google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo INCO | Rencana Vale Indonesia Mengembangkan Blok Bahadopi dan Pomalaa Masih Terhambat Langsung ke konten utama

INCO | Rencana Vale Indonesia Mengembangkan Blok Bahadopi dan Pomalaa Masih Terhambat


KONTAN.CO.ID - LUWU TIMUR. Rencana ekspansi PT Vale Indonesia Tbk ke luar area pertambangan Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, belum juga berjalan. Padahal produsen nikel ini telah mendapat komitmen dari mitra yang akan diajak kerjasama (joint venture).

Rencananya, perusahan yang memiliki kode emiten INCO ini akan mengembangkan Blok Bahodopi di Sulawesi Tengah dan Blok Pomalaa Sulawesi Tenggara. Wakil Presiden Direktur INCO Febrianty Eddy menjelaskan, soal pengelolaan tambang di blok Pomalaa dan blok Bahodopi ini, sudah ada pihak yang akan diajak kerjasama.

Untuk blok Pomalaa, misalnya, perusahaan ini menggandeng Sumitomo dari Jepang. Sedangkan untuk blok Bahadopi, INCO akan menggandeng partner dari China.

Untuk investasi di blok Pomalaa, Febrianty menjelaskan, kebutuhan dananya mencapai US$ 2,5 miliar untuk membangun pabrik. Dananya sebagian besar akan ditanggung oleh Sumitomo Jepang.

Nantinya, Sumitomo akan mengambil porsi mayoritas kepemilikan di blok Pomalaa, yakni sekitar 51%. "Kami akan membentuk entitas baru di blok ini," kata dia. Artinya, sekitar US$ 1,28 miliar akan didanai oleh pemegang 20,09% saham INCO, yakni Sumitomo Metal Mining Co Ltd.

Febrianty menambahkan, Sumitomo berani mengembangkan proyek di Pomalaa karena mereka memang sudah memiliki teknologi sesuai karakter potensi nikel yang ada di kawasan tersebut. Kabarnya, teknologi yang akan dipakai akan sama dengan yang di Filipina.

Teknologi tersebut adalah teknologi high pressure acid leaching process (HPAL), yang dapat mengubah bijih nikel oksida tingkat rendah. Teknologi ini diklaim sangat cocok dengan karakter nikel di Pomalaa. Apalagi wilayah tersebut memiliki kadar cobalt cukup tinggi, yakni sekitar 10%. Buat perbandingan, di Sorowako kadar nikelnya hanya sekitar 1%.

Jika blok ini jadi beroperasi, INCO berharap bisa mendapat tambahan pasokan nikel sebanyak 40.000 ton per tahun. Sebelumnya, produksi nikel matte INCO hanya sekitar 70.000 ton per tahun. "Target tahun ini di kisaran 71.000–73.000 ton," terang Adi Susatio, GM Treasury & Investor Relations INCO.

Asal tahu saja, sepanjang semester satu tahun ini, Vale Indonesia telah menjual dan memproduksi nikel masing-masing sebanyak 30.832 metrik ton dan 30.711 metrik ton.

Meski telah memiliki hitungan, INCO belum juga bisa melanjutkan proses ekspansi ini. Pasalnya, perusahaan ini masih belum mendapatkan izin Amdal. "Kami berharap pemerintah segera mengeluarkan izin sehingga kami bisa ekspansi," terang Febrianty.

Sementara untuk ekspansi ke blok Bahadopi, perusahaan ini membutuhkan dana segar sekitar US$ 1,6 miliar–US$ 1,8 miliar untuk pembangunan pabrik. Namun, Febrianty belum mau menjelaskan lebih lanjut, apakah skema yang dilakukan untuk blok Bahadopi tersebut akan sama seperti proyek blok Pomalaa.

Selain disibukkan oleh rencana ekspansi, INCO juga dihadapkan oleh penurunan kinerja keuangan. Berdasarkan laporan keuangan semester I-2019, EBITDA anggota indeks KOMPAS100 ini turun 70,64% secara tahunan menjadi US$ 32,8 juta. "Kinerja kami di kuartal II tahun ini belum optimal karena proyek Larona baru berjalan pada April 2019. Tapi, produksi mulai normal di Mei dan Juni. Kami berharap selanjutnya di sisa tahun ini," ujar Adi.

Di semester II tahun ini, INCO berharap produksi akan berjalan normal karena program maintenance pabrik yang besar sudah dilakukan di semester I lalu. Dengan asumsi harga nikel seperti saat ini, Adi sangat berharap kinerja finansial akan positif.

"Tergantung harga nikel dan komoditas lain. Karena kami 30% biaya produksi adalah biaya energi, seperti coal dan fuel, dengan harga cukup fluktuatif," jelas Adi kepada KONTAN, kemarin.

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Saham MYRX | PT Hanson Internasional Tbk Akan Rights Issue

Emiten properti, PT Hanson Internasional Tbk. (MYRX) berencana melakukan rights issue dengan target dana hingga Rp16 triliun, guna membangun Grand Jakarta. Direktur Hanson Internasional Rony Agung Suseno mengungkapkan, perseroan telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS). Dia memerinci, RUPS menyetujui tiga agenda. Pertama, penambahan modal dasar Hanson. Kedua, persetujuan penambahan modal yang ditempatkan dan disetor dengan melakukan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Rony menuturkan, perseroan berencana melakukan penawaran umum terbatas IV. Ketiga, persetujuan penggunaan dana rights issue untuk modal kerja dan anak perusahaan. Dia mengungkapkan dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi Hanson dan anak usaha. "Target rights issue sebanyak-banyaknya 87,82 miliar lembar saham dengan nominal Rp22 per saham, yang kami keluarkan adalah seri C. Target paling lama, akhir Desember, karena kami pakai buku Juni," ungkapny...

Cara Membaca Candlestick Saham

Cara membaca candlestick saham sebenarnya cukup mudah dan tidak perlu banyak menghafal. Anda cukup memahaminya saja secara garis besar, maka akan sukses membaca candlestick saham.  Di grafik atau chart saham, kita menemui puluhan pola saham yang berbeda. Di sana ada  Three Black Crows, Concealing Baby Swallow, Unique Three River Bottom dan lain sebagainya. Jika anda harus menghafalkannya, maka akan membutuhkan tenaga yang banyak. Maka dengan artikel ini harapannya Anda mampu cara memahami atau membaca candlestick saham dengan mudah. Dasar-dasar dalam Membaca Candlestick Saham Buyer Versus Seller Sebelum kita mulai mendalami elemen-elemen penting untuk analisa candlestick, kita harus punya cara pandang yang benar terlebih dulu. Anggap saja pergerakan harga itu terjadi karena perang antara Buyer dan Seller. Setiap candlestick adalah suatu pertempuran selama masa perang, dan keempat elemen candlestick menceritakan siapa yang unggul, siapa yang mundur, siapa memeg...

INI PENJELASAN PAN BROTHERS TERKAIT AKSI UNJUK RASA KARYAWAN PABRIK DI BOYOLALI

Ribuan karyawan PT Pan Brothers Tbk (PBRX) melakukan unjuk rasa di depan pabriknya pada Rabu (5/5/2021). Pasalnya, unjuk rasa yang akhirnya mendorong karyawan melakukan mogok kerja tersebut, dipicu adanya informasi jika gaji mereka bulan ini akan dicicil dua kali. Selain itu pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) tahun ini juga akan dicicil delapan kali. Terkait hal tersebut, Corporate Secretary Pan Brothers Iswar Deni menjelaskan bahwa, adanya kesalah pahaman dari penerimaan info yang disampaikan ke karyawan dan karyawati dan mengakibatkan simpang siurnya berita yang muncul di media "Pagi tanggal 5 Mei 2021 kami mengumumkan secara lisan kepada seluruh karyawan dan karyawati kami, bahwa saat ini kondisi Arus Kas / Cash Flow perusahaan agak ketat, sehubungan dengan pemotongan modal kerja (bilateral) dari pihak perbankan sehingga tersisa sepuluh persen dari kondisi sebelumnya dan ini mengganggu arus kas,"kata Deni, dalam keterangan tertulisnya, di Kamis, (6/5). Oleh karena itu, de...