Langsung ke konten utama

PERTAGAS SERAHKAN PUPUK ORGANIK UNTUK PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN



Bertepatan dengan Hari Tani Nasional, PT Pertamina Gas (Pertagas) selaku afiliasi Subholding Gas PT PGN Tbk, melakukan penyerahan secara simbolis 22 Ton Pupuk Organik Padat dan 250 Botol Pupuk Organik Cair sebagai bagian dari tahapan Pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan (Priangan) melalui Program CSR Saung Patra (Desa Unggul Petani Berdaya).

Dalam kesempatan ini Pertagas Operation West Java Area melalui Head of Distrik Cilamaya, menyerahkan secara simbolis Pupuk Organik kepada Ketua Poktan Priangan mewakili 28 anggota kelompok tani yang sangat antusias menyambut musim tanam kedua 2020.

"Dari hari Tani Nasional 2020 ini kami menyampaikan apresiasi kepada Petani dalam mendukung upaya pemerintah mencapai kemandirian pangan dan menjaga ketahanan pangan nasional. Saat ini profesi sebagai petani masih dipandang sebelah mata, padahal jasanya luar biasa. Untuk itu melalui program Saung Patra kami mendukung pengembangan pengetahuan petani melalui penerapan teknologi tepat guna, pertanian ramah lingkungan dan pengembangan pupuk organik secara mandiri. Tujuannya memberikan nilai tambah bagi petani dan produk yang dihasilkan," ungkap Firman selaku Head of Distrik Cilamaya Pertamina Gas Operation West Java Area.

Upaya Pertamina Gas OWJA dalam memberikan nilai tambah bagi petani di Cilamaya dimulai sejak tahun 2018 melalui progam Saung Patra. Tidak hanya sebatas pada pemberian bantuan pupuk, namun program Saung Patra juga memberikan pendampingan dan pelatihan terhadap petani dalam pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan dan juga pengembangan inovasi-inovasi dalam kegiatan pertanian.

Program yang semula hanya diikuti 7 orang dengan luasan 7 Hektar kini menjadi 28 orang dengan luasan lahan 28 Hektar. Hal ini menunjukan tren pertanian ramah lingkungan ini yang diterapkan oleh Gapoktan Saluyu sebelumnya mendapat sambutan yang baik dari kelompok tani lainnya. Hasil produksi yang baik, biaya operasional yang murah, serta dampak terhadap kondisi tanah baik menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota kelompok yang kini tergabung dalam Poktan Priangan.

"Iya sangat senang sekali bisa bergabung dalam program ini, musim tanam yang lalu saya mendengar ada kelompok tani yang hasil panennya mencapai 6,2 ton dengan biaya operasional yang murah karena pakai pupuk organik. Biasanya untuk 1 hektar lahan dibutuhkan 8 juta namun anggota kelompok ini hanya mengeluarkan 6 juta permusim. Saya dan beberapa teman tertarik untuk bergabung," ujar Sawin yang merupakan anggota baru Poktan Priangan.

Hari Tani Nasional setiap tanggal 24 September disahkan melalui Kepres RI No. 169 tahun 1963. Hal ini merupakan bentuk peringatan dalam mengenang sejarah perjuangan kaum petani serta membebaskannya dari penderitaan. Penetapan tersebut diambil dari tanggal dikeluarkannya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada tahun 1960. Hari tersebut menjadi tonggak sejarah bangsa dalam memandang arti penting petani dan hak kepemilikan atas tanah, serta keberlanjutan masa depan agraria di Indonesia. Kepedulian negara terhadap hidup rakyatnya, terutama kehidupan para petani mulai diwujudkan. Mengingat Indonesia adalah negara agraris dan mayoritas rakyatnya adalah petani.(end/as)

Sumber: iqplus

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Berapa Harga Rights Issue BRI? Ini Kata Bos BRI

Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) saat ini masih belum menentukan harga pelaksanaan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD/rights issue) perusahaan. Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno K. mengatakan untuk menentukan harga pelaksanaan rights issue ini, perusahaan akan mempertimbangkan faktor makro dan industri serta kinerja dan fluktuasi harga saham perusahaan. Selain itu juga, mempertimbangkan masukan dari pemegang saham. "Harga akan disampaikan kalau sudah proses registrasi ke OJK [Otoritas Jasa Keuangan] dan akan dipublikasikan dalam prospektus untuk penetapan harga pricing-nya," kata Viviana dalam konferensi pers usai RUPSLB BRI, Kamis (22/7/2021). Berdasarkan prospektus yang disampaikan perusahaan, harga pelaksanaannya paling sedikit sama dengan batasan harga terendah saham yang diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai sebagaimana diatur Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas. Adapun a

Cara Membaca Candlestick Saham

Cara membaca candlestick saham sebenarnya cukup mudah dan tidak perlu banyak menghafal. Anda cukup memahaminya saja secara garis besar, maka akan sukses membaca candlestick saham.  Di grafik atau chart saham, kita menemui puluhan pola saham yang berbeda. Di sana ada  Three Black Crows, Concealing Baby Swallow, Unique Three River Bottom dan lain sebagainya. Jika anda harus menghafalkannya, maka akan membutuhkan tenaga yang banyak. Maka dengan artikel ini harapannya Anda mampu cara memahami atau membaca candlestick saham dengan mudah. Dasar-dasar dalam Membaca Candlestick Saham Buyer Versus Seller Sebelum kita mulai mendalami elemen-elemen penting untuk analisa candlestick, kita harus punya cara pandang yang benar terlebih dulu. Anggap saja pergerakan harga itu terjadi karena perang antara Buyer dan Seller. Setiap candlestick adalah suatu pertempuran selama masa perang, dan keempat elemen candlestick menceritakan siapa yang unggul, siapa yang mundur, siapa memegang kontr

Buyback Saham BBNI, SCMA, ROTI, MEDC dan PALM

Sejumlah emiten berencana membeli kembali saham atawa buyback. Sepanjang bulan Juli 2021, sudah ada lima emiten yang mengumumkan akan melakukan buyback. Terbaru, ada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mengalokasikan dana maksimal hingga Rp 1,7 triliun untuk pembelian kembali saham. Adapun buyback yang akan dilakukan pada periode 22 Juli 2021 hingga 21 Oktober 2021 itu akan membeli sebanyak-banyaknya 20% dari jumlah modal disetor dan paling sedikit 7,5% dari modal disetor. Dalam keterbukaan informasinya, manajemen emiten perbankan plat merah itu mengungkapkan, saham BBNI mengalami tekanan jual di pasar akibat sentimen Covid-19. Sahamnya melorot 25% secara year to date (ytd) menjadi Rp 4.640 per 30 Juni 2021. " Tekanan jual di pasar akibat sentimen Covid-19 tersebut membuat saham BNI undervalued dengan Price to Book Value (PBV) per 30 Juni 2021 sebesar 0,75 kali atau telah jauh berada di bawah rata-rata PBV selama 10 tahun yang sebesar 1.60 kali," seperti yang tertulis da