PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mencatatkan penurunan kinerja bisnis selama periode semester I-2023. Hal ini disebabkan oleh menyusutnya pendapatan iklan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Visi Media Asia (VIVA) Catat Pendapatan Turun 32,26% di Semester I-2023
PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mencatatkan penurunan kinerja bisnis selama periode semester I-2023. Hal ini disebabkan oleh menyusutnya pendapatan iklan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Raih Pendapatan Usaha Rp619,92 Miliar Hingga Juni 2023
[VIVA] PT Visi Media Asia Tbk menyetujui penjualan 39% saham Intermedia
PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) resmi menyetujui rencana penjualan 39% saham di perusahaan induk PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Dalam konferensi pers yang digelar, dijelaskan besaran saham yang dilepas VIVA setara dengan Rp15,29 miliar saham kepada Reliance Capital International Limited (RCIL), pihak yang disetujui kreditur untuk melaksanakan jual beli saham tersebut.
Penjualan saham MDIA dilakukan dengan nilai US$171,8 juta atau setara dengan Rp2,43 triliun atau Rp158 per saham. "Dengan diselesaikannya transaksi penjualan saham ini, VIVA akan menjadi perseroan bebas utang atau debt free company," ujar Presiden Direktur VIVA, Anindya Novyan Bakrie mengatakan dalam konferensi pers yang berlangsung virtual, Senin (15/3).
Sementara itu, dalam keterbukaan Informasi yang dikeluarkan Rabu (10/3) lalu, manajemen VIVA menjelaskan bahwa transaksi penjualan saham MDIA merupakan bagian dari skema penyelesaian atau pelunasan seluruh utang Grup VIVA berdasarkan Debt Settlement Agreement (DSA) yang ditandatangani pada 22 Desember 2020 lalu.
Sebagai informasi, dalam DSA juga disebutkan Grup VIVA dan para kreditur telah menyepakati hal-hal antara lain posisi akhir total pinjaman pokok VIVA yang terutang sebesar US$239,77 juta yang terdiri dari utang pokok berdasarkan Junior Facility Agreement sebesar US$78,37 juta dan utang pokok berdasarkan Senior Facility Agreement sebesar US$161,39 juta.
Lebih lanjut, sebagian utang senior facility yang menjadi tanggung jawab ANTV akan diselesaikan melalui fasilitas refinancing yang akan diperoleh ANTV dari perbankan nasional sebesar Rp960 miliar atau setara dengan US$67,94 juta dolar AS (Cash Settlement) dengan asumsi kurs tukar Rp14.130 per dolar AS, kurs tengah Bank Indonesia per 10 Desember 2020.
Total utang pokok setelah dikurangi cash settlement sebesar US$171,83 juta atau setara dengan Rp2,43 triliun akan dibayarkan melalui transaksi penjualan saham MDIA. Kemudian, seluruh bunga dan biaya-biaya yang telah timbul dan belum dibayarkan sehubungan dengan Senior Facility dan Junior Facility dihapuskan.
"Kami pastikan dengan cash settlement dan diselesaikannya transaksi penjualan saham MDIA, akan menyebabkan utang perseroan lunas dengan tetap memperhatikan ketentuan mengenai harga penjualan minimal saham obyek," tutupnya.
Sumber: KONTAN
[VIVA] PT Visi Media Asia Tbk Akan Lepas 39% Saham Anak Usaha PT Intermedia Capital Tbk.
PT Visi Media Asia Tbk.(VIVA) akan melepas 39 persen saham anak usaha PT Intermedia Capital Tbk. senilai US$171 juta dolar atau setara Rp2,4 triliun kepada Reliance Capital International Limited.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang diterbitkan VIVA, penjualan saham tersebut merupakan bagian dari skema pelunasan seluruh utang perseroan dana dua entitas anak usaha berdasarkan senior facility agreement sebagaimana disepakati dalam perjanjian penyelesaian utang pada 22 Desember 2020 lalu.
Menurut manajemen VIVA, posisi akhir dari pokok pinjaman yang terutang mencapai US$239,76 juta, terdiri dari pokok utang junior facility agreement senilai US$78,37 juta dan senior facility agreement sebesar US$161,39 juta.
Untuk diketahui, pinjaman senior dan junior tersebut bermula pada 1 November 2013 yang mana PT Cakrawala Andalas Televisi dan PT Lativi Mediakarya meneken perjanjian pinjaman senilai US$230 juta. CAT merupakan pengelola stasiun televisi ANTV sedangkan LM pengelola TVOne.
Pada 2017, para kreditur bersedia memberikan fasilitas pembiayaan kembali untuk melunasi utang yang diteken 2013. Fasilitas itu diberikan selama CAT dan LM menjadi pihak peminjam yang menerima dan menanggung sebagian fasilitas refinancing. Kemudian VIVA bertindak sebagai penjamin, menanggung alih kewajiban pembayaran kembali yang diterima CAT maupun LM.
Terkait dengan itu, pada 12 April 2017, VIVA meneken perjanjian pinjaman dengan CAT dan LM yang pada pokoknya kedua anak usaha itu akan memberikan pinjaman kepada perseroan. Adapun pinjaman tersebut berasal dari dana yang akan diperoleh CAT dan LM dari lembaga keuangan untuk refinancing utang pokok dan bunga Perseroan berdasarkan Credit Agreement.
Selanjutnya pada 17 Oktober 2017, refinancing tersebut bisa terlaksana dengan tenor 36 bulan dan bunga LIBOR plus margin 9 persen untuk pinjaman senior senilai US$173,6 juta. Adapun pinjaman junior sebesar US$78,37 juta memiliki jangka waktu 39 bulan dengan tingkat bunga 15 persen per tahun.
Pada akhir Desember 2020, VIVA bersama CAT dan LM menyelesaikan kewajiban pembayaran utang dengan para kreditor dan pihak lain yang terkait. Sebagai penjamin, VIVA diwajibkan untuk menanggung dan menyelesaikan total utang pokok setelah dikurangi cash settlement menjadi kuran glebih US$171,82 juta atau Rp2,42 triliun.
"Penyelesaian tersebut dilaksanakan melalui penjualan saham di anak perseroan menjual 15,29 miliar atau 39 persen dari seluruh saham disetor dan ditempatkan penuh dalam MDIA," demikian kutipan keterbukaan informasi VIVA, dikutip Bisnis, Kamis (4/2/2021).
VIVA akan meminta restu pemegang saham terkait penjualan tersebut. Untuk itu perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa pada 15 Maret 2021.
Manajemen VIVA menyebut, dengan penjualan saham tersebut, kewajiban utang perseroa maupun entitas anak dalam denominasi dolar AS dapat dikurangi sehingga terhindar dari risiko kurs. Selain itu, posisi keuangan juga membaik dan meningkatkan ekuitas perseroan. Pasalnya, nilai penjualan lebih tinggi dari nilai buku.
Direktur Visi Media Asia Sahid Mahudie sebelumnya mengatakan VIVA akan restrukturisasi fasilitas utang yang ada melalui pembiayaan kembali dalam mata uang lokal untuk menurunkan risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Pun, perseroan berencana untuk mendapatkan tambahan fasilitas kredit modal kerja Menurutnya, fasilitas utang dari bank lokal memiliki tenor pinjaman yang lebih panjang serta bunga yang lebih kompetitif.
“Kita akan terus mencari alternatif-alternatif untuk menyelesaikan atau deleveraging utang,” katanya, Rabu (30/12/2020).
Per September 2020, liabilitas jangka pendek VIVA mencapai Rp8,03 triliun, naik dari akhir 2019 sebesar Rp7,11 triliun. Adapun, liabilitas jangka panjang Rp415,21 miliar, sehingga total liabilitas mencapai Rp8,44 triliun.
Sumber: BISNIS
Saham VIVA | PENDAPATAN VIVA Rp458,89 MILIAR HINGGA MARET 2020
IQPlus, (11/08) - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) meraih pendapatan usaha sebesar Rp458,89 miliar hingga periode 31 Maret 2020 turun dari pendapatan usaha Rp522,96 miliar di periode sama tahun sebelumnya.
Laporan keuangan perseroan seperti dikutip Selasa menyebutkan, beban usaha turun menjadi Rp477,72 miliar dari Rp520,77 miliar membuat rugi usaha diderita Rp18,82 miliar usai meraih laba usaha Rp2,19 miliar tahun sebelumnya.
Rugi selisih kurs diderita Rp723,46 miliar usai meraih laba kurs Rp58,92 miliar tahun sebelumnya menjadikan beban lain-lain neto naik tajam menjadi Rp982,36 miliar dari beban lain-lain neto Rp68,45 miliar tahun sebelumnya.
Rugi sebelum beban pajak penghasilan Rp1,00 triliun naik tajam dari rugi sebelum beban pajak Rp66,5 miliar tahun sebelumnya. Rugi yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk naik menjadi Rp963,72 miliar dari rugi Rp90,45 miliar tahun sebelumnya.
Total aset perseroan mencapai Rp8,49 triliun hingga periode 31 Maret 2020 turun dari total aset Rp8,57 triliun yang tercatat hingga periode 31 Desember 2019. (end)
Saham VIVA | RUGI VISI MEDIA ASIA TURUN HINGGA PERIODE 31 DESEMBER 2019
Rekomendasi Saham BBNI, CLEO, MYOR dan VIVA | Panin Sekuritas
Selamat pagi! Berikut adalah rekomendasi Daily Technical untuk hari ini, Rabu 9 Oktober 2019.
IHSG ditutup menguat sebesar 39,01 poin (+0.65%) menuju level 6.039,60 pada perdagangan hari Selasa 8 Oktober 2019 kemarin. IHSG masih dalam pengujian level 6.000 dan sejauh ini berhasil, dan terlihat tertolong dari sentimen damai dagang yang berdasarkan kabar media, semakin terasa dan dekat sehingga bursa Asia mengalami penguatan pada awal perdagangan.
Hari ini IHSG berpotensi menguat dalam range 6.000 s/d 6.080.
BBNI
Technical Pattern: Membentuk pola bullish harami, berpotensi mengalami technical rebound.
Rekomendasi: Buy 6800 s/d 6825, TP 7000 s/d 7100, stop loss <6750 .="" p="">
CLEO
Technical Pattern: Mengkonfirmasi pola pennant, berpotensi melanjutkan penguatan.
Rekomendasi: Buy 565 s/d 575, TP 600, stop loss <540 .="" p="">
MYOR
Testing Resistance: Menguji resistance pada 2520, dapat dijadikan target mengingat posisi harga yang masih jauh.
Rekomendasi: Buy 2300 s/d 2340, TP 2520, stop loss <2250 .="" p="">
VIVA
Technical Pattern: Membentuk pola hammer, berpotensi rebound.
Rekomendasi: Buy 80 s/d 83, TP 90 s/d 94, stop loss <76 .="" p="">
Semoga bermanfaat, happy trading!
Best Regards,
Panin Sekuritas76>2250>540>6750>
Analisa Saham BBRI, KBLI, TRAM dan VIVA
Analisa Saham BBRI, KBLI, TRAM dan VIVA
Rekomendasi: buy 3900 s/d 3920, TP 4000 s/d 4100, stop loss <3750 .="" p="">
KBLI mencoba kembali uptrend dengan membentuk support pada 500. Lakukan pembelian selama support ini tidak ditembus turun.
Rekomendasi: buy and hold >500, TP 550 s/d 600, stop loss <450 .="" p="">
TRAM menguji resistance MA60 dengan membentuk pola bullish engulfing. Jika MA60 ini berhasil ditembus maka penguatan akan berlanjut.
Rekomendasi: buy on breakout 130, TP 150, stop loss <110 .="" p="">
VIVA menguat menguji resistance EMA26 dengan pola bullish engulfing. Jika pola ini terkonfirmasi maka penguatan akan berlanjut.
Rekomendasi: buy on breakout 132, TP 150, stop loss <120 .="" p="">
Panin Sekuritas120>110>450>3750>
Saham VIVA | VIVA Mengundang Investor Baru
Analisa Saham VIVA | Sinyal Positif
ANALISA SAHAM VIVA
Saham VIVA | Bayar Utang dan Cari Modal Kerja, Visi Media (VIVA) Gelar Private Placement
Berita Saham VIVA | VIVA Naik Lagi, Benarkah Pieter Tanuri & Erick Thohir Masuk?
Analisa Saham AALI, BBKP, SOCI dan VIVA | 25 Januari 2019
Saham VIVA | PT Visi Media Asia Tbk Rugi 200an Milyar
VISI MEDIA ASIA RUGI Rp204,44 MILIAR HINGGA JUNI 2018.
IQPlus, (30/10) - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mencatat rugi yang dapat didistribusikan ke pemilik entitas induk hingga periode 30 Juni 2018 sebesar Rp204,44 miliar usai meraih laba Rp217,45 miliar di periode sama tahun sebelumnya.
Laporan keuangan perseroan Selasa menyebutkan, pendapatan usaha naik menjadi Rp1,37 triliun dari Rp1,33 triliun tahun sebelumnya dan beban usaha naik menjadi Rp1,11 triliun dari Rp976,24 miliar.
Laba usaha turun menjadi Rp256,53 miliar dari laba usaha Rp354,09 miliar dan beban lain-lain diderita Rp428,85 miliar dari pendapatan lain-lain Rp1,55 miliar tahun sebelumnya dan rugi sebelum beban pajak tercatat Rp172,32 miliar usai meraih laba sebelum beban pajak Rp355,64 miliar hingga Juni tahun sebelumnya.
Total aset perseroan mencapai Rp8,43 triliun hingga 30 Juni 2018 naik dari Rp7,73 triliun total aset hingga 31 Desember 2017. (end)
http://www.iqplus.info/news/stock_news/viva-visi-media-asia-rugi-rp204-44-miliar-hingga-juni-2018,02083448.html
Saham VIVA | PT Visi Media Asia Optimis Eksis
PT Visi Media Asia (VIVA) meyakini, industri penyiaran televisi bisa tetap eksis dan mampu bertahan di tengah ancaman film streaming dan layanan over-the-top (OTT/televisi berbayar), lantaran publik tetap menyukai konten bernuansa lokal.
"Kami optimistis, wakauoun ada ancaman dari OTT, tetapi kami meyakini industri penyiaran televisi di Indonesia akan tetap survive," kata Direktur VIVA, Neil R Tobing dalam konferensi "Indonesia Digital Summit 2018" di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan, sejauh ini penonton di dalam negeri masih akan tetap menyukai konten-konten bernuansa lokal yang dihadirkan industri pertelevisian. "Penonton di Indonesia lebih menyukai konten dengan flavor lokal," ucapnya.
Berdasarkan survei Nielsen, kata Niel, pada televisi berbayar terdapat sepuluh konten tertinggi ditonton melalui Pay-TV yang merupakan televisi nasional. "Saat ini OTT sedang luar biasa, seperti Netflix dan iflix, sayangnya di Indonesia belum ada, masih asing semua OTT-nya," ucap Neil.
Namun, jelas dia, industri penyiaran televisi harus berbenah dan konsisten menampilkan konten berkualitas untuk menjaga loyalitas penonton. "Selain itu, iinovasi digital konten-konten di televisi bisa ditayangkan secara digital atau portal, telepon selular dan komputer," imbuhnya.
Dia menambahkan, upaya pengembangan industri penyiaran tersebut, pada 24-26 Oktober 2018 akan dilaksanakan "NXT Indonesia 2018" di Jakarta, untuk menyukseskan peta infrastruktur digital melalui transformasi digital.
"Pameran akan dihadiri lebih dari 100 eksibitor dengan 5.000 buyers dan profesional di industri terkait. Kita sedang menghadapi tentangan baru untuk bisa beradaptasi di era transformasi digital yang terus berevolusi," papar Neil.
Sementara itu, berdasarkan penelitian McKisey & Company, pengembangan infrastruktur digital di Indonesia akan membawa peluang perolehan pendapatan senilai US$150 miliar dengan pengguna internet mencapai 143,26 juta orang atau 50 persen dari total penduduk Indonesia. (end/fu)
http://www.iqplus.info/news/stock_news/viva-viva-optimis-tetap-survive-di-tengah-ancaman-tv-berbayar,81165616.html
Analisa Saham VIVA, KRAS, LEAD, ADRO dan INDR [QuickView] | 25 Juli 2018
1. #VIVA : Posisi saat ini Uptrend dengan Koreksi, akumulasi Small distribusi dengan market interest Overbought, resist di (208) dan support di (186), batasi resiko di < 198.
2. #KRAS : Posisi saat ini Uptrend dengan Penguatan, akumulasi bagus dengan market interest
Middle to overbought, resist di (442) dan support di (400), hold selama > 422.
3. #LEAD : Posisi saat ini Sideways UP dengan Koreksi, akumulasi Small distribusi dengan market interest Middle to overbought, resist di (95) dan support di (79), batasi resiko di < 88.
4. #ADRO : Posisi saat ini Sideways UP dengan Penguatan, akumulasi netral dengan market interest Middle to overbought, resist di (1930) dan support di (1755), hold selama > 1828.
5. #INDR : Posisi saat ini Downtrend dengan Penguatan, akumulasi netral dengan market interest Middle to overbought, resist di (7975) dan support di (5450), follow up bila >6155.
by TemanTrader
Analisa Saham VIVA, TINS dan BBCA | 24 Juli 2018
Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Senin (23/7) dengan penguatan 0,73%. Berikut rekomendasi tiga saham pilihan dari sejumlah analis untuk diperdagangankan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (24/7).
1. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA)
Menurut Achmad Yaki, Analis BCA Sekuritas muncul hanging man candle dengan RSI melemah dan Stochastic berpotensi Death Cross (DC) diikuti penurunan volume perdagangan. Kemarin juga gagal break Upper Bollinger Band (UBB)-nya.
Rekomendasi: sell on strength (SOS)
Support :Rp 191
Resistance : Rp 216
2. PT Timah Tbk (TINS)
Menurut Aditya Perdana Putra, Analis Semesta Indovest Sekuritas, saham Masih dalam tren konsolidasi, harga masih bertahan di atas ma5 dan ma20. Volume beli cukup stabil. RSI 63,7% (belum overbought). Waspadai jika harga bergerak di bawah level support 820.
Rekomendasi : hold
Support :Rp 820
Resistance: Rp 870
3. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Menurut Muhammad Wafi, Analis Bahana Sekuritas, saham BBCA masih di bullish channel namun kenaikannya terbatas, dan berpeluang menguji support MA100 untuk membuat higher low level.
Rekomendasi : sell on strength
Support : Rp 22.750
Resistance: Rp 23.650
http://investasi.kontan.co.id/news/simak-rekomendasi-teknikal-saham-viva-tins-bbca-untuk-besok
PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Bantah Divestasi PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)
Rumor terkait rencana PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) ingin mendivestasi anak usahanya, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) akhirnya terjawab. Perusahaan memastikan, tidak ada rencana tersebut.
"Rumor akan selalu menjadi rumor," ujar Presiden Direktur VIVA Anindya Novan Bakrie, Selasa (26/6).
Rumor akan dijualnya operator stasiun televisi ANTV itu sebelumnya memang sempat santer terdengar. Kabarnya rencana itu malah bakal diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) VIVA kemarin.
Bahkan, Citi Grup sempat merilis riset yang berisi skenario divestasi MDIA akhir bulan lalu. Dalam riset itu disebutkan, nilai divestasinya bisa mencapai Rp 12 triliun hingga Rp 14 triliun. Itu dengan asumsi 90% saham MDIA yang dilepas. Nilai ini menyiratkan price to earning ratio 15,6 kali-18,2 kali di 2018.
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) disebut-sebut sebagai calon terkuat pembeli saham MDIA. Rentang harga pembeliannya juga sudah sempat muncul, yakni Rp 350 hingga Rp 450 per saham.
Anindya memaklumi rumor tersebut. Karena menurutnya, MDIA merupakan perusahaan publik. Jadi, sederhananya MDIA bisa diperjualbelikan setiap hari. Tentu, butuh sebuah cerita guna memunculkan sisi permintaan dan suplainya.
"Kemungkinan rumor itu juga muncul karena memang hasil kinerja MDIA itu sendiri, jadi banyak yang tertarik," jelas Anindya.
MDIA memang menjadi penopang utama bisnis VIVA. Kuartal I tahun ini, pendapatan MDIA Rp 498,11 miliar. Secara garis besar, 79% dari pendapatan VIVA Rp 625,51 miliar di periode yang sama berasal dari MDIA. VIVA sendiri memiliki sekitar 89% saham MDIA.
Direktur Utama MDIA Erick Thohir mengungkapkan hal senada. Menurutnya, rumor soal divestasi MDIA itu tidak benar.
"Sebelumnya memang sempat banyak yang menanyakan, tapi seiring dengan berjalannya waktu akhirnya terjawab," jelas Erick.
http://investasi.kontan.co.id/news/viva-membantah-jual-saham-intermedia-capital-mdia
Perjuangan Emiten Grup Bakrie Perbaiki Keuangan
Emiten-emiten anggota Grup Bakrie masih berkutat memperbaiki kondisi keuangannya. Harapannya, sebagaimana dialami oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang juga perusahaan Grup Bakrie, harga saham emiten kelompok usaha Bakrie lainnya kembali menggeliat.
PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) misalnya. Perusahaan ini tengah merekstrukturisasi total utang sebesar Rp 11 triliun dari 580 kreditur. "Saat ini yang sudah berhasil direstrukturisasi adalah utang dari kreditur terbesar kami, Huawei, yang telah jadi pemegang saham sebesar 16%," ujar Robertus Bismarka, Direktur Utama BTEL, Selasa (26/6).
Porsi saham sebesar itu didapat setelah kreditur melakukan konversi Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp 1,238 triliun menjadi 6,19 miliar saham.
BTEL pada awal tahun ini juga sempat mendaftarkan permohonan Chapter 15 agar hasil PKPU BTEL dapat diakui sebagai penyelesaian bagi kreditur di Amerika Serikat (AS). Utang ini muncul dari penerbitan global bond dengan nilai emisi US$ 380 juta beberapa tahun lalu. Harapannya, proses ini bisa selesai sebelum tutup tahun 2018.
Pada kuartal IV-2018 dan kuartal I-2019, BTEL berencana mengelar proses Exchanger Offer. Proses ini menawarkan pertukaran Wesel Senior yang saat ini dimiliki kreditur dengan Wesel baru, yang terdiri atas OWK dan Porsi Tunai. Nantinya, kreditur pemilik OWK dapat melakukan konversi saham ke BTEL.
Jika proses restrukturisasi utang ini selesai dan seluruh OWK telah dikonversi, kepemilikan saham pendiri akan mengalami dilusi sampai 32%.
Selain BTEL, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) juga tengah mengupayakan restrukturisasi utang. Sebagai bagian dari restrukturisasi utang, perusahaan properti ini berniat menggelar reverse stock dengan rasio 10:1.
Rasio ini mempertimbangkan permintaan salah satu kreditur, Geo Link, yang menginginkan harga saham ELTY lebih wajar sebelum konversi utang Rp 500 miliar menjadi saham dilakukan.
Namun aksi korporasi ini ditentang oleh investor ritel pemegang saham ELTY. Investor ritel khawatir aksi reverse stock justru bakal merugikan mereka.
Kekhawatiran investor ritel muncul melihat reverse stock yang digelar PT Bakrie & Brothers Tbk. Emiten berkode BNBR ini menggabungkan saham sehingga harganya naik dari Rp 50 jadi Rp 500 per saham.
Tapi, tak lama, harga saham BNBR kembali anjlok. Kini, BNBR cuma dihargai Rp 70.
Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menyebut, hasil restrukturisasi utang tak menjamin membuat harga saham terkerek setelah aksi reverse stock dan restrukturisasi utang. "Artinya kalau dasar ekuitas tidak setinggi itu, meskipun di-reverse, sementara harga asli per lembar sahamnya di bawah Rp 50, otomatis akan turun lagi," ujar Frederik.
Namun, dia menilai aksi restrukturisasi dengan mengonversi saham punya sisi positif. Setidaknya, dalam beberapa kasus, kreditur yang berubah jadi investor bisa ikut terlibat mengurus bisnis secara langsung.
BTEL Beralih Bisnis
Perusahaan telekomunikasi Grup Bakrie, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), tengah menjajaki peralihan bisnis ke industri penyelenggara infrastruktur media. Upaya itu merupakan respons atas rencana pemerintah terkait peralihan teknologi televisi dari analog ke digital.
Dengan begitu, setidaknya setiap perusahaan televisi membutuhkan infrastruktur baru. "Karena peralihan teknologi ini, dibutuhkan pembangunan lebih dari 1.500 tower baru di Indonesia", ujar Robertus Bismarka, Direktur Utama BTEL, Selasa (26/6).
Namun, manajemen belum bisa memaparkan berapa kebutuhan nilai investasinya. Yang terang, potensi pendapatan perusahaan dari bisnis ini bisa mencapai Rp 120 miliar per televisi. Itu dengan masa kontrak minimal 10 tahun.
Bisnis Baru BNBR
Sembari menyelam minum air. Walau masih dalam proses menuntaskan restrukturisasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tetap menyusun rencana pengembangan bisnis baru. Perusahaan ini melirik bisnis kawasan industri dan otomotif.
Direktur BNBR Amri Aswono Putro bilang, perusahaan sudah berhasil membebaskan lahan 500 hektare (ha) untuk kawasan industri. Tapi, BNBR masih merahasiakan lokasi kawasan ini.
Direktur Utama BNBR, Bobby Gafur Umar, pada kesempatan yang sama, menyebut, BNBR juga bakal fokus mengembangkan bis listrik dengan menggandeng BYD Auto, produsen baterai asal Tiongkok. "Sehingga bisnis kami tidak lagi bersifat musiman, tapi ada recurring income," ujar Bobby, Selasa (26/6).
VIVA Bantah Rumor
Rumor terkait rencana PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) ingin mendivestasi anak usahanya, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), akhirnya terjawab. Manajemen perusahaan tersebut memastikan, tidak ada rencana tersebut.
"Rumor akan selalu menjadi rumor," ujar Anindya Novan Bakrie, Presiden Direktur VIVA Selasa (26/6).
Anindya memaklumi rumor tersebut. Menurut dia, MDIA merupakan perusahaan publik. Jadi sederhananya, MDIA bisa diperjualbelikan setiap hari. Tentu, butuh sebuah cerita guna memunculkan sisi permintaan dan pasokan.
"Kemungkinan rumor itu juga muncul karena memang hasil kinerja MDIA itu sendiri. Karena kinerjanya positif, sehingga menjadi banyak yang tertarik," jelas Anindya.
http://investasi.kontan.co.id/news/langkah-terjal-saham-emiten-grup-bakrie
Analisa Saham TINS, MNCN, VIVA dan IKAI | 7 Juni 2018
Selamat Pagi Sahabat Stock Preneur
Berikut beberapa saham pilihan hari ini 07 Juni 2018 (DAILY)
1. (TINS) Hari ini akan uji Resisten terdekat di 1035 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 1070 dan 1105. Stop Loss jika turun dibawah 965. Range Buy hari ini di 990-1020.
2. (MNCN) Hari ini akan uji resisten terdekat di 1240, Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 1260 dan 1300. Stop loss jika turun dibawah 1130. Range Buy hari ini 1200-1220.
3. (VIVA) Hari ini akan uji resisten terdekat di 234 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 248 dan 258. Stop loss jika turun dibawah 214. Range Buy hari ini di 224-230.
4. (IKAI) Hari ini akan uji resisten terdekat di 458 Kalau berhasil break. Target selanjutnya di 470 dan 500. Stop loss jika turun dibawah 412. Range Buy hari ini di 440-446.
FAST TRADE
1. POLY, Buy jika break 169, Target di 177 dan 187. Stop Loss jika turun dibawah 158
2. BGTG, Buy jika break 998, Target di 103 dan 112. Stop Loss jika turun dibawah 92
TETAP PERHATIKAN KONDISI MARKET JUGA YAH
Disclaimer On
STOCK PRENEUR
Semoga pada cuan hari ini.
%20Logo.png)
%20Logo.png)














