Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri saham ADHI. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri saham ADHI. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Analisa Saham ADHI | 23 November 2017

Analisa Saham ADHI

Proyek pembangunan light rail transit (LRT) di kawasan Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) bakal menggenjot kinerja PT Adhi Karya Tbk. Sebagian besar pendapatan emiten berkode ADHI ini berasal dari proyek yang dimulai September 2015.

Dalam riset tanggal 31 Oktober, Kepala Riset Ciptadana Sekuritas Arief Budiman mengatakan, pendapatan ADHI dari sektor konstruksi mencapai Rp 7,79 triliun hingga September 2017. Jumlah ini berkontribusi 89% dari seluruh pendapatan ADHI.

Per kuartal III-2017, total pendapatan ADHI mencapai Rp 8,71 triliun atau naik 53% secara year on year (yoy). "Sektor konstruksi ini mayoritas ditopang oleh proyek LRT Jabodebek, yang mana ADHI menjadi salah satu kontraktornya," kata Arief ketika dihubungi, Rabu (22/11).

Laba bersih ADHI juga naik 78% menjadi Rp 205 miliar. Namun, secara kuartalan, laba bersih ADHI turun. Di kuartal III, ADHI mencetak laba bersih senilai Rp 92,9 miliar. Perolehan tersebut turun 17% dari laba bersih kuartal II yang berjumlah Rp 112 miliar.

Arief menilai ADHI tertekan oleh tingginya biaya operasional. Di kuartal III, biaya operasional ADHI membengkak 83% dari kuartal sebelumnya menjadi Rp 237 miliar.

Meski sempat mengalami penurunan laba bersih, analis Samuel Sekuritas Akhmad Nurcahyadi berpendapat, peluang ADHI mencatat kinerja lebih baik di sisa kuartal IV terbuka lebar. Hal ini diperlihatkan oleh penambahan kontrak baru. Dalam risetnya tanggal 22 November, Akhmad menyebut, nilai kontrak baru ADHI telah mencapai
Rp 31,6 triliun hingga bulan Oktober 2017.

Terkait proyek pembangunan LRT Jabodebek, ADHI menargetkan proses keberlangsungan proyek tersebut bisa mencapai 35% di akhir tahun ini. Akhmad memperkirakan ADHI masih akan membiayai proyek LRT Jabodebek hingga Rp 2 triliun, dengan mengandalkan kas perusahaan atau pinjaman dari bank.

Analis Indo Premier Sekuritas Eveline Liauw mengatakan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan melakukan pembayaran pertamanya untuk membantu pembangunan proyek LRT Jabodebek sebesar Rp 4,5 triliun pada bulan Desember nanti. "Pembayaran berikutnya akan menggunakan skema setengah tahunan, yang kami perkirakan akan diterapkan hingga Juni 2019," kata Eveline dalam riset 31 Oktober. Eveline berharap dana tersebut dapat meringankan beban ADHI, sehingga kinerja emiten tersebut tetap stabil.

Proyek non LRT

Menyongsong tahun 2018, Eveline memandang proyek transit oriented development (TOD) akan berperan besar bagi kinerja ADHI dalam jangka panjang. Saat ini, ADHI memiliki landbank seluas 49 ha di sekitar lintasan LRT Jabodebek. Lahan tersebut diproyeksikan untuk pembangunan kawasan TOD.

Eveline memperkirakan proyek TOD bisa berkontribusi sebanyak 40% dari total pendapatan yang diperoleh ADHI hingga 2019.

Sementara menurut Arief, mubazir jika ADHI terlalu berfokus pada proyek pembangunan LRT Jabodebek semata. Padahal, ada banyak kawasan di sekitar lintasan LRT yang bisa dimanfaatkan oleh emiten tersebut.

Arief pun menyambut baik manakala ADHI akan melakukan pemisahan unit bisnis departemen TOD dan hotel menjadi satu anak perusahaan baru pada Januari 2018.

Bahkan unit ini direncanakan untuk dilepas ke publik lewat initial public offering. "Unit bisnis ini bisa fokus menggarap proyek TOD dan sarana penunjang lainnya," kata dia.

Saat ini, departemen tersebut tengah melakukan pengembangan empat kawasan TOD, yakni LRT City Bekasi Timur-Eastern Green seluas 16,9 ha, Jaticempaka-Gateway Park 5,9 ha, Ciracas-Urban Signature 11,5 ha, dan LRT City Royal Sentul 14,8 ha. Ke depannya, ADHI menargetkan mampu membangun 19 TOD.

Arief menyarankan buy saham ADHI dengan target harga Rp 2.720 per saham. Eveline merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.550 per saham.

Akhmad merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.550 per saham. Ia memperkirakan ADHI bisa meraih pendapatan hingga Rp 19 triliun di tahun depan, sementara laba bersihnya diprediksi mencapai Rp 462 miliar.

KONTAN

[ADHI] Adhi Karya akan Lepas Saham Anak Usaha


PT Adhi Karya Tbk (ADHI) bakal ekspansif tahun 2021. Sejumlah rencana bisnis telah disiapkan oleh emiten berkode saham ADHI ini. Salah satunya adalah melepas saham anak usaha ADHI ke pasar modal. 

Emiten dengan kode saham ADHI ini melihat bisnis infrastruktur di tahun 2021 akan mengalami pemulihan seiring dengan upaya pemerintah dalam melakukan percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Parwanto Noegroho menjelaskan fokus ADHI di tahun ini akan tetap menjadikan bisnis infrastruktur menjadi penopang bisnis dengan melihat anggaran infrastruktur yang cukup besar dan beroperasinya lembaga pengelola investasi Indonesia Investment Authority (INA). 

"Adanya SWF atau LPI menjadi angin segar bagi sektor infrastruktur, termasuk ADHI. Kami berharap ADHI dapat pula memanfaatkan semua suport yang diberikan pemerintah, termasuk dengan adanya SWF ini," jelas Noeg kepada Kontan, Selasa (16/2). 

Selain adanya angin segar itu, dalam waktu dekat ADHI juga akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) yakni untuk Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II Tahap I Tahun 2017 senilai Rp 2,99 triliun yang jatuh tempo pada 22 Juni 2022, PUB II Tahap II Tahun 2019 Seri A senilai Rp  556 miliar yang jatuh tempo pada 25 Juni 2022 dan  Seri B senilai Rp 473,5 miliar yang jatuh tempo pada 25 Juni 2024.

"Sebagaimana kita ketahui dampak Pandemi ini cukup besar pada berbagai institusi, termasuk ADHI, sehingga support dari sisi relaksasi Bank dan Bond Holder yang bersifat sementara perlu dimohonkan, agar tidak melanggar covenant," jelas Noeg. 

Dia melanjutkan, selama tiga tahun terakhir semua covenant yang dipersyaratkan dan kewajiban bunga selalu terpenuhi. Hanya memang dengan adanya pandemi ini, emiten berkode saham ADHI merasa perlu ada covenant yang disesuaikan supaya tetap memiliki tata kelola yang baik. 

Lebih lanjut, di tahun ini ADHI akan melancarkan aksi korporasi yaitu mengantar anak usahanya untuk initial public offering (IPO) yaitu PT Adhi Commuter Properti setelah sempat tertunda di tahun lalu. Noegroho menargetkan pelepasan saham perdana anak usaha ADHI ini paling lambat akan dilaksanakan pada kuartal III-2021. 

Adapun, berdasarkan riset Kontan, emiten berkode saham ADHI tahun ini menargetkan pertumbuhan kontrak baru di kisaran 15-20%. Di mana pada tahun 2020 lalu ADHI membukukan kontrak Rp 19,7 triliun atau tumbuh 34% secara tahunan (yoy) dari realisasi 2019 yang sebesar Rp 14,7 triliun. 

Sumber: KONTAN

Analisa Saham ADHI | Bersiap Mengubah Arah Trend

ANALISA SAHAM ADHI

ADHI- Pada perdagangan terakhir saham ADHI mampu naik sebesar +2.55% dengan ditutup di harga 1610. Pada hari itu Candle ADHI breakout resisten daily di 1590 dengan diikuti Volume yang sangat besar. 
secara trend saham ADHI saat ini masih dalam fase downtrend secara major dan downtrend juga secara minor , dalam hal ini dapat dilihat pada gambar, menurut kami dalam chaneling minornya saham ADHI telah mampu juga breakout dari chaneling yang mengarah turun , dan saat ini saham ADHI akan mencoba uji resisten terdekat yakni garis trendline nya sebelum menuju resisten dailynya di 1705. 
jika mampu break trendline pertama nya dan mampu bertahan saham ADHI akan lebih menarik lagi apalagi jika saham ADHI mampu membuat Higher High dan Higher Low sebagai konfirmasi penguatan. 

Support Resisten - Support Resisten terlampir dalam gambar 


Trading Idea - 
Area Buy : 1600 - 1620 
Stop Loss : 1480 
Target : T1 : 1700 , T2 : 1835 
#DisclaimerON

Sumber : TradingView

Saham ADHI | Kontrak Baru Mengangkat Prospek Saham Adhi Karya (ADHI)


Analis meyakini PT Adhi Karya Tbk tidak bakal kesulitan merealisasikan target perolehan kontrak baru di tahun ini. Meski begitu, perusahaan konstruksi ini masih dibayangi oleh defisit arus kas operasional.

Sebagai gambaran, ADHI telah memperoleh kontrak baru sebesar Rp 3 triliun per Maret silam. Jumlah tersebut setara 8,57% dari target kontrak baru yang dicanangkan manajemen ADHI, yaitu sebesar Rp 35 triliun untuk sepanjang tahun 2019.

Dari jumlah kontrak baru tersebut, kontribusi terbesar berasal dari proyek RDMP Office & Lab Pertamina. Nilainya sebesar Rp 608 miliar. Sedangkan dari tipe pekerjaan, kontribusi perolehan kontrak baru dari proyek gedung mencapai 64,3%.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan, sebenarnya nilai kontrak baru yang diperoleh ADHI masih jauh dari target. Namun, hal ini masih dianggap baik, mengingat biasanya emiten konstruksi mendapat kontrak baru dalam jumlah besar jelang akhir tahun.

Ia menilai, ADHI belum akan menemui kesulitan berarti dalam memenuhi target kontrak baru di tahun ini. Sejumlah proyek besar pun sedang dalam incaran perusahaan BUMN ini.

Salah satunya adalah proyek jalan tol Solo–Yogyakarta-Kulonprogo sepanjang 160 kilometer, dengan nilai investasi sekitar Rp 21 triliun. Selain itu, emiten BUMN karya ini berencana mengerjakan proyek jalur KRL melayang di Jakarta, yang estimasi investasinya sebesar Rp 15 triliun.

Pembayaran LRT

Analis Kresna Sekuritas Andreas Kristo meyakini bahwa ADHI bakal bisa mencapai target kontrak baru tahun ini. Meski begitu, ada kemungkinan sepanjang semester I-2019, perolehan kontrak baru perusahaan ini melambat akibat penantian hasil pemilu presiden dan lebaran. "Keluarnya hasil pemilu akan berdampak positif bagi ADHI karena sudah adanya kepastian," ujar dia, Senin (29/4).

Terlepas dari itu, Suria menyebut ADHI juga mesti fokus pada perbaikan arus kas operasional. Sebab, arus kas operasional yang terjaga akan menunjang penyelesaian proyek-proyek yang digarap oleh perusahaan.

Analis Indo Premier Sekuritas Joey Faustian yakin, akan ADHI bisa meningkatkan arus kas operasional. Apalagi, perusahaan pelat merah ini akan memperoleh pembayaran proyek Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek.

Secara kumulatif, ADHI menargetkan pembayaran proyek LRT Jabodebek bisa mencapai Rp 6 triliun sepanjang tahun ini. Pekerjaan konstruksi proyek ini sendiri telah mencapai 59% hingga Maret kemarin.

"Dengan adanya pembayaran proyek LRT Jabodebek, kami mengharapkan peningkatan arus kas operasional ADHI sebesar Rp 1,8 triliun di tahun 2019," ungkap Joey dalam riset 1 April.

Sebagai catatan, tahun lalu arus kas operasional ADHI mencapai Rp 71 miliar. Jumlah tersebut meningkat dari posisi tahun sebelumnya, di mana arus kas operasional emiten ini justru defisit sebesar Rp 3,2 triliun.

Andreas pun masih optimistis ADHI bisa mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun ini. Ia pun memperkirakan, pendapatan perusahaan ini dapat mencapai Rp 20,94 triliun di akhir tahun nanti. Di waktu yang sama, laba bersih emiten tersebut ditaksir bisa mencapai Rp 1,14 triliun.

Karena itu, Andreas merekomendasikan beli saham ADHI dengan target harga Rp 2.360 per saham. Setali tiga uang, Suria juga menyarankan beli dengan target harga Rp 2.030 per saham.

Sedangkan Joey memasang rekomendasi hold untuk ADHI. Target harga Joey di Rp 1.750 per saham.

Sumber: kontan

Saham ADHI | ADHI Mengantongi Kontrak Baru Rp 3 Triliun

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai kontrak baru yang diperoleh PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sepanjang kuartal I tahun ini masih mini. ADHI memperkirakan kontrak baru yang telah digapai sebesar Rp 3 triliun.

Padahal sepanjang tahun ini, ADHI membidik kontrak baru sekitar Rp 35 triliun. Target ini lebih tinggi 50,21% secara tahunan dari Rp 23,3 triliun. Ini artinya dalam tiga bulan, ADHI baru memenuhi 8,57% dari target yang mereka tetapkan untuk tahun ini.

Direktur Keuangan ADHI Entus Asnawi M mengatakan, dari perolehan kontrak baru, sebesar Rp 2 triliun sudah pasti didapat. "Sisanya yang merupakan nilai terendah dan masih dalam masih proses tender," ujar dia.

Entus menjelaskan, nilai proyek sebesar Rp 2 triliun berasal dari proyek lab, office, jety RDMP dan proyek dari anak perusahaan. Pada Februari lalu, ADHI juga telah memperoleh kontrak baru senilai Rp 1,18 triliun (di luar pajak). Kontrak tersebut dari proyek pembangunan Oyama Plaza Apartemen.

Kontribusi kontrak baru mayoritas berasal dari konstruksi dan energi yakni 90%, disusul properti sebesar 6,8%. Sisanya, dari lini bisnis lainnya. Sementara, jenis pekerjaan dari kontrak baru tersebut didominasi dari proyek infrastruktur 79,8% dan proyek gedung 20,2%.

Proyek LRT

Perusahaan ini juga tengah menggenjot proyek light rail transit (LRT) yang sempat mundur karena kendala pembebasan lahan. ADHI menilai, lalulintas yang ramai menjadi penghambat pekerjaan.

Untuk memuluskan jalan, ADHI bekerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk mempercepat pembebasan lahan serta pembangunan depo LRT di Bekasi Timur di jalur line 3 CawangBekasi Timur.

Direktur Utama ADHI Budi Harto bilang, membutuhkan 10 hektar (ha) lahan untuk pembangunan depo ini. Proses pembebasan lahan ini akan rampung April 2019.

Budi menambahkan, kendala lain ada di line 2, yakni jalur Cawang–Dukuh Atas. Penyebabnya, keramaian lalulintas dan jam kerja yang sangat terbatas.

Budi merinci, progres lintasan Cawang–Bekasi Timur baru 53,84%. Sementara rute Cawang–Cibubur mencapai 79,69% dan lintasan pelayanan Cawang–Kuningan–Dukuh Atas 47,95%.

Namun, Budi optimistis, pada Juli 2019, untuk line I yakni Cawang–Cibubur sudah uji coba. "Saat ini, proses pembangunan rel dan sistem listrik akan segera dilakukan," jelas dia.

LRT tahap I Jabodebek ini memiliki panjang 44 km untuk lintasan Cibubur–Cawang, Bekasi Timur–Cawang dan Cawang–Dukuh Atas.

Hingga akhir tahun lalu, pendapatan ADHI meningkat 3,2% secara year on year menjadi Rp 15,65 triliun. Meski hanya naik tipis, laba bersih ADHI naik 25,1% menjadi Rp 645 miliar.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, kinerja ADHI bergantung pada proyek LRT selesai atau tidak di tahun ini. "Sebab, LRT ini punya peran cukup besar untuk kinerja ADHI. Tapi, dari sisi perolehan kontrak baru, ini juga bisa mendongkrak kinerja," ujar dia.

William merekomendasikan, beli saham ADHI di kisaran Rp 1.700 per saham. Jumat (29/3), harga saham ADHI turun 0,30% ke level Rp 1.645 per saham.


Sumber: KONTAN

Adhi Karya Yakin Target Kontrak Baru Tahun 2022 Terpenuhi



[Saham ADHI] PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yakin dapat mencapai target kinerja operasional yang telah dicanangkan untuk tahun 2022.

Sekretaris Perusahaan ADHI Farid Budiyanto mengatakan, hal itu melihat progres kontrak baru yang telah diperoleh perusahaan hingga April 2022.

"Kontrak ADHI sampai dengan bulan April 2022 telah mencapai Rp 8,2 triliun, jumlah tersebut naik 128% dibandingkan pencapaian kontrak baru per April 2021 yang hanya Rp 3,6 triliun," jelas dia kepada Kontan.co.id, Kamis (2/6).

Asal tahu saja, ADHI membidik kontrak baru di tahun 2022 tumbuh 15% dari realisasi tahun 2021. Tahun lalu, ADHI mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 15,2 triliun atau lebih rendah dari target yang awalnya ditetapkan sebanyak Rp 24 triliun.

Adapun di tahun ini, Farid bilang, perseroan memiliki beberapa proyek konstruksi gedung dan infrastruktur yang sedang dibidik. Beberapa kontrak yang dibidik emiten konstruksi plat merah itu antaranya adalah Jalan Tol Yogyakarta-Bawen dan Jalan Tol JORR Elevated Cikunir Ulujami.

Di samping itu, ADHI juga fokus menggarap sejumlah proyek infrastruktur eksisting. Misalnya, proyek Light Rapit Transit (LRT) Jabodetabek. Adapula proyek konstruksi Jalan Tol Sigli-Banda Aceh. Kedua proyek tersebut diproyeksikan selesai tahun ini.

Dari sisi kinerja, ADHI mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada kuartal I 2022 sebesar Rp 8,67 miliar. Angka itu tumbuh 28,63% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, pendapatan ADHI turun 6,16% menjadi Rp 1,98 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,11 triliun.

Hingga Maret 2022, ADHI telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp 67,7 miliar. "Untuk investasi aset tetap, pembelian tanah dan investasi ventura bersama," kata Farid.

Dari kinerja saham, harga saham ADHI ditutup tidak bergerak di level Rp 725 pada akhir perdagangan Kamis (2/6). Walau begitu, dalam sebulan terakhir harga sahamnya menguat 0,69%.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat bahwa secara teknikal harga saham ADHI hari ini masih tertahan oleh MA60-nya. "Selama tidak terkoreksi ke bawah level supportnya, maka kami perkirakan ADHI masih berpeluang menguat," ujarnya.

Lanjutnya, hal tersebut didukung oleh pergerakan MACD yang masih berada di area positif meskipun stochastic sudah berada di area overbought. Dirinya pun merekomendasikan buy on weakness dengan suport di Rp 680 dan resistance di Rp 770 per saham.


sumber : kontan

Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Saham ADHI | PT Adhi Karya (Persero) Tbk Andalkan Proyek Ini 2018


Proyek konstruksi dan properti, yang mayoritas terdiri atas transit oriented development, diyakini PT Adhi Karya (Persero) Tbk. akan menjaga tren pertumbuhan kinerja keuangan perseroan sampai dengan akhir 2018.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2018, yang dipublikasikan perseroan, Rabu (26/9), Adhi Karya mengantongi pendapatan Rp6,08 triliun. Jumlah tersebut naik 17,33% dari Rp5,18 triliun pada semester I/2017.

Beban pokok pendapatan mengalami kenaikan lebih rendah secara tahunan. Tercatat, beban pokok pendapatan naik 12,50% dari Rp4,58 triliun menjadi Rp5,15 triliun.

Adapun, laba kotor yang dikantongi naik 54,33% secara tahunan pada semester I/2018. Nilai yang dibukukan naik dari Rp598,33 miliar pada semester I/2017 menjadi Rp923,42 miliar.

Dengan demikian, laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk emiten berkode saham ADHI tercatat tumbuh 61,98% secara tahunan. Pencapaian Rp131,31 miliar pada semester I/2017 naik menjadi Rp212,70 per 30 Juni 2018.

Di sisi lain, total aset yang dimiliki perseroan, per 30 Juni 2018, turun 6,46% dari posisi 31 Desember 2017 menjadi Rp26,50 triliun. Kondisi serupa terjadi untuk total liabilitas yang turun 8,49% menjadi Rp20,55 triliun.

Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto mengatakan proyek infrastruktur masih menopang kinerja keuangan perseroan sampai dengan semester I/2018. Selain sektor tersebut, proyek gedung juga mendorong pencapaian yang diraih hingga 30 Juni 2018.

Budi menyatakan optimistis akan menjaga tren pertumbuhan tersebut hingga akhir 2018. Apalagi, kontrak dihadapi atau order book yang dimiliki menurutnya mampu menopang target perseroan.

“[Penopang kinerja sampai akhir 2018] selain konstruksi ada properti yang sebagian besar transit oriented development [TOD],” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (26/9).

Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com sebelumnya, dari sisi kontribusi lini bisnis pada perolehan kontrak baru Agustus 2018, sektor konstruksi dan energi berkontribusi sebesar 89,9%. Selanjutnya, sektor properti berkontribusi 9,1% dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya.

Adapun, berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru dari pemerintah tercatat 21,5%, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 31,5%, dan swasta atau lainnya 47,0%.

Untuk tipe pekerjaan, proyek gedung mendominasi dengan 77,3%, jalan dan jembatan 8,6%, dan infrastruktur lainnya 14,0%.

//TOD//

Terkait dengan bisnis TOD, Budi menjelaskan bahwa entitas anak, PT Adhi Commuter Properti (ACP) akan mengembangkan properti pada jalur light rail transit. Modal ekuitas yang dimiliki senilai Rp3 triliun dalam bentuk dana dan lahan.

“Perkiraaan nilai properti yang akan dikembangkan sekitar Rp59 triliun yang akan terjual dalam waktu 8 tahun,” jelasnya.

Budi mengungkapkan jenis properti yang akan dikembangkan cukup beragam seperti apartemen, rumah tapak, mall, sekolah, rumah sakit, serta kebutuhan masyarakat lainnya. Salah satu proyek yang kini ditangani oleh ACP yakni LRT City.

Lebih lanjut, Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. mengatakan perseroan, lewat ACP, akan mengembangkan 10 TOD dalam jangka waktu 12 tahun. Nilai kapitalisasi seluruh proyek tersebut mencapai Rp59 triliun.

Untuk pengembangan bisnis tersebut, Entus menuturkan emiten berkode saham ADHI itu telah memberikan modal Rp1,1 triliun dalam bentuk tanah. Sampai akhir 2018, perseroan akan menambah penyertaan dalam bentuk tunai senilai Rp900 miliar.

Dari total nilai kapitalisasi proyek yang dibidik, sambungnya, jumlah dana penyertaan dana atau chip in akan berkisar 20%—30%. Kebutuhan tersebut akan dipenuhi oleh ACP dari berbagai sumber.

Setelah mendapatkan suntikan Rp2 triliun dari ADHI, Entus menyebut ACP akan menghimpun dana segar dari penawaran umum perdana saham (IPO). Menurut mandat saat dilakukannya spin off, entitas anak tersebut disebut akan melantai di bursa satu tahun setelah pemisahan.

“ACP akan mencari dana sendiri mulai dari IPO, rights issue, dan instrumen pendanaan lain,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa proyek TOD memiliki potensi yang besar ke depan. Hal tersebut sejalan dengan kian terbatasnya ketersediaan hunian di Jakarta.

“TOD mixed used mulai dikembangkan di mana-mana. Ke depan, TOD juga bisa menjadi sumber recurring income,” imbuhnya.

Sebagai catatan, ADHI melakukan spin off ACP pada Mei 2018. Ditargetkan, proses IPO dapat ditempuh satu tahun setelah didirikan.

Rencananya, jumlah saham yang akan dilepas oleh ACP ke publik sebesar 30% dengan nilai emisi di kisaran Rp1 triliun-Rp1,5 triliun. Adapun, porsi saham yang akan dilepas di kisaran 30%—40%.
http://market.bisnis.com/read/20180927/192/842695/proyek-ini-akan-topang-kinerja-adhi-karya-adhi-pada-tahun-ini

Saham ADHI | PT Adhi Karya (Persero) Tbk Terima Pembayaran LRT Oktober 2018


PT Adhi Karya (Persero) Tbk. optimistis pembayaran pengerjaan proyek light rail transit Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi senilai Rp3,6 triliun yang akan diterima, pada Oktober 2018, akan mengerek arus kas dari aktivitas operasi perseroan.

Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. mengatakan sampai dengan saat ini pembayaran yang diterima perseroan baru Rp3,4 triliun dari light rail transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek). Jumlah tersebut merupakan pembayaran tahap pertama untuk progres pengerjaan proyek hingga September 2017.

Untuk pembayaran tahap kedua, Entus menyebut saat ini sedang ditagihkan dan dalam pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Ditargetkan, dana tersebut dapat masuk ke kantong emiten berkode saham ADHI itu pada Oktober 2018.

“Rp3,6 triliun include pajak pertambahan nilai [PPN],” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (1/10).

Dia menyebut terjadi perubahan dasar penghitungan progres pengerjaan untuk pembayaran tahap kedua dari per Desember 2017 menjadi per Juni 2018. Dengan demikian, perkiraan jumlah yang diterima ADHI bertambah dari proyeksi semula sekitar Rp2 triliun.

“Progres yang ditagihkan sampai dengan Juni 2018 sebesar 33%. Untuk progres sampai dengan minggu lalu berdasarkan perhitungan internal sebesar 45%,” paparnya.

Dengan masuknya pembayaran tahap kedua, Entus memproyeksikan akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan. Menurutnya, posisi kas operasi akan positif dan kas rasio akan lebih kuat.

Dana yang masuk, sambungnya, dapat digunakan untuk menurunkan leverage atau beban bunga. Strategi yang ditempuh yakni dengan mengendalikannya melalui net debt to equity ratio.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2018, arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi ADHI senilai Rp330,59 miliar. Posisi itu turun dari Rp2,21 triliun per 30 Juni 2018.

Sebagai catatan, proyek LRT terdiri atas jalur pelayanan Cawang—Cibubur, Cawang—Kuningan—Dukuh Atas, Cawang—Bekasi Timur, Dukuh Atas—Palmerah-Senayan, Cibubur—Bogor, dan Palmerah—Grogol. Dalam proyek LRT itu, ADHI menjadi kontraktor berdasarkan penugasan pemerintah.

Adapun, nilai kontrak yang dibukukan oleh ADHI dari proyek itu senilai Rp19,7 triliun atau salah satu kontrak terbesar yang dikantongi perseroan pada 2017.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, analis Samuel Sekuritas Indonesia Akhmad Nurcahyadi menjelaskan bahwa bisnis sektor konstruksi selalu lebih baik pada semester II setiap tahunnya. Periode tersebut berperan signifikan dalam pencapain target perseroan maupun proyeksi atau konsesus.

Di sisi lain, ekspektasi pembayaran kuartalan proyek LRT akan memudahkan ADHI mencapai proyeksi 2018 dan 2019. Oleh karena itu, pihaknya mempertahankan rekomendasi beli untuk saham perseroan dengan target harga jangka panjang di level Rp3.250 per saham.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham ADHI ditutup menguat 20 poin atau 1,44% ke level Rp1.410 pada penutupan perdagangan, Senin (1/10). Total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp5,02 triliun dengan price earning ratio (PER) 11,85 kali.
http://market.bisnis.com/read/20181002/192/844453/oktober-2018-adhi-karya-adhi-akan-terima-pembayaran-lrt-jabodebek-rp36-triliun

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 15 Januari 2018

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia

Market Review 15 Januari 2018
(Investment Information Team,Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG menguat 12 poin (+0.19%) ke level 6,382.195 pada perdagangan hari ini. Tercatat 184 saham menguat dan 176 saham melemah. Sektor-sektor ditutup mixed, penguatan sektor tertinggi di sektor mining (+1.52%) hari ini, sedangkan sektor consumer (-0.52%) ditutup di zona positif. Investor asing mencatatkan transaksi net buy sejumlah Rp 1,96 triliun di seluruh Pasar pada perdagangan hari ini. US Dollar melemah 21 poin (-0.16%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah menguat ke level Rp13,332  terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

Advance Stocks:

-SCMA  : Harga saham SCMA ditutup menguat Rp 50 (+2.10%) ke level Rp 2.420 pada perdagangan hari ini. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) bersiap menghimpun pendanaan dari pasar modal. Kali ini SCMA akan melaksanakan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Pengelola stasiun SCTV dan Indosiar ini akan merilis maksimal 1,46 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 50 per saham. Jumlah ini setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh SCMA. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan Jumat (12/1), SCMA menetapkan harga pelaksanaan PMTHMETD sekurang-kurangnya Rp 2.446 per saham. Penetapan harga tersebut mengacu rata-rata harga penutupan transaksi SCMA sejak 5 Desember 2017 hingga 11 Januari 2018. Dengan asumsi tersebut, maka SCMA berpotensi meraup dana segar Rp 3,58 triliun.

-AGII : Pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham AGII menguat Rp 90 (+12.94%) ke level Rp 785. PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII) mempertimbangkan rencana refinancing utang pada tahun ini. Pasalnya, emiten ini masih memiliki ruang untuk melaksanakan penawaran umum berkelanjutan (PUB) berupa penerbitan obligasi dan sukuk ijarah. Wakil Direktur Utama AGII Rachmat Harsono menyatakan, ada kemungkinan AGII kembali menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah. Pada kuartal II-2017, AGII merencanakan tahapan PUB I. Dana yang ingin dihimpun dari obligasi dan sukuk ijarah masing-masing Rp 500 miliar atau senilai total Rp 1 triliun. Pada PUB I tahap I, AGII merilis obligasi Rp 100 miliar dan sukuk ijarah Rp 300 miliar. Sejatinya, dana hasil penerbitan surat utang itu bukan untuk belanja modal. AGII lebih fokus pada refinancing utang.

-ADHI : Harga saham ADHI ditutup menguat Rp 90 (+4.43%) ke level Rp 2.120 hari ini. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) optimistis posisi arus kas di tahun ini akan kembali positif. Pada bulan ini, ADHI akan mendapat pembayaran proyek sebesar Rp 4 triliun. ADHI juga akan menjaring pendanaan baru dari pinjaman dan obligasi untuk membiayai ekspansi. ADHI menganggarkan belanja modal 2018 sebesar Rp 10 triliun. Untuk memenuhi kebutuhan itu, ADHI berencana menerbitkan obligasi dan mencari pinjaman bank. ADHI masih memiliki opsi penerbitan obligasi berkelanjutan (PUB) tahap II sebesar Rp 2 triliun dari total penerbitan Rp 5 triliun. Harris menambahkan, saat ini debt to equity ratio (DER) ADHI masih ada di kisaran 1,2 kali hingga 1,3 kali. Jadi, masih ada ruang untuk melakukan pinjaman.

Decline Stocks:

-BNGA : harga saham BNGA ditutup melemah Rp 15 (-1.11%) ke level Rp 1.335 hari ini. PT Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah telah bekerja sama dengan Bank CIMB Niaga Syariah dalam penjaminan pembiayaan, atau dalam istilah syariah, kafalah. Nilai pembiayaan CIMB Niaga Syariah yang akan dijamin oleh Askrindo Syariah diperkirakan sekitar Rp 2 triliun. Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P Djajanegara mengatakan pihaknya akan terbuka dengan produk Askrindo Syariah lainnya seperti pembiayaan haji. Potensi bisnis haji yang meningkat pada Bank CIMB Niaga juga akan membawa Askrindo Syariah untuk menjalin kerja sama lainnya pada penjaminan pembiayaan haji. Hingga saat ini, Askrindo Syariah telah bekerja sama dengan bank lain dalam penjaminan pembiayaan haji.

-BFIN  : harga saham BFIN ditutup melemah Rp 15 (-2.22%) ke level Rp 660 hari ini. Sepanjang 2017, BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) menyalurkan pembiayaan Rp14,3 triliun atau melampaui target awal yang ditetapkan sebesar Rp13 triliun.Realisasi tersebut mengalami pertumbuhan 33,6% dibandingkan realisasi pembiayaan 2016 sebesar Rp10,7 triliun. Petumbuhan tersebut didorong oleh strategi pemasaran yang tepat serta perluasan jaringan yang dilakukan perseroan. Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan di kisaran 20%. Terdapat beberapa faktor yang dapat mendorong pertumbuhan pembiayaan antara lain perbaikan kondisi perekonomian dan perbaikan kinerja sektor komoditas.

Rekomendasi Saham ADHI, BBNI, INKP dan ITMG oleh Binaartha Sekuritas | 22 Februari 2021


Binaartha Sekuritas Daily

22 Februari 2021

by Nafan Aji

Adhi Karya (ADHI)

Pergerakan harga saham ADHI masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Akumulasi pada area level Rp 1.360 – Rp 1.420, dengan target harga secara bertahap di level Rp 1.445, Rp 1.615, Rp 1.790, Rp 1.960 dan Rp 2.210. Support ada di Rp 1.350 dan Rp 1.270.  Saham ADHI ditutup di Rp 1.420. (RoE: 0.37%; PER: 246.43x; EPS: 5.76; PBV: 0.90x; Beta: 2.89).

Bank Negara Indonesia (BBNI)

Pergerakan harga saham BBNI masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish doji star candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Akumulasi pada area Rp 5.825 – Rp 6.025, dengan target harga di level Rp 6.175, Rp 6.450, Rp 6.750, Rp 7.500 dan Rp 7.950. Support ada di Rp 5.825 dan Rp 5.625. Saham BBNI ditutup di Rp 6.000. (RoE: 2.91%; PER: 33.84x; EPS: 177.32; PBV: 0.98x; Beta: 2.01). 

BPD Jawa Barat (BJBR)

Pergerakan harga saham BJBR telah menguji beberapa garis MA 10, MA 20 maupun MA 60 sehingga peluang terjadinya penguatan minimal menuju ke level resistance pertama masih terbuka lebar. 

Akumulasi pada area Rp 1.540 – Rp 1.560, dengan target harga secara bertahap di level Rp 1.620, Rp 1.855, Rp 2.090 dan Rp 2.330. Support ada di Rp 1.490. Saham BJBR ditutup di Rp 1.560. Saham BJBR ditutup di Rp 1.560. (RoE: 13.96%; PER: 9.58x; EPS: 164.99; PBV: 1.44x; Beta: 1.9).

Indofood Sukses Makmur (INDF)

Pergerakan harga saham INDF masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Akumulasi pada area level Rp 6.000 – Rp 6.100, dengan target harga secara bertahap di level Rp 6.300, Rp 6.450, Rp 6.550 dan Rp 7.000. Support ada di Rp 5.800. Saham INDF ditutup di Rp 6.100. (RoE: 6.57%; PER: 10.68x; EPS: 568.57; PBV: 0.70x; Beta: 0.64).

Indah Kiat Pulp and Paper (INKP)

Pergerakan harga saham INKP masih bertahan di atas garis tengah dari bollinger dan terlihat pola bullish spinning top candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Akumulasi pada area level Rp 13.725 – Rp 13.925, dengan target harga secara bertahap di level Rp 14.325, Rp 15.350 dan Rp 16.350. Support ada di Rp 13.550 dan Rp 13.300. Saham INKP ditutup Rp 13.925. (RoE: 8.83%; PER: 13.39x; EPS: 1039.53; PBV: 1.18x; Beta: 1.81).

Indosat (ISAT)

Pergerakan harga saham ISAT masih bertahan di atas garis tengah dari bollinger dan terlihat pola bullish pin bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Akumulasi pada area level Rp 5.325 – Rp 5.700, dengan target harga secara bertahap di level Rp 6.125 dan Rp 6.700. Support ada  Rp 5.325 dan Rp 5.000. Saham ISAT ditutup di Rp 5.700.(RoE: -5.55%; PER: -42.94x; EPS: -132.73; PBV: 2.40x; Beta: 2.53). 

Indo Tambang Megah (ITMG)

Pergerakan harga saham ITMG masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola bullish pin bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. 

Akumulasi pada level Rp 11.925 – Rp 12.200, dengan target harga secara bertahap di level Rp 12.400, Rp 13.250, Rp 14.125 dan Rp 14.975. Support ada di Rp 11.925 dan Rp 11.525. Saham ITMG ditutup di Rp 12.200. (RoE: 6.10%; PER: 17.50x; EPS: 723.04; PBV: 1.10x; Beta: 1.81).

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 11 Desember 2017

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia

Market Review 11 Desember 2017
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG melemah 4 poin (-0.07%) ke level Rp6,026.633 pada perdagangan hari ini. Tercatat 121 saham menguat dan 229 saham melemah. Sektor-sektor ditutup variatif dipimpin oleh penguatan sektor miscellaneous industry (+1.58%) dan pelemahan sektor mining (-1.88%) hari ini. Investor asing mencatatkan transaksi net sell sejumlah Rp300 miliar di seluruh Pasar pada perdagangan hari ini. US Dollar melemah 4 poin (-0.03%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah menguat ke level Rp13,550 terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

*Unusual Market Activity (UMA)*
- PT Indofarma Tbk (INAF)
Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham INAF yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini.

*Advance Stocks:*

- LPCK: Harga saham LPCK ditutup menguat Rp30 (+0.86%) ke level Rp3,480 pada perdagangan hari ini. LPCK menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp 800 dengan harga pelaksanaan Rp 3.800 per saham. Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD ak   an terdilusi kepemilikannya hingga 27,04%. Aksi korporasi ini telah mengantongi restu pemegang saham pada RUPSLB 8 November 2017. Perusahaan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 300 juta saham dengan nilai nominal Rp 500 per saham.  LPCK akan menggunakan dana hasil rights issue untuk membiayai pengembangan dan ekspansi usaha. 

- BHIT: Pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham BHIT menguat Rp3 (+3.40%) ke level Rp91. BHIT berencana melunasi pinjaman berdenominasi dollar AS senilai US$ 215 juta. BHIT tercatat memiliki total utang senilai US$ 365 juta yang akan jatuh tempo pada Mei 2018. Adapun, sisa pinjaman senilai US$ 150 juta akan dilakukan pembiayaan kembali atau refinancing. Sumber dana untuk pelunasan berasal dari hasil divestasi aset batubara dan setoran modal pemegang saham

- ADHI: Harga saham ADHI ditutup menguat Rp70 (+4.06%) ke level Rp1,790 hari ini. Pemerintah akhirnya memutuskan PT Kereta Api Indonesia (KAI) tetap bertugas sebagai penyelenggara prasarana dan sarana LRT sekaligus investor utama proyek ini. Adanya kepastian pendanaan proyek LRT Jabodebek, dinilai dapat mendorong prospek saham ADHI. Pasalnya, proyek besar ini bisa mengangkat arus kas (cashflow) ADHI. KAI akan tetap menerima penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp 7,6 triliun, jaminan pemerintah, serta bantuan dan subsidi dalam pengoperasian LRT.  Total investasi proyek ini sekitar Rp 29,9 triliun.

*Decline Stocks:*

- TRAM: harga saham TRAM ditutup melemah Rp6 (-3.97%) ke level Rp145 hari ini. Tahun depan, TRAM seutuhnya menjadi perusahaan jasa pelayaran dan pertambangan. Pada 4 Desember 2017, perusahaan menuntaskan akuisisi 50,10% saham PT SMR Utama Tbk, lewat perjanjian jual-beli dengan PT Lautan Rizki Abadi. Selain SMR Utama, portofolio bisnis pertambangan Trada Alam juga terwakili lewat PT Gunung Bara Utama. Perusahaan memilikinya dengan cara mengakuisisi PT Semeru Infra Energi dan PT Black Diamond Energi.

- BJBR: Pada perdagangan hari ini, harga saham BJBR ditutup melemah Rp70 (-3.04%) ke level Rp2,230. BJBR telah mendistribusikan obligasi tahap I 2017 senilai Rp 1,5 triliun. Distribusi surat utang ini telah dilakukan pada 6 Desember 2017. Obligasi ini diterbitkan tanpa warkat kecuali sertifikat jumbo obligasi yang diterbitkan atas nama KSEI. Obligasi seri A ditawarkan sebesar Rp 251 miliar dengan bunga 7,5%. Seri B senilai Rp 468 miliar dengan bunga 8,15%. Sedangkan obligasi seri C Rp 780 miliar dengan bunga 8,85%.

- BRPT: Harga saham BRPT ditutup melemah Rp60 (-2.51%) ke level Rp2,330 pada perdagangan hari ini. Pada kuartal III 2017, BRPT meraih pendapatan bersih US$ 1,82 miliar, setara Rp 24,71 triliun (kurs Rp 13.548 per dollar AS)atau  naik 28% dibanding periode sama 2016 lalu. Pendapatan BRPT sejalan kenaikan ekspor petrokimia sebesar 61,65% yoy menjadi US$ 557,55 juta. Dari pasar lokal, pendapatan bisnis petrokimia masih memimpin dengan pertumbuhan 17,82% menjadi US$ 1,23 miliar. Seiring pendapatan itu, beberapa pos beban BRPT juga naik. Alhasil, laba BRPT tak bertumbuh tinggi. Kuartal III 2017, BRPT meraup laba US$ 95,60 juta atau tumbuh tipis 2,38% (yoy).

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 5 Maret 2018

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia

Market Review 05 Maret 2018
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG melemah -31.72 poin (-0.49%) ke level 6,550.593 pada perdagangan hari ini. Tercatat 166 saham menguat dan 212 saham melemah. Mayoritas sektor ditutup melemah, dipimpin oleh pelemahan sektor Basic-ind  (-1.34%), sektor Finance  (-0.71%), dan sektor yang menguat adalah sektor Mining (+0.16%) dan sektor  Misc-Industry (+0.10%) hari ini. Investor asing mencatatkan transaksi net sell sejumlah Rp 1,41 Triliun di seluruh Pasar pada perdagangan hari ini. US Dollar menguat (+0.05%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah melemah terhadap dollar yaitu di level Rp 13,760 terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

Advance Stocks:

-KAEF : Harga saham KAEF ditutup menguat Rp 210 (+8.89%) ke level Rp 2.570 pada perdagangan hari ini. PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) melebarkan sayapnya di pasar internasional. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini mulai merambah industri farmasi di Arab Saudi dengan mengakuisisi saham Dawaa Medical Limited Company (Dawaa), salah satu anak perusahaan Marei Bin Mahfouz (MBM) Group yang bergerak di bidang kesehatan. Kimia Farma melakukan akuisisi saham Dawaa melalui penyertaan modal atau investasi sebesar SAR38 juta (Arab Saudi Riyal) dengan skema pemesanan saham baru (share subscription). Jika dihitung dalam rupiah, investasi tersebut sekitar Rp 136,8 miliar (kurs Rp 3.600 per SAR). Dengan demikian, Kimia Farma menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan saham Dawaa sebesar 60 persen.

-WEGE : Harga saham WEGE ditutup menguat Rp 12 (+4.28%) ke level Rp 292 pada perdagangan hari ini. PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang 2017. Ini didorong dari pertumbuhan laba dan pendapatan. Perseroan mencatatkan pertumbuhan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 105,87 persen dari Rp 143,22 miliar pada 2016 menjadi Rp 294,87 miliar. Pencapaian laba tersebut juga melampaui target laba 2017 sebesar Rp 285,8 miliar.Peningkatan laba bersih tersebut didorong oleh pertumbuhan penjualan (tidak termasuk proyek kerjasama operasi/KSO) di tahun 2017, yaitu mencapai Rp 3,89 triliun atau naik 102,09 persen dari realisasi penjualan 2016 sebesar Rp 1,93 triliun.

-MTDL : Harga saham MTDL ditutup menguat Rp 15 (+2.20%) ke level Rp 695 pada perdagangan hari ini. Dua anak usaha PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), yakni PT Logicalis Metrodata Indonesia (LMI) resmi merger dengan PT Packet Systems Indonesia (PSI) per tanggal 1 Maret 2018. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan dari Menteri Hukum dan HAM Indonesia, dengan efektifnya penggabungan ini maka hak dan kewajiban LMI akan menjadi milik dari perusahaan yang menerima dalam hal ini PSI. Randy Kartadinata, Sekretaris Perusahaan Metrodata Electronics mengatakan, akibat penggabungan LMI dan PSI, maka struktur permodalan dan susunan pemegang saham PSI terhitung tanggal 1 Maret 2018 berubah. Metrodata menggengam 20,5% atau setara dengan 62.730 saham, sedangkan sebanyak 53,5% dikuasai Logicalis Singapore Pte Ltd dan sisanya dikuasi perorangan.

-ERAA : Harga saham ERAA ditutup menguat Rp 115 (+10.40%) ke level Rp 1.220 pada perdagangan hari ini. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) kini mulai mengurangi ekspansi bisnis di kota-kota besar. Peritel perangkat telekomunikasi itu rencananya akan lebih melebarkan sayap ke kota-kota lapis kedua dan kota lapis ketiga. Hal ini tercermin dari target jumlah toko yang akan dibangun sepanjang 2018. Tak tanggung-tanggung, ERAA berani memasang target pembukaan toko baru lima kali lipat lebih banyak dari tahun sebelumnya. Pada 2017, realisasi pembukaan toko baru hanya mencapai 50 toko, maka tahun ini ditingkatkan menjadi 250 toko.

Decline Stocks:

-PNBS : harga saham PNBS ditutup melemah Rp 4 (-4.87%) ke level Rp 78 hari ini. PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk mencatat kerugian Rp 968 miliar sepanjang 2017 lalu. Kerugian ini berbanding terbalik dengan laba bersih yang dicatat Rp 20 miliar sepanjang 2016. Berdasarkan laporan keuangan yang dikirimkan bank berkode PNBS ke Bursa Efek Indonesia (BEI), kerugian ini karena pendapatan bagi hasil bersih hanya tumbuh 5,76% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 312 miliar. Pendapatan bagi hasil bersih naik tipis karena pembiayaan naik hanya 4,27% yoy menjadi Rp 6,9 triliun. Selain itu, biaya operasional naik hampir 377% yoy menjadi Rp 1,2 triliun. Kenaikan biaya operasional ini karena cadangan kerugian pembiayaan bermasalah naik 572% yoy menjadi Rp 558 miliar.

-ADHI : harga saham ADHI ditutup melemah Rp 60 (-2.51%) ke level Rp 2.330 hari ini. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) telah menutup salah operasional salah satu anak usahanya yaitu Adhi Multipower Pte. Ltd. (AMPL). Hal ini dilakukan seiring dengan sudah tidak adanya aktifitas di anak usahanya tersebut. Anak usaha tersebut, merupakan anak usaha yang berdomisili di Singapura. Penutupan operasional anak perusahaan AMPL, dilakukan dengan pertimbangan bahwa proses bisnis dan aktivitas impor barang untuk kebutuhan proyek-proyek ADHI sudah tidak lagi diperlukan. Dengan demikian, anak perusahaan AMPL tidak mempunyai kegiatan proses impor barang.

Ulasan Pasar Modal Hari Ini, IHSG Penutupan, 7 Februari 2017


Market Review 7 Februari 2017
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

Setelah menguat empat hari berturut-turut pada perdagangan sebelumnya, IHSG menutup perdagangan hari ini melemah 14 poin (-0.26%) ke level 5,381.475 dengan 135 saham menguat dan 200 saham melemah. Kontras dari perdagangan kemarin, hari ini mayoritas sektor ditutup melemah dipimpin oleh sektor agriculture yang melemah 1.39%, sementara hanya sektor finance dan basic industry yang menguat masing-masing ditutup naik 0.23% dan 0.17%. Investor asing mencatatkan transaksi net sell sejumlah Rp243 miliar di seluruh Pasar hingga akhir perdagangan. US Dollar berbalik menguat 9 poin (+0.07%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah melemah ke level Rp13,329 terhadap US Dollar hari ini.

Suspensi Saham Hari Ini
- PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk (TMPI)
Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan saham TMPI di Pasar Reguler dan  Pasar Tunai dalam rangka cooling down, seiring dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham TMPI.

Advance Stocks:

- BINA: Harga saham BINA ditutup menguat Rp44 (+12.02%) ke level Rp410 pada perdagangan hari ini, melanjutkan penguatan perdagangan kemarin. BINA berencana melakukan right issue dengan menerbitkan 2,93 miliar saham baru dan harga pelaksanaan dipatok Rp240 per saham. Dana hasil rights issue akan digunakan untuk meningkatkan modal inti perseroan.

- TRAM: Penguatan harga saham didorong oleh penyelesaian utang perseroan sejumlah US$53,25 juta yang diharapkan mendapatkan finalisasi pada tahun ini. Salah satu cara pembayaran yang ditempuh perseroan adalah melalui penjualan aset kapal. Keuntungan dari metode ini, manajemen secara tidak langsung mampu mengurangi penurunan nilai-nilai aset terhadap kapal TRAM mengingat aset tetap akan menyusut nilainya di setiap tahun, tak terkecuali kapal milik TRAM. Hari ini harga saham TRAM ditutup menguat Rp62 (+20.94%) ke level Rp358, merupakan penguatan hari kedua dalam pekan ini.

Decline Stocks:

- ADHI: Harga saham ADHI terkoreksi seiring dengan kekhawatiran investor terhadap prospek kinerja keuangan ADHI kedepan setelah Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan mengatakan pemerintah tidak akan membiayai proyek Light Rail Transit (LRT) rute Jabodebek akibat beratnya beban APBN saat ini. Sebelumnya, sudah ditetapkan bahwa Pemerintah akan membeli proyek LRT dari Adhi Karya setelah pekerjaan konstruksi rampung. Harga saham ADHI ditutup terkoreksi Rp40 (-1.89%) ke level Rp2.070 pada hari ini.

- HMSP: Market share Philip Morris International di Indonesia mengalami penurunan. Pada tahun 2016 pangsa pasar pada angka 33,4% atau turun 0,9% jika dibandingkan 2015 pada angka 34,3%. Per 31 Desember 2016, HMSP menjual 812,9 miliar batang rokok, atau turun 4,1% dari tahun 2015. Pada kuartal keempat tahun 2016, perseroan menjual rokok mencapai 200,6 miliar batang rokok atau turun 4,4% dari periode yang sama tahun 2015. Harga saham HMSP ditutup turun Rp20 (-0.5%) ke level Rp3.960 hari ini.

- PWON: Harga saham PWON melemah untuk hari kedua dan ditutup turun Rp10 (-1.76%) ke level Rp555. PWON mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 1,7 triliun. Belanja modal ini lebih kecil apabila dibandingkan dengan belanja modal perseroan di tahun 2016 yang lalu yakni Rp 2 triliun. Dana belanja modal berasal dari internal cashflow, marketing sales collection dan pinjaman bank yang belum ditarik.

- GJTL: Pelemahan harga saham terjadi dipicu oleh pemangkasan rating obligasi tahun 2018 perseroan oleh Moody’s menjadi Caa1 dari B3 dengan outlook negatif seiring dengan meningkatnya refinancing risk untuk obligasi yang jatuh tempo pada Februari 2018 tersebut. Harga saham GJTL ditutup melemah Rp25 (-2.19%) ke level Rp1.115 pada perdagangan hari ini.

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 12 Maret 2018

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia

Market Review 12 Maret 2018
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG ditutup menguat +67.36 poin (+1.04%) ke level 6,500.686 pada perdagangan hari ini. Tercatat 255 saham menguat dan 129 saham melemah. Sektor mayoritas ditutup menguat, penguatan dipimpin oleh sektor mining (+2.42%), sektor Finance (+1.43%), dan sektor Basic-ind (+1.30%), sektor Infrastructure (+1.28%) sedangkan satu-satunya sektor yang mengalami pelemahan yaitu sektor Agri (-0.28%). Investor asing mencatatkan transaksi net buy sejumlah Rp 110 Milyar di seluruh Pasar pada perdagangan hari ini. US Dollar melemah (-0.03%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah menguat terhadap dollar yaitu di level Rp 13,766 terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

Unusual Market Activity (UMA)
-PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham DEFI yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini.

Advance Stocks:

-PTBA : Harga saham PTBA ditutup menguat Rp 110 (+3.80%) ke level Rp 3.000 pada perdagangan hari ini. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan produksi batubara tahun ini sebesar 25,54 juta ton. Target produksi tahun ini naik sekitar 17% dibandingkan rencana produksi batubara tahun lalu yang sebesar 21,92 juta ton. Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan, peningkatan target volume produksi sejalan dengan rencana perusahaan memproduksi batubara kalori tinggi.Tahun ini, PTBA menargetkan bisa memproduksi 2 juta-3 juta ton batubara berkalori 6.400-7.200 Kilokalori (Kkal).

-ANTM : Harga saham ANTM ditutup menguat Rp 50 (+5.88%) ke level Rp 900 pada perdagangan hari ini. Emiten tambang pelat merah meraup cuan besar hingga tutup tahun 2017. Meski pertumbuhan penjualan naik dua digit, emiten BUMN tambang bisa mengantongi kenaikan laba hingga tiga digit. Salah satunya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Emiten tambang emas dan nikel ini mencapat penjualan Rp 12,65 triliun sepanjang tahun lalu. Penjualan ANTM ini naik 38,86% dari Rp 9,11 triliun pada tahun sebelumnya atau year on year (yoy). Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Senin (12/3) ANTAM mencatatkan laba bersih Rp 136,50 miliar sepanjang tahun lalu. Laba ini melonjak 110,61% jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya Rp 64,81 miliar.

-PPRE : Harga saham PPRE ditutup menguat Rp 18 (+4.66%) ke level Rp 404 pada perdagangan hari ini. Laba bersih PT PP Presisi Tbk. pada 2017 melesat 479,73% year on year menjadi Rp247,16 miliar. Berdasarkan laporan keuangan 2017, PP Presisi membukukan kenaikan pendapatan 389% secara year on year pada 2017. Jumlah yang dikantongi emiten berkode saham PPRE itu naik dari Rp371 miliar pada 2016 menjadi Rp1,81 triliun pada 2017. Sejalan dengan kenaikan pendapatan tersebut, laba bersih PPRE naik dari Rp41,35 miliar pada 2016 menjadi Rp247,16 miliar pada 2017. Compond Annual Growth Rate (CAGR) laba bersih perseroan selama rentang 2014-2017 tumbuh 114%.

-PTPP : Harga saham PTPP ditutup menguat Rp 90 (+3.06%) ke level Rp 3.030 pada perdagangan hari ini. PT PP (Persero) Tbk. membukukan kenaikan laba bersih dan menjaga arus kas operasional positif pada 2017 sejalan dengan upaya selektif perseroan dalam memilih proyek serta integrasi lini bisnis. Berdasarkan laporan keuangan 2017, emiten berkode saham PTPP itu membukukan pendapatan usaha Rp21,50 triliun pada tahun lalu. Capaian tersebut naik 30,69% dibandingkan dengan periode 2016 senilai Rp16,45 triliun. Dari pendapatan tersebut, PTPP berhasil mengantongi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk Rp1,45 triliun. Jumlah tersebut naik 42,15% dari periode sebelumnya Rp1,02 triliun.

Decline Stocks:

-BULL : harga saham BULL ditutup melemah Rp 37 (-16.97%) ke level Rp 181 hari ini. PT Pertamina (Persero) didesak untuk segera memberikan sanksi kepada PT Buana Listya Tama Tbk berupa Daftar Hitam karena emiten berkode BULL itu diduga telah melakukan penipuan atau froud kepada Pertamina. Direktur Eksekutif Center of Energy Resources (CERI), Yusri Usman mengemukakan PT Buana Listya Tama Tbk tersebut dinilai telah melakukan penipuan terhadap Pertamina terkait proses sewa kapal. Menurutnya, BULL diduga kuat telah menyebabkan adanya kerugian material dan non material kepada Pertamina, sebagaimana tercantum pada dokumen SK 43/C00000/2015-S0 Bab I huruf C angka 14.

-ADHI : harga saham ADHI ditutup melemah Rp 40 (-1.65%) ke level Rp 2.380 hari ini. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dalam waktu dekat akan melakukan pemisahan unit usaha (spin off) yang akan selama ini mengurusi properti berbasis pada angkutan massal. Unit usaha tersebut akan dibentuk sebagai anak usaha Adhi yang baru yakni PT Adhi Commuter Property (ACP). Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto mengatakan, ACP akan ditugasi untuk mengembangkan kawasan terintegrasi (transit oriented development/TOD) di stasiun kereta api ringan (light rail transit/LRT) Jabodebek.

Saham ADHI | Adhi Karya Siapkan Dana Investasi


Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto mengungkapkan memiliki rencana investasi. Saat ini, emiten berkode saham ADHI itu telah mengajukan sebagai pemrakarsa beberapa proyek.

Pertama, proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) dari Bendungan Karian, Banten. Fasilitas tersebut nantinya akan mengalirkan air untuk Tangerang Selatan dan Jakarta.

Kedua, proyek jaringan kereta Jakarta loop line atau lingkar kota dengan panjang mencapai 22 kilometer. Ketiga, jalan tol Solo—Yogyakarta—Kulon Progo.

“[Investasi yang dikucurkan] rencananya Rp5 triliun sampai dengan awal tahun depan,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (12/9).

Untuk mendanai rencana investasi tersebut, sambungnya, ADHI akan menggunakan dana dari internal dan pinjaman. Komposisi kedua  sumber tersebut masing-masing 35% dan 65%.

Secara terpisah, Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. mengatakan pihaknya selektif dalam memilih proyek investasi. Untuk jalan tol misalnya, ADHI mengincar ruas dengan internal rate of return (IRR) tinggi.

“Kami memprakarsai ruas Solo—Yogyakarta—Kulon Progo yang jelas memiliki IRR tinggi,” paparnya.

Dengan memilih ruas tol dengan IRR tinggi, Entus menilai akan memberikan prospek bagi ADHI ke depan. Artinya, akan banyak investor yang mengincar apabila perseroan melepas kepemilikan di ruas tersebut.

Dia mengungkapkan ADHI mengincar pekerjaan konstruksi dari proyek-proyek yang dibidik. Dengan demikian, perseroan tidak akan menjadi pemegang saham mayoritas atau pemilik.

Terkait dengan rencana penggalangan dana, Entus menambahkan pihaknya belum berencana menerbitkan obligasi pada semester II/2018. Menurutnya, emisi akan dilakukan pada tahun depan sesuai dengan kebutuhan investasi perseroan.

Berdasaran laporan keuangan kuartal I/2018, Adhi Karya mengantongi pendapatan Rp3,14 triliun. Jumlah tersebut naik 39% dari kuartal I/2017 Rp2,24 triliun.

Dari situ, ADHI mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan ke entitas induk Rp73,28 miliar pada kuartal I/2018. Pencapaian itu naik signifikan 282,86% dari periode yang sama tahun lalu Rp19,14 miliar.

Di sisi lain, arus kas ADHI tercatat positif Rp2,01 triliun pada kuartal I/2018. Kondisi itu berbanding terbalik dengan periode yang sama sebelumnya di mana arus kas perseroan minus Rp996,95 miliar.

Sampai dengan Juli 2018, ADHI mengantongi total kontrak baru Rp7,45 triliun. Jumlah itu setara dengan 31,97% dari target kontrak baru yang dipasang Rp23,3 triliun pada tahun ini.

Adapun, komposisi kontrak baru terbesar masih berasal dari lini bisnis konstruksi dan engineering, procurement, dan construction sebesar 90%. Posisi selanjutnya ditempati oleh pekerjaan properti sebesar 8%.

Dari sumber pendanaan, sektor swasta berkontribusi paling besar dengan 48%. Sementara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 35% dan pemerintah 17%.
http://market.bisnis.com/read/20180913/192/837712/adhi-karya-adhi-gelontorkan-rp5-triliun-untuk-investasi

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 12 Februari 2018

Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia

Market Review 12 Februari 2018
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG menguat 17.93 poin (+0.27%) ke level 6,523.454 pada perdagangan hari ini. Tercatat 276 saham menguat dan 121 saham melemah. Mayoritas sektor ditutup menguat, dipimpin oleh penguatan sektor Agri  (+1.73%), sektor Mining (+1.69%), dan disusul pelemahan sektor Basic Industry (-1.44%) dan sektor  consumer (-0.52%) hari ini. Investor asing mencatatkan transaksi net sell sejumlah Rp 582 Milyar di seluruh Pasar pada perdagangan hari ini. US Dollar menguat (+0.23%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah melemah terhadap dollar yaitu di level Rp 13,655 terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

Unusual Market Activity (UMA)
-PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) & PT. Bank Ganesha Tbk (BGTG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham BBHI & BGTG yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini.

Suspensi
-PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD)
Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan dan aktivitas saham BSWD maka BEI memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham . Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini.

Advance Stocks:

-RALS : Harga saham RALS ditutup menguat Rp 20 (+1.73%) ke level Rp 1.170 pada perdagangan hari ini. Setelah kinerjanya terseret penurunan daya beli masyarakat pada tahun lalu, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mengaku lebih optimistis pada tahun ini. Namun, RALS masih tetap berhati-hati dalam menyusun rencana ekspansi. Sekretaris Perusahaan RALS Setiadi Surya menjelaskan, adanya perhelatan pilkada serentak membuat RALS yakin bisa membukukan kinerja lebih baik. Pasalnya perhelatan pilkada diharapkan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat. Selain itu, peningkatan anggaran Kementerian Sosial menjadi Rp 34 triliun dalam APBN 2018 yang diperuntukkan bagi dana bantuan sosial bisa ikut membantu kinerja RALS.

-BUMI : Harga saham BUMI ditutup menguat Rp 26 (+8.66%) ke level Rp 326 pada perdagangan hari ini. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) optimistis kinerja keuangannya akan lebih moncer. Bukan karena restrukturisasi utang tapi karena menghangatnya harga komoditas batubara. Direktur BUMI Dileep Sirivastava mengatakan, kenaikan harga komoditas batubara saat ini memang menjadi salah satu pendorong kinerja keuangan perusahaan. Rata-rata harga batubara BUMI sepanjang 2017 ada di kisaran US$ 55-US$ 95 per ton. Dengan rata-rata harga tersebut, Dileep memperkirakan pendapatan kotor BUMI sepanjang 2017 mencapai US$ 4,8 miliar. Tahun ini, pendapatan kotor perusahaan diperkirakan naik 25% menjadi sekitar US$ 5,5 miliar hingga US$ 6,6 miliar.

-BBTN : Harga saham BBTN ditutup menguat Rp 120 (+3.33%) ke level Rp 3.720 pada perdagangan hari ini. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengklaim telah menyalurkan kredit sekitar Rp437 triliun selama 68 tahun perseroan berdiri. Sejak kali pertama mengucurkan kredit ke masyarakat yaitu pada tahun 1976, total kredit yang digelontorkan tersebut telah dinikmati oleh hampir 4,5 juta masyarakat Indonesia. Kredit tersebut berdampak kepada banyak lini industri terutama sektor perumahan. Alhasil sektor lain yang bersinggungan dengan pembiayaan perumahan yang disalurkan ikut terkerek naik.

-ADHI : Harga saham ADHI ditutup menguat Rp 90 (+3.86%) ke level Rp 2.420 pada perdagangan hari ini. PT Adhi Karya Tbk (ADHI) bakal lebih ekspansif tahun ini. Hal itu tercermin dari target perolehan kontrak baru yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Angka itu naik sekitar 31% dibandingkan realisasi kontrak baru 2017 sejumlah Rp 17,8 triliun. Sementara, realisasi kontrak baru 2017 naik sekitar 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Direktur Keuangan ADHI Harris Gunawan bilang, sejauh ini belum terlihat adanya perubahan komposisi sumber dana proyek. Harris bilang, sejauh ini belum terlihat adanya perubahan komposisi sumber dana proyek.

-INDY : Harga saham INDY ditutup menguat Rp 110 (+2.73%) ke level Rp 4.130 pada perdagangan hari ini. PT Indika Energy Tbk., menargetkan penjualan dan produksi batu bara pada 2018 mencapai 34 juta ton, meningkat tipis dari estimasi tahun lalu sejumlah 33 juta ton. Direktur Keuangan Indika Energy (INDY) Azis Armand mengatakan pemerintah sudah menyetujui volume produksi batu bara sebesar 32 juta ton, dan diharapkan perusahaan mendapat izin tambahan 2 juta ton pada kuartal II/2018 untuk memenuhi target.

Decline Stocks:

-SULI : harga saham SULI ditutup melemah Rp 24 (-10.71%) ke level Rp 200 hari ini. PT SLJ Global Tbk (SULI) melakukan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PHMETD IV) kepada pemegang sahamnya. Menurut keterangan perseroan Senin, perseroan merencanakan untuk menerbitkan HMETD sebanyak-banyaknya 2.500.000.000 saham dengan nominal Rp100 dan disertai sebanyak-banyaknya 1.395.420.000 waran seri II. Jumlah saham yang diterbitkan tergantung pada keperluan dana dan perseroan akan mengumumkannya jika sudah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam RUPS Luar Biasa yang akan digelar pada 21 Maret 2018.

ADHI | Adhi Karya Kantongi Dana Segar Rp1,02 Triliun dari Obligasi

(Baca juga: Mengenal Pivot Points)

Bisnis.com,JAKARTA — Kontraktor pelat merah, PT Adhi Karya (Persero) Tbk., mengantongi dana segar dari penerbitan obligasi senilai Rp1,02 triliun yang akan digunakan untuk modal kerja perseroan.

Adhi Karya melakukan emisi Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap II Tahun 2019. Surat utang itu terdiri atas Seri A dan Seri B.

Secara detail, Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap II Tahun 2019 Seri A memiliki jumlah pokok Rp556 miliar dengan kupon 9,25%. Jangka waktu selama tiga tahun dengan frekuensi pembayaran bunga setiap tiga bulan.

Selanjutnya,  Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap II Tahun 2019 Seri B memiliki jumlah pokok Rp473,50 miliar dengan kupon 9,75%. Jangka waktu selama lima tahun dengan frekuensi pembayaran bunga setiap tiga bulan.

Dengan demikian, total emisi  Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap II Tahun 2019 senilai Rp1,02 triliun. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan peringkat A- atau Single A Minus untuk instrumen tersebut.

Adapun, PT Bank Mega Tbk. bertindak sebagai wali amanat dan pencatatan obligasi akan dilakukan pada 26 Juni 2019.

Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. membenarkan perseroan telah melakukan emisi obligasi senilai Rp1,02 triliun. Menurutnya, dana dari penerbitan itu sudah masuk ke perseroan.

“Hari ini [dana dari obligasi] sudah kami terima,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (25/6/2019).

Entus menambahkan kupon yang dibanderol untuk Obligasi Berkelanjutan II Adhi Karya Tahap II Tahun 2019 sudah sesuai dengan ekspektasi perseroan. Dana yang didapatkan akan digunakan sepenuhnya untuk modal kerja emiten berkode saham ADHI tersebut.

Sebelumnya, Ki Syahgolang Permata, Corporate Secretary Adhi Karya juga melaporkan telah menerima realisasi pembayaran ketiga untuk light rail transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) Tahap I dari PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Perseroan menerima pembayaran untuk progres pekerjaan Juli 2018 sampai September 2018 senilai Rp1,2 triliun di luar pajak.

ADHI juga telah menerima pembayaran pertama untuk progres pekerjaan September 2015—September 2017 senilai Rp3,4 triliun di luar pajak. Selanjutnya, pembayaran kedua untuk progres Oktober 2017—Juni 2018 senilai Rp2,5 triliun di luar pajak.

“Sehingga dari total kontrak senilai Rp20,2 triliun di luar pajak, ADHI telah menerima pembayaran senilai Rp7,1 triliun di luar pajak,” paparnya.

Sementara itu, ADHI membukukan kontrak baru senilai Rp4,6 triliun sampai dengan Mei 2019. Realisasi sampai dengan periode itu didominasi oleh proyek Revitalisasi Sekolah – Paket III di Jakarta Rp177,1 miliar dan Renovasi Bandara Hang Nadim di Batam Rp157,1 miliar.

Adapun, realisasi sampai dengan Mei 2019 setara dengan 15,33% dari target yang dibidik tahun ini. Kontraktor pelat merah itu mengincar total kontrak baru Rp30 triliun pada 2019.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham ADHI ditutup menguat 0,30% atau 5 poin ke level Rp1.695 pada perdagangan, Selasa (25/6/2019).

Total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp6,04 triliun dengan price earning ratio (PER) 19,94 kali.

Berita Saham ADHI | Adhi Karya (ADHI) Segera Jadi Anak Usaha HK

Bisnis.com, JAKARTA — Para pemegang saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. merestui rencana perubahan anggaran dasar perseroan terkait pengalihan saham Seri B dan perubahan status menjadi non persero sejalan dengan rencana pembentukan holding BUMN infrastruktur.

Izin tersebut dikantongi emiten berkode saham ADHI itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung pada Jumat (1/2/2019). Para pemegang saham menyetujui perubahan Anggaran Dasar (AD) rencana pengalihan saham Seri B milik negara di perseroan kepada PT Hutama Karya (Persero) Tbk. selaku calon induk holding BUMN infrastruktur.

Selain itu, disetujui rencana perubahan AD perseroan dengan mengubah status dari persero menjadi non persero. Setelah pengalihan tersebut, ADHI akan menjadi anak usaha dengan Hutama Karya (HK) sebagai induk.

Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto menjelaskan keberadaan holding akan membuat sinergi menjadi lebih mudah dengan sesama anggota holding. Menurutnya, banyak terdapat peluang proyek yang dibidik ke depan.

“Kalau kami sudah bisa bersinergi akan lebih baik lagi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (1/2).

Budi mengatakan keputusan RUPSLB berlaku begitu payung hukum diterbitkan. Selanjutnya, dilakukan pembahasan program bersama anggota holding lainnya.

Seperti diketahui, dalam rancangan awal pemerintah, ADHI seharusnya masuk ke dalam holding BUMN perumahan dan pengembangan kawasan. Tetapi, dilakukan perubahan sehingga kontraktor pelat merah itu bergabung dengan holding BUMN infrastruktur.

Adapun komposisi dari holding BUMN infrastruktur yakni Hutama Karya sebagai induk, dengan anggota PT Jasa Marga (Persero) Tbk., Adhi Karya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Yodya Karya (Persero) dan PT Indra Karya (Persero).


Analisa Penutupan Pasar Saham Indonesia | 11 Oktober 2017

Market Review 11 Oktober 2017
(Investment Information Team,  Mirae Asset Sekuritas Indonesia)

IHSG ditutup melemah 22 poin (-0.38%) ke level 5,882.787 pada perdagangan hari ini. Tercatat 152 saham menguat dan 196 saham melemah. Mayoritas sektor melemah dipimpin oleh pelemahan sektor infrastructure sebesar 1.62%. Sementara, sektor miscellaneous industry menguat tertinggi dengan ditutup naik 0.43%. Investor asing mencatatkan transaksi net sell sejumlah Rp800 miliar di seluruh Pasar hari ini. US Dollar menguat 18 poin (+0.13%) terhadap Rupiah, sehingga Rupiah melemah ke level Rp13,530 terhadap US Dollar di akhir perdagangan.

Advance Stocks:

- MTWI: Pada perdagangan perdananya, harga saham MTWI ditutup menguat Rp70 (+70.00%) ke level Rp170. Perusahaan asuransi PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI0 resmi mencatatkan saham perdananya di BEI pada perdagangan hari ini. Perseroan melepas 310 juta saham ke publik. Saham pendiri yang tercatat 1,21 miliar saham. Jadi total saham tercatat 1,52 miliar saham. Perusahaan melepas saham dengan harga Rp 100 dan nominal Rp 100. Dana yang diperoleh dari penawaran saham publik ini sebesar Rp 31 miliar. Sementara, kapitalisasi pasar perseroan menjadi Rp 152,58 miliar. Perseroan menggunakan 100 persen dana dari penawaran saham ke publik untuk memperkuat modal kerja.

- JSMR: Menguat selama empat hari berturut-turut, harga saham JSMR ditutup menguat Rp150 (+2.53%) ke level Rp6.075 pada perdagangan hari ini. JSMR berencana menjual kepemilikan jalan tol di atas Laut Bali Mandara. Hasil penjualan jalan tol yang dioperasikan oleh PT Jasa Marga Bali Tol itu akan digunakan untuk pembangunan ruas-ruas jalan tol baru. Saat ini, perseroan mengaku masih dalam tahap awal untuk menjajaki minat investor. Penawaran penjualan pun belum dilakukan secara resmi dan terbuka.

- PGAS: Harga saham PGAS ditutup menguat Rp10 (+0.71%) ke level Rp1.415 hari ini. Penyaluran gas PGAS sepanjang triwulan III/2017 naik 17% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kenaikan ini dikontribusikan dari peningkatan konsumsi gas baik yang berasal dari sektor industri maupun dari sektor kelistrikan. Salah satunya upaya untuk mendongkrak konsumsi gas bumi yakni, PGN memperluas jaringan gas bumi ke Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten.

- ADHI: Di akhir perdagangan hari ini, harga saham ADHI ditutup menguat Rp30 (+1.49%) ke level Rp2.040. ADHI akan memperoleh dana Rp 5 triliun. Dana ini merupakan pembayaran dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) atas pengerjaan proyek light rail transit (LRT) Fase I. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan masih ada lagi dana sekitar Rp 1 triliun yang bakal dikeluarkan untuk LRT.Dus, sepanjang 2017, ADHI bakal menalangi investasi LRT sekitar Rp 5 triliun. Nilai inilah yang bakal dibayarkan KAI.

Decline Stocks:

- ANTM: Harga saham ANTM ditutup melemah Rp20 (-3.03%) ke level Rp640 hari ini. ANTM telah mengeluarkan biaya eksplorasi preliminary sebesar Rp1,32 miliar untuk bulan September 2017 dimana kegiatan eksplorasi fokus pada komoditas emas, nikel dan bauksit. Kegiatan eksplorasi emas ANTAM dilaksanakan di Pongkor, Jawa Barat, eksplorasi luar negeri dan tinjauan ke beberapa daerah prospek. Total biaya eksplorasi preliminary emas ANTAM pada bulan September 2017 mencapai Rp409,74 juta. Total biaya eksplorasi preliminary nikel ANTAM pada bulan September 2017 mencapai Rp910,73 juta.

- LPPF: Di akhir perdagangan, harga saham LPPF ditutup melemah Rp300 (-3.15%) ke level Rp9.200. LPPF tetap memantau kinerja penjualan gerainya tahun ini namun belum tentu mengarah pada penutupan toko tambahan. Perseroan telah menutup 2 gerainya di Jakarta pada tahun ini. Tahun depan, perseroan berencana membuka 6-8 gerai baru. LPPF dan The Walt Disney Company South Asia telah menandatangani kesepakatan multiyears dimana beragam produk eksklusif Walt Disney seperti karakter Disney, Marvel dan Star Wars dapat ditemukan di gerai Matahari.

- TLKM: Harga saham TLKM ditutup melemah Rp130 (-2.86%) ke level Rp4.400 pada perdagangan hari ini seiring dengan beredarnya berita sangkaan mengenai hancurnya satelit Telkom-1. Ditambah, pernyataan yang cenderung manipulatif yang diberikan direksi perseroan memberi kesan bahwa perseroan tengah melakukan kebohongan publik.

Marak Fenomena Saham Pompom ala Influencer, Bikin Tambah Kaya atau Miskin?


 

Investasi saham akhir-akhir ini lagi jadi perbincangan di jagat maya. Khususnya selepas beberapa publik figur ‘koar-koar’ saham jagoannya.

Impeknya, saham-saham yang disebutkan publik figur melejit dalam sekejap. Itu berarti, banyak yang beli saham rekomendasi dari orang terkenal ini, sehingga mengerek harga sahamnya.

Tindakan ini namanya pom-pom saham. Sebuah istilah di pasar modal. Pom-pom saham adalah suatu cara mengajak atau menghasut orang untuk membeli atau menjual saham di waktu tertentu.

Biasanya pom-pom saham dilakukan oleh oknum. Bisa juga bandar saham. Dan kini malah marak dari influencer.


Fenomena Influencer Saham

Influencer saham sedang jadi fenomena. Mulai dari artis, ustadz, sampai anak Presiden ramai-ramai merekomendasikan saham.

Yusuf Mansyur

Dai kondang, Ustadz Yusuf Manyur pernah merekomendasikan saham PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) pada 2018. Tahun itu, pertama kalinya BRIS melantai di bursa efek.

Selanjutnya pendiri layanan fintech, PayTren ini juga aktif bersuara saat aksi merger tiga bank BUMN Syariah, termasuk salah satunya BRIS.

Yusuf Manyur kemudian mengomentari kinerja saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Lalu membahas pula saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF).

Berikutnya di akun Instagramnya, Pendiri Pondok Pesantren Daarul Qur’an tersebut juga memposting saham-saham BUMN karya, seperti WIKA, PTPP, ADHI, dan WSKT yang sedang mencatatkan kenaikan harga saham.

Kaesang Pangarep

Putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep mencuri perhatian netizen. Beberapa kali, ia mengunggah postingan saham di akun Twitter miliknya. Di antaranya KAEF, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Terakhir, Kaesang menjagokan saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) dengan membuat analisis sahamnya.

Raffi Ahmad dan Ari Lasso

Dua artis ini disemprit regulator pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) karena aksi pamer sahamnya. Raffi Ahmad dan Ari Lasso sama-sama mempromosikan atau merekomendasikan saham PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS).


Artis Bukan Analis

Ngeliat artis atau publik figur pamer kinerja saham yang dikoleksinya emang bikin mupeng. Lalu akhirnya ikut-ikutan atau istilah kerennya FOMO (Fear Of Missing Out).

Jadi latah pengen beli saham yang sama, biar cuan juga. Beli saham bukan kayak beli kacang goreng. Asal pilih, tanpa pertimbangan. Apalagi cuma ngekor artis.

Perlu diingat, artis bukan analis saham. Rekomendasinya bisa saja salah dan bikin kamu jatuh miskin, termasuk buat pemula. Sudah keluar duit banyak untuk investasi saham, gegara FOMO beli saham yang dipromosikan influencer, harganya malah ambles.

Siapa yang buntung? Kamu juga kan. Mau nuntut ganti rugi ke artis atau publik figur? Ya gak bisa dong. Maka dari itu, cerdas dalam menyikapi fenomena pompom saham dari influencer dengan cara berikut ini:

1. Jangan gampang tergiur

Artis atau publik figur mungkin saja termasuk pemula di investasi saham. Belum punya banyak pemahaman tentang analisis teknikal dan fundamental tentang saham.

Kalau rekomendasi sahamnya hanya berdasarkan dia sedang cuan berlipat, bisa jadi karena faktor hoki. Bukan karena strategi dan hitung-hitungan yang pas.

Jadi, saring dulu setiap informasi yang masuk. Ini dilakukan agar kamu gak kena jebakan betmen karena tergiur saham yang disebutkan influencer.


2. Keuntungan sebanding dengan risikonya

Dalam berinvestasi, selalu ingat prinsip dasar bahwa keuntungan atau imbal hasil berbanding lurus dengan risikonya. Saham merupakan instrumen investasi yang dikenal high risk, high return. Keuntungan besar, risikonya pun tinggi.

Kalau kamu sudah mantap investasi saham, maka harus siap dengan risikonya. Pergerakan saham sangat fluktuatif, bak roller coaster. Rawan digoreng atau dimainkan pula, sehingga kalau lagi anjlok, bisa parah banget.

Jadi buat kamu yang gak kuat risikonya, lebih baik mundur atau beralih ke instrumen investasi lain yang aman.


3. Kenali perusahaan dan kinerjanya

Beli saham jangan karena hasutan, bujukan, rayuan, atau karena ikut-ikutan orang lain. Ini sama saja seperti beli kucing dalam karung.

Tetapi belilah saham lantaran kamu telah mengenali perusahaan dan reputasi pemiliknya. Semua itu dilakukan dengan cara analisis.

Di cek, yang punya siapa, laporan keuangannya masuk akal gak. Dalam laporan keuangan, dibedah lagi, misal utangnya wajar gak, valuasinya murah atau mahal, return on equity (ROE) atau tingkat pengembalian investasi minimal 15% atau kurang, dan lainnya.

Dengan begitu, beli saham pakai otak, bukan nafsu. Sehingga hasilnya pun jelas dan maksimal. Gak cuma 5% atau 10% saja, tetapi ratusan sampai ribuan persen.

Investasi Saham? Mulai dari Modal Kecil Saja

Gak usah iri kalau orang lain pamer keuntungan sahamnya. Kamu gak pernah tahu berapa banyak mereka rugi sebelumnya. Seperti Lo Kheng Hong, pernah rugi besar sebelum jadi konglomerat seperti sekarang dari investasi saham.

Buat pemula, gak perlu langsung hajar beli saham dalam jumlah banyak. Mulai saja dulu dengan modal kecil. Punya satu atau dua lot.

Begitu sudah tahu ilmunya, baru deh tambah modal investasi saham. Yang pasti gak usah takut ketinggalan. Utamakan analisis teknikal dan fundamental dalam jual beli saham.


sumber : cermati


Lebih lengkapnya silahkan klik :Saham Online