Tampilkan postingan dengan label Saham VIVA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham VIVA. Tampilkan semua postingan

Visi Media Asia (VIVA) Catat Pendapatan Turun 32,26% di Semester I-2023


PT Visi Media Asia Tbk (VIVA)
mencatatkan penurunan kinerja bisnis selama periode semester I-2023. Hal ini disebabkan oleh menyusutnya pendapatan iklan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip pada Minggu (27/8), pendapatan iklan berkontribusi sebesar Rp 602,46 miliar atau setara 97,29% dari total pendapatan usaha VIVA yang senilai Rp 619,22 miliar di semester I-2023.

Pendapatan iklan selama semester pertama lalu mengalami penurunan 32,75% secara tahunan atau YoY dari Rp 895,98 miliar pada semester I-2022.

Selain itu, penurunan juga terjadi pada pendapatan non iklan. Di mana, angkanya tercatat sebesar Rp 16,75 miliar, dari posisi sebelumnya Rp 18,24 miliar di semester I-2022.

Walhasil, pendapatan usaha menyusut 32,26% yoy menjadi Rp 619,22 miliar per semester I-2023. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan usaha VIVA masih mencapai Rp 914,22 miliar.

Per akhir Juni 2023, VIVA tercatat membukukan penurunan beban usaha sebesar 17,65% YoY menjadi Rp 723,62 miliar. Beban usaha tersebut beban program penyiaran sebesar Rp 289,12 miliar serta beban umum dan administrasi sebesar Rp 434,49 miliar.

VIVA juga harus menanggung rugi usaha mencapai Rp 104,39 miliar pada semester I-2022. Padahal, pada periode yang sama tahun 2022, VIVA masih mencetak laba usaha sebesar Rp 35,49 miliar.

Dari sisi bottom line, VIVA terpantau membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 504,95 miliar. Angka ini mengalami penurunan dari kerugian di semester I-2022 yang sebesar Rp 659,10 miliar.
Sumber: kontan-
Materi video tutorial belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Raih Pendapatan Usaha Rp619,92 Miliar Hingga Juni 2023


PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) meraih pendapatan usaha sebesar Rp619,92 miliar hingga periode 30 Juni 2023 turun dari pendapatan usaha Rp914,23 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Senin menyebutkan, beban usaha turun menjadi Rp723,62 miliar dari beban usaha Rp878,74 miliar dan rugi usaha diderita Rp104,39 miliar usai meraih laba usaha Rp35,49 miliar.

Beban lain-lain neto turun menjadi Rp386,11 miliar dari beban lain-lain neto Rp675,00 miliar dan rugi sebelum pajak diderita Rp490,51 miliar turun dari rugi sebelum pajak Rp639,51 miliar.

Rugi yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk turun menjadi Rp504,95 miliar dari rugi yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk Rp659,11 miliar. Total aset perseroan mencapai Rp9,23 triliun hingga periode 30 Juni 2023 naik dari total aset Rp8,87 triliun hingga periode 31 Desember 2022. (end)
Sumber: iqplus-
Materi video tutorial belajar trading dan investasi saham ada di Channel Youtube Saham Online. 

[VIVA] PT Visi Media Asia Tbk menyetujui penjualan 39% saham Intermedia


PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) resmi menyetujui rencana penjualan 39% saham di perusahaan induk PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Dalam konferensi pers yang digelar, dijelaskan besaran saham yang dilepas VIVA setara dengan Rp15,29 miliar saham kepada Reliance Capital International Limited (RCIL), pihak yang disetujui kreditur untuk melaksanakan jual beli saham tersebut.

Penjualan saham MDIA dilakukan dengan nilai US$171,8 juta atau setara dengan Rp2,43 triliun atau Rp158 per saham. "Dengan diselesaikannya transaksi penjualan saham ini, VIVA akan menjadi perseroan bebas utang atau debt free company," ujar Presiden Direktur VIVA, Anindya Novyan Bakrie mengatakan dalam konferensi pers yang berlangsung virtual, Senin (15/3).

Sementara itu, dalam keterbukaan Informasi yang dikeluarkan Rabu (10/3) lalu, manajemen VIVA menjelaskan bahwa transaksi penjualan saham MDIA merupakan bagian dari skema penyelesaian atau pelunasan seluruh utang Grup VIVA berdasarkan Debt Settlement Agreement (DSA) yang ditandatangani pada 22 Desember 2020 lalu.

Sebagai informasi, dalam DSA juga disebutkan Grup VIVA dan para kreditur telah menyepakati hal-hal antara lain posisi akhir total pinjaman pokok VIVA yang terutang sebesar US$239,77 juta yang terdiri dari utang pokok berdasarkan Junior Facility Agreement sebesar US$78,37 juta dan utang pokok berdasarkan Senior Facility Agreement sebesar US$161,39 juta.

Lebih lanjut, sebagian utang senior facility yang menjadi tanggung jawab ANTV akan diselesaikan melalui fasilitas refinancing yang akan diperoleh ANTV dari perbankan nasional sebesar Rp960 miliar atau setara dengan US$67,94 juta dolar AS (Cash Settlement) dengan asumsi kurs tukar Rp14.130 per dolar AS, kurs tengah Bank Indonesia per 10 Desember 2020.

Total utang pokok setelah dikurangi cash settlement sebesar US$171,83 juta atau setara dengan Rp2,43 triliun akan dibayarkan melalui transaksi penjualan saham MDIA. Kemudian, seluruh bunga dan biaya-biaya yang telah timbul dan belum dibayarkan sehubungan dengan Senior Facility dan Junior Facility dihapuskan.

"Kami pastikan dengan cash settlement dan diselesaikannya transaksi penjualan saham MDIA, akan menyebabkan utang perseroan lunas dengan tetap memperhatikan ketentuan mengenai harga penjualan minimal saham obyek," tutupnya.

Sumber: KONTAN

[VIVA] PT Visi Media Asia Tbk Akan Lepas 39% Saham Anak Usaha PT Intermedia Capital Tbk.


PT Visi Media Asia Tbk.(VIVA) akan melepas 39 persen saham anak usaha PT Intermedia Capital Tbk. senilai US$171 juta dolar atau setara Rp2,4 triliun kepada Reliance Capital International Limited.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang diterbitkan VIVA, penjualan saham tersebut merupakan bagian dari skema pelunasan seluruh utang perseroan dana dua entitas anak usaha berdasarkan senior facility agreement sebagaimana disepakati dalam perjanjian penyelesaian utang pada 22 Desember 2020 lalu.

Menurut manajemen VIVA, posisi akhir dari pokok pinjaman yang terutang mencapai US$239,76 juta, terdiri dari pokok utang junior facility agreement senilai US$78,37 juta dan senior facility agreement sebesar US$161,39 juta.

Untuk diketahui, pinjaman senior dan junior tersebut bermula pada 1 November 2013 yang mana PT Cakrawala Andalas Televisi dan PT Lativi Mediakarya meneken perjanjian pinjaman senilai US$230 juta. CAT merupakan pengelola stasiun televisi ANTV sedangkan LM pengelola TVOne.

Pada 2017, para kreditur bersedia memberikan fasilitas pembiayaan kembali untuk melunasi utang yang diteken 2013. Fasilitas itu diberikan selama CAT dan LM menjadi pihak peminjam yang menerima dan menanggung sebagian fasilitas refinancing. Kemudian VIVA  bertindak sebagai penjamin, menanggung alih kewajiban pembayaran kembali yang diterima CAT maupun LM.

Terkait dengan itu, pada 12 April 2017, VIVA meneken perjanjian pinjaman dengan CAT dan LM yang pada pokoknya kedua anak usaha itu akan memberikan pinjaman kepada perseroan. Adapun pinjaman tersebut berasal dari dana yang akan diperoleh CAT dan LM dari lembaga keuangan untuk refinancing utang pokok dan bunga Perseroan berdasarkan Credit Agreement.

Selanjutnya pada 17 Oktober 2017, refinancing tersebut bisa terlaksana dengan tenor 36 bulan dan bunga LIBOR plus margin 9 persen untuk pinjaman senior senilai US$173,6 juta. Adapun pinjaman junior sebesar US$78,37 juta memiliki jangka waktu 39 bulan dengan tingkat bunga 15 persen per tahun.

Pada akhir Desember 2020, VIVA bersama CAT dan LM menyelesaikan kewajiban pembayaran utang dengan para kreditor dan pihak lain yang terkait. Sebagai penjamin, VIVA diwajibkan untuk menanggung dan menyelesaikan total utang pokok setelah dikurangi cash settlement menjadi kuran glebih US$171,82 juta atau Rp2,42 triliun.

"Penyelesaian tersebut dilaksanakan melalui penjualan saham di anak perseroan menjual 15,29 miliar atau 39 persen dari seluruh saham disetor dan ditempatkan penuh dalam MDIA," demikian kutipan keterbukaan informasi VIVA, dikutip Bisnis, Kamis (4/2/2021).

VIVA akan meminta restu pemegang saham terkait penjualan tersebut. Untuk itu perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa pada 15 Maret 2021. 

Manajemen VIVA menyebut, dengan penjualan saham tersebut, kewajiban utang perseroa maupun entitas anak dalam denominasi dolar AS dapat dikurangi sehingga terhindar dari risiko kurs.  Selain itu, posisi keuangan juga membaik dan meningkatkan ekuitas perseroan. Pasalnya, nilai penjualan lebih tinggi dari nilai buku.

Direktur Visi Media Asia Sahid Mahudie sebelumnya mengatakan VIVA akan restrukturisasi fasilitas utang yang ada melalui pembiayaan kembali dalam mata uang lokal untuk menurunkan risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Pun, perseroan berencana untuk mendapatkan tambahan fasilitas kredit modal kerja Menurutnya, fasilitas utang dari bank lokal memiliki tenor pinjaman yang lebih panjang serta bunga yang lebih kompetitif.

“Kita akan terus mencari alternatif-alternatif untuk menyelesaikan atau deleveraging utang,” katanya, Rabu (30/12/2020).

Per September 2020, liabilitas jangka pendek VIVA mencapai Rp8,03 triliun, naik dari akhir 2019 sebesar Rp7,11 triliun. Adapun, liabilitas jangka panjang Rp415,21 miliar, sehingga total liabilitas mencapai Rp8,44 triliun.

Sumber: BISNIS

Saham VIVA | PENDAPATAN VIVA Rp458,89 MILIAR HINGGA MARET 2020


IQPlus, (11/08) - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) meraih pendapatan usaha sebesar Rp458,89 miliar hingga periode 31 Maret 2020 turun dari pendapatan usaha Rp522,96 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan seperti dikutip Selasa menyebutkan, beban usaha turun menjadi Rp477,72 miliar dari Rp520,77 miliar membuat rugi usaha diderita Rp18,82 miliar usai meraih laba usaha Rp2,19 miliar tahun sebelumnya.

Rugi selisih kurs diderita Rp723,46 miliar usai meraih laba kurs Rp58,92 miliar tahun sebelumnya menjadikan beban lain-lain neto naik tajam menjadi Rp982,36 miliar dari beban lain-lain neto Rp68,45 miliar tahun sebelumnya.

Rugi sebelum beban pajak penghasilan Rp1,00 triliun naik tajam dari rugi sebelum beban pajak Rp66,5 miliar tahun sebelumnya. Rugi yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk naik menjadi Rp963,72 miliar dari rugi Rp90,45 miliar tahun sebelumnya.

Total aset perseroan mencapai Rp8,49 triliun hingga periode 31 Maret 2020 turun dari total aset Rp8,57 triliun yang tercatat hingga periode 31 Desember 2019. (end)

Saham VIVA | RUGI VISI MEDIA ASIA TURUN HINGGA PERIODE 31 DESEMBER 2019


IQPlus, (26/06) - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) alami penurunan rugi yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk hingga periode 31 Desember 2019 menjadi Rp550,83 miliar dari rugi Rp1,10 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Kamis menyebutkan, pendapatan usaha turun menjadi Rp2,12 triliun dari Rp2,40 triliun dan beban usaha turun menjadi Rp2,15 triliun dari Rp2,34 triliun dan rugi usaha diderita Rp31,92 miliar usai meraih laba usaha Rp57,37 miliar tahun sebelumnya.

Namun beban lain-lain neto turun tajam menjadi Rp473,76 miliar dibandingkan beban lain-lain neto tahun sebelumnya yang Rp1,14 triliun membuat rugi sebelum beban pajak surut menjadi Rp505,67 miliar dari rugi sebelum beban pajak tahun sebelumnya yang Rp1,09 triliun.

Total aset perseroan hingga periode 31 Desember 2019 mencapai Rp8,57 triliun naik dari total aset Rp8,02 triliun hingga periode 31 Desember 2018. (end)

Rekomendasi Saham BBNI, CLEO, MYOR dan VIVA | Panin Sekuritas

Daily Technical 9 Oktober 2019

Selamat pagi! Berikut adalah rekomendasi Daily Technical untuk hari ini, Rabu 9 Oktober 2019.

IHSG ditutup menguat sebesar 39,01 poin (+0.65%) menuju level 6.039,60 pada perdagangan hari Selasa 8 Oktober 2019 kemarin. IHSG masih dalam pengujian level 6.000 dan sejauh ini berhasil, dan terlihat tertolong dari sentimen damai dagang yang berdasarkan kabar media, semakin terasa dan dekat sehingga bursa Asia mengalami penguatan pada awal perdagangan.
Hari ini IHSG berpotensi menguat dalam range 6.000 s/d 6.080.

BBNI
Technical Pattern: Membentuk pola bullish harami, berpotensi mengalami technical rebound.
Rekomendasi: Buy 6800 s/d 6825, TP 7000 s/d 7100, stop loss <6750 .="" p="">
CLEO
Technical Pattern: Mengkonfirmasi pola pennant, berpotensi melanjutkan penguatan.
Rekomendasi: Buy 565 s/d 575, TP 600, stop loss <540 .="" p="">
MYOR
Testing Resistance: Menguji resistance pada 2520, dapat dijadikan target mengingat posisi harga yang masih jauh.
Rekomendasi: Buy 2300 s/d 2340, TP 2520, stop loss <2250 .="" p="">
VIVA
Technical Pattern: Membentuk pola hammer, berpotensi rebound.
Rekomendasi: Buy 80 s/d 83, TP 90 s/d 94, stop loss <76 .="" p="">
Semoga bermanfaat, happy trading!

Best Regards,
Panin Sekuritas

Analisa Saham BBRI, KBLI, TRAM dan VIVA

Analisa Saham BBRI, KBLI, TRAM dan VIVA


BBRI menuju penutupan gap pada level 4100. Namun hari ini diperkirakan pergerakan akan sedikit mendatar karena terhadang resistance psikologis 4000.
Rekomendasi: buy 3900 s/d 3920, TP 4000 s/d 4100, stop loss <3750 .="" p="">
KBLI mencoba kembali uptrend dengan membentuk support pada 500. Lakukan pembelian selama support ini tidak ditembus turun.
Rekomendasi: buy and hold >500, TP 550 s/d 600, stop loss <450 .="" p="">
TRAM menguji resistance MA60 dengan membentuk pola bullish engulfing. Jika MA60 ini berhasil ditembus maka penguatan akan berlanjut.
Rekomendasi: buy on breakout 130, TP 150, stop loss <110 .="" p="">
VIVA menguat menguji resistance EMA26 dengan pola bullish engulfing. Jika pola ini terkonfirmasi maka penguatan akan berlanjut.
Rekomendasi: buy on breakout 132, TP 150, stop loss <120 .="" p="">
Panin Sekuritas

Saham VIVA | VIVA Mengundang Investor Baru


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) berniat menerbitkan saham baru lewat penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMT-HMETD). Anak usaha Grup Bakrie ini menggelar aksi private placement untuk memperkuat struktur modal.

Visi Media akan menerbitkan maksimal sebanyak 1,65 miliar unit saham. Angka ini setara 10% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh perusahaan.

Presiden Direktur PT Visi Media Asia Tbk Anindya Novyan Bakrie mengemukakan private placement akan dilaksanakan setelah mendapatkan calon investor yang berminat.

Selanjutnya akan diketahui berapa harga pelaksanaan private placement tersebut. "Saham akan ditawarkan secara terbuka kepada publik, pemegang saham sebelumnya, pemegang saham dari Grup VIVA, maupun berbagai mitra," kata dia, Kamis (25/4).

Kelak, modal yang diraih dari penambahan saham baru tersebut akan ditempatkan dan disetorkan di seri A. Penambahan ini menaikkan 9,09% jumlah modal yang ditempatkan dan disetor seri A, dari semula Rp 1,54 triliun menjadi Rp 1,71 triliun. "Ini awal yang baik, secara umum VIVA Group open for business," ucap Anindya.

VIVA menggelar aksi korporasi ini untuk memperkuat kantong keuangannya. Bersama anak usahanya, ANTV dan TVOne, Grup VIVA melihat saat ini adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan struktur permodalan.

Grup VIVA memilih strategi memperkuat ekuitas supaya struktur modal menjadi kuat dan sehat. "Dana yang diperoleh bukan pinjaman atau utang, maka penerbitan saham akan memperkuat struktur modal VIVA dan mengurangi beban utang TVOne," ungkap Anindya.

Manajemen VIVA juga optimistis aksi koperasi ini akan berjalan sukses melihat kondisi pasar yang membaik usai masa pemilihan umum. Fundamental bisnis VIVA juga ada tanda-tanda perbaikan di kuartal pertama tahun ini, setelah tahun lalu mencatatkan kinerja negatif. Sepanjang 2018, VIVA menderita kerugian bersih Rp 1,1 triliun. Padahal, pada tahun 2017 mereka masih membukukan laba bersih senilai Rp 151,66 miliar. Pendapatan bersihnya menurun 13% menjadi Rp 2,40 triliun. "Januari hingga Maret tahun ini bisa dibilang bulan yang relatif lebih lambat, namun kami melihat sudah ada perbaikan," kata Anindya.

Anindya memproyeksikan kinerja tahun ini akan lebih baik ketimbang tahun lalu.Katalisnya adalah pendapatan iklan TV One dari ajang pemilu. Porsi iklan pesta politik lima tahunan ini berkontribusi sebesar 30% dari total pendapatan VIVA. "Selain itu menjelang Ramadan, biasanya ANTV akan banyak program reality show yang dapat menambah rating dan pendapatan," kata dia.

Kabar Pieter Tanuri masuk

Sepanjang tahun lalu, VIVA membukukan kerugian senilai sekitar Rp 1,1 triliun. Di sisi lain, anak usaha Grup Bakrie ini memiliki utang US$ 9,4 juta yang akan jatuh tempo pada Oktober 2019.

Sempat beredar kabar pengusaha Pieter Tanuri dan Erick Thohir bakal membeli saham VIVA melalui private placement. Anindya tidak mau berkomentar. "Saya juga dengar rumor itu dari media, tentunya kami tidak berani bicara dulu saat ini. Lebih baik kita tidak bahas dulu di sini," kata dia.

Pieter Tanuri juga irit bicara. "No comment," kata dia. Sebelumnya berembus kabar dua pengusaha itu berencana membeli saham induk bisnis media Grup Bakrie, serta anak usahanya PT Intermedia Capital Tbk (MDIA). Namun belum diketahui mekanisme transaksinya.

Analisa Saham VIVA | Sinyal Positif

ANALISA SAHAM VIVA

Pada perdagangan kemarin saham VIVA menguat sebesar +6.67% dengan di tutup di 160 naik 10 point. Pada perdagangan kemarin saham VIVA ditutup dengan berhasil cross up MA 20 dengan Volume lebih besar dari pada Volume rata-rata (20). Secara Trend saham VIVA masih dalam kondisi konsolidasi dan secara major trend masih dalam posisi uptrend. Setelah berhasil membuat Higher Low , kemungkinan besar Saham VIVA akan membuat Higher Highnya. 
Jika dilihat dari indikator MACD , saham VIVA MACD nya 1-2 hari lagi akan Golden Cross , sehingga akan memberikan signal positif untuk para trader technicalist. 

Trading Idea : 
Buy : 155-158 
CL : 138-140 
TP : 175-178 
#DisclaimerON 


**Lakukan Analisa ulang sebelum melakukan pembelian

Reference:

Saham VIVA | Bayar Utang dan Cari Modal Kerja, Visi Media (VIVA) Gelar Private Placement

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mencari dana segar untuk membayar utang dan menambah modal kerja. Perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini akan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD).

Sesuai ketentuan, VIVA dapat menerbitkan maksimal 10% saham baru dari modal ditempatkan dan disetor penuh, atau sekitar 1,65 miliar saham. Nantinya, dana dari private placement itu akan digunakan untuk membayar sebagian utang anak usaha VIVA, PT Lativi Mediakarya yang jatuh tempo pada Oktober 2019 mendatang. Nilainya mencapai US$ 9,41 juta. 

Utang tersebut merupakan bagian dari senior facility agreement tahun 2017 yang sebesar US$ 173,60 juta. Utang ini dijamin oleh VIVA. Selain untuk membayar utang, hasil private placement juga digunakan untuk pengembangan usaha VIVA di tahun ini. 

Berdasarkan prospektus VIVA yang terbit Senin (18/3), perusahaan berencana menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk aksi korporasi ini pada 25 April 2019. Jika disetujui, VIVA dapat menerbitkan saham baru tersebut dalam kurun waktu dua tahun sejak tanggal RUPSLB. 

Harga pelaksanaan private placement itu akan dihitung dari harga saham rata-rata selama kurun waktu 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler sebelum tanggal pencatatan saham tambahan. Jika berjalan sesuai rencana, aksi korporasi itu bakal digelar pada bulan Mei 2019 mendatang. Pelaksanaan private placement tersebut memiliki dampak dilusi sebesar 9,09% terhadap pemegang saham. 

VIVA belum menyebutkan pihak yang akan menjadi pembeli strategis dalam private placement tersebut. Namun sebelumnya sempat beredar kabar, salah satu investor strategis yang akan mengambil saham baru VIVA adalah Direktur Utama PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) Pieter Tanuri. 

Bahkan, menurut sumber KONTAN, Pieter sempat bertemu dengan Anindya Novyan Bakrie yang merupakan Presiden Direktur VIVA. Meski begitu, dia masih enggan berkomentar. "Saya no comment dulu," kata Pieter saat dihubungi KONTAN.

Hingga kuartal III 2018, kinerja VIVA masih lesu. Pendapatannya mencapai Rp 1,95 triliun, hanya naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp 1,93 triliun. Lalu, VIVA juga masih membukukan kerugian sebelum pajak sebesar Rp 472,71 miliar. 

Total liabilitas perusahaan mencapai Rp 6,1 triliun, dengan liabilitas jangka pendek sebesar Rp 2,6 triliun. Usai private placement dan pembayaran utang, liabilitas jangka pendek akan turun menjadi Rp 2,2 triliun dan total liabilitas akan berkurang menjadi Rp 5,6 triliun. 


Sumber : KONTAN

Berita Saham VIVA | VIVA Naik Lagi, Benarkah Pieter Tanuri & Erick Thohir Masuk?

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) dikabarkan sedang diborong sejumlah investor kakap. Ini membuat harga saham berkode VIVA tersebut terus menguat dalam beberapa waktu terakhir. 

Nama Pieter Tanuri dan Erick Thohir dikabarkan menjadi pemborong saham VIVA, berdasarkan informasi dari pelaku pasar yang mengetahui rencana tersebut. 

Dari awal tahun hingga penutupan perdagangan hari ini, Senin (11/2/2019), harga saham VIVA sudah tercatat naik 35,88%. Hari ini saja harga saham VIVA tercatat naik 6,59% dengan volume perdagangan yang cukup besar sebanyak 55,3 juta saham senilai Rp 9,58 miliar. 

CNBC Indonesia mencoba mengkonfirmasi hal ini kepada Pieter Tanuri, yang juga merupakan Presiden Direktur PT Multistarda Arah Sarana Tbk (MASA). Pieter masih enggan menanggapi hal tersebut, dan mengatakan kabar tersebut sengaja dihembuskan untuk menaikkan harga saham.

Beberapa waktu lalu, Produsen ban asal Perancis, Michelin mengumumkan mengakuisisi Multistrada Arah Sarana. Akuisisi itu dilakukan Michelin untuk memperkuat pasar di Indonesia yang sedang berkembang dengan pesat. 

Michelin mengakuisisi 80% saham Multistrada senilai US$439 juta (Rp 6,2 triliun), Selasa (22/1/2019) melalui pembiayaan internal perusahaan. Artinya Pieter Tanuri mendapatkan dana segar dari penjulan tersebut. 

Saat ditanya, apakah dana tersebut akan diinvestasikan dengan membeli saham VIVA, Ia hanya menjawab, "Transaksinya [Multitrada] saja belum selesai. Fokus ke sini saja dulu. Kita lihat saja nanti," kata Piter.

Sementara itu, Erick Thohir, pemilik kelompok usaha Mahaka Grup, yang juga direktur utama PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) saat diminta konfirmasi hal yang sama, sama sekali tidak memberikan respons.

Erick juga baru melepas 31,05% saham klub sepak bola Italia yang berlaga di Serie A, Inter Milan kepada Perusahaan investasi yang berbasis di Hong Kong, Lion Rock Capital. Transaksi ini membuat Erick tak lagi tercatat sebagai pemegang saham Inter Milan.

Seperti diberitakan oleh La Gazetta Della Sport, total nilai transaksi pelepasan saham tersebut mencapai 150 juta euro atau sekitar Rp 2,4 triliun. Namun Erick menyangkal membeli saham VIVA.

Presinden Direktur VIVA Anindya Bakrie saat ditanya hal yang sama hanya menjelaskan bahwa fokus manajemen VIVA selalu untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan memberikan manfaat kepada stakeholders, termasuk menaikkan nilai perusahaan. 

Media di bawah Grup VIVA saat ini menjangkau 180 juta penduduk, di mana ANTV berada di Tier 1 Entertainment TV, lalu TV One berada di posisi puncak News dan Sports TV dan Viva.co.id dengan 20 juta unique users. "Fokus VIVA Group di 2019 adalah me-monetisasi kue iklan dengan audience share nya yang meyakinkan," kata Anindya.

Anindya menambahkan, sebagai perusahaan publik manajemen VIVA, harus dan akan menyampaikan keterbukaan informasi apabila ada corporate action yang perlu di laporkan.


Analisa Saham AALI, BBKP, SOCI dan VIVA | 25 Januari 2019

Daily Technical 25 Januari 2019

Selamat pagi! Berikut adalah rekomendasi Daily Technical untuk hari ini, Jumat 25 Januari 2019.

IHSG ditutup menguat sebesar 15,5 poin (+0.16%) menuju 6.466,65 pada perdagangan hari Kamis 24 Januari 2019 kemarin. IHSG kembali menguat setelah mendapat “suntikan” dana investor asing menjelang penutupan pasar. Perhatian pasar hari ini adalah pada rupiah dan masih ada atau tidaknya nett buy investor asing. Namun jika memperhitungkan nett buy masih berlangsung sampai dengan kemarin, maka idealnya kenaikan IHSG akan berlanjut terus sampai mereka berbalik menjual.
Hari ini IHSG berpotensi menguat dalam range 6.420 s/d 6.500.

AALI membentuk pola hammer dengan posisi harga yang memantul dari support MA5 (bagian dilingkari), berpotensi rebound pada hari ini.
Rekomendasi: buy 13150, TP 13500, stop loss <13000 .="" p="">

BBKP membentuk pola bullish kicking yang menandakan penguatan akan berlanjut.
Rekomendasi: buy 354 s/d 360, TP 370 s/d 400 (swing), stop loss <350 .="" p="">

SOCI membentuk pola shooting star, pola ini merupakan indikasi koreksi. 
Namun jika koreksi terbatas pada support MA5 maka dapat dijadikan peluang membeli kembali.
Rekomendasi: buy 160, TP 164 s/d 170, stop loss <155 .="" p="">

VIVA membentuk pola bullish abandoned baby yang menjadi “pijakan” untuk melanjutkan kenaikannya setelah breakout dari 163.
Rekomendasi: buy on breakout 163, TP 170 s/d 180, stop loss <145 .="" p="">

Semoga bermanfaat, happy trading!

Best Regards,
Panin Sekuritas


Saham VIVA | PT Visi Media Asia Tbk Rugi 200an Milyar


VISI MEDIA ASIA RUGI Rp204,44 MILIAR HINGGA JUNI 2018.
IQPlus, (30/10) - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mencatat rugi yang dapat didistribusikan ke pemilik entitas induk hingga periode 30 Juni 2018 sebesar Rp204,44 miliar usai meraih laba Rp217,45 miliar di periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, pendapatan usaha naik menjadi Rp1,37 triliun dari Rp1,33 triliun tahun sebelumnya dan beban usaha naik menjadi Rp1,11 triliun dari Rp976,24 miliar.

Laba usaha turun menjadi Rp256,53 miliar dari laba usaha Rp354,09 miliar dan beban lain-lain diderita Rp428,85 miliar dari pendapatan lain-lain Rp1,55 miliar tahun sebelumnya dan rugi sebelum beban pajak tercatat Rp172,32 miliar usai meraih laba sebelum beban pajak Rp355,64 miliar hingga Juni tahun sebelumnya.

Total aset perseroan mencapai Rp8,43 triliun hingga 30 Juni 2018 naik dari Rp7,73 triliun total aset hingga 31 Desember 2017. (end)
http://www.iqplus.info/news/stock_news/viva-visi-media-asia-rugi-rp204-44-miliar-hingga-juni-2018,02083448.html

Saham VIVA | PT Visi Media Asia Optimis Eksis


PT Visi Media Asia (VIVA) meyakini, industri penyiaran televisi bisa tetap eksis dan mampu bertahan di tengah ancaman film streaming dan layanan over-the-top (OTT/televisi berbayar), lantaran publik tetap menyukai konten bernuansa lokal.

"Kami optimistis, wakauoun ada ancaman dari OTT, tetapi kami meyakini industri penyiaran televisi di Indonesia akan tetap survive," kata Direktur VIVA, Neil R Tobing dalam konferensi "Indonesia Digital Summit 2018" di Jakarta, Selasa.

Dia menjelaskan, sejauh ini penonton di dalam negeri masih akan tetap menyukai konten-konten bernuansa lokal yang dihadirkan industri pertelevisian. "Penonton di Indonesia lebih menyukai konten dengan flavor lokal," ucapnya.

Berdasarkan survei Nielsen, kata Niel, pada televisi berbayar terdapat sepuluh konten tertinggi ditonton melalui Pay-TV yang merupakan televisi nasional. "Saat ini OTT sedang luar biasa, seperti Netflix dan iflix, sayangnya di Indonesia belum ada, masih asing semua OTT-nya," ucap Neil.

Namun, jelas dia, industri penyiaran televisi harus berbenah dan konsisten menampilkan konten berkualitas untuk menjaga loyalitas penonton. "Selain itu, iinovasi digital konten-konten di televisi bisa ditayangkan secara digital atau portal, telepon selular dan komputer," imbuhnya.

Dia menambahkan, upaya pengembangan industri penyiaran tersebut, pada 24-26 Oktober 2018 akan dilaksanakan "NXT Indonesia 2018" di Jakarta, untuk menyukseskan peta infrastruktur digital melalui transformasi digital.

"Pameran akan dihadiri lebih dari 100 eksibitor dengan 5.000 buyers dan profesional di industri terkait. Kita sedang menghadapi tentangan baru untuk bisa beradaptasi di era transformasi digital yang terus berevolusi," papar Neil.

Sementara itu, berdasarkan penelitian McKisey & Company, pengembangan infrastruktur digital di Indonesia akan membawa peluang perolehan pendapatan senilai US$150 miliar dengan pengguna internet mencapai 143,26 juta orang atau 50 persen dari total penduduk Indonesia. (end/fu)

http://www.iqplus.info/news/stock_news/viva-viva-optimis-tetap-survive-di-tengah-ancaman-tv-berbayar,81165616.html

Analisa Saham VIVA, KRAS, LEAD, ADRO dan INDR [QuickView] | 25 Juli 2018


1. #VIVA : Posisi saat ini Uptrend dengan Koreksi, akumulasi Small distribusi dengan market interest Overbought, resist di (208) dan support di (186), batasi resiko di < 198.

2. #KRAS : Posisi saat ini Uptrend dengan Penguatan, akumulasi bagus dengan market interest
Middle to overbought, resist di (442) dan support di (400), hold selama > 422.

3. #LEAD : Posisi saat ini Sideways UP dengan Koreksi, akumulasi Small distribusi dengan market interest Middle to overbought, resist di (95) dan support di (79), batasi resiko di < 88.

4. #ADRO : Posisi saat ini Sideways UP dengan Penguatan, akumulasi netral dengan market interest Middle to overbought, resist di (1930) dan support di (1755), hold selama > 1828.

5. #INDR : Posisi saat ini Downtrend dengan Penguatan, akumulasi netral dengan market interest Middle to overbought, resist di (7975) dan support di (5450), follow up bila >6155.

by TemanTrader

Analisa Saham VIVA, TINS dan BBCA | 24 Juli 2018


Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Senin (23/7) dengan penguatan 0,73%. Berikut rekomendasi tiga saham pilihan dari sejumlah analis untuk diperdagangankan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (24/7).

1. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA)
Menurut Achmad Yaki, Analis BCA Sekuritas muncul hanging man candle dengan RSI melemah dan Stochastic berpotensi Death Cross (DC) diikuti penurunan volume perdagangan. Kemarin juga gagal break Upper Bollinger Band (UBB)-nya.

Rekomendasi: sell on strength (SOS)
Support :Rp 191
Resistance : Rp 216

2. PT Timah Tbk (TINS)

Menurut Aditya Perdana Putra, Analis Semesta Indovest Sekuritas, saham Masih dalam tren konsolidasi, harga masih bertahan di atas ma5 dan ma20. Volume beli cukup stabil. RSI 63,7% (belum overbought). Waspadai jika harga bergerak di bawah level support 820.

Rekomendasi : hold
Support :Rp 820
Resistance: Rp 870

3. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Menurut Muhammad Wafi, Analis Bahana Sekuritas, saham BBCA masih di bullish channel namun kenaikannya terbatas, dan berpeluang menguji support MA100 untuk membuat higher low level.

Rekomendasi : sell on strength
Support : Rp 22.750
Resistance: Rp 23.650

http://investasi.kontan.co.id/news/simak-rekomendasi-teknikal-saham-viva-tins-bbca-untuk-besok

PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Bantah Divestasi PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)


Rumor terkait rencana PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) ingin mendivestasi anak usahanya, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) akhirnya terjawab. Perusahaan memastikan, tidak ada rencana tersebut.

"Rumor akan selalu menjadi rumor," ujar Presiden Direktur VIVA Anindya Novan Bakrie, Selasa (26/6).

Rumor akan dijualnya operator stasiun televisi ANTV itu sebelumnya memang sempat santer terdengar. Kabarnya rencana itu malah bakal diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) VIVA kemarin.

Bahkan, Citi Grup sempat merilis riset yang berisi skenario divestasi MDIA akhir bulan lalu. Dalam riset itu disebutkan, nilai divestasinya bisa mencapai Rp 12 triliun hingga Rp 14 triliun. Itu dengan asumsi 90% saham MDIA yang dilepas. Nilai ini menyiratkan price to earning ratio 15,6 kali-18,2 kali di 2018.

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) disebut-sebut sebagai calon terkuat pembeli saham MDIA. Rentang harga pembeliannya juga sudah sempat muncul, yakni Rp 350 hingga Rp 450 per saham.

Anindya memaklumi rumor tersebut. Karena menurutnya, MDIA merupakan perusahaan publik. Jadi, sederhananya MDIA bisa diperjualbelikan setiap hari. Tentu, butuh sebuah cerita guna memunculkan sisi permintaan dan suplainya.

"Kemungkinan rumor itu juga muncul karena memang hasil kinerja MDIA itu sendiri, jadi banyak yang tertarik," jelas Anindya.

MDIA memang menjadi penopang utama bisnis VIVA. Kuartal I tahun ini, pendapatan MDIA Rp 498,11 miliar. Secara garis besar, 79% dari pendapatan VIVA Rp 625,51 miliar di periode yang sama berasal dari MDIA. VIVA sendiri memiliki sekitar 89% saham MDIA.

Direktur Utama MDIA Erick Thohir mengungkapkan hal senada. Menurutnya, rumor soal divestasi MDIA itu tidak benar.

"Sebelumnya memang sempat banyak yang menanyakan, tapi seiring dengan berjalannya waktu akhirnya terjawab," jelas Erick.

http://investasi.kontan.co.id/news/viva-membantah-jual-saham-intermedia-capital-mdia

Perjuangan Emiten Grup Bakrie Perbaiki Keuangan


Emiten-emiten anggota Grup Bakrie masih berkutat memperbaiki kondisi keuangannya. Harapannya, sebagaimana dialami oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang juga perusahaan Grup Bakrie, harga saham emiten kelompok usaha Bakrie lainnya kembali menggeliat.

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) misalnya. Perusahaan ini tengah merekstrukturisasi total utang sebesar Rp 11 triliun dari 580 kreditur.  "Saat ini yang sudah berhasil direstrukturisasi adalah utang dari kreditur terbesar kami, Huawei, yang telah jadi pemegang saham sebesar 16%," ujar Robertus Bismarka, Direktur Utama BTEL, Selasa (26/6).

Porsi saham sebesar itu didapat setelah kreditur melakukan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp 1,238 triliun menjadi 6,19 miliar saham.

BTEL pada awal tahun ini juga sempat mendaftarkan permohonan Chapter 15 agar hasil PKPU BTEL dapat diakui sebagai penyelesaian bagi kreditur di Amerika Serikat (AS). Utang ini muncul dari penerbitan global bond dengan nilai emisi US$ 380 juta beberapa tahun lalu. Harapannya, proses ini bisa selesai sebelum tutup tahun 2018.

Pada kuartal IV-2018 dan kuartal I-2019, BTEL berencana mengelar proses Exchanger Offer. Proses ini menawarkan pertukaran Wesel Senior yang saat ini dimiliki kreditur dengan Wesel baru, yang terdiri atas OWK dan Porsi Tunai. Nantinya, kreditur pemilik OWK dapat melakukan konversi saham ke BTEL.

Jika proses restrukturisasi utang ini selesai dan seluruh OWK telah dikonversi, kepemilikan saham pendiri akan mengalami dilusi sampai 32%.

Selain BTEL, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) juga tengah mengupayakan restrukturisasi utang. Sebagai bagian dari restrukturisasi utang, perusahaan properti ini berniat menggelar reverse stock dengan rasio 10:1.

Rasio ini mempertimbangkan permintaan salah satu kreditur, Geo Link, yang menginginkan harga saham ELTY lebih wajar sebelum konversi utang Rp 500 miliar menjadi saham dilakukan.

Namun aksi korporasi ini ditentang oleh investor ritel pemegang saham ELTY. Investor ritel khawatir aksi reverse stock justru bakal merugikan mereka.

Kekhawatiran investor ritel muncul melihat reverse stock yang digelar PT Bakrie & Brothers Tbk. Emiten berkode BNBR ini menggabungkan saham sehingga harganya naik dari Rp 50 jadi Rp 500 per saham.

Tapi, tak lama, harga saham BNBR kembali anjlok. Kini, BNBR cuma dihargai Rp 70.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menyebut, hasil restrukturisasi utang tak menjamin membuat harga saham terkerek setelah aksi reverse stock dan restrukturisasi utang. "Artinya kalau dasar ekuitas tidak setinggi itu, meskipun di-reverse, sementara harga asli per lembar sahamnya di bawah Rp 50, otomatis akan turun lagi," ujar Frederik.

Namun, dia menilai aksi restrukturisasi dengan mengonversi saham punya sisi positif. Setidaknya, dalam beberapa kasus, kreditur yang berubah jadi investor bisa  ikut terlibat mengurus bisnis secara langsung.

BTEL Beralih Bisnis

Perusahaan telekomunikasi Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL),  tengah menjajaki peralihan bisnis ke industri penyelenggara infrastruktur media. Upaya itu merupakan respons atas rencana pemerintah terkait peralihan teknologi televisi dari analog ke digital.

Dengan begitu, setidaknya setiap perusahaan televisi membutuhkan infrastruktur baru. "Karena peralihan teknologi ini, dibutuhkan pembangunan lebih dari 1.500 tower baru di Indonesia", ujar Robertus Bismarka, Direktur Utama BTEL, Selasa (26/6).

Namun, manajemen belum bisa memaparkan berapa kebutuhan nilai investasinya. Yang terang, potensi pendapatan perusahaan dari bisnis ini bisa mencapai Rp 120 miliar per televisi. Itu dengan masa kontrak minimal 10 tahun.

Bisnis Baru BNBR

Sembari menyelam minum air. Walau masih dalam proses menuntaskan restrukturisasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tetap menyusun rencana pengembangan bisnis baru. Perusahaan ini melirik bisnis kawasan industri dan otomotif.

Direktur BNBR Amri Aswono Putro  bilang, perusahaan  sudah berhasil membebaskan lahan 500 hektare (ha) untuk kawasan industri. Tapi, BNBR masih merahasiakan lokasi kawasan ini.

Direktur Utama BNBR, Bobby Gafur Umar, pada kesempatan yang sama, menyebut, BNBR juga bakal fokus mengembangkan bis listrik dengan menggandeng BYD Auto, produsen baterai asal Tiongkok. "Sehingga bisnis kami tidak lagi bersifat musiman, tapi ada recurring income," ujar Bobby, Selasa (26/6).

VIVA Bantah Rumor

Rumor terkait rencana PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) ingin mendivestasi anak usahanya, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), akhirnya terjawab. Manajemen perusahaan tersebut memastikan, tidak ada rencana tersebut.

"Rumor akan selalu menjadi rumor," ujar Anindya Novan Bakrie, Presiden Direktur VIVA Selasa (26/6).

Anindya memaklumi rumor tersebut.  Menurut dia, MDIA merupakan perusahaan publik. Jadi sederhananya, MDIA bisa diperjualbelikan setiap hari. Tentu, butuh sebuah cerita guna memunculkan sisi permintaan dan pasokan.

"Kemungkinan rumor itu juga muncul karena memang hasil kinerja MDIA itu sendiri. Karena kinerjanya positif, sehingga menjadi banyak yang tertarik," jelas Anindya.

http://investasi.kontan.co.id/news/langkah-terjal-saham-emiten-grup-bakrie

Analisa Saham TINS, MNCN, VIVA dan IKAI | 7 Juni 2018


Selamat Pagi Sahabat Stock Preneur
Berikut beberapa saham pilihan hari ini 07 Juni 2018 (DAILY)

1. (TINS) Hari ini akan uji Resisten terdekat di 1035 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 1070 dan 1105. Stop Loss jika turun dibawah 965. Range Buy hari ini di 990-1020.

2. (MNCN) Hari ini akan uji resisten terdekat di 1240, Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 1260 dan 1300. Stop loss jika turun dibawah 1130. Range Buy hari ini 1200-1220.

3. (VIVA) Hari ini akan uji resisten terdekat di 234 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 248 dan 258. Stop loss jika turun dibawah 214. Range Buy hari ini di 224-230.

4. (IKAI) Hari ini akan uji resisten terdekat di 458 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 470 dan 500. Stop loss jika turun dibawah 412. Range Buy hari ini di 440-446.

FAST TRADE
1. POLY, Buy jika break 169, Target di 177 dan 187. Stop Loss jika turun dibawah 158
2. BGTG, Buy jika break 998, Target di 103 dan 112. Stop Loss jika turun dibawah  92

TETAP PERHATIKAN KONDISI MARKET JUGA YAH
Disclaimer On
STOCK PRENEUR
Semoga pada cuan hari ini.