomendasi Saham Mirae Asset | ESSA,KAEF, KLBF

Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
April 20, 2019
(tasrul@miraeasset.co.id)

IHSG Daily, 4,632.81 (+3.40%), test resistance at 4,709,trading range 4,517-4,709. Indikator MFI optimized masih cenderung naik, sementara itu indikator W%R optimized dan indikator Stochastic%D optimized cenderung naik. Pada periode weekly  indikator MFI optimized dan indikator W%R optimized coba naik lebih lanjut Daily support di 4,517 dan daily resistance di 4,709. Cut loss level di 4,460.

ESSA Daily  , 139 (+2.11%), buy on weakness, trading range 136 –151. Indikator MFI optimized, indikator indikator W%R optimized dan Stochastic%D optimized masih bergerak naik. Daily support  di 136 sementara itu daily resistance di  151 Cut loss level  di  132.

KAEF Daily, 1,255 (+1.21%), trading buy, trading range 1,210– 1,340. optimalisasi indikator MFI optimized , indikator W%R optimized dan Stochastic%D optimized masih cenderung turun namun mulai terbatas Daily support  di 1,210 sementara itu daily resistance  di 1,340 Cut loss level  di 1,200.

KLBF Daily , 1,195 (+4.37%), sell on strength, trading range 1,160 – 1,230. Indikator MFI optimized ,indikator W%R optimized, dan  indikator Stochastic %D optimized akan menguji support line. Perkiraan daily support di 1,160 dan daily resistance di 1,230. Cut loss level di 1,130.

Rekomendasi Saham IPOT | ISAT, BBCA, HMSP

IHSG (4.465-4.780) : Indeks harga saham gabungan diprediksi akan melanjutkan penguatannya. Target kenaikan harga pada level 4.780 kemudian 4.945 dengan support di level 4.465 dan 4.330.

ISAT (Buy) : Target kenaikan harga pada level 2.180 kemudian 2.320 dengan support di level 1.875, cut loss jika break 1.715.

BBCA (Buy) : Target kenaikan harga pada level 27.750 kemudian 28.375 dengan support di level 26.450, cut loss jika break 25.875.

HMSP (Buy) : Target kenaikan harga pada level 1.685 kemudian 1.750 dengan support di level 1.570, cut loss jika break 1.515.

XIIF (Buy) : Target kenaikan harga pada level 421 kemudian 437 dengan support di level 389, cut loss jika break 373.

XPES (Buy) : Target kenaikan harga pada level 324 kemudian 337 dengan support di level 298, cut loss jika break 285.

XDIF (Buy) : Target kenaikan harga pada level 354 kemudian 367 dengan support di level 322, cut loss jika break 308.

Full report bisa diakses di : https://r.ipot.id/?g=r/t/3c9nfs

Rekomendasi Saham MNC Sekuritas | INKP, AKRA, PTBA, BBCA

MNC Daily Scope Wave
20 April 2020

Menutup pekan kemarin (17/4), IHSG ditutup menguat cukup agresif sebesar 3,4% ke level 4,634 namun pergerakannya masih tertahan MA5 dan MA20. Selama belum mampu menembus resistance di level 4,747 dan 4,975 secara agresif, maka penguatan pada IHSG akan cenderung terbatas dan rentan terkoreksi ke arah 4,150-4,300 terlebih dahulu. Waspadai level 3,911 sebagai level support krusial yang akan membawa IHSG menuju area 3,800.
Support: 4,530, 4,393
Resistance: 4,747, 4,975

INKP - Buy on Weakness (5,200)

Meskipun menguat 2,5% pada penutupan pekan lalu (17/4), namun dalam jangka pendek INKP sedang berada di awal wave B dari wave (B), sehingga INKP akan rentan terkoreksi terlebih dahulu sebelum akhirnya berbalik arah. Silahkan melakukan pembelian bertahap pada level-level yang kami berikan.
Buy on Weakness: 4,400-4,800
Target Price: 5,800, 6,850
Stoploss: below 3,700

AKRA - Buy on Weakness (1,880)

Ditutup menguat pada pekan lalu (17/4) sebesar 2,5%, namun AKRA belum sanggup menembus level resistance di 2,150. Kami memperkirakan dalam jangka pendek AKRA rentan terkoreksi terlebih dahulu untuk membentuk wave (b) dari wave [iv], setelah terkonfirmasi membentuk wave (b), maka AKRA berpeluang kembali menguat untuk membentuk wave (c) dari wave [iv]. 
Buy on Weakness: 1,600-1,750
Target Price: 2,200, 2,400
Stoploss: below 1,400

PTBA - Sell on Strength (1,980)

Penguatan PTBA pada Jumat kemarin (17/4) sebesar 3,9% tidak disertai dengan tingginya volume beli. Kami memperkirakan bahwa pergerakan PTBA sedang berada di wave 5 dari wave (5), sehingga PTBA masih rentan untuk terkoreksi. Diperkirakan level koreksi PTBA terdekat berada pada area 1,900 dan koreksi PTBA dapat menuju area 1,700 dan 1,400. Silahkan melakukan buyback bertahap pada area-area tersebut.
Sell on Strength: 1,980-2,050

BBCA - Sell on Strength (27,125)

Penguatan BBCA sebesar 3,5% pada penutupan pekan lalu (17/4), kami perkirakan merupakan awal dari wave [b] dari wave 2, skenario ini berlaku selama BBCA tidak mampu menembus resistancenya pada level 30,500. Penguatan BBCA kami perkirakan akan cenderung terbatas dan dalam jangka pendek. Setelah mengkonfirmasi terjadinya wave [b], maka BBCA akan berpotensi terkoreksi kembali untuk membentuk wave [c] dari wave 2 yang kami perkirakan terdekatnya akan berada pada area 26,000-26,500 dan idealnya 23,500-25,000. Silahkan buyback pada area koreksi tersebut.
Sell on Strength: 27,200-28,700

Disclaimer On

Harga Komoditas dan Indeks | 20 April 2020

Dow jumps 700 points on hope for a coronavirus treatment, closes at highest level since March

Stocks surged on Friday after a report said a Gilead Sciences drug showed some effectiveness in treating the coronavirus, giving investors some hope there could be a treatment solution that helps the country reopen faster from the widespread shutdowns that have plunged the economy into a recession.

Dow.......24243    +704.8   +2.99%
Nasdaq..8650      +117.8   +1.38%
S&P 500..2875     +75.01   +2.68%

FTSE.......5787     +158.5    +2.82%
Dax.........10626   +324.2    +3.15%
CAC.........4499     +148.9    +3.42%

Nikkei....19897    +607.1     +3.15%
HSI.........24380   +373.6     +1.56%
Shanghai.2839   +18.6        +0.66%
ST Times.2617   +2.4          +0.09%

IDX........4635.61  +154.21   +3.44%
LQ45......695.47   +32.78      +4.95%

Indo10Yr..8.1911      -0.0392     -0.48%
ICBI..........270.4221 +0.7639    +0.2 8%
US10Yr.......0.6540   +0.0160    +2.51%
VIX............38.15     -1.96         -4.8
9%!

USDIndx .....99.7820   -0.2430     -0.24%
Como Indx...123.80    +0.17         +0.14%
(Core Commodity CRB)
DJUSCL...........6.17   +0.40        +6.93%
 (Dow Jones US Coal Index) 

IndoCDS......201.28      -3.303     -1.61%
 (5-yr INOCD5)  

IDR.......15465.00    -175.00      -1.12%
Jisdor...15503          -284            -1.80%

Euro.........1.0875   +0.0020  +0.18%

TLKM......20.56    +1.52      +7.98%
(3187)
EIDO.......15.67     +0.97       +6.60%
EEM.........36.26     +0.79       +2.23%

Oil...........18.27        -1.74          -8.70%
Gold ....1698.80         -23.10        -1.34%
Timah....15135.00     +87.50      +0.58%
Nickel.....12065.00    +307.50    +2.62%

Coal price....62.00  +0.10      +0.16%
(Apr/Newcastle)
Coal price....56.30   -0.05       -0.09%
(May/Newcastle)
Coal price.....45.40  -0.10       -0.22%
(Apr/Rotterdam) 
Coal price....45.80   +0.30     +0.66%
(May/ Rotterdam)

CPO(Jun)..2252        +33      +1.49%
(Source: bursamalaysia.com)             
Corn............329.25  +3.00    +0.92%
SoybeanOil...26.67   -0.01     -0.04%
Wheat.........533.75  +3.25    +0.61%

Rubber......153.80    +2.60    +1.72%

( DE/ Phintraco(AT)  20 -04-20)