google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 9 Agustus 2017 Langsung ke konten utama

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 9 Agustus 2017

Market Review 9 Agustus 2017
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG ditutup menguat 13 poin (+0.23%) ke level 5,824.007 pada perdagangan hari ini. Tercatat 184 saham menguat dan 167 saham melemah. Sektor-sektor ditutup variatif dipimpin penguatan sektor property (+1.51%) dan pelemahan sektor consumer (-0.65%). Investor asing mencatatkan transaksi net buy sejumlah Rp159 miliar di seluruh Pasar hingga akhir perdagangan hari ini. US Dollar menguat 20 poin (+0.15%) terhadap US Dollar, sehingga Rupiah melemah ke level Rp13,333 terhadap US Dollar pada penutupan perdagangan.

Advance Stocks:

- BBTN: Harga saham BBTN ditutup menguat Rp80 (+2.99%) ke level Rp2.750 hari ini. Tahun ini, BBTN memastikan membentuk perusahaan patungan asuransi jiwa dengan Jasindo. Dana yang disiapkan untuk membentuk anak usaha asuransi jiwa ini adalah Rp 200 miliar atau setara dengan porsi 89% sahan dari perusahaan asuransi jiwa dengan Jasindo. Nantinya BTN akan mengempit mayoritas saham dari perusahaan asuransi jiwa ini.

- BTEK: BTEK rencananya akan mulai memperdagangkan saham dengan nilai nominal baru pada minggu ketiga bulan ini. Perseroan untuk melakukan pemecahan nilai nominal saham (Stock Split) dengan rasio 1:8. Dengan demikian, nilai nominal saham perseroan yang semula sebesar Rp100 per saham akan berubah menjadi Rp12,50 per saham. Di akhir perdagangan, harga saham BTEK ditutup menguat Rp50 (+4.76%) ke level Rp1.100.

- WIKA: Menguat untuk hari kedua, harga saham WIKA ditutup menguat Rp75 (+3.75%) ke level Rp2.070 hari ini. WIKA tengah mengkaji untuk mengeluarkan obligasi global (global bond) di semester II tahun ini. Rencananya penyerapan dana dari obligasi global tersebut akan digunakan untuk pembiayaan proyek infrastruktur jangka panjang. Hingga akhir Juni 2017, WIKA mencatatkan perolehan kontrak baru sebesar Rp20,860 triliun atau 48% dari target kontrak baru perseroan 2017, meningkat 74% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

- TINS: Harga saham TINS ditutup menguat Rp55 (+6.83%) ke level Rp860 pada perdagangan hari ini. TINS segera menerbitkan obligasi dan sukuk dengan target penggalangan dana sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal III/2017. Selain itu, perseroan membidik penjualan 30.000 ton timah hingga akhir 2017 dan bakal mengadopsi dua teknologi produksi yang baru pada 2018-2020.

- JSMR: JSMR menjajaki rencana penerbitan global bond berdenominasi rupiah. Target penawarannya, berkisar US$ 200 juta - US$ 300 juta ekuivalen rupiah. Melalui penerbitan obligasi global berdenominasi rupiah ini, JSMR berharap bisa menjaga likuiditas dengan membuka jalan menuju pasar global. Pada perdagangan hari ini, harga saham JSMR ditutup menguat Rp125 (+2.28%) ke level Rp5.600.

Decline Stocks:

- IMPC: Harga saham IMPC ditutup melemah Rp5 (-0.48%) ke level Rp1.030 hari ini. IMPC mengakuisisi bisnis dan aset Alsynite NZ Limited yang berlokasi di New Zealand melalui anak usahanya. Nilai transaksi akuisisi sebesar NZD 6,5 juta.

- LSIP: Sepanjang semester I-2017 LSIP baru menyerap belanja modal sebanyak 25% dari total yang ditargetkan sebesar Rp600 miliar sampai dengan akhir tahun. Adapun, total dana yang dianggarkan untuk belanja modal perseroan, kata dia, dibagi untuk dua kegiatan, pertama berkaitan dengan pengembangan tanaman, kemudian untuk nontanaman. Harga saham LSIP ditutup melemah Rp20 (-1.39%) ke level Rp1.410 hari ini.

- PTBA: PTBA tengah melakukan penjajakan untuk mengakuisisi tambang batu bara di Kalimantan demi menambah aset perusahaan. Tambang Kalimantan menjadi menjadi pilihan karena saat ini perusahaan telah memiliki beberapa tambang batu bara di Sumatera. Perusahaan akan memprioritaskan tambang batu bara yang sudah beroperasi. Pasalnya, perusahaan tidak mau mengambil risiko yang tinggi. Melemah dua hari berturut-turut, harga saham PTBA ditutup turun Rp450 (-3.32%) ke level Rp13.100 hari ini.

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Saham FPNI | Ini strategi Lotte Chemical untuk kejar target penjualan di akhir tahun

Perusahaan petrokimia PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) memasang target pertumbuhan penjualan sebesar 10% sepanjang tahun 2019. Jelang tutup tahun ini, Bambang Budihardja, Corporate Secretary PT Lotte Chemical Titan Tbk menyebut saat ini kondisi pasar kurang kondusif jika dibandingkan dengan tahun lalu. Oleh karena itu, FPNI mengaku sedikit lebih konservatif dalam hal pencapaian target tersebut. Ia bilang, situasi supply dan demand di regional menyebabkan kondisi margin spread yang semakin menipis. Margin spread merupakan selisih harga jual dengan biaya bahan baku utama. "Kondisi ini pada akhirnya sedikit banyak melemahkan usaha-usaha untuk mencapai target tersebut," katanya, Minggu (20/10). Apabila melihat laporan keuangan semester I-2019, pendapatan bersih FPNI juga menurun. FPNI mengantongi pendapatan sebesar US$ 171,69 juta atau menyusut 15,35% dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 202,83 juta. Pendapatan dari hasil penjualan pasar domestik masih menjadi ...

Cara Membaca Indikator Stochastic Oscillator dengan 3 Metode

Keberadaan stochastic telah sedikit disinggung sebagai indikator oscillator yang mampu menunjukkan kondisi jenuh harga. Dulunya, banyak trader mengetahui cara membaca indikator Stochastic hanya untuk penerapan praktis. Namun sebenarnya, Stochastic terdiri dari berbagai macam komponen dan memiliki lebih dari satu manfaat. Untuk mengungkapnya, kita akan mempelajari 3 cara membaca indikator Stochastic berikut. Baca juga: Memahami arti LOT dalam Investasi Saham 1. Cara Membaca Indikator Stochastic Sebagai Penanda Overbought Oversold Cara membaca indikator Stochastic menurut fungsi ini adalah yang paling mudah. Pada dasarnya, indikator ciptaan George Lane ini memiliki dua level ekstrim, yakni 80 dan 20. Masing-masing level tersebut berperan sebagai batas overbought dan oversold. Indikator Stochastic menunjukkan kondisi overbought ketika grafik berada di atas level 80. Sementara itu, cara membaca indikator Stochastic untuk mengenali oversold adalah dengan memperhatikan grafik yang sudah turu...

PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) Optimis Dengan Kinerja

Kuartal IV/2018, Dharma Samudera (DSFI) Optimistis Kinerja Bakal Membaik Emiten perikanan PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) meyakini kinerja perseroan akan membaik mulai Oktober 2018 seiring dengan peluang bertambahnya bahan baku. Direktur Independen DSFI Saut Marbun menuturkan, mulai Oktober 2018 kinerja perseroan berpotensi meningkat seiring dengan bertambahnya bahan baku produk perikanan. Kondisi cuaca diperkirakan lebih baik sehingga nelayan semakin sering melaut. "Mulai September biasanya ombak tidak terlalu tinggi, kemudian Oktober semakin terasa pasokan bahan baku dari laut semakin banyak. Harganya juga semakin murah," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, belum lama ini. Selain itu, permintaan produk perikanan pada Oktober mengalami peningkatan karena pelanggan perusahaan ingin melakukan penyetokan menjelang Natal. DSFI memang mengandalkan 95% penjualan ke pasar ekspor, dengan wilayah tujuan utama Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Sampai ak...