WSBP | WASKITA BETON PRECAST TAWARKAN OBLIGASI Rp500 MILIAR


IQPlus, (13/06) - PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) melakukan periode penawaran awal Obligasi Berkelanjutan I Tahap I sebanyak-banyaknya sebesar Rp 500 miliar dengan tenor 3 tahun dan pembayaran bunga setiap triwulan (dengan basis 30/360). Masa penawaran awal (bookbuilding) pada 29 Mei.18 Juni 2019 dan masa penawaran umum pada 1.2 Juli 2019.

"Ini merupakan bagian dari program Obligasi Berkelanjutan I dengan nilai sebesar Rp2 triliun. Aksi korporasi ini sekaligus sebagai momen kembalinya WSBP memasuki pasar modal sejak IPO 2016 lalu," kata Direktur Keuangan WSBP Anton Y Nugroho, di Jakarta, Kamis.

Beberapa faktor pendorong dilakukannya penerbitan obligasi ialah pertama obligasi menjadi alternatif pendanaan lain dari perbankan yang selama ini digunakan oleh perusahaan. Kedua, sesuai dengan kebutuhan investasi jangka menengah-panjang perusahaan. Ketiga memiliki jatuh tempo yang lebih panjang.

Berdasarkan Fitch Rating, tercatat obligasi yang diterbitkan oleh WSBP mendapat peringkat BBB+ (Triple B Plus) atau termasuk ke dalam Investment Grade. Ini menunjukkan bahwa WSBP dianggap memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi utangnya, sehingga investor dapat berinvestasi dengan aman.

"Selain itu, jaminan obligasi WSBP berbentuk tanpa jaminan khusus (clean basis)," tuturnya.

Hasil penerbitan obligasi ini nantinya akan digunakan untuk modal kerja perusahaaan 40% untuk mendukung penyelesaian proyek-proyek eksisting dan 60% untuk investasi pembangunan pabrik salah satunya yang akan dibangun di daerah Kalimantan. Obligasi Berkelanjutan tahap selanjutnya yaitu Rp1,5 triliun akan dilakukan paling cepat pada triwulan III/2019.

Sebagai informasi, penerbitan obligasi berkelanjutan ini dapat terlaksana karena kerja sama dari para Penjamin Pelaksana Emisi Obligasi, antara lain PT Bahana Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT CGS-CIMB Sekuritss Indonesia, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas. (end/ba)

CLEO | SARIGUNA ALIHKAN 99,99% SAHAM TSN KE TANCORP GLOBAL ABADI


IQPlus, (13/06) - PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) mengalihkan sahamnya di PT Tanovel Sehat Nutrisi (TSN) kepada PT Tancorp Global Abadi (TGA).

Menurut keterangan perseroan Kamis, penandatanganan pengalihan sebanyak 14.000 saham atau 99,99% pada TSN dilakukan pada 11 Juni 2019 dengan TGA.

TGA merupakan pemegang saham perseroan dan memiliki kesamaan direktur dan komisaris dengan perseroan sehingga transaksi ini merupakan transaksi afiliasi. Adapun nilai transaksi jual beli sebesar Rp11 miliar atau 1,73% dari total ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2018.

Transaksi jual beli saham TSN merupakan strategi perseroan untuk lebih fokus pada bisnis utama perseroan yaitu memproduksi air minum dalam kemasan. (end)

BRIS - CTRA | BRISYARIAH DAN CIPUTRA RESIDENCE TANDA TANGANI MOU PEMBIAYAAN KPR

(Baca juga: Memahami Tujuan IPO)

IQPlus, (13/06) - Bank BRIsyariah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pembiayaan kredit perumahan rakyat (KPR) dengan Ciputra Residence.

"Penandatanganan nota kesepahaman ini semakin mempererat kerja sama antara BRIsyariah dengan Ciputra Group. Kesempatan bekerja sama dengan Ciputra Residence, yang sudah lama dikenal sebagai developer andal serta semakin banyaknya kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan rumah secara syariah, tentu merupakan hal yang positif bagi BRIsyariah," kata Direktur Bisnis Komersial BRIsyariah Kokok Alun Akbar atau disapa Alun dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis.

Alun menjelaskan bahwa penandatanganan nota kesepahaman dengan pengembang tersebut sebagai langkah BRIsyariah selanjutnya untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan konsumer.

.Pada tahun 2019 BRIsyariah akan semakin fokus menyalurkan pembiayaan konsumer, sesuai dengan visinya menjadi bank ritel modern terkemuka dengan ragam layanan finansial,. katanya.

Nota kesepahaman ditandatangani oleh Direktur Bisnis Komersial BRIsyariah Kokok Alun Akbar dan Direktur dan Kuasa PT. Ciputra Residence Mary Octo Sihombing.

BRIsyariah akan menyalurkan pembiayaan KPR bagi nasabah yang ingin memiliki hunian di bawah pengelolaan Ciputra Residence berupa rumah, rukan, ruko, apartemen ataupun tanah, diantaranya berlokasi di Citra Raya Cikupa Tangerang, Citra Maja Raya Lebak Banten, Citra Garden City Malang, serta Citra Sentul Raya Bogor.

Ciputra Residence merupakan salah satu pengembang perumahan yang paling terdiversifikasi dan berskala besar di Indonesia, yang terdiri dari empat developer dengan tujuh proyek.

Developer tersebut antara lain PT. Ciputra Residence, PT. Alamkarya Ciptaselaras, PT. Citra Ecopolis Raya dan PT. Citra Benua Persada.

Sebelumnya BRIsyariah memperluas ekspansi kerjasamanya dengan menggandeng Ciputra Group untuk menyalurkan pembiayaan KPR bagi nasabah yang ingin memiliki hunian di bawah pengelolaan pengembang properti tersebut.

Melalui perjanjian kerjasama ini BRIsyariah menyediakan pembiayaan bagi calon nasabah yang tertarik memiliki hunian berupa rumah, rukan, ruko, apartemen ataupun tanah di bawah kelolaan Ciputra Group yang ada di delapan provinsi di Indonesia. Di antaranya Citra 7, Citra 8 dan Citra Lake Suites di Jakarta, Citra Raya City di Mendalo-Jambi, CitraGrand City di Palembang Sumatera Selatan, CitraGarden BMW di Cilegon Banten serta CitraPlaza Nagoya di Batam Kepulauan Riau.(end)

KBLI | EMPAT KOMISARIS KMI WIRE AND CABLE MENGUNDURKAN DIRI.


IQPlus, (13/06) - Empat dari enam anggota Komisaris PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) telah mengundurkan diri dari jabatannya melalui surat pertanggal 11 dan 13 Juni 2019.

Menurut keterangan perseroan Jumat disebutkan, keempatnya yakni Syahrul Effendi yang menjabat sebagai Presiden Komisaris, Husni Ali - Komisaris, Gatot Subroto - Komisaris dan Bambang Husodo - Komisaris Independen.

Alasan dari pengunduran diri komisaris tersebut karena memiliki kesibukan lain.Adapun pengunduran diri keempat komisaris ini akan efektif terhitung sejak penutupan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan perseroan yang akan diselenggarakan pada 19 Juni 2019 mendatang. (end)

PCAR dan FIRE | Asabri Jual Saham


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transaksi penjualan saham kembali dilakukan PT Asabri (Persero). Kali ini lembaga keuangan yang mengelola dana pensiun milik TNI dan Polri itu melepas sebagian kepemilikannya atas saham PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) dan PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR).

Pada 12 Juni 2019, Asabri menjual 371,400 saham PCAR. Usai transaksi tersebut, kepemilikan Asabri di Prima Cakrawala berkurang dari 27,68% menjadi 27,65%.

Tidak diketahui pada harga berapa Asabri melepas saham PCAR. Yang jelas, pada tanggal itu ada dua transaksi tutup sendiri (crossing) saham PCAR. Pertama, sebanyak 5.714.000 saham melalui Wanteg Sekuritas. Nilai transaksinya sebesar Rp 20 miliar di harga Rp 3.500 per saham.

Kedua, crossing melalui broker Trust Sekuritas senilai Rp 483,8 juta. Transaksi ini melibatkan 142.300 saham di harga Rp 3.400 per saham.

Prima Cakrawala Abadi merupakan perusahaan pengolahan produk perikanan yang berbasis di Semarang. Emiten ini menjual daging rajungan terutama ditujukan ke pasar ekspor. Amerika Serikat (AS) menjadi pasar utama dengan porsi hampir 96% dari total penjualan perseroan.

Di saat bersamaan, berdasarkan laporan kepemilikan efek 5% atau lebih, pada 12 Juni 2019 Asabri melepas 1.003.300 saham FIRE. Sehari sebelumnya, atau 11 Juni 2019 Asabri masih mengempit 369.583.900 saham Alfa Energi. Dus, pasca transaksi tersebut kepemilikan Asabri di FIRE menyusut dari 25,21% menjadi 25,14%.

Belum ada informasi pada harga berapa transaksi itu dilakukan. Namun, pada 12 Juni 2019, saham FIRE ditutup di Rp 5.800 per saham, dengan harga rata-rata ada di Rp 5.432,9 per saham.

FIRE merupakan perusahaan perdagangan yang fokus pada komoditas batubara. Lewat dua anak usahanya, yakni PT Alfara Delta Persada dan PT Berkat Bara Jaya, FIRE memiliki konsesi tambang batubara di Kalimantan Timur.

Alfara Delta Persada punya izin usaha pertambangan (IUP) seluas 2.089 hektare (ha) di Kutai Kartanegara. Sementara Berkat Bara Jaya memiliki konsesi seluas 6.000 ha di Damai.

Alfa Energi juga masuk ke bisnis pembangkit listrik tenaga uap melalui anak usahanya, yakni PT Alfa Daya Energi.

Selain FIRE dan PCAR, Asabri memiliki portofolio di atas 5% di belasan saham lain.

Didongkrak MSCI

Sejatinya, kedua saham yang jadi portofolio Asabri ini tidak terlalu menarik untuk dilirik. Betul, di tengah tekanan harga batubara, pada kuartal I-2019 penjualan bersih FIRE melonjak 149,96% menjadi sekitar Rp 226,06 miliar. Cuma, beban pokok penjualan FIRE juga ikut melambung 143,72% menjadi Rp 195,61 miliar.

Penyebabnya antara lain kenaikan biaya bahan bakar, bongkar muat dan pembayaran royalti. Walhasil, laba bersih FIRE hanya naik 6,21% menjadi Rp 452,69 juta.

FIRE sempat diuntungkan keputusan Morgan Stanley Capital International memasukkannya ke dalam MSCI Global Small Cap Indexes sejak 28 Mei 2019. Selain FIRE, anggota baru indeks ini adalah PT Bank BTPN Tbk (BTPN), PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan  PT Tower Bersama Infrastucture Tbk (TBIG).

Sentimen tersebut mendongkrak pergerakan saham FIRE. Hingga 13 Mei 2019 saham FIRE masih bergerak mendatar dan berada di Rp 6.850 per saham. Hari berikutnya, informasi soal masuknya FIRE ke MSCI Global Small Cap Indexes menguar. Tak urung, saham FIRE mulai melambung hingga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah di Rp 11.775 per saham pada 16 Mei 2019.

Namun sentimen itu hanya berefek sesaat lantaran harga saham FIRE lantas anjlok. Pada penutupan perdagangan Kamis (13/06) saham FIRE terkoreksi 3,88% ke level Rp 5.575 per saham.

Meski harga sahamnnya kini lebih rendah, secara valuasi saham FIRE terbilang kemahalan. Berdasar data RTI, price to earning ratio (PER) emiten itu mencapai 5.575 kali. Sementara price to book value (PBV) ada di level 25,23 kali.

Pabrik berhenti beroperasi

Di sisi lain, kinerja PCAR juga tidak menggembirakan. Pada kuartal I-2019 penjualan bersihnya anjlok 43,34% menjadi sekitar Rp 24,40 miliar. Walhasil, PCAR mesti menanggung rugi bersih Rp 724,74 juta, sedikit lebih rendah ketimbang kuartal I-2018 tatkala emiten itu merugi bersih Rp 992,88 juta.

Kondisi ini tidak lepas dari terhentinya operasional dua pabrik milik perseroan. Pada 14 September 2018, manajemen PCAR mengumumkan penutupan sementara pabrik di Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah sejak Agustus 2018. Pasalnya, pemerintah kota Semarang tidak mengeluarkan Ijin Usaha Industri lantaran pabrik tersebut berada di lingkungan pemukiman.

Sementara itu, berdasar materi public expose yang acaranya akan digelar 13 Juni 2019 di Semarang, manajemen PCAR menyebut, kondisi serupa juga terjadi di pabrik Indramayu. Pada Desember 2018, proses produksi terhenti akibat tingginya harga bahan baku dan mutu bahan baku yang rendah.

Padahal, kedua pabrik ini berkontribusi besar terhadap kemampuan produksi perseroan. Pabrik Semarang punya kapasitas produksi maksimal 100 ton per bulan. Sementara pabrik di Indramayu punya kapasitas produksi 37,5 ton per bulan.

PCAR tercatat masih memiliki satu pabrik yang beroperasi di Makassar. Kapasitas produksinya maksimal 37,5 ton per bulan.

Kinerja keuangan yang kurang baik membuat valuasi harga saham PCAR terbilang mahal. Data RTI menunjukkan, di harga penutupan Kamis (13/06), yakni di Rp 3.420 per saham, PER PCAR minus 1.710 kali. Sedangkan PBV emiten itu mencapai 45,60 kali.

KIJA-MDLN-DMAS-BEST | Emiten Pengelola Kawasan Industri Cetak Kinerja Kinclong


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja sektor properti saat ini memang masih cenderung tertekan lantaran konsumen masih wait and see. Meski begitu, kinerja perusahaan properti pengelola kawasan industri masih tetap kinclong.

Fitch Ratings, melalui laporan Indonesia Property Watch, menyebut, perusahaan properti pengelola kawasan industri bisa mencetak kinerja lebih baik ketimbang perusahaan properti pengembang residensial. Hal ini didorong kondisi politik yang kondusif.

Apalagi, pemerintah getol menggarap proyek infrastruktur. Kondisi tersebut mendorong permintaan lahan kawasan industri lebih banyak.

Fitch mencatat, penjualan empat emiten pengelola kawasan industri terbesar di Indonesia secara agregat tumbuh tiga kali lipat. Empat emiten terbesar itu adalah PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), PT Modernland Realty Tbk (MDLN), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST).

Fitch antara lain mencatat penjualan lahan industri KIJA tumbuh dua kali lipat year on year di akhir kuartal I tahun ini, mencapai Rp 200 miliar. Fitch memprediksi, penjualan lahan industri Jababeka bisa mencapai Rp 1 triliun pada tahun ini.

Sementara penjualan residential KIJA tumbuh lebih lambat. Penyebabnya, peluncuran produk-produk baru perusahaan ini tertunda hingga semester II tahun ini.

Analis MNC Sekuritas Muhammad Rudy mengatakan, arus dana asing di sektor riil ikut mendorong kinerja emiten penyedia kawasan industri. Masuknya perusahaan-perusahaan baru, terutama perusahaan asing, seperti Alibaba serta beberapa produsen otomotif seperti Wuling dan DFSK, tentu meningkatkan permintaan lahan untuk pembangunan pabrik, kata Rudy, kemarin. Sekadar informasi, Alibaba dikabarkan akan membeli lahan industri di DMAS sampai 40 hektare.

Di luar daftar yang disebutkan Fitch, Rudy juga merekomendasikan pengembang kawasan industri lain, yaitu PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), karena prospeknya yang menarik. SSIA pada tahun ini sedang fokus mengembangkan proyek Subang City of Industry.

Pengembangan kawasan industri menjadi peluang ketika emiten-emiten properti yang mengedepankan produk residensial masih harus berjibaku dengan sentimen suku bunga Bank Indonesia.

Meski begitu, dari segi saham, hanya beberapa emiten saja yang harganya merefleksikan kinerjanya.Hanya beberapa saham yang harganya sudah mengalami peningkatan sepanjang tahun ini, kata Rudy.

Saham DMAS mencatatkan peningkatan paling tinggi. Sejak awal tahun, harga saham DMAS naik 68,55%. Sementara harga saham SSIA naik 44% dan saham BEST menguat sekitar 43,27% di periode itu.

Sementara itu, Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas merekomendasikan saham-saham ini dibeli. Menurut Sukarno, secara tren, saham-saham emiten kawasan industri berpotensi melanjutkan penguatan jangka menengah.

BBTN | BTN Merilis Obligasi Rp 3,14 Triliun


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) akan menerbitkan obligasi senilai Rp 3,14 triliun akhir bulan ini. Dana yang diperoleh dari penjualan surat utang itu akan digunakan bank dengan kode saham BBTN ini untuk memperkuat modal untuk mendukung ekspansi kredit.

Obligasi yang diterbitkan merupakan tahap dua dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III. "Penerbitan obligasi ini untuk memenuhi pendanaan bersifat jangka panjang dalam rangka ekspansi kredit," kata Direktur Resiko, Strategi dan Kepatuhan BTN Mahelan Prabantarikso ke KONTAN, Kamis (12/6).

BTN merilis obligasi itu dalam tiga seri pada 28 Juni. Seri A akan diterbitkan Rp 1,5 triliun dengan tingkat suku bunga tetap 7,75%. Seri ini memiliki jangka waktu satu tahun dan akan jatuh tempo 8 Juli 2020.

Sementara dalam seri B dengan jangka waktu tiga tahun diterbitkan sebesar Rp 803 miliar dengan kupon 8,75%. Adapun seri C berjangka lima tahun dirilis sebanyak Rp 835 miliar dengan tingkat suku bunga tetap 9%.

BTN juga mendapat pinjaman subordinasi dalam waktu dekat senilai Rp 3 triliun. Mahelan menuturkan, pendanaan itu bagian dari strategi perseroan untuk menjaga rasio permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) menjelang pemberlakuan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 71.

Pemberlakuan PSAK Nomor 71, akan meningkatkan coverage ratio BTN di tahun ini. BTN memperkirakan rasio pencadangan sampai akhir tahun ada di kisaran 75%, meningkat dari 45,07% pada periode kuartal I 2019.

Meski pencadangan meningkat, CAR BTN tidak akan terganggu dengan rencana penerbitan pinjaman subordinasi tersebut. Hingga akhir tahun, BTN akan menjaga CAR di kisaran 18%.

BBNI dan BBCA | Kredit Sektor Konsumer Diprediksi Naik di Kuartal II


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Momen Ramadan dan Lebaran ikut mendorong pertumbuhan kredit konsumer, terutama kartu kredit, di sejumlah bank. Karena itu, kredit konsumsi secara keseluruhan diprediksi akan mengalami peningkatan pertumbuhan di kuartal II.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) optimistis bisa mencatatkan pertumbuhan kredit konsumer di kisaran 10% untuk triwulan kedua. Proyeksi tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan di kuartal I 2019 yang hanya 8,5%.

General Manager Product Management Division BNI Donny Bima Herjuno mengungkapkan, bulan puasa dan Lebaran memang tidak signifikan dalam mendongkrak semua bisnis konsumsi. Namun, dampaknya ke kartu kredit cukup besar. Itu terlihat dari volume sales yang mengalami kenaikan 16%.

Namun bulan puasa dan lebaran tidak berpengaruh ke penyaluran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Tanpa Agunan (BNI Fleksi) . "Walau begitu, kredit konsumsi diproyeksikan tetap tumbuh sekitar 10% yoy pada kuartal II," kata Donny pada KONTAN, Kamis (13/6).

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga merasakan pertumbuhan kredit, termasuk kredit konsumer, lebih kencang memasuki kuartal kedua hingga memasuki libur lebaran. BCA memperkirakan penyaluran kredit di triwulan kedua tumbuh sekitar 13%. Salah satu penopang pertumbuhan kredit itu adalah kredit konsumer.

Ancaman resesi

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, konsumer menjadi pendorong penyaluran kredit karena banyak orang melakukan persiapan persediaan menyambut lebaran. "Kuartal II pinjaman bagus, bisa tumbuh 13% yoy ditopang oleh konsumer dan modal kerja. Diharapkan ini terus berlanjut." ujarnya.

PT Bank Bukopin Tbk memperkirakan kredit konsumer, terutama kredit pensiun, akan tumbuh bagus di kuartal II terutama. Hingga akhir tahun, bank ini menargetkan seluruh lini kredit konsumsi tumbuh sekitar 10%.

Rivan A Purwantono, Direktur Konsumer Bank Bukopin mengatakan, terus berupaya untuk bisa mencapai target tersebut. Namun, penyaluran KPR di triwulan II, menurutnya, belum sesuai target. Penyebabnya, bank itu mulai mengubah fokus penyaluran KPR dari produk secondary ke proyek primary atau rumah baru. ""Namun kami yakin bisa mengejar target di akhir tahun." ujar dia.

Sementara pertumbuhan kredit konsumer PT Bank OCBC NISP Tbk belum bisa tumbuh sesuai dengan harapan perseroan. Bahkan, momentum lebaran juga tidak mampu mendongkrak pertumbuhannya.

Tahun ini, OCBC memang tidak terlalu agresif dalam membidik penyaluran kredit konsumer. "Per Mei rasanya kredit konsumer masih belum tumbuh. Target akhir tahun kami untuk kredit konsumsi relatif single digit." ujar Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit konsumer per April 2019 tercatat tumbuh 9% yoy menjadi Rp 1.544,1 triliun. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan bulan-bulan sebelumnya, kenaikan itu bergerak stabil.

Pertumbuhan kredit kepemilikan rumah (KPR) meningkat menjadi 13,8% yoy dari 13,2% di bulan sebelumnya. Namun pertumbuhan itu tidak mampu mengakselerasikan perlambatan pertumbuhan yang terjadi pada kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit multiguna.

Analisa Saham WTON, ACES dan ESSA

Analisa Saham WTON, ACES dan ESSA


Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
June 14, 2019
(tasrul@miraeasset.co.id)

IHSG Daily, 6,273(-0.05%), test resistance at 6,298. Trading  range 6,238 – 6,298. indikator MFI optimized akan menguji support trendline dan indicator RSI  optimized naik terbatas. Sementara pada periode weekly ,indikator MFI optimized  dan indikator RSI optimized  masih cenerung naik. Daily resistance terdekat di 6,298 dan support di 6,238. Cut loss level di 6,225.

WTON Weekly  565(+9.71%), trading buy, trading range 530 – 585 . indikator MFI optimized dan W%R optimized masih cenderung naik. Weekly support 530 dan resistance di 585. Cut loss level di 525.

ACES Weekly, 1,800 (+3.75%), trading buy, trading range 1,730 – 1,880. indikator MFI optimized dan W%R optimized masih cenderung naik. Weekly support  di 1,730 sementara itu weekly resistance  di 1,880. Cut loss level di 1,670.

ESSA  Daily , 328 (+7.48%), trading buy, trading range 306 – 340. Indikator MFI optimized dan indkator W%R optimized masih cenderung naik Perkiraan weekly support di 306 dan weekly resistance di 340. Cut loss level di 300.

Analisa Saham TINS | Saatnya Naik Kah?

Analisa Saham TINS | Saatnya Naik Kah?


Saham TINS masih bergerak turun di dalam down trend channelnya. Apabila TINS mampu menembus keatas resistance channelnya di level 1240, maka terbuka potensi bagi saham ini untuk berbalik arah dan mulai bergerak menguat. Target penguatan terdekat di 1400, dengan target selanjutnya di level 1525. Indikator teknikal MACD yang mulai bergerak naik, mengindikasikan bahwa saham ini sedang bergerak positif.

Rekomendasi: Buy jika break out dan bertahan diatas level 1240. Batasi resiko apabila kembali bergerak turun dan gagal bertahan di 1150.

Source:
StepTrader

Rekomendasi Saham TemanTrader | 14 Juni 2019


Penurunan suku bunga dapat memberi dampak positif bagi sektor PROPERTY dan INFRASTRUCTURE yang terkait langsung dengan kebijakan ini. Rendahnya suku bunga dapat mempermudah akses pendanaan pembelian property dan mengurangi beban biaya bunga hutang dari perusahaan yang perlu pembiayaan besar untuk pembangunan infrastruktur. Makanya kemarin dua sektor tersebut kemarin naik +2.08% dan +0.63%

Hari ini index masih tetap terkonsolidasi di area 6250-6334 dan masih dalam kondisi uptrend jangka pendek.  Sehingga tidak perlu terlalu khawatir dengan naik turunnya index selama masih dalam rentang tersebut sampai level 6209-6221

Tone dan Manner perdagangan hari ini  : Kemungkinan Penurunan Suku Bunga Dorong Sektor PROPERTY dan INFRASTRUCTURE Menguat
Potensi Pergerakan Index : 6204 - 6345

Beberapa saham yang perlu diperhatikan hari ini :

Swing Trade/Trend Following :  BJBR CENT LINK MAMI MCAS PGAS RAJA SIMA SWAT      (cross over MA20 kemarin)

Fast Trade  : SIMA SMBR CSIS CENT BEST NIKL AKRA BJBR BTPS ESSA BEEF SMRA DOID PTPP IIKP INKP MDIA BKSL MAMI TKIM RAJA SSIA LEAD ZINC BSDE CARS      ( hanya berlaku hari ini)

Source
TemanTrader

Analisa Saham ADRO, EXCL dan JPFA

Analisa Saham ADRO, EXCL dan JPFA


1. PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

Terlihat pola bullish inside bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham.
Hal ini didukung oleh indikator MACD yang sudah membentuk pola golden cross di area negatif, sementara indikator RSI menunjukkan sinyal positif.

Rekomendasi: Akumulasi beli
Support: Rp 1.250
Resistance: Rp 1.300

Muhammad Nafan Aji, Binaartha Sekuritas

2. PT XL Axiata Tbk (EXCL)

Muncul hammer candle dengan volume perdagangan meningkat namun MA3 dan stochastic death cross dan RSI melemah.

Rekomendasi: Sell on strength
Support: Rp 2.790
Resistance: Rp 2.980

Achmad Yaki, BCA Sekuritas

3. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)

Ada pada tren minor dalam uptrend. Harga ditutup bearish candle dan sudah berada di area everbought serta berhasil ditutup di atas moving average periode 34 hari.

Disamping itu indikator stochastic sudah overbought dan berpotensi dead cross dengan volume turun. Harga berpotensi turun ke level 1530 dulu antisipasi taking profit.

Rekomendasi: Sell
Support: Rp 1.530
Resistance: Rp 1.655

Oso Sekuritas, Sukarno Alatas

Analisa Saham MAIN, PGAS dan PTBA

Analisa Saham MAIN, PGAS dan PTBA


*MAIN, Daily (1135) (RoE: 17.77%; EPS: 166.08; PER: 6.92x; PBV: 1.25x; Beta: 1.52):* Terlihat pola bearish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi koreksi wajar pada pergerakan harga saham. “Partial Sell” pada area level 1135 – 1165, dengan target harga secara bertahap di level 1120 dan 1080. Resistance: 1180.

*PGAS, Daily (1985) (RoE: 3.47%; PER: 13.06x; EPS: 153.12; PBV: 1.02x; Beta: 1.9):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area level 1980 – 1990, dengan target harga secara bertahap di 2090 dan 2120. Support: 1980 & 1950.

*PTBA, Daily (2840) (RoE: 24.71%; PER: 7.23x; EPS: 395.56; PBV: 1.79x; Beta: 1.93):* Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish doji star candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area level 2830 – 2850, dengan target harga secara bertahap di level 2940, 2980 dan 3090. Support: 2800.

Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta

Analisa Saham ADRO, AUTO dan ITMG

Analisa Saham ADRO, AUTO dan ITMG


*ADRO, Daily (1275) (RoE: 10.54%; PER: 6.03x; EPS: 211.32; PBV: 0.64x; Beta: 1.66):* Terlihat pola bullish inside bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. “Accumulative Buy” pada level 1260 – 1280, dengan target harga secara bertahap di level 1300 dan 1320. Support: 1250 & 1240.

*AUTO, Daily (1455) (RoE: 5.53%; PER: 10.96x; EPS: 132.80; PBV: 0.61x; Beta: 1.24):* Terlihat beberapa pola hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. “Akumulasi Beli” pada area level 1440 – 1460, dengan target harga secara bertahap di level 1485, 1530, 1580, 1705 dan 1830 Support: 1430 & 1390.

*ITMG, Daily (17000) (RoE: 18.01%; PER: 8.27x; EPS: 2056.56; PBV: 1.53x; Beta: 1.59):* Terlihat pola bullish doji star candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. “Akumulasi Beli” pada area level 16725 – 17025, dengan target harga secara bertahap di level 17950 dan 18625. Support: 16300.

Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta

Analisa Saham PTBA, JPFA, BSDE dan SMGR

Analisa Saham PTBA, JPFA, BSDE dan SMGR


MNC Daily Scope Wave
14 Juni 2019

IHSG ditutup melemah tipis 0,05% ke level 6,273. Selama belum mampu menembus level 6,334, maka IHSG kami perkirakan masih berada dalam wave iv dengan target koreksi berada pada level 6,210-6,150.
Support: 6,150, 6,220
Resistance: 6,330, 6,450

PTBA - Buy on Weakness (2,840)
Posisi PTBA saat ini kami perkirakan sedang membentuk wave 4, dengan target penguatan terdekat pada level 3,050.
Buy on Weakness: 2,800-2,840
Target Price: 2,980, 3,050, 3,270
Stoploss: below 2,700

JPFA - Buy on Weakness (1,605)
Saat ini kami perkirakan JPFA sudah terkonfirmasi menyelesaikan wave (iii), dan dalam jangka pendek JPFA akan terkoreksi membentuk wave (iv).
Buy on Weakness: 1,460-1,530
Target Price: 1,650, 1,700, 1,750
Stoploss: below 1,405

BSDE - Buy on Weakness (1,400)
BSDE kami perkirakan sudah menyelesaikan wave (iv), dan saat ini BSDE berpotensi menguat kembali untuk membentuk wave (v).
Buy on Weakness: 1,365-1,395
Target Price: 1,435, 1,470, 1,500
Stoploss: below 1,300

SMGR - Sell on Strength (11,475)
SMGR saat ini berpotensi terkoreksi untuk membentuk wave C, adapun target koreksi terdekat berada pada level 10,750.
Sell on Strength: 11,450-11,800

Disclaimer On

Analisa Saham SCMA, JSMR dan INTP

Analisa Saham SCMA, JSMR dan INTP


SCMA (Buy) : Target kenaikan harga pada level 1.730 kemudian 1.760 dengan support di level 1.655, cut loss jika break 1.630.

JSMR (Buy) : Target kenaikan harga pada level 5.950 kemudian 6.050 dengan support di level 5.725, cut loss jika break 5.600

INTP (Buy) : Target kenaikan harga pada level 20.900 kemudian 21.150 dengan support di level 20.400, cut loss jika break 20.150.

Full report bisa diakses di : ipot