google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Analisa Saham APLN dan BTPN Langsung ke konten utama

Analisa Saham APLN dan BTPN

Analisa Saham APLN dan BTPN

APLN Weekly : Trading Buy

Berdasarkan Peak and Trough Analysis terlihat support saat ini relatif kuat di 185 denga potensi kenaikkan terdekat ke 214.  Volume transaksi terbanyak saat ini baik sisi demand  (242-246) maupun supply (236-246) masih berada diatas harg saat ini demikian juga net avg buy all broker and dominant ( 210-218) serta  net avg sell all broker and dominnat ( 236-246) yang juga diatas harga saat ini. Jadi secara umum harga relatif sudah terdiscount.
by Tasrul Tanar

Bank BTPN (BTPN IJ): U/G To BUY: Bigger And Stronger Post Merger

Upgrade to BUY from Neutral with unchanged IDR4,200 TP, 22% upside. Bank BTPN recently reported its 2Q19 results, with earnings growing 35% YoY to IDR751bn, bringing 1H19 net profit to IDR1.2trn (+15% YoY) – achieving 50% and 57% of RHB and Street estimates. Interest income grew 41% YoY, while interest expense rose 105% YoY, factoring in Bank Sumitomo Mitsui Indonesia’s (SMBCI) loans and deposits. Sumitomo Mitsui Banking’s (SMBC) deadline to increase the float to the 7.5% minimum is nearing. Kontan reported SMBC will do the re-float as early as next week.
Shift in new NIM paradigm. Since BTPN and SMBCI merged last year, NIM has been contracting on the business mix shift, despite loan growth accelerating due to the merger. Consequently, NII grew 13.3% YoY in 2Q19 due to a significant growth in outstanding loans (+111.5% YoY). However, this strong growth was offset by lower yield loans from SMBC and higher cost of funds from its deposits. NIM declined to just 6.7% from 11.5% last year. We believe lower NIM will be the new normal for BTPN going forward.
Expect better non-II Income in future. As the bank transforms into a new organisation, we expect the non-II income portion to be better than what it was pre-merger. As written in its business plan, the new merged entity will also focus on other businesses, eg transaction banking, and holistic supply chain financing for small & medium enterprise (SME) and corporate banking. In our view, we forecast non-II income at c.20% of BTPN’s operating income, much better than the 4-5% portion previously. This is because the new BTPN will be able to tap more customers, rather than micro and SME accounts only.
Revamped business segment post-merger. We expect composition will be dominated more by the corporate segment – from SMBCI – at c.48%, in addition to the pension business, SMEs, and micro lending from BTPS, as well as its own units. We also expect better asset quality from the new entity due to SMBC’s low NPL ratio (c.0.1%), which brings BTPN’s NPL ratio to 0.8% from 1.1% last year. We also expect CIR to improve later, as it is relatively not optimal currently: BTPN (54%) and SMBC (75%), and this is reflected to a combined 68% in 2Q19. We have increased earnings 47%, 52%, and 70% in FY19F-21F, adjusting for the merged entity’s business structure.
Re-floating soon, as early as next week likely. After the 97.3% stake acquisition by SMBC, BTPN’s free float is currently 1.5% – the remaining 1.2% is owned by Bank Central Asia (BBCA IJ, NEUTRAL, TP: IDR32,500 and Bank Negara Indonesia (BBNI IJ, BUY, TP: IDR11,500). SMBC was given six months to increase BTPN’s free float to the 7.5% minimum and, as reported by Kontan is planning to do so as early as next week. Note: SMBC last bought stake in BTPN in January – through a tender offer at IDR4,282/share.
Upgrade to BUY, as the stock is currently trading at an attractive 0.7x P/BV. Our TP is set at an undemanding 0.8x FY19-20F P/BV, just above -1SD of its 5-year mean. At the current price, it also trades at an attractive 38% discount to its SOTP value. We believe SMBC’s re-float will drive prices up in the near term, as it is unlikely that the latter will sell its remaining 6% ownership at a lower price than the IDR4,282/share buying price it paid just six months ago.
by Henry Wibowo, Ghibran Al Imran, Andre Benas – RHB Research


Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Saham ? Pengertian, Contoh, Jenis, Keuntungan, Resiko

Apa itu Saham? Saham adalah jenis surat berharga yang menandakan kepemilikan secara proporsional dalam sebuah perusahaan penerbitnya. Saham kadang disebut ekuitas. Saham memberikan hak kepada pemegang saham atas proporsi aset dan pendapatan perusahaan.  Saham pada umumnya  dijual dan dibeli di bursa saham . Akan tetapi saham juga dijual secara pribadi. Transaksi saham harus sesuai dengan peraturan pemerintah yang dimaksudkan untuk melindungi investor dari praktik penipuan.  Secara historis, investasi saham telah mengungguli sebagian besar investasi lainnya dalam jangka panjang. Investasi saham dapat dilakukan melalui broker saham online atau sekuritas saham yang terdaftar di lembaga yang mengaturnya di sebuah negara.  Sebuah perusahaan terbuka menerbitkan / menjual saham dalam rangka mengumpulkan dana untuk menjalankan bisnisnya. Pemegang saham, ibaratnya telah membeli secuil perusahaan dan memiliki hak atas sebagian aset dan pendapatannya. Dengan...

PT Steel Pipe Industry Tbk (ISSP) Dapatkan Rating Negatif

MOODYS UBAH PROSPEK SPINDO DARI STABIL MENJADI NEGATIF. IQPlus, (23/08) - Moodys Investor Service merubah prospek PT Steel Pipe Industry Tbk (ISSP) menjadi negatif dari stabil dimana pada saat yang sama menegaskan peringkat B2 corporate family rating perseroan. "Perubahan prospek menjadi negatif mencerminkan espektasi Moodys dimana gross margin Spindo masih mendapatkan tekanan karena volatilitas harga baja dalam 12-18 bulan ke depan yang menghasilkan peningkatan leverage dan cakupan bunga yang lemah," ujar Brian Grieser, vice president Moodys. Karena baja menyumbang hingga 95% dari harga pokok penjualan, Spindo terkena fluktuasi harga baja global dan domestik. Meski perusahaan menggunakan model biaya plus harga, Spindo tidak sepenuhnya meneruskan peningkatan harga baja kepada pelanggannya secara tepat waktu. Akibatnya margin kotor Spinti turun menjadi 15% dalam 12 bulan di Juni 2018 dari 18% di 2017 dan 25% di 2016. "Selain itu tingkat utang Spindo meningkat ka...

Cara Membaca Candlestick Saham

Cara membaca candlestick saham sebenarnya cukup mudah dan tidak perlu banyak menghafal. Anda cukup memahaminya saja secara garis besar, maka akan sukses membaca candlestick saham.  Di grafik atau chart saham, kita menemui puluhan pola saham yang berbeda. Di sana ada  Three Black Crows, Concealing Baby Swallow, Unique Three River Bottom dan lain sebagainya. Jika anda harus menghafalkannya, maka akan membutuhkan tenaga yang banyak. Maka dengan artikel ini harapannya Anda mampu cara memahami atau membaca candlestick saham dengan mudah. Dasar-dasar dalam Membaca Candlestick Saham Buyer Versus Seller Sebelum kita mulai mendalami elemen-elemen penting untuk analisa candlestick, kita harus punya cara pandang yang benar terlebih dulu. Anggap saja pergerakan harga itu terjadi karena perang antara Buyer dan Seller. Setiap candlestick adalah suatu pertempuran selama masa perang, dan keempat elemen candlestick menceritakan siapa yang unggul, siapa yang mundur, siapa memeg...