Rekomendasi Saham BRPT, META dan UNVR oleh Indo Premier Sekuritas | 18 Oktober 2023
Rekomendasi Saham KAYU dan Saham META oleh HP Sekuritas | 5 Oktober 2023
HP Sekuritas
Saham KAYU
Saham META
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) Raih Pendapatan Rp411,16 Miliar Hingga Maret 2023
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) meraih pendapatan Rp411,16 miliar hingga periode 31 Maret 2023 meningkat dari pendapatan Rp193,54 miliar di periode sama tahun sebelumnya.
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) Catat Pendapatan Sebesar Rp1,4 Triliun Hingga Desember 2022
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) mencatat pendapatan sebesar Rp1,40 triliun hingga periode 31 Desember 2022 naik tajam dari pendapatan Rp844,79 miliar di periode sama tahun sebelumnya.
Raup Rp55 Miliar, Anak Usaha META Jual Seluruh Sahamnya di Tirta Bangun Nusantara
PT Potum Mundi Infranusantara (POTUM), anak usaha PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) melepas seluruh kepemilikan sahamnya di PT Tirta Bangun Nusantara (TBN) kepada PT Bahtera Hijau Mandiri (BHM), sebanyak 26.957.547 saham. TBN melakukan kegiatan usaha di bidang pengolahan air dan air limbah.
Nusantara Infrastructure (META) Caplok 40 Persen Jalanlayang MBZ Milik Jasa Marga
Anak Usaha PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) di sektor jalan tol, PT Margautama Nusantara (MUN) secara resmi telah membeli 40% kepemilikan saham PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (PT JJC), anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk yang mengelola Jalan Layang Mohamed Bin Zayed (MBZ).
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) Catat Pendapatan Rp614,65 Miliar Hingga September 2022
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) mencatat pendapatan Rp614,65 miliar hingga periode 30 September 2022 turun dari pendapatan Rp633,15 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.
[META] PT Nusantara Infrastructure Tbk Dukung Program Transaksi Tol Nirsentuh
Emiten PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) menyatakan pihaknya mendukung penuh program pemerintah dalam proyek transaksi tol nirsentuh.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) resmi menjalankan sistem transaksi tol non tunai nirsentuh berbasis Multilane Free Flow (MLFF) berteknologi GNSS (Global Navigation Satelite System) dari Roatex, Ltd, Hungaria.
Implementasi teknologi MLFF pada 40 ruas tol tersebut ditargetkan akan rampung pada pertengahan 2022.
Sebagai emiten operator jalan tol, META sendiri menyatakan mendukung penerapan teknologi tersebut dan menunggu penjelasan lebih lanjut mengenai model bisnis yang ada.
"Kami mendukung penuh program pemerintah dalam hal penerapan MLFF yang diinisiasi oleh Roatex ini," ujar Deden Rochmawaty, GM Corporate Affairs saat dihubungi oleh Kontan, Senin (22/3).
Mengenai kemungkinan kerjasama dengan Roatex dan BPJT, META masih belum memberikan pernyataan lebih lanjut. Pihaknya masih menunggu penjelasan lebih lanjut.
Hal ini juga berlaku untuk penentuan bentuk kerjasama hingga penanggungjawabnya nanti. "Mengenai kemungkinan kerjasama, kami masih menunggu penjelasan dari BPJT mengenai business model antara BUJT (Badan Usaha Jalan Tol)dengan Roatex. Jadi masih menunggu arahan terkait hasil tersebut," sambungnya.
Dalam pemberitaan sebelumnya, Kepala BPJT,Danang Parikesit meyakinkan bahwa BUJT tentu akan mendukung penggunaan sistem transaksi tersebut.
"Pada prinsipnya, BUJT akan mendukung karena ini sebagai salah satu upaya peningkatan pelayanan di jalan tol,” ujarnya.
Sumber: KONTAN
Rekomendasi Saham GJTL, META, POLL dan TINS oleh Panin Sekuritas | 17 Maret 2021
Panin Sekuritas Daily
17 Maret 2021
by William Hartanto
PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
Resistance Breakout: Mengalami penguatan menembus resistance pada Rp 890 (pola bullish flag), melanjutkan tren menguat.
Speculative buy and hold Rp 890, dengan target harga Rp 1.000-Rp 12.00, stop loss
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META)
Rising Volume: Mengalami peningkatan volume transaksi, pergerakan sideways potensi menguat.
Buy Rp 157–Rp 158, target harga di Rp 180, stop loss support: Rp 148; Rp 143 dan resistance: Rp 160; Rp 180.
PT Pollux Properti Indonesia Tbk (POLL)
Chart Pattern: Mengkonfirmasi pola descending triangle dan melanjutkan penguatan, resistance yang dituju pada Rp 5.900.
Sell on strength. Support di Rp 5.575; Rp 4.900, sementara resistance: Rp 5.900; Rp 6.825.
PT Timah Tbk (TINS)
Testing Support: Menguji support pada Rp 1.575. Jika ditembus akan menjadi pola double top yang mana merupakan pola bearish.
Wait and see. Support berada di Rp 1.575 dan resistance Rp 2.040.
[META] PT Nusantara Infrastructure Tbk Siapkan Rp 128 miliar untuk SPM Jalan Tol
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) menyiapkan dana lebih dari Rp 128 miliar untuk pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM) jalan tol.
GM Corporate Affairs Nusantara Infrastructure Deden Rochmawaty menyebutkan, setiap tahun, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) akan mengalokasikan anggaran bagi pemenuhan SPM. Tentunya, sesuai dengan kondisi masing-masing ruas/panjang jalannya berdasarkan depresiasi konstruksi jalan yang terjadi akibat jumlah dan beban lalu lintas, cuaca, serta kemungkinan lainnya.
"Untuk Jalan Tol Seksi Empat (Makassar) anggarannya Rp 110 miliar lebih dan untuk MMN (Makassar) lebih dari Rp 18 miliar," ujarnya kepada kontan.co.id, Jumat (15/1).
SPM merupakan ukuran standar pelayanan yg harus dipenuhi oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sesuai Peraturan Menteri PUPR. Deden berujar, pemenuhan SPM sendiri dilakukan penilaian setiap bulan dan per September (per enam buulan) yang dievaluasi secara menyeluruh.
"100% SPM telah terpenuhi dari seluruh parameteryang dipersyaratkan," kata Deden.
Beriringan dengan pemenuhan SPM, tahun ini META akan memberlakukan penyesuaian tarif. Adapun penyesuaian tarif terjadi di ruas Jalan Tol Seksi Empat (JTSE-Makassar) dan Tol BSD.
Deden menyebutkan, rencananya, penyesuaian tarif untuk ruas JTSE akan berlaku di akhir tahun 2021 dan rebase tarif atas beroperasinya Jalan Tol Layang Pettarani, Makassar. "Sementara untuk BSD, berdasarkan jadwal penyesuaian tarif juga dilakukan di tahun 2021. Namun, seluruh keputusan kami sepenuhnya mengikuti arahan Kementerian PUPR & BPJT," ujarnya.
Terkait efek penyesuaian tarif terhadap kinerja, Deden enggan merincikannya. Yang jelas, menurutnya, penyesuaian tarif ini sesuai PPJT dalam rangka pengembalian investasi yang telah ditanamkan oleh investor agar proses pengembalian investasi tersebut tidak tergerus oleh nilai inflasi.
"Meski demikian tidak hanya sekedar nilai inflasi saja yang dilihat, pemenuhan SPM juga menjadi salah satu parameter terpenting tas dpt dilakukannya penyesuaian tarif," imbuh Deden.
Sumber: KONTAN
Analisa Saham META | 11 Januari 2021
Analisa Saham META
Saham META pada tanggal 8 Januari 2021 ditutup melemah pada harga 220, turun -0,9%. Hal ini disertai dengan penurunan volume, yaitu 67% dari hari sebelumnya. Berdasarkan indikator Stochastics Slow, saham ini berada pada area pertengahan bawah dengan kecenderungan bearish. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) terlihat berada di atas garis 0 dengan kecenderungan bearish.
Status Saham Saat Ini:
Hold
Beli jika di atas 238
Jika naik di atas 254 maka berpeluang ke 300
Jika turun di bawah 208 maka berpeluang ke 192
Jangan lupa atur stoploss order untuk manajemen risiko.
Disclaimer ON
Untuk alternatif edukasi dan update saham pilihan,
Silahkan follow Channel Youtube : https://www.youtube.com/c/sahamonlineid
Silahkan follow Channel Telegram : https://t.me/SahamOnlineID
PT Nusantara Infrastructure Tbk Apresiasi Pembentukan Sovereign Wealth Fund
PT Nusantara Infrastructure Tbk. mengapresiasi pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebagai implementasi UU Cipta Kerja bakal memberikan katalis positif di industri pengelolaan jalan tol.
Presiden Direktur Nusantara Infrastructure M. Ramdani Basri menyebut SWF sebagai lembaga investasi bakal dapat membantu kebutuhan permodalan jumbo perusahaan infrastruktur jalan tol.
“Dengan dibuatnya lembaga [SWF] itu sangat membantu. Kami bisa dapat bunga yang lebih murah, tenor lebih panjang, sehingga bisa lebih panjang napasnya,” kata Ramdani kepada Bisnis, Selasa (24/11/2020).
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengklaim Undang Undang Cipta Kerja akan meningkatkan investasi pemerintah melalui pembentukan lembaga pengelola investasi atau sovereign wealth fund.
“Pemerintah melalui pembentukan SWF untuk percepatan pembangunan berbagai proyek strategis seperti jalan tol, bandara, pelabuhan, layanan kesehatan, dan juga sektor potensi seperti pariwisata serta teknologi,” jelasnya dalam seminar secara virtual, Selasa (24/11/2020).
Sebagai catatan, pembentukan sovereign wealth fund (SWF) termuat dalam Undang Undang Cipta Kerja. Badan hukum itu dibentuk untuk menjalankan fungsi penanaman modal pemerintah pusat.
Pemerintah menjelaskan bahwa modal awal SWF nantinya terdiri atas kombinasi aset negara atau BUMN. Suntikan ekuitas dalam bentuk dana tunai nilainya bisa mencapai Rp30 triliun yang bersumber dari barang milik negara (BMN), saham pada BUMN atau perusahaan, dan piutang negara.
Lewat peraturan pemerintah (PP), akan diatur mengenai SWF termasuk penyertaan modal yang bisa mencapai Rp75 triliun. Dengan ekuitas itu, pemerintah mengklaim bisa menarik dana investasi hingga mencapai tiga kali lipat atau Rp225 triliun.
Sumber: BISNIS
Saham META | Nusantara Infrastructure bentuk konsorsium bangun jalan tol
Melansir keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (5/2), konsorsium ini telah memperoleh izin prakarsa pada tanggal 21 Januari 2020 untuk mengusulkan pembangunan jalan tol Ulujami-Jati Asih sepanjang 22 km. Adapun nilai investasi dari pembangunan jalan tol ini diperkirakan mencapai Rp 21,5 triliun.
Pembangunan jalan tol ini merupakan jalan tol strategis yang akan menghubungkan wilayah Jati Asih-Taman Mini Indonesia Indah (TMII)–Pondok Indah–Ulujami dan diusulkan untuk masuk ke dalam jaringan Jakarta Outring Road (JORR) III.
“Pembangunan ini juga bertujuan mengurangi beban lalu lintas di sepanjang JORR serta memaksimalkan kapasitas lalu lintas di sepanjang koridor JORR jika diintegrasikan dengan jalan tol Jakarta-Cikampek II (Jalan Tol Layang) dan/atau jalan tol Jakarta-Cikampek II (selatan),” tulis Dahlia Evawani, Sekretaris Perusahaan META, Rabu (5/2).
Dahlia melanjutkan, jika proyek ini rampung maka diharapkan ada kenaikan yang signifikan pada pendapatan META. Selain itu, nilai aset Nusantara Infrastructure juga diperkirakan naik lima kali lipat dari saat ini.
Melansir laporan keuangan META, per kuartal III-2019 emiten yang bergerak di bidang infrastruktur ini memiliki aset Rp 4,88 triliun. Sementara itu, META membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,05 triliun atau melesat 64% secara tahunan.
Saham META | PT Nusantara Infrastructure Tbk. Bidik 3 Ruas Tol
PT Nusantara Infrastructure Tbk. berencana mengajukan prakarsa 2-3 ruas tol untuk menambah portfolio bisnis perseroan di lini infrastruktur jalan tol.
Direktur Utama Nusantara Infrastructure Muhammad Ramdani Basri mengungkapkan pihaknya masih memiliki rencana mengajukan prakarsa ruas tol setelah Cikunir-Ulujami. Saat ini, perseroan tengah menyiapkan studi untuk sejumlah ruas.
“Masih ada 2-3 ruas lagi yang akan diprakarsa, tidak berhenti disitu, kemudian kami akan mengembangkan lagi,” ujarnya kepada Bisnis, di Nusa Dua, Bali, baru-baru ini.
Ramdani menjelaskan perseroan akan mengempit kepemilikan 85% di ruas tol Cikunir-Ulujami. Sisanya, akan dibagi dengan anggota konsorsium lainnya yakni PT Adhi Karya (Persero) Tbk. dan PT Acset Indonusa Tbk.
Seperti diketahui, ruas tol Cikunir-Ulujami memiliki panjang 28,86 kilometer (km). Nilai investasi untuk pembangunan proyek tersebut mencapai Rp22,5 triliun.
Pekan lalu, emiten berkode saham META itu telah meneken nota kesepahaman dengan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF). Perusahaan pelat merah di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu akan memberikan dukungan pembiayaan prakarsa pengusahaan jalan tol Cikunir-Ulujami.
Ramdani melanjutkan IIF akan mendukung pendanaan untuk pembangunan ruas tol Cikunir-Ulujami. Bentuk skema yang dapat diberikan dapat berupa ekuitas, refinancing, dan penjaminan.
“Kami juga mengajak IFF untuk memegang saham di atas,” tuturnya.
Saat ini, perseroan ingin menjadi inisiator untuk mengambil proyek infrastruktur. Hal itu sejalan dengan keseriusan yang telah ditunjukkan oleh pemerintah di bidang ini.
Sebagai alternatif pendanaan, sambung Ramdani, META tidak hanya berpaku kepada skema pembiayaan konvensional. Artinya, perseroan akan mengembangkan skema-skema yang dapat menjadi alternatif.
Di bisnis jalan tol misalnya, META akan melepas sebagian kepemilikan saham di ruas tol tersebut setelah nilai proyek tersebut naik.
“Misalnya begini, saya sudah punya jalan tol, tidak saya keep tetapi saya lepas 25%. Kepemilikan tetap mayoritas tetapi setelah nilainya menjadi 15 kali besar kita undang asing untuk masuk kemudian dapat uang untuk mengembangkan lagi,” terangnya.
META juga mengejar pengambangan bisnis power plant sampai dengan 300 megawatt. Baru-baru ini, perseroan telah menyelesaikan akuisisi 80% kepemilikan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Siantan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
“Yang diportofolio saat ini kurang lebih US$1,7 miliar. Tiga fokus kami yakni jalan tol, biomassa, dan air,” sebut Ramdani.
Sebagai catatan, META mengantongi pendapatan Rp445,16 miliar pada semester I/2018. Pencapaian tersebut naik 24,88% dari periode sebelumnya Rp356,47 miliar.
Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk Rp135,54 miliar pada 30 Juni 2018. Jumlah tersebut naik 85,52% dari Rp73,06 miliar dari periode yang sama tahun lalu.
http://market.bisnis.com/read/20181017/192/850228/nusantara-infrastructure-meta-bidik-3-ruas-tol
Prospek Saham META | 17 Juli 2018
Pemegang saham mayoritas PT Nusantara Infrastructure Tbk (META), PT Metro Pacific Tollways Indonesia akan menggelar tender offer wajib setelah memiliki 53,26% saham operator jalan tol ini.
Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengungkapkan, ketertarikan Metro Pacific untuk jadi penguasa PT Nusantara Infrastructur Tbk (META), lantaran kondisi fundamental META yang terbilang bagus.
Namun, dari sisi prospek saham, investor justru perlu menahan hold atau wait and see sebelum masuk ke saham META. Valuasi saham META dianggap sudah terbilang tinggi, dengan price to earning ratio (PER) 18 kali.
"Seharusnya (saham META) bisa dibilang prospek bagus, tapi harga sahamnya sudah mengalami penguatan dan trennya cenderung naik. Jadi trennya sudah mulai menguat," jelas Nafan kepada Kontan.co.id, Senin (16/7).
Menurut Nafan, sekarang bukan waktu yang tepat jika investor ingin masuk ke saham META. Setidaknya, investor masih perlu menunggu hingga harga saham terkoreksi.
"Tapi kalau pelaku pasar mau masuk, lebih baik wait and see. Apalagi PER-nya sudah 18 kali, sudah kemahalan," ujarnya.
Ketika PER emiten ini sudah ada di bawah 15 kali, atau bahkan 10 kali, maka investor sudah dapat masuk ke saham ini. Strategi lain untuk masuk ke saham META, pasar perlu menunggu harga terkoreksi, untuk kemudian bisa melakukan akumulasi saham.
Pada 2 Juli 2018 lalu Metro Pacific membeli 760 juta saham META. Dengan pembelian ini, kepemilikan Metro Pacific di META naik dari 48,27% menjadi 53,26%. Dengan porsi kepemilikan di atas 50%, maka Metro Pacific perlu menggelar tender offer wajib sesuai dengan peraturan Bappepam.
Hari ini, harga saham META stagnan di Rp 208 per saham.
http://investasi.kontan.co.id/news/bakal-ada-tender-offer-begini-prospek-saham-nusantara-infrastructure-meta
Analisa Saham UNTR, CPIN dan META | 21 Juni 2018
Mirae Asset Sekuritas Indonesia Technical Insight
(June 21, 2018)
(agung.nugroho@miraeasset.co.id )
IHSG Daily, 5,884.04(-1.83%), limited upside & prone to correction, trading range hari ini 5,934 – 5,987, kenaikan pada indikator MFI optimized dan indikator W%R optimized mulai terbatas. Pada Figure 3 pada periode weekly ,indikator MFI optimized, indikator RSI optimized dan Stochastic %D optimized masih cenderung bergerak naik. Daily resistance terdekat di 5,934 dan support di 5,834. Cut loss level di 5,781.
UNTR Weekly, 33,500 (-3.74%),buy on weakness ,trading range 33,350 –34,050. indikator MFI optimized, indikator W%R optimized cenderung naik dan indikator Stochastic%D akan menguji support trend line. Daily support di 33,150 dan daily resistance di 34,050.Cut loss level di 32,850.
CPIN Weekly, 3,800 (+9.83%),trading buy, 3,750 – 3,900. indikator MFI optimized , indikator W%R optimized dan stochastic %D optimized cenderung masih cenderung naik. Daily dan Weekly resistance di 3,900 dan 3,950. Sementara itu daily dan weekly support di 3,700 dan 3,750. Cut loss level di 3,690.
META Weekly, 200 (+2.56%), trading buy, trading range 195 – 212. indikator MFI optimized dan indikator Stochastic %D optimized cenderung naik. Dengan demikian diperkirakan potensi kenaikan masih terlihat. Perkiraan daily dan weekly resistance di 212 dan 222. Daily support dan weekly support di 195 dan 198. Cut loss level di 190.
Berita Saham META | 5 April 2018
Berita Saham META
Anak usaha PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) yakni PT Margautama Nusantara (MUN) yang bergerak dalam bidang pembangunan jalan tol yang merupakan induk dari PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) berencana membangun jalan tol.
Menurut keterangan Dahlia Evawani, Sekretaris Perusahaan Perseroan, BMN berencana membangun jalan tol Ujung Pandang Seksi III Makassar Sulawesi Selatan.
Untuk melaksanakan proyek tersebut BMN mengadakan kontrak untuk desain dan konstruksi jalan tol dengan PT Wijaya Karya Beton Tbk.
Pada 2 April lalu, BMN dan Wika Beton telah menandatangani dokumen kontrak Desain dan KOnstruksi Jalan Tol Ujung Pandang Seksi III dengan nilai kontrak Rp1.623.814.821.677. Dengan kontrak ini diharapkan akan mendorong percepatan penyelesaian proyek yang sedang dikembangkan oleh BMN. (end)
IQPLUS
Berita Saham META | 26 Februari 2018
Berita Saham META
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) meraih laba tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp38,70 miliar atau Rp2,54 per saham turun 59,63 persen hingga periode 31 Desember 2017 dibandingkan laba yang diraih pada periode sama tahun sebelumnya yang Rp95,88 miliar atau Rp6,29 per saham.Laporan keuangan perseroan Senin menyebutkan, pendapatan turun menjadi Rp792,01 miliar dari Rp986,83 miliar dan beban turun menjadi Rp274,77 miliar dari Rp501,51 miliar dan laba bruto naik menjadi Rp517,23 miliar dari laba bruto Rp485,31 miliar.
Laba usaha turun menjadi Rp320,65 miliar dari laba usaha tahun sebelumnya yang Rp323,87 miliar salah satunya karena beban usaha lainnya bersih diderita Rp24,36 miliar dari pendapatan lainnya Rp337,36 juta pada tahun sebelumnya.
Laba sebelum pajak turun menjadi Rp159,07 miliar dari laba sebelum pajak tahun sebelumnya yang Rp201,82 miliar. Total aset hingga 31 Desember 2017 mencapai Rp5,32 triliun naik tipis dari total aset Rp5,20 triliun hingga periode 31 Desember 2016. (end)
Berita Saham META | 23 Februari 2018
Berita Saham META
PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) berencana melakukan Penawaran Umum Terbatas II (PUT II) kepada pemegang sahamnya melalui mekanisme penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
Menurut keterangan tertulis yang diterbitkan oleh Perseroan, Jumat, rencananya META akan menawarkan sebanyak 4.950.072.626 saham biasa seri B dengan nilai nominal Rp70 per saham. Saham yang ditawarkan ini jumlahnya sama dengan 24,52% dari modal ditempatkan dan disetor setelah PUT II.
PUT II ini rencananya akan memakai skema rasio 3:1, dimana setiap pemegang 3 saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada tanggal 11 April 2018 berhak atas 1 HMETD yang dapat digunakan untuk membeli 1 saham baru.
Cum dan Ex HMETD di pasar reguler dan pasar negosiasi akan dilaksanakan pada tanggal 6 dan 9 April 2018. Sedangkan perdagangan HMETD akan dilaksanakan pada tanggal 13-19 April 2018.
Adapun untuk penggunaan dana hasil penerbitan dan penawaran PUT II ini rencananya sebesar 60% akan digunakan sebagai setoran modal ke entitas anak usaha perseroan, yakni PT Margautama Nusantara (MUN) dan sisanya 40% akan diguankan sebagai modal kerja perseroan. (end)
source:
IQPLUS
Berita Saham META | 21 November 2017
Kontroversi tentang siapa pengendali PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) masih berlanjut. Bursa Efek Indonesia (BEI) enggan membuka penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham META lantaran belum ada kejelasan terkait siapa pemegang saham pengendali META.
Pihak BEI menuturkan, saat ini META belum memberi jawaban terkait siapa pengendali emiten ini. "Kalau dijawab pengendalinya yang punya 1,5%, saya akan pertanyakan. Bagi kami, pengendalinya yang memiliki 48,27% dan harus tender offer," ungkap Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, Senin (20/11).
Kontroversi ini berpangkal dari transaksi tutup sendiri (crossing) saham META senilai Rp 1,8 triliun pada September lalu. Ada pengalihan 43% atau 6,6 miliar saham META melalui PT Hijau Makmur Sejahtera dan Eagle Infrastructure Fund Limited (EI) ke PT Matahari Kapital Indonesia, perusahaan yang terafiliasi dengan META.
Belakangan terungkap identitas pembeli sisa 42,25% saham META dalam crossing pada 8 September lalu. Si pembeli itu adalah Metro Pacific Tollways Corporation (MPTC), perusahaan infrastruktur yang berbasis di Filipina dan entitas bisnis terafiliasi Grup Salim.
MPTC mengakuisisi 42,25% saham META senilai US$ 132 juta. Akuisisi ini menambah kepemilikan MPTC di META dari 4,83% menjadi 47,08%.
Menurut Tito, jika pengendali META adalah pihak yang memiliki 1,5% saham, hal itu tak masuk akal. Dia menegaskan, substansinya adalah perlindungan terhadap pemegang saham minoritas jika tak ada pemegang saham pengendali.
Tito menjelaskan, manajemen META sudah datang menemuinya. Namun META belum bisa menjawab siapa pemegang saham pengendali. Tentu hal ini masih penuh ketidakpastian.
Hingga kemarin, Direktur META Omar Danni Hasan belum bisa dimintai konfirmasinya terkait hal tersebut.
Analis Binaartha Parama Sekuritas, Reza Priyambada menilai, saat ini META harus memenuhi kewajibannya sebagai perusahaan publik. "Karena ada perubahan besar pemegang saham, mestinya tender offer," kata dia.
KONTAN


.jpg)
.jpg)
.png)
.jpg)
.jpg)







