google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Perjuangan Chris Gardner, Gelandangan yang Jadi Miliuner Langsung ke konten utama

Perjuangan Chris Gardner, Gelandangan yang Jadi Miliuner



Christopher Paul 'Chris' Gardner adalah seorang wirausahawan, investor, broker saham, pembicara motivasional, penulis dan filantropis Amerika yang populer lewat ceritanya dalam buku berjudul The Pursuit of Happyness. Kisah heroik Chris yang berhasil mengubah nasib setelah didera berbagai masalah sampai difilmkan oleh Hollywood.

Chris Gardner memang bukan orang terkaya yang masuk daftar Forbes World Richest. Namun kisah suksesnya mengubah nasib dari miskin hingga menjadi miliuner di Negeri Paman Sam patut disimak.

Melansir BBC, Jumat (12/10/2018), pria yang lahir pada 9 Februari 1954 itu dibesarkan dalam kemiskinan oleh ibu Bettye Jean dan ayah tiri pemabuk yang kasar dan kejam.

Terlepas dari kesengsaraan masa kecilnya, Gardner mengatakan bahwa ibunya adalah inspirasi. Ibunya selalu senantiasa memberikan banyak sekali motivasi kepada Chris.

"Aku punya ibu yang selalu memberitahuku setiap hari, 'Nak, kamu bisa melakukan atau menjadi apapun yang kamu inginkan'. Dan aku percaya, aku mempercayainya 100%," kata Chris.

Chris muda menghabiskan waktu empat tahun di Angkatan Laut AS. Setelah kepulangan pada tahun 1974, Chris kemudian pindah ke San Francisco di mana dia berusaha sebagai penjual alat kesehatan.

Selama setahun di San Francisco, Chris yang saat itu sudah berpisah dengan istrinya dan membawa anaknya yang masih balita sempat menjadi gelandangan alias tak punya rumah.

Dia kemudian bekerja sebagai karyawan magang bergaji rendah di sebuah broker saham. Uang Gardner yang tidak cukup membayar jaminan sewa apartemen membuatnya harus hidup di bawah garis kemiskinan.

Gardner dan anaknya pun harus tidur dengan berpindah tempat setiap hari. Mereka pernah tidur di toilet, di stasiun kereta api, di taman, di sebuah penampungan di gereja, atau di kolong meja di tempat kerjanya setelah rekan-rekan kerjanya pulang.

Walaupun diterpa kesulitan, Gardner mengalami kemajuan pesat dalam pekerjaannya. Usai masa magangnya, perusahaan Dean Witter Reynolds (DWR) pun mengangkatnya sebagai karyawan tetap.

Gardner akhirnya mampu menyewa rumah. Karirnya kemudian melesat dengan cepat, hingga akhirnya pada tahun 1987 ia membuka perusahaan investasi sendiri, bernama Gardner Rich & Co dengan modal US$ 10.000.

Perusahaan restrukturisasi tersebut bergerak di bidang penanganan utang-piutang, ekuitas dan transaksi berbagai produk-produk ekonomi lainnya. Dimulai dari sebuah apartemen kecil yang bermodalkan perabotan sederhana, Chris memiliki 75% dari saham Gardner Rich & Co, dan sisanya dimiliki oleh sebuah hedge fund.

Singkat cerita, Chris pun sukses mengembangkan perusahaannya Gardner Rich & Co hingga akhirnya menjual kepemilikan sahamnya di perusahaan pada tahun 2006. Saat ini Gardner yang telah berusia lebih dari 60 tahun lebih banyak menghabiskan waktu berkeliling dunia sebagai pembicara motivasi, dan mensponsori sejumlah organisasi dan organisasi tunawisma yang memerangi kekerasan terhadap perempuan.

Kisah kesuksesan seorang Chris Gardner yang serba tidak mudah dan bahagia kemudian membawanya ke Hollywood. Chris pernah mengalami semua hal yang menyakitkan dalam hidupnya, mulai dari dianiaya ayah tiri, ditinggal sang istri, ditangkap polisi hingga kesulitan membayar utang.

Hollywood datang menelepon ketika ia menulis otobiografi terlarisnya The Pursuit of Happyness. Film dengan nama yang sama dirilis pada tahun 2006, dan Will Smith dinominasikan untuk Aktor Terbaik Oscar untuk perannya sebagai Gardner.

Enam tahun setelah rilis film, kehidupan Gardner berubah lagi pada tahun 2012 ketika istrinya meninggal karena kanker di usia 55 tahun. Hal itu membuat dia mengevaluasi kembali apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya. Setelah tiga dekade sukses di bidang keuangan, dia memutuskan banting setir ke karier yang sama sekali berbeda.

Dia tidak lagi bekerja di perusahaan investasi lagi, dan lebih memilih menjadi pembicara dan penulis motivasi. Total kekayaannya saat ini mencapai US$ 60 juta atau sekitar Rp 900 miliar (kurs Rp 15.000).

Satu pesan yang disampaikan Gardner bahwa semua orang bisa menentukan nasibnya. Meski pernah menjadi gelandangan, namun hal tersebut tak berarti selamanya kita akan menjadi gelandangan.

"Saya memang pernah tidak punya rumah, tapi saya tidak pernah kehilangan harapan. Saya yakin suatu saat pasti akan datang hari yang lebih baik," ujar Gardner.


sumber : detik.com

Lebih lengkapnya silahkan klik :  Saham Online

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Apa itu Saham ? Pengertian, Contoh, Jenis, Keuntungan, Resiko

Apa itu Saham? Saham adalah jenis surat berharga yang menandakan kepemilikan secara proporsional dalam sebuah perusahaan penerbitnya. Saham kadang disebut ekuitas. Saham memberikan hak kepada pemegang saham atas proporsi aset dan pendapatan perusahaan.  Saham pada umumnya  dijual dan dibeli di bursa saham . Akan tetapi saham juga dijual secara pribadi. Transaksi saham harus sesuai dengan peraturan pemerintah yang dimaksudkan untuk melindungi investor dari praktik penipuan.  Secara historis, investasi saham telah mengungguli sebagian besar investasi lainnya dalam jangka panjang. Investasi saham dapat dilakukan melalui broker saham online atau sekuritas saham yang terdaftar di lembaga yang mengaturnya di sebuah negara.  Sebuah perusahaan terbuka menerbitkan / menjual saham dalam rangka mengumpulkan dana untuk menjalankan bisnisnya. Pemegang saham, ibaratnya telah membeli secuil perusahaan dan memiliki hak atas sebagian aset dan pendapatannya. Dengan...

PT Steel Pipe Industry Tbk (ISSP) Dapatkan Rating Negatif

MOODYS UBAH PROSPEK SPINDO DARI STABIL MENJADI NEGATIF. IQPlus, (23/08) - Moodys Investor Service merubah prospek PT Steel Pipe Industry Tbk (ISSP) menjadi negatif dari stabil dimana pada saat yang sama menegaskan peringkat B2 corporate family rating perseroan. "Perubahan prospek menjadi negatif mencerminkan espektasi Moodys dimana gross margin Spindo masih mendapatkan tekanan karena volatilitas harga baja dalam 12-18 bulan ke depan yang menghasilkan peningkatan leverage dan cakupan bunga yang lemah," ujar Brian Grieser, vice president Moodys. Karena baja menyumbang hingga 95% dari harga pokok penjualan, Spindo terkena fluktuasi harga baja global dan domestik. Meski perusahaan menggunakan model biaya plus harga, Spindo tidak sepenuhnya meneruskan peningkatan harga baja kepada pelanggannya secara tepat waktu. Akibatnya margin kotor Spinti turun menjadi 15% dalam 12 bulan di Juni 2018 dari 18% di 2017 dan 25% di 2016. "Selain itu tingkat utang Spindo meningkat ka...

Cara Membaca Candlestick Saham

Cara membaca candlestick saham sebenarnya cukup mudah dan tidak perlu banyak menghafal. Anda cukup memahaminya saja secara garis besar, maka akan sukses membaca candlestick saham.  Di grafik atau chart saham, kita menemui puluhan pola saham yang berbeda. Di sana ada  Three Black Crows, Concealing Baby Swallow, Unique Three River Bottom dan lain sebagainya. Jika anda harus menghafalkannya, maka akan membutuhkan tenaga yang banyak. Maka dengan artikel ini harapannya Anda mampu cara memahami atau membaca candlestick saham dengan mudah. Dasar-dasar dalam Membaca Candlestick Saham Buyer Versus Seller Sebelum kita mulai mendalami elemen-elemen penting untuk analisa candlestick, kita harus punya cara pandang yang benar terlebih dulu. Anggap saja pergerakan harga itu terjadi karena perang antara Buyer dan Seller. Setiap candlestick adalah suatu pertempuran selama masa perang, dan keempat elemen candlestick menceritakan siapa yang unggul, siapa yang mundur, siapa memeg...