Langsung ke konten utama

Modal Nekat, Ini Kisah Sukses Raam Punjabi Raja Sinetron Indonesia



Hampir 50 tahun berkarya di industri hiburan Tanah Air, Raam Punjabi telah melahirkan ribuan judul sinetron dan film. Mau tahu banyak mengenai sosok dan perjuangan si Raja Sinetron Indonesia yang sukses membangun gurita bisnis di bawah bendera PT Tripar Multivision Plus atau Multivision Plus (MVP)? Cekidot.

Multivision Plus dulu tidak sebesar sekarang. Perusahaan rumah produksi ini memiliki sejarah panjang yang menarik untuk dikupas. Apalagi ada tangan dingin dari seorang Raam Jethmal Punjabi. Semua dibangun dari nol atas dasar kecintaannya terhadap dunia perfilman.

Jatuh Bangun Bikin Film dan Sinetron

Jauh sebelum MVP hadir, Raam bersama dua kakaknya Dhamoo Punjabi dan Gobind Punjabi merupakan importir film lewat PT Indako Film di tahun 1967. Modal saat itu Rp30 juta, hasil banting stir dari importir tekstil yang sudah ditekuninya sejak 1964.

Selang 3 tahun kemudian, Pria kelahiran Surabaya 74 tahun silam itu mendirikan rumah produksi pertama PT Panorama Film pada 1971-1976. Duet bersama PT Aries Internasional Film, Raam memproduksi film Indonesia pertama berjudul “Mama.” Sayang disayang, film tersebut sepi peminat alias tidak laku.

Tak patah arang, film kedua pun lahir berjudul “Demi Cinta” dibintangi Sophan Sophian dan Widyawati. Lagi-lagi, saat dilempar ke pasaran, zonk. Baru di film ketiganya berjudul “Pengalaman Pertama” yang diperankan Roy Marten, Yati Octavia, dan Robby Sugara, dewi fortuna berpihak pada Raam. Film tersebut berhasil mencetak untung.

“Film pertama sama sekali tidak laku, yang kedua tidak laku, baru di film ketiga mendapat perhatian dari masyarakat dan untung,” kenang Raam Punjabi saat berbincang dengan Cermati.com, baru-baru ini.

Setelah keberuntungan pertama tersebut, Raam mendirikan PT Parkit Film pada 1979. Nasib baik terus menghampiri anak dari pasangan Jethmal Tolaram Punjabi dan Dhanibhai Jethmal Punjabi itu. Film komedi besutannya Warkop yang diperankan Dono, Kasino, Indro naik daun saat kondisi perfilman Indonesia sedang terpuruk di era 1980-an.

Seperti pepatah bilang pucuk dicinta ulam tiba, di tengah industri film Tanah Air yang kian meredup, masih ada stasiun televisi yang membawa angin segar bagi produser film dan tenaga kreatif lain. Ada peluang besar menggarap sinema elektronik atau sinetron, Raam mendirikan PT Tripar Multivision Plus bermodal Rp250 juta di tahun 1988. Uang itu digunakan untuk memproduksi sinetron perdana “Gara-Gara” oleh Lydia Kandao dan Jimmy Gideon.

Karya-karya Raam Punjabi terus berseliweran di sejumlah stasiun televisi sampai saat ini, di antaranya Semua Indah Karena Cinta, Indra Ketujuh, Karma The Series, dan masih banyak lainnya. Sedangkan untuk film yang pernah digarap dan sukses besar, di antaranya Soekarno, Sang Pencerah, Kuntilanak, 3 Srikandi, dan sebagainya.

Produser kawakan tersebut sedang menyiapkan 8 judul film baru hingga Juni 2019. Termasuk menyiapkan slot baru untuk sinetron-sinetron yang sedang tayang. Bahkan Raam sudah mulai putar otak membuat program pengganti jika penonton tidak minat lagi dengan sinetron tersebut.

Raam mengaku tak hafal persis berapa judul film dan sinetron yang telah diproduksi selama 48 tahun perjalanan kariernya. “Tapi kalau untuk sinetron totalnya sudah 20 ribu jam dan 202 judul film. Di library kami, ada ribuan judul,” kata Pria keturunan asal India itu.

Gurita bisnis Suami dari Raakhee Punjabi ini selain fokus pada produksi film, juga bermain di bisnis impor film. Usahanya semakin berkembang dan memiliki jaringan bioskop asal dalam negeri dengan merek Platinum Cineplex di 4 negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Timor Leste, Kamboja, dan Vietnam. Makin berkibar yah.

Mimpi Raam dalam waktu dekat adalah membawa perusahaannya go public. Rencana menggelar Innitial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta di pertengahan 2019 menyusul jejak MD Pictures yang lebih dulu menawarkan saham perdana.  

Cari Modal Sana Sini

Mencari modal usaha ratusan juta rupiah bukan perkara mudah. Apalagi menurut pengakuan Raam, saat itu mencari pinjaman ke bank sangat sulit karena harus menyerahkan agunan barang berharga, seperti properti. Kondisi tersebut berbeda dengan di luar negeri, di mana proyek film bisa menjadi jaminan kredit. Hal memilukan itu masih terus berlangsung hingga saat ini.

“Dulu sulit sekali mendapatkan modal, butuh nyali besar dari produsernya. Untung ada teman yang percaya pada kinerja saya. Akhirnya dia jadi investornya,” tutur Ayah dari tiga orang anak ini.

Namanya bisnis, pasti ada pasang surutnya. Modal ratusan juta rupiah lenyap karena produksi filmnya tidak laku di pasaran. Saat kehabisan modal, bersyukur si investor tetap menaruh dana dengan harapan uangnya akan kembali. Keadaannya begitu terus, sampai suatu ketika film garapan Raam menuai sukses.

Sejak saat itu, Raam bisa mengembalikan seluruh dana investor beserta keuntungannya. Serasa kapok, si investor malah mundur saat MVP mulai bangkit lantaran ogah lagi masuk ke bisnis yang penuh dengan risiko. Namun bagi Raam, itu bukanlah akhir dari segalanya.

“Bisnis itu kan seperti roda. Roda kalau dihentikan, ya kita akan mandek di situ. Jadi kembali ke sikap dan tekad si produser mau ke mana. Nah tekad saya maju terus sampai berhasil, jadi ada saja investor lain yang masuk,” ucap Raam bangga.  

Jika biaya produksi film sampai miliaran rupiah, Raam masih mengandalkan pinjaman ke bank untuk membiayai proyeknya. Tentunya dengan keyakinan film tersebut akan laku keras di pasaran, balik modal, mendulang untung, dan akhirnya utang bisa lunas.

Resep Sukses Si Raja Sinetron

Saking produktifnya membuat sinetron dan film, Raam dijuluki Raja Sinetron Indonesia. Baginya, memproduksi karya film dan sinetron bukan sekadar tanam modal, selesai. Harus ada “rohnya” di situ untuk menyuguhkan tontonan berkualitas dan disukai penonton. Seni film dan sinetron seperti sudah mendarah daging dalam dirinya.

“Selama masih bisa bernafas, keinginan untuk terus membuat film dan sinetron tidak akan berhenti,” kata Raam semangat.

Selain dukungan modal, ada beberapa kunci sukses yang selalu ditanamkan Raam Punjabi saat membangun bisnis. Hal ini bisa dicontoh para generasi milenial:

1. Tekad

Dalam membangun dan menjalankan bisnis rumah produksi, seorang produser film dan sinetron harus memiliki tekad kuat untuk memajukan perusahaan dalam situasi apapun. Yakinkan pada diri untuk maju terus, pantang menyerah sampai berhasil

2. Menentukan Tujuan

Menurut Raam, seorang pengusaha harus memiliki tujuan yang jelas dan terarah. Contohnya kalau kamu mau jadi konglomerat, statusnya konglomerat se-Indonesia,  di kawasan Asia, atau sejagat. Tujuan itu penting, sehingga kamu bisa menentukan langkah-langkah untuk menggapainya

3. Nekat

Saat tekad dan tujuan sudah bulat, maka produser film harus nekat. Berani untuk menjalankannya. Raam mengaku, termasuk orang yang nekat karena berani meminjam uang dari orang lain dengan keyakinan bisa mengembalikan modal tersebut. Dan sudah terbukti kan hasilnya

4. Totalitas dalam Bekerja

Dunia sinetron dan film membutuhkan konsentrasi penuh dari sang produser, tenaga-tenaga kreatif, sampai dengan para pemain. Dulu saat masih berjuang, Raam harus menyiapkan 9 program setiap minggu untuk tayang di stasiun televisi. Dia harus rela pergi pagi pulang pagi demi menyelesaikan pekerjaan tersebut.

“Bidang ini harus konsentrasi 24 jam/7 hari. Bukan menyerahkan duit saja ke orang, pasti rugi. Saya jamin itu,” tegasnya.

5. Inovasi

Inovasi harus terus diasah untuk bisa menghasilkan tontonan yang berkualitas. Penonton tidak akan peduli, biaya produksi film atau sinetron murah atau mahal, yang penting kena di hati mereka. Jadi inovasi sangat penting bagi para produser dan tenaga-tenaga kreatif untuk mencari peluang pasar

6. Nasib

Memang sih itu semua bukan jaminan. Lagi-lagi nasib ikut menentukan. Namun Tuhan tidak akan pernah mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Oleh karena itu, apabila sudah berikhtiar dan doa, mudah-mudahan Tuhan akan selalu mengiringi langkah kita hingga mencapai kesuksesan.

Pesan untuk Milenial yang Mau Jadi Produser Film 

Raam memandang prospek bisnis hiburan khususnya sinetron dan film masih sangat menjanjikan ke depan. Bisa dibilang industri ini masih berjaya. Penonton industri ini diklaim sudah menyamai penonton hollywood. Jika antusiasme bagus, jumlah penonton bisa mencapai 6,7 juta orang. Tapi itu tidak semua film ya.  

Bagi kalian para generasi muda yang tertarik terjun ke industri sinetron atau film, ada 2 hal yang harus diperhatikan, yakni:

1. Modal

Kalau kamu anak konglomerat pastinya tidak akan kesulitan mendapatkan modal. Kondisinya berbeda dengan orang yang lahir dari keluarga sederhana, tapi punya semangat untuk memajukan perfilman Indonesia. Tenang saja modal bisa diperoleh dari manapun, salah satunya mencari investor seperti yang dilakukan Raam.

Kamu juga bisa menekan bujet produksi seminimal mungkin dengan cara menggunakan setting pembuatan film yang tidak mewah, serta menggunakan talent-talent baru atau cara lain.

2. Harus Disukai Penonton

Raam berpesan agar para sineas muda, atau siapapun yang tertarik ke dunia ini, membuat tayangan box office Indonesia ataupun sinetron dengan tujuan komersial. Artinya yang betul-betul disukai penonton. Kamu bisa mencari tahu dengan cara melakukan riset terlebih dahulu.

“Film harus dibuat untuk tujuan komersial. Penonton puas, modal kembali, untung diraih. Kalau film itu punya teknik-teknik yang oke, maka film atau sinetron itu pasti dengan sendirinya layak dikompetisikan, dan meraih apresiasi dari juri berupa penghargaan,” Raam menutup perbincangan.

Jangan Takut Berkarya

Industri hiburan Tanah Air, khususnya film dan sinetron membutuhkan sineas-sineas muda berbakat. Film box office Indonesia harus menjadi tuan rumah di Negeri sendiri, dan ke depan dapat menyumbang lebih banyak devisa. Saat ini, banyak wadah bagi para tenaga kreatif untuk unjuk gigi, siapa tahu dilirik produser film. Kuncinya jangan takut berkarya, nekat, dan inovatif.

sumber : cermati


Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Kisah Trader Sukses Belvin VVIP, Raup Keuntungan Miliar per Bulan

Belvin VVIP dikenal sebagai seorang influencer saham yang bisa meraup cuan miliar rupiah setiap bulannya. Namun, siapa sebenarnya sosok Belvin ini? Pria kelahiran dengan nama asli Belvin Tannadi ini sudah sangat tak asing bagi para investor saham Indonesia. Melalui akun Instagram miliknya, Belvin kerap membagikan ilmu-ilmu seputar dunia investasi dan saham-saham apa saja yang tengah menjadi incarannya. Sebagai seorang investor, khususnya trader, ia pun cermat menganalisis saham-saham mana yang memiliki potensi untuk naik. Belvin membagikan pengetahuannya terkait investasi saham melalui dua buku, yakni “Ilmu Saham: Powerful Candlestick Pattern (2020)” dan “Ilmu Saham: Pengenalan Analisis Teknikal (2020)”. Di balik kesuksesannya sekarang, ternyata Belvin memiliki perjuangan yang panjang menggeluti dunia investasi saham. Belvin VVIP mengawali kiprahnya di dunia saham dari tahun 2014 dengan hanya bermodalkan uang sebesar Rp12 juta saja. Ia pertama kali mengenal investasi saham sejak duduk

Analisa Saham PTPP | 18 Januari 2022

PTPP berisiko memasuki trend bearish jika PTPP melemah di bawah support 785-800. Penembusan level ini akan membuat PTPP membentuk pola bearish head and shoulders dengan target penurunan di area 300-400.  Rekomendasi: Hindari. Sell jika PTPP melemah di bawah 785. Target penurunan berada di 300-400. sumber :  doktermarket Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

SAHAMNYA MASUK KATEGORI UMA, INI JAWABAN MANAJEMEN IPTV.

Manajemen PT MNC Vision Networks Tbk. (IPTV) menyampaikan bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal. Hal itu salah satu jawaban Manajemen IPTV kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Jawaban itu seiring dengan tengah di pantaunya pergerakan saham IPTV oleg BEI lantaran terjadi penurunan harga yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA). Terkait saham IPTV masuk kategori UMA, Corporate Secretary IPTV, Muharzil Hasril mengaku, sampai dengan saat ini informasi yang sebelumnya telah diumumkan ke publik adalah mengenai pengalihan kepemilikan Perseroan pada PT MNC OTT Network kepada MSIN melalui mekanisme peralihan saham setelah dipenuhinya seluruh persyaratan dibutuhkan sebagaimana diatur dalam peraturan dan perundang - undangan yang berlaku. "Sampai dengan saat ini, tidak ada informasi material yang belum disampaikan ke publik. Perseroan tidak mengetahui adanya informasi menya