google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Eduardo Saverin, Eks Bos Facebook yang Hobi 'Nyuntikin' Startup Langsung ke konten utama

Eduardo Saverin, Eks Bos Facebook yang Hobi 'Nyuntikin' Startup


Eduardo Saverin, namanya memang cukup asing di telinga. Tapi siapa sangka, pria keturunan Brazil ini ternyata merupakan salah seorang pendiri Facebook. Saverin merupakan satu dari lima orang yang mendirikan Facebook bersama Mark Zuckerberg di tahun 2004.

Lewat tangannya, Facebook tak sebatas sosial media saja, melainkan perusahaan dengan nilai ratusan miliar dollar. Namun Saverin akhirnya justru memilih mengasingkan diri di Asia Tenggara.

Kisah Saverin sendiri memang penuh kontroversi di Facebook. Saat Zuckerberg merayakan IPO Facebook dalam pembukaan bursa saham Nasdaq pada Mei 2012, Saverin justru berada ribuan mil jauhnya dari kemeriahan tersebut. Memang, saat ini dari lima pendiri Facebook, cuma Mark Zuckerberg yang sampai saat ini masih bekerja di perusahaan tersebut.

Dia berhenti bekerja di Facebook sejak 2005. Bahkan kabarnya, usai keluar dari Facebook, kepemilikan saham Saverin menjadi sengketa. Hingga kini, Saverin hanya memiliki 2% dari seluruh kepemilikan Facebook.

Mengutip Forbes, Rabu (11/9/2019), pada 2009, Saverin sampai melepaskan kewarganegaraan AS nya dan pindah ke Singapura. Gosipnya, Saverin berganti warga negara demi menghindari pajak sekitar US$ 700 juta atau sekitar Rp 9,8 triliun (kurs Rp 14.000).

Namun, hal berbeda disampaikan pihak Saverin. Bukan niat mengemplang pajak, tapi dia disebut hanya ingin membangun akar bisnis start up di Singapura.

Awal mulanya, usai cabut dari Facebook, Saverin langung mencoba-coba beberapa proyek startup. Hingga suatu saat, dia berkunjung ke Singapura untuk membantu bisnis temannya, ternyata malah keterusan.

Di Singapura, Saverin juga menemukan partner bisnisnya. Dia adalah seorang mantan konsultan sekaligus wakil presiden lembaga investasi Bain Capital, Raj Ganguly. Usut punya usut ternyata Ganguly pun merupakan teman kuliah Saverin di Harvard, hingga akhirnya hubungan mereka erat kembali di Singapura.

Bersama Ganguly, Saverin membentuk sebuah lembaga investasi yang memberikan dana teknologi kepada banyak perusahaan perintis di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Tahun 2015 mereka meluncurkan B Capital dan menyiapkan dana teknologi untuk dipinjamkan hingga US$ 360 juta atau kisaran Rp 5 triliun. Keduanya memiliki tujuan besar menjadi 'mak comblang' bagi kebutuhan pasar di Asia Tenggara yang sedang menjanjikan dan belum banyak tersentuh dengan sumber modal.

Setidaknya sudah ada sekitar 20 proyek yang didanai B Capital hingga kini. Saverin dan Ganguly sendiri menyukai perusahaan yang terlibat dalam perdagangan dan logistik. Mereka mengincar perusahaan yang tidak berhasil masuk ke radar Silicon Valley, tetapi memiliki pengetahuan tentang masalah lokal di wilayahnya.

Salah satu contohnya adalah Ninja Van, yang bergerak dalam sektor logistik jarak jauh berupa pengiriman barang yang mencakup wilayah Asia Tenggara. Bahkan karena kucuran dana dari Saverin, startup yang berbasis di Singapura ini maju pesat dan sudah mempekerjakan 2.000 orang dan 10.000 mitra pengantar. Meski bisnis yang satu ini mahal dan rumit, B Capital tetap melangkah untuk berinvestasi ketika banyak pihak menolak mentah-mentah.

"Ada banyak uang yang dipompa ke e-commerce. Tidak peduli siapa yang menang, satu hal yang pasti: infrastruktur pembayaran mereka harus ditangani," kata Eduardo Saverin, dikutip dari Forbes.

B Capital memang tumbuh dengan cepat. Tetapi masih terlalu dini untuk mengatakan apakah langkah Saverin berhasil atau tidak. Dari seluruh proyek yang diberikan kucuran dana pun, hanya sekitar setengah lusin investasinya yang membawa naik kelas si penerimanya.

Tapi Saverin dan Ganguly optimistis, B Capital akan mulai menggalang dana kedua yang diperkirakan dua kali lebih besar. Sebagai informasi, dalam penggalangan dana yang pertama, Boston Consultant Group menjadi penyokong utama B Capital.

Kini di usianya yang ke 37 tahun, Saverin memiliki kekayaan sebesar US$ 10,5 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Di Singapura dia merupakan orang kaya ketiga, dan menurut Forbes, Saverin bertengger di urutan ke 140 miliuner terkaya di dunia.


sumber : detik.finance

Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Saham ? Pengertian, Contoh, Jenis, Keuntungan, Resiko

Apa itu Saham? Saham adalah jenis surat berharga yang menandakan kepemilikan secara proporsional dalam sebuah perusahaan penerbitnya. Saham kadang disebut ekuitas. Saham memberikan hak kepada pemegang saham atas proporsi aset dan pendapatan perusahaan.  Saham pada umumnya  dijual dan dibeli di bursa saham . Akan tetapi saham juga dijual secara pribadi. Transaksi saham harus sesuai dengan peraturan pemerintah yang dimaksudkan untuk melindungi investor dari praktik penipuan.  Secara historis, investasi saham telah mengungguli sebagian besar investasi lainnya dalam jangka panjang. Investasi saham dapat dilakukan melalui broker saham online atau sekuritas saham yang terdaftar di lembaga yang mengaturnya di sebuah negara.  Sebuah perusahaan terbuka menerbitkan / menjual saham dalam rangka mengumpulkan dana untuk menjalankan bisnisnya. Pemegang saham, ibaratnya telah membeli secuil perusahaan dan memiliki hak atas sebagian aset dan pendapatannya. Dengan...

PT Steel Pipe Industry Tbk (ISSP) Dapatkan Rating Negatif

MOODYS UBAH PROSPEK SPINDO DARI STABIL MENJADI NEGATIF. IQPlus, (23/08) - Moodys Investor Service merubah prospek PT Steel Pipe Industry Tbk (ISSP) menjadi negatif dari stabil dimana pada saat yang sama menegaskan peringkat B2 corporate family rating perseroan. "Perubahan prospek menjadi negatif mencerminkan espektasi Moodys dimana gross margin Spindo masih mendapatkan tekanan karena volatilitas harga baja dalam 12-18 bulan ke depan yang menghasilkan peningkatan leverage dan cakupan bunga yang lemah," ujar Brian Grieser, vice president Moodys. Karena baja menyumbang hingga 95% dari harga pokok penjualan, Spindo terkena fluktuasi harga baja global dan domestik. Meski perusahaan menggunakan model biaya plus harga, Spindo tidak sepenuhnya meneruskan peningkatan harga baja kepada pelanggannya secara tepat waktu. Akibatnya margin kotor Spinti turun menjadi 15% dalam 12 bulan di Juni 2018 dari 18% di 2017 dan 25% di 2016. "Selain itu tingkat utang Spindo meningkat ka...

Cara Membaca Candlestick Saham

Cara membaca candlestick saham sebenarnya cukup mudah dan tidak perlu banyak menghafal. Anda cukup memahaminya saja secara garis besar, maka akan sukses membaca candlestick saham.  Di grafik atau chart saham, kita menemui puluhan pola saham yang berbeda. Di sana ada  Three Black Crows, Concealing Baby Swallow, Unique Three River Bottom dan lain sebagainya. Jika anda harus menghafalkannya, maka akan membutuhkan tenaga yang banyak. Maka dengan artikel ini harapannya Anda mampu cara memahami atau membaca candlestick saham dengan mudah. Dasar-dasar dalam Membaca Candlestick Saham Buyer Versus Seller Sebelum kita mulai mendalami elemen-elemen penting untuk analisa candlestick, kita harus punya cara pandang yang benar terlebih dulu. Anggap saja pergerakan harga itu terjadi karena perang antara Buyer dan Seller. Setiap candlestick adalah suatu pertempuran selama masa perang, dan keempat elemen candlestick menceritakan siapa yang unggul, siapa yang mundur, siapa memeg...