MNCN | GELAR RUPS, MNC BAGI DIVIDEN Rp15 PER SAHAM


IQPlus, (25/06) - PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelae kemarin sore telah menyepakati adanya pembagian dividen tunai sebesar Rp214 miliar atau setara Rp15 per lembar saham.

Nilai tersebut merupakan 14% dari laba bersih yang berhasil dikantongi perusahaan media MNC Group itu pada tahun 2018 sebesar Rp1,6 triliun. Adapun jumlah pembagian dividen ini meningkat dari tahun lalu yang sebesar Rp209 miliar.

Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo menyatakan, jumlah pembagian dividen tersebut telah disetujui oleh pemegang saham. Menurutnya, perseroan memang ingin membagikan nilai dividen yang lebih besar, namun terdapat beberapa kebutuhan yang menjadi pertimbangan.

Di antaranya, untuk kebutuhan mempercepat penurunan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio, hingga pengembangan bisnis konten. Khususnya pengembangan dari konvensional ke digital.

"Sebenarnya ingin bagikan dividen dalam jumlah yang lebih besar, namun kita ingin mempercepat penurunan debt to equity ratio, juga ada kebutuhan untuk in house production yang naik," ujar Hary Tanoe di iNews Tower, Jakarta, Senin, 24 Juni 2019.

Sementara itu, Direktur MNCN Ruby Panjaitan menambahkan, perseroan pada tahun ini mengalokasikan sekitar Rp500 miliar-Rp600 miliar untuk kebutuhan debt to equity ratio.

"Percepatan penurunan rasio itu tentu akan bagus sekali bagi perusahaan. Kita juga alokasikan untuk pengembangan produksi konten," ungkapnya.

Selain untuk dividen, porsi laba bersih sebesar Rp1 miliar akan dibukukan sebagai dana cadangan guna memenuhi ketentuan Anggaran Dasar Perseroan dan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Sedangkan, sisanya akan dibukukan sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan. (end/as)

LUCK | BEI CERMATI POLA TRANSAKSI SAHAM LUCK


IQPlus, (25/06) - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati pola transaksi saham PT Sentra Mitra Informatika Tbk (LUCK) karena telah mengalami peningkatan harga dan aktivitas yang diluar kebiasaan (UMA).

Menurut keterangan BEI disebutkan Selasa bahwa informasi terakhir yang disampaikan emiten pada 21 Juni 2019 melalui IDX Net terkait hasil RUPS Tahunan perseroan.

Investor diminta untuk memperhatikan jawaban perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa dan mengkaji kembali rencana aksi korporasi perseroan yang belum mendapatkan persetujuan RUPS.

Harga saham perseroan pada level Rp1.075 pada 31 Mei 2019 dan ditutup di level Rp1.820 per lembar pada 24 Juni 2019 kemarin. (end)

INDY | INDIKA ENERGY DIRIKAN ANAK PERUSAHAAN BARU


IQPlus, (25/06) - PT Indika Energy Tbk (INDY) telah mendirikan anak perusahaan baru pada 20 Juni 2019 dengan nama PT Indika Multi Properti (IMP).

Menurut keterangan perseroan yang diperoleh Selasa disebutkan, pendirian IMP tersebu telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Ham pada tanggal yang sama.

Adapun tujuan dari pendirian IMP adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi, perdagangan besar, eceran, real estate, dan aktivitas profesional, ilmiah dan teknis.

Modal dasar IMP sebesar Rp40 miliar dan modal disetor Rp10 miliar atau 10.000 saham dimana perseroan memiliki 9.999 saham atau 99,99% dan sisanya 1 saham dimiliki PT Indika Inti Corpindo. (end)

TOPS | Totalindo Menggantung Asa di Semester Kedua 2019


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manajemen PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) kian optimistis mampu mencapai target bisnis tahun ini. Hingga akhir Mei 2019, emiten properti ini telah mengikuti tender sejumlah proyek dengan nilai Rp 9,20 triliun.

Saat ini, TOPS sudah menggenggam kontrak (order book) senilai Rp 3,2 triliun. Perinciannya, proyek carry over tahun lalu sebesar Rp 1,5 triliun dan kontrak baru senilai Rp 1,7 triliun. "Melihat posisi kami sekarang, kami optimistis bisa mencapai target," ujar dia dalam paparan publik, Senin (24/6).

Sedangkan untuk tender yang sedang diikuti, Andre membeberkan antara lain proyek apartemen yang berlokasi di Jakarta dan Tangerang. Totalindo juga membidik proyek rumahsakit di Pontianak, pusat perbelanjaan di Medan, dan kawasan industri di Karawang. "Di luar itu, ada proyek pemerintah sebesar Rp 1 triliun," sebut Andre.

Hingga Mei tahun ini, Totalindo telah memiliki kontrak baru, baik dari proyek swasta maupun hasil kerjasama operasi (KSO) dengan pemerintah. Proyek KSO itu adalah pembangunan Klapa Village Tower B senilai Rp 315 miliar dan proyek Rusun Cilangkap senilai Rp 938 miliar. Di luar proyek KSO, beberapa proyek lain adalah Gedung Pusat Pemulihan Aset Kejaksaan Agung senilai Rp 90,15 miliar, Kingland Avenue Apartment Rp 275 miliar, serta Apartemen Sahid Asena dengan nilai proyek Rp 105 miliar.

Separuh dari target

Hingga Mei tahun ini, realisasi kontrak baru TOPS sudah 68,92% dari target senilai Rp 2,5 triliun. Perinciannya, senilai Rp 1,25 triliun berasal dari sektor pengembangan properti, Rp 90 miliar dari pemerintah, serta Rp 380 berasal dari swasta. Di periode Juni 2019, TOPS belum membukukan kontrak baru. "Pada bulan ini masih belum ada proyek baru," ujar Andre.

Totalindo mengharapkan pada semester kedua tahun ini bisa meraih hasil bagus di sejumlah tender yang mereka ikuti. Sejatinya, TOPS sudah banyak mengikuti proses tender sejak awal tahun. Cuma, mayoritas keputusan pemenang tender masih mempertimbangkan hasil pemilu. "Sepertinya begitu," kata dia saat menjawab terkait pemilu yang turut mempengaruhi sektor konstruksi.

Untuk mendukung kelancaran rencana bisnis pada tahun ini, terutama pengembangan proyek properti, Totalindo mengucurkan belanja modal Rp 200 miliar. "Kami berinvestasi hanya sebagai minoritas," ungkap Andre tanpa memerinci proyek properti baru yang mereka garap.

Sejak 2018, TOPS mengembangkan proyek TOD Lebak Bulus, Rumah Susun Cilangkap, Rusun Klapa Village Tower A dan B. Dengan sejumlah proyek itu, TOPS membidik pertumbuhan aset 10,7% year on year (yoy) menjadi Rp 3,73 triliun. Pertumbuhan aset ini juga lantaran TOPS sebelumnya menjual beberapa aset seperti tanah dan apartemen yang dinilai tidak produktif.

DOID | Prospek Saham Delta Dunia Makmur Masih Menarik


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) cukup menantang, seiring tren penurunan harga batubara. Ancaman perlambatan kinerja emiten saham batubara ini sudah terlihat sejak kuartal I-2019 lalu.

Laba bersih Delta Dunia tergerus 86,98% di kuartal satu menjadi US$ 1,36 juta. Padahal, emiten ini membukukan pertumbuhan pendapatan 17,64% secara year on year (yoy) menjadi US$ 213,91 juta.

Analis Senior Anugerah Sekuritas Indonesia Bertoni Rio menyebutkan, penurunan harga batubara membuat beberapa pemilik tambang batubara memutuskan mengurangi kegiatan eksplorasi. Kondisi ini mengganggu bisnis DOID sebagai penyedia layanan jasa pertambangan.

Situasi ini yang menyebabkan laba bersih emiten ini turun. "Secara tak langsung performa harga batubara jadi penggerak kinerja DOID," ujar dia.

Untungnya, operasional Delta Dunia masih oke. Ini terbukti dari kenaikan produksi volume pengupasan lapisan tanah atau overburden removal (OB) sebesar 16,87% (yoy) jadi 97 juta bank cubic meter (bcm) pada kuartal I-2019.

Bahkan, manajemen Delta Dunia sebelumnya memperkirakan volume OB akan di atas 30 juta bcm per bulan sepanjang kuartal II-2019. Ryan Daniel, Analis Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia, menyebut, pertumbuhan volume OB yang positif dapat menolong kinerja Delta Dunia di kuartal berikutnya.

Dia menganggap, Delta Dunia belum menunjukkan performa keuangan memuaskan. “Lantaran laba bersih DOID turun cukup dalam. "Dari hasil di kuartal I-2019, kami menurunkan proyeksi laba bersih untuk DOID di 2019 dan 2020 masing-masing 14% dan 13%," papar Ryan dalam risetnya.

Ini artinya laba bersih Delta Dunia bisa menjadi US$ 87 juta di 2019 dan US$ 97 juta di tahun 2020. Sedangkan proyeksi pendapatan Delta Dunia tahun 2019 mencapai US$ 889 juta dan US$ 956 juta di tahun 2020.

Meski begitu, Bertoni menilai, perlu usaha keras agar kinerja Delta Dunia membaik sampai akhir 2019. Apalagi, iklim industri batubara masih kurang mendukung.

Harga batubara di ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman Agustus 2019 berada di level terendah tahun ini, yakni US$ 69,7 per ton per 19 Juni lalu. Delta Dunia sudah berupaya meminimalisir dampak lesunya harga batubara dunia.

Emiten ini melakukan efisiensi berupa pengurangan pembelian aset bergerak dalam pekerjaan tambang serta meningkatkan pemeliharaan alat berat lama. "Efisiensi aset dapat mengurangi beban pengeluaran perusahaan," ujar Bertoni.

Delta Dunia juga tengah melakukan negosiasi perpanjangan kontrak jasa penambangan batubara dengan sejumlah pelanggan. Salah satunya dengan PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energy Tbk, dan PT Berau Coal.

Menurut Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji, perpanjangan kontrak dengan Kideco dan Berau Coal dapat meningkatkan profitabilitas jangka panjang Delta Dunia. Usaha ini juga memungkinkan Delta Dunia memiliki bisnis yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Nafan tetap menyarankan beli saham DOID dengan target harga Rp 620 per saham. Bertoni dan Ryan juga merekomendasikan beli dengan target harga masing-masing di Rp 800 dan Rp 1.550. Senin (24/6) harga DOID stagnan di Rp 510 per saham.

TARA | Insentif Pajak Hingga Suku Bunga Acuan BI Bikin Sitara Propertindo Optimistis


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sepanjang tahun ini, PT Sitara Propertindo Tbk (TARA) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 4%. Salah satu pemantik pertumbuhan penjualannya adalah insentif perpajakan dan kondisi politik seusai pemilu.

Direktur Utama PT Sitara Propertindo Tbk, Dedi Djajasastra, menyebutkan bahwa kondisi politik dan ekonomi dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini mempengaruhi kinerja emiten properti. "Penjualan kami terus menurun dalam dua tahun terakhir ini akibat kondisi politik dan ekonomi," sebut dia, Senin (24/6).

Merujuk laporan keuangan tahun lalu, emiten properti ini mencatatkan penjualan Rp 24,64 miliar. Sebagai perbandingan, realisasi penjualan 2017 lalu senilai Rp 51,3 miliar.

Dedi menyatakan, ada beberapa kondisi yang menyebabkan TARA cukup optimistis pada tahun ini. "Pemerintah seperti memberikan keleluasaan dengan menaikkan batas maksimum untuk pajak penjualan atas nilai barang mewah (PPnBM)," terang dia.

Berdasarkan catatan KONTAN, relaksasi batasan nilai hunian mewah yang dikenakan PPnBM menjadi Rp 30 miliar. Artinya, hanya hunian mewah mencakup rumah, apartemen, kondominium, town house, dan sejenisnya yang bernilai di atas Rp 30 miliar yang akan dikenakan PPnBM sebesar 20%.

Selain alasan tersebut, Dedi mengungkapkan, rencana pemerintah menggodok penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) 22 untuk hunian mewah yang sebelumnya 5% menjadi hanya 1% menjadi peluang bagi TARA untuk mengerek penjualan.

Adapun indikator lainnya yakni keputusan Bank Indonesia (BI) yang tidak menaikkan suku bunga acuan yang membuat sektor perbankan ikut menahan kenaikan bunga kredit properti. Kini TARA bersiap menggencarkan kembali usahanya lewat sejumlah proyek, antara lain berlokasi di Bogor dan Wonogiri. "Beberapa lokasi sedang diselesaikan pembebasan lahannya untuk pembangunan jalan," kata Dedi.

Hingga Desember 2018, TARA memiliki lahan seluas 765.000 m² di Bogor, 1,09 juta m² di Wonogiri dan 15.000 m² di Tangerang. Pada 2018, Sitara Propertindo mengalokasikan sekitar Rp 401,64 miliar sebagai uang muka pembelian tanah di Bogor milik PT Griya Cipta Berdikari.

Manajemen Sitara Propertindo juga menyiapkan belanja modal demi menopang proyek-proyek di tahun 2019. "Porsinya setengah dari kas penjualan dan setengah dari pinjaman perbankan," tutur Dedi, tanpa memerinci besaran belanja modal yang akan mereka kucurkan.

Hingga kuartal I-2019, TARA mengantongi penjualan Rp 5,45 miliar, turun 55% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 12,06 miliar. Sementara labanya tercatat senilai Rp 122,19 juta, turun 48% ketimbang periode sama tahun sebelumnya Rp 236,71 juta.

MTLA | Hingga Mei Metropolitan Land Gelontorkan Capex Rp 200 Miliar


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 200 miliar hingga Mei tahun ini. Manajemen MTLA menggunakan dana tersebut untuk menambah cadangan lahan.

Direktur PT Metropolitan Land Tbk, Olivia Surodjo, menyebutkan total belanja modal pada tahun ini sebesar Rp 700 miliar. "Sekitar Rp 200 miliar telah terserap hingga Mei lalu," ujar dia kepada KONTAN, Senin (24/6).

Olivia tak memerinci penggunaan dana belanja modal tersebut untuk apa saja. Satu hal yang pasti, manajemen Metropolitan Land menyatakan telah mengakuisisi sejumlah lahan, kendati tidak menjelaskan secara mendetail.

Yang jelas berdasarkan catatan KONTAN, MTLA menganggarkan belanja modal untuk keperluan akuisisi lahan dan pengembangan proyek existing seperti Venya Ubud Bali dan Apartemen Kaliyana. Adapun perinciannya sebesar Rp 200 miliar untuk akuisisi lahan dan sisanya Rp 500 miliar untuk menggarap proyek-proyek yang telah berjalan.

Olivia mengungkapkan, sepanjang semester I 2019 dengan tren bisnis properti yang masih berat, kinerja MTLA cukup baik. "Karena ada yang baik dan ada yang masih kurang baik," kata dia.

Dengan kondisi demikian, MTLA tetap optimistis dengan kinerja pada semester kedua tahun ini bakal lebih baik ketimbang periode sebelumnya. "Khususnya setelah Agustus nanti. Oleh karena itu, untuk mencapai target marketing sales Rp 2,2 triliun, kami akan segera meluncurkan proyek hasil joint operations dengan Keppel Land yang berlokasi di Jakarta Timur," beber Olivia.

Tahun ini Metropolitan Land membidik marketing sales lebih Rp 2,2 triliun, lebih tinggi ketimbang target tahun lalu yang senilai Rp 2 triliun.

Selain itu, MTLA meyakini pendapatan pada semester kedua tahun ini akan meningkat signifikan. Salah satu pemicunya adalah kontribusi pendapatan dari proyek Riviera mulai dibukukan pada semester kedua nanti.

Mengacu laporan keuangan pada kuartal pertama tahun ini, MTLA hanya mencatatkan pendapatan sebesar Rp 257,66 miliar. Jumlah tersebut lebih rendah 19,17% dibandingkan pendapatan di kuartal pertama tahun lalu Rp 318,76 miliar. Penjualan plot lahan di kuartal pertama tahun lalu memang tinggi, berbeda dengan penjualan tahun ini.

Analisa Saham ESSA, AKRA, LSIP dan ERAA

Analisa Saham ESSA, AKRA, LSIP dan ERAA


MNC Daily Scope Wave
25 Juni 2019

Pelemahan IHSG sebesar 0,4% yang terjadi kemarin (24/6), kami perkirakan merupakan bagian dari wave [c], yang berarti IHSG akan berpotensi terkoreksi kembali. Adapun level koreksi terdekat berada pada level 6,220-6,260 sekaligus menutup sisa gap.
Support: 6,200, 6,100
Resistance: 6,360, 6,400

ESSA - Buy on Weakness (308)
Posisi ESSA saat ini kami perkirakan berada pada awal wave (iii), dimana kami perkirakan penguatan ESSA masih dapat berlanjut dengan target terdekat berada pada level 330.
Buy on Weakness: 302-306
Target Price: 330, 350, 370
Stoploss: below 286

AKRA - Buy on Weakness (4,120)
Pelemahan yang terjadi pada AKRA kemarin, kami perkirakan merupakan bagian dari wave (ii) dari wave [iii]. Diperkirakan potensi pelemahan AKRA sudah mulai terbatas dan setelahnya AKRA akan berpotensi rebound untuk membentuk wave (iii).
Buy on Weakness: 4,070-4,110
Target Price: 4,700, 4,850, 5,100
Stoploss: below 3,920

LSIP - Buy on Weakness (1,145)
Kami perkirakan LSIP akan terkoreksi kembali untuk membentuk wave (ii), dengan arah koreksi minimal pada level 1,100 dan idealnya pada 1,055. Selanjutnya, setelah koreksi terkonfirmasi selesai, maka LSIP akan menguat kembali untuk membentuk wave (iii).
Buy on Weakness: 1,055-1,100
Target Price: 1,200, 1,230, 1,300
Stoploss: below 1,055

ERAA - Sell on Strength (1,615)
Penguatan agresif yang terjadi pada ERAA kemarin (24/6), kami perkirakan merupakan akhir dari wave (v) dari wave [iii]. Dimana ERAA berpotensi terkoreksi untuk membentuk wave [iv], dengan level koreksi terdekat berada pada 1,400.
Sell on Strength: 1,615-1,650

Analisa Saham BBNI, SOCI dan BKSL

Analisa Saham BBNI, SOCI dan BKSL


Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
June 25, 2019
(tasrul@miraeasset.co.id)

IHSG Daily, 6,288.47(-0.32%), Consolidation, trading range 6,265 – 6,325. Indikator MFI optimized. dan indicator RSI  optimized cenderung konsolidasi. Sementara pada periode weekly ,indikator MFI optimized  dan indikator RSI optimized  masih cenderung naik. Daily resistance terdekat di 6,342 dan support di 6,281. Cut loss level di 6,231.

BBNI Weekly,  8,875 (+0.28%), trading buy, trading range 8,625 – 9,150 . indikator MFI optimized dan indikator W%R optimized masih cenderung bergerak naik. Weekly support 8,775 dan resistance di 9,000. Cut loss level di 8,600.

SOCI Weekly , 238 (+0.85%), trading buy, trading range 230 – 250. indikator MFI optimized dan W%R optimized masih cenderung naik. Weekly support  di 230 sementara itu weekly resistance  di  250. Cut loss level di 218.

BKSL  Daily , 133(-2.31%), trading buy, trading range 131– 138. Indikator MFI optimized dan indkator W%R optimized masih cenderung naik. Perkiraan daily support di 131 dan daily resistance di 138. Cut loss level di 124.

Analisa Saham GIAA, GMFI dan SMGR

Analisa Saham GIAA, GMFI dan SMGR


1. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), Daily (Rp398) (RoE: 3,19%; PER: 9,82x; EPS: 45,00; PBV: 0,31x; Beta: 0,67). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah  bollinger  dan terlihat  tweezer bottom candlestick pattern  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp394-400, dengan target harga secara bertahap di level Rp408, 414, 442, 470 dan 498. Support: Rp386.

2. PT GM AeroAsia Tbk (GMFI), Daily (Rp208) (RoE: 3,67%; PER: 35,51x; EPS: 6,08; PBV: 1,34x; Beta: N/A). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah  bollinger  dan terlihat pola  bullish hammer candle  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp204-210, dengan target harga secara bertahap di level Rp218, 234, 250 dan 266. Support: Rp202.

3. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), Daily (Rp11.300) (RoE: 3,13%; PER: 62,17x; EPS: 181,76; PBV: 1,96x; Beta: 1,65). Sebelumnya terlihat pola  hammer candle  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp10.950-11.300, dengan target harga secara bertahap di level Rp11.500 dan 12.000. Support: Rp10.905 dan 10.700.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama

Analisa Saham AALI, AKRA dan CPIN

Analisa Saham AALI, AKRA dan CPIN


1. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Daily (Rp10.275) (RoE: 0,77%; PER: 131,41x; EPS: 78,76; PBV: 1,02x; Beta: 1,05). Pergerakan harga telah menguji garis MA-10 sehingga peluang terjadinya  rebound  terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp10.200-10.300, dengan target harga secara bertahap di level Rp10.400, 10.650, 10.900 dan 11.150. Support: Rp10.000.

2. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), Daily (Rp4.120) (RoE: 7,82%; PER: 20,99x; EPS: 201,56; PBV: 1,65x; Beta: 0,8). Pergerakan harga menguji garis MA-20 sehingga peluang terjadinya  rebound  terbuka lebar. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp4.100-4.130, dengan target harga secara bertahap di level Rp4.200, 4.310, 4.550 dan 4.800. Support: Rp4.060 dan 4.010.

3. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), Daily (Rp4.420) (RoE: 15,60%; PER: 22,23x; EPS: 277,71; PBV: 3,47x; Beta: 1,46). Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah  bollinger  dan terlihat pola  bullish pin bar  yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. "Akumulasi Beli" pada kisaran Rp4.280-4.430, dengan target harga secara bertahap di level Rp4.560, 4.670, 5.150, 5.625 dan 6.100. Support: Rp4.200.

PT Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama

Rekomendasi Saham Indosurya Sekuritas | 25 Juni 2019


Ipotnews - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pada perdagangan hari ini tetap memiliki peluang untuk melanjutkan tren kenaikan jangka menengah-panjang, setelah kemarin terkoreksi wajar sebesar 0,43 persen ke level 6.288.
"Saat ini perkembangan pergerakan IHSG masih menunjukkan potensi kenaikan cukup besar," kata analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Suryawijaya, di Jakarta, Selasa (25/6).
Dia menyebutkan, peluang kenaikan IHSG akan terdorong sentimen positif terkait  capital inflow  secara  year-to-date  yang mengalir ke bursa saham dalam negeri. " Capital inflow  ini menunjukkan minat investor untuk berinveatasi di pasar modal Indonesia masih cukup besar," ujar William.
Lebih lanjut William menyebutkan, saat ini IHSG memiliki support terdekat yang akan berupaya dipertahankan pada level 6.257, sedangkan target resisten terdekat yang berusaha ditembus ada di posisi 6.488. "Hari ini IHSG berpotensi menguat," ucapnya.
Di tengah peluang kenaikan pada laju IHSG hari ini, William merekomendasikan sembilan saham yang bisa dicermatipelaku pasar, yakni:
1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
2. PT Astra International Tbk (ASII)
3. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)
4. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
5. PT Wika Beton Tbk (WTON)
6. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)
7. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA)
8. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)
9. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Analisa Saham ERAA | Harga Sudah Tinggi Kah?

Analisa Saham ERAA | Harga Sudah Tinggi Kah?

(Baca juga: Pola Akumulasi Saham)

ERAA menguat tajam setelah bergerak naik menembus beberapa resisten dari level 1205 dan 1405. Walaupun baru keluar pemberitaan pemerintah akan memastikan memblokir penggunaan ponsel ilegal, secara teknikal saham ini sudah memenuhi sinyal beli dari sejak menembus resisten 1205. Terdapat beberapa target kenaikan ERAA yakni di 1685 dengan minor target 1550 yang telah tercapai. Jika momentum kenaikan dapat dipertahankan, saham ini berpeluang menguat menuju 1905.

Level 1905 akan menjadi level penting bagi pergerakan jangka panjang ERAA kedepannya sementara kenaikan saat ini hanya merupakan kenaikan jangka pendek. Jika level 1905 dapat nantinya dilampaui (dan bertahan tentunya), saham ini berpeluang bergerak bullish jangka panjang. Untuk saat ini, kenaikan masih dalam tahap jangka pendek.

Area 1550 – 1685 merupakan area yang berpotensi menjadi area profit taking jangka pendek sebelum saham ini menuju 1905.

Rekomendasi: Tidak untuk membeli bagi yang belum punya.
Jangan pernah menabrak harga tinggi. Bagi yang sudah memiliki dengan membeli, hold selama bertahan di atas support. Jika terjadi lonjakan harga dalam jangka pendek, pertimbangkan sell on strength dahulu.

Disclaimer ON

GaleriSaham

Rekomendasi Saham TemanTrader | 25 Juni 2019

(Baca juga: Pola Distribusi Saham)

Secara teknikal index masih berada dalam posisi uptrend dan kemarin sempat alami rejectuion dari area support EMA7 6286.

Dalam dua hari ke depan index berpotensi untuk tutup gap antara 6257 – 6269 untuk kembali lanjutkan uptrendnya.

Rentang konsolidasi IHSG masih akan terus terjadi hingga akhir pekan dengan memperhatikan 2 sentimen : hasil keputusan MK tanggal 27 Juni 2019 dan hasil dari KTT G-20 yang berlangsung di Osaka mulai hari Jumat ini. Market diperkirakan akan mulai menunjukkan arah yang pasti mulai hari Senin depan.

Tone dan Manner perdagangan hari ini  : Konsolidasi Masih Terus Terjadi Hingga Akhir Pekan, Index Aman Selama Diatas 6190
Potensi Pergerakan Index : 6229 - 6395

Beberapa saham yang perlu diperhatikan hari ini :

Swing Trade/Trend Following :  ABBA AUTO BDMN CASA JPFA LEAD LPCK MABA MAIN WIIM     (cross over MA20 kemarin)

Fast Trade  :  ERAA WIIM PTSN ABBA MPPA JSKY LPKR HOME MPMX APLN RAJA LEAD MDKA LPCK LUCK BTPS JPFA GJTL PSAB POOL DIVA          ( hanya berlaku hari ini)

TemanTrader

Analisa Saham BKSL | Peluang Setelah Konsolidasi

Analisa Saham BKSL | Peluang Setelah Konsolidasi


BKSL masih bergerak sideways dalam tren jangka menengah, dengan tertahan di area resistance kuat 143-147. Terdapat peluang bagi saham ini untuk mengakhiri konsolidasinya apabila dapat menembus keatas level 147. Indikator teknikal MACD masih bergerak naik diatas centerline, mengindikasikan bahwa saham ini masih cenderung bergerak positif.

Jika dapat melewati 147, maka BKSL berpotensi menuju target di 168, dengan minor target di 157. Apabila nantinya saham ini mampu mempertahankan momentumnya, maka BKSL berpeluang menuju target selanjutnya di level 179-180.

Rekomendasi: Buy. Stopliss jika kembali bergerak turun dan gagal bertahan di 119.

Sumber: StepTrader

Analisa Saham ANTM, APLN, BBTN dan TLKM

Analisa Saham ANTM, APLN, BBTN dan TLKM


ANTM mengakhiri koreksi dengan posisi harga masih di atas support MA5, dan mempertahankan breakout yang sudah terjadi sejak 19 Juni 2019.
Rekomendasi: buy 790 s/d 800, TP 825 s/d 900, stop loss <750 .="" p="">
APLN membentuk range baru pada 226 s/d 246. Uptrend masih jelas terbentuk dan saham ini akan meneruskan penguatan selama bertahan di atas level 226.
Rekomendasi: buy 226 s/d 238, TP 250 s/d 280, stop loss <210 .="" p="">
BBTN menutup perdagangan kemarin dengan posisi harga di atas support MA5, maka penguatan masih akan berlanjut.
Rekomendasi: buy 2670, TP 2700 s/d 2750, stop loss <2620 .="" p="">
TLKM membentuk pola hammer setelah menurun menutup gap pada 3980, dengan demikian secara teknikal saham ini sudah siap melanjutkan penguatannya kembali.
Rekomendasi: buy 3980 s/d 4000, TP 4200, stop loss <3930 .="" p="">
Panin Sekuritas

Analisa Saham BBRI, KLBF dan INDF

Analisa Saham BBRI, KLBF dan INDF


BBRI (Buy) : Target kenaikan harga pada level 4.430 kemudian 4.500 dengan support di level 4.290, cut loss jika break 4.210.

KLBF (Buy on Weakness) : Target harga beli pada level 1.440 dengan resist di level 1.470 dan 1.485.

INDF (Buy) : Target kenaikan harga pada level 7.125 kemudian 7.225 dengan support di level 7.025, cut loss jika break 6.975.

Full report bisa diakses di : ipot

Analisa Saham SCMA, SMRA dan ASII

Analisa Saham SCMA, SMRA dan ASII

(Baca juga: Belajar Saham)

1. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA, anggota indeks Kompas100 ini)

Muncul black body candle dengan MA5 dan MACD yang berpotensi death cross serta RSI melemah diikuti oleh penurunan volume perdagangan.

Rekomendasi: Buy on Weakness
Support: Rp 1.550
Resistance: Rp 1.675

Achmad Yaki, BCA Sekuritas

2. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA, anggota indeks Kompas100 ini)

Saham SMRA mengalami koreksi teknikal untuk menguji support MA20 sekaligus bullish channel sebelum kembali rebound dan membuat higher high level.

Rekomendasi: Buy on Weakness
Support: Rp 1.150
Resistance: Rp 1.250

Muhammad Wafi, Bahana Sekuritas

3. PT Astra International Tbk (ASII, anggota indeks Kompas100 ini)

Saham ASII ditutup membentuk tren gap down dengan indikasi adanya pelemahan harga yang disertai rendahnya volume perdagangan. Indikator stochastic berada di level 20 yang menandakan adanya jenuh beli.

Rekomendasi: Sell
Support: Rp 7.250
Resistance: Rp 7.425

Edo Ardiansyah, Erdikha Elit Sekuritas