google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Cerita Puding Puyo Dessert Meraup Omzet Hingga Miliaran Rupiah Langsung ke konten utama

Cerita Puding Puyo Dessert Meraup Omzet Hingga Miliaran Rupiah


Mendengar kata puding, kebanyakan orang pasti langsung kebayang dengan jenis kudapan yang manis dan lembut di lidah. Ya, puding telah lama menjadi salah satu camilan yang disukai oleh masyarakat karena cita rasanya yang unik. Tekstur kenyalnya pun seakan mampu membuat seseorang merasa gemas dan ingin segera memasukkannya ke dalam mulut.

Berbicara soal makanan puding, sebagian masyarakat Indonesia, khususnya warga Ibu Kota pasti tidak asing dengan brand Puyo Silky Dessert. Puyo adalah salah satu gerai favorit generasi muda masa kini yang mampu menjajakan makanan puding dengan berbagai inovasi yang kekinian. 

Karena menyuguhkan salah satu jenis kudapan yang pada masanya jarang ditemui, Puyo sukses menarik animo masyarakat untuk merasakan lezatnya menyantap puding. Dengan menggunakan media promosi utama berupa sosial media, Puyo mampu berkembang dengan pesat hingga menjadi brand karya anak negeri yang populer.

Namun, tahukah Anda bahwa ide bisnis Puyo Silky Dessert ini muncul karena hobi yang dimiliki sang ayah dari pendirinya? Modal investasi awal untuk mendirikan brand tersebut pun hanyalah 5 juta Rupiah.  Nah, bagi Anda yang penasaran dengan perjalanan Puyo Silky Dessert hingga sukses seperti sekarang, simak ceritanya berikut ini.


Perjalanan Awal Puding Puyo Silky Dessert

Penggemar dessert di Ibu Kota, khususnya puding tentu sudah tidak asing lagi dengan brand Puyo. Gerainya pun sudah banyak tersebar di mall-mall Jabodetabek. Namun, tahukah Anda jika ada kisah menarik dibalik kesuksesan Puyo Silky Dessert yang layak untuk ditiru?

Didirikan di pertengahan tahun 2013, Puyo lahir dari buah pikiran dua saudara bernama Adrian dan Eugene. Adrian dan Eugene mendapatkan ide bisnis gerai puding ini dari sang ayah yang memiliki hobi masak. Saat ayah dari kedua saudara kandung tersebut mencoba membuat resep puding, tak disangka jika rasa dan teksturnya amat lembut di lidah.

Barulah dari resep ala-ala tersebut, Adrian dan Eugene terus bereksperimen dan berinovasi menyempurnakan resep buatan ayah mereka. Setelah melakukan banyak eksperimen dan inovasi, Adrian dan Eugene sukses menemukan resep puding yang menjadi dasar dari didirikannya brand makanan, Puyo Silky Dessert.

Pada awal perkembangannya, Puyo hanya dipasarkan kepada keluarga dekat dan sanak saudara. Tak disangka kerja keras yang dilakukan oleh kakak beradik tersebut membuahkan hasil yang setimpal. Setiap saudara yang mencoba puding yang dijajakan tersebut memberikan respon yang positif.

Mengetahui bahwa produk yang dijajakan memiliki prospek bisnis yang bagus, Adrian dan Eugene langsung mengambil peluang tersebut untuk dilempar ke publik. Melalui media sosial populer, Instagram, kedua saudara tersebut memasarkan produk bernama Puyo agar dapat dikenal oleh lebih banyak orang. 

Bertepatan pada Bulan Ramadhan, Puyo Silky Dessert mulai beroperasi dengan memanfaatkan platform Instagram. Siapa yang sangka jika hanya melalui media sosial tersebut Puyo Dessert mampu menggaet banyak pelanggan dan menaikkan nama brand tersebut di kalangan anak muda kekinian. 

Karena hanya melayani pesanan secara online, Adrian dan adiknya harus mencari cara agar terhindar dari tindak kejahatan penipuan dan memberi kepercayaan kepada pembeli. Dengan menggunakan layanan ATM dan SMS banking, verifikasi pembayaran para konsumen dapat dikontrol dengan lebih mudah. Potensi terjadinya pelanggan yang tidak menerima pesanan pun semakin kecil terjadi. 

Memberanikan Diri untuk Membuka Booth Pertamanya di Mall

Berselang tiga bulan pasca memasarkan Puyo melalui Instagram, Adrian dan Eugene memberanikan diri untuk membuka booth pertama yang berlokasi di Living World Alam Sutera. Keputusan tersebutlah yang membuat gerai puding Puyo resmi dibuka pada bulan Oktober tahun 2013. 

Dengan terus melakukan inovasi berupa varian rasa dan kemasan yang lebih menarik, brand puding ini dapat dengan pesat berkembang dan menjadi salah satu brand dessert yang digandrungi oleh kawula muda. Lanjut setelah 3 bulan booth pertama Puyo beroperasi, duo pendirinya kembali melebarkan sayap bisnisn dengan menambah gerai yang bertempat di Gandaria City. 

Hingga kini, puding Puyo masih tetap berkreasi menciptakan berbagai varian rasa baru pada puding agar pelanggan tetap setia bersama brand tersebut. Produk yang ditawarkan kepada konsumennya pun dikemas semakin menarik dengan memberikan warna-warni yang ceria pada puding.   

Demi bisa memiliki partner bisnis yang banyak, Puyo tidak hanya menjalankan satu metode bisnis berupa pembukaan gerai saja. Brand tersebut juga tidak ragu untuk bekerjasama dengan restoran dan kafe ternama yang ingin menjadi reseller. Dengan begitu, Puyo tak hanya mampu memperluas jangkauan pasar, tapi juga dapat meningkatkan penjualan produk pudingnya. 

Sukses Hanya Dengan Modal Hanya 5 Juta Rupiah

Dari awal modal yang diberi oleh orang tua sebesar 5 juta Rupiah, duo pendiri Puyo hingga kini diketahui belum pernah menyuntikkan dana investasi tambahan. Meski begitu, Puyo yang telah dikenal luas oleh masyarakat dan memiliki banyak gerai di wilayah Jabodetabek mampu meraup omzet hingga satu miliar Rupiah. 

Menilik dari kisah perjalanan brand Puyo Silky Dessert tersebut, bisa dilihat bahwa bisnis besar tidak melulu tercipta dari modal yang besar pula. Bisnis dengan omzet miliaran Rupiah juga bisa dimiliki saat pebisnis memiliki tingkat kreativitas yang tinggi serta keuletan untuk terus berinovasi dan berusaha. 

Kepekaan dua bersaudara untuk menjadikan resep puding milik ayahnya sebagai ide berbisnis juga patut diacungi jempol. Melihat produk memiliki nilai jual dan terus menyempurnakan resepnya, Adrian dan Eugene mampu menggebrak bisnis kuliner dalam negeri hanya dalam waktu beberapa bulan saja.  Bahkan, brand dessert dalam negeri tersebut tidak kalah dengan merek asal luar negeri yang sedang menggempur kuliner Indonesia.

Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah Sukses Puyo Dessert

Kisah sukses Puyo menjadi merek kudapan puding terpopuler dalam negeri memang cukup menginspirasi. Berawal dari ide bisnis yang datang dari hobi masak orang tua dan modal awal hanya 5 juta, Adrian serta Eugene mampu menyulap gerai di Instagram menjadi bisnis franchise dengan omzet miliaran Rupiah. Tentunya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil oleh para pebisnis dari cerita perjalanan Puyo tersebut.

Yang pertama adalah ide bisnis dapat datang darimana saja dan tanpa disengaja. Resep awal puding yang menjadi dasar bisnis Puyo berasal dari sang ayah yang hobi memasak. Merasa resep tersebut memiliki nilai jual, duo saudara kandung tersebut langsung tanpa ragu menjadikannya sebagai ide bisnis yang kini bernilai miliaran Rupiah.

Tak hanya itu, kegigihan Adrian dan Eugene dalam terus menyempurnakan resep dan berinovasi juga menjadi kunci kesuksesan bisnis mereka. Jika ketekunan keduanya sempat berhenti ditengah jalan, bisa jadi Puyo kini tidak akan pernah ada. Oleh karena itu, dalam berbisnis, siapkan mental pantang menyerah hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menggaet pelanggan juga menjadi pelajaran yang wajib dipunyai oleh pebisnis masa kini. Bagaimana tidak, mayoritas masyarakat saat ini memiliki akses pada platform tersebut. Oleh karenanya, sosial media dapat menjadi jembatan penghubung antara bisnis yang sedang dirintis dengan calon konsumen dalam jumlah besar.

Kebanyakan orang yang akan terjun ke dunia bisnis seringkali dijegal dengan modal yang dirasa masih belum cukup. Padahal, berdasarkan kisah perjalanan Puyo menjadi bisnis yang sukses, modal bukanlah hal yang paling penting untuk dimiliki. Terbukti hanya dengan modal investasi 5 juta dari orang tua, ketekunan dan pola pikir kreatif yang dimiliki oleh pendirinya mampu membuat Puyo menjadi brand puding dengan omzet miliaran Rupiah serta 34 gerai lebih di wilayah Jabodetabek.

Terakhir, pendiri Puyo mampu mengubah keterbatasan menjadi kesempatan untuk berkembang. Pada awal didirikan, Puyo hanya melayani pembelian melalui akun Instagram saja. Namun, hal tersebut tidak membuat Puyo patah semangat dan berhenti berjualan. 

Malahan, melalui media sosial tersebut Puyo mampu menggaet banyak konsumen yang mayoritas berasal dari kalangan anak muda. Jadi, saat bisnis dirasa mengalami hambatan, jangan jadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berhenti. Sebaliknya, pebisnis harus bisa memutar otak untuk mencari solusi dan menyelesaikan setiap masalah yang muncul.

Puding Puyo Membuktikan Bahwa Berbisnis Bisa Dilakukan oleh Siapa Saja

Menyimak cerita perjalanan Puyo dari awal hingga menjadi brand puding ternama, siapa yang sangka jika ide bisnis besar dapat datang dari mana saja. Dengan insting wirausaha serta kegigihan yang dimiliki oleh kakak beradik, Adrian dan Eugene, resep puding sederhana milik sang ayah dapat diinovasi menjadi kuliner yang digandrungi oleh konsumen. 

Kebutuhan modal dalam jumlah besar yang selama ini ditakuti oleh masyarakat juga bukan menjadi kunci penting agar bisnis dapat berjalan dan berkembang dengan pesat. Terbukti hanya dengan modal 5 juta Rupiah, Puyo mampu memperoleh omzet ratusan juta hingga miliaran Rupiah. Untuk itu, bagi Anda yang merasa memiliki ide usaha yang matang, jangan ragu untuk merealisasikannya menjadi bisnis yang sukses.

sumber : cermati


Lebih lengkapnya silahkan klik : Saham Online

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Saham FPNI | Ini strategi Lotte Chemical untuk kejar target penjualan di akhir tahun

Perusahaan petrokimia PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI) memasang target pertumbuhan penjualan sebesar 10% sepanjang tahun 2019. Jelang tutup tahun ini, Bambang Budihardja, Corporate Secretary PT Lotte Chemical Titan Tbk menyebut saat ini kondisi pasar kurang kondusif jika dibandingkan dengan tahun lalu. Oleh karena itu, FPNI mengaku sedikit lebih konservatif dalam hal pencapaian target tersebut. Ia bilang, situasi supply dan demand di regional menyebabkan kondisi margin spread yang semakin menipis. Margin spread merupakan selisih harga jual dengan biaya bahan baku utama. "Kondisi ini pada akhirnya sedikit banyak melemahkan usaha-usaha untuk mencapai target tersebut," katanya, Minggu (20/10). Apabila melihat laporan keuangan semester I-2019, pendapatan bersih FPNI juga menurun. FPNI mengantongi pendapatan sebesar US$ 171,69 juta atau menyusut 15,35% dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 202,83 juta. Pendapatan dari hasil penjualan pasar domestik masih menjadi ...

Cara Membaca Indikator Stochastic Oscillator dengan 3 Metode

Keberadaan stochastic telah sedikit disinggung sebagai indikator oscillator yang mampu menunjukkan kondisi jenuh harga. Dulunya, banyak trader mengetahui cara membaca indikator Stochastic hanya untuk penerapan praktis. Namun sebenarnya, Stochastic terdiri dari berbagai macam komponen dan memiliki lebih dari satu manfaat. Untuk mengungkapnya, kita akan mempelajari 3 cara membaca indikator Stochastic berikut. Baca juga: Memahami arti LOT dalam Investasi Saham 1. Cara Membaca Indikator Stochastic Sebagai Penanda Overbought Oversold Cara membaca indikator Stochastic menurut fungsi ini adalah yang paling mudah. Pada dasarnya, indikator ciptaan George Lane ini memiliki dua level ekstrim, yakni 80 dan 20. Masing-masing level tersebut berperan sebagai batas overbought dan oversold. Indikator Stochastic menunjukkan kondisi overbought ketika grafik berada di atas level 80. Sementara itu, cara membaca indikator Stochastic untuk mengenali oversold adalah dengan memperhatikan grafik yang sudah turu...

PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) Optimis Dengan Kinerja

Kuartal IV/2018, Dharma Samudera (DSFI) Optimistis Kinerja Bakal Membaik Emiten perikanan PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) meyakini kinerja perseroan akan membaik mulai Oktober 2018 seiring dengan peluang bertambahnya bahan baku. Direktur Independen DSFI Saut Marbun menuturkan, mulai Oktober 2018 kinerja perseroan berpotensi meningkat seiring dengan bertambahnya bahan baku produk perikanan. Kondisi cuaca diperkirakan lebih baik sehingga nelayan semakin sering melaut. "Mulai September biasanya ombak tidak terlalu tinggi, kemudian Oktober semakin terasa pasokan bahan baku dari laut semakin banyak. Harganya juga semakin murah," ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, belum lama ini. Selain itu, permintaan produk perikanan pada Oktober mengalami peningkatan karena pelanggan perusahaan ingin melakukan penyetokan menjelang Natal. DSFI memang mengandalkan 95% penjualan ke pasar ekspor, dengan wilayah tujuan utama Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Sampai ak...